03 April 2010

Efek bulan terhadap pasang-surut, gempa dan gunung api

Efek bulan terhadap pasang-surut, gempa dan gunung api

Mungkin anda pernah mendengar adanya artikel tentang pengaruh bulan terhadap kegempaan, bahkan gempa sering terjadi pada bulan purnama atau bulan mati. Menarik bukan ?

Benarkah ini ?
Apakah ini merupakan penemuan science atau klenik ?

Gempa dan juga letusan gunungapi merupakan kegiatan yg bersifat "seketika" atau mendadak dan dipicu oleh sebuah "trigger" berupa perubahan kecil. Gunung api mungkin didahului dengan gejala-gejala lain sebelum benar-benar erupsi (meletus), baik erupsi effusive (seperti aktifitas Gn Merapi) maupun eksplosif (meletusnya Pinatubo, atau Kralatau dan Tambora). Namun gempa sangat sulit diprediksi dan gempa bersifat lebih mendadak ketimbang Gunung Api. Namun keduanya sangat dipengaruhi oleh kondisi grafitasi bumi pada saat itu.

Sudah cukup banyak penelitian yg memperlihatkan adanya hubungan antara terjadinya gempa-gempa besar dengan pasang surut (tide). memang tidak selalu kondisi pasang-surut maksimum menyebabkan terjadinya gempa. hanya saja pada saat bulan purnama atau bulan mati peluang terjadinya gempa sangat besar.

Apa sebenernya pengaruh bulan terhadap aktifitas gempa bumi ?

Bulan sangat mempengaruhi pasang surut. Pasang surut ini tentu saja mempengaruhi gaya gravitasi bumi dan merubah berat benda. Teori terjadinya gempa sering disebut "elastic rebound" atau proses pelentingan. Seperti ketapel bila dilepas maka kareat akan melentingkan batu didalamnya. Sama juga dengan gempa akibat tekanan pergeseran lempeng tektonik yg tertahan maka efeknya seperi karet yg tertahan. Nah penahan ini sangat dipengaruhi oleh beratnya sendiri, dimana berat benda tentunya tergantung dari grafitasinya. Pernah lihat kan kalau gravitasi di angkasa sangat kecil sehingga melayang. Nah grafitasi di bumi sebenarnya juga berfluktuasi sesuai dengan adanya bulan (daya tarik bulan) dan juga tentunya matahari.

Dibawah ini gambaran bagaimana frekuiensi gempa-gempa dihubungkan dengan peredaran bulan.
Lantas apa yg harus dilakukan.
Penelitian lain yg menunjukkan dimana daerah-daerah "matang" untuk terjadinya gempa perlu diketahui. Dan melihat kondiri pasang surut bukan hal sia-sia, namun tidak perlu takut apalagi trus fobia terhadap bulan purnama. Hanya perlu waspada pada saat bulan purnama.

Jaman dahulu setiap bulan purnama sering diikuti dengan sesajian untuk menolak bala, namun dengan science kita tahu bahwa sebenernya dengan sesajianpun tidak akan menolong dari terjadinya gempa. Justru mungkin dengan kewaspadaan dibulan purnama ini yg menjadi hikmah mengapa dibulan purnama manusia harus memberikan perhatian khusus.

Nah kalau anda tertarik bagaimana teori tentang meningkatnya peluang gempa terhadap pasang surut yg dipengaruhi oleh bulan, matahari dan siklus-siklus lainnya bisa dilihat juga di :
http://www.freewebz.com/eq-forecasting/130.html

Science 19 July 2002:
Vol. 297. no. 5580, pp. 348 - 349
DOI: 10.1126/science.1074601

Perspectives
GEOPHYSICS:
Tides, Earthquakes, and Volcanoes
Junzo Kasahara

Earthquakes and volcanic eruptions are caused primarily by plate tectonics. But as Kasahara explains in his Perspective, several recent studies provide evidence that tidal forces influence earthquakes associated with volcanic activity. This idea was first suggested in the 1930s, but the forces involved were long considered too weak and the evidence too limited. Recent results from the Juan de Fuca Ridge in the Pacific show a particularly clear diurnal pattern attributed to ocean tides.

The author is at the Earthquake Research Institute, University of Ttdokyo, 1,1,1,Yayoi, Bunkyo, Tokyo 113-0032, Japan. E-mail: kasa2@eri.u-tokyo.ac.jp


source picture: http://www.freewebz.com/eq-forecasting/130.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar