02 Juli 2009

KARTOGRAFI-DASAR


1. Pengertian PetaTujuan Kartografi ialah mengumpulkan dan menganalisis data serta pengukuran-pengukuran dari variasi pola permukaan bumi dan menyajikannya secara grafis dengan skala diperkecil sehingga elemen dari pola tadi dapat ditampilkan dengan jelas terlihat.
Peta adalah gambaran konvensional pola-pola permukaan bumi yang dilihat dari atas dan padanya ditambahkan tulisan-tulisan untuk identifikasi (Raisz, 1970).
Peta adalah: (a) alat ilmiah yang tepat digunakan untuk berbagai penelitian dan beberapa aplikasi teknik, (b) suatu bentuk komunikasi grafis (Robinson dan Sale., 1965).
Peta adalah gambaran sebagian atau seluruh wilayah permukaan bumi dengan berbagai kenampakannya pada suatu bidang datar dengan menggunakan skala tertentu (Gunawan, T., dkk., 2004).
Peta (map) berasal dari bahasa Yunani “mappa”, artinya taplak atau kain penutup meja. Pada awalnya peta hanya menggambarkan kenampakan nyata yang ada di permukaan bumi. Sejalan dengan perkembangan dunia ilmu pengetahuan, saat ini peta digunakan pula untuk menggambarkan hal-hal yang bersifat abstrak dan benda angkasa.
Peta adalah gambaran objek yang diseleksi dan diperkecil, harus digambarkan pada bidang datar (kertas) dengan proyeksi tertentu. Objek tersebut dapat berupa kenampakan atau data tentang permukaan bumi atau benda angkasa.
Dalam penggambaran, unsur-unsur digambarkan dalam bentuk simbul-simbul. Ukuran objek diperkecil dengan menggunakan skala.
2. Fungsi dan Manfaat Peta
Peta berfungsi memberikan informasi kepada pembacanya mengenai:
a. Letak relatif suatu daerah terhadap daerah lainnya di permukaan bumi. Letak dapat dibedakan seperti: letak astronomis, letak geografis, dan letak administrasi.
b. Ukuran wilayah, misalnya: jarak (panjang), lebar dan luas wilayah, isi atau volume waduk, volume tanah yang harus digali, dan arah atau sudut.
c. Kondisi fisik dan non-fisik suatu daerah, misalnya jumlah penduduk, kepadatan bangunan, dan sebagainya.
d. Sebagai alat bantu penelitian lapangan, operasi militer, jelajah alam, dan sebagainya..

Gambar 1. Contoh Fungsi Peta
3. Konsep Pemetaan
Untuk dapat melakukan penggambaran peta yang benar, harus diketahui terlebih dahulu konsep pemetaan.
Konsep pemetaan ialah bagaimana dapat menggambarkan sebagian atau seluruh permukaan bumi yang bentuknya melengkung itu ke bidang datar yang disebut peta dengan mendekati kebenaran yaitu dengan distrosi sekecil-kecilnya.
Untuk penggambaran tersebut pasti dijumpai kesulitan, karena bidang asli yang akan digambar (bola/globe) berbeda dengan bidang yang digunakan untuk menggambar (kertas/peta). Bola bumi/globe merupakan bangun tiga dimensi, sedangkan kertas/peta merupakan bangun dua dimensi. Ini dapat dibayangkan apabila seseorang ingin mendatarkan kulit jeruk yang melengkung. Tanpa adanya kerutan dan sobekan pada kulit jeruk itu, tidak akan mungkin diperoleh kulit jeruk yang datar. Kerutan dan sobekan itulah yang menyebabkan terjadinya distorsi. Distorsi yang timbul dalam proyeksi peta mungkin berupa distorsi jarak, sudut, yang dapat mengakibatkan terjadinya distorsi luas, dan bentuk.

Gambar 2. Konsep Pemetaan
4. Klasifikasi Peta
Berdasarkan jenis informasi yang dikandung, peta dapat dibedakan menjadi:
4.1. Peta Umum
a. Peta Topografi dan atau Peta Rupabumi
Peta topografi adalah peta yang isinya mengutamakan gambaran kebenaran dari keadaan permukaan bumi. Kebenaran penggambarannya meliputi jenis objek, lokasi, jarak, luas dan arah, demikian pula dengan peta rupabumi. Kedua peta ini berisi bermacam-macam data yang digambarkan dalam satu lembar tertentu. Data-data yang terdapat dalam peta topografi/rupabumi antara lain:
1. grid (lintang dan bujur)
2. pola aliran sungai (bila ada sungai)
3. relief
4. nama-nama geografi
5. batas wilayah administrasi (propinsi, kabupaten atau kota, dan kecamatan)
6. bentuk perhubungan (jalan raya dan rel kereta api)
7. permukiman
8. data lain, misalnya hutan, rawa, sawah, dan tanah kosong (bila ada)
Contoh: Tata letak/lay-out peta rupabumi

Gambar 3. Lay-out Peta Rupabumi
Contoh: Peta Rupabumi

Gambar 4. Peta Rupabumi
i
b. Peta korografi, menggambarkan daerah luas, negara, atau benua pada skala kecil (Atlas termasuk peta jenis ini).
c. Peta-peta dunia
4.2. Peta Tematik (peta khusus)
Peta tematik adalah peta yang isinya mengutamakan penggambaran objek tertentu. Sebagai contoh adalah peta tanah, peta geologi, peta penggunaan lahan, peta kepadatan penduduk, peta curah hujan dan lain-lain.
Kenampakan objek lain pada peta tematik hanya berfungsi menambah informasi, sehingga memudahkan si pengguna dalam membaca peta tersebut. Saat ini peta-peta tematik banyak dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kepentingan praktis diberbagai bidang pembangunan.

Gambar 5. Beberapa Peta Tematik
Salah satu jenis peta tematik ialah peta teknis, yaitu peta yang bersifat teknis dan digunakan sebagai pedoman untuk pelaksanaan proyek pembangunan. Peta ini merupakan peta yang berskala besar, lebih besar dibanding jenis peta lain. Sebagai contoh adalah peta kontur, peta rencana jalan, peta pembangunan perumahan, dan lain-lain.
Contoh: analisis kemiringan lereng/gradien dari peta kontur

Gambar 6. Profil Penampang Melintang

Gambar 7. Profil Penampang Melintang

Gambar 8. Gradien Lereng
5. Simbol Peta
Fungsi simbul pada peta adalah untuk mengganti atau mewakili objek yang digambarkan pada peta. Dalam penggambaran peta, penempatan simbol ini diusahakan benar lokasinya. Simbol peta yang baik adalah yang mudah dikenal dan mudah digambar.
Simbol peta dapat diklasifikasikan menurut bentuk dan sifatnya. Simbol menurut bentuknya terdiri dari simbol: titik, garis dan luasan/area. Sedangkan menurut sifatnya, ada simbol kualitatif, dan ada yang kuantitatif. Pemilihan bentuk dan sifat simbol yang dipilih tergantung pada jenis data yang akan digambarkan pada peta. Data statistik umumnya digambar dengan simbol kuantitatif (seperti pada peta-peta statistik).
Bagaimana objek permukaan bumi digambarkan pada peta ?
1. Objek digambarkan dengan simbol tertentu
2. Bentuk permukaan bumi digambarkan dengan proyeksi peta
3. Detil informasi objek ditentukan oleh skala
4. Jenis informasi digambarkan berdasarkan tema
Dalam peta rupabumi, objek permukaan bumi dikelompokkan atas :
Detil 1: Bangunan dan unsur buatan manusia
Detil 2: Infrastruktur Transportasi atau Perhubungan
Detil 3: Topografi dan Relief
Detil 4: Batas Administrasi baik alam maupun buatan
Detil 5: Vegetasi (Penggunaan Lahan)
Detil 6: Hidrografi atau unsur perairan
Detil 7: Toponimi atau nama geografi

Gambar 9. Simbol Bangunan/Kantor

Gambar 10. Simbol Perhubungan

Gambar 11. Simbol Tumbuhan

Gambar 12. Simbol Perairan

Gambar 14. Simbol titik untuk kenampakan topografi
6. Skala Peta
Skala Peta adalah perbandingan antara jarak di lapangan dengan jarak di peta.
Sebagai contoh :
Jarak sebenarnya antara Jakarta – Bogor adalah 50 km.
Pada peta skala 1 : 100.000, maka jarak antara kedua kota tersebut adalah :
1 cm di peta = 100.000 cm atau 1 km di lapangan, Maka 50 km di lapangan = 50 cm di peta.
Berdasarkan skalanya peta dapat dibedakan menjadi 5 macam, yaitu:
1. Peta kadaster (peta teknis) yaitu peta yang berskala > 1 : 5. 000
2. Peta skala besar, yaitu peta yang berskala 1 : 5. 000 – 1 : 250. 000
3. Peta skala sedang, yaitu peta yang berskala 1 : 250. 000 – 1 : 500. 000
4. Peta skala kecil, yaitu peta yang berskala 1 : 500. 000 – 1 : 1. 000. 000
5. Peta geografis, yaitu peta yang berskala < 1 : 1. 000. 000

Gambar 15 a. Pengaruh skala terhadap kedetilan objek

Gambar 15 b. Pengaruh skala terhadap kedetilan objek
Skala merupakan perbandingan jarak tertentu pada peta dengan jarak itu di
lapangan. Umumnya penempatan skala peta diletakan tepat di bawah judul peta dengan ukuran lebih kecil. Skala peta dapat dinyatakan dalam 3 cara, yaitu:
- Skala angka (numerical scale) atau skala pecahan:
Contoh:
….. Skala 1 : 100.000 (artinya setiap 1 cm di peta mewakili 100.000 cm atau 1 km dilapangan)
- Skala inch – mile
Contoh:
Skala 1 inch : 10 mile (artinya setiap 1 inch di peta mewakili 10 mile atau 10 x 63.360 inch = 633.660 inch di lapangan).
- Skala grafis (graphic scale), yaitu skala yang digambar dalam bentuk
garis yang dibagi dalam unit-unit yang sama panjang.
Contoh:

(artinya setiap satu segmen yang panjangnya 1 cm mewakili jarak 1 km)
7. Produk Kartografi
Produk kartografi dapat diujudkan dalam berbagai bentuk. Adapun macam
macam produk kartografi adalah sebagai berikut:
a. Sketsa adalah gambar keadaan suatu wilayah sempit dalam bentuk garis besar dan memuat sedikit informasi. Faktor kebenaran ukuran dan bentuk obyek tidak diutamakan.

Gambar 16. Contoh Sketsa
b. Peta adalah gambaran suatu objek tertentu pada bidang datar, yang digambar dengan memperhitungkan kebenaran ukuran, kedudukan, proyeksi, dan arah mata angin (peta ini biasa disebut peta garis).
c. Peta timbul atau peta relief adalah gambaran suatu wilayah yang diujudkan dalam bentuk 3 dimensi, sehingga bentuk-bentuk relief wilayah tersebut nampak.

Gambar 17. Contoh Peta Relief
d. Maket atau miniatur adalah gambaran suatu wilayah yang diujudkan dalam bentuk 3 dimensi, yang biasanya berskala besar dan menggambarkan daerah sempit serta kenampakannya detil dan mirip dengan objek aslinya (padanya ditambahkan model-model objek yang ada sepeti: rumah, pohon, mobil, dsb.)

Gambar 18. Contoh maket atau miniatur
e. Atlas adalah buku yang berisi peta-peta negara dan disertai diagram, gambar, data statistik, uraian penjelasannya dan berwarna.
f. Peta digital dan atau Ortofoto, yaitu peta hasil teknik penginderaan dari udara atau luar angkasa. Pada peta digital/foto tidak terjadi seleksi objek karena semua kenampakkan di lapangan yang tidak tertutup objek lain akan terekam. Dengan demiikian simbul peta juga tidak dijumpai. Pada peta digital/foto sering ditambahkan keterangan nama-nama jalan, nama kota atau nama tempat. Peta yang merupakan hasil teknik penginderaan jauh dan belum dikoreksi kesalahannya disebut citra. Contoh: citra satelit Multi Spektral Scanner (MSS), citra Thematic Mapper (TM), citra inframerah thermal, citra Ikonos dan sebagainya.

Gambar 19. Peta foto
g. Globe adalah gambaran wilayah permukaan bumi dalam bentuk bola. Jadi globe bukan merupakan peta, tetapi model dari bola bumi.
BAB II TATA KOORDINAT
1. Koordinat Pada Permukaan Bumi

Gambar 20. Busur lintang dan bujur
Koordinat pada permukaan bumi dinyatakan sebagai koordinat geografi yaitu besarnya sudut busur yang diukur dari pusat bumi.
Busur lingkaran-lingkaran yang digambar memotong ekuator dari kutub ke kutub disebut meredian. Menurut kesepakatan internasional, meredian 0 atau meredian utama (prime meredian) ialah meredian yang melalui Royal Observatory Greenwich, London.
Jarak lengkung di sebelah utara dan selatan ekuator yang diukur sepanjang suatu meredian disebut lintang (latitude). Busur 90 derajat antara ekuator dan kedua kutub ditandai dengan lingkaran-lingkaran yang sejajar dengan ekuator dan masing-masing sama jaraknya dan lingkaran itu semakin kecil ke arah kutub, dan disebut garis-garis paralel. Garis-garis meredian dan paralel itu merupakan sistem grid yang dipakai untuk menentukan posisi tempat (titik) di permukaan bumi.
Berawal dari meredian utama (Greenwich) ke arah timur sampai 180º dinamai bujur timur (BT). Dari meredian utama (Greenwich) ke arah barat sampai 180º disebut bujur barat (BB),
Sehubungan dengan penggambaran peta, permukaan bumi dibedakan menjadi:
a. Bidang Permukaan Fisik Bumi
Ialah suatu bidang seperti kita lihat sehari-hari dengan bentuk yang tidak beraturan, ada gunung, lembah, dan dataran.
b. Bidang Geoide
Ialah suatu bidang equipotensial dari gravitasi dengan bentuk tidak berarturan.
c. Bidang Ellipsoid (bidang Spheroid)
Ialah suatu bidang geometrik yang beraturan dan mirip bentuknya dengan bidang geoide. Bidang ini dipilih sebagai bidang hitung yang merupakan bidang perantara untuk memindahkan lengkungan bola bumi ke bidang peta dan biasanya disebut sebagai bidang referensi/acuan.

Gambar 21. Bidang datum
2. Koordinat Peta

Gambar 22. Koordinat peta


Gambar 23. Pembagian zona pada proyeksi UTM

Gambar 24. Pembacaan koordinat pada proyeksi UTM
BAB III PROYEKSI PETA
1. Pendahuluan
Proyeksi peta yang ideal ialah proyeksi yang tidak mengalami distorsi jarak, sudut, luas dan bentuk, sehingga keadaan asli permukaan bumi tergambar sama persis dengan peta. Jarak di peta sama dengan jarak di lapangan atau equidistant. Sudut/arah di peta sama dengan arah/sudut di lapangan atau sama bentuk (conform). Luas di peta sama dengan luas di lapangan atau sifatnya equalarea. Namun keadaan ideal ini tidak akan dapat dipenuhi oleh suatu proyeksi peta manapun. Jadi distorsi tidak dapat dihilangkan, hanya dapat dikurangi saja .
Proyeksi peta tidak lain adalah teknik memindahkan bidang lengkung permukaan bumi ke bidang datar yang berupa peta.
Tujuan pokok suatu proyeksi peta adalah menggambarkan bentuk bola bumi/globe ke bidang datar yang disebut peta dengan distorsi sekecil mungkin. Seperti telah dijelaskan di bagian depan, untuk mencapai ketiga syarat ideal suatu proyeksi adalah hal yang tidak mungkin, dan untuk mencapai suatu syarat saja untuk menggambarkan seluruh muka bumi juga merupakan hal yang tidak mungkin. Yang mungkin dipenuhi ialah salah satu syarat saja dan itupun hanya untuk sebagian dari permukaan bumi. Suatu kompromi atau jalan tengah antara syarat-syarat di atas bisa diambil, guna memungkinkan membuat kerangka peta yang meliputi wilayah yang lebih luas.

Gambar 25. Macam-macam bidang proyeksi peta
Dengan adanya kompromi, maka timbul bermacam-macam proyeksi yang masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan sesuai dengan tujuan penggambaran peta.
2. Macam-macam Proyeksi Peta
Proyeksi peta dapat dibedakan sebagai berikut:
a. Menurut bidang proyeksinya
b. Menurut posisi bidang proyeksinya
c. Menurut sifat distorsinya
d. Menurut letak titik pusat proyeksinya.

Gambar 26. Proyeksi bidang datar dan silinder
a. Menurut Bidang Proyeksinya
Proyeksi Azimuthal/zenithal/planar bila bidang proyeksinya berupa bidangdatar.
Proyeksi silinder bila bidang proyeksinya berupa silinder atau tabung
Proyeksi kerucut bila bidang proyeksinya berupa kerucut atau cone.
b. Menurut Posisi Bidang Proyeksinya Terhadap Bola Bumi
Proyeksi tegak atau normal, jika garis karakteristik bidang proyeksi berimpitdengan sumbu bola bumi.
Proyeksi melintang atau transversal atau equatorial, bila garis karakteristik bidang proyeksi berpotongan tegak lurus dengan umbu bola bumi.
Proyeksi oblique atau miring, bila garis karakteristik bidang proyeksinya membentuk sudut lancip dengan sumbu bola bumi.
c. Menurut Sifat Distorsinya
Proyeksi ekuidistan, bila jarak di permukaan bumi sama dengan jarak di peta menurut skalanya.
Proyeksi konform, bila sudut/bentuk di permukaan bumi sama dengan bentuk di peta.
Proyeksi ekuivalen, bila luas di permukaan bumi sama dengan luas di peta setelah diskalakan.
d. Menurut Posisi Pusat Proyeksi
Proyeksi Gnomonis, bila pusat bola bumi merupakan pusat sumber proyeksi.
Proyeksi Stereografis, bila pusat sumber proyeksi terletak pada titik di permukaan bumi.
Proyeksi Ortografis, bila pusat sumber proyeksi berasal atau terletak di tempat yang sangat jauh tidak terhingga sehingga garis-garis proyeksi dianggap sejajar.
3. Memilih Proyeksi Peta
Dalam memilih proyeksi peta harus diperhatikan tujuan atau maksud pembuatan peta tersebut, serta unsur mana yang sangat dituntut bagi kepentingan pemakai peta. Sebagai contoh:
Untuk keperluan pelayaran/navigasi: harus dipilih proyeksi konform yang atau sama bentuk.
Untuk para ahli ekonomi, geografi, untuk menggambarkan data statistik dan menunjukkan penyebaran: pilih proyeksi ekuivalen/sama luas.
Untuk keperluan penerbangan yang mementingkan kondisi jarak yang benar, haris dipilih proyeksi ekuidistan/sama jarak.
Untuk mengetahui letak dan bentuk daerah: misalnya letak Indonesia membujur di dekat equator, sebaiknya dipilih proyeksi silinder. Letak Chili melintang searah dengan meridian dan terletak di hemisfera selatan, dapat menggunakan proyeksi kerucut.
Indonesia sekarang ini penggambaran peta rupabumi menggunakan proyeksi Universal Transvers Mercator (UTM).
4. Proyeksi Universal Transvers Mercator (UTM)
Proyeksi Transverse Mercator merupakan proyeksi silinder berposisi ekuatorial/transvers, sering disebut dengan proyeksi UTM.
a. Ciri-cirinya
Bidang proyeksinya silinder.
Sumbu silinder tegak lurus pada sumbu bumi.
Bidang silinder memotong bola bumi pada dua garis meredian dan garis-garis meredian itu dinamakan meredian standar.
Meredian standar diproyeksikan sama jaraknya pada bidang silinder.
Bola bumi dibagi dalam zone-zone yang tiap zone lebarnya 6° dan dibatasi oleh meredian.
Tiap zone diproyeksikan pada satu bidang silinder.
Ukuran tiap zone adalah lebar 6° dan 8°.
Wilayah Indonesia terbagi dalam 9 zone/daerah/lembar.
b. Keuntungan
Sudut-sudut pada permukaan bumi konform.
Satu bagian zone derajat dengan ukuran 6 ° x 8° sama dengan 665 km x 885 km
Dapat dipakai untuk pembuatan peta penerbangan.
c. Kerugian
Karena pembesaran jarak dan konvergensi meredian, maka unsur ini harus diperhatikan dalam perhitungan.
Walaupun satu bagian derajat meliputi daerah luas akan tetapi masih dibutuhkan hitungan-hitungan pemindahan bagian derajat, jadi tidak praktis.
Konvergensi meredian pada jarak 15 km maksimum dapat mencapai lebih kurang 150 meter.

Gambar 27. Posisi silinder pada proyeksi UTM
BAB IV ATLAS
1. Definisi
Atlas berasal dari bahasa Yunani “Atlas” yang berarti “dewa penopang bumi”. Dalam ilmu pemetaan (kartografi) atlas merupakan kumpulan bermacam-macam peta yang disusun dengan simbul, tulisan, dan bahasa yang sama. Walaupun terdiri beberapa peta, tetapi sebenarnya atlas itu bukan peta. Atlas itu berupa buku yang berisi bermacam-macam peta yang dilengkapi dengan diagram, gambar, data statistik, dan uraian penjelasannya dan berwarna.
2. Jenis dan Penggunaan Atlas
Menurut jenisnya atlas dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a. Atlas Nasional
Atlas nasional adalah atlas yang dibuat secara nasional oleh suatu negara tertentu. Atlas ini berisi tentang data, gambar-gambar, pulau-pulau, dan wilayahnegara yang bersangkutan.
b. Atlas Dunia
Atlas dunia adalah atlas yang dibuat untuk menggambarkan keadaan wilayah seluruh dunia, yang meliputi Benua Asia, Afrika, Eropa, Amerika, Australia, dan Antartika.
c. Atlas Semesta
Atlas semesta adalah atlas yang dibuat untuk menggambarkan keadaan alam semesta, yang meliputi tata surya, galaksi, satelit, bintang, benda angkasa, dan sebagainya.
Seperti halnya peta, atlas memiliki kegunaan antara lain:
a. Sebagai sumber ilmu pengetahuan
b. Merupakan sumber data geografis
3. Mencari Informasi Dari Atlas
Informasi dalam atlas dapat dicari melalui: index, daftar isi, garis lintang, dan garis bujur/meredian.
1).Index nomor peta, yaitu nomor peta untuk membantu pemakai peta mencari letak suatu tempat. Contoh: 19 C 6, 19 menunjukan halaman tempat itu berada, C menunjukan baris (lintang) pada halaman itu, dan 6 adalah kolom (bujur) pada halaman itu.
2) Daftar Isi
Daftar isi berisi tentang urutan atlas lengkap dengan halamannya. Daftar isi berguna sebagai petunjuk bagi pengguna peta.
Contoh: daftar isi Atlas Nasional secara berturut-turut berisi tentang kata pengantar, peta Indonesia, pulau-pulau Indonesia, kota-kota besar di tiap pulau dan sebagainya.
3) Garis Lintang dan bujur
Garis lintang adalah garis-garis khayal bumi pada peta yang melintang arah timur-barat. Garis lintang disebut juga garis paralel. Adapun garis-garis lintang istimewa bumi adalah:
a). Garis lintang 0° (garis ekuator/garis katulistiwa) yang membagi bumi menjadi
dua bagian utara dan selatan.
b). Garis 231/2° LU dan LS merupakan garis balik peredaran semu tahunan matahari.
c). Titik lintang 90° merupakan titik kutub.
Garis bujur adalah garis khayal bumi pada peta yang membujur dari kutub utara ke kutub selatan. Garis bujur disebut juga garis meredian. Garis bujur berguna untuk pembagian daerah waktu.
BAB V GLOBE
1. Definisi
Istilah globe berasal dari bahasa latin “globess” yang berarti “bulatan” atau “bola”. Globe digunakan untuk menunjukan bola bumi dan bola langit (planet). Secara khusus globe merupakan suatu model (miniatur) dari bumi yang berbentuk bola dan dapat diputar pada porosnya seperti bumi kita ini dibuat dengan skala tertentu.
Seorang sarjana bangsa Yunani bernama Crates pada tahun ± 400 S.M berpendapat bumi berbentuk bulat seperti bola. Hal itu kemudian dibuktikan oleh ekspedisi Magellans pada tahun 1522 yang mengelilingi bumi dengan armada lautnya. Tetapi sebenarnya bentuk bumi tidaklah bulat sempurna seperti sebuah bola, melainkan agak pipih di kedua kutubnya yang kemudian disebut bentuk elipsoida (Elip) atau spheroida.
Beberapa sarjana, antara lain: Bessel, Hayford, dan Everest telah memperhitungkan secara matematis ukuran-ukuran bumi dan menyatakan garis tengah bumi dari kutub ke kutub lebih pendek dari pada garis tengah ekuator bumi. Oleh karena perbedaan panjang garis tengah tadi, maka bumi berbentuk elipsoida. Berbagai elipsoida digunakan dalam pemetaan. Tiap-tiap elipsoida ditentukan oleh parameter sumbu panjang dan sumbu pendek bumi yang disebut dengan bilangan kepipihan (Flattened = f).
Hasil dari pengamatan para sarjana menunjukan bilangan pemipihan yang berbeda-beda seperti terlihat pada tabel berikut
Tabel Ukuran Jari-jari Bumi
No Elipsoida R equatorial
(km)
R polar (km) Pemipihan (f)
1 Bessel 6377,397 6356,078 1/299,2
2 Hayford 6378,388 6356,917 1/297
3 Everest 6377,276 6356,075 1/300,8

Gambar 28. Jari-jari kutub dan ekuator bumi
Atas dasar tabel tersebut di atas dapat dilihat pemipihan di daerah kutub-kutub bumi kecil sekali yaitu kurang 1/300 atau 0,003; maka orang awam menyatakan bumi itu berbentuk bulat seperti bola.
Globe digunakan untuk meletakkan tempat-tempat dalam keterkaitan yang tepat antara satu tempat dengan tempat ainnya. Untuk menempatkan posisi tempat-tempat tersebut dilihat garis-garis artifisial/tambahan, yang berdasarkan kesepakatan internasional, dan dilukiskan dalam globe itu dalam kaitannya dengan kutub bumi (kutub geografis, bukan kutub magnet bumi)
Sumbu bumi adalah pusat bumi berputar atau berotasi dengan arah putaran negatif (berlawanan dengan arah jarum jam).
Tempat-tempat di Bujur Timur mempunyai waktu lokal lebih awal dari pada waktu Greenwich (Greenwich Mean Time = GMT), sedangkan yang terletak di Bujur Barat lebih lambat dari GMT. Setiap 15 derajat perbedaan meredian waktunya berbeda 1 jam. Kedua garis meredian 180° BT dan 180° BB berimpit di tengah-tengah Samudera Pasifik di sebelah barat Polenisia. Di situlah terletak Garis Batas Tanggal Internasional. Seseorang yang melintasi garis itu ke arah timur harus menghitung sekali lagi tanggal yang sama. Sebaliknya yang melintasi ke arah barat harus meloncati/melewatkan 1 hari dari tanggal ketika ia melintasi garis batas tersebut.
2. Sejarah dan Sifat Globe
Globe pertama dibuat oleh Martin Behaim di Nuremberg, Jerman pada tahun 1492, merupakan perkiraan bentuk bumi yang paling mendekati keadaan sebenarnya dengan skala diperkecil. Globe tersebut dibuat dengan konsep Ptolemy sehingga benua Amerika belum tergambar. Adapun globe yang paling terkenal pada masa-masa itu ialah globe buatan Johannes Schoner, juga dari Nuremberg. Dua dari globenya yang bertahun 1515 dan 1520 menggambarkan selat Amerika Selatan, meskipun Magellan belum melakukan pelayaran dan pemetaan ke daerah itu.
Pada setiap globe, garis tengah dan luasnya berbanding langsung dengan garis tengah dan luas permukaan bumi sebenarnya. Dengan globe dapat digambarkan secara tepat jarak (equidistant),. luas (equivalent), arah dan bentuk (conform) dengan cara terbaik, yaitu mendekati keadaan sebenarnya, walaupun dengan skala yang diperkecil.
Sebagai alat peraga untuk pengajaran geografi, globe mempunyai beberapa keunggulan, yaitu akurat dalam melukiskan muka bumi, jarak yang equidistant. luas yang equivalent serta interrelasi antara satu tempat dengan tempat-tempat yang lain, seperti misalnya masalah iklim (angin topan, badai, hujan, dan lain-lain). Namun demikian globe mempunyai kekurangan juga, yaitu bentuknya yang tidak mudah diringkas untuk dibawa (tidak portable) dan hanya baik untuk memberikan gambaran globe. Untuk itu saling melengkapi antara globe, atlas, dan peta memang hal yang paling baik.
3. Penggunaan Globe
Globe sangat baik untuk menggambarkan kenampakan bumi. Bentuk fisik yang bulat dapat menggambarkan bumi mirip seperti aslinya. Dicantumkannya garis lintang dan bujur membantu pembaca untuk membayangkannya. Oleh karena itu globe memiliki kedudukan yang tidak kalah penting dibanding dengan peta dan atlas.
Sebagai model bumi, globe dibuat mirip dengan keadaan bumi sesungguhnya. Kedudukan atau posisi kecondongan globe yang sebesar 661/2° sama dengan kecondongan bumi terhadap bidang ekliptika. Ekliptika adalah garis lingkar peredaran semu matahari mengelilingi bumi yang ditempuh selama satu tahun (sebenarnya bumi yang beredar mengelilingi matahari). Antara bidang ekliptika dan bidang ekuator langit membentuk sudut 231/2°.
Globe mempunyai banyak manfaat, karena dapat digunakan sebagai alat ukur untuk:
a. Menggambarkan dan memproyeksikan daerah-daerah di bumi yang mengalami gerhana dan proses terjadinya gerhana bulan dan gerhana matahari.
b. Mengetahui perbedaan waktu berbagai tempat di bumi dengan pertolongan garis bujur.
c. Mengetahui perbedaan iklim matahari dengan pertilingan garis lintang.
d. Menggambarkan letak garis lintang, garis bujur, garis ekuator, letak kutub utara dan kutub selatan, letaj bujur 180°, dan letak benua-benua pada globe. Sebenarnya Garis-garis ini tidak terdapat pada bumi kita, tetapi garis-garis ini diperlukan karena sangat membantu dalam mempelajari letak kenampakan geografis bumi.
4. Mencari Informasi Dari Globe.
Globe dapat memberikan informasi dengan baik karena:
a. Bentuk dan posisinya mirip dengan bumi yang sesungguhnya.
b. Dilengkapi dengan garis lintang dan garis bujur. Garis-garis ini sangat menolong bagi pembaca globe.
Beberapa informasi yang dapat diperoleh dari globe antara lain:
a. Luas daerah, negara, benua dan laut.
b. Waktu terjadinya pergantian musim
c. Letak astronomis maupun geografis berbagai tempat di muka bumi
Globe kurang praktis dan membingungkan untuk kepentingan pejelajahan bumi, misalnya: pelayaran, penerbangan, dan perjalanan darat. Oleh karena itu mereka sering diubah menjadi peta, dengan cara menggunting globe menjadi beberapa lembar kecil dan diletakkan secara mendatar.
Pengubahan globe menjadi peta tersebut masih merepotkan. Untuk itu para ahli pemetaan berusaha mencari cara untuk menggambarkan permukaan bumi dalam bidang datar, dengan tingkat kesalahan yang sekecil mungkin. Pengubahan globe menjadi peta ini menggunakan teknik proyeksi peta.
5. Kemiringan sumbu bumi (globe) dan Iklim
Kemiringan sumbu bumi (globe) terhadap garis peredaran semu matahari yang sebesar 661/2° mengakibatkan kutub utara dan kutub selatan secara bergantian menghadap ke matahari selama 6 bulan.
Kemiringan sumbu bumi (globe) tersebut menimbulkan pengaruh terhadap kedaan geografis di muka bumi sebagai berikut:
- Pada tanggal 21 Maret
Posisi matahari tepat di atas ekuator. Semua tempat di bumi mengalami panjang siang dan malam yang sama. Lingkaran batas bayangan dari kutub membagi garis-garis lingkaran lintang atas dua bagian yang sama.
- Pada tanggal 21 Juni
Pada saat ini kutub utara bumi menghadap ke arah matahari. Akibatnya lingkaran batas bayangan berada sejauh 231/2° dari kutub utara, sehingga posisi matahari tepat berada di garis balik utara matahari. Daerah di lingkaran kutub utara mendapat sinar selama 24 jam (sehari penuh), sedangkan di lingkaran kutub selatan berada dalam bayangan. Pada saat itu kutub utara mengalami siang terus menerus, sedangkan di kutub selatan matahari tidak terbit atau malam terus menerus.
- Pada tanggal 23 September
Posisi matahari kembali tepat di atas ekuator. Semua tempat di bumi mengalami panjang siang dan malam yang sama. Keadaannya persis seperti tanggal 21 Maret.
- Pada tanggal 22 Desember
Matahari tepat berada di garis balik selatan (topic of capricorn). Kutub selatan bumi menghadap matahari. daerah di lingkaran kutub selatan mendapat sinar selama 24 jam (sehari penuh), sedangkan di lingkaran kutub utara berada pada bayangan.
KESIMPULAN
Materi buku kartografi ini masih sangat terbatas, penulis sengaja menampilkan gambar-gambar dan peta dengan maksud untuk menunjukan kepada para mahasiswa tentang kartografi yang dipakai dalam era sekarang ini. Untuk memahami kartografi harus lebih banyak praktikumnya, karena kalau hanya dengan teori, gambar dan peta, tidak akan dapat memahaminya. Oleh karenanya penggunaan buku ini harus didampingi oleh tutor dengan maksud pemahaman pada latihan-latihan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Chaldun, Achmad., 2002. Atlas Indonesia dan Dunia. PT. Karya Pembina Swajaya. Cetakan ke 20.
2. Gunawan, Totok.2004. Fakta dan Konsep Geografi.Ganeca Exact, Bandung,
3. Hartono, Rudi., 1990. Kartografi. Proyek OPF IKIP Malang. Tidak diterbitkan.
4. Idris, Yusuf., 1999. Kartografi. Depdikbud, Dirjen Dikdasmen, PPPG IPS dan PMP Malang. Tidak diterbitkan.
5. Raisz, Erwin., 1969. General Cartography. John Wiley and Sons, New York.
6. —————., 1977. Principles of Cartography. John Wiley and Sons, New York.
7. Robinson, Arthur H dan Sale, Randall D., 1969. Elements of Cartography. John Wiley And Sons Inc. New York.
STUDI GEOGRAFI













Tidak ada komentar:

Poskan Komentar