31 Juli 2020

Teori Interaksi Desa-Kota

a. Teori Gravitasi (William J. Reilly);

Kekuatan interaksi tergantung pada jumlah penduduk dan jarak antar wilayahnya. Teori gravitasi digunakan jika, kondisi penduduk sama, kondisi sarana dan prasarana sama, dan bentuk relief sama.

 

b. Teori Titik Henti (The Breaking Point Theory)


Digunakan untuk menentukan kekuatan, besarnya pengaruh atau lokasi  strategis dalam penentuan lokasi industri, pertokoan, perkantoran, fasilitas umum, dan lain-lain.




Keterangan:
THAB = lokasi titik henti, diukur dari daerah yang jumlah penduduknya lebih sedikit
JAB = jarak wilayah A ke wilayah B
P> = jumlah penduduk yang lebih banyak
P< = jumlah penduduk yang lebih sedikit


Teori Indeks Konektivitas
Teori indeks konektivitas menyatakan bahwa “besarnya konektivitas (tingginya kekuatan interaksi) tergantung pada jumlah jaringan jalan”.







30 Juli 2020

TEORI TEKTONIK LEMPENG

(1). Batas Konvergen: Batas konvergen adalah batas antar lempeng yang saling bertumbukan. Batas lempeng konvergen dapat berupa batas Subduksi (Subduction) atau Obduksi (Obduction). 

Batas subduksi adalah batas lempeng yang berupa tumbukan lempeng dimana lsalah satu empeng menyusup ke dalam perut bumi dan lempeng lainnya terangkat ke permukaan (gambar ). Contoh batas lempeng konvergen dengan tipe subduksi adalah Kepulauan Indonesia sebagai bagian dari lempeng benua Asia Tenggara dengan lempeng samudra Hindia–Australia di sebelah selatan Sumatra-Jawa-NTB dan NTT. Batas kedua lempeng ini berupa suatu zona subduksi yang terletak di laut yang berbentuk palung (trench) yang memanjang dari Sumatra, Jawa, hingga ke Nusa Tenggara Timur. Contoh lainnya adalah kepulauan Philipina, sebagai hasil subduksi antara lempeng samudra Philipina dengan lempeng samudra Pasifik.  

Obduksi adalah batas lempeng yang merupakan hasil tumbukan lempeng benua dengan benua yang membentuk suatu rangkaian pegunungan (gambar ). Contoh batas lempeng tipe obduksi adalah pegunungan Himalaya yang merupakan hasil tumbukan lempeng benua India dengan lempeng benua Eurasia.



(2). Batas Divergen: Batas divergen adalah batas antar lempeng yang saling menjauh satu dan lainnya. Pemisahan ini disebabkan karena adanya gaya tarik (tensional force) yang mengakibatkan naiknya magma kepermukaan dan membentuk material baru berupa lava yang kemudian berdampak pada lempeng yang saling menjauh. Contoh yang paling terkenal dari batas lempeng jenis divergen adalah Punggung Tengah Samudra (Mid Oceanic Ridges) yang berada di dasar samudra Atlantik, disamping itu contoh lainnya adalah rifting yang terjadi antara benua Afrika dengan Jazirah Arab yang membentuk laut merah 

(3). Batas Transform: Batas transform adalah batas antar lempeng yang saling berpapasan dan saling bergeser satu dan lainnya menghasilkan suatu sesar mendatar jenis Strike Slip Fault. Contoh batas lempeng jenis transforms adalah patahan San Andreas di Amerika Serikat yang merupakan pergeseran lempeng samudra Pasifik dengan lempeng benua Amerika Utara.


Berdasarkan teori tektonik lempeng, lempeng-lempeng yang ada saling bergerak dan berinteraksi satu dengan lainnya. Pergerakan lempeng lempeng tersebut juga secara tidak langsung dipengaruhi oleh rotasi bumi pada sumbunya. Sebagaimana diketahui bahwa kecepatan rotasi yang terjadi bola bumi akan akan semakin cepat ke arah ekuator. Pada gambar Interaksi antar lempeng dapat saling mendekat (konvergen), saling menjauh (divergen) dan saling berpapasan (transform).

Tatanan tektonik yang ada disuatu wilayah sangat dipengaruhi oleh posisi tektonik yang bekerja di wilayah tersebut. Sebagaimana sudah dijelaskan pada sub bab sebelumnya, interaksi antar lempeng yang terjadi pada batas-batas lempeng konvergen, divergen dan transform akan menghasilkan tatanan tektonik tertentu.

Tatanan tektonik yang terjadi pada batas lempeng konvergen, dimana lempeng samudra dan lempeng samudra saling bertemu akan menghasilkan suatu rangkaian busur gunungapi (volcanic arc) yang arahnya sejajar / simetri dengan arah palung (trench). Cekungan Busur Belakang (Back Arc Basin) berkembang dibagian belakang busur gunungapi (gambar ). Contoh kasus dari model ini adalah rangkaian gunungapi di kepulauan Philipina yang merupakan hasil tumbukan lempeng laut Philipina dengan lempeng samudra Pasifik.

Pada batas lempeng konvergen, dimana terjadi tumbukan antara lempeng samudra dan lempeng benua (gambar ), maka tatanan tektoniknya dicirikan oleh Palung (Trench), Prisma Akresi (Accretion Prism), Cekungan Busur Muka (Forearc Basin), Busur Kepulauan Gunungapi (Volcanic Island Arc), dan Cekungan Busur Belakang (Backarc Basin).

Contoh klasik dari batas lempeng konvergen, dimana terjadi tumbukan antara lempeng samudra dan lempeng benua adalah kepulauan Indonesia, khususnya jalur pulau-pulau: Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan berakhir di kepulauan Banda. Pada gambar diperlihatkan batas konvergensi antara lempeng India-Australia dan lempeng benua Eurasia (pulau Sumatra). Kedua lempeng dibatasi oleh suatu lajur yang dikenal sebagai Palung Laut Subduksi (Subduction Trench) yang merupakan hasil subduksi antara kedua lempeng tersebut diatas, sedangkan gambar  memperlihatkan tatanan tektonik pulau Sumatra yang tersusun dari Prisma Akrasi/Accretionary Wedge (Pulau Siemelue, P.Nias, P. Telo, P.Engganau, P. Batu, P. Mentawai); Cekungan Busur Luar / Muka (Forearc Basin); Busur Gunungapi (Volcanic Arc) dan Cekungan Busur Belakang (Backarc Basin).

Batas lempeng konvergen yang berupa batas suture dapat kita lihat antara pertemuan lempeng benua India dengan lempeng benua Eurasia. Kedua lempeng tersebut dibatasi oleh suatu jalur pegunungan yang dikenal dengan pegunungan Himalaya.

Tatanan tektonik pada batas lempeng Divergen, dimana lempeng benua mengalami pemekaran (continental rifting) dengan terbentuknya laut baru dapat kita lihat terutama di Pematang Tengah Samudra (Pemisahan Benua Amerika dan Afrika), Laut Merah (Benua Afrika dan Semenanjung Sinai / Jazirah Arab) serta Rifting yang terjadi di Afrika Timur Bagian Utara

Teori Perkembangan Kota

Teori Sektoral Homer Hoyt 
 Menurut teori ini struktur ruang kota cenderung lebih berkembang berdasarkan sektor sektor dari pada berdasarkan lingkaran-lingkaran konsentis.DPK atau CBD terletak di pusat kota, namun pada bagian-bagian lainnya berkembang menurut sektor-sektor yang bentuknya menyerupai irisan kue tart. Hal ini terjadi akibat faktor geografis, seperti bentuk lahan dan pengembangan jalan sebagai sarana komunikasi dan transportasi. 

1) Zone 1; Pada lingkaran dalam terletak pusat kota (CBD) yang terdiri atas: bangunan- bangunan kantor, hotel,bank,bioskop, pasar dan pusat perbelanjaan; 

2) Zone 2; Pada sektor tertentu terdapat kawasan industri ringan dan perdagangan; 

3) Zone 3; Dekat pusat kota dan dekat sektor di atas, yaitu bagian sebelah menyebelahnya, terdapat sektor murbawiama yaitu tempat tinggal kaum murba atau kaum buruh 

4) Zone 4; Agak jauh dari pusat kota dan sektor industri serta perdagangan terletak sektor madyawisma; 

5) Zone 5; Lebih jauh lagi terdapat sektor adiwisma, yaitu permukiman golongan atas. 

Teori Inti Berganda C.D. Harris dan E.L.Ullman 
CD Harris & EL Ullman menilai bahwa kota tidak seteratur penggambaran Burgess karena antar kawasan kota seolah berdiri sendiri. Sruktur ruang kota tidaklah sesederhana dalam teori konsentris. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya urutanurutan yang teratur yang dapat terjadi dalam suatu kota terdapat tempat-tempat tertentu yang befungsi sebagai inti kota dan pusat pertumbuhan baru. Keadaan tersebut telah menyebabkan adanya beberapa inti dalam suatu wilayah perkotaan, misalnya kompleks atau wilayah perindustrian, kompleks perguruan tinggi dan kota-kota kecil di sekitar kota besar. 

Menurut teori ini struktur ruang kota adalah sebagai berikut: 
1) Pusat kota atau Central Business District (CBD). 
2) Kawasan niaga dan industri ringan. 
3) Kawasan murbawisma atau permukiman kaum buruh. 
4) Kawasan madyawisma atau permukiman kaum pekerja menengah. 
5) Kawasan adiwisma atau permukiman kaum kaya. 
6) Pusat industri berat. 
7) Pusat niaga/perbelanjaan lain di pinggiran. 
8) Upakota, untuk kawasan mudyawisma dan adiwisma. 
9) Upakota (sub-urban) kawasan industri. 

 Teori konsentris dari Ernest W. Burgess 
Ernes W. Burgess mengemukakan teori memusat atau konsentris yang menyatakan bahwa daerah perkotaan dapat dibagi dalam lima zona.

 1) Zone 1: Daerah Pusat Kegiatan (DPK/CBD) Daerah ini merupakan pusat segala kegiatan, antara lain sosial, politik, budaya, ekonomi dan teknologi. Terdapat pusat pertokoan besar (Dept Store), gedung perkantoran bertingkat, bank, hotel. 

2) Zone 2: Daerah Peralihan (DP )atau zone transisi, merupakan daerah yang mengalami penurunan kualitas lingkungan permukiman yang terus menerus. Sering terdapat daerah kumuh (slums area), dan penduduknya yang miskin. 

3) Zone 3: Zone permukiman para pekerja yang bebas (ZPPB) atau zone of independent workingmenshomes, zone permukiman kelas proletar Zone ini banyak ditempati pekerja-pekerja pabrik, industri dan lain sebagainya yang berpenghasilan kecil. Ditandai oleh adanya rumah-rumah kecil dan rumah susun sederhana yang dihuni keluarga besar. Kondisi permukiman lebih baik dibandingkan dengan zone 2, walaupun sebagian penduduknya masih masuk kategori menengah kebawah. 

4) Zone 4: Zone permukiman yang lebih baik (ZPB), atau zone permukiman kelas menengah (residential zone) Zone ini merupakan kompleks perumahan penduduk yang berstatus ekonomi menengah-tinggi. Walaupun status ekonomi penduduknya tidak sangat baik, tetapi stabil, permukiman teratur. Fasilitas permukiman terencanan dengan baik sehingga tempat tinggal cukup nyaman. 

5) Zone 5: Zone penglaju atau commuters zone Zone ini merupakan daerah yangmemasuki daerah belakang (hinterland), atau merupakan daerah batas desa kota. Penduduk bekerja di kota tetapi bertempat tinggal di pinggiran kota. Model ini jarang terjadi, karena perkembangan kota tidak selalu membentuk zone konsentris yang ideal.