19 Juli 2009

PETIR, AWAN DAN HUJAN

Awan Penyebab Hujan
Para ilmuwan dan ahli meteorologi telah mempelajari tentang tipe-tipe awan, sesuai bentuknya awan terdiri dari bagian-bagian: Awan tinggi (high clouds); Awan dari pertumbuhan vertikal (clouds of vertical development); Sirus (cirrus); Siro kumulus (cirrocumulus); Alto stratus (altostratus); Alto kumulus (altrocumulus); Kumulonimbus (cumulonimbus); Kumulus (cumulus); Awan rendah (low clouds); Nimbostratus (nimbostratus); dan Stratus (stratus).
Diantara beberapa awan di atas, awan yang menyebabkan hujan adalah kumulonimbus (cumulonimbus) bercampur dengan angin dan petir. Para ahli meteorologi telah mempelajari pula bagaimana awan kumulonimbus terbentuk dan bagaimana awan itu menghasilkan hujan, hujan es dan halilintar/kilat.
Pada dasarnya terdapat tiga tahap yang dilewati kumulonimbus sehingga menjadi hujan:

1. Awan didorong angin: Awan kumulonimbus mulai terbentuk ketika angin mendorong sebagian kecil awan kumulus ke sebuah area dimana awan-awan ini berkumpul bertindih-tindih, perhatikan QS 24:43 :


2. Penggabungan: awan-awan kecil bergabung bersama besar (seperti gunung) lihat ayat QS 24:43);


3. Penumpukan: ketika awan-awan kecil telah bergabung, udara yang bergerak ke atas di dalam awan yang besar meningkat. Udara yang bergerak ke atas dekat dengan pusat awan lebih kuat dibandingkan dengan yang dekat dengan tepi. Udara yang bergerak ke atas ini menyebabkan badan awan tumbuh secara vertikal, sehingga awan menunggu udara. Pertumbuhan vertikal ini menyebabkan badan awan menjadi bagian yang lebih dingin di atmosfer dimana tetesan air dan es (salju) merumuskan dan mulai berkembang melebar. Ketika tetesan air dan hujan es ini menjadi sangat ringan sehingga udara yang bergerak ke atas menyokong mereka, dengan demikian mereka mulai turun dari awan menjadi hujan, hujan es (salju) dan lain-lain. Untuk itu perhatikan firman Allah berikut ini:
1) “Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagiannya), kemudian menjadikannnya bertindih-tindih, maka kelihatan olehmu hujan keluar dari celah-celahnya… (QS 24:43)
2) “Dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran es (salju) dari gumpalan awan seperti gunung-gunung (Kumulonimbus), maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki (QS 24:43)
Teknologi Hujan Buatan (THB): menabur garam menuai hujan
Apakah dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia tidak dapat membuat hujan untuk kebutuhan manusia. Dalam ilmu meteorologi dan klimatologi dikenal adanya suatu teknologi yang disebut Teknologi Hujan Buatan.
THB di Indonesia diperkenalkan pertama kali oleh BPPT sejak tahun 1979 (Republika, 16-09-1997), yang diterapkan untuk mengatasi kemarau yang membuat orang purtus asa? Lihat ayat Al Quran berikut ini:
“Dan sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa (kemarau) (QS 30:49)
Penanggung jawab hujan buatan di Indonesia adalah UPT Hujan Buatan BPPT. UPT ini telah melayani puluhan kali operasi hujan buatan baik di Jawa, Lombok, Kalimantan dan Sulawesi. Pada waktu kemarau panjang di tahun 1997, masyarakat menuntut pemerintah untuk membuat hujan buatan. Apakah dengan kemampuan THB klaim Al Quran bahwa hujan adalah hasil karya Tuhan tidak benar?


Untuk itu kita perhatikan komentar Ir. Sriworo B.Harijono, M.Sc (Kepala UPT Hujan Buatan BPPT di Jakarta (13-9-1997) (Sekarang Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika, red), yang menyatakan bahwa tuntutan masyarakat untuk membuat hujan buatan. Kadang tidak lagi proporsional dengan kendala dan keterbatasan teknologi yang ada. Mereka meminta hujan buatan seolah manusia, melalui teknologi hujan buatan, memang berkuasa/mampu membuat awan dan hujan. Padahal, yang terjadi sebetulnya tidak persis demikian. Hujan buatan merupakan sebutan untuk menambah curah hujan. Sebutan inipun sebenarnya kurang tepat, mengingat manusia dimana pun sesungguhnya tidak/belum mampu membuat hujan dan atau awan secara sintetis, sehingga karenanya dapat “menciptakan” hujan setiap kali diperlukan.


Kegiatan yang kami lakukan adalah “menyemai awan (cloud seeding)”. Melalui kegiatan itu awan-awan yang sudah ada disemai—dengan garam halus NaCl, CaO dan larutan urea—sebagai embrio hujan agar proses tumbukan dan kondensasi (pengembunan) uap air berlangsung efektif, menghasilkan tetes-tetes air, untuk kemudian tumbuh berkembang menjadi tetes hujan. Tanpa perlakuan tambahan ini, besar kemungkinan uap air dalam awan potensial memang mungkin tidak akan pernah tumbuh menjadi tetes hujan.


Dengan demikian produk THB adalah bertambahnya curah hujan dari awan-awan yang disemai. Dengan THB, proses fisika dalam awan menjadi efektif atau awan secara dinamik dapat dibesarkan dimensinya.


Pihak BPPT mengakui, hingga saat ini penerapan THB di Indonesia baru pada model statik. Artinya, teknologi hujan buatan hanya dimungkinkan jika sudah terdapat awan-awan berpotensi. Yakni awan-awan yang kandungan airnya memadai. Dalam arti, bila disemai ia dapat memberi tambahan curah hujan yang turun bersama-sama hujan alam. Bila tidak disemai, awan potensi pun bisa jadi tidak menghasilkan hujan. Ini karena dimensi yang kecil untuk turun ke bumi sebagai hujan.

Bagaimana hal itu terjadi?



Pengetahuan tentang fisika awan, hujan yang turun dari awan pada dasarnya berasal dari masa udara lembab yang naik ke atas dan mengembun pada inti kondensasi sehingga berkembang menjadi tetes air yang kumpulannya tampak sebagai awan.


Melalui proses tumbukan dan penggabungan sesamanya, tetes ini berkembang dan menjadi tambah besar akhirnya menjadi tetes-tetes air hujan. Efisiensi proses tumbukan sesama tetes dalam awan, menurut Kepala UPT Hujan Buatan BPPT tersebut memegang peran penting pada pembentukan hujan.


Hal ini karena jumlah air yang tercurah dari awan (R) sebanding dengan dengan efisiensi proses (E) dan kandungan air dalam awan (C). Secara matematik, hubungan yang dinyatakan R = E X C.


Selanjutnya, tetes air dalam awan akibat kondensasi rata-rata hanya mencapai radius 20 mikron. Tetes sekecil ini tidak akan mampu turun sebagai butiran hujan bila sekurang-kurangnya berukuran 2 mm atau 20 mikron. Karena itulah diperlukan proses selanjutnya yaitu: tumbukan dan penggabungan.


“Dan Kami (Allah) turunkan air dari langit (hujan) menurut suatu ukuran, lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya (Pen: Meresap ke dalam bumi) (QS 23:18)


Proses itu dipercepat oleh senyawa NaCl dan CaO dan larutan urea tadi—berlangsung setelah kondensasi berhenti. Pada tahap ini, tetes-tetes air dan berbagai ukuran akan saling bertumbukan untuk kemudian saling bergabung membentuk tetes ukuran yang lebih besar. Begitu seterusnya.


Masalahnya penyemaian tidak langsung begitu saja dapat dilakukan dari atas pesawat (biasanya Casa 212 dan CN 235). Untuk melakukan operasi hujan buatan diperlukan kondisi-kondisi klimatologi tertentu yang memadai dan sulit dipaksakan menurut aturan/kehendak manusia. Ini jika efisiensi dan efektivitas ingin tercapai diperlukan kondisi/persyaratan-persyaratan pendukung. Persayaratan itu antara lain:


1) Ada awan yang berpotensi mengandung uap air;

2) Kelembaban relatif sedikitnya 65%;

3) Angin bertiup dari arah Barat dengan kecepatan kurang dari 10 knot (10 mil/jam)

atau 16 km/jam;

4) Ketebalan awan sekurang-kurangnya 1.700 m, serta

5) Tidak ada intervensi suhu, maksudnya, ada keteraturan temperatur di atmosfer.

Bahwa makin tinggi posisi awan, makin rendah (dingin) temperaturnya.

Sayang persyaratan-persyaratan itu baru terpenuhi justru mendekati transisi antara musim kemarau dan musim hujan, artinya walaupun manusia mampu membuat hujan buatan, tetapi manusia masih “tergantung dengan kekuatan lain” yang mengatur alam ini, tidak lain adalah Allah Tuhan Pencipta Alam. Untuk itu perlu kita renungkan ayat Al Quran berikut ini :

“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan, dan Allah menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira (QS 30:48)
El Nino dan La Nina yang melegenda
1. El Nino
“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keredaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat (QS 2:265).
Fenomena El Nino terus melanda. Inilah bencana asal wilayah tropis Pasifik yang seringkali melanda INdonesia dan negara Pasifik lainnya. El Nino telah menjadi tragedi dan legenda dunia. Namun sayangnya, hanya bisa terdeteksi dari tekanan bagian Timur air laut wilayah khatulistiwa Pasifik.
Kekeringan, banjir, angin topan dan beragam perubahan ekstrim cuaca merambah kondisi iklim dunia. Tidak itu saja, para saintis memiliki prediksi lebih mengejutkan. Topan badai tropis bakal siap melanda wilayah Timur dan Utara Pasifik termasuk Hawai, namun ini akan mengakhiri musim badai Atlantik.


El Nino berasal dari bahasa Spanyol yang artinya bayi Yesus. Mendapat nama demikian karena dampaknya pada curah hujan dan ikan di wilayah pantai Barat Amerika Selatan terjadi ketika Natal. Satelit dan data menjadi andalan mendeteksi perkembangan El Nino delapan atau sembilan bulan sebelumnya.


El Nino adalah kekacauan sistem atmosfir laut di wilayah tropis Pasifik yang amat berpengaruh pada cuaca global. Konsekuensinya adalah meningkatnya curah hujan di wilayah Selatan Peru dan AS hingga menimbulkan banjir. Namun justru menimbulkan kekeringan di sebelah Barat Pasifik bahkan terkadang mengakibatkan kebakaran hutan di Australia yang juga menimpa Indonesia.


“Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah (QS 22:5)


“Dan Allah menurunkan dari langit air hujan dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang yang mendengarkan (pelajaran) (QS 16:65)


El Nino menyebabkan interaksi antara lapisan permukaan laut dan atmosfir trofis Pasifik. Dinamika internal pada sistem atmosfir laut memicu terjadinya El Nino. Prosesnya terbilang rumit tetapi ahsilnya jelas: kacaunya pertukaran udara laut dan gelombang laut. Sistem itu berada di tengah suhu panas (El Nino) hingga netral (atau dingin) dengan periode alami sekitar tiga hingga empat tahun sekali. Kekuatan erupsi vulkanik sama sekali tak berhubungan dengan El Nino. Bencana El Nino yang paling besar tercatat pada tahun 1982-1983.


“Dan sesungguhnya Kami telah menggilirkan hujan itu diantara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (daripadanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat) (QS 25:50)



La Nina


La Nina terbentuk dari temperatur laut dingin pada wilayah ekuator Pasifik. Bandingkan dengan El Nino terjadi karena kejanggalan laut panas. Namun anomali iklim global menjadi pemicu keduanya. La Nina disebut juga El Viejo.
Pada level yang lebih tinggi El Nino hanyalah salah satu faktor yang mempengaruhi iklim. Pengaruh kuat El Nino dan La Nina terjadi ketika musim dingin. Pada wilayah kontinental AS, selama tahun El Nino, temperatur musim dingin lebih hangat ketimbang kondisi normal di wilayah sentral Selatan dan lebih dingin di bagian Tenggara dan Barat daya. Selama terjadi La Nina, temperatur musim dingin lebih hangat di Tenggara dan lebih dingin di Barat Daya. Untuk itu marilah kita renungkan ayat Al Quran berikut ini.
“Angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri (QS 3:117)
Hujan Asam
Bila saja revolusi industri tidak terjadi di Eropa (Inggris) pada abad pertengahan dengan ditemukannya mesin uap oleh James Watt, maka kecil kemungkinan akan terjadi hujan asam, lalu apa kaitannya antara revolusi industri dan hujan asam?
Karena dengan berkembangnya pabrik-pabrik, mesin-mesin sejak revolusi industri dengan mempergunakan bahan bakar dari fosil baik batu bara maupun BBM, maka dari tahun ke tahun pabrik-pabrik itu telah berubah menjadi “terompet setan” dengan menyemburkan polutan (bahan polusi) yang semakin meningkat ke udara seperti sulfur atau timbal dioksida (SO2), Karbon monoksida (CO), dan Nitrogen dioksida (NO2) (Bambang Agus, ManuntunG, 1991).

Sulfur dioksida yang lebih dominan dalam meningkatkan keasaman air hujan di samping Nitrogen dioksida dan karbon monoksida. Yang dihasilkan oleh knalpot kendaraan bermotor dan cerobong-cerobong asap pabrik. Karena itu SO2 merupakan gas yang kurang stabil, maka di udara SO2 akan berinteraksi dengan oksigen (O2 ) membentuk SO3 . Akibatnya dengan adanya kondensasi, maka gas SO3 akan bereaksi dengan uap air, dan akan menjadi asam sulfat yang berbentuk uap air.



Dengan terjadinya hujan, maka asam sulfat yang terlarut dalam air hujan akan menjadi air hujan yang bersifat asam, atau dikenal sebagai hujan asam. Sebab asam sulfat termasuk dalam golongan asam kuat.


Untuk mengukur tingkat keasaman air hujan diukur dengan pH (derajat keasaman). Untuk air hujan yang normal pH-nya berkisar antara 6 sampai 7. Bila di atas 7, maka air hujan bersifat basa. Bila berada dibawah 6, maka air hujan dikatagorikan asam. Menurut Prof. Dr. P. Soedigdo, dosen biokimia dan farmakologi jurusan kimia ITB Bandung, bahwa pH 4 adalah ambang batas kehidupan baik bagi manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Sebab air hujan dengan pH 4 selain berbahaya bagi kehidupan juga akan mempercepat terjadinya korosi (pengkaratan) pada logam ataupun merusak bangunan (pengikisan) bersejarah karena air yang bersifat asam bersifat korosif atau merusak logam dan semen/beton.


Taj Mahal di India, kini semakin kusam dan rusak akibat diterjang angin dan hujan asam, dampak dari gas buangan dari sekitarnya. Demikian pula tembok raksasa di Cina semakin keropos diterjang hujan asam akibat meningkatnya industri di negara itu dan sekitarnya. Namun demikian polutan dan hujan asam tidak saja berdambak regional dan nasional tetapi berdampak secara internasional.


Akibat lain yang tidak kalah berbahayanya adalah dengan tercemarnya sumber air bersih dan rusaknya daun di hutan-hutan. Contoh nyata adalah dengan rusaknya 6,5 hektar hutan di sembilan negara Eropa, di Skandinavia bahkan ribuan hektar hutan pinus rusak, juga di Jerman Selatan yang terkenal dengan Black Forest kini berubah menjadi “hutan kuning”. Tercemarnya danau-danau di Kanada, Swedia, Norwegia dan Finlandia oleh hujan asam menyebabkan banyak ikan yang mati karena terganggunya ekosistem di daerah tersebut.


Sekarang ini bukan saja negara maju yang terkena getah dari kemajuan teknologi tersebut, tetapi juga negara-negara sedang berkembang seperti Brasil, Afrika Selatan, dan RCC juga telah menyusul diterjang hujan asam, karena itu tidak mustahil Indonesia kelak juga akan ditimpa hujan asam ini. Apakah Indonesia saat ini sudah dilanda hujan asam?


Dengan bantuan World Meteorological Organization (WMO) yaitu badan meteorologi dunia dengan jaringan-jaringannya seluruh dunia yang prihatin dengan terjadinya hujan asam. Berbekal kemampuan yang dimiliki oleh Badan Meteorologi dan Geo Fisika RI dan dibantu oleh WMO yang mempergunakan peralatan yang canggih seperti automatic rain gauge, yaitu alat pengukur tingkat polusi dalam air hujan, maka dapat mendeteksi derajat keasaman air hujan diberbagai daerah Indonesia.


Sebagai gambaran, berdasarkan data di DKI sejak tahun 1983 tingkat keasaman di air hujan turun pada tahun 1983 masih berkisar 5,8 tapi pada tahun 1985 menjadi 5,2, tahun 1986 menjadi 5,3 demikian juga tahun berikutnya berkisar pada angka 5 hingga 6 pH. Demikian pula Yogyakarta berkisar antara 5,7 hingga 5,9. (Bambang Agus)


Walaupun derajat keasaman dari air hujan di Indonesia tidak separah di Eropa dan Amerika, sebab hal ini masih diselamatkan banyaknya hutan di Indonesia (namun kini hutan di Indonesia kian menipis dibabat) karena itulah Indonesia harus selalu waspada dan dengan tegas melaksanakan program “langit biru” sebab bila terlambat maka hujan asam akan merusak segalanya, tidak saja logam, bangunan bersejarah bahkan berdampak pada kulit manusia.
Untuk itu, sedini mungkin menggunakan kendaraan bermotor yang menggunakan BBM bebas timbal dan perlunya penyaringan (filterisasi) udara pada cerobong-cerobong pabrik, sebab sulfur dioksida (SO2) dianggap para ahli sebagai biang keladi hujan asam. Sedangkan untuk mengurangi keasaman tanah atau sawah-sawah pertanian dapat dilakukan dengan menaburkan kapur tohor sehingga tanah akan menjadi netral (basa). Namun demikian karena hujan asam bukan saja masalah nasional, juga berkaitan erat dengan negara-negara lain, maka dapat saja imbas hujan asam asam berasal dari negara-negara tetangga yang tidak menerapkan “langit biru” jadi Indonesia bersiap-siap saja menerima getah hujan asam dari negara lain.
PETIR DAN GURUH
“Dan GURUH itu bertasbih dengan memuji Allah, demikian pula para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan HALILINTAR, lalu menimpakan kepada siapa yang Dia kehendaki; dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya (QS 13:13)

Dalam mitologi Yunani dipercaya bahwa petir adalah tombak/cambuk dari Dewa Zeus, yang dilemparkan kepada musuhnya. Sedangkan yang membuat atau yang menempanya adalah putera Zeus yang bernama Heptanus. Setiap selesai sebuah petir lalu diserahkan kepada Zeus dan dewa Zeus melemparkan tongkat itu kepada musuhnya, maka…Bet..jeger!!
Bagaimana pandangan Al Quran terhadap petir, untuk itu lihat ayat Al Quran berikut ini:


“Dialah Tuhan yang memperlihatkan kilat (halilintar) kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung (kumulonimbus) (QS 13:12)”

Dari ayat Al Quran di atas dijelaskan bahwa petir dapat mendatangkan musibah, kerusakan, bahkan kematian. Dan hal ini sesuai realita yang ada. Banyak bencana yang menimpa manusia karena disambar petir. Sehingga apabila mendengar gelegar petir timbul rasa takut dan khawatir pada kita, misalnya takut rumah dan peralatan elektronik kita tersambar petir.


Namun demikian sebenarnya petir juga mempunyai manfaat, dalam ayat tersebut disebut harapan. Hal ini disebabkan bahwa petir selain merupakan proses alam yang menghasilkan unsur nitrogen yang penting bagi tumbuh-tumbuhan dan mengisi sekitar 4/5 atmosfer bumi, petir juga berfungsi dalam sirkuit global listrik. Kilatan petir raksasa diyakini akan dapat membantu menyeimbangkan sirkuit global listrik antara bumi dan angkasa dan juga berkosentrasi dalam pembentukan ozon.


Peneliti petir pertama bernama Benjamin Franklin (1752) adalah yang membongkar rahasia petir dengan menggunakan seperangkat alat berupa: layangan dengan pelapis sutera, benang layang-layang dari linen, seutas kawat yang diikatkan di kepala layang-layang dan kunci yang digantung di pangkal benang, dan pita sutera yang dijaga agar tetap kering. Benjamin berhasil, dan menciptakan hipotesis: bahwa petir adalah suatu percikan listrik yang sangat besar.


“Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan (QS 24:43)

Menurut penelitian, petir mengalir dengan arus listrik berkekuatan hingga 100.000 ampere loncatan bunga api dengan kecepatan mencapai 100.000 km/detik (1/3 kecepatan cahaya, sebab kecepatan cahaya 300.000 km/detik). Dan yang tersengat petir bukan saja manusia bahkan dapat mengakibat kerusakan alat-alat listrik.


Menurut data bahwa per tahun petir telah menewaskan 400 orang Amerika dan mencederai 1.000 orang lainnya. Kerugian material juga kerapkali ditimbulkan oleh petir, misalnya saja pada tahun 1995. Pertamina mengalami kerugian sekitar Rp 18 miliar dari perangkat keras yang disambar petir.


Ahli petir Institut Teknologi Bandung Syarif Hidayat PhD (Koran Tempo, 4-07-2003). Menjelaskan bahwa sirkuit global listrik merupakan suatu rangkaian global yang atas generator (pembangkit) bermuatan listrik berupa awan konvektif (kumulonimbus) dan saluran pelepasannya. Menurutnya, awan konventif menghasilkan pemisah muatan positif dan negatif. Muatan positif umumnya berkumpul di bagian atas awan, sedangkan muatan negatif berkumpul di bagian bawah awan. Muatan tersebut akan mengalir melalui berbagai cara seperti antar kantong muatan di awan, dari awan ke bumi, lepas melalui udara sebagai aliran muatan elektrostatik, dan meloncat ke ionosfer. Jadi ada kaitan yang erat antara petir dengan awan (kumulonimbus).


Karena merupakan bagian dari sirkuit global, bumi tak ubahnya sebuah kapasitor. Jika langit cerah, akan ada gelombang arus listrik yang berasal dari ionosfer (bermuatan positif) ke bumi yang bermuatan negatif. Arus ini terus mengalir tiada henti. Anehnya, bumi tidak terbakar juga. Sebab, ternyata ada awan petir yang bermuatan positif dan negatif, yang menjadi penyeimbang. Yang positif turun ke bumi, yang negatif naik ke ionosfer.


Syarif mengakui, petir lebih banyak dipandang sebagai ancaman karena dapat menimbulkan kematian dan kerusakan, terutama pada perangkat di muka bumi dan penerbangan. Kerugian yang diakibatkan oleh petir tidak terbatas pada akibat sambaran langsung melainkan jauh lebih luas secara ekonomis akibat tegangan lebih yang ditimbulkannya.


Pendapat saudara Syarif di atas menurut penulis memperkuat ayat Al Quran pada surah yang menegaskan: “Allah melepaskan HALILINTAR, lalu menimpakan kepada siapa yang Dia kehendaki”. Jadi tidak benar kalau petir/halilintar adalah cambuk/tongkat dewa Zeus sebagaimana mitologi Yunani selama ini.


Frekuensi petir di Indonesia adalah yang terbesar di dunia, untuk Jakarta saja di sekitar Monumen Nasional (Monas) tercatat hampir 500 kali petir dalam tempo enam jam, disekitar Halim Perdana Kusuma ribuan kali per tahun pada musim hujan; dan di Bogor 322 kali setahun (365) selalu berpetir.


Apakah petir bisa dipakai sebagai alternatif sumber energi listrik? Sayang sekali tidak bisa ujar Syarif. Masalahnya petir mirip dengan fenomena bom pada reaksi kimia atau air bah pada aliran air–berlangsung amat cepat dan tidak bisa diduga. Padahal perubahan energi yang bermanfaat hanya dapat berlangsung bila dilakukan secara berlahan-lahan, seperti reaktor atom atau aliran pada bendungan air.


Yang lebih mungkin dipanen, menurut dia, adalah muatan listrik di awan sebelum menjadi petir. Hanya ada masalahnya: Pertama, kejadian petir awan adalah stokastik, sulit ditebak. Kedua, alat penangkap atau penampung muatannya harus berukuran raksasa. “Diameter awan petir adalah sekitar 10 km dan tingginya sekitar 3 km dari permukaan laut,” katanya.


Teknologi untuk menangkal serangan petir dilakukan dengan beberapa cara agar sebuah perusahaan dapat terhindar dari sambaran/sengatan petir. Konseptual sistem proteksi tersebut terbagi eksternal (sistem grounding atau pertanahan) dan sistem internal (shielding & equpotential bonding) yang merupakan proteksi guna menghasilkan tegangan lebih pada elektronik dan komputer).
“Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka (QS 11:67)
“Dan GURUH itu bertasbih dengan memuji Allah, demikian pula para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan HALILINTAR, lalu menimpakan kepada siapa yang Dia kehendaki; dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya (QS 13:13)

SUMBER:SUMBER:http://dayant.blog.friendster.com/2008/01/petir-awan-dan-hujan-menurut-al-quran-1/


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar