08 Agustus 2020

Jenis-Jenis Tanah Di Indonesia

 Jenis tanah yang terdapat di Indonesia bermacam-macam, antara lain:

a). Organosol atau Tanah Gambut atau Tanah Organik

Jenis tanah ini berasal dari bahan induk organik seperti dari hutan rawa atau

rumput rawa, dengan ciri dan sifat: tidak terjadi deferensiasi horizon secara jelas,

ketebalan lebih dari 0.5 meter, warna coklat hingga kehitaman, tekstur debu

lempung, tidak berstruktur, konsistensi tidak lekat-agak lekat, kandungan organic

lebih dari 30% untuk tanah tekstur lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur

pasir, umumnya bersifat sangat asam (pH 4.0), kandungan unsur hara rendah.

 

Berdasarkan penyebaran tipografinya, tanah gambut dibedakan menjadi tiga yaitu:

(1). gambut ombrogen: terletak di dataran pantai berawa, mempunyai ketebalan 0.5

– 16 meter, terbentuk dari sisa tumbuhan hutan dan rumput rawa, hamper selalu

tergenang air, bersifat sangat asam. Contoh penyebarannya di daerah dataran pantai

Sumatra, Kalimantan dan Irian Jaya (Papua);

 

(2). gambut topogen: terbentuk di daerah cekungan (depresi) antara rawa-rawa di

daerah dataran rendah dengan di pegunungan, berasal dari sisa tumbuhan rawa,

ketebalan 0.5 – 6 meter, bersifat agak asam, kandungan unsur hara relatif lebih

tinggi. Contoh penyebarannya di Rawa Pening (Jawa Tengah), Rawa Lakbok

(Ciamis, Jawa Barat), dan Segara Anakan (Cilacap, Jawa Tengah); dan

(3). gambut pegunungan: terbentuk di daerah topografi pegunungan, berasal dari

sisa tumbuhan yang hidupnya di daerah sedang (vegetasi spagnum). Contoh

penyebarannya di Dataran Tinggi Dieng.

 

Berdasarkan susunan kimianya tanah gambut dibedakan menjadi:

(1). gambut eutrop, bersifat agak asam, kandungan O2 serta unsur haranya lebih

tinggi;

(2). gambut oligotrop, sangat asam, miskin O2 , miskin unsur hara, biasanya selalu

tergenang air; dan

(3). mesotrop, peralihan antara eutrop dan oligotrop.

 

b). Aluvial

Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami perkembangan, berasal dari bahan

induk aluvium, tekstur beraneka ragam, belum terbentuk struktur , konsistensi

dalam keadaan basah lekat, pH bermacam-macam, kesuburan sedang hingga

tinggi. Penyebarannya di daerah dataran aluvial sungai, dataran aluvial pantai dan

daerah cekungan (depresi).

 

c). Regosol

Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami diferensiasi horizon, tekstur pasir,

struktur berbukit tunggal, konsistensi lepas-lepas, pH umumnya netral, kesuburan

sedang, berasal dari bahan induk material vulkanik piroklastis atau pasir pantai.

Penyebarannya di daerah lereng vulkanik muda dan di daerah beting pantai dan

gumuk-gumuk pasir pantai.

d). Litosol

Tanah mineral tanpa atau sedikit perkembangan profil, batuan induknya batuan

beku atau batuan sedimen keras, kedalaman tanah dangkal (< 30 cm) bahkan

kadang-kadang merupakan singkapan batuan induk (outerop). Tekstur tanah

beranekaragam, dan pada umumnya berpasir, umumnya tidak berstruktur,

terdapat kandungan batu, kerikil dan kesuburannya bervariasi. Tanah litosol dapat

dijumpai pada segala iklim, umumnya di topografi berbukit, pegunungan, lereng

miring sampai curam.

 

e). Latosol

Jenis tanah ini telah berkembang atau terjadi diferensiasi horizon, kedalaman dalam,

tekstur lempung, struktur remah hingga gumpal, konsistensi gembur hingga

agak teguh, warna coklat merah hingga kuning. Penyebarannya di daerah beriklim

basah, curah hujan lebih dari 300 – 1000 meter, batuan induk dari tuf, material

vulkanik, breksi batuan beku intrusi.

 

f). Grumosol

Tanah mineral yang mempunyai perkembangan profil, agak tebal, tekstur lempung

berat, struktur kersai (granular) di lapisan atas dan gumpal hingga pejal di lapisan

bawah, konsistensi bila basah sangat lekat dan plastis, bila kering sangat keras dan

tanah retak-retak, umumnya bersifat alkalis, kejenuhan basa, dan kapasitas absorpsi

tinggi, permeabilitas lambat dan peka erosi. Jenis ini berasal dari batu kapur,

mergel, batuan lempung atau tuf vulkanik bersifat basa. Penyebarannya di daerah

iklim sub humid atau sub arid, curah hujan kurang dari 2500 mm/tahun.

 

g). Podsolik Merah Kuning

Tanah mineral telah berkembang, solum (kedalaman) dalam, tekstur lempung

hingga berpasir, struktur gumpal, konsistensi lekat, bersifat agak asam (pH kurang

dari 5.5), kesuburan rendah hingga sedang, warna merah hingga kuning, kejenuhan

basa rendah, peka erosi. Tanah ini berasal dari batuan pasir kuarsa, tuf vulkanik,

bersifat asam. Tersebar di daerah beriklim basah tanpa bulan kering, curah hujan

lebih dari 2500 mm/tahun.

 

h). Podsol

Jenis tanah ini telah mengalami perkembangan profil, susunan horizon terdiri dari

horizon albic (A2) dan spodic (B2H) yang jelas, tekstur lempung hingga pasir, struktur gumpal, konsistensi lekat, kandungan pasir kuarsanya tinggi, sangat

masam, kesuburan rendah, kapasitas pertukaran kation sangat rendah, peka

terhadap erosi, batuan induk batuan pasir dengan kandungan kuarsanya tinggi,

batuan lempung dan tuf vulkan masam. Penyebaran di daerah beriklim basah,

curah hujan lebih dari 2000 mm/tahun tanpa bulan kering, topografi pegunungan.

Daerahnya Kalimantan Tengah, Sumatra Utara dan Irian Jaya (Papua).

 

i). Andosol

Jenis tanah mineral yang telah mengalami perkembangan profil, solum agak tebal,

warna agak coklat kekelabuan hingga hitam, kandungan organik tinggi, tekstur  geluh berdebu, struktur remah, konsistensi gembur dan bersifat licin berminyak

(smeary), kadang-kadang berpadas lunak, agak asam, kejenuhan basa tinggi dan

daya absorpsi sedang, kelembaban tinggi, permeabilitas sedang dan peka terhadap

erosi. Tanah ini berasal dari batuan induk abu atau tuf vulkanik.

 

j). Mediteran Merah – Kuning

Tanah mempunyai perkembangan profil, solum sedang hingga dangkal, warna

coklat hingga merah, mempunyai horizon B argilik, tekstur geluh hingga lempung,

struktur gumpal bersudut, konsistensi teguh dan lekat bila basah, pH netral hingga

agak basa, kejenuhan basa tinggi, daya absorpsi sedang, permeabilitas sedang dan

peka erosi, berasal dari batuan kapur keras (limestone) dan tuf vulkanis bersifat

basa. Penyebaran di daerah beriklim sub humid, bulan kering nyata. Curah hujan

kurang dari 2500 mm/tahun, di daerah pegunungan lipatan, topografi Karst dan

lereng vulkan ketinggian di bawah 400 m. Khusus tanah mediteran merah – kuning

di daerah topografi Karst disebut terra rossa.

 

k). Hodmorf Kelabu (gleisol)

Jenis tanah ini perkembangannya lebih dipengaruhi oleh faktor lokal, yaitu

topografi merupakan dataran rendah atau cekungan, hampir selalu tergenang air,

solum tanah sedang, warna kelabu hingga kekuningan, tekstur geluh hingga

lempung, struktur berlumpur hingga masif, konsistensi lekat, bersifat asam (pH 4.5

– 6.0), kandungan bahan organik. Ciri khas tanah ini adanya lapisan glei kontinu

yang berwarna kelabu pucat pada kedalaman kurang dari 0.5 meter akibat dari

profil tanah selalu jenuh air. Penyebaran di daerah beriklim humid hingga sub

humid, curah hujan lebih dari 2000 mm/tahun.

 

l). Tanah sawah (paddy soil)

Tanah sawah ini diartikan tanah yang karena sudah lama (ratusan tahun)

dipersawahkan memperlihatkan perkembangan profil khas, yang menyimpang dari

tanah aslinya. Penyimpangan antara lain berupa terbentuknya lapisan bajak yang

hampir kedap air disebut padas olah, sedalam 10 – 15 cm dari muka tanah dan

setebal 2 – 5 cm. Di bawah lapisan bajak tersebut umumnya terdapat lapisan

mangan dan besi, tebalnya bervariasi antara lain tergantung dari permeabilitas tanah. Lapisan tersebut dapat merupakan lapisan padas yang tak tembus perakaran,

terutama bagi tanaman semusim. Lapisan bajak tersebut nampak jelas pada tanah

latosol, mediteran dan regosol, samara-samar pada tanah aluvial dan grumosol.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar