Tampilkan postingan dengan label GEOGRAFI FISIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GEOGRAFI FISIK. Tampilkan semua postingan
26 Desember 2012
25 Desember 2012
PLANET BUMI
Bumi adalah planet ketiga dari delapan planet dalam Tata Surya. Diperkirakan usianya mencapai 4,6 milyar tahun. Jarak antara Bumi dengan matahari adalah 149.6 juta kilometer atau 1 AU (ing: astronomical unit). Bumi mempunyai lapisan udara (atmosfer) dan medan magnet yang disebut (magnetosfer) yang melindung permukaan Bumi dari angin matahari, sinar ultraungu, dan radiasi dari luar angkasa. Lapisan udara ini menyelimuti bumi hingga ketinggian sekitar 700 kilometer. Lapisan udara ini dibagi menjadi Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, Termosfer, dan Eksosfer.
Lapisan ozon, setinggi 50 kilometer, berada di lapisan stratosfer dan mesosfer dan melindungi bumi dari sinar ultraungu. Perbedaan suhu permukaan bumi adalah antara -70 °C hingga 55 °C bergantung pada iklim setempat. Sehari dibagi menjadi 24 jam dan setahun di bumi sama dengan 365,2425 hari. Bumi mempunyai massa seberat 59.760 milyar ton, dengan luas permukaan 510 juta kilometer persegi. Berat jenis Bumi (sekitar 5.500 kilogram per meter kubik) digunakan sebagai unit perbandingan berat jenis planet yang lain, dengan berat jenis Bumi dipatok sebagai 1.
Bumi mempunyai diameter sepanjang 12.756 kilometer. Gravitasi Bumi diukur sebagai 10 N kg-1 dijadikan unit ukuran gravitasi planet lain, dengan gravitasi Bumi dipatok sebagai 1. Bumi mempunyai 1 satelit alami yaitu Bulan. 70,8% permukaan bumi diliputi air. Udara Bumi terdiri dari 78% nitrogen, 21% oksigen, dan 1% uap air, karbondioksida, dan gas lain.
Bumi diperkirakan tersusun atas inti dalam bumi yang terdiri dari besi nikel beku setebal 1.370 kilometer dengan suhu 4.500 °C, diselimuti pula oleh inti luar yang bersifat cair setebal 2.100 kilometer, lalu diselimuti pula oleh mantel silika setebal 2.800 kilometer membentuk 83% isi bumi, dan akhirnya sekali diselimuti oleh kerak bumi setebal kurang lebih 85 kilometer.
Kerak bumi lebih tipis di dasar laut yaitu sekitar 5 kilometer. Kerak bumi terbagi kepada beberapa bagian dan bergerak melalui pergerakan tektonik lempeng (teori Continental Drift) yang menghasilkan gempa bumi.
Titik tertinggi di permukaan bumi adalah gunung Everest setinggi 8.848 meter, dan titik terdalam adalah palung Mariana di samudra Pasifik dengan kedalaman 10.924 meter. Danau terdalam adalah Danau Baikal dengan kedalaman 1.637 meter, sedangkan danau terbesar adalah Laut Kaspia dengan luas 394.299 km2.
Komposisi dan struktur
Bumi adalah sebuah planet kebumian, yang artinya terbuat dari batuan, berbeda dibandingkan gas raksasa seperti Jupiter. Planet ini adalah yang terbesar dari empat planet kebumian, dalam kedua arti, massa dan ukuran. Dari keempat planet kebumian, bumi juga memiliki kepadatan tertinggi, gravitasi permukaan terbesar, medan magnet terkuat dan rotasi paling cepat. Bumi juga merupakan satu-satunya planet kebumian yang memiliki lempeng tektonik yang aktif.
Bentuk
Bentuk planet Bumi sangat mirip dengan bulatan gepeng (oblate spheroid), sebuah bulatan yang tertekan ceper pada orientasi kutub-kutub yang menyebabkan buncitan pada bagian katulistiwa. Buncitan ini terjadi karena rotasi bumi, menyebabkan ukuran diameter katulistiwa 43 km lebih besar dibandingkan diameter dari kutub ke kutub. Diameter rata-rata dari bulatan bumi adalah 12.742 km, atau kira-kira 40.000 km/π. Karena satuan meter pada awalnya didefinisikan sebagai 1/10.000.000 jarak antara katulistiwa ke kutub utara melalui kota Paris, Prancis.
Topografi lokal sedikit bervariasi dari bentuk bulatan ideal yang mulus, meski pada skala global, variasi ini sangat kecil. Bumi memiliki toleransi sekitar satu dari 584, atau 0,17% dibanding bulatan sempurna (reference spheroid), yang lebih mulus jika dibandingkan dengan toleransi sebuah bola biliar, 0,22%. Lokal deviasi terbesar pada permukaan bumi adalah gunung Everest (8.848 m di atas permukaan laut) dan Palung Mariana (10.911 m di bawah permukaan laut). Karena buncitan katulistiwa, bagian bumi yang terletak paling jauh dari titik tengah bumi sebenarnya adalah gunung Chimborazo di Ekuador.
Proses alam endogen/tenaga endogen adalah tenaga bumi yang berasal dari dalam bumi. Tenaga alam endogen bersifat membangun permukaan bumi ini. Tenaga alam eksogen berasal dari luar bumi dan bersifat merusak. Jadi kedua tenaga itulah yang membuat berbagai macam relief di muka bumi ini seperti yang kita tahu bahwa permukaan bumi yang kita huni ini terdiri atas berbagai bentukan seperti gunung, lembah, bukit, danau, sungai, dsb. Adanya bentukan-bentukan tersebut, menyebabkan permukaan bumi menjadi tidak rata. Bentukan-bentukan tersebut dikenal sebagai relief bumi.
Komposisi kimia
F. W. Clarke’s Table kerak oksida
| ||
Senyawa
|
Formula
|
Komposisi
|
silika
|
SiO2
|
59,71%
|
alumina
|
Al2O3
|
15,41%
|
kapur
|
CaO
|
4,90%
|
Magnesia
|
MgO
|
4,36%
|
sodium oxide
|
Na2O
|
3,55%
|
iron(II) oxide
|
FeO
|
3,52%
|
potasium oxida
|
K2O
|
2,80%
|
besi(III) oxida
|
Fe2O3
|
2,63%
|
air
|
H2O
|
1,52%
|
titanium dioxida
|
TiO2
|
0,60%
|
phosphorus pentoxida
|
P2O5
|
0,22%
|
Total
|
99,22%
| |
Ahli geokimia F. W. Clarke memperhitungkan bahwa sekitar 47% kerak bumi terdiri dari oksigen. Batuan-batuan paling umum yang terdapat di kerak bumi hampir semuanya adalah oksida (oxides); klorin, sulfur, dan florin adalah kekecualian dan jumlahnya di dalam batuan biasanya kurang dari 1%. Oksida-oksida utama adalah silika, alumina, oksida besi, kapur, magnesia, potas dan soda. Fungsi utama silika adalah sebagai asam, yang membentuk silikat. Ini adalah sifat dasar dari berbagai mineral batuan beku yang paling umum. Berdasarkan perhitungan dari 1,672 analisa berbagai jenis batuan, Clarke menyimpulkan bahwa 99,22% batuan terdiri dari 11 oksida (lihat tabel kanan). Konstituen lainnya hanya terjadi dalam jumlah yang kecil. [note 3]
Lapisan bumi
Menurut komposisi (jenis dari materialnya), Bumi dapat dibagi menjadi lapisan-lapisan sebagai berikut :
- Kerak Bumi
- Mantel Bumi
- Inti Bumi
- Litosfir
- Astenosfir
- Mesosfir
- Inti Bumi bagian luar
- Inti Bumi bagian dalam
Label:GEOGRAFI
GEOGRAFI FISIK
14 Oktober 2012
STUDI LAPANGAN
GUMUK PASIR DI PARANGTRITIS
Keberadaan gumuk pasir yang merupakan bagian dari ekosistem spesifik di pantai selatan DI Yogyakarta memang perlu dilestarikan, sebagai kekayaan alam yang bentukannya tergolong langka di dunia. Gundukan pasir ini terbentuk secara alami, yang prosesnya berjalan ribuan tahun lalu. Material pasir berasal dari hasil luapan lahar Gunung Merapi yang terbawa air Sungai Opak dan Progo ke muara. Dari mulut sungai itu, endapan pasir tergerus gelombang laut Samudra Hindia yang kuat hingga terangkat ke pinggiran pantai Parangtritis. Perjalanan pasir tidak sampai di situ. Setelah tersapu ombak, giliran angin yang mendorongnya. Angin laut yang membentur tebing di sisi timur Pantai Parangtritis berbalik menerbangkan pasir ke daratan. Gumuk pasir itu terbentang sejauh 15,7 kilometer dari muara Sungai Opak hingga ke Parangtritis, sedangkan sebarannya ke daratan dari garis pantai selebar 2 kilometer. Gundukan pasir yang terbentuk mencapai ketinggian 7 meter. Di daratan pun, pasir yang sangat halus ini masih terus dimainkan angin setiap kali bertiup dalam cuaca cerah. Pada musim peralihan atau pancaroba, angin bertiup kencang secara intensif, maka material pasir yang terbawa akan lebih banyak hingga membentuk bukit-bukit pasir yang berubah-ubah bentuk maupun tempat tertimbunnya. Fenomena pembentukan gundukan pasir seperti ini juga ditemukan di Benua Afrika dan Gurun Gobi, China. Bentuk gumuk pasir yang kerap ditemukan di daerah Pantai Parangtritis menyerupai sabit dan memanjang atau longitudinal. Kadang kala ditemukan pula bentuk parabola dan sisir. Pembentukan pasir itu antara lain dipengaruhi oleh ukuran butiran pasir, tingkat kekeringan, kecepatan dan intensitas angin, serta keberadaan vegetasi yang menutup lahan. Realita yang terjadi sekarang faktor bangunan rumah dan gubuk-gubuk di pinggir pantai turut andil terbentuknya gumuk pasir sebagai pengganti faktor vegetasi pantai. Banyaknya bangunan pemukiman penduduk yang mendesak ke arah pantai selain dapat merusak ekosistem pantai juga merupakan ancaman bagi konservasi parangtritis sebagai laboratorium GEOSPACIAL
STUDI LAPANGAN
Geografi merupakan istilah yang dikenal sejak lama. Dalam dunia perdagangan, militer, dan politik, istilah itu sering digunakan dan telah dikenal sejak lama. Namun, sebagai “disiplin ilmu dan mata pelajaran” bidang itu masih dianggap kurang populer.
Kekurang populeran itu terjadi karena sistem pembelajaran dalam pendidikan persekolahan masih menempatkan bidang ini secara kurang proporsional.
Dalam kurikulum sekolah, pada masa itu geografi diberi nama ilmu bumi sehingga obyek yang dikaji terfokus pada fenomena alam, sementara kajian fenomena manusia kurang mendapat perhatian yang seimbang.
Setelah nama ilmu bumi menjadi geografi terjadi kecenderungan yang berbalik. Kajian geografi cenderung mengarah pada fenomena manusia sebagai kajian utama, sedang fenomena alam sebagai pendukungnya. Kecenderungan itu dapat dicermati dari pandangan umum, bahwa istilah geografi hampir identik dengan kependudukan. Oleh karena itu kerja pembelajaran kedepan perlu mengembalikan pada jati dirinya, yaitu menempatkan fenomena alam dan fenomena manusia serta hubungan timbal balik keduanya secara proporsional. Keproporsionalan itu menjadi penting agar kedudukan dan fungsi bidang geografi ini dapat ditempatkan secara tepat sesuai dengan hakekat dan ruang lingkupnya.
Dewasa ini menjadi kesan umum, bahwa geografi dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang bertugas untuk menghafalkan fenomena geosfer, seperti nama kota, daerah, pulau, sungai, jumlah penduduk, hasil tambang, produk pertanian, dan lain sebagainya yang perlu diketahui siswa diluar kepala.
Nuansa pembelajaran seperti itu bukan hanya tidak menarik, tetapi juga menyebabkan bidang geografi sebagai bidang disiplin ilmu tidak dapat berkembang secara optimal baik secara teoritis maupun secara praktis. Penyajian pelajaran geografi yang sifatnya monoton, baik dari segi pemilihan metode maupun situasi dan kondisi dalam kelas juga berpengaruh pada kurang minat dan motivasi belajar siswa yang pada akhirnya berpengaruh pada pencapaian prestasi yang kurang maksimal.
Ada kemungkinan besar sebagai pembelajaran di kelas berlangsung wajar tetapi sesungguhnya membosankan, ada kemungkinan materi yang diberikan dari “sananya’ sudah begitu tapi masih perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari anak didik kita agar menjadi bermakna. Ada kemungkinan juga cara mengajar sudah benar tapi sesungguhnya siswa ingin cara-cara yang bervariasi dan bukan yang itu-itu melulu. Mungkin banyak murid yang sebenarnya cerdas tapi ditengah-tengah lingkungan yang kurang mendukung.
Masalah lain adalah bahwa pendekatan dalam proses pembelajaran masih terlalu didominasi peran guru (teacher centered). Guru lebih banyak menempatkan peserta didik sebagai objek dan bukan sebagai subjek didik. Pendidikan kita kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam berbagai mata pelajaran, untuk mengembangkan kemampuan berpikir holistik (menyeluruh), kreatif, objektif, dan logis. Kegiatan pembelajaran selama ini hanya berlangsung di ruang-ruang kelas dengan memanfaatkan sumber pembelajaran yang monoton, dan belum memanfaatkan kegiatan di luar kelas (outdoor activities), sehingga guru mengalami kesulitan melaksanakan kegiatan pembelajaran yang bervariasi. Akibatnya pembelajaran geografi berlangsung kaku dan formal. Menyikapi kondisi tersebut, perlu disimak pernyataan Paulo Freire (Muhammad Idrus, 2005: 161) yang mengatakan bahwa every place is a school, every one is teacher. Artinya bahwa setiap orang adalah guru, guru bisa siapa saja, dimana saja, serta hadir kapan saja, tanpa batas ruang, waktu, kondisi apapun. Dengan demikian siapa saja dapat menjadi guru dan pembelajaran tidak harus berlangsung di dalam kelas, sebab setiap tempat dapat menjadi tempat untuk belajar. Konsep Paulo Freire sangat tepat bila dihubungkan dengan metode outdoor activities. Outdoor activities dapat menjadi salah satu alternatif bagi pengayaan sumber pembelajaran.
Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang
Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
Dalam buku petunjuk teknis pengembangan silabus dari BSNP dicantumkan tentang karakteristik pelajaran geografi. Berdasarkan struktur keilmuannya geografi adalah disiplin ilmu yang mengkaji tentang fenomena permukaan bumi atau geosfer. Apabila diibaratkan geografi sebagai pohon ilmu, maka sebagai akar-akarnya adalah atmosfer, litosfer, hidrosfer, biosfer, dan antroposfer, sedang yang menjadi cabang-cabangnya adalah geografi fisik dan geografi manusia. Sedangkan ruang lingkup materi geografi mempelajari tentang lokasi, hubungan keruangan, karakter wilayah dan perubahan permukaan bumi. Untuk mencapai kompetensi belajar tersebut perlu dikembangkan melalui strategi, pendekatan, dan metode pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Siswa perlu mendapatkan pengalaman yang bermakna, tahan lama serta bukan merupakan sesuatu yang sifatnya verbalisme. Pembelajaran akan lebih bermakna kalau siswa berinteraksi langsung dengan sumber belajar yang ada di lingkungannya. Pengalaman belajar dilakukan para siswa di dalam kelas maupun di luar kelas, dapat juga merupakan suatu kegiatan fisik maupun mental dalam berinteraksi dengan bahan ajar dan sumber belajar. Intinya bahwa roh dari pembelajaran Geografi adalah
Label:GEOGRAFI
GEOGRAFI FISIK
15 Desember 2011
Apa itu lempeng tektonik?
Perlu dipahami, proses pembentukan muka bumi yang diakibatkan tenaga endogen sangat dipengaruhi oleh aktivitas atau pergerakan dari Lempeng Tektonik (Tectonic Plate).
Apa itu lempeng tektonik? Sekitar tahun 1965 melalui sebuah penelitian dikemukakan bahwa permukaan bumi ini terpecah ke dalam enam lempeng kecil. Lempeng-lempeng tersebut memiliki sifat kaku dan pada batas-batasnya kerap terjadi gempabumi dan gejala gunungapi akibat dari pergerakan tiap lempeng tersebut. Keenam lempeng tersebut antara lain meliputi Lempeng Eurasia, Lempeng Afrika, Lempeng Amerika, Lempeng Antartika, Lempeng India dan Lempeng Pasifik
Label:GEOGRAFI
GEOGRAFI FISIK
11 Desember 2011
Batuan sedimen,Batuan Metamorf,batuan beku

batuan beku
Ini terjadi dari magma (batuan cair) yang mengalami proses pendinginan, kemudian membeku. Berdasarkan proses pembekuan, batuan beku dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Batin beku Batu
Pembekuan terjadi di dalam, sangat dalam di bawah permukaan bumi. Proses pendinginan sangat lambat. Hal ini menyebabkan terbentuknya besar, kristal mineral yang sempurna, dan kompak. Struktur mineral seperti itu disebut struktur plutonik atau granit (holocrystaline). Batuan beku dalam disebut juga abisis batu. Sebagai contoh: batu granit, diorit, synite, dan gabro.
2. Beku Rock atau rock Hypabyssal
Tetap dari magma meresap ke dalam lapisan atas dan terasa ke celah-celah terowongan vulkanik, maka itu menjadi dingin dan membeku. Proses pembekuan relatif lebih cepat, sehingga kristal yang terjadi yang tidak kompak sebagai batuan beku dalam. Struktur batuan beku ini disebut porfiri struktur. Sebagai contoh: granit, diorit porfiri, porfiri syenite, dan porfiri.
3. Luar batu beku atau batuan beku efusif
Batuan beku jenis ini terjadi dari magma yang mencapai permukaan bumi, maka membeku. Proses pembekuan adalah cepat, sehingga kristal dapat terbentuk. Misalnya, dalam

Batuan Metamorf
Batuan metamorf adalah batuan yang dihasilkan dari konversi dari batu asli sebagai hasil dari proses metamorf, yang merupakan proses yang dijalani oleh batu asli sebagai akibat dari tekanan dan suhu yang lebih tinggi secara bersamaan.
Batuan metamorf dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Termic metamorf batuan
Batuan metamorf adalah batuan Termic terbentuk karena kenaikan suhu. Misalnya, batu kapur terbentuk karena pengaruh suhu tinggi sehingga menjadi cair, maka setelah menjalani proses pendinginan yang mengubah batu kapur menjadi batu marmer.
2. Dinamis metamorf batuan
Dinamis batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk sebagai hasil dari tekanan dari lapisan di atasnya dalam waktu yang lama. Ini batuan metamorf dinamis disebut batuan metamorf kinetik. Sebagai contoh, menulis batu yang berasal dari tanah liat, yang mendapatkan tekanan dari lapisan di atasnya.
3. kontak batuan metamorf pneumolici
pneumolici batuan metamorf kontak adalah batu yang terbentuk sebagai hasil dari kenaikan suhu mengikuti penyisipan unsur-unsur batuan lain (zat lain).
Sebagai contoh: kuarsa dalam proses metamorf adalah dimasukkan unsur borium, akan menghasilkan jenis mutiara batu yang disebut turmalin, sementara jika elemen aditif adalah fluorium, akan menghasilkan topaz, semacam mutiara yang memiliki warna kuning.

Batuan sedimen
Batuan beku yang ditemukan ke permukaan bumi akan mengalami kehancuran (erosi) oleh pengaruh cuaca, maka diangkut oleh kekuatan alam seperti air, angin atau gletser dan itu bisa sedimen di lain tempat, batuan sedimen sehingga terbentuk.
Menurut proses pembentukan, batuan sedimen dipisahkan menjadi:
a. Klastik atau Batu Mechanic.
Hal ini terbentuk dari gumpalan batu yang lebih besar yang dibawa dari lereng gunung, melalui air hujan maka dibawa oleh aliran sungai dan maka mendapat sedimen di daerah hilir dalam bentuk pasir komposisi kimia yang masih sama dengan batu asli. Ini berarti sedimentasi tidak mengalami proses kimia, tetapi hanya proses mekanis.
Contoh batuan klastik adalah: brexi rock, konglomerat batu, pasir dan tanah liat.
b. Kimia Rock.
kimia batuan
Hal ini terbentuk melalui proses kimia, seperti itu dialami oleh batu kapur di atap teluk itu. Kapur ini diresapi oleh air hujan yang mengandung karbondioksida akan larut dalam bentuk larutan air kapur. Beberapa drop solusi dari atap gua dan jatuh ke dasar gua kering, tongkat beristirahat di langit-langit gua, sehingga membentuk sedimen kapur sebagai tetap penguapan air jeruk nipis ketika itu tetes solusi. Stalaktit dan stalagmit terbentuk, yang merupakan salah satu proses yang dihasilkan oleh batuan kimia.
c. Organik Rock.
Hal ini terbentuk dari akumulasi sisa-sisa hewan dan tumbuhan.
Label:GEOGRAFI
GEOGRAFI FISIK
Tektonisme,
Tectonism
Tectonism adalah perubahan posisi dari shell bumi yang disebabkan oleh kekuatan endogenic dengan arah horisontal dan vertikal.
Menurut kecepatan bergerak nya, tectonism dipisahkan menjadi dua bagian, sebagai berikut:
1. Epirogenesa
Epirogenesa adalah perubahan posisi dari shell Bumi gerakan yang lambat dalam wilayah yang luas. Proses Epirogenesa terdiri dari dua macam, yaitu:
a. Epirogenesa positif adalah fenomena jatuh lahan sehingga seolah-olah meningkat air laut. Contoh: Tenggelamnya Atlantis terestrial.
b. Epirogenesa negatif adalah fenomena munculnya terestrial sehingga seolah-olah berkurang air laut. Contoh: Munculnya Skandinavia pantai.

2. Orogenesis Gerak
Orogenesis gerak adalah kekuatan endogenci gerakan yang relatif cepat dan meliputi daerah yang relatif singkat. Ini berarti pembentukan gunung (Oros = gunung, genesus = lahir) dan lipat terjadi.
Contoh: Pembentukan lipat dari sirkum pasifik pegunungan muda.


Gratisan Musik
Tectonism adalah perubahan posisi dari shell bumi yang disebabkan oleh kekuatan endogenic dengan arah horisontal dan vertikal.
Menurut kecepatan bergerak nya, tectonism dipisahkan menjadi dua bagian, sebagai berikut:
1. Epirogenesa
Epirogenesa adalah perubahan posisi dari shell Bumi gerakan yang lambat dalam wilayah yang luas. Proses Epirogenesa terdiri dari dua macam, yaitu:
a. Epirogenesa positif adalah fenomena jatuh lahan sehingga seolah-olah meningkat air laut. Contoh: Tenggelamnya Atlantis terestrial.
b. Epirogenesa negatif adalah fenomena munculnya terestrial sehingga seolah-olah berkurang air laut. Contoh: Munculnya Skandinavia pantai.

2. Orogenesis Gerak
Orogenesis gerak adalah kekuatan endogenci gerakan yang relatif cepat dan meliputi daerah yang relatif singkat. Ini berarti pembentukan gunung (Oros = gunung, genesus = lahir) dan lipat terjadi.
Contoh: Pembentukan lipat dari sirkum pasifik pegunungan muda.
Gratisan Musik
Label:GEOGRAFI
GEOGRAFI FISIK
Langganan:
Postingan (Atom)

