Tampilkan postingan dengan label GEOGRAFI PEMBANGUNAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GEOGRAFI PEMBANGUNAN. Tampilkan semua postingan

04 April 2013

GEOGRAFI PEDESAAN


Geografl perdesaan uterupakan studi dalam ilmu Geografi yang termasuk dalam
kelompok sfudi Geografi Manusi a ftIuman Geography). Munoulnya Geografi Perdesaan
sebagai suatu studi daram ilmu Geografi yang berdiri sendiri sebagai sub-disiplin iknu
belum begitu larrra. Baru sekitar akhir dasa warsa 1960 an Geografi Perdesaan mencapai
bentuknya yaog lebih ayata. Kelambanan pemunculan Geografi Perdesam sebagai studi
yang berdiri sendiri itu disebabkan kwanpya perhatian para ilmuwm Geografi pada
waktu yang lampau terhadap,'masalah-masalah sosial ekonomi di wilayah perdesaan'
perhatian i6l baru muncul di sekitar tahuo 1950 an, bersamaan wakhmya dengan
perhatian dunia terhadap masalah kemiskinan yang untuk sebagian besar diderita oleh
pendudukperdesaandinegara-negaraberkemb2ngpascadekolonisasi.
Kurangnya perhatian pam ahli Geografi terhadap masalah-masalah sosial
ekonomi di wilayah pefdesaao pada waktu lampau dapat dipahami' mengingat bahwa
ilmu pengetahuan yang pada umumnya bersumber dari dunia Barat dengan struktur
ekonomi indusfialistft memberikan suasana bagi para ihnuwan Geogfafi Barat kurang
tertarik terhadap fenomena sosiar ekonomi di perdesaan dibandingkan dengan wilayah
perkotaan- Disamping itu juga terdapat anggapan bahwa perubahan-perubahan keadaan
sosial ekononni di perdesaan sangat lamban, sehingga kurang memberikan tantangan
untuk melakukan penelitian-penelitian (Ctout, I 972)'
Karena kurangnya minat untuk melaukan penelitian'penelitian di wilayah
perdesaan, maka sudah sewajarnya apabila literatm yang membicarakan persoalan
wilayah perdesaan dari para ilmuwan Geografi termasuk langka. Banrlah mer{elang
tahun 1970, mulai bermunculan artikel-artikel mengenai wilayah petdesaan yang ditulis
oleh para ilmuwan Geografi, walaupun banyak yaog masih bersifat deslriptif
(Cloke,l980).
2.GeografiPerdesaan:PandanganTradisionalsampaiMutakhir.
Berhubung dengan rxmrrnya yang relatif muda' maka bidaug kaiian dalam studi
Geografi Perdesaan masih mengalami perkernbangan-perkebangan yang relatif cepat' sampai akhir dasawarsa 1970 an ruang lingkup studi Geografi Perdesaan masih diwarnai
oleh pandangan Goografi fadisional. Dalam Geografi ffadisional pandangan mengenai
ruang lingkup studi Geografi Psrdesaan pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga
kelompok pandangan (Clout,l972; Johnston, I 98 1)'
Pertama, kelompok yang berpendapat bahwa fokus perhatian Geografi Perdesaan
adalah bidang pertanian. Hal ini didasarkan pab argumentasi bahwa pertanian
merupakan faktor dominan dalam tata kehidupan penduduk wilayah perdesaan' Dengan
pandangan ini maka Geografi Perdesaan bertumpang tindih dengan Geogpafi Pertanian'
Untrrk menekankan perbedaan antartr- Geogfafi Perdesaan dengan Geogfafi Pertanian
dikemukakan: Geografi pertanian lebih memfokuskan perhatiannya pada hubunganhubungan ekonomi dari produksi pertanian, sedangkan Goografi Perdesaan menitik
beratkan perhatiannya kepada hubungan antara usaha tani dengan segala aspek kehidupan
danpenduduknya.
Kedua, kelompok yfrig menitlk beratkan perhatiannnya pada persoalan
pennukiman sebagni isi pokok dalam bidang studi Geogfafi Perdesaan' Dengan demikian
Geogfafi Perdesaan identik dengan Goografi pennukiman perdesaan'
Ketiga, kelompok lainnya berpandangan bahwa di samping masalah pertanian dan
permukinun, persoalan tata guna tahan di wilayah perdesaan merupakan sasaran studi
yang penting dalam Geografi Perdesaan'
Di dalam sejarah perkembangan studi Geogfafi Perdesaan, maka Clout dipandang
sebagai pionirnya (cloke,1980). clout adalah orang yang pertama kali menyampaikan
kerangka dasar studi Geografi perdesaan untuk dapat berdiri sendiri sebagai sub-disiplin
ilrnu Geografi. Kerangka dasar tersebut termuat dalam bukunya yang berjudul Rurol
Geography: An Indroductoty survey yang tefbit padatahrm1972.
Dalarn situasi yang langka akan literatur yang membahas persoalan wilayah
perdesaan dari sudut pandang Geografi, di lndonesia telah terbit pula untuk pertama
kalinya buku karangan Bintarto (1969) dengan iudul Pengantar Geografi Desa. Buku ini
mengisi kekosongan akan literatur perdesaan dari sudut pandang Geogfafi'
Pada wakhr orang masih mencari-cari isi dari Geografi Perdesaan ini, maka
Bowler (1975) mencoba menginventarisir bidang kajian penelitian Geografi Perdesaan'
Bowler kemudian mengelompokkannya meojadi tujuh bidang penelitian, yaitu: (l)pertanian, (2) kehutanan, (3) perrnukiman, (4) kependudukan' (5) transportasi' (6)
rekeasi dan tnrisme,(7) petencanam'peogembangan perdesaan'
pada bagian terdahulu sudah disampaikan bahwa pada waktu yang lampau studi
Geografi perdesaan Tradisional terbatas ruang lingkupnya pada bidang-bidang persoalan
yang berhubungan dengan pertanian, permukiman dan tata guna tahan saja' Tatapi dalam
perkembangan selaqiutnya talah berkembang jauh meliputi bidang-bidang persoalan
yang lebih luas. I{al ini dilalilkan sebagai respons terhadap semakin cepatnya dinarnika
perkembangan wilayah perdesaan. Dalam bvkro Progress in Rural Geography yangterbit
untuk pertama kalinya pada tahun 1983 terdapat sepuluh artikel terpilih yang meliputi
persoalan yang berdeda-beda, yaitu; evaluasi permukiman perdesaan' penggunaan lahan'
perubahan stnrktur sektor pertanian, penduduk dan kesempatan kerja' perumahan'
fiansportasi dan aksesibilitas, masyarakat perdesaan' rekreasi perdesaan' evaluasi dan
pengelolaan sumber daya ser&a perencanarm pengembangan perdesaan'
Dalam perkembangannya kemudian, bidang studi Geoggafi Perdesaan semakin
bervariasi, tidak terbatas hanya pada tujuh bidang kajian penelitian tersebut' Karya
tentang Geogfafi perdesaan oleh Pacione (1984) memberikan presentasi skematik
tentang substansi kajian Geografi Perdesaan yang merupakan hasil interaksi dengan 15
sub cabang ilnu dalam cabang Geogpfi itu sendiri, maupuo dengan disiplin ihnu lainnya
seperti ekonomi, sosiologi, ilmu politik , perencanaan dan lain-lainnya'
Hasil pengamatan terhadap publikasi ilniah setelah dikeluarkannya buku Pacione
tersebut menunjukkan perkembangan Geogafi perdesaan mencakup materi-materi yang
semakin ekstensif sesuai dengan hntutan dinamfta perkembangan jaman. Dari jurnaljurnal dan buku teks geografi yang terbit di Eropa mauprm Amerika Serikat sejak
pertengahan 1980 an sampai 2003 ini muncul tema-tema baru bidang kajian Geografi
perdesaan seperti kualitas hidup (Helbum, lg82), konsekuensi perkembangan teknologi
informasi dan wilayah perdesaan (Grimus, Igg2, 2000, 2003), keberlanjutan
pembangunan perdesaan (Marsden et al' 2000 dan Sheperd (1998), pengelolaan resiko
(Kostov and Lingard,2003), kehidupan perdesaan( Rigg,1994), networking dalam
pembangunan perdesaan (Cloke and Baldwin,1992 dan Murdoch, 2000)' sfietegi
penghidupan di perdesaan (Ellisl$Q$), modal sosial dan pemberdayaan (Storey'1999)
dan masih banyak tema-tema yang lain'Huh$gao Gesgefi Perdsnaae drsgre ccbmgiihil himrat
IJnntk dryal memahaffi $S$ansi Geografi Tffa. h$mgnm5la de'ngm
cabmgihnnrlaiffiyl,peMmgmbqqb€rik*itri:', 
"
C'EffiRAFI PERDESAAN: (eimbu Pmione, 1984)

Dari beberapa bidang kajian Geografi Perdesaan yang dirurnuskan serta
memperhatikan perkembangan baru mengenai bidang-bidang substansi sfudi Geografi
perdesaan maka dapat diajukan definisi Geogpafi perdesaan sebagai berikut:
R.J.Johnston (1981) memberftan batasan pengeftian sebagai berikut "Rural geography
: the stady of the geographical aspect of human organization and activtty in non urbsn
argas".
A.J.suhardomenyebutkan bahwa: Geografi Perdesaan adalah'suatu cabang studi ilmu
Geografi yang mempelajari fenomena sosial ekonomi dan kBltulal serta perubahanperubahannya di wilayah perdesaan dalam keterkaitannya dengan berbagai faldor
peneotmya baik yang bekerja pada tingkat lokal, regional rnaupun global'
Geografi Perdesaan merupakan cabang studi Geografi' oleh karena itu dalam
analisis terhadap fenomena sosial maupun ekonomi selalu dihubungkan dengan aspekaspek Geografi (Johnston,l981). Hal ini memberikan keleluasaan ruang gerak bagi studi
ini unt*k mengekplorasi masalah-masalah wilayah perdesaan yang msmang sangat luas
dan kompleks, terlebih lagi wilayah perdesaan di negara-negara sedang berkembang
tennasuk Indonesia yang sedang mengalami perubahan-perubahan yang sangat capat'
perubahan fi'rdamental lainnya di wilayah perdesaan menurut Illbery (2000)
terjadi pada semua bidang kehidupan sebagai lespon atas perubahan-perubahan sosial'
ekonomi, lingkungao dan politik dalarn skala yang lebih luas. Kecepatan perubahan telah
mengalami peningkatan dan wilayah perdesaan mengalami drversivikasi sebagai
konsekuensi dari transformasi sosial ekonomi dan modernisasi' Banyak wilayah
perdesaan yang tidak lagi didominas i mata pencaharian pertanian (Kragt'en, 2000 dan
suhardjo, 1998, 2000).sektor pertanian mengalami restukturisasi dan petani harus
menyesuaikan diri dengan lingkungan nasional mauputl int'ernasional dalam pfoses
produksi. Sementara itu sektor non- pertanian tumbuh tidak hanya di wilayah perkotaan'
tetapi ju$ di perdesaan. Ini membut*ikan keruntuhan pandangan produksionist terhadap
wilayah perdesaan.Dalam Geografi tadisional, wilayah perdesaan dipandang sebagai
wilayah unUrk produksi, sedang perkotaan sebagai wilayah konsenfasi konsumsi'
Fenomena diversivikasi perdesaan menunjukkan bahwa proses konsumsi juga semakin
signifikan di wilayah perdesaan. Dengan demikian memberikan bukti semakin lemahnya
pandangan produksionist wilayah perdesaan'3. K€&d*m Creogafi Perdesaan dalm C€ografi
Institut€ of British Geoeraphsfs and Aseocidion'of AqF'fican qeq$ryh*
mdro Hasieasi @s-bp'e rydi eungr ,
sfidy, Rob Kitohinb*Niorcfat tdt' nal't 


Dari bagan tersebut dapat diketahui bahwa cabang studi Geografi terdiri dari
empat bagian,yaitu : Geografi ldanusia (Human Geography), Geografi Fisik @hysical
Geography), gabungan/campuftul antanGeografi Manusia dengan Geografi Fisik (Mxed
Geography), serta cabang lainnya yang merupakan Geografi Teknik dan lain-lainnya'
Dengan demikian jelaslah letak kedudukan Geografi Perdesaan diantara cabang iknu lain
dalam Geografi. Dalam baganitu pula dapat diketahui bahwa yang menjadi pokok bidang
kajian dalam Geografi Perdesaan menurut Rob Kitchin dan Nicholas Tate adalah :
EkonomiPerdesaan,PerencanaanPerdesaarr,PendudukPerdesaandanperubahannnya''
4. Pendekatan-pendekatan dalam Geografi peldgsaan'
. Pada bagsan terdahulu telah dijelaskan bahwa Geografi Perdesaan merupakan
salah satu cabang dari ilmu Geografi-sub Geografi Manusia (Human Geography).
Dengan demikian pendekatan-pendekatm yang digunakan dalam kajian studi Geografi
perdesaan juga sama dengan pendekatan yang digunakan dalam Geografi, yaitu
pendekatan keruangan, pendekatan kelingkungan / ekologis dan pendekatan kewilayahan'
a. Pendekatan keruangan,
Pendekatankeruanganmenekankananalisisnyapadavariasidistibrrsidanlokasi
dan gejala-gejala ataukelompok gejata di perrntrkaan bumi, misalnya variasi kepadatan
penduduk, kemiskinan di perdesaan. Faktor-faktor yang menyebabkan pola-pola
disnibusi keruangan yang berbeda-beda dan bagaimana pola keruangan yang ada dapat
diubah sedemikian rupa sehingga distnibusinya menjadi lobih efektif' Pendekatan
keruangan menyangkut pola, proses dan struktur di kaitkan dengan dimensi waktu'
sehingga analisisnya bersifat horizontal'
b. Pendekatan kelingkungan'
Studi interaksi antara organisme hidup dengan lingkgngannya disebut dengan ekologi'
Geografi dan Ekologi merupakan dua bidang iknu yang berbeda satu sama lain' Geografi
berkenaan dengan interelasi kehidupan manusia dengan faktor fisisnya yang membenhrk
suatu sistem keruangan yang meng*rubungkan satu region dengan reglon lainnya' Sedang
ekologi berkaitan dengan interelasi antarc manusia dengan ingkungan yang membentk
suatu sistem ekologi atau ekosistem. Prinsip dan konsep yang berlaku diantara ke duanya
berbeda satu sama lainm tetapi karena ada kesamaan pada obyek yang digarapnya' maka
kedua ilmu tersebut pada pelaksanaan kerjanya dapat saling membantu' Geografi dapatdikatakan sebagai iknu tentang ekologi manusia yang berrraksud menjelaskan hubungan
antara lingkuogan alam dengan penyebaran dan aktivitas manusia' Pandangan dan
penelaahan ekologi diarahkan kepada hubungan antara manusia sebagai mahluk hidup
dengan lingkungru alam. Pandangan dan penelaahan inilah yang disebut dengan
pendekatan ekologi, yang dapat mengungkapkan masalah hubungan penyebaran dan
aktivitas manusia dengaa lingkungan alamnya' Pada pendekatan ekologi suatu daerah
permukiman sitinjau sebagai suatu bentuk ekosistem hasil interaksi penyebaran dan
aktivitjas manusia dengan lingkungan alamnya'
c. Pendekatan kewilaYahan
Kombinasi antara analisa keruangm dan analisa kelingkungan disebut sebagl
analisa kewilayahan atau analisa kompleks wilayah' Pada analisa ini wilayah tertentu
didekati atau dihampiri dengan konsep "afeil difiterentiation", yaitu suatu anggapan
bahwa interaksi antar wilayah akan berkembang karena pada hakekafirya terdapat
perbedaan trLtamsatu wilayah dengan wilayah lainnya.Pada pendekatan ini diperhatikan
pnla penyebaran fenomena tertentu(analisa keruangan) dan interaksi antara manusia
dengan lingkungannya, ungrk kemudian dipelajari kaitannya sebagai analisa
kelingkungan. Dalam hubungannya dengan analisa wilayah, ramalan wilayah dan
perancangan wilayah merupakan aspek-aspek yang penting' Secara rxnum wilayah dapat
diartikan sebagai sebagian permukaan bumi yang dapat dibedakan dalam hal-hal tertentu
dari daerah sekitarnya dan mempunyai ciri yang spesifik misalnya: fenomena politik'
kebudayaan sosial, iklim, vegetasi, fauna 
relief dan sebagainya'


GEOGRAFI DAN PENATAAN RUANG

Geografi merupakan disiplin yang mempelajari permukaan bumi, penyebaran dan interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Pengertian geografi berkembang dinamis dan terus disempurnakan sesuai dengan perkembangan zaman. Dinamika pemahaman atas pengertian tersebut berpengaruh terhadap implementasi geografi dalam berbagai bidang, termasuk dalam penataan ruang. Sebagai disiplin yang cukup tua, geografi telah memberikan kontribusi signifikan terhadap penyelenggaraan penataan ruang, khususnya di Indonesia. 

PENGERTIAN GEOGRAFI DAN PENATAAN RUANG
Seabad sebelum masehi, pengertian geografi masih bernuansa astronomi dan matematika. Pada abad pertengahan dan renaissance, pengertian geografi menjadi suatu cabang pengetahuan yang mempelajari proses dan fenomena alamiah seperti yang terjadi di litosfer, hidrosfer dan atmosfer. Pandangan geografi modern, dimotori oleh Immanuel Kant (1724-1804), yang menjelaskan pengertian geografi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari fakta yang berasosiasi dengan ruang. Pada masa yang hampir bersamaan, Alexander von Humboldt menambah pengertian tersebut dengan mengkaitkannya pada aspek manusia. Sementara itu, pada akhir abad 19 geografi memusatkan perhatian pada iklim, tumbuhan dan hewan, terutama terhadap 
bentang alamnya. Dalam perkembangannya, Wrigley (1965) 
berpendapat, geografi merupakan disiplin yang berorientasi pada 
masalah (problem oriented) dalam rangka interaksi antara manusia 
dengan lingkungan. 
Peter Haggett (1970) membedakan geografi dalam dua 
struktur, yaitu geografi ortodoks dan geografi terpadu. Dalam struktur 
geografi ortodoks dibedakan antara geografi fisikal, geografi 
manusia, geografi regional dan teknik geografi. Geografi fisikal 
mencakup kajian, antara lain, geomorfologi, hidrologi, klimatologi dan 
pedologi. Geografi manusia, antara lain, mencakup geografi ekonomi, 
geografi penduduk, geografi perdesaan, geografi perkotaan dan 
geografi kemasyarakatan. 
Sementara geografi regional mencakup kajian geografi 
menurut wilayah, seperti geografi Asia Tenggara, Geografi Eropa dan 
lainnya. Berbeda dengan ketiga hal tersebut, teknik geografi 
mencakup kartografi, penginderaan jauh, metode kuantitatif, statistik 
dan sistem informasi geografi. Pandangan tersebut berbeda dengan 
pandangan dalam struktur geografi terpadu yang hanya 
membedakan analisa keruangan, analisa ekologi dan analisa 
kompleks wilayah.Memahami dinamika perkembangan pandangan geografi 
dalam berbagai madzhab luar negeri, ahli Geografi Indonesia yang 
dimotori oleh Bintarto dan Surastopo pada awal tahun 1970-an mendorong kita agar tidak terlalu terpengaruh terhadap fanatisme 
madzhab tersebut. Dalam berbagai kesempatan, termasuk saat 
menyampaikan kuliah, beliau berdua lebih mendorong pemahaman 
geografi dengan menggunakan pendekatan analisa keruangan, 
analisa ekologi, dan analisa kompleks wilayah. Sikap konsisten 
tersebut dituangkan dalam salah satu tulisan berjudul “Metode 
Analisa Geografi” (LP3ES. 1979). 
Konsistensi dua sesepuh geografi tersebut berlanjut dengan 
perkembangan penggunaan berbagai cara seperti statistik, pemetaan 
(remote sensing) dan sistem informasi geografi sebagai pelengkap 
dalam mempermudah implementasi pendekatan-pendekatan di atas. 
Dalam berbagai pengertian yang berkembang, terlihat ada tiga 
kesamaan pandangan yang disepakati semua madzhab, yaitu (a) 
bahwa arena yang menjadi titik perhatian adalah permukaan bumi, 
bukan ruang yang abstrak; (b) bahwa semua madzhab memperhatikan penyebaran manusia pada ruang dalam kaitan manusia dengan lingkungannya; (c) bahwa dalam geografi terdapat 
unsur-unsur utama seperti jarak, interaksi, gerakan dan penyebaran. 
Titik perhatian tersebut sedikit berbeda dengan penataan 
ruang yang tidak hanya memperhatikan aspek darat dan laut (muka 
bumi) saja, tetapi juga udara dan bawah permukaan bumi. Namun, 
aspek perhatian dari geografi terhadap manusia dan lingkungannya 
sangat berimpit, dengan tujuan penataan ruang untuk menjaga 
sustainabilitas (kualitas) lingkungan dan kesejahteraan manusianya. 
Ada pun jarak, interaksi dan gerakan manusia merupakan dimensidimensi utama dalam penataan ruang. 
Penataan ruang merupakan proses perencanaan tata ruang, 
pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang (UU 
Nomor 24/1992). Dari pengertian ini, secara ideal hasil dari penataan 
ruang adalah suatu ruang yang tertata (bermutu) untuk kehidupan 
(human being). Namun dalam praktek, banyak ditemukan perkembangan ruang yang menyimpang dari rencana tata ruang, sementara 
ruang yang bermutu sulit ditemukan. Dengan kata lain, yang ditemui 
adalah kondisi ruang yang merupakan hasil dari proses penyesuaian 
dari human being pada dan di sekitar ruang tersebut dengan alam 
sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya, secara fisik, ekonomi 
maupun sosial. Dalam konteks penulisan ini, penataan ruang dipahami 
sebagai upaya yang seharusnya dilaksanakan seluruh pelaku untuk 
mewujudkan keseimbangan dan sustainabilitas lingkungan dalam 
menopang kehidupan. Penataan ruang merupakan proses mengelola 
wadah (ruang) yang meliputi daratan, lautan dan udara sebagai 
kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lainnya hidup dan 
melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidup. Oleh 
karena itu, uraian dalam tulisan ini akan difokuskan pada seberapa 
jauh teknik dan pendekatan geografi telah memberikan kontribusi 
terhadap proses perwujudan ruang yang seimbang dan sustainable 
tersebut. 
Pendekatan Geografi 
Dalam ruang lingkup seperti yang dikemukakan di atas, maka 
pendekatan yang dibahas dibatasi pada kelompok struktur geografi 
terpadu. Seperti telah dijelaskan, dalam geografi terpadu dikenal tiga 
pendekatan geografi, yaitu analisa keruangan, analisa ekologi dan analisa kompleks wilayah. Meski secara formal pendekatan tersebut 
baru dipopulerkan oleh Peter Hagget pada tahun 1970, tetapi wacana 
pengelompokannya telah berkembang puluhan tahun sebelumnya. 
Untuk itu penulis mencoba melakukan analisis peranan geografi 
dalam penataan ruang berdasarkan tiga pendekatan tersebut, yang 
mempunyai ciri dan karakteristik berbeda. 
Pendekatan Keruangan 
Sesuai dengan namanya, pendekatan ini menilai lokasi atau 
ruang dari sudut pandang penyebaran penggunaannya dan 
penyediaannya untuk berbagai keperluan. Ada dua macam 
pengertian penyebaran, yaitu penyebaran ekspansi (expansion 
diffusion) dan penyebaran penampungan (relocation diffusion). 
Pengertian penyebaran ekspansi digunakan untuk memahami 
proses di mana informasi, material atau jenis benda lain menjalar 
melalui suatu populasi dari suatu daerah ke daerah lain. Material 
yang disebarkan tetap ada dan terkadang menjadi lebih intensif di 
tempat asalnya. Hal ini berarti terjadi penambahan luas dibanding 
aslinya karena mendapat anggota dan wilayah baru. Dari hal ini, 
dikenal dua terminologi penyebaran, yaitu penyebaran menjalar 
(contagious diffusion) yaitu yang proses menjalarnya melalui kontak 
langsung antarmanusia atau antardaerah; dan penyebaran kaskade 
(cascade diffusion) dimana proses penjalarannya melalui hirarki. 
Sementara itu, penyebaran penampungan merupakan proses 
penyebaran keruangan di mana informasi atau material yang disebar 
meninggalkan daerah yang lama dan berpindah atau ditampung di 
daerah yang baru. 
Pendekatan Ekologi 
Dalam pendekatan ini yang dikaji bukan hanya ketertarikan 
manusia atas tanggapan dan penyesuaian terhadap lingkungan fisik 
saja, tetapi juga interaksi dengan manusia lain yaitu ruang sosial. 
Untuk itu, pendalaman mengenai ekologi dan ekosistem menjadi 
penting untuk mengimplementasikan pendekatan ekologi. Dinamika 
yang terdapat dalam lingkungan sosial dapat menimbulkan 
perubahan gagasan manusia, sehingga dapat menimbulka penyesuaian dan pembaruan sikap dan tindakan terhadap 
lingkungan tempat hidupnya. Pada sisi lain, lingkungan fisik dimana manusia hidup dapat pula mengalami perubahan bentuk dan fungsi 
yang disebabkan oleh campur tangan manusia. 
Dalam konteks ini, William Kirk (1963) memperkenalkan 
terminologi geografi lingkungan, geografi perencanaan, geografi 
hayati dan geografi tanah. Geografi lingkungan merupakan suatu 
kajian geografi dengan mengutamakan pendekatan lingkungan. 
Geografi perencanaan merupakan kajian geografi yang lebih concern
dalam membantu tahapan-tahapan perencanaan. Geografi hayati 
merupakan suatu kajian geografi yang concern pada aspek-aspek 
kehidupan manusia dan flora-faunanya. Geografi tanah merupakan 
kajian geografi yang mengutamakan analisis tentang aspek tanah 
dan sebarannya. 
Pendekatan Kompleks Wilayah 
Pendekatan ini merupakan perpaduan pendekatan keruangan 
dan ekologi. Interaksi antar wilayah akan berkembang karena 
hakekatnya suatu wilayah berbeda dengan wilayah lain karena ada 
perbedaan permintaan dan penawaran antarwilayah tersebut. Pada 
pendekatan ini analisa keruangan dan analisa ekologi atas wilayah 
dan atas interaksi antarwilayah tersebut tak hanya dipandang dari sisi 
penyebaran penggunaannya serta penyediaannya saja, tapi juga 
interaksinya dengan manusia pada wilayah tersebut. 
Dalam konteks pendekatan ini dikenal terminologi 
pewilayahan dan klasifikasi wilayah. Dikenal pula uniform region yaitu 
pewilayahan berdasar keseragaman atau kesamaan dalam kriteria 
tertentu; nodal region, yaitu wilayah yang dalam banyak hal diatur 
beberapa pusat kegiatan yang saling dihubungkan dengan garis 
melingkar, generic region merupakan klasifikasi wilayah yang 
menekankan pada jenisnya, fungsi wilayah kurang diperhatikan, dan 
akhirnya specific region merupakan klasifikasi wilayah menurut 
kekhususannya, merupakan daerah tunggal, mempunyai ciri geografi 
khusus. 
GEOGRAFI DAN PENATAAN RUANG PERIODE 1960-1970 AN
Pendekatan dan Prakteknya 
Pada era konsolidasi bangsa dan awal Repelita I yang 
didominasi pencarian format baku pembangunan fisik, pendekatan yang digunakan masih sangat parsial, sektoral dan bernuansa 
memperkuat semangat wawasan nusantara. Untuk itu kelompok 
pendekatan keruangan lebih menonjol dibandingkan pendekatan 
lainnya. Hal tersebut ditandai pula dengan awal berkembangnya 
konsep pembagian wilayah pembangunan nasional. Pada era 
tersebut pemanfatan teknik geografi masih terbatas pada 
penggunaan peta dasar produk Jawatan Topografi, Angkatan Darat 
yang masih mencakup skala kecil untuk wilayah Indonesia karena 
peta skala besar masih terbatas coverage-nya. Pendekatan 
keruangan yang menekankan aspek geografi manusia dalam struktur 
geografi ortodoks, lebih mendominasi pelaksanaan pembangunan 
pada era tersebut. Kondisi tersebut agak berubah pada akhir dekade 
dimana mulai muncul konsep pendekatan ekologis. Konsep 
pendekatan tersebut walau belum terkenal telah banyak dielaborasi 
untuk mendukung analisa-analisa pembangunan infrastruktur fisik. Evaluasi Praktek Pelaksanaan 
Meski pendekatan keruangan yang lebih menekankan aspek 
geografi manusia telah dimanfaatkan, tetapi dalam implementasinya 
belum sepenuhnya menempatkan manusia sebagai subyek
pembangunan. Pendekatan tersebut masih terlalu kental dengan 
nuansa untuk menempatkan manusia sebagai obyek pembangunan. 
Hal tersebut kental pula dengan pendekatan sentralistik yang 
diwarnai target pertumbuhan ekonomi wilayah yang cenderung 
merusak sumber alam. 
GEOGRAFI DAN PENATAAN RUANG PERIODE 1970-1980 AN
Pendekatan dan Prakteknya 
Periode tahun 1970-an merupakan tahapan awal dari 
pembangunan terencana, ditandai dengan hampir berakhirnya 
Repelita I dan berawalnya Repelita II, yang lebih mengarah pada 
dominasi pembangunan fisik dengan tidak hanya pembangunan per 
sektor, tetapi sudah menggabungkan berbagai sektor dan juga 
persebaran pembangunan di daerah. Pada masa yang kental dengan 
implementasi konsep wawasan nusantara, pembangunan bertitik 
berat pada penyediaan infrastruktur fisik untuk meningkatkan 
pertumbuhan wilayah. Pada masa ini, pemunculan sekaligus 
implementasi pengembangan wilayah yang mengacu pada satuan 
wilayah pengembangan (SWP) yang antara lain mengelompokkan wilayah nasional menjadi 4 wilayah pembangunan utama dan 10 
wilayah pembangunan menjadi sangat diminati para pelaku 
pembangunan. 
Walau diintrodusir permasalahan lingkungan hidup dalam 
konferensi PBB di Stocholm (1972), namun pembangunan pada 
dekade ini kental dengan nuansa sentralistik, di mana perencanaan, 
pelaksanaan bahkan pengawasan di daerah yang jauh dari ibukota 
dan juga dari pusat kota dilakukan dan dikoordinasikan di dan oleh 
pemerintahan pusat. Sebagian kecil pekerjaan pembangunan yang 
diperbantukan dan didekonsentrasikan ke daerah. Dalam kondisi 
tersebut pemerintah pusat berperan dominan. Hal ini membawa 
konsekuensi bahwa birokrat pusat dan tenaga ahli yang 
bergandengan erat dengan pusat, termasuk dari perguruan tinggi 
yang berlokasi dekat dengan pusat pemerintahan mendapat cipratan
mandat untuk terlibat lebih intens dalam pembangunan sentralistik 
tersebut. 
Pada masa tersebut bermunculan apilkasi yang diwarnai 
pendekatan atau analisis kewilayahan yang lebih menekankan aspek 
geografi fisik, juga walau tidak secara dominan dipertimbangkan pula 
aspek geografi regional. Sebagai contoh adalah membludaknya 
pendekatan kewilayahan seperti SWP dan SP (Satuan 
Pengembangan) untuk mendorong kegiatan transmigrasi. 
Pendekatan tersebut berakibat pada miskinnya pertimbangan atau 
kajian sosial yang menempatkan manusia sebagai subjek 
pembangunan. Evaluasi Praktek Pelaksanaan 
Meski pendekatan yang mempertimbangkan aspek sosial, 
yang dimotori oleh kelompok geografi manusia dan geografi regional 
telah berkembang dan didorong pula untuk tidak ditinggalkan dalam 
implementasi, tetapi dalam prakteknya masih kurang mendapat 
respons. Hal ini disebabkan ada persepsi bahwa untuk 
mempertimbangkan aspek sosial perlu waktu lebih lama dan 
kompleks, sehingga yang lebih berkembang adalah pertimbangan 
fisik karena akan lebih cepat dan kasat mata atau terlihat nyata 
dalam mendukung justifikasi untuk membangun. Aspek ekologi dan 
sosial sebagai bagian yang telah juga diintrodusir, antara lain oleh 
geografi manusia, masih jauh dari target untuk dipertimbangkan 
secara seksama. Hal itu menunjukkan, sebenarnya telah diintrodusir 
pendekatan yang telah memadukan pendekatan fisik dan pendekatan 
sosial dalam perencanaan pengembangan wilayah, khususnya dalam 
aspek rencana tata ruang. Namun, ada faktor lain yang perlu 
diperhatikan seperti peningkatan pertumbuhan wilayah yang sangat 
pesat. 
GEOGRAFI DAN PENATAAN RUANG PERIODE 1980-1990 AN
Pendekatan dan Prakteknya 
Ditandai dengan munculnya UU No. 4/1982 tentang 
“Ketentuan Pokok Lingkungan Hidup” disertai dengan produk hukum 
turunannya, maka banyak pendekatan dan analisis yang mengedepankan aspek ekologi, satuan wilayah sungai (SWS) dan juga 
sustainabilitas. Kondisi tersebut mendorong berkembanganya 
pendekatan ekologi sebagai salah satu pendekatan yang diyakini 
para ahli geografi. Euforia tersebut juga ditandai dengan 
bermunculannya Pusat-Pusat Studi Lingkungan Hidup di berbagai 
Perguruan Tinggi yang banyak sekali mendorong berkembangnya 
analisa berbasis lingkungan seperti AMDAL dan lainnya. 
Pendekatan satu sungai satu manajemen pun mulai mencuat 
untuk diimplementasikan pada dekade ini. Hal ini ditandai dengan 
munculnya pengelolaan sungai besar yang mengalir pada wilayah 
lintas batas administrasi, terutama di Jawa, dalam satu manajemen. 
Tidak kalah penting, juga penegasan pendekatan penataan ruang 
yang disebutkan dalam dokumen Repelita V telah ikut mendorong 
pendekatan ekologi dan pendekatan keruangan dalam disiplin 
geografi berkembang pesat. Pendekatan-pendekatan tersebut telah 
mendorong pula perkembangan teknik geografi seperti
diidentifikasinya teknik interpretasi foto udara, citra satelit (remote 
sensing) dan sistem informasi geografi (SIG) berbasis computer dan 
ICT (Information and Communication Tecnology) yang real time
dengan berbagai kecanggihan dan kelemahannya. 
Evaluasi Praktek Pelaksanaan 
Pendekatan itu, dalam prakteknya belum dilaksanakan secara 
optimal. AMDAL misalnya lebih banyak sebagai pelengkap saja, 
belum diterapkan secara konsisten. Hal ini tampak dengan munculnya kasus AMDAL setelah atau saat proyek dilakukan. Bukan hanya pendekatan itu saja yang mengalami de-optimalisasi implementasi, 
tapi penggunaan teknik geografi seperti SIG juga masih terbatas 
pada tataran wacana, belum pada track dalam tatanan pengambilan 
keputusan. Implementasi pemetaan (remote sensing) dan SIG masih 
digunakan secara sektoral dan terpisah, belum terintegrasi. Namun, 
di sisi lain, semangat menggunakan SIG sebagai alat bantu penataan 
ruang dalam berbagai kegiatan tampak sekali meningkat. 
Lebih jauh, kian jelas terlihat, bahwa aspek manusia (atau 
masyarakat) sebagai satu elemen penting dalam pembangunan 
belum diposisikan seperti yang seharusnya. Hal ini terlihat jelas 
dengan belum tingginya praktek memperankan masyarakat dalam 
pembangunan dan juga semakin bersemangatnya pembangunan 
yang masih kental dengan nuansa fisik. 
GEOGRAFI DAN PENATAAN RUANG PERIODE 1990-2000 AN
Pendekatan dan Prakteknya 
Deklarasi mengenai pembangunan dan lingkungan atau 
Agenda 21 (1992) telah mendorong paradigma baru dalam 
pembangunan wilayah di Indonesia. Hal tersebut ditandai antara lain 
dengan munculnya UU No. 24/1992 tentang “Penataan Ruang”, juga 
PP No.45/1992 tentang “Penyelenggaraan Otonomi Daerah”. Hal ini 
telah mengendepankan aspek manusia (masyarakat) sebagai 
konsideran penting dalam setiap kegiatan pembangunan. Selain itu, 
juga mengangkat teknik geografi seperti SIG menjadi alat bantu 
penataan ruang yang perlu terus dikembangkan. 
Pendekatan kompleks wilayah (geografi terintegrasi) yang 
lebih menonjolkan aspek masyarakat, yaitu yang mengedepankan 
konsiderasi sosial dan HAM (Hak Asasi Manusia), dan dianalisis 
dengan pendekatan kuantitatif dan lebih mantap lagi setelah 
munculnya UU No.22/ 1999 tentang “Pemerintahan Daerah” dan UU 
No. 25/1999 tentang “Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah”. 
Pendekatan kompleks wilayah ini tampaknya cenderung berkembang 
dengan dipasarkannya citra satelit skala besar seperti ikonos beserta 
kecanggihan SIG yang berbasis web. Evaluasi Praktek Pelaksanaan 
Walau analisa kuantitatif yang ditetapkan dalam pendekatan 
kompleks wilayah mulai menonjol, namun dalam pelaksanaannya 
belum seperti yang diharapkan, terutama belum dimanfaatkannya 
secara baik GPS (Geo Positioning Sattelite) sebagai elemen 
penambah ketelitian spasial (lokasi) yang akan sangat membantu 
akurasi analisa. 
Aspek masyarakat (manusia) memang telah mulai diangkat 
dalam pendekatan-pendekatan geografi, namun implementasinya 
masih terlihat belum serius dan konsisten. Kata masyarakat atau 
publik lebih banyak digunakan sebagai wahana untuk menjustifikasi 
sesuatu yang menguntungkan satu fihak saja, belum diletakkan 
dalam posisi yang seharusnya diajak bersama berbuat sesuatu. 
KESIMPULAN
Sebagai disiplin yang mempelajari permukaan bumi, 
penyebaran dan interaksi antara manusia dengan lingkungannya, 
geografi selalu terkait dengan ruang dan interaksi human being-nya. 
Dalam upaya mewujudkan ruang yang bermutu, pendekatan geografi 
yang mencakup pendekatan keruangan, pendekatan ekologi dan 
pendekatan kompleks wilayah, memberikan kontribusi signifikan dan 
dinamis sesuai perkembangan jaman, dalam konsep maupun implementasi penataan ruang di tanah air. 
Meski tidak mudah untuk dikuantifikasikan, namun peranan 
geografi dalam penataan ruang dapat dengan mudah dirasakan 
secara rasional. Sebagai disiplin yang sama-sama mengkaji masalah 
wilayah atau ruang, geografi dan penataan ruang merupakan dua hal 
yang saling melengkapi, dalam kerangka teori maupun praktek. 

DAFTAR PUSTAKA
1. BKTRN. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 
Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Jakarta. 1992. 
2. Dokumen Rencana Pembangunan Lima Tahunan I-V. Jakarta. 
3. E.A.Wrigley. Changes in the Philosophy of Geography dalam 
R.J Chorley and P. Haggett, Frontiers in Geographical 
Teaching. London. 1965. 
4. Hagget, Petter. Locational Analysis in Human Geography. 
London: Edward Arnold. 1970. 
5. Rahardjo Adisasmita. Kumpulan Karya Ilmiah dalam Bidang 
Perencanaan dan Pembangunan Regional. Ujung Pandang. 
1977/1978. 
6. R. Bintarto dan Surastopo H. Metode Analisa Geografi. 
LP3ES. Jakarta. 1979. 
7. William Kirk. Problems in Geography. No. 221. vol XLVIII. 
1963. 

SUMBER : PERANAN GEOGRAFI DALAM PENATAAN RUANG
DI INDONESIA
Oleh Muh. Dimyati

28 Oktober 2012

INDONESIA MENUJU NEGARA SUPER POWER DUNIA

POTENSI: lokasi srtrategis,sumber daya alam melimpah

POTENSI : kesatuan satu nusa,bangsa dan bahasa
                                             POTENSI : budaya unggul kerja keras,mentalitas budaya ENTREPRENEUR

Republik Indonesia disingkat RI atau Indonesia adalah negara di Asia Tenggara, yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau besar dan kecil, sekitar 6.000 di antaranya tidak berpenghuni, oleh karena itu ia disebut juga sebagai Nusantara. Dengan populasi sebesar 222 juta jiwa pada tahun 2006, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, meskipun secara resmi bukanlah negara Islam. Indonesia diprediksikan 2020 akan menemui kejayaannya kembali seperti Sriwijaya dan Majapahit. Jakarta merupakan pusat pemerintahan dan pusat bisnis di Indonesia. kini Investor asing berlomba-lomba menanamkan investasinya di bumi Indonesia. Indonesia dengan beragam suku, budaya, agama, dan bahasa membuatnya lebih kaya dan bisa hidup rukun dan bersatu. Bali, Sumatera Barat, Papua, Makassar, Medan, Bandung, Jogja, Surabaya, Maluku, Pontianak, manado merupakan beberapa kota-kota besar di Indonesia dengan kemajuan dan kekayaannya yang berbeda-beda.

Bunyi terompet kematian yang menandai robohnya ekonomi negara-negara Eropa sayup-sayup mulai terdengar. Perekonomian negara-negara utama seperti Perancis, Italia, Spanyol dan Yunani sedang dirawat di UGD. Sementara raksasa ekonomi lainnya, Amerika Serikat, telah lama termehek-mehek dalam kegelapan ekonomi yang tanpa ujung.
Sementara di belahan dunia lain, yang dipisahkan oleh samudera Atlantik dan Pasifik, muncul kekuatan ekonomi baru yang terus tumbuh. Belahan dunia lain itu bernama benua Asia. Inilah sebuah benua, dimana kegemilangan masa depan ekonomi dunia tengah diracik dan dibentangkan.
Dan senyampang dengan itu, dengan gagah berani muncul barisan the Next Economic Superpowers : China, India, South Korea, dan tentu saja sebuah negeri indah yang bernama : Indonesia.
Salah satu tanda kebesaran ekonomi sebuah bangsa, selalu dilihat dari size PDB-nya atau produk domestik bruto (atau GDP/Gross Domestic Product). Dalam bahasa kampung, PDB merupakan total output/produksi yang dihasilkan oleh sebuah negara : mulai dari produksi sepatu oleh pengrajin Cibaduyut hingga hasil minyak Pertamina; mulai dari produksi mie tek-tek di pinggir pasar Glodok hingga produksi kelapa sawit di perkebunan maha luas milik Astra Agro Lestari.
Pendeknya, PDB ibarat volume produksi bagi para juragan pabrik. Makin besar, makin bagus. Dan negeri kita, karena jumlah penduduknya yang amat banyak serta area Nusantara yang maha luas (lebih panjang dibanding negara Amerika), termasuk negara dengan PDB yang relatif besar yakni : 6,000 trilyun rupiah (atau berada pada posisi 18 terbesar di dunia).
Nah, angka PDB itu juga yang dijadikan dasar untuk mengukur pertumbuhan ekonomi. Jadi, kalau di koran-koran kita dengar ekonomi Indonesia akan tumbuh 6 %, maka patokannya adalah : angka PDB yang besarnya sudah Rp 6,000 trilyun akan tumbuh 6 % (atau tumbuh sebesar Rp 360 trilyun rupiah). Angka pertumbuhan 6 % tergolong bagus (Eropa dan Amerika hanya bisa tumbuh 1,5%; jadi kita bisa tumbuh 4 kali lipat dibanding mereka !!).
Dengan basis angka PDB yang sudah cukup besar, dan didukung dengan angka pertumbuhan yang meyakinkan (yakni antara 6 – 7%), Indonesia PASTI akan menjadi raksasa ekonomi di masa depan (sayangnya, media massa kita jarang menampilkan hal ini. Justru media internasional yang berkali-kali membahas masa depan gemilang ekonomi Indonesia).
Yang mungkin juga layak dicatat adalah ini : jumlah size PDB yang 6000 triyun itu, mayoritasnya (sekitar 63%) di sumbang oleh konsumsi domestik. Atau oleh belanja konsumen domestik, atau ya oleh kita-kita ini : mulai dari membeli Blackberry Bold 9900 baru di pasar Roxi hingga ambil Vario gres di dealer motor; mulai dari jalan-jalan sambil makang siang di Mall hingga beli baju modis di Bandung.
Konsumen Indonesia memang amat powerful. Itulah kenapa seorang haji yang juga juragan sukses pernah bilang : cari uang di Indonesia itu amat gampang; uang ratusan milyar bercereran di jalan dan di pasar; kita tinggal mengambilnya semudah mengorek upil.
Maksud sang juragan itu jelas : peluang bisnis dan prospek pasar di negeri ini sedemikian menggiurkan, dan inilah kesempatan emas bagi siapa saja untuk menjalankan bisnis (kalau ndak percaya tanya Toyota dan Nestle kenapa mereka mau bikin pabrik baru di Cikarang, masing-masing senilai 2 trilyun). So, just build your own busines, and do it NOW.
Elemen lain yang juga akan membuat Indonesia menjadi superpower ekonomi adalah ini : bonus demografi. Ini istilah yang lazim digunakan untuk menyebut sebuah negara yang punya komposisi penduduk yang produktif. Indonesia termasuk disitu : dari 235 juta penduduk kita, mayoritas berada pada usia produktif (atau antara 17 sd 50 tahun). Dan ini akan memberi efek dahsyat bagi kemajuan ekonomi.
Negara-negara maju, termasuk Jepang, sebaliknya. Mayoritas penduduk mereka berada pada usia lanjut (dan tidak produktif). Sebutannya : negara yang menua, atau an aging nation. Dan ini malapetaka buat ekonomi bangsa. Jepang dan negera maju lainnya, pelan-pelan bisa hancur, sejalan dengan penduduknya yang jompo semua.
Demikianlah beberapa catatan yang layak diperhatikan, kala kita punya impian untuk menjadikan Sang Bumi Nusantara menjadi the Next Economic Superpower.
Negeri ini pernah mengalami kejayaan yang amat impresif, ketika dipimpin oleh seorang perdana menteri bernama Gajah Mada. Kedahsyatan negeri Majapahit yang dipahat 900 tahun silam itu insya Allah akan terulang kembali.

Mungkin kita tidak menyangka dengan negara ini, yang pernah menjadi salah satu kekuatan yang pernah sangat di perhitungkan untuk menjadi kekuatan yang Dasyat pada waktu dulu. setelah apa yang terjadi akhir akhir ini.

mari kita hilangkan rasa jengah dengan melihat artikel ini.. yuk mari:

1960-an, Era Presiden Sukarno.

kekuatan militer Indonesia adalah salahsatu yang terbesar dan terkuat di dunia. Saat itu, bahkan kekuatan Belanda sudah tidak sebanding dengan Indonesia, dan Amerika sangat khawatir dengan perkembangan kekuatan militer kita yang didukung besar-besaran oleh teknologi terbaru Uni Sovyet.

1960, Belanda masih bercokol di Papua. Melihat kekuatan Republik Indonesia yang makin hebat, Belanda yang didukung Barat merancang muslihat untuk membentuk negara boneka yang seakan-akan merdeka, tapi masih dibawah kendali Belanda.
Presiden Sukarno segera mengambil tindakan ekstrim, tujuannya, merebut kembali Papua. Sukarno segera mengeluarkan maklumat “Trikora” di Yogyakarta, dan isinya adalah:

1. Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan kolonial Belanda.
2. Kibarkan Sang Saka Merah Putih di seluruh Irian Barat
3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum, mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air bangsa.

Berkat kedekatan Indonesia dengan Sovyet, maka Indonesia mendapatkan bantuan besar-besaran kekuatan armada laut dan udara militer termaju di dunia dengan nilai raksasa, US$ 2.5 milyar. Saat ini, kekuatan militer Indonesia menjadi yang terkuat di seluruh belahan bumi selatan.

Kekuatan utama Indonesia di saat Trikora itu adalah salahsatu kapal perang terbesar dan tercepat di dunia buatan Sovyet dari kelas Sverdlov, dengan 12 meriam raksasa kaliber 6 inchi. Ini adalah KRI Irian, dengan bobot raksasa 16.640 ton dengan awak sebesar 1270 orang termasuk 60 perwira. Sovyet, tidak pernah sekalipun memberikan kapal sekuat ini pada bangsa lain manapun, kecuali Indonesia.

(kapal-kapal terbaru Indonesia sekarang dari kelas Sigma hanya berbobot 1600 ton).




Angkatan udara Indonesia juga menjadi salahsatu armada udara paling mematikan di dunia, yang terdiri dari lebih dari 100 pesawat tercanggih saat itu. Armada ini terdiri dari :
1. 20 pesawat pemburu supersonic MiG-21 Fishbed.
2. 30 pesawat MiG-15
3. 49 pesawat tempur high-subsonic MiG-17.
4. 10 pesawat supersonic MiG-19.





Pesawat MiG-21 Fishbed adalah salahsatu pesawat supersonic tercanggih di dunia, yang telah mampu terbang dengan kecepatan mencapai Mach 2. Pesawat ini bahkan lebih hebat dari pesawat tercanggih Amerika saat itu, pesawat supersonic F-104 Starfighter dan F-5 Tiger. Sementara Belanda masih mengandalkan pesawat-pesawat peninggalan Perang Dunia II seperti P-51 Mustang.
Sebagai catatan, kedahsyatan pesawat-pesawat MiG-21 dan MiG-17 di Perang Vietnam sampai mendorong Amerika mendirikan United States Navy Strike Fighter Tactics Instructor, pusat latihan pilot-pilot terbaik yang dikenal dengan nama TOP GUN.

Indonesia juga memiliki armada 26 pembom jarak jauh strategis Tu-16 Tupolev (Badger A dan B). Ini membuat Indonesia menjadi salahsatu dari hanya 4 bangsa di dunia yang mempunyai pembom strategis, yaitu Amerika, Rusia, dan Inggris. Pangkalannya terletak di Lapangan Udara Iswahyudi, Surabaya.

Bahkan China dan Australia pun belum memiliki pesawat pembom strategis seperti ini. Pembom ini juga dilengkapi berbagai peralatan elektronik canggih dan rudal khusus anti kapal perang AS-1 Kennel, yang daya ledaknya bisa dengan mudah menenggelamkan kapal-kapal tempur Barat.

Indonesia juga memiliki 12 kapal selam kelas Whiskey, puluhan kapal tempur kelas Corvette, 9 helikopter terbesar di dunia MI-6, 41 helikopter MI-4, berbagai pesawat pengangkut termasuk pesawat pengangkut berat Antonov An-12B. Total, Indonesia mempunyai 104 unit kapal tempur. Belum lagi ribuan senapan serbu terbaik saat itu dan masih menjadi legendaris sampai saat ini, AK-47.

Ini semua membuat Indonesia menjadi salasahtu kekuatan militer laut dan udara terkuat di dunia. Begitu hebat efeknya, sehingga Amerika di bawah pimpinan John F. Kennedy memaksa Belanda untuk segera keluar dari Papua, dan menyatakan dalam forum PBB bahwa peralihan kekuasaan di Papua, dari Belanda ke Indonesia adalah sesuatu yang bisa diterima




Indonesia adalah negara yang luas wilayahnya dan sangat kaya akan sumber daya alamnya.  Penerima Nobel Perdamaian 2007, Al Gore, memprediksi Indonesia bisa menjadi negara super power dalam hal penggunaan energi panas bumi (geotermal) sebagai sumber tenaga listrik.
“Indonesia bisa menjadi negara super power untuk energi listrik dari panas bumi dan hal itu bisa menjadi kelebihan untuk ekonomi Indonesia,” kata Al Gore dalam pidato pembukaan“The Climate Project Asia Pacific Summit” di Balai Sidang Senayan Jakarta, pada 9 Januari 2011. Al Gore datang untuk memberikan pelatihan tentang penanganan perubahan iklim kepada 350 orang dari 21 negara, yang sebagian besar berasal dari Indonesia.
Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat itu melihat Indonesia merupakan negara ketiga terbesar yang memproduksi listrik dari tenaga panas bumi, sedangkan Filipina sebagai negara terbesar kedua di dunia produsen listrik panas bumi.
“Para ilmuwan dan para ahli terkenal secara luas mengatakan bahwa produksi listrik dari panas bumi dapat mempresentasikan luasnya sumber tenaga listrik yang bebas karbon di dunia saat ini,” katanya.
Al Gore yang juga penerima Oscar melalui film dokumenter An Inconvenient Truth ini mengatakan, solusi perubahan iklim melibatkan berbagai langkah yang bisa diambil untuk menghemat uang sekaligus mengurangi emisi karbon dioksida.
Al Gore mengatakan, Indonesia merupakan negara dengan profil emisi karbon yang unik karena sebagian besar berasal dari sektor kehutanan dan hutan gambut. “Ada peluang besar untuk mengambil pendekatan keberlanjutan dari raksasa seperti pembakaran batu bara dan minyak atau gas,” katanya.
Dia mengatakan, ada banyak langkah yang bisa diambil untuk mencegah kerusakan hutan dan mengurangi emisi sekaligus meningkatkan pendapatan dan menciptakan perekonomian di Indonesia. “Pengunaan lahan yang lebih efisien akan meningkatkan nilai ekonomi dan mengurangi polusi dari gas rumah kaca,” katanya.
Ada dampak yang besar dari usaha mitigasi seperti penghentian pembakaran pembukaan lahan dan hutan gambut.
Puji Indonesia
Al Gore memuji komitmen Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait  penanganan untuk menghadapi perubahan iklim secara nasional maupun global. “Saya berterimakasih khususnya kepada Presiden Yudhoyono karena impian, keberanian dan kepemimpinannya pada isu yang kita diskusikan dan kita kerjakan,” kata Al Gore.
Ia memuji keberanian Presiden Yudhoyono untuk tampil ketika terjadi kebuntuan dan tidak ada inisiatif dari kelompok 77 negara (G-77) di berbagai perundingan internasional soal perubahan iklim. “Dia berbicara ketika tidak ada pemimpin dari negara-negara G77 yang mau tampil dan mengambil inisiatif dan memimpin mereka memecahkan kebuntuan berkepanjangan yang membuat frustasi di beberapa isu,” ujarnya.
Dengan kepemimpinan Presiden Yudhoyono, ada sedikit kemajuan dalam perundingan perubahan iklim. “Saya sangat menaruh hormat terhadapnya dan mengagumi kepemimpinan dia dan target yang dia janjikan ketika di Kopenhagen,” kata eks  Wakil Presiden Amerika Serikat itu.
Al Gore berharap, Presiden Yudhoyono dapat melanjutkan kepempimpinannya untuk membawa masa depan dunia dan Indonesia ke arah yang lebih baik.



Saya seringkali ditanya oleh banyak orang, mengapa saya begitu optimis bahwa Indonesia akan menjadi negara maju dan berpengaruh. Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan tersebut terdengar cukup aneh. Pada awalnya, saya jawab detail satu-satu, secara ekonomi, secara demografi, secara ini dan itu, Indonesia hampir pasti menjadi negara besar dan kuat. Tapi makin lama,..lelah juga menerangkan kepada masing-masing penanya, sehingga kadang saya justru berbalik bertanya kepada si penanya Apakah ada alasan kita tidak optimis pada Indonesia? Atau Saya tidak mempunyai alasan untuk pesimis, kalau kamu, kenapa pesimis? Dan justru dari situ terjadi diskusi yang hangat dan engaging, dan dari sekian banyak diskusi, saya menarik kesimpulan satu hal, orang-orang yang selama ini pesimis, adalah mereka yang tidak/belum mendapatkan informasi yang akurat mengenai prestasi dan kemajuan yang telah diraih Indonesia selama ini.



Saya jarang mendapatkan prediksi mengesankan tentang masa depan Indonesia dari dalam negeri, kita justru sering mendapatkannya dari luar negeri. Media-media internasional justru sangat optimis tentang masa depan Indonesia, bahkan lembaga-lembaga ekonomi seperti PriceWaterHouse & Coopers, Standart Chartered Bank, Goldman Sachs, the Economist, dan lain-lain, percaya bahwa dalam 25 tahun ke depan, ekonomi Indonesia akan masuk dalam 7 besar ekonomi dunia, bersama dengan Amerika Serikat, China, Jepang, India, Brazil, Mexico. Saat ini, GDP Indonesia ada di peringkat 16, setingkat di bawah Korea Selatan, dan setingkat di atas Belanda. Dan mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selalu di atas 6% per tahun (sementara banyak negara yang hanya tumbuh 3-4%), rasanya wajar kita meyakini bahwa Indonesia akan masuk dalam jajaran Top 10 ekonomi terbesar di dunia di masa yang akan datang.
Kemudian ada kabar datang dari India. Negara ini, pada triwulan I 2012 hanya tumbuh 5.3%, sebuah yang mengejutkan berbagai kalangan, karena selama ini India selalu tumbuh rata-rata 8%. Nah, pada saat yang bersamaan, Indonesia tetap tumbuh cukup mengesankan, yakni 6,35%. Saat ini, (terutama) negara-negara bahkan tidak berani bermimpi bisa tumbuh setinggi itu.
Kabar paling akhir berasal dari dalam negeri. Belum lama iniSoegeng Sarjadi Syndicate (SSS) mengadakan survei, dan hasilnya cukup membuat hati saya bergejolak kencang dan senang luar biasa.Hasil survei Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) menunjukkan bahwa 80,7 persen responden di 33 provinsi di Indonesia percaya bahwa dengan kepemimpinan yang baik, Indonesia akan menjadi negara adidaya. Masyarakat jugaoptimistis bahwa Indonesia menjadi negara maju, sejahtera dan kuat, dan percaya bangsa ini akan menangkan persaingan global.
Saat ini, yang akan saya lakukan adalah berdoa agar Tuhan memberi saya umur panjang agar bisa menjadi saksi negeri ini menjadi makmur, sejahtera, bermartabat, dan berpengaruh. Amien



Pada 2030, ekonomi Indonesia diperkirakan akan mengalahkan Jepang. Pada tahun itu, Indonesia menempati peringkat ke lima negara terbesar, sedangkan Jepang peringkat ke enam.
Dalam laporan khusus Stanchart berjudul “The Super-Cycle Report”, Indonesia mulai menjadi negara bersinar yang semula menempati peringkat ke-28 pada 2000, bakal menjadi salah satu raksasa ekonomi ekonomi dunia dalam dua dekade mendatang. Berada di posisi kelima, Indonesia akan tampil mendampingi China, Amerika Serikat, India dan Brazil.
Laporan Stanchart sesungguhnya menambah daftar beberapa laporan lembaga keuangan dunia sebelumnya yang meyakini Indonesia bakal menjadi pemain terkemuka dalam beberapa dekade mendatang.
Sebelumnya, Goldman Sachs Group memperkenalkan empat negara calon kekuatan ekonomi baru dunia pada 2020 dengan sebutan BRIC, kepanjangan dari Brazil, Rusia, India dan China. BRIC akan menjadi kekuatan ekonomi paling dominan pada 2050.
Selain BRIC, Goldman Sachs membuat istilah baru, yakni Next11. Ini mencakup Indonesia, Turki, Korea Selatan, Meksiko, Iran, Nigeria, Mesir, Filipina, Pakistan, Vietnam dan Bangladesh.
Lembaga keuangan lainnya, Morgan Stanley malah mengusulkan tambahan Indonesia pada BRIC menjadi BRICI. Alasannya, dalam lima tahun ke depan, lembaga terkemuka ini memperkirakan PDB Indonesia bakal mencapai US$800 miliar.
Majalah bergengsi The Economist, pada Juli 2010 juga memasukkan Indonesia sebagai calon kekuatan ekonomi baru pada 2030 di luar BRIC. The Economist mengenalkan akronim baru dengan sebutan CIVETS, kepanjangan dari Colombia, Indonesia, Vietnam, Egypt, Turkey dan South Africa. 
Laporan Stanchart menyebutkan negara-negara berkembang akan melampaui negara maju dengan lebih baik. Akibatnya, keseimbangan kekuatan global ekonomi akan bergeser tegas dari Barat ke Timur.
Pemicunya adalah peningkatan perdagangan, terutama pada pasar-pasar dari negara berkembang, industrialisasi yang pesat, urbanisasi dan meningkatnya masyarakat kelas menengah di negara berkembang.
“Asia akan mendorong sebagian besar dari pertumbuhan global selama 20 tahun ke depan,” kata Stanchart.
***
Saat ini, Indonesia yang merupakan kekuatan ekonomi terbesar di kawasan ASEAN memang sudah masuk dalam jajaran 20 kekuatan ekonomi dunia yang tergabung dalam forum G-20. Namun, Indonesia belum masuk ke dalam 10 negara besar dunia.
Namun, seperti dilaporkan Stanchart, pada 2020 Indonesia bakal masuk peringkat 10 raksasa ekonomi dunia dengan total PDB US$3,2 triliun. Sementara pada 2030, Indonesia bakal mengalahkan Jepang yang melorot ke peringkat enam dari peringkat lima 2020. Pada saat itu, PDB Indonesia diperkirakan mencapai US$9,3 triliun.
Pertanyaannya, mengapa Indonesia bakal menjadi kekuatan baru ekonomi dunia seperti halnya China dan India?
Menurut Stanchart, negara-negara ini memiliki suplai tenaga kerja yang murah dan produktif mendukung pertumbuhan negara Asia yang diperkirakan tumbuh rata-rata 5,2 persen.
Khusus Indonesia, menurut Stanchart, akan menjadi negara bersinar lantaran juga didukung oleh pertumbuhan ekonomi rata-rata 7 persen dalam dua dekade mendatang. Pertumbuhan ini didukung oleh komoditas ekspor. “Indonesia bahkan seharusnya bisa mendepak Rusia dalam kelompok BRIC,” tulis laporan Stanchart.
Namun, untuk menggapai impian besar tersebut, Indonesia dan negara-negara Asia lainnya menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranyar adalah perlunya meningkatkan basis manufaktur agar mempunyai nilai tambah untuk memasok barang setengah jadi dan barang modal.
Selain itu, Indonesia juga harus mengatasi kurangnya infrastruktur, dan sektor jasa harus melengkapi sektor manufaktur untuk menambah dorongan bagi pertumbuhan ekonomi.
Sejak lengsernya Suharto tahun 1998, Indonesia berhasil melakukan transformasi menjadi negara dengan sistem demokrasi terbesar ketiga di dunia (setelah India and Amerika Serikat) dan menjadi salah satu negara dengan sistem politik yang paling stabil di kawasan Asia. Bahkan serangan bom oleh teroris akhir-akhir ini tidak menyurutkan kepercayaan para investor. Semua indikator keuangan malah menguat setelah terjadinya serangan bom tersebut.

Namun, perlu digarisbawahi beberapa isu utama yang mengemuka ketika kita mengamati Indonesia dari sudut pandang global, terutama di tengah tahap awal pergeseran perimbangan kekuatan ekonomi dan finansial global.

Mengacu paradigma ini, para pemenang dalam proses transformasi ini adalah negara yang masuk dalam tiga kategori. Ketiganya adalah sebagai berikut: (1) memiliki sumber-sumber keuangan; (2) memiliki sumber alam berupa energi dan komoditas; dan (3) memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan berubah.

Indonesia belum memiliki sumber-sumber keuangan yang memadai. Jadi, tantangan utamanya adalah bagaimana menarik investasi asing masuk untuk mengolah potensi ekonomi yang ada. Indonesia sebenarnya memenuhi dua dari tiga kategori di atas karena telah memiliki sumber daya alam yang melimpah dan kemampuan untuk berubah dan beradaptasi.

Memang, masih banyak pihak yang meragukan kemampuan Indonesia untuk hal yang disebut terakhir ini. Namun, setelah memperhatikan situasi politik domestik dan kerangka kebijakan ekonomi yang ada, kami percaya bahwa Indonesia memang mempunyai kemampuan beradaptasi. Meskipun Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar ketiga di dunia, ketiga kandidat dalam pemilihan presiden 2009 berasal dari kalangan sekuler. Sistem politik Indonesia juga sudah jauh berbeda dibandingkan beberapa dasawarsa sebelumnya.


Sebagai perbandingan, Spanyol pernah dipimpin oleh seorang diktator sampai dengan 1976, namun sekarang telah menjadi salah satu benteng demokrasi di Barat – sehingga tidak ada alasan untuk meragukan perkembangan politik yang positif di Indonesia. Perkembangan ini perlu terus dipelihara, dan kinerja ekonomi yang baik akan sangat mendukung proses perubahan politik ini. Perubahan ke arah yang lebih baik ini juga tercermin dari persepsi investor terhadap tingkat korupsi di Indonesia.


Jika sepuluh tahun lalu kita menanyakan tentang persepsi terhadap Indonesia, beberapa investor asing yang cenderung berpandangan negatif akan mengemukakan dua faktor berikut: (1) korupsi, dan (2) pasar domestik yang kecil.


Namun, betapa banyak yang telah berubah pada saat ini! Pemberantasan korupsi kini telah menjadi fokus, dan persepsi secara umum telah melihat korupsi tidak lagi merupakan masalah utama yang dihadapi Indonesia. Namun demikian, perubahan ke arah keterbukaan dan transparansi terkadang menyebabkan anggaran pemerintah tidak dapat diserap secepat yang diharapkan. Sebagaimana persepsi atas korupsi di Indonesia yang telah berubah, demikian halnya persepsi investor asing atas pasar domestik Indonesia. Negara-negara dengan pasar domestik besar mampu bertahan di tengah gejolak ekonomi dunia akhir-akhir ini.


Lingkungan kebijakan di Indonesia juga telah berubah, meskipun masih banyak hal harus diperbaiki. Indonesia naik 10 tingkat pada survey Bank Dunia mengenai “Kemudahan Melakukan Usaha” pada 2008, meskipun masih berada pada peringkat 123. Memang sudah banyak perbaikan pada kategori “pengurusan perijinan”, “pembayaran pajak”, dan “perdagangan lintas batas”. Namun, perbaikan lebih lanjut iklim usaha perlu ditingkatkan. Perbaikan iklim usaha dari dalam sangatlah diperlukan, sejalan dengan tren di kawasan Asia Tenggara yang mendorong perdagangan antar regional dan menarik arus investasi masuk. Indonesia masih kekurangan investasi dan infrastruktur. Peningkatan investasi di bidang energi dan bidang-bidang yang berorientasi pada pasar domestik sama-sama dibutuhkan. Namun Indonesia dihadapkan pada persaingan yang ketat dengan negara-negara lainnya di kawasan, selain global, untuk menarik investasi asing. Indonesia akan menarik lebih banyak arus modal masuk dalam tahun-tahun mendatang, terutama jika presiden terpilih meneruskan reformasi ekonomi dan hukum sesuai dengan harapan para investor. Dengan demikian, upaya-upaya perbaikan daya saing Indonesia bagi para investor internasional tetap menjadi isu kunci.


Salah satu keprihatinan IMF soal Indonesia adalah kemampuan negara ini menghadapi memburuknyaglobal risk appetite dan makin ketatnya likuiditas global. Di awal terjadinya krisis global pada musim gugur lalu, kombinasi dari beberapa faktor menjadi penyebab melonjaknya sovereign spread Indonesia, arus keluar dana asing secara signifikan, dan pelemahan rupiah sekitar 40%, dari 9.200 per US$ ke hampir 13.000. Namun setelah periode ini, pasar mulai pulih, dan cadangan devisa naik ke US$ 57,4 miliar. Utang luar negeri Indonesia berada pada level 29% dari PDB, jauh lebih baik dibandingkan dengan 150% pada saat terjadinya Krisis Asia. Dengan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan arus modal asing masuk, rasio utang ini dapat semakin berkurang.

Indonesia dapat digolongkan sebagai sebuah negara dengan manajemen krisis yang baik. Berbagai langkah kebijakan telah dilakukan, termasuk memberi bantuan bagi sektor perbankan dan pasar modal, serta menjamin stabilitas nilai tukar rupiah pasca pelemahan di musim gugur lalu. Pendekatan Indonesia dapat diringkas: “Stabilitas fiskal ketika terjadi goncangan ekonomi eksternal. Manajemen utang yang kredibel dan proaktif.”

Kebijakan fiskal juga tampak sudah berada pada arah yang benar, sementara Bank Indonesia, yang menerapkan kerangka inflation targeting sejak 2005, telah berhasil mengendalikan laju inflasi dan dapat mencapai target inflasi jangka menengah pada kisaran 3-4%. Akhirnya, meskipun Indonesia tidak sepenuhnya kebal terhadap krisis, sektor finansial masih berada pada kondisi yang baik.
Secara garis besar, kami memproyeksikan Indonesia akan mengalami pertumbuhan ekonomi berkesinambungan, didukung oleh stabilitas politik, permintaan domestik kuat, dan lingkungan kebijakan yang dapat merespon krisis dengan baik. Jangan lupa, skala ekonomi Indonesia sangat menakjubkan. Indonesia memiliki jumlah penduduk 228 juta orang, dan menjadikannya negara dengan populasi keempat terbesar di dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Jumlah kelas menengah di negara ini juga cukup besar, diperkirakan sekitar 26 juta orang, dan terus tumbuh cepat. Indonesia memiliki rasio permintaan domestik terhadap PDB yang tinggi, dan layak menikmati laju pertumbuhan antara 4-5% tahun ini dan tahun depan dan akan naik ke 6% pada 2011. Dengan pertumbuhan yang berkesinambungan, skala ekonomi Indonesia telah mencapai US$ 510 miliar – enam kali lipat dari ekonomi Vietnam, dan dua kali lipat dari ekonomi Thailand.

Kini, Indonesia telah menjadi salah satu anggota Kelompok 20 (G20). Tatanan global yang terus berubah akan sangat memungkinkan Indonesia menjadi pemain utama pada tatanan global maupun regional di masa depan. Namun dengan skala ekonomi yang besar, Indonesia calon kekuatan atau raksasa ekonomi baru dunia. Indonesia akan masuk dalam G7 pada tahun 2040.

Dengan menggunakan compound annual growth rate (CAGR) dari negara-negara G20 selama periode 2000 dan 2008, serta mengasumsikan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada pada tingkat potensialnya mulai tahun 2012, ukuran ekonomi Indonesia akan melampaui Korea Selatan di tahun 2016, Jepang di tahun 2024, Inggris di tahun 2031, dan Jerman di tahun 2040. Pertumbuhan PDB Indonesia pada Semester I-2009 mencapai 4,2%, dan tercatat merupakan yang ketiga tertinggi di G20. Kami memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat dari 6,1% pada 2008 ke level 4% pada 2009. Ini masih tetap yang ketiga tertinggi di G20 akibat krisis finansial global dan penurunan harga komoditas dunia, sebelum pulih ke 5% pada 2010. Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan melewati 6% pada 2011 dan 2012. Kami memproyeksikan PDB per kapita Indonesia di tahun 2020, akan menjadi empat kali lipat dari nilai sekarang.(GL)



Saat ini di Indonesia sedang ramai didengungkan kebangkitan ekonomi yang pada tahun 2011 mencapai angka 6,5% dan diharapkan pada tahun 2012 ini akan mencapai angka 7%. Sebuah angka yang sangat fantastis untuk pertumbuhan negara. Bahkan ketika krisis Eropa, Bangsa Indonesia dapat mempertahankan keadaan ekonominya sehingga tidak terpengaruh dari efek domino krisis Eropa. Beberapa ekonom memprediksi bahwa pada 20 – 30 tahun kedepan, Indonesia akan tumbuh menjadi sebuah negara superpower di dunia, dengan ekonomi yang jauh lebih besar dari Australia. Sementara di sisi lain, negara Adidaya sedikit demi sedikit mulai kehilangan taringnya, dimana kekuatannya mulai digerus dengan krisis global yang melanda. Namun pertanyaan utamanya, benarkah Indonesia dalam 20 – 30 tahun kedepan dapat disandingkan dengan negara adidaya lainnya? Pertama – tama mari kita lihat fakta yang ada di dunia. Indonesia memiliki jumlah penduduk terbanyak keempat, setelah China, India, dan Amerika. China dengan penduduk sejumlah 2 milyar, sedikit demi sedikit bergerak dari negara konsumen menjadi negara produsen, dengan banyak merk dan produk buatan China yang saat ini beredar di seluruh dunia. India, serupa dengan China, dimana ia juga mulai membenahi diri untuk bersaing dalam era globalisasi. Amerika, sepertinya sudah sangat jelas, bahwa ia salah satu negara produsen terbesar di dunia, sehingga tidak mengherankan bila ia disebut negara adidaya. Indonesia, dengan penduduk 200 juta, masih berlaku sebagai negara konsumen, dibanding negara produsen. Daya beli masyarakat, sangat erat hubungannya dengan pendapatan yang diterima, dan mayoritas pendapatan yang diterima masyarakat masih dari sektor agraris, dengan mengeksplorasi kekayaan alam yang ada di Indonesia. Bukan hal yang salah untuk mengeksplorasi kekayaan alam, tetapi apakah mereka mengeksplorasi dengan bijaksana? Fakta saat ini menunjukan bahwa 40% hutan di  Kalimantan rusak karena penebangan liar yang terus dan terus dilakukan tanpa adanya campur tangan dari pemerintah. Satu demi satu kekayaan mineral Indonesia dieksplorasi secara besar – besaran, tetapi sayangnya, hasilnya dinikmati oleh pihak asing, bukan masyarakat Indonesia, salah satunya freeport yang dimarginalkan oleh Amerika, secara tidak langsung kita, bangsa Indonesia berkontribusi terhadap perekonomian negara Amerika melalui kesempatan untuk mengeksplorasi salah satu tambang emas terbesar di dunia.
Kemudian apa yang harus dilakukan untuk dapat mengoptimalisasi hubungan antara negara adidaya dengan Indonesia? Hal utama yang harus dilakukan adalah adanya kebijakan yang tegas dari pemerintah untuk sepenuhnya menjalankan UUD 45 pasal 33, ayat 2, Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara, dan ayat 3, Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Disana jelas tertulis bahwa dikuasai oleh negara, bukan dikuasai oleh pihak asing. Pemerintah harus berani untuk menentapkan, bahwa dalam melakukan kerjasama dengan pihak asing, kerjasama dilakukan dalam operasional, bukan dalam capital, sehingga kepemilikan tetap berada di Indonesia, dimana Indonesia memegang kontrol penuh terhadap pemanfaatan sumber daya di Indonesia.
Sering kali, dalih utama yang selalu dijadikan sebagai tameng adalah ketidak mampuan secara modal dan teknologi. Indonesia bukan negara miskin, pendapatan dari BUMN dan pajak sudah mencapai angka yang sangat fantastis. Tentu dalam aplikasinya, banyak adanya pipa bocor disana sini yang mengurangi jumlah dana yang beredar, maka hal kedua yang harus dilakukan adalah menindak secara tegas setiap koruptor. Mungkin cara pemerintah China untuk memberantas koruptor dapat dipakai, dengan memberikan hukuman mati secara langsung, walaupun kejam dan tidak memanusiakan manusia, tetapi tindakan ini memberikan efek jera kepada seluruh koruptor dan dapat memperbaiki budaya korupsi yang ada. Dalam hal teknologi, Indonesia sebenarnya memiliki kualitas yang sangat unggu. Anak Bangsa merupakan generasi yang cerdas, sayangnya karena fakta yang ada menunjukan bahwa kemampuan mereka kurang dapat optimal di dalam negeri, mereka lebih memilih untuk mengoptimalisasinya di luar negeri. Namun ketika pemerintah dapat memberikan sektor yang jelas dan menarik untuk mereka dapat mengembangkan dirinya, bukan hal yang tidak mungkin mereka akan kembali di Indonesia. Pemerintah dapat menyediakan fasilitas, memberikan beasiswa pendidikan, dan memberika biaya research untuk mereka dapat mengaktualisasi dirinya.
Memang, pihak yang saya tekankan disini adalah Pemerintah, sebab layaknya sebuah kapal dengan nahkoda yang memimpinnya, arah tujuan kapal sepenuhnya berada dalam tangan nahkoda kapal, yaitu pemerintah sebagai pemimpin negara untuk memunjukan arah dan tujuan dari bangsa ini. Sebab tidak ada yang dapat membangun suatu bangsa, kecuali bangsa itu sendiri.




Pada 2030, ekonomi Indonesia diperkirakan akan mengalahkan Jepang. Pada tahun itu, Indonesia menempati peringkat ke lima negara terbesar, sedangkan Jepang peringkat ke enam.
Dalam laporan khusus Stanchart berjudul “The Super-Cycle Report”, Indonesia mulai menjadi negara bersinar yang semula menempati peringkat ke-28 pada 2000, bakal menjadi salah satu raksasa ekonomi ekonomi dunia dalam dua dekade mendatang. Berada di posisi kelima, Indonesia akan tampil mendampingi China, Amerika Serikat, India dan Brazil.
Laporan Stanchart sesungguhnya menambah daftar beberapa laporan lembaga keuangan dunia sebelumnya yang meyakini Indonesia bakal menjadi pemain terkemuka dalam beberapa dekade mendatang.
Sebelumnya, Goldman Sachs Group memperkenalkan empat negara calon kekuatan ekonomi baru dunia pada 2020 dengan sebutan BRIC, kepanjangan dari Brazil, Rusia, India dan China. BRIC akan menjadi kekuatan ekonomi paling dominan pada 2050.
Selain BRIC, Goldman Sachs membuat istilah baru, yakni Next11. Ini mencakup Indonesia, Turki, Korea Selatan, Meksiko, Iran, Nigeria, Mesir, Filipina, Pakistan, Vietnam dan Bangladesh.
Lembaga keuangan lainnya, Morgan Stanley malah mengusulkan tambahan Indonesia pada BRIC menjadi BRICI. Alasannya, dalam lima tahun ke depan, lembaga terkemuka ini memperkirakan PDB Indonesia bakal mencapai US$800 miliar.
Majalah bergengsi The Economist, pada Juli 2010 juga memasukkan Indonesia sebagai calon kekuatan ekonomi baru pada 2030 di luar BRIC. The Economist mengenalkan akronim baru dengan sebutan CIVETS, kepanjangan dari Colombia, Indonesia, Vietnam, Egypt, Turkey dan South Africa. 
Laporan Stanchart menyebutkan negara-negara berkembang akan melampaui negara maju dengan lebih baik. Akibatnya, keseimbangan kekuatan global ekonomi akan bergeser tegas dari Barat ke Timur.
Pemicunya adalah peningkatan perdagangan, terutama pada pasar-pasar dari negara berkembang, industrialisasi yang pesat, urbanisasi dan meningkatnya masyarakat kelas menengah di negara berkembang.
“Asia akan mendorong sebagian besar dari pertumbuhan global selama 20 tahun ke depan,” kata Stanchart.
***
Saat ini, Indonesia yang merupakan kekuatan ekonomi terbesar di kawasan ASEAN memang sudah masuk dalam jajaran 20 kekuatan ekonomi dunia yang tergabung dalam forum G-20. Namun, Indonesia belum masuk ke dalam 10 negara besar dunia.
Namun, seperti dilaporkan Stanchart, pada 2020 Indonesia bakal masuk peringkat 10 raksasa ekonomi dunia dengan total PDB US$3,2 triliun. Sementara pada 2030, Indonesia bakal mengalahkan Jepang yang melorot ke peringkat enam dari peringkat lima 2020. Pada saat itu, PDB Indonesia diperkirakan mencapai US$9,3 triliun.
Pertanyaannya, mengapa Indonesia bakal menjadi kekuatan baru ekonomi dunia seperti halnya China dan India?
Menurut Stanchart, negara-negara ini memiliki suplai tenaga kerja yang murah dan produktif mendukung pertumbuhan negara Asia yang diperkirakan tumbuh rata-rata 5,2 persen.
Khusus Indonesia, menurut Stanchart, akan menjadi negara bersinar lantaran juga didukung oleh pertumbuhan ekonomi rata-rata 7 persen dalam dua dekade mendatang. Pertumbuhan ini didukung oleh komoditas ekspor. “Indonesia bahkan seharusnya bisa mendepak Rusia dalam kelompok BRIC,” tulis laporan Stanchart.
Namun, untuk menggapai impian besar tersebut, Indonesia dan negara-negara Asia lainnya menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranyar adalah perlunya meningkatkan basis manufaktur agar mempunyai nilai tambah untuk memasok barang setengah jadi dan barang modal.
Selain itu, Indonesia juga harus mengatasi kurangnya infrastruktur, dan sektor jasa harus melengkapi sektor manufaktur untuk menambah dorongan bagi pertumbuhan ekonomi.