24 Juni 2009

SUSUNAN ATMOSFER


SUSUNAN ATMOSFER
GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA
Lapisan atmosfer bagaikan perisai yang melindungi planet Bumi dari ancaman benda-benda langit yang jatuh.
Selain itu, atmosfer mengatur temperatur suhu yang menjadikan Bumi layak dihuni manusia. Fenomena benda langit yang jatuh ke Bumi kerap terjadi dalam beberapa waktu belakangan.
Tahun lalu, misalnya, warga Desa Latteko, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, dikejutkan dengan jatuhnya bola api dari angkasa dan meledak.
Baru-baru ini, warga Duren Sawit, Jakarta Timur, juga dihebohkan dengan kisah serupa. Benda angkasa yang diduga meteor menghantam dan menghancurkan beberapa rumah warga.
Peristiwa alam jatuhnya meteor ke Bumi juga terjadi di bagian Bumi lainnya. Kejadian yang paling fenomenal adalah meteor crater.
Lubang besar bekas meteor jatuh yang terletak di 43 mil (69 km) sebelah timur Flagstaff , dekat Winslow di padang pasir Arizona Utara, Amerika Serikat.
Dengan diameter 1.200 meter dan kedalaman 170 meter, lubang itu menjadi bukti paling monumental akan bahaya hujan meteor yang mengancam planet Bumi.
Gaya gravitasi Bumi memang sangat memungkinkan bendabenda angkasa luar, seperti meteorit, jatuh ke Bumi. Namun, umumnya sebelum sampai ke Bumi, benda-benda luar angkasa itu terlebih dahulu tertahan oleh lapisan selimut Bumi dan melebur di sana.
Lapisan selimut Bumi itu yang disebut sebagai atmosfer. Andai tak ada atmosfer, bisa dibayangkan, Bumi akan menjadi sasaran empuk bombardir bendabenda angkasa, termasuk meteorit.

Sebagai selimut, atmosfer memiliki beragam fungsi, seperti mempertahankan temperatur suhu di permukaan Bumi pada tingkat yang sesuai untuk kehidupan, sehingga suhu tidak terlalu ektsrem pada siang maupun malam hari.

Dalam kaitannya dengan benda- benda angkasa luar, fungsi atmosfer juga meleburkan meteorit atau benda-benda luar angkasa yang akan masuk ke Bumi sehingga tidak sampai ke Bumi. Dengan demikian, bisa dibayangkan apa jadinya jika Bumi tidak dilapisi dengan atmosfer.

Secara sederhana, menurut Eddy Hermawan, peneliti dari pusat pemanfaatan sains antariksa dan iklim, Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) Bandung, atmosfer merupakan selubung gas yang menyelimuti permukaan padat dan cair Bumi.

Atmosfer ini terdapat mulai dari nol kilometer (km) dari atas permukaan tanah hingga ratusan km dari permukaan Bumi.

Sebagai sebuah selubung gas, atmosfer terdiri dari beragam gas yang membentuk lapisan selubung tersebut.

Unsur gas terbesar sebagai penyusun atmosfer adalah gas nitrogen yang bersumber dari pembakaran sisa pertanian ataupun dari letusan gunung berapi.

Komposisi gas nitrogen dalam atmosfer menyumbang sebagian besar komposisi gas di atmosfer, yakni sekitar 78 persen. Kemudian oksigen yang menyumbang sekitar 20 persen.

Sisanya terdiri dari argon, karbondioksida, uap air, dan sejumlah gas pendukung lainnya, termasuk ozon yang berperan dalam menyerap radiasi sinar ultraviolet.

Sebagai sebuah lapisan, atmosfer juga terdiri dari beberapa lapisan dengan struktur dan karakter yang berbeda antarlapisan.

Lapisan terendah dan paling bersentuhan langsung dengan kehidupan makhluk hidup di Bumi adalah lapisan troposfer.

Ketinggian lapisan troposfer ini berada mulai dari 0 km sampai 18 km di atas permukaan Bumi. Di daerah khatulistiwa, ketinggian lapisan troposfer sekitar 16 km dengan temperatur rata-rata 80 derajat Celsius.

Sedangkan di daerah kutub, ketinggiannya hanya sekitar 8 km dengan temperatur rata-rata 46 derajat Celsius.

“Secara keseluruhan memang lapisan atmosfer di kutub jauh lebih tipis dibandingkan dengan lapisan atmosfer pada daerah ekuator,” kata Eddy.

Menurutnya, bagi makhluk di Bumi, lapisan troposfer inilah yang paling krusial. Sebab, lapisan ini banyak dan langsung bersentuhan dengan kehidupan makhluk hidup di Bumi. Pada lapisan inilah sejumlah peristiwa seperti cuaca maupun iklim terjadi.

“Di lapisan ini, hampir semua jenis cuaca, perubahan suhu yang mendadak, angin, tekanan, dan kelembaban udara yang kita rasakan sehari-hari terjadi,” kata Eddy.

Lapisan kedua adalah stratosfer, berada di ketinggian mulai dari 18 km hingga 49 km dari permukaan Bumi.

Tidak seperti pada lapisan troposfer yang setiap kenaikan permukaan suhu secara langsung akan berkurang, pada lapisan stratosfer, sebaliknya, suhu udara akan bertambah tinggi seiring dengan kenaikan dari permukaan atau yang disebut sebagai proses inverse.

Lapisan ketiga adalah mesosfer. Lapisan inilah yang memegang peran dalam meleburkan benda-benda angkasa sehingga terlebih dahulu hancur sebelum benda-benda luar angkasa itu menyentuh Bumi.

“Kalau toh sampai ke Bumi, biasanya karena benda itu ukurannya sangat besar sehingga tidak habis terbakar di lapisan ini,” kata Eddy.

Mesosfer berada pada ketinggian 49 - 82 km dari permukaan Bumi. Lapisan ini ditandai dengan penurunan suhu sekitar 4 derajat Celsius setiap kenaikan 100 meter.

Suhu terendah di lapisan mesosfer kurang dari –81 derajat Celsius. Komposisi udara yang ada di lapisan mesosfer inilah yang akan menyebabkan pergeseran dengan objek yang datang dari angkasa luar seperti meteorit dan menghasilkan suhu yang tinggi.

“Profil suhu dan temperatur yang tinggi di lapisan inilah membuat kebanyakan meteor akan terbakar di lapisan ini.

Kalaupun sampai ke Bumi, ukurannya sudah jauh berkurang,” kata Edy. Lapisan berikutnya adalah termosfer.

Lapisan ini berada di ketinggian 82- 800 km dari permukaan Bumi. Lapisan ini menjadi tempat terjadinya ionisasi partikel- partikel yang dapat memberikan efek pada perambatan atau refleksi gelombang radio.

Lapisan ini ditandai dengan kenaikan suhu tinggi yang luar biasa, yakni mencapai hampir 20.000 derajat Celsius.

Perubahan drastis itu terjadi karena serapan sinar ultra ungu yang terjadi di lapisan ini. Lapisan terakhir adalah eksosfer.

Eksosfer terletak pada ketinggian mulai dari 800 km sampai 1.000 km dari permukaan Bumi. Lapisan ini sangat panas dan merupakan tempat terjadinya gerakan- gerakan atom secara tidak beraturan.

Ruang antarplanet ini juga merupakan lapisan yang sangat berbahaya dan merupakan tempat penghancuran meteorit.

Tak Berpengaruh Tanpa atmosfer, apalah jadinya Bumi. Ancaman suhu yang ekstrem, termasuk ancaman bahaya benda-benda angkasa, setiap saat bisa membahayakan makhluk Bumi.

Atmosfer mampu menyerap setengah dari energi yang dilepaskan benda-benda angkasa luar sebelum sampai ke Bumi sehingga Bumi relatif terlindungi dari tumbukan langsung dengan benda-benda luar angkasa.

“Walaupun jarang, masuknya meteorit besar ke atmosfer Bumi bisa menimbulkan bahaya. Tapi atmosfer mampu menyerap setengah energi yang dilepas meteorit ini,” kata Thomas Djamaluddin, peneliti matahari dan lingkungan antariksa LAPAN, Bandung.

Lalu, apakah pemanasan global yang terjadi di Bumi dapat merusak peran atau fungsi atmosfer sebagai perisai dari benda-benda angkasa? Djamaluddin melihat pemanasan global yang terjadi di Bumi tidak memiliki dampak yang terlalu signifikan.

“Pemanasan global lebih berdampak pada lapisan terluar yang terkait dengan cuaca dan iklim di Bumi,”
Spektrum Gelombang Elektromagnetik
Radar
(Radio Detection And Ranging),digunakan sebagai pemancar dan penerima gelombang.
Infra Merah
Dihasilkan dari getaran atom dalam bahan dan dimanfaatkan untuk mempelajari struktur molekul

Sinar tampak

mempunyai panjang gelombang 3990 Aº - 7800 Aº.

Ultra ungu

dimanfaatkan untuk pengenalan unsur suatu bahan dengan teknik spektroskopi.

SUMBER GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK

Osilasi listrik.
Sinar matahari ® menghasilkan sinar infra merah.
Lampu merkuri ® menghasilkan ultra violet.
Penembakan elektron dalam tabung hampa pada keping logam ® menghasilkan sinar X (digunakan untuk rontgen).
Inti atom yang tidak stabil ® menghasilkan sinar gamma.
Sifat Gelombang Elektromagnetik

Sifat Gelombang Elektromagnetik
Dapat merambat dalam ruang hampa.
Merupakan gelombang transversal (arah getar ^ arah rambat), jadi dapat mengalami polarisasi.
Dapat mengalami refleksi, refraksi, interferensi dan difraksi.
Tidak dibelokkan dalam medan listrik maupun medan magnet.
Catatan:

Gelombang radio dipakai sebagai gelombang pembawa sistem komunikasi karena mudah dipantulkan oleh lapisan ionosfer.
Ada 2 macam cara membawa gelombang bunyi:
Modulasi Amplitudo (AM)
ATMOSFER & HIDROSFER

ATMOSFER

I. PENGERTIAN ATMOSFER

Atmosfer berasal dari kata “Atmos” yang berarti uap atau gas dan “sphaira/sfer” yang berarti lapisan. Oleh karena itu, atmosfer adalah lapisan udara yang menyelimuti bumi.

II. UNSUR PENYUSUN ATMOSFER

Susunan udara yang dominan dalam atmosfer adalah : - Nitrogen (78,08%) - Oksigen (21%) - Karbondioksida (0,03%)

III. LAPISAN ATMOSFER

Atmosfer terdiri dari 5 lapisan yaitu : 1. Troposfer a. merupakan lapisan paling bawah b. memiliki ketebalan/ ketinggian yang berbeda untuk setiap lintang, yaitu: 1) khatulistiwa ketebalannya 16 km 2) didaerah kutub ketebalannya 8 km c. tempat terjadinya perisiwa cuaca seperti awan, hujan, petir. d. Suhu semakin ke atas semakin turun e. Setiap naik 100 m, terjadi penurunan suhu 0,5-0,6 0C. f. Dibatasi lapisan tropopause 2. Stratosfer a. Ketinggian sekitar 15-55 km b. Bagian paling atas lapisan ini merupakan konsentrasi ozon (O3) yang sering disebut juga stratopause c. Semakin tinggi tempat, suhu semakin rendah 3. Mesosfer a. ketinggian 55-85 km b. suhu turun drastis sampai -100 0C c. banyak meteor terbakar dan terurai d. diantara lapisan mesosfer dan termosfer, terdapat lapisan antara yang disebut mesospause e. semakin tinggi tempat, suhu semakin rendah f. suhu paling rendah pada lapisan ini adalah -100 0C 4. Thermosfer a. Ketinggian diatas 85 km b. Pada lapisan ini terjadi ionisasi yang terjadi pada suhu dan ketinggian tertentu c. Ionosfer berperan dalam perambatan atau refleksi gelombang radio d. Lapisan tertinggi pada lapisan ini yang meluas sampai 200-400 km disebut termopause e. Semakin tinggi tempat, suhu semakin tinggi. 5. Eksosfer Eksosfer merupakan lapisan terluar atmosfer, bahkan bisa dibilang sudah luar angkasa namun masih terkena pengaruh bumi baik secara gravitasi, ataupun gejala bumi lainnya.

IV. MANFAAT ATMOSFER

1. Melindungi bumi dari jatuhnya batuan meteor

2. pemantulan gelombang radio tv

3. tempat terjadinya cuaca dan iklim

4. penyaring sinar ultraviolet matahari

V. CUACA DAN IKLIM

Cuaca adalah keadaan rata-rata udara pada suatu saat di suatu tempat. Ilmu yang mempelajari cuaca adalah Meteorologi

Iklim adalah keadaan rata-rata cuaca pada tempat yang luas dan dalam jangka waktu yang lama (1-30 tahun). Ilmu yang mempelajari iklim adalah Klimatologi.

Unsur cuaca dan iklim meliputi :

1. suhu udara

2. tekanan udara

3. angin

4. curah hujan

5. kelembapan udara

6. awan Hukum Buys Ballot : “Angin bergerak dari daerah yang bertekanan maksimum/tinggi ke daerah yang bertekanan minimum/rendah. Dibelahan bumi utara, angin dibelokkan ke kanan dan dibelahan bumi selatan angin dibelokkan ke kiri. Penyimpangan ini disebabkan oleh gaya koriolis.”

HIDROSFER
I. PENGERTIAN
Hidrosfer berasal dari kata “Hidro” yang berarti air dan “Sphaira/sphere” yang berarti lapisan/selubung. Jadi hidrosfer adalah lapisan air yang mengelilingi bumi. Perbandingan luas daratan dan perairan di bumi adalah 28:72, dimana luas perairan jauh lebih besar dibanding daratan. Perbandingan jumlah air dibumi;  Wilayah perairan laut: 97,2%  Wilayah perairan darat (tawar): 2,8% Sedangkan perbandingan jumlah air tawar diwilayah daratan yaitu :  Lapisan es dan gletser 2,15%  Air artesis (0,62%)  Danau air tawar (0,009%)  Danau air asin (0,008%)  Air tanah preatik (0,005%)  Air sungai (0,001%)

II. SIKLUS HIDROLOGI

Siklus hidrologi merupakan perputaran kondisi air perairan di bumi yang meliputi: Siklus hidrologi terbagi menjadi 3 jenis yaitu : Siklus pendek, siklus sedang, dan siklus panjang 1. Siklus pendek Proses pada siklus pendek meliputi : a. laut terjadi penguapan b. kondensasi (pembentukan awan) c. presipitasi (hujan) d. dialirkan melalui permukaan (sungai dan run off) e. kembali ke laut 2. Siklus sedang Proses siklus sedang meliputi : a. laut terjadi penguapan b. kondensasi (pembentukan awan) c. presipitasi (hujan) d. air meresap kedalam tanah dan menjadi air tanah (freatik ataupun artesis) e. air dialirkan melalui aliran air tanah dan air permukaan (sungai dan run off) f. kembali ke laut 3. Siklus panjang a. laut terjadi penguapan b. kondensasi (pembentukan awan) c. awan terangkat ke tempat tinggi atau terkenan penurunan suhu secara spontan d. presipitasi (hujan) dalam bentuk kristal air (salju) e. tumpukan salju mencair menurunkan bongkah gletser dan mencair menjadi air f. air meresap kedalam tanah dan menjadi air tanah (freatik ataupun artesis) g. air dialirkan melalui aliran air tanah dan air permukaan (sungai dan run off) h. kembali ke laut

III. PENGUAPAN

Proses penguapan terdiri dari : 1. evaporasi : merupakan penguapan yang terjadi langsung dari permukaan air ataupun tanah 2. transpirasi : merupakan penguapan yang terjadi melalui tubuh tanaman atau melalui stomata 3. evapotranspirasi : merupakan penguapan melalui penguapan langsung dari permukaan dan dari tubuh tanaman 4. intersepsi : penguapan dari air yang menempel pada tanaman yang belum menyentuh tanah

IV. PERAIRAN DARAT

Perairan darat meliputi danau, rawa, dan sungai. 1. Danau, merupakan air yang tertampung pada sebuah cekungan yang luas. Berdasarkan terbentuknya danau terdiri dari : a. Danau buatan, merupakan danau yang sengaja dibuat dan dibangun oleh manusia untuk tujuan tertentu. Contoh : bendungan, situ, waduk, dll. b. Danau alami, merupakan danau yang terbenuk secara alami akibat gejala alamiah. Danau alami terdiri dari : 1) Danau tektonik, merupakan danau yang terbentuk akibat gejala dan tenaga tektonik. 2) Danau vulkanik, merupakan danau yang terbentuk akibat aktivitas vulkanisme, biasanya berupa danau sisa kawah yang sudah tidak aktiv atau tertahan aktiv. 3) Danau tektovulkanik, merupakan danau yang terbentuk akibat proses tektonik dan vulkanik 4) Danau karst, merupakan danau yang terbentuk pada perbukitan karst (kapur). 5) Danau gletser, merupakan danau yang terbentuk dari mencairnya es atau gletser. 2. Sungai, merupakan aliran air tawar yang mengalir melalui terusan yang kedua pinggirnya dibatasi tanggul-tanggul alami atau sebuah lembah yang bermuara kesungai induk, danau, atau laut. Berdasarkan sumber airnya, sungai terbagi menjadi : a. sungai hujan, yang airnya berasal dari air hujan b. sungai gletser, airnya berasal dari pencairan es dan gletser c. sungai campuran, yang airnya berasal dari hujan dan es/gletser. Berdasarkan ketersediaan airnya, sungai terdiri dari : a. sungai permanen (episodik), yang aliran airnya selalu banyak sepanjang waktu b. sungai non permanen (periodik), yang aliran airnya berair banyak pada musim hujan dan berair sedikit pada musim kemarau. Aliran air sungai membentuk pola aliran sebagai berikut : a. pola aliran dendriktik c. pola aliran rektangular d. pola aliran trellis e. pola aliran radial sentrifugal f. pola aliran radial sentripetal

V. AIR TANAH

1. Air tanah freatik (dangkal) adalah air tanah yang terjadi dari air hujan yang meresap kedalam tanah dan berkumpul diatas lapisan kedap air (impermeabel)

2. Air tanah artesis (dalam) ialah air tanah yang berada pada lapisan porous (lolos air)“Sumur artesis” merupakan sumur yang dibuat kedalamannya hingga mencapai lapisan artesis, keuntungan sumur artesia adalah tidaka akan mengalami kekeringan walaupun pada musim kemarau

VI. PERAIRAN LAUT

Laut berdasarkan pembenukannya terdiri dari :

 Laut Transgresi (laut yang meluas), terjadi karena adanya perubahan permukaan laut secara positif (secara meluas). Perubahan permukaan ini terjadi karena naiknya permukaan air laut atau daratannya yang turun, sehingga bagian-bagian daratan yang rendah tergenang air laut. Perubahan ini terjadi pada zaman es. Contoh laut jenis ini adalah laut Jawa, laut Arafuru dan laut Utara.

 Laut Ingresi, adalah laut yang terjadi karena adanya penurunan tanah di dasar laut. Oleh karena itu laut ini juga sering disebut laut tanah turun. Penurunan tanah di dasar laut akan membentuk lubuk laut dan palung laut. Lubuk laut atau basin adalah penurunan di dasar laut yang berbentuk bulat. Contohnya lubuk Sulu, lubuk Sulawesi, lubuk Banda dan lubuk Karibia. Sedangkan Palung Laut atau trog adalah penurunan di dasar laut yang bentuknya memanjang. Contohnya palung Mindanau yang dalamnya 1.085 m, palung Sunda yang dalamnya 7.450 m, palung Jepang yang dalamnya 9.433 m serta palung Mariana yang dalamnya 10.683 m (terdalam di dunia).

 Laut Regresi, adalah laut yang menyempit. Penyempitan terjadi karena adanya pengendapan oleh batuan (pasir, lumpur dan lain-lain) yang dibawa oleh sungai-sungai yang bermuara di laut tersebut. Penyempitan laut banyak terjadi di pantai utara pulau Jawa.

Menurut letaknya, laut terdiri dari :

 Laut tepi (laut pinggir), adalah laut yang terletak di tepi benua (kontinen) dan seolah-olah terpisah dari samudera luas oleh daratan pulau-pulau atau jazirah. Contohnya laut Cina Selatan dipisahkan oleh kepulauan Indonesia dan kepulauan Filipina.

 Laut pertengahan, adalah laut yang terletak di antara benua-benua. Lautnya dalam dan mempunyai gugusan pulau-pulau. Contohnya laut Tengah di antara benua Afrika-Asia dan Eropa, laut Es Utara di antara benua Asia dengan Amerika dan lain-lain.

 Laut pedalaman, adalah laut-laut yang hampir seluruhnya dikelilingi oleh daratan. Contohnya laut Kaspia, laut Hitam dan laut Mati.

Morfologi dibawah laut terdiri dari :

 Gunung laut, yaitu gunung yang kakinya di dasar laut sedangkan badan puncaknya muncul ke atas permukaan laut dan merupakan sebuah pulau. Contoh: gunung Krakatau.

 Seamount, yaitu gunung di dasar laut dengan lereng yang curam dan berpuncak runcing serta kemungkinan mempunya tinggi sampai 1 km atau lebih tetapi tidak sampai kepermukaan laut. Contoh: St. Helena, Azores da Ascension di laut Atlantik.

 Guyot, yaitu gunung di dasar laut yang bentuknya serupa dengan seamount tetapi bagian puncaknya datar. Banyak terdapat di lautan Pasifik.

 Ambang laut (drempel), yaitu pegunungan di dasar laut yang terletak diantara dua laut dalam. Contoh: ambang laut sulu, ambang laut sulawesi.

 Lubuk laut (basin), yaitu dasar laut yang bentuknya bulat cekung yang terjadi karena ingresi. Contoh: lubuk laut sulu, lubuk laut sulawesi.

 Palung laut (trog), yaitu lembah yang dalam dan memanjang di dasar laut terjadi karena ingresi. Contoh: Palung Sunda, Palung Mindanao, Palung Mariana.

Arus laut terdiri dari :

Arus laut atau sea current adalah gerakan massa air laut dari satu tempat ke tempat lain baik secara vertikal (gerakan ke atas) maupun secara horizontal (gerakan ke samping).

 Menurut letaknya arus dibedakan menjadi dua yaitu arus atas dan arus bawah. Arus atas adalah arus yang bergerak di permukaan laut. Sedangkan arus bawah adalah arus yang bergerak di bawah permukaan laut.

 Menurut suhunya kita mengenal adanya arus panas dan arus dingin. Arus panas adalah arus yang bila suhunya lebih panas dari daerah yang dilalui. Sedangkan arus dingin adalah arus yang suhunya lebih dingin dari daerah yang dilaluinya.

 Selain pergerakan arah arus mendatar, angin dapat menimbulkan arus air vertikal yang dikenal dengan upwelling dan sinking di daerah-daerah tertentu. Proses upwelling adalah suatu proses massa air yang didorong ke atas dari kedalaman sekitar 100 sampai 200 meter. Angin yang mendorong lapisan air permukaan mengakibatkan kekosongan di bagian atas, akibatnya air yang berasal dari bawah menggantikan kekosongan yang berada di atas. Oleh karena air yang dari kedalaman lapisan belum berhubungan dengan atmosfer, maka kandugan oksigennya rendah dan suhunya lebih dingin dibandingkan dengan suhu air permukaan lainnya.

 Sinking merupakan proses kebalikan dari upwelling, yaitu gerakan air yang tenggelam ke arah bawah di perairan pantai. Gelombang laut memiliki bentuk sebagai berikut: a. Gelombang Osilasi b. Gelora(Surf atau Breaker) c. Gelombang Translasi d. Swash e. Back-swash f. Arus dasar A. Zona “Lithoral”, adalah wilayah pantai atau pesisir atau “shore”. Di wilayah ini pada saat air pasang tergenang air dan pada saat air laut surut berubah menjadi daratan. Oleh karena itu wilayah ini sering disebut juga wilayah pasang surut. B. Zona “Neritic” (wilayah laut dangkal), yaitu dari batas wilayah pasang surut hingga kedalaman 150 m. Pada zona ini masih dapat ditembus oleh sinar matahari sehingga wilayah ini paling banyak terdapat berbagai jenis kehidupan baik hewan maupun tumbuhan-tumbuhan C. Zona Bathyal (wilayah laut dalam), adalah wilayah laut yang memiliki kedalaman antara 150 hingga 1800 meter. Wilayah ini tidak dapat ditembus sinar matahari, oleh karena itu kehidupan organismenya tidak sebanyak yang terdapat di zona meritic. D. Zona Abysal (wilayah laut sangat dalam), yaitu wilayah laut yang memiliki kedalaman lebih dari 1800 m. Di wilayah ini suhunya sangat dingin dan tidak ada tumbuh-tumbuhan, jenis hewan yang hidup di wilayah ini sangat terbatas.

Wilayah laut Indonesia:

 Zona Laut Teritorial, Batas laut Teritorial ialah garis khayal yang berjarak 12 mil laut dari garis dasar ke arah laut lepas.

 Zona Landas Kontinen Landas kontinen ialah dasar laut yang secara geologis maupun morfologi merupakan lanjutan dari sebuah kontinen (benua). Kedalaman lautnya kurang dari 150 meter. Adapun batas landas kontinen tersebut diukur dari garis dasar, yaitu paling jauh 200 mil laut.

 Zona Ekonomi Eksklusif Zona Ekonomi Eksklusif adalah jalur laut selebar 200 mil laut ke arah laut terbuka diukur dari garis dasar.
Amplitudo gelombang radio disesuaikan dengan frekuensi gelombang bunyi dengan frekuensi tetap.
Modulasi Frekuensi (FM)
Frekuensi gelombang radio disesuaikan dengan frekuensi gelombang bunyi dengan amplitudo tetap.
Sistem FM lebih unggul daripada AM karena FM dapat mengurangi desau akibat kelistrikan diudara, walaupun jangkauannya terbatas sekali.

SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA
































1 komentar: