05 April 2013

APAKAH GEOGRAFI ITU ?


Geografi sebagai ilmu pengetahuan yang pernah disebut sebagai induk ilmu pengetahuan 
(mother of sciences) mengalami pasang-surut peranannya untuk memberikan 
sumbangan pemikiran dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan. 
Apabila geografi tetap ingin berperan dalam memberikan sumbangan pemikiran dalam 
kebijakan pembangunan, geografi harus mempunyai konsep inti, metodologi dan aplikasi 
yang mantap. Makalah ini bertujuan untuk menelusuri konsep inti geografi yang sesuai 
untuk dikembangkan di Indonesia untuk mendasari kompentensinya, khususnya dalam 
bidang geografi fisik. Pemisahan geografi fisik dan geografi manusia yang tinggi kurang 
mencirikan jati diri geografi, dan jika kecenderungan pemisahan tersebut semakin 
berlanjut jati diri geografi akan pudar dan akan larut dalam disiplin ilmu lainnya, dan 
bahkan kita akan kehilangan sebagian dari kompetensi keilmuan geografi. Geografi 
terpadu atau geografi yang satu (unifying geography) menjadi satu pilihan sebagai dasar 
pembelajaran geografi yang sesuai untuk Indonesia, yang diikuti dengan pendalaman 
keilmuan pada masing-masing obyek material kajian geografi tanpa melupakan obyek 
formalnya. Komponen inti dari geografi terpadu adalah ruang, tempat/lokasi, lingkungan 
dan peta, yang berdimensi waktu, proses, keterbukaan dan skala. Komponen inti geografi 
terpadu tersebut dijadikan dasar untuk menentukan kompetensi geografi. Kompetensi 
geografi fisik, yang obyek materialnya fenomena lingkungan fisik (abiotik) pada lapisan 
hidup manusia, sangat luas antara lain: penataan ruang, pengeolaan sumberdaya alam, 
konservasi sumberdaya alam, penilaian degradasi lingkungan, pengelolaan daaerah aliran 
sungai, penilaian tingkat bahaya dan bencana, penilaian risiko bencana. Kompetensi 
geografi fisik tersebut selalu dikaitkan dengan kepentingan umat manusia, dengan konsep 
bahwa lingkungan fisikal sebagai lingkungan hidup manusia. 
1. PENGANTAR 
Perbincangan tentang jati diri Geografi telah beberapa kali dilakukan di 
Indonesia, baik melalui lokakarya, seminar maupun melalui sarasehan yang dilakukan 
oleh Fakultas/Jurusan/Departemen Geografi, organisasi profesi (IGI) dan ikatan alumni 
(IGEGAMA). Jati diri suatu disiplin ilmu dapat ditelaah dari definisinya. Dalam Seminar 
Peningkatan Relevansi Metode Penelitian Geografi tanggal 24 Oktober 1981 Prof. 
Bintarto dalam papernya berjudul Suatu Tinjauan Filsafat Geografi mengemukakan 
definisi Geografi sebagai berikut: Geografi mempelajari hubungan kausal gejala-2
gejala di muka bumi dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di muka bumi baik yang 
fisikal maupun yang menyangkut mahkluk hidup beserta permasalahannya, 
melalui pendekatan keruangan, ekologikal dan regional untuk kepentingan 
program, proses dan keberhasilan pembangunan (Bintarto, 1984). Seminar dan 
lokakarya yang dilaksanakan di Jurusan Geografi, FKIP, IKIP Semarang kerjasama 
dengan IGI tahun 1988 telah menghasilkan rumusan definisi: Geografi adalah ilmu 
pengetahuan yang mempelajari perbedaan dan persamaan fenomena geosfer 
dengan sudut pandang kelingkungan, kewilayahan dalam konteks keruangan. 
Rumusan dua definisi Geografi tersebut sedikit berbeda namun memberikan 
ketegasan dan kejelasan tentang obyek kajian dalam Geografi baik obyek material 
maupun formalnya. Obyek materialnya adalah gejala, fenomena, peristiwa di muka bumi 
(di geosfer), sedang obyek formalnya adalah sudut pandang atau pendekatan:keruangan, 
kelingkungan dan kompleks wilayah. Ketegasan obyek formal kajian Geografi penting 
untuk membedakan kajian dengan disiplin ilmu lain yang obyek materialnya juga 
fenomena geosfer. Geosfer terdiri atas atmosfer, litosfer (termasuk pedosfer), hidrosfer 
dan biosfer (termasuk antroposfer); sfera bumi tersebut membentuk satu sistem alami 
yang masing-masing sfera saling berinteraksi, saling pengaruh mempengaruhi. Konsep 
sfera bumi membentuk satu sistem alami merupakan konsep penting dalam geografi, 
karena dapat dijadikan dasar untuk memahami dinamika fenomena dari muka bumi. 
Definisi Geografi versi Semlok Semarang tersebut masih banyak digunakan 
dalam proses pembelajaran geografi di sekolah dan perguruan tinggi, dan bukan satusatunya yang harus diajarkan kepada peserta didik, karena masih banyak definisi lain 
yang perlu disampaikan untuk memperkaya dan memperluas wawasan tentang jati diri 
geografi. Definisi geografi itu sangat banyak, berikut ini disampaikan lima definisi untuk 
memberikan diversitas cakupan, dan jati diri Geografi. 
1) Geography is concerned to provide an accurate, orderly, and rational description 
and interpretation of the variable character of the Earth’s surface (Hartshorne, 
1959). 
2) Geography is the scientific study of changing spatial relationships of terrestrial 
phenomena viewed as world of man (Bird, 1989). 3
3) The core of Geography is an abiding concern for human and physical attribute of 
places and regions and with spatial interaction that alter them (Abler et al, 1992). 
4) Geography is the study of the surface of the Earth. It involves the phenomena and 
processes of the Earth’s natural and human environments and landscapes at local 
to global scales (Herbert and Matthews (2001). 
5) Geography is a discipline concerned with understanding the spatial dimensions of 
environmental and social processes (White, 2002) 
 Variasi definisi tersebut di atas juga memberikan ketegasan kepada kita bahwa 
obyek kajian Geografi adalah fenomena geosfer dan sudut pandangnya adalah keruangan, 
kelingkungan dan kewilayahan meskipun dengan rumusan yang berbeda. Rumusan yang 
berbeda dari definisi Geografi dapat dipahami dengan munculnya pandangan Geografi 
yang menyatakan bahwa geografi adalah apa yang dikerjakan oleh geograf. Dua 
definisi terakhir dari lima definisi tersebut di atas aspek lingkungan mendapat tekanan 
yang lebih. Hal tersebut sangat mungkin diinspirasi oleh permasalahan lingkungan yang 
semakin meningkat dan mengglobal di muka bumi ini, seperti perubahan iklim global, 
penurunan kualitas lingkungan, bencana banjir, kekeringan, longsor, kemiskinan, 
penurunan dan kerusakan sumberdaya alam. Permasalahan lingkungan dan bencana yang 
banyak terjadi tersebut timbul sebagai akibat ketidak imbangan interaksi antara 
lingkungan dengan aktifitas manusia. Interaksi lingkungan-manusia merupakan sebagian 
dari kajian geografi yang menggunakan pendekatan kelingkungan..Oleh sebab itu 
permasalahan lingkungan menjadi perhatian geograf, dan selain itu geografi sebagai ilmu 
yang berorientasi pada pemecahan masalah (problems solving). Permasalahan lingkungan 
yang terjadi saat sekarang dan masa depan bersifat kompleks, multi dimensi, saling kait 
mengkait, sehingga pemecahannya memerlukan pendekatan terpadu. 
 Dalam merespon permasalahan lingkungan yang multidimensi dan berskala lokal 
hingga global, Geografi dihadapkan pada dua permasalahan yang terkait disiplin ilmu 
geografi itu sendiri dan permasalahan kompetensi geograf sebagai pemangku ilmu 
geografi. 
1) Geografi yang bagaimanakah yang mampu memberikan kontribusi nyata untuk 
pengambilan kebijakan dalam memecahkan permasalahan lingkungan yang 
berdimensi lokal hingga global secara berkelanjutan? 4
2) Kompetensi apakah yang diperlukan bagi geograf di masa mendatang? 
 Pertanyaan pertama dimunculkan, karena ada tiga alasan penting yang terkait 
dengan geografi: 
1) geografi menghadapi tantangan untuk memberikan masukan dalam 
memecahkahn masalah yang multi dimensi dan kompleks yang memerlukan 
pendekatan antar bidang, apabila geografi tidak terpadu maka kontribusi 
geografisnya kurang lengkap, bahkan berisiko sebagian disiplin geografi 
menjadi bagian disiplin ilmu lain; 
2) pembelajaran geografi harus utuh tidak terkotak-kotak secara tegas antara 
geografi fisik dan geografi manusia, karena masalah di sekeliling lingkungan 
kita semakin meningkat dan geograf harus mampu memberikan kontribusi yang 
nyata kepada masyarakat, oleh karena itu geograf harus berbekal teori/konsep 
yang matang; 
3) riset fundamental dalam elemen inti geografi belum banyak dilakukan untuk 
menghasilkan teori dasar geografi yang dapat digunakan sebagai masukan dalam 
kebijakan pemerintah, jika geografi tidak mengembangkan geografi terpadu 
akan kehilangan kesempatan/kedudukan sebagai pemberi masukan sesuai bidang 
keilmuan geografi. Label dari geografi adalah ruang, tempat, lingkungan dan 
peta, yang tidak dimiliki oleh disiplin ilmu lain (Mathews et al, 2004). 
Dalam mengupas permasalahan pertama tersebut perlu didasari pemahaman tentang 
ruang lingkup Geografi, komponen inti kajian geografi. Pembahasan permasalahan kedua 
tentang kompetensi khususnya dalam bidang kajian geografi fisik, perlu didasari dengan 
metode penelitian geografi dan identifikasi dari permasalahan lingkungan yang terkait 
dengan obyek kajian Geografi 
2. RUANG LINGKUP KAJIAN GEOGRAFI 
 Sebutan geografi sebagai ilmu pengetahuan cukup banyak, antara lain: i). geografi 
sebagai ilmu holistik yang mempelajari fenomena di permukaan bumi secara utuh 
menyeluruh, ii) geografi adalah ilmu analitis dan sintesis, yang memadukan unsur 5
lingkungan fisikal dengan unsur manusia dan iii). geografi adalah ilmu wilayah yang 
mempelajari sumberdaya wilayah secara komprehensif. Tiga sebutan geografi tersebut 
yang menjadi landasan untuk membahas kajian geografi yang mampu merespon 
permalasalahan lingkungan yang berdimensi lokal hingga global. Pertanyaan pemandu 
untuk mengetahui ruang lingkup kajian Geografi pada umumnya adalah: 
1) apa (what), 
2) dimana (where), 
3) berapa (how long/how much), 
4) mengapa (why), 
5) bagaimana (how), 
6) kapan (when), 
7) siapa (who) (Widoyo Alfandi, 2001). 
Pertanyaan pemandu yang mencerminkan bahwa geografi itu adalah holistik, sintesis dan 
kewilayahan adalah sebagai berikut: 
1) apa, dimana dan kapan (what, where and when), pertanyaan ini menuntun kita 
untuk mengetahui fenomena geografis dan distribusi spasialnya pada suatu 
wilayah, serta kapan terjadinya; 
2) bagaimana dan mengapa ( how and why), pertanyaan ini bersifat analitis untuk 
mengetahui sistem, proses, perilaku, ketergantungan, organisasi spasial dan 
interaksi antar komponen pembentuk geosfer; 
3) apakah dampaknya (what is the impact), pertanyaan bersifat analistis, sintesis 
untuk mengevaluasi fenomena geografi yang mengalami perubahan baik oleh 
proses alam maupun oleh hasil interaksi antara manusia dengan lingkungan 
alamnya; 
4) Bagaimana seharusnya (how ought to ), pertanyaan ini menjurus ke sintesis dan 
evaluasi untuk pemecahan permasalahan lingkungan suatu wilayah dan 
memberikan keputusan dalam pengelolaan sumberdaya dan lingkungan. 
Pertanyaan pemandu pertama dalam geografi yang umum tersebut dapat 
digunakan untuk proses pembelajaran pada tingkat manapun dengan memperhatikan 
tingkat kedalaman atau kedetilannya. Pertanyaan pemandu yang kedua dapat ditujukan 6
untuk jenjang pendidikan pada perguruan tinggi, dengan asumsi bahwa wawasan dan 
penalaran mahasiswa lebih mantap. 
3. KONSEP GEOGRAFI
Berikut ini disampaikan beberapa konsep geografi yang dapat dijadikan pegangan untuk 
menentukan kompetensi geograf. 
1. Geografi menduduki tempat yang jelas dalam dunia pendidikan, geografi 
menawarkan kajian terpadu dari hubungan timbal balik antara masyarakat 
manusia dengan komponen fisikal dari bumi. 
2. Disiplin geografi dicirikan oleh subyek material yang luas, yang secara tradisional 
terdiri dari dari geografi manusia dan geografi fisik. 
3. Komponen pengetahuan alam dan sosial dalam geografi tidak dapat dipisahkan 
satu dengan yang lain, dan tidak ada disiplin ilmu lain yang memadukannya 
seperti yang dilakukan oleh geograf. 
4. Geografi mempelajari interelasi dan interdependensi dari dunia nyata dari 
fenomena dan proses yang memberikan ciri khas pada suatu wilayah. 
5. Obyek kajian geografi adalah geosfer yang terdiri dari atmosfer, litosfer, pedosfer, 
hidrosfer, biosfer dan antroposfer; masing-masing sfera tersebut saling terkait 
membentuk sistem alami. 
6. Obyek kajian geografi tersebut juga menjadi kajian bidang ilmu lainnya, yang 
menjadi pembeda adalah pendekatan yang digunakan; pendekatan yang 
dimaksud adlah pendekatan spasial (keruangan), ekologikal dan kompleks 
wilayah. 
7. Geografi mempelajari wilayah secara utuh menyeluruh tentang sumberdaya alam 
dan sumberdaya manusia, sehingga mempunyai peran penting dalam pengelolaan 
sumberdaya alam dan lingkungan dalam rangka otonomi daerah. 
8. Geografi mempelajari proses perubahan lingkungan alam maupun lingkungan 
sosial ekonomi, sehingga pelajaran geografi memberi bekal untuk tanggap 
terhadap isu-isu dan perubahan lokal, regional dan global. 
9. Peta merupakan salah alat utama dalam kajian geografi dan juga merupakan salah 
satu hasil utama dalam kajian geografi. 7
10. Perkembangan pesat dari ilmu dan teknik penginderaan jauh dan sistem informasi 
geografis sangat membantu dalam proses-belajar geografi dan penelitianpenelitian geografis. 
4. GEOGRAFI SEBAGAI SATU DISIPLIN: GEOGRAFI TERPADU 
 Setiap disiplin keilmuan normalnya memiliki satu bidang kajian tertentu, satu 
asosiasi kerangka teoritik dan pendekatan yang lazim digunakan untuk mengkaji dengan 
teknik yang sesuai, kesemuanya itu tidak hanya untuk pemahaman tetapi juga untuk 
penemuan pengetahuan baru dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan umat manusia. Bagi 
geografi bidang kajiannya banyak, yang mempunyai metode dan teknik yang berbeda, 
sehingga tidak mudah untuk mendudukan geografi sebagai satu disiplin. Misalnya 
geografi fisik yang obyeknya kajiannya atmosfer, litosfer dan hidrosfer, masing-masing 
mempunyai kerangka teoritik dan pendekatan yang berbeda, demikian juga halnya 
dengan geografi manusia yang obyeknya: kependudukan, sosial, ekonomi, budaya dan 
politik. Bagi geografi dimasukkan ke dalam cross-disciplinary link, mirip munculnya 
sain terpadu, seperi Sain Sistem Bumi ( Earth System Science) dan Sain Keberlanjutan 
(Sustainability Science), dan bagi geografi subyek kajiannya adalah lingkungan fisikal 
dan manusia, dengan menggunakan teori dan metodologinya kompleksitas dari unsur 
muka bumi (Mathews et al,2004). 
Kesulitan untuk mendudukan/memposisikan geografi sebagai satu disiplin ilmu, 
maka ada baiknya apabila geografi itu hanya satu, tidak terpisah-pisah menjadi geografi 
manusia dan geografi fisik. Geografi yang satu (unifying geography) mempunyai 
banyak keunggulan dalam berperan ke masa depan, dengan asumsi permasalahan di masa 
depan sifatnya kompleks dan multi dimensi, yang pemecahannya memerlukan 
pendekatan terpadu dan holistik. Dalam geografi terpadu tidak berarti kekhususan 
(spesialisasi) akan hilang, tetapi tetap ada hanya dilandasi oleh konsep geografi yang 
satu. Bagi spesialisasi geografi fisik, fokus kajian pada komponen lingkungan fisik tetapi 
harus mengkaitkannya dengan aspek sosial; spesialisasi dalam geografi manusia geografi 
fisik sebagai latar belakang, sedang yang spesialisasi dalam geografi yang satu fokusnya 
adalah pemecahan masalah dengan pendekatan geografis secara utuh. 8
ALASAN UNTUK MENJADI GEOGRAFI TERPADU 
1) Satuan (unit) yang lebih besar akan membawa keuntungan yang berarti, akan 
dan memberikan arah yang jelas dalam pengetahuan dan pemahaman; fokus yang 
besar dan menyatu dalam Geografi akan memerkuat identitas Geografi dan dapat 
memberikan masukan dalam kebijakan pembangunan; 
2) Satuan (unit) yang lebih besar memberikan makna yang lebih besar bagi 
mahasiswa dalam, disiplin geografi yang terpisah-pisah tidak menyatu akan 
membingungkan dalam penyusunan kurikulum. Pada hal geografi menempati 
posisi tempat yang menonjol dalam mempelajari dunia, yang menawarkan kajian 
terpadu terhadap hubungan timbalbalik antara manusia dan lingkungan alamnya, 
sehingga kalau tidak menjadi satu kesatuan maka tidak akan lengkap kajiannya. 
Satuan yang lebih besar dapat memberikan prioritas dalam pengajaran dan 
penelitian, yang kesemuannya itu untuk mempromosisikan geografi agar lebih 
berperan. 
3) Satuan yang lebih besar dapat menunjukkan kepada masyarakat tentang 
kemampuan akademiknya untuk memberikan kontribusi nyata dalam menentukan 
kebijakan dan memperbaiki pemahaman umum tentang Geografi.
5. KOMPONEN INTI GEOGRAFI 
 Untuk menuju geografi terpadu (unifying geography) perlu ditegaskan komponen 
inti Geografi. Matthews, et al., (2004) mengusulkan empat komponen inti Geografi : 
ruang (space), tempat (place), lingkungan (environment) dan peta (maps). 
Ruang menjadi satu konsep dalam inti geografi, yang dapat dipandang sebagai 
pendekatan spasial-korologikal untuk Geografi. Ruang juga mendominasi Geografi 
setiap waktu, ketika analisis spatial menjadi satu pendeskripsi untuk satu bentuk dari 
pekerjaan geografis. Pola spasial umumnya menjadi titik awal untuk kajian geografis; 
yang selanjutnya dapat dilacak proses perubahan secara spasial dan sistem spasial. 
Tempat merupakan komponen kedua dalam inti geografi. Tempat terkait dengan 
kosep teritorial dalam Geografi dan menunjukkan karakteristik, kemelimpahan dan batas. 
Tempat merupakan bagian dari dunia nyata tempat manusia bertem dan dapat dikenali, 
dinterpretasi dan dikelola. Dalam ahli geografi manusia tempat merupakan refleksi dari 9
identitas idividu maupun kelompok; sedang bagi ahli geografi fisik tempat tempat 
merupakan refleksi dari perbedaan lingkungan biofisik. 
Lingkungan merupakan komponen inti Geografi ketiga yang mencakup 
lingkungan alami (topografi, iklim, air, biota, tanah) dan sebagai komponen inti yang 
memadukan dengan komponen geografi lainnya. Lingkungan menjadi interface antara 
lingkungan alam dan budaya, lahan dan kehidupan, penduduk dan lingkungan 
biofisikalnya. 
Peta sebagai komponen inti Geografi keempat lebih merupakan bentuk 
representasi, tehnik dan metodologi dari pada sebagai satu konsep atau teori. Peta 
dipandang sebagai pernyerhanaan perpektif spasial dari fenomena/peristiwa yang dikaji 
dalam Geografi. 
Ruang, tempat, lingkungan dan peta menjadi label dari Geografi. Komponen 
tersebut mempunyai kedudukan yang sama dalam kajian Geografi, baik dalam kajian 
Geografi Fisik maupun Geografi Manusia. Demikian juga dapat menjadi dasar konsep 
untuk disiplin Geografi secara utuh. 
Komponen inti Geografi tersebut bersifat dinamik, dalam arti dapat terjadi 
perubahan, yang tergantung karakteristik lingkungan, proses yang berlangsung dan 
waktu. Oleh sebab itu perlu ada dimensi kualifikasi dari komponen inti geografi tersebut. 
Dimensi yang dimaksud adalah waktu, proses, keterbukaan dan skala. Sebagai contoh 
tempat yang terletak di pegunungan yang semula subur menjadi lahan kritis dalam waktu 
10 tahun, karena proses erosi dan longsor karena daerahnya terbuka akibat pembalakan 
hutan di atasnya, yang luasnya melebihi 70%. Komponen inti geografi dan dimensi 
kualifikasinya tercantum pada Tabel 1. 
Tabel 1. Komponen esensial inti Geografi dan dimensi kualifikasinya 
Komponen esensial Dimensi kualifikasi 
1. Ruang 
2. Tempat 
3. Lingkungan 
4. Peta 
1. Waktu 
2. Proses 
3. Keterbukaan 
4. Skala 
Sumber: Matthews, et al., 2004 10
6. SPESIALISASI DALAM GEOGRAFI TERPADU 
Setelah dibahas alasan untuk menjadi geografi terpadu dan komponen esensial inti 
geografi, kemudian timbul masalah yang terkait dengan spesialisasi dalam geografi 
terpadu. Spesialisasi dalam geografi tetap dapat eksis , baik spesialisasi dalam intinya 
maupun periperinya, sedangkan yang berada di luar periperi merupakan disiplin antar 
bidang yang relatif sedikit berbasis pada inti geografinya (Gambar 1). 
Gambar 1. Geografi terpadu, geografi fisik dan geografi manusia, dan spesialisasi 
geografi dalam hubungannya dengan bidang Geografi periperi dan antar bidang. Sumber 
Mattews et al., 2004. 
Gambar 1 tersebut menunjukkan bahwa spesialisasi dalam Geografi dapat dibedakan 
menjadi : spesialisasi geografi secara utuh, dalam geografi fisik dan geografi manusia 
dengan kadar inti geografi relatif lebih sedikit dan spesialisasi antar bidang dengan basis 
inti geografi lebih kecil lagi. 11
7. KOMPETENSI DALAM BIDANG GEOGRAFI FISIK 
Seseorang yang belajar geografi kompetensi yang dimiliki akan sejalan dengan 
jenjang pendidikan yang diikuti. Kompetensi ideal bagi orang yang mempelajari geografi 
tercapai apabila yang bersangkutan belajar hingga perguruan tinggi atau telah menjadi 
geograf. Berikut ini disampaikan kompetensi ideal bagi orang yang mempelajari geografi 
hingga perguruan tinggi, namun demikian sebagian dari kompetensi tersebut dapat juga 
dimiliki oleh orang yang hanya mempelajari geografi dalam jenjang pendidikan tertentu 
saja (Sutikno, 2002). 
Kompetensi Dalam Pengertian dan Pemahaman
Setelah mempelajari geografi seseorang diharapkan memperoleh pengertian dan 
pemahaman sebagai berikut: 
1) hubungan timbal balik antara aspek fisik dan manusia dari lingkungan dan 
bentanglahan; 
2) konsep variasi spasial; 
3) perbedaan utama dari wilayah /daerah tertentu yang selalu mengalami perubahan 
akibat proses: fisik, lingkungan, biotik, sosial, ekonomi dan budaya; 
4) konsepsualisasi terhadap pola, proses, interaksi dan perubahan lingkungan, 
sebagai suatu sistem dengan skala yang bervariasi; 
5) kekritisan terhadap aspek spasial dan temporal dari proses-proses fisikal, manusia 
dan interaksinya; 
6) perubahan yang terus terjadi pada komponen lingkungan fisik dan manusia, 
termasuk interaksi dan interdependensinya; 
7) perbedaan menurut ruang, tempat dan waktu dalam masyarakat manusia; 
8) sifat dari disiplin ilmu itu dinamik, prural dan bersaing; 
9) cara representasi data geografi: aspek fisik maupun aspek manusianya; 
10)strategi dalam analisis dan interpretasi informasi geografis; 
11)metode penelitan geografis: observasi, survai, pengukuran lapangan, analisis 
laboratorium, analisis kuantitatif dan kualitatif; 12
12) aplikasi konsep dan teknik geografi untuk pemecahan masalah, kesejahteraan 
manusia, perbaikan lingkungan hidup, perencanaan perkotaan, kebencanaan alam, 
keberlanjutan dan konservasi. 
Kompetensi Dalam Keahlian/Ketrampilan Intelktual
Geografi memberikan serangkaian keahlian intelektual dan kemampuan dalam 
kompetensi sebagai berikut: 
1) penilaian teori yang berbeda, penjelasan dan kebijakan; 
2) analisis dan pemecahan masalah; 
3) membuat keputusan; 
4) penilaian kejadian secara kritis; 
5) interpretasi data dan teks secara kritis; 
6) menyarikan dan mensintesiskan informasi; 
7) mengembangkan argumentasi yang mendasar; 
8) mempunyai tanggung jawab dalam meningkatkan kemampuan diri dan 
mengembangkan kebiasaan untuk belajar terus menerus. 
Kompetensi Dalam Keahlian/Ketrampilan Praktis 
Pendidikan geografi dapat memberikan keahlian praktis dalam bidang/hal berikut: 
1) mampu melakukan perencanaan, perancangan dan pelaksanaan riset, termasuk 
penyusunan laporan akhir; 
2) mampu melaksanakan kerja lapangan yang efektif, dalam konteks keamanan dan 
keselamatan; 
3) mampu melakukan kerja laboratoris dengan aman dengan memperhatikan 
prosedur baku; 
4) mampu melaksanakan survai dan metode penelitian untuk pengumpulan, analisis 
dan pemahaman informasi aspek manusia; 
5) mampu melakasanakan variasi teknik dan metode analisis laboratorium untuk 
pengumpulan dan analisis data spasial dan informasi lingkungan; 
6) mampu mengkombinasikan dan menginterpretasikan kejadian geografis yang 
berbeda tipenya; 13
7) mampu mengenali isu-isu moral dan etika yang diperdebatkan. 
Kompetensi Dalam Keahlian/Ketrampilan Kunci ( Key Skills)
Siswa /mahasiswa geografi harus mengembangkan kemampuan sebagai berikut: 
1) belajar dan mengkaji, 
2) komunikasi tertulis, 
3) presentasi data geografis, 
4) penilaian dan perhitungan, 
5) kesadaran spasial dan observasi, 
6) keja lapangan dan laboratoris, 
7) tehnologi informasi, 
8) penanganan dan penyimpanan data/informasi, 
9) situasi personal, kerja sama. 
Uraian tersebut menujukkan bahwa pembelajaran geografi penuh dengan kandungan 
kompetensi khususnya dalam aspek spasial, lingkungan dan kewilayahan dari 
sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya binaan. Kompetensi yang 
disebutkan di atas kurang spesifik dalam artian praktis atau terapannya, berikut ini 
disampaikan kompetensi Geografi Fisik yang lebih aplikatif antara lain: 
1) survey komponen lingkungan fisikal: cuaca, iklim, geomorfologi, tanah, hidrologi 
dan biogeografi; 
2) inventarisasi dan evaluasi potensi sumberdaya alam; 
3) mitigasi dan evaluasi bahaya dan bencana alam; 
4) evaluasi risiko bahaya/bencana alam; 
5) penataan ruang dari aspek fisikalnya 
6) pengeolaan sumberdaya alam, 
7) konservasi sumberdaya alam, 
8) penilaian degradasi lingkungan, 
9) pengelolaan daaerah aliran sungai. 14
PENUTUP 
1) Geografi terpadu lebih sesuai untuk dikembangkan di Indonesia ke depan, 
mengingat kondisi lingkungan alamnya sangat bervariasi dan berpenduduk padat 
dengan banyak etnik, sehingga banyak permasalahan lingkungan yang perlu 
penanganan secara terpadu. 
2) Geografi sebagai disiplin ilmu perlu label komponen inti Geografi, yang terdiri 
dari ruang, tempat, lingkungan dan peta, dengan dimensi kualifikasi waktu, 
proses, keterbukaan dan skala. 
3) Dalam geografi terpadu spesialisasi tetap eksis, yang meliputi spesialisasi inti, 
periperi dan antar bidang; baik dalam bidang kajian geografi manusia maupun 
geografi fisik. 
REFERENSI 
Bintarto, 1981. Suatu Tijauan Filsafat Geografi. Seminar Peningkatan Relevansi Metode 
Penelitian Geografi. Fakultas Geogari UGM. Yogyakarta 24 Oktober 1981. 
Matthews J. A; D. T. Herbert. 2004. Unifying Geography. Common heritage, share 
future. London: Routlege. Taylor&Francis Group. 
Widoyo Alfandi. 2001. Epistemologi Geografi. Yogyakarta: Gadjah Mada University 
Press. 
Sutikno. 2002. Peran Geografi dalam Pemberdayaan Sumberdaya Wilayah. Makalah 
dipresentasikan dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan dan Kongres Ikatan Geograf
Indonesia di UPI Bandung tanggal 28-29 Oktober 2002. 

SUMBER : Sutikno 
Jurusan Geografi Lingkungan, Fakultas Geografi UGM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar