01 Juli 2009

KARTOGRAFI-PENGANTAR

Kartografi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari perpetaan, termasuk di dalamnya pembuatan peta, pembacaan peta, penggunaan peta dan lain – lainnya yang berhubungan dengan peta. Menururt ICA (International Cartography Association) dalam kartografi meliputi tindakan pengumpulan data, klasifikasi data, dan analisa data sampai dengan produksi, evaluasi, dan penafsiran peta. Mendasarkan hal tersebut, maka kartografi bertujuan membuat peta dengan cara pengumpulan data, klasifikasi dan analisa data, dan selanjutnya menggambarkan data tersebut ke dalam bentuk peta.
Fungsi utama peta adalah dapat menyajikan fungsi dan informasi data dari obyek yang dipetakan secara optimal. Untuk dapat mengetahui apakah peta tersebut dapat menyajikan fungsi dan informasi dari obyek yang digambar secara optimal, maka perlu dilakukan evaluasi terhadap peta hasil penggambaran.
Menurut Van der Waag peta adalah gambaran konvensional yang disesuaikan terhadap skala yang digambarkan di atas bidang datar, baik untuk menyajikan data yang selektif maupun bentuk abstrak dalam hubungannya dengan permukaan bumi. Selanjutnya, gambaran konvesional dari muka bumi ini sering disebut simbol. Sering istilah simbol disamakan dengan legenda, padahal keduanya berbeda makna. Simbol terletak di dalam peta dan berfungsi sebagai gambaran obyek, sedang legenda terletak di luar peta dan fungsinya memberi keterangan arti dari simbol.
Secara umum fungsi peta adalah menggambarkan bentuk obyek yang diperkecil baik secara detail maupun secara menyeluruh, oleh karenanya peta bermanfaat bagi berbagai keperluan, seperti kegiatan pertahanan dan keamanan, perencanaan pembangunan wilayah, penunjukan lokasi untuk kegiatan tertentu, layanan wisata, dan lain sebagainya.
Mendasarkan atas ukuran skala dan fungsi peta, maka ada dua jenis peta, yakni peta umum dan peta khusus.
1. Peta Umum
Peta umum merupakan peta yang menunjukkan kenampakan obyek secara umum, baik kenampakan fisik (obyek alami) maupun kenampakan sosial – ekonomi (obyek non alami atau buatan manusia). Ada tiga jenis peta umum, yakni: (a) Peta Topografi, yaitu peta umum dengan ukuran skala besar; (b) Peta Chorografi, yaitu peta yang meliput wilayah yang luas dengan ukuran skala sedang; dan (c) Peta dunia (word map), yaitu peta umum yang berukuran skala kecil.
2. Peta Khusus
Peta khusus merupakan peta yang menyajikan informasi dari obyek-obyek yang khusus, misalnya peta politik, peta kota, peta pariwisata, peta militer, peta geologi, peta jaringan, peta kondisi ekonomi, peta jalur penerbangan, dan sebagainya.
Kenampakan berbagai macam obyek di muka dapat dipetakan, sehingga pengguna peta yang baik adalah meraka yang mampu membaca peta tersebut secara benar, untuk itu seorang pembaca peta haruslah memiliki pengetahuan yang luas, meskipun sifatnya umum.
Seperti diketahui bahwa peta merupakan pengecilan obyek dari aslinya, sehingga dalam pembuatan diperlukan designer atau pendesain gambar obyek yang baik agar pembaca peta mudah dalam menggunakan peta tersebut. Desain dalam proses pembuatan peta berpengaruh terhadap perubahan – perubahan dari kenampakan obyek aslinya. Oleh karenanya, setidaknya ada empat faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan desain proses pembuatan peta, yakni:
aplikasi ilmiah yang berkaitan terhadap kepentingan pembuatan peta
munculnya teori umum mengenai system informasi dan komunikasi
introduksi dari high speed digital computer, atau perkembangan teknik komputerisasi yang berkaitan dengan pembuatan peta
perkembangan dalam bidang material untuk penggambaran peta, baik perkembangan teknis maupun peralatannya.
Realisasi perkembangan aplikasi ilmiah merupakan hal yang penting untuk diperhatikan dalam perkembangan teori dan metode kartografi. Pendekatan kualitatif yang berubah menjadi pendekatan kuantitatif berasumsi bahwa analisa peta yang subyektif tidak cukup mampu menyiapkan dasar bagi suatu disiplin ilmu, sehingga terjadilah peningkatan perhatian terhadap peranan peta, grafis, argument ilmiah literature kartografi, komunikasi grafis dan model building menjadi lebih berbobot. Pakar kartografi harus melakukan evaluasi terhadap metodologi mereka, dan untuk kepentingan penelitiannya harus senantiasa menyelaraskan diri kepada pendekatan sophisticated.
Perkembangan teori komunikasi membuat kartorafi memiliki konseksuensi yang penting, karena peta merupakan peralihan (tranmiting device) esensial bagi informasi yang meliputi aturan dasar dari komunikasi grafis. Titik berat dari sifat umum informasi membuat kartografi harus senantiasa memperhitungkan bentuk yang lebih abstraktif dari data yang akan digambarkan.
Analisa komputer dalam kartografi antara lain dalam melakukan manipulasi data statistik dengan waktu yang relatif lebih cepat, sehingga hasil pemetaan yang tergambar lebih kompleks dan lebih abstraktif. Mendasarkan pada skema logis dari instruksi program, maka otomasi kartografi dapat dilakukan, sehingga dalam otomasi tidak diperlukan berbagai teori yang berakibat pada pengurangan seni kartografis.
Pada materi bahan pemetaan, seperti kertas sensitif, plastik diazo, serta film sangat berarti dalam kartografi. Materi bahan tersebut sangat membantu dalam proses pembuatan peta.
Mendasarkan keempat faktor desain proses pembuatan peta tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem informasi kartografis menghendaki suatu hasil peta yang mempunyai fungsi optimal, sehingga pengertian dan komunikasi antara data kolektor dengan pemrosesan kartografis dan pengguna peta harus terjalin dengan baik.
2. SEJARAH KARTOGRAFI
Perkembangan kartografi dapat dikelompokkan dalam empat periode, yakni (1) periode kuno, (2) periode pertengahan, (3) periode renaissance, dan (4) periode modern.
(1) Periode Kuno
Pembuatan peta pada periode ini masih dibuat secara manual dengan tangan (menuscript map). Peta – peta pada periode kuno ini terutama dibuat oleh orang – orang Yunani dan Tiongkok dan mutu ilmiahnya cukup tinggi pada masa itu.
(2). Periode Pertengahan
Dalam periode ini perpetaan sangat dipengaruhi oleh aliran supernaturalisme Kristen. Pada periode ini mereke melukiskan muka bumi ke dalam bentuk peta tidak menurut keadaan yang sebenarnya namun sesuai dengan jalan pikiran mereka dengan disertai dengan perasaan yang artistic dan simbolik. Mereka beranggapan karena bumi adalah ciptaan Tuhan, dan Tuhan adalah Maha Sempurna, sehingga dalam menggambarkan ciptaannya pun harus sempurna, dan sempurna menurut pandangan mereka masa itu adalah semua kenampakannya harus digambarkan secara simetris. Karena perpetaan pada periode ini lebih dipenagruhi oleh aliran suatu agama, maka perpetaan mengalami kemerosotan mutu hasil, bahkan dibanding dengan periode kuno hasil perpetaan pada periode ini mutu hasilnya lebih rendah. Kondisi ini terjadi hingga periode tahun 800 – an. Pada akhir periode ini telah mulai ada metode pencetakan peta, meskipun masih sangat sederhana.
(3) Periode Renaisance
Pada periode ini terjadi perubahan mendasar dalam kartografi atau perpetaan, yakni terjadi pada sekitar tahun 1500 –an, terjadi kondisi yang demikian, antara lain karena beberapa factor, yakni: (a) adanya kesadaran para pembuat peta akan makna ketinggalannya dalam perpetaan terhadap bangsa timur (Arab); (b) orang perpetaan mulai kembali ke prinsip – prinsip kartografi dan geografi; (c) peta – peta dapat dicetak dengan cepat, dalam jumlah besar, dan harga yang murah; dan (d) mereka menyadari makna ekspansi atau perkembangan wilayah yang pesat yang sangat memerlukan perpetaan.
(4) Periode Modern
Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan pesat perpetaan pada periode modern, antara lain: (a) mulai tumbuh kembangnya logika manusia, sehingga segala sesuatunya didasarkan atas logika; (b) mulai ditemukannya peralatan kartografi yang baru, sehingga memberikan hasil perpetaan yang cepat dan lebih akurat; (c) terjadi peperangan di mana-mana sehingga sangat memerlukan pembuatan peta pada wilayah – wilayah tersebut; (d)mulai meluasnya hubungan inernasional, yang sangat memrlukan perpetaan untuk kelancaran komunikasi; (e) pada periode ini telah mulai ditemukan dan dikembangkan teknik foto udara; dan (f) adanya perkembangan ilmiah modern sangat mendukung perkembangan perpetaan pada periode modern ini.
3. PENGERTIAN SKALA DAN PROYEKSI PETA
Perbandingan jarak di peta dengan jarak sesungguhnya di muka bumi adalah skala peta atau sering disebut kedar. Atau skala dapat diartikan perbandingan antara panjang garis – garis bumi dengan jari – jari globe.
Skala peta berdasarkan bentuk satuan angkanya disajikan ke dalam tiga jenis, yakni:
Skala numeric (skala angka, skala pecahan), skala ini menyatakan perbandingan jarak pada peta dengan jarak sebenarnya di muka bumi yang penulisannya dalam bentuk angka pecahan atau numeric, misalnya 1:50.000, artinya pada jarak 1 satuan di peta sama dengan jarak 50.000 satuan yang sebenarnya di lapangan.
Skala numeric inchi atau mil, pada skala ini menunjukkan bahwa pada jarak satu inchi atau mil di peta sama dengan jarak beberapa inchi atau mil di lapangan. Penggunaan jenis skala ini lebih banyak digunakan untuk jenis peta topografi, khususnya pada negara – negara yang menggunakan satuan inchi atau mil. Misalnya skala 1:50.000 dalam satuan inchi, berarti 1 inchi di peta sama jaraknya terhadap 50.000 inchi di lapangan.
Skala Grafis, jenis skala ini ditunjukkan dengan gambar bentuk garis lurus yang dibagi dalam bagian – bagian dengan jarak atau kesatuan panjang yang sama.
MEMPERBESAR DAN MEMPERKECIL SKALA PETA
Sesuai dengan kebutuhan penggambaran dan analisa peta, maka skala peta dapat diperbesar maupun diperkecil. Ada tiga cara memperbesar dan memperkecil peta, yakni:

Gambar 1. Peta Dengan Skala Grafis
Pada contoh gambar 1 tersebut menunjukan bahwa skala grafis pertama menunjukkan pada jarak 4 inchi di peta sama dengan 16 miles di lapangan, skala garfis kedua menunjukkan jarak 4 inchi di peta sama dengan 50 miles di lapangan, skala grafis ketiga menunjukkan pada jarak 4 inchi di peta sama dengan 20 miles di lapangan, dan skala grafis keempat menunjukkan pada jarak 1 cm di peta sama dengan 40 km di lapangan.
Beberapa cara memperbesar dan memperkecil peta adalah sebagai berikut:
square methode , pada metode ini dilakukan dengan cara membuat grid atau petak – petak pada peta dan pada kertas gambar. Ukuran sisi masing – masing peta disesuaikan dengan skala yang dikehendaki.
fotografis, pada metode ini dilakukan dengan cara peta yang ada dipotret, dan dengan mengatur jarak focus kamera maka akan terjadi perbesaran atau pengecilan ukuran skala peta yang dipotret.
panthograph, pada metode ini dilakukan dengan cara menggunakan alat perbesaran dan pengecilan skala peta yang system kerjanya hamprr sama dengan paralelograph. Alat ini yang telah banyak digunakan di Indonesia.
MENENTUKAN SKALA PETA
Apabila dalam peta tersebut belum atau tidak dicantumkan ukuran skalanya, maka dapat dilakukan beberapa cara untuk menentukan skala pada peta tersebut. Adapun cara tersebut adalah sebagai berikut.
arak obyek pada peta yang belum ada skalanya dibandingkan dengan jarak obyek yang sama pada foto udara atau peta yang telah ada skalanya.
dengan cara membandingkan jarak obyek di peta dengan jarak obyek di lapangan yang sama dengan di peta.
dengan cara menghitung jarak dua garis lintang atau pararel.
dengan menghitung bentuk – bentuk yang berukuran umum atau standar seperti lapangan sepak bola, lapangan tenis, dan lain-lainnya, hal ini khususnya dilakukan pada peta-peta skala besar.
untuk peta topografi Indonesia penentuan ukuran skala dapat dilakukan dengan menghitung kontur intervalnya.
4. PENGERTIAN PARAREL DAN MERIDIAN (LINTANG DAN BUJUR)
Pararel (Lintang)
Ada 90° pararel yang merupakan lingkaran – lingkaran yang sejajar dengan equator, yang terletak antara equator dan kutub. Jarak antar pararel sama, namun bila diamati secara mendalam, maka jarak tersebut tidak mutlak sama. Istilah 1° pararel adalah pembagian derajat sepanjang meridian, atau jarak antara pararel yang satu dengan yang lain, apabila lingkaran meridian dibagi atas 360 bagian yang sama. Untuk menentukan pararel suatu tempat dilakukan dengan pengukuran tinggi bintang kutub atau dengan tingginya matahari di atas horizon. Karena bentuk bumi yang bulat, maka 1° pararel berukuruan sama pada tiap tempat, namun dengan pemipihan ke arah kutub, maka 1° pararel di tiap tempat dapat dihitung berdasarkan bentuk bumi. Menurut Spheroid Hayford, yakni 1° pararel = 69,0569 – 0,3494 Cos 2 tahun x 0,0007 Cos 4 tahun, dan dihitung dalam satuan panjang mile, dan pararelnya dinyatakan dalam derajat, menit dan detik.
Meridian (Bujur)
Pasangan koordinat lain terdiri dari lingkaran – lingkaran besar sebanyak 180 buah yang membagi equator serta lingkaran pararel menjadi 360 meridian. 1° meridian merupakan jarak antara meridian yang satu dengan meridian yang lain sepanjang lingkaran pararel apabila lingkaran tersebut dibagi menjadi 360 bagian yang sama. Dalam kartografi lingkaran pararel dan equator dianggap sebagai lingkaran sempurna, sehingga panjang 1° meridian di equator sama dengan 69,17 mil, sedang di kutub sama dengan nol. Apabila kutub dianggap tidak mengalami pemipihan, maka radius pada tiap pararel adalah r = R Cos Q, dimana R adalah radius bumi, Q adalah pararel dalam derajat, dan r adalah panjang radius pararel.
Di semua Negara meridian sama nilanya, sehingga masing – masing Negara dapat menentukan meridiannya sendiri – sendiri. Namun dalam perkembangan sejarah penentuan nol meridian mengalami ketidak samaan, oleh karena itu masing – masing Negara menentukan nol meridiannya adalah meridian yang melalui ibukota Negara masing – masing. Inggris menggunakan armada Greenwich sebagai nol meridian, dan arena kekuatan intervensi ilmiah Inggris yang demikian kuat di Negara-negara lain, maka hingga sekarang meridian yang melalui Greenwich ditetapkan sebagai meridian nol untuk masing – masing Negara.

Gambar 2. Meredian dan Bujur
Besarnya Bujur (Longitude)
Besarnya bujur suatu tempat (titik) adalah busur yang diukur (dalam derajat) pada suatu paralel antara meridian tempat tersebut dengan meridian utama (Meridian Greenwich). Meridian Greenwich mempunyai harga bujur 0o (nol derajat). Bujur pada suatu titik tertentu pada bola bumi diukur ke timur atau ke barat dari Meridian Greenwich. Harga bujur berkisar dari 0o sampai 180o ke timur atau ke barat.
Bila suatu titik hanya diketahui besarnya bujur saja, maka kita belum dapat mengetahui lokasinya secara teliti, karena dengan bujur yang sama dapat terletak pada meridian penuh. Dengan kata lain, suatu meridian dapat didefinisikan sebagai suatu gariis yang menjadi tempat kedudukan semua titik-titik yang mempunyai longitude yang sama. Panjang bujur dalam setiap 1o dalam miles/ kilometer tidak tetap, tergantung letak parallel. Jarak yang paling besar adalah di ekuator karena merupakan lingkaran besar. Panjang 1o bujur di ekuator = 111,322 km, makin ke arah kutub menjadi bertambah kecil hingga mendekati nilai 0 (nol) km di kutub.
Besarnya Lintang (Latitude)
Besarnya lintang suatu tempat didefinisikan sebagai busur yang diukur (dalam derajat) pada suatu meridian antara tempat tersebut dengan ekuator. Besarnya lintang mempunyai harga dari 0o (equator) sampai 90o di kutub utara dan kutub selatan. Bila suatu tempat (titik) telah diketahui besar bujur dan lintang nya, maka dikatakan bahwa tempat tersebut telah diketahui koordinatnya secara geografis.
Dengan demikian lokasi suatu ttiik ditentukan berdasarkan besarnya bujur (longitude) dan lintang (latitude) tempat itu. Sebagai contoh adalah gambar di bawah ini, lokasi titik P adalah (90o B, 50oU).
5. PROYEKSI PETA
Pada dasarnya penggambar obyek muka bumi atau pemetaan dalam Kartografi adalah memindahkan obyek di muka bumi yang berbentuk lengkung ke dalam peta yang datar, untuk iru sudah barang tentu banyak mengalami kesalahan dalam pengukurannya. Usaha untuk memperkecil kesalahan dalam proses pemindahan bidang lengkung ke bidang datar tersebut disebut proyeksi peta. Menurut Erwin Raisz, proyeksi peta merupakan system pararel dan meridian untuk menggambarkan peta, sedang menurut Steers proyeksi peta merupakan cara menggambarkan garis –garis pararel dan meridian dari globe ke kertas datar. Dalam proses proyeksi peta memberikan kualitas proyeksi peta yang berbeda-beda, dan kualitas proyeksi peta tersebut tergantung pada beberapa hal, yakni : (a) luas wilayah pemetaan; (b) bentuk wilayah yang digambarkan; (c) skala yang digunakan; dan (d) kemudahan dalam penggambaran.
KLASIFIKASI PROYEKSI PETA
Klasifikasi proyeksi poeta mendasarkan pada beberapa hal, yakni (1) berdasarkan garis karakteristiknya; (2) berdasarkan tingkat kesalahannya; dan (3) berdasarkan konstruksinya.
Klasifikasi Proyeksi Peta Berdasarkan Garis Karakteristiknya, mendasarkan hal tersebut, maka proyeksi peta dikelompokkan ke dalam tiga kelompok, yakni: (a) proyeksi normal, yakni garis karakterIsitik berimpit dengan sumbu bumi; (b) proyeksi transversal, yakni garis karakteristik tegak lurus dengan sumbu bumi; dan (c) proyeksi obligue (miring), yakni garis karakteristik membentuk sudut lancip terhadap sumbu bumi.
Klasifikasi Proyeksi Peta Berdasarkan Tingkat Kesalahannya, mendasarkan hal tersebut maka proyeksi peta dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yakni (a) proyeksi equivalent, yakni proyeksi yang kebenarannya pada luasan yang tetap, pada proyeksi ini luasnya tetap benar, artinya luas bagian-bagian dari peta sama luasnya dengan luas bagian-bagian pada globe dengan ukuran skala yang sama; (b) proyeksi equidistant, yakni proyeksi yang kebenarannya pada jarak yang tetap, pada proyeksi ini jarak pada arah tertentu pada peta sama jaraknya dengan jarak pada globe dengan ukuran skala yang sama; dan (c) proyeksi conform, yakni proyeksi yang kebenarannya pada bentuk peta yang sama dengan bentuk globe dengan ukuran skala yang sama. Namun pada proyeksi conform ini kebenaran bentuk yang tetap sama antara peta dan globe tersebut hanya mungkin untuk ukuran luas yang terbatas, olah karena itu dituntut adanya persyaratan – persyaratan lainnya, yakni (1) garis pararel dan meridian saling tegak lurus; (2) skala ke segala arah pada titik harus sama, namun skala dari titik yang satu ke titik yang lain bias berbeda; dan (3) perbandingan unsur pararel dan meridian tetap.
Klasifikasi Proyeksi Peta Berdasarkan Konstruksinya, mendasarkan konstruksinya proyeksi peta dibagi menjadi dua kelompok, yakni (a) proyeksi perspektif, yakni proyeksi yang konstruksinya memang bersifat matematis, sehingga maknanya sama dengan proyeksi pada umumnya; dan (b) proyeksi non perspektif, yakni proyeksi yang merupakan modifikasi dari proyeksi perspektif.
MEMILIH JENIS PROYEKSI PETA YANG DIGUNAKAN
Pada dasarnya tujuan proyeksi peta adalah memperkecil kesalahan dalam penggambaran bidang lengkung ke dalam bidang datar, namun bagaimanapun juga kesalahan tetap pasti ini. Bahkan dalam proyeksi peta ada beberapa segi yang ditonjolkan kebenarannya, meskipun dampaknya pada bagian – bagian lainnya tingkat kesalahan cukup besar. Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memilih jenis proyeksi yang akan digunakan, yakni (a) maksud dari pemetaan sendiri; (b) luasan wilayah yang akan digambar; (c) bentuk wilayah yang akan digambarkan; (d) lokasi atau letak wilayah yang akan digambar; dan (e) kemudahan dalam penggambarannya.
A. Proyeksi Azimuthal
Proyeksi Azimuthe atau Proyeksi zimuthal adalah proyeksi peta yang menggunakan bidang datar sebagai bidang proyeksi. Pada proyeksi ini, bila bola bumi menyinggung bidang proyeksi pada salah satu kutub (kutub utara atau selatan) maka disebut Proyeksi Azimuthal Normal, sedangkan bila menyinggung pada salah satu titik equator maka disebut Proyeksi Azimuthal Equatorial, dan bila menyinggung di salah satu titik di sembarang tempat pada bola bumi maka disebut Proyeksi Azimuthal Miring (oblique). Beberapa contoh dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 3. Proyeksi Peta
B. Proyeksi Silinder
Proyeksi silinder yang sebenarnya, menggunakan bidang silinder sebagai bidang proyeksinya. Kenampakan yang ada pada bola bumi (globe) diproyeksikan ke bidang silinder tersebut, kemudian bidang silinder dipotong dan dibuka menjadi bidang datar.
Sifat proyeksi silinder yang normal adalah lingkaran-lingkaran meridian diproyeksikan menjadi garis-garis lurus vertikal yang sejajar. Lingkaran-lingkaran paralel diproyeksikan menjadi garis-garis lurus yang sejajar dan tegak lurus dengan meridian-meridian. Pada proyeksi silinder normal ini artinya bahwa sumbu bumi berimpit dengan sumbu silinder, dan menyinggung equator. Namun dapat pula bidang proyeksi memotong bola bumi pada suatu paralel. Untuk lebih jelasnya dapat melihat contoh gambar.

Gambar4 Proyeksi Silinder Mercator
C. Proyeksi Kerucut
Bila kita meletakkan kerucut pad bola bumi (globe) maka kerucut itu akan menyinggung bola bumi sepanjang lingkaran singgungnya. Bila posisi kerucut tersebut normal, maka garis singgung daari bidang kerucut dengan bola bumi tersebut berada di suatu parallel, dan parallel ini disebut dengan parallel standard. Dimana pada parallel standard yang tidak mengalami distorsi (penyimpangan) berarati faktor skala (scale factor) = 1.]
Factor skala = k = jarak di peta
jarak di bumi
Kedudukan sumbu kerucut terhadap sumbu bola bumi dapat normal, miring dan transversal.
Bila kerucut menyinggung bola bumi, maka disebut tangent (tangential) terghadap bola bumi, dan berarti hanya ada satu parallel standard. Nemun bila kerucut memotong bola bumi, maka disebut secant terhadap bola bumi, dan berarti ada 2 (dua) parallel standard. Adanya dua paralel standard berguna untuk memperkecil distorsi, karena bila daerah yang akan dipetakan membentang dari utara-selatan, kalau hanya memakai satu parallel standard, maka daerah yang jauh dari parallel standard terrsebut akan mengalami distorsi yang besar.
Contoh-sontoh proyeksi kerucut yang sederhana dapat dilihat dari gambar di bawah.

Gambar 5. Proyeksi kerucut
D. Proyeksi Mercator
Merupakan proyeksi silinder normal konform, dimana seluruh muka bumi dilukiskan pada bidang silinder yang sumbunya berimpit dengan bola bumi. Kemudian silindernya “dibuka” menjadi bidang datar.
Proyeksi ini memiliki sifat-sifat khusus sebagai berikut :
Equator diproyeksikan ekuidistan
Proyeksinya adalah conform
Hasil proyeksinya adalah baik/ benar untuk daerah dekat equator, tetapi distorsi makin membesar bila makin dekat dengan kutub.
Interval jarak antar meridian adalah sama, dan pada equator pembagian vertical ini adalah benar menurut skala (equidistance).
Interval jarak antara parallel tidak sama, makin menjauh dari equator interval jarak makin besar.
Kutub-kutub tidak dapat digambarkan karena terletak di tak terhingga.
E. Proyeksi Universal Tranverse Mercator (UTM)
Proyeksi UTM mempunyai spesifikasi sebagai berikut :
Bidang silinder akan memotong bola bumi di dua buah meridian, yang disebut meridian standard denan factor skala (k) = 1.
Lebar zone (wilayah) sebesar 6o, dengan demikian bumi dibagi dalam 60 zone.
Tiap zone mempunyai meridian tengah sendiri.
Perbesaran di meridian tengah = 0,9996
Zone nomor satu, dimulai dari daerah yang dibatasi oleh meridian 180o B dan 174o B dilanjutkan ke arah Timur sampai nomor 60.

Gambar 6. Pembagian dunia mejadi zona-zona
Batas parallel tepi atas dan tepi bawah adalah 84o Utara dan 80o Selatan. Dengan demikian untuk daerah kutub harus diproyeksikan dengan proyeksi lain (rekomendasi : Universal Polar Stereographic Projection). Telah diuraikan di depan bahwa silinder memotong (secant) bola bumi. Hal ini dilakukan untuk meredusir distorsi sekecil mungkin dengan lebar zone (wilayah) 6o

Gambar 7. Proyeksi UTM
Pada gambar di atas equator tergambar sebagai garis lurus dan meridian-meridian tergambar sedikit melengkung. Karena proyeksinya bersifat conform, maka parallel-paralel juga tergambar sedikit melengkung agar perpotongan dengan meridian tegak lurus. Pada titik I, II, III, dan IV gambar di atas, dimana silinder memotong bola bumi, tidak mengalami distorsi. Pada gambar terlihat bahwa selain equator sebagai garis lurus juga ada garis tegak lurus yang disebut meridian tengah dari tiap-tiap zone yang tergambra melalui V dan VI pada gambar tersebut. Kedua garis tersebut dipakai sebagai sumbu dari system grid untuk setiap zone.
Seperti terlihat pada gambar di atas system grid terdiri dari garis lurus yang sejajar meridian tengah. Lingkaran silinder yang memotong bola bumi digambar sebagai garis lurus/ putus-putus yang tebal. Kemabali pada gambar tersebut, terlihat bahwa daerah I, V, II dan II, VI, IV adalah diperkecil bila diproyeksikan pada silinder, sedang daerah IA, IIB, IIIC, dan IV D diperbesar. Tidak terdapat distorsi sepanjang lingkaran yang melewati I, II, III, dan V, ini ditunjukkan sebagai garis putus tebal pada gambar tersebut.
Maksud pemetaan
Pada pemetaan – pemetaan tertentu tidak harus digunakan proyeksi yang sama, misalnya untuk pemetaan diagram sederhana, maka lebih baik digunakan pararel dan meridian yang lurus (horisantal dan vertical), alasannya antara lain, (1) karena penulisan pada peta tidak perlu membengkok, dan (2) pararel dan meridian dapat dihapus, hanya pada bagian pinggir diberi tanda angka yang menunjukkan besaran derajat pararel dan meridiannya.
SISTEM KOORDINAT
Untuk menghindari koordinat negatif di dala.m proyeksi UTM setiap meridian tengah di dalam setiap zone diberi harga 500.000 m East (Timur).Untuk harga-harga kearah utara, equator dipakai sebagai garis datum dan diberi harga 0 m North (Utara). Untuk perhitungan ke arah Selatan equator diberi harga 10.000.000 m North.
Pada grafik dapat terlihat bahwa antara meridian tengah (500.000 m E) dengan garis grid 320.000 m E (sebelah barat meridian tengah; dan 680.000 m E (timur meridian tengah) terjadi reduksi skala. Faktor skala pada daerah ini mem punyai harga dari 0,99960 sampai 1,00000. Di luar dari batas garis grid 320.000 m E dan 680.000 m E faktor skala lebih besar daripada 1,00000. Berarti jarak-jarak pada peta tergambar lebih besar daripada di permukaan bumi (tidak memperhatikan skala peta). Dalam hal ini meridian tengah 1000 m dibumi akan tergambar 0,99960 *1000 m = 999,60m, Berarti ada reduksi pada peta sebesar 40 cm per 1000 m. Untuk daerah dekat dengan tepi zone, sekitar 300.000 m sebelah barat atau timur meridian tengan untuk jarak 1000 m akan tergambar 1000,70 m. Berarti mengalami perbesaran distorsi 70 cm per 1000 m.
Keunggulan proyeksi UTM :
Proyeksinya simetris untuk setiap wilayah dengan bujur 6°.
Transformasi koordinat dari zone ke zone dapat di kerjakan dengan rumus yang sama untuk setiap zone di seluruh dunia.
Distorsinya antara – 40 cm/1000m dan = 70 cm/1000 m.
Setiap zone berukuran 60 bujur x 80 lintang. Ada perkecualian pada lintang 720 U dan 840 U dimana ukuran zone 60 bujur x 120 lintang.
Setiap zone (wilayah) pada U T M mempunyai overlap sekitar 40 km (25 mile, jadi setiap titik yang berada di daerah overlap akan mempunyai 2 harga koordinat. Setiap jalur selebar 80 lintang diberi kode huruf, dimulai dari jalur 800 S – 720 S diberi huruf C dan berakhir dengan huruf X pada jalur 720 U dan 840 U (huruf I dan 0 tidak digunakan).
Dalam penerpaan sistem UTM bagi peta-peta Dasar Nasional seluruh wilayah Indonesia terbagi dalam 9 wilayah (zone) yang masing-masing mempunyai lebar 60 bujur, mulai dari meridian 900 timur sampai dengan meridian 1440 bujur timur dengan batas garis paralel 100 lintang utara dan 150 lintang selatan dengan 4 satuan daerah yaitu L, M, N, dan P. sebagai bidang referensi digunakan Spheroid GRS 1967 (Geodetic Reference System 1967) dengan dimensi :
radius equator (a) = 666378160 m
penggepengan (f) = 1 ; 298,25
DAFTAR PUSTAKA
Bos, E.S. 1978. Thematic Cartographic Prin.iples in Thematic Mapping, I.T.C. The Netherland.
I.C.A. 1984. Basic Cartography. BAS Printers Limited, Hamp shire.
Keates, J. 1976. Cartographic Design and Production. Longman Ltd, London.
Muehrcke C, Phillip. 1978. Map Use: Reading, Analysis, and Interpretation. Wisconsin, USA.
Oxtoby P.J. and Brown, A. 1976. Cartographic Techniques, I.T.C. The Netherland.
Robinson Arthur, Elements of Cartography, John Wiley & Sons, New York, U.S.A.
Sijmons, K. and Oxtoby, P.J. 1983. Map Projection, I.T.C. The Netherland.
Surjosumarto. 1977. Menmbaca Peta. Jakarta.
Truran, H.C. 1977. Statistical Map and Diagram. Heinemann Educational Books Ltd, London.
STUDI GEOGRAFI









SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar