03 April 2010

Fakta Air di Bumi. Sayangi penggunaannya.

Fakta Air di Bumi. Sayangi penggunaannya.

Masalah air terus menerus menjadi problematika yang sulit dipecahkan. Penghematan air pun sulit dilakukan karena merasa bahwa air adalah sesuatu yang terus menerus ada dan tidak akan habis. Faktanya adalah jumlah total air yang ada di Bumi saat ini relatif sama dengan saat Bumi ini tercipta. Yang berubah ada bentuk dari air tersebut dalam siklus air yang berlangsung terus menerus. Jadi air yang dipakai mandi oleh Pangeran Diponegoro bisa jadi sama dengan air yang sedang anda pakai untuk minum.

siklusair2

Tetapi dari semua air tersebut, hanya 3% saja yang merupakan air tawar dimana 97% lagi adalah air asin. dari 3% ini juga terbagi-bagi lagi dengan es, air tanah dan air permukaan seperti gambar di bawah ini.

earthwaterdist2

Estimasi Distribusi Air
Sumber Air Volume Air dalam Mil Kubik Volume Air dalam Kilometer Kubik Persentase dari Total Air
Samudra, laut dan teluk 321,000,000 1,338,000,000 96.5%
Total Air Dunia 332,500,000 1,386,000,000
Disadur dari: Gleick, P. H., 1996: Water resources. In Encyclopedia of Climate and Weather, ed. by S. H. Schneider, Oxford University Press, New York, vol. 2, pp.817-823. USGS.

Masalahnya adalah dengan jumlah air yang konstan ini, kita harus benar-benar menyayangi penggunaannya dan tidak membuang percuma. Kita membuang air percuma untuk banyak sekali seperti cuci tangan, mencukur, minum yang tidak dihabiskan, mandi, dll. Air ini harus terus ada untuk anak dan cucu kita agar mereka dapat memiliki kehidupan yang sama seperti kita sekarang.

Danau

Danau adalah sejumlah air (tawar atau asin) yang terakumulasi di suatu tempat yang cukup luas, yang dapat terjadi karena mencairnya gletser, aliran sungai, atau karena adanya mata air. Biasanya danau dapat dipakai sebagai sarana rekreasi, dan olahraga.

Danau adalah cekungan besar di permukaan bumi yang digenangi oleh air bisa tawar ataupun asin yang seluruh cekungan tersebut dikelilingi oleh daratan.

Kebanyakan danau adalah air tawar dan juga banyak berada di belahan bumi utara pada ketinggian yang lebih atas.

Sebuah danau periglasial adalah danau yang di salah satunya terbentuk lapisan es, "ice cap" atau gletser, es ini menutupi aliran air keluar danau.

Istilah danau juga digunakan untuk menggambarkan fenomena seperti Danau Eyre, di mana danau ini kering di banyak waktu dan hanya terisi pada saat musim hujan. Banyak danau adalah buatan dan sengaja dibangun untuk penyediaan tenaga listrik-hidro, rekreasi (berenang, selancar angin, dll), persediaan air, dll.

Finlandia dikenal sebagai "Tanah Seribu Danau" dan Minnesota dikenal sebagai "Tanah Sepuluh Ribu Danau". Great Lakes di Amerika Utara juga memiliki asal dari zaman es. Sekitar 60% danau dunia terletak di Kanada; ini dikarenakan sistem pengaliran kacau yang mendominasi negara ini.

Di bulan ada wilayah gelap berbasal, mirip mare bulan tetapi lebih kecil, yang disebut lacus (dari bahasa Latin yang berarti "danau"). Mereka diperkirakan oleh para astronom sebagai danau.

Berdasarkan proses terjadinya, danau dibedakan :

  1. danau tektonik yaitu danau yang terbentuk akibat penurunan muka bumi karena pergeseran / patahan
  2. danau vulkanik yaitu danau yang terbentuk akibat aktivitas vulkanisme / gunung berapi
  3. danau tektovulkanik yaitu danau yang terbentuk akibat percampuran aktivitas tektonisme dan vulkanisme
  4. danau bendungan alami yaitu danau yang terbentuk akibat lembah sungai terbendung oleh aliran lava saat erupsi terjadi
  5. danau karst yaitu danau yang terbentuk akibat pelarutan tanah kapur
  6. danau glasial yaitu danau yang terbentuk akibat mencairnya es / keringnya daerah es yang kemudian terisi air
  7. danau buatan yaitu danau yang terbentuk akibat aktivitas manusia

[sunting] Danau terkenal

Danau Toba di Sumatra, Indonesia.
  • Danau terbesar di dunia adalah Laut Kaspia. Dengan luas permukaan 394.299 km², ia memiliki wilayah yang lebih besar dari enam danau terbesar berikut digabungkan menjadi satu.
  • Danau air tawar terbesar, dan kedua terbesar adalah Danau Superior dengan luas permukaan 82.414 km².
  • Danau terdalam adalah Danau Baikal di Siberia, dengan kedalaman 1.741 meter (5.712 kaki).
  • Danau tertinggi yang dapat dinavigasi adalah Danau Titicaca, pada ketinggian 3.821 m di atas permukaan laut. Dia juga merupakan danau terbesar kedua di Amerika Selatan.
  • Danau terendah di dunia adalah Laut Mati, pada 396 m (1.302 kaki) di bawah permukaan laut. Dia juga merupakan danau yang memiliki konsentrasi garam paling tinggi.
  • Pulau terbesar di tengah danau air tawar adalah Pulau Manitoulin di Danau Huron, dengan luas permukaan 2.766 km².
  • Danau terbesar yang terletak di pulau adalah Danau Nettiling di Pulau Baffin.
  • Danau Toba di pulau Sumatra kemungkinan terletak di kawah gunung berapi pasif terbesar di dunia.

Kamis, 01 Oktober 2009

Komersialisasi Air Abaikan Rakyat Miskin RUU Sumber Daya Air Harus Ditinjau Ulang

Jakarta, Kompas - Secara keseluruhan, Rancangan Undang-Undang Sumber Daya Air dinilai hanya memandang air sebagai komoditas untuk komersialisasi dengan membuka peluang privatisasi di sektor air. Akibatnya, hanya kalangan mampu yang akan terjamin aksesnya terhadap air bersih. Kebijakan itu dikhawatirkan kelak dapat melecut konflik antargolongan dalam masyarakat.

Oleh karena itu, RUU SDA yang kebablasan harus ditinjau ulang dengan mengakomodasi masukan dari berbagai kalangan masyarakat.

Demikian penilaian berbagai kalangan masyarakat mengenai Rancangan Undang-Undang (RUU) Sumber Daya Air (SDA)-yang kini sedang dibahas Panitia Kerja (Panja) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan pemerintah-yang dihubungi Kompas hari Sabtu (13/9) dan Minggu.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudo Husodo mengatakan, secara keseluruhan, RUU SDA memandang air sebagai komoditas untuk komersialisasi. Padahal, untuk negara berkembang seperti Indonesia, fungsi ekonomi sosial air jauh lebih besar ketimbang fungsi ekonomi untuk komersialisasi.

"Rumusan RUU Sumber Daya Air saat ini sangat diwarnai nuansa komersialisasi air. Saya menyadari, air memiliki fungsi ekonomi yang sangat penting. Namun, itu fungsi ekonomi sosialnya, bukan ekonomi komersial seperti di negara-negara maju," katanya.

Wijanto Hadipuro, pengajar Fakultas Ekonomi dan Program Magister Lingkungan dan Perkotaan Unika Soegijapranata Semarang, Jawa Tengah, mengatakan hal serupa. RUU SDA, katanya, lebih dipandang dengan pendekatan pasar sehingga memberi peluang kepada swasta untuk berperan seluas-luasnya dalam pengelolaan air (Pasal 11 Ayat 3).

Wijanto memastikan, dengan dibukanya peluang besar pada swasta untuk terlibat, akan diterapkan prinsip opportunity cost (biaya karena kesempatan yang hilang). Prinsip tersebut diterapkan ketika seseorang atau sekelompok orang menggunakan air dengan gratis atau murah, sementara pada saat bersamaan ada orang atau kelompok lain yang bersedia membayar lebih untuk menggunakan air, maka kelompok yang pertama akan dikalahkan kepentingannya.

"Hal itu sudah terjadi di Waduk Jatiluhur, Jawa Barat. Air untuk jaringan irigasi bagi petani dibatasi sekali jumlahnya karena untuk memenuhi kebutuhan suatu industri. RUU SDA harus ditinjau ulang, kalau perlu dengan debat publik," kata Wijanto lagi.

Terjebak Bank Dunia

Wijanto dan Nila Ardhianie (dari Koalisi Air) meyakini, modus privatisasi sektor air dalam RUU SDA tidak terlepas dari peran Bank Dunia yang membuat pemerintah seperti terjebak. Krisis moneter tahun 1997 mendorong pemerintah memperoleh pinjaman bersifat cepat dikeluarkan. Bank Dunia menawarkan Structural Adjustment Loan (SAL) dengan syarat perubahan struktural dalam sektor air melalui agenda Water Resources Sector Adjustment Loan (Watsal).

Akhirnya pada 28 Mei 1999 ditandatangani perjanjian pinjaman 300 juta dollar AS yang dicairkan dalam tiga tahap. Rencananya, Desember 2003, pencairan tahap ketiga sebesar 150 juta dollar AS akan dilakukan dengan syarat RUU SDA tersebut telah disahkan.

Sinyalemen agenda pencairan itu telah tampak dalam Rapat Kerja Menteri Keuangan Boediono dengan Panitia Anggaran DPR 26 Agustus 2003. Ketika itu Boediono mengatakan, ada bantuan program untuk menutupi pembengkakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang belum bisa cair. Hal itu karena pemerintah belum dapat memenuhi syarat tertentu, seperti RUU SDA yang belum juga disahkan (Kompas, 27 Agustus 2003).

Saat ini sejumlah perusahaan besar dunia di sektor air telah beroperasi di Indonesia. Misalnya, Biwater di Batam dan Palembang; Ondo-Suez di Jakarta, Medan, Semarang , dan Tangerang; Thames Water di Jakarta dan Sidoarjo; dan Vivendi yang juga beroperasi di Sidoarjo.

Wijanto menjelaskan, tahun 1993 Bank Dunia mengeluarkan policy paper (kebijakan) di sektor manajemen sumber daya air yang memakai pendekatan pasar. Dalam kebijakan tersebut Bank Dunia menghindari kata privatisasi yang juga dianggap sensitif. Sebagai gantinya, digunakan istilah public private partnership (kemitraan swasta) dalam manajemen sumber daya air.

"Itulah jargon Bank Dunia. Karena itu, tidak heran dia dan juga IMF (Dana Moneter Internasional) kerap dituding sebagai agen privatisasi yang merupakan kepanjangan tangan perusahaan multinasional dunia," kata Wijanto.

Dia menambahkan, seharusnya pemerintah berhati-hati membuat kebijakan di sektor air. "Ketahanan pangan kita sangat bergantung pada ketahanan di sektor air. Jangan sampai untuk air saja kita tergantung pada korporasi asing," kata Wijanto.

Siswono juga mengingatkan, kebijakan pemerintah di sektor air akan sangat mempengaruhi ketahanan pangan nasional. Pengaturan mengenai irigasi harus diatur dalam bab khusus dan menjamin secara tegas dan jelas tentang pasokan air bagi petani. Dia juga mengkritisi adanya hak guna pakai air dan hak guna usaha air (Pasal 8 Ayat 1 dan Pasal 9 Ayat 1).

Hak guna pakai air adalah hak memanfaatkan air untuk keperluan pokok sehari-hari dan tidak memerlukan izin tertentu, sedangkan hak guna usaha air adalah hak mengusahakan sumber daya air untuk keperluan usaha dan harus mendapat izin dari pemerintah pusat atau daerah.

Petani rakyat dalam jaringan irigasi dikategorikan dalam pemilik hak pakai tanpa izin. Namun, petani di luar jaringan irigasi harus mendapat izin untuk mendapat hak pakai.

Contoh lainnya yang dapat merugikan masyarakat dan melecut konflik adalah badan usaha dan perorangan boleh mengusahakan sebagian dari wilayah sungai dengan izin dari pemerintah pusat atau daerah.

"Dengan demikian, akses masyarakat yang tergantung pada sungai akan menjadi sulit. Terlebih jika hak pengusahaan wilayah sungai tersebut ada di bagian hulu. Bagaimana jika masyarakat di daerah hilir sungai menjadi kurang memperoleh air," kata Wijanto.

Hal lain yang juga dikritisi Wijanto adalah perorangan dan badan usaha boleh memodifikasi cuaca atau memanfaatkan awan untuk keperluan pihak tersebut, setelah mendapat izin dari pemerintah (Pasal 38 Ayat 2). "Ini berlebihan sekali. Bagaimana jika suatu kelompok masyarakat petani tembakau, misalnya, yang justru dapat merugi dengan adanya hujan," kata Wijanto lagi.

Pemerintah tidak mampu

Secara terpisah, Direktorat Jenderal (Ditjen) Sumber Daya Air Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah Roestam Sjarief mengatakan, kondisi riil saat ini pemerintah tidak akan sanggup mengelola sektor air secara efisien. Oleh karena itu, tidak ada salahnya swasta dilibatkan untuk mengelola air demi terjaminnya perolehan air untuk masyarakat luas.

Menurut dia, pada awalnya air memang merupakan barang publik. Namun, seiring dengan semakin langkanya air, air bergeser menjadi barang ekonomi. "Sehingga pengaturan terhadap air harus dengan kaidah-kaidah ekonomi supaya air itu dimanfaatkan secara efesien," kata Roestam seusai rapat Panja di Hotel Imperial Aryadutha di Lippo Karawaci, Tangerang, Sabtu.

Dalam konteks di Indonesia, menurut Roestam, air berada pada posisi antara barang publik dan barang ekonomi, yaitu sebagai barang sosial. "Tetapi sebagai barang sosial yang pengelolaannya seharusnya ditanggung pemerintah, sanggup atau tidak pemerintah? Untuk kebutuhan dasar air minum saja tidak sanggup," ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut Roestam, pemerintah harus kreatif mencari sumber-sumber pembiayaan, salah satunya dengan melibatkan swasta. Pihak swasta nantinya dapat memfokuskan pelayanannya pada kalangan mampu. Sementara, dengan dana yang terbatas, pemerintah dapat melayani kalangan yang kurang mampu.

Ditanya, sejauh mana pelibatan swasta tidak akan menomorduakan rakyat miskin dalam memperoleh air dengan murah, Roestam menjawab, "Pemerintah sebagai pemberi izin yang akan mengawasi."

Roestam menambahkan, nantinya juga akan dibentuk Dewan Air Nasional yang terdiri dari unsur pemerintah dan nonpemerintah secara berimbang untuk merumuskan kebijakan dan strategi pengelolaan sumber daya air.

Namun, Nila mengkritisi komposisi Dewan Air tersebut yang menyebut unsur nonpemerintah jumlahnya berimbang. "Bagaimana bisa dikatakan berimbang kalau unsur nonpemerintah termasuk kalangan pengusaha. Kalangan masyarakat umum atau adat tidak jelas komposisinya," kata Nila seraya menambahkan, hak ulayat masyarakat hukum adat atas sumber daya air sangat dibatasi, dengan ketentuan harus dikukuhkan peraturan daerah setempat (Pasal 6 Ayat 3).

Pelayanan terbatas

Nila menilai RUU SDA enggan menjamin dengan tegas seluruh lapisan masyarakat dapat menjangkau air bersih. Hal itu tercermin dalam Pasal 77 Ayat 2. Di situ disebutkan, bantuan dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah kepada badan usaha milik negara (BUMN)/badan usaha milik daerah (BUMD) pengelola air untuk pelayanan yang ditujukan bagi kesejahteraan dan keselamatan umum hanyalah dalam batas tertentu.

"Negara dan pemerintah harus bertanggung jawab terhadap terjaminnya masyarakat luas memperoleh air. Bukan swasta yang pasti lebih bertanggung jawab kepada pemodal. Tidak ada satu negara pun, khususnya negara berkembang, yang terbukti berpihak pada rakyat luas setelah sektor airnya diprivatisasi," kata Nila.

Padahal, Perserikatan Bangsa-Bangsa pada November 2002 mengesahkan air sebagai hak asasi manusia dalam International Convenant on Economic, Social, and Cultural Rights. Disebutkan, air adalah sumber daya alam yang terbatas dan merupakan barang publik yang sangat fundamental bagi kehidupan dan kesehatan. Hak atas air adalah mutlak bagi manusia agar manusia dapat hidup secara bermartabat.

Lebih jauh Wijanto mengkhawatirkan maraknya sejumlah pemerintah kabupaten yang mendirikan pabrik air minum kemasan. "Mereka jadi cenderung mengalirkan air untuk pabrik ketimbang ke saluran Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Sebab, harga jualnya lebih tinggi," kata Wijanto.

Dia menambahkan, dibukanya peran swasta seluas-luasnya mendorong privatisasi PDAM secara sistematis di kemudian hari. RUU SDA sendiri menyebut jelas soal kemitraan dengan badan usaha (swasta), yaitu dalam pola bangun, operasikan, dan transfer (build, operate, and transfer), perusahaan patungan, kontrak pelayanan, kontrak manajemen, kontrak konsesi, kontrak sewa, dan sebagainya.

Rapat Panja yang sedianya dituntaskan Sabtu pekan lalu ditunda hingga Kamis (18/9). Alasannya, masih ada pasal-pasal yang perlu dibahas, khususnya adanya usulan baru yang belum disetujui, yaitu pembentukan badan regulasi air minum dan sanitasi.

Sistem Pembagi Air Secara Grafitasi dan Kapiler

Di sekitar lahan kering berlereng sering ditemukan sumber air tersembunyi yang dapat dimanfaatkan bagi rumah tangga atau pertanian. Sebagai contoh sumber air daerah aliran sungai wilayah Gunungkidul, tepatnya di kecamatan Semin, air tanah telah dimanfaatkan untuk 27 kepala keluarga (KK) dan mengairi tanah pertanian kurang lebih 1 ha. Contoh lain pemanfaatan air tanah dengan sistem gravitasi telah dilakukan di kecamatan Tempel dan Turi kabupaten Sleman untuk usaha irigasi salak pondoh, perikanan dan rumah tangga, sebagian besar dengan memanfaatkan air tanah dari lereng Merapi.
Pemanfaatan sumber air dengan sistem ini tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, karena biayanya cukup mahal. Secara kelompok pemanfaatan sumber air ini jauh lebih murah dan daya gunanya tinggi, karena biaya dipikul bersama. Selanjutnya yang perlu dipikirkan adalah bagaimana membagi air secara merata kepada anggota kelompok, sehingga setiap anggota mendapatkan air dalam jumlah yang sama meskipun tanpa petugas pengatur air. Ingin mencoba?Ikuti langkah-langkah berikut ini

1. Mencari Sumber Air.

  • Pencarian sumber air dapat dimulai dengan bertanya kepada tokoh atau pemuka masyarakat setempat.
  • Jika sumber air telah ditemukan, lakukan penghitungan debit aliran air, sebaiknya dikerjakan pada saat awal, pertengahan maupun akhir musim kemarau, sehingga datanya komplit.
  • Menghitung debit aliran, siapkan ember volume 10 liter dan stopwatch (biasanya terdapat pada handphone). Tampung aliran air dalam ember sampai penuh terisi dan catat berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengisi ember bervolume 10 liter tersebut. Debit air dapat dihitung dengan rumus:
Misal, ember bervolume 10 liter terisi penuh dalam 25 detik, maka debit aliran air = 10 liter : 25 detik = 0,4 liter/ detik atau 400 cc/detik, sehingga dapat dihitung debit aliran air dalam 1 hari (24 jam), yaitu 24 (Jam) X 60 (menit) X 60 (detik) X 0,4 liter = 34.560 liter/hari.
  • Jumlah air yang tersedia 34.560 liter/hari dapat digunakan oleh berapa orang atau berapa KK ? Jika kebutuhan air minimal per kapita per hari adalah 70 - 100 liter, maka setidaknya air yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk 345 orang. Jika setiap KK terdiri dari 5 anggota keluarga , maka air tersebut dapat dimanfaatkan oleh 345 orang : 5 orang = 69 KK.


2. Peralatan dan Bahan yang dibutuhkan
Alat : Ember, alat pertukangan, meteran, waterpas
Bahan : Selang, bis beton berukuran garis tengah 40 cm dan 80 cm, pipa pralon berukuran garis tengah 0,5 inchi dan 1 inchi, batu, pasir dan semen

3. Cara Pembuatan Jaringan Sistem Pembagi Air dan cara kerjanya

  • Pilihlah lokasi untuk membangun bak distributor sesuai kesepakatan warga setempat.
  • Lokasi bak distributor hendaknya lebih rendah dari posisi sumber air, sehingga air dapat dialihkan ke bak distributor.
  • Pembuatan bak distributor.
  • Bis beton 80 cm (selanjutnya disebut bak B) diletakkan ditempat yang datar dan lantai dasarnya disemen agar tidak bocor.
  • Bis beton 40 cm (selanjutnya disebut bak A) diletakkan bertumpuk ditengah bis beton ukuran 80 cm, pada bagian sambungan disemen agar tidak bocor.
  • Dengan demikian air yang melimpah dari bak A akan ditampung di bak B.
  • Misal kita akan menyalurkan air kepada 20 KK, maka pada bak A harus tersedia 20 lubang (pintu air), lubang-lubang tersebut dipasangi pipa paralon diameter 0.5 inchi yang telah dipotong-potong sepanjang 25 cm.
  • Artinya jika air dengan debit 0,4 l/detik atau 400 cc/detik mengalir dari sumber air ke bak A hingga terisi penuh, kemudian melimpah melalui lubang pipa paralon, maka debit aliran air yang keluar dari tiap pipa pralon adalah 400 cc/detik : 20 lubang = 20 cc/detik/ pipa paralon.
  • Selanjutnya 7 lubang disalurkan langsung ke rumah warga, berarti yang tersalurkan adalah 7 x 20 cc/detik = 140 cc/detik, sisanya (400 cc/detik - 140 cc/detik = 260 cc/detik) meluap melalui 13 lubang dan ditampung oleh bak B.
  • Pada bagian dinding bawah bak B dipasang paralon untuk menyalurkan air ke bak berikutnya (bak C) dengan debit 260 cc/detik).
  • Berikutnya kita buat bak distributor yang sama dan diletakkan di lokasi lain yang posisinya lebih rendah( kita sebut bak C dan D). Perhatikan gambar 2. Perbedaannya jika bak A memiliki 20 lubang pralon, maka bak C dibuat 13 lubang sehingga debit aliran air tetap sama 20 cc/detik/lubang (260 cc/detik : 13 lubang = 20 cc/detik/lubang).
  • Selanjutnya 5 lubang disalurkan ke rumah warga, berarti yang tersalur adalah 5 x 20 cc/detik = 100 cc/detik. Sisa air (260 cc/detik - 100 cc/detik = 160 cc/detik) yang tertampung pada bak D disalurkan ke bak E.
  • Bak E dibuat 8 lubang untuk disalurkan ke rumah warga, sehingga jumlah total pipa yang tersalur untuk warga adalah 7 KK dari bak A + 5 KK dari bak C + 8 KK dari bak E = 20 KK.


Cara perawatan

Bak-bak pembagi tidak perlu ditutup rapat agar tekanan permukaan sama, sehingga debit per lubang sama besar. Gotong royong pembersihan dan perawatan jaringan harus dilakukan secara rutin dan terjadwal, agar air tetap bersih dan jaringan tidak bocor ataupun tersumbat. Sisa air yang digunakan untuk keluarga dapat digunakan untuk minum ternak, perikanan maupun pertanian skala kecil.

Sumber: http://yogya.litbang.deptan.go.id

Air Bersih: Sumber Daya yang Rawan

Oleh Richard Middleton

Air merupakan unsur utama bagi hidup kita di planet ini. Kita mampu bertahan hidup tanpa makan dalam beberapa minggu, namun tanpa air kita akan mati dalam beberapa hari saja. Dalam bidang kehidupan ekonomi modern kita, air juga merupakan hal utama untuk budidaya pertanian, industri, pembangkit tenaga listrik, dan transportasi.

Semua orang berharap bahwa seharusnya air diperlakukan sebagai bahan yang sangat bernilai, dimanfaatkan secara bijak, dan dijaga terhadap cemaran. Namun kenyataannya air selalu dihamburkan, dicemari, dan disia-siakan. Hampir separo penduduk dunia, hampir seluruhnya di negara-negara berkembang, menderita berbagai penyakit yang diakibatkan oleh kekurangan air, atau oleh air yang tercemar. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, 2 miliar orang kini menyandang risiko menderita penyakit murus yang disebabkan oleh air dan makanan. Penyakit ini merupakan penyebab utama kematian lebih dari 5 juta anak-anak setiap tahun.

Sumber-sumber air semakin dicemari oleh limbah industri yang tidak diolah atau tercemar karena penggunaanya yang melebihi kapasitasnya untuk dapat diperbaharui. Kalau kita tidak mengadakan perubahan radikal dalam cara kita memanfaatkan air, mungkin saja suatu ketika air tidak lagi dapat digunakan tanpa pengolahan khusus yang biayanya melewati jangkauan sumber daya ekonomi bagi kebanyakan negara.

Banyak orang memang memahami masalah-masalah pencemaran dan lingkungan yang biasanya merupakan akibat perindustrian, tetapi tetap saja tidak menyadari implikasi penting yang dapat terjadi. Sebagian besar penduduk bumi berada di negara-negara berkembang; kalau orang-orang ini harus mendapatkan sumber air yang layak, dan kalau mereka menginginkan ekonomi mereka berkembang dan berindustrialisasi, maka masalah-masalah yang kini ada harus disembuhkan. Namun bagaimanapun masalah persediaan air tidak dapat ditangani secara terpisah dari masalah lain. Buangan air yang tak layak dapat mencemari sumber air, dan sering kali tak teratasi. Ketidaksempurnaan dalam layanan pokok sistem saluran hujan yang kurang baik, pembuangan limbah padat yang jelek juga dapat menyebabkan hidup orang sengsara. Oleh karena itu, meskipun makalah ini memusatkan diri terutama pada air dan sanitasi, dalam jangka panjang akan sangat penting memikirkannya dari segi pengintegrasian layanan-layanan lingkungan ke dalam suatu paket pengelolaan air, sanitasi, saluran, dan limbah padat yang komprehensif.

***Ketersediaan dan Kelangkaan Air

Air merupakan elemen yang paling melimpah di atas Bumi, yang meliputi 70% permukaannya dan berjumlah kira-kira 1,4 ribu juta kilometer kubik. Apabila dituang merata di seluruh permukaan bumi akan terbentuk lapisan dengan kedalaman rata-rata 3 kilometer. Namun hanya sebagian kecil saja dari jumlah ini yang benar-benar dimanfaatkan, yaitu kira-kira hanya 0,003%. Sebagian besar air, kira-kira 97%, ada dalam samudera atau laut, dan kadar garamnya terlalu tinggi untuk kebanyakan keperluan. Dari 3% sisanya yang ada, hampir semuanya, kira-kira 87 persennya,tersimpan dalam lapisan kutub atau sangat dalam di bawah tanah.

Dalam satu tahun, rata-rata jumlah tersebut tersisa lebih dari 40.000 kilometer kubik air segar yang dapat diperoleh dari sungai-sungai di dunia. Bandingkan dengan jumlah penyedotan yang kini hanya ada sedikit di atas 3.000 kilometer kubik tiap tahun. Ketersediaan ini (sepadan dengan lebih dari 7.000 meter kubik untuk setiap orang) sepintas kelihatannya cukup untuk menjamin persediaan yang cukup bagi setiap penduduk, tetapi kenyataannya air tersebut seringkali tersedia di tempat-tempat yang tidak tepat. Misalnya, lembah sungai Amazon memiliki sumber yang cukup tetapi mengekspor air dari sini ke tempat-tempat yang memerlukan adalah tidak ekonomis.

Selain itu, angka curah hujan sering sangat kurang dapat dipercaya, sehingga persediaan air yang nyata sering jauh di bawah angka rata-rata yang ditunjukkan. Pada musim penghujan, hujan sangat hebat, namun biasanya hanya terjadi beberapa bulan setiap tahun; bendungan dan tandon air yang mahal diperlukan untuk menyimpan air untuk bulan-bulan musim kering dan untuk menekan kerusakan musibah banjir. Bahkan di kawasan-kawasan "basah" ini angka yang turun-naik dari tahun ke tahun dapat mengurangi persediaan air yang akan terasa secara nyata. Sedangkan di kawasan kering seperti Sahel di Afrika, masa kekeringan yang berkepanjangan dapat berakibat kegagalan panen, kematian ternak dan merajalelanya kesengsaraan dan kelaparan.

Pembagian dan pemanfaatan air selalu merupakan isu yang menyebabkan pertengkaran, dan sering juga emosi. Keributan masalah air bisa terjadi dalam suatu negara, kawasan, ataupun berdampak ke benua luas. Di Afrika, misalnya, lebih dari 57 sungai besar atau lembah danau digunakan bersama oleh dua negara atau lebih; Sungai Nil oleh sembilan, dan Sungai Niger oleh 10 negara. Sedangkan di seluruh dunia, lebih dari 200 sungai, yang meliputi lebih dari separo permukaan bumi, digunakan bersama oleh dua negara atau lebih. Selain itu, banyak lapisan sumber air bawah tanah membentang melintasi batas-batas negara, dan penyedotan oleh suatu negara dapat menyebabkan ketegangan politik dengan negara tetangganya.

Karena air yang dapat diperoleh dan bermutu bagus semakin langka, maka percekcokan dapat semakin memanas. Di seluruh dunia, kira-kira 20 negara, hampir semuanya di kawasan negara berkembang, memiliki sumber air yang dapat diperbarui hanya di bawah 1.000 meter kubik untuk setiap orang, suatu tingkat yang biasanya dianggap kendala yang sangat mengkhawatirkan bagi pembangunan, dan 18 negara lainnya memiliki di bawah 2.000 meter kubik untuk tiap orang.

Lebih parah lagi, penduduk dunia yang kini berjumlah 5,3 miliar mungkin akan meningkat menjadi 8,5 miliar pada tahun 2025. Beberapa ahli memperkirakan bahwa tingkat itu akan menjadi stabil pada angka 16 miliar orang. Apapun angka terakhirnya, yang jelas ialah bahwa tekanan yang sangat berat akan diderita oleh sumber-sumber bumi yang terbatas. Dan laju angka kelahiran yang tertinggi justru terjadi tepat di daerah yang sumber-sumber airnya mengalami tekanan paling berat, yaitu di negara-negara berkembang.

Dalam tahun-tahun belakangan ini, sebagian besar angka pertumbuhan penduduk terpusat pada kawasan perkotaan. Pertumbuhan penduduk secara menyeluruh di negara-negara berkembang kira-kira 2,1 persen setahun, tetapi di kawasan perkotaan lebih dari 3,5%. Daerah kumuh perkotaan atau hunian yang lebih padat di kota yang menyedot pemukim baru termiskin tumbuh dengan laju sekitar 7% setahun.

Hunian pinggiran yang lebih padat sering dibangun secara membahayakan di atas tanah yang tak dapat digunakan untuk apapun, seperti bukit-bukit terjal yang labil atau daerah-daerah rendah yang rawan banjir. Kawasan semacam itu tidak sesuai dengan perencanaan kota yang manapun, dipandang dari segi tata-letak ataupun kebakuan. Karena kawasan semacam itu dianggap sah secara hukum dan bersifat "darurat", pemerintah kota biasanya tidak cepat melengkapinya dengan prasarana seperti jalan, gedung sekolah, klinik kesehatan, pasokan air, dan sanitasi. Namun sebenarnya hunian semacam ini tak pelak akan menjadi pola bagi kota yang harus dilayani dengan prasarana modern; hal ini mempunyai implikasi-implikasi baik untuk pemecahan secara teknis maupun secara lembaga yang akan diperlukan sebagai syarat supaya segala layanan mencapai semua orang dan berkesinambungan.

Di sementara negara, masalah terbesar mengenai persediaan air berkembang bukan hanya dari masalah kelangkaan air dibanding dengan jumlah penduduk, melainkan dari kekeliruan menentukan kebijakan tentang air, dan baru menyadari masalah-masalah tersebut lama setelah akibat yang tak dikehendaki menjadi kenyataan. Jadi meskipun penambahan investasi dalam sektor ini diperlukan, penambahan itu perlu disertai dengan perubahan: Prioritas utama haruslah pada cara pemanfaatan paling bijak terhadap investasi besar yang telah ditanam dalam sektor ini setiap tahun.

Penggunaan dan Penyalahgunaan Sumber Air

Pertanian beririgasi merupakan pengguna air terbesar. Pada umumnya lebih 80% dari air yang ada dicurahkan khusus untuk pertanian. Tetapi karena biasanya air disalurkan dengan gratis atau dengan tarif yang banyak disubsidi, maka kecil sekali dorongan niat untuk menggunakan air secara efisien, dan retribusinya, jika ada, tidak akan mencukupi untuk pemeliharaan yang layak. Maka hasilnya ialah penggunaan yang sangat tidak efisien efisiensinya kira-kira hanya di bawah 40% untuk seluruh dunia dan kemerosotan mutu yang semakin melaju pada sistem yang semakin besar.

Sesungguhnya efisiensi dapat ditingkatkan dengan baik dengan perbaikan cara pengoperasian dan pemeliharaan sistemnya perbaikan saluran, pendataran lahan supaya pembagian air dapat merata, penyesuaian antara banyaknya pelepasan air dari tandon dan keperluan senyatanya di daerah hilir, dan pengelolaan yang lebih efektif apabila air tersebut sudah sampai di lahan pertanian atau dengan menggunakan teknik yang lebih efisien seperti irigasi tetesan. Perbaikan-perbaikan semacam itu sangat penting mengingat besarnya dampak permintaan irigasi dan rasa keadilan bagi penduduk perkotaan yang berjuang untuk kelangsungan pasok air yang memadai. Sandra Postel, seorang pakar dalam penggunaan air dari Worldwatch Institute mengatakan: "Hanya dengan meningkatkan 10% efisiensi penggunaan air di seluruh dunia, kita akan dapat menghemat air yang cukup untuk memasok semua air keperluan hunian di seluruh kawasan dunia".

Penghamburan air sungguh disayangkan sebab biasanya hal tersebut tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas pertanian seperti yang diharapkan. Tiadanya penyaluran air yang baik pada lahan yang diairi dengan irigasi (untuk penghematan dalam jangka pendek) dapat berakibat terjadinya kubangan dan penggaraman yang akhirnya dapat menyebabkan hilangnya produktivitas.

* Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB memperkirakan bahwa, karena terjadinya penggaraman atau jeleknya drainase, seluas 45 juta hektar lahan pertanian beririgasi di negara-negara berkembang memerlukan reklamasi hampir separo dari 92 juta hektar tanah beririgasi di kawasan dunia berkembang.

Tabel 1: Lingkup Pasokan Air dan Layanan Sanitasi di Negara-negara Berkembang

PENDUDUK
( JUTA)

1980

1990


Jumlah Tanpa pasok air Tanpa sanitasi Jumlah Tanpa pasok air Tanpa sanitasi

Kota

933

213 (23%)

292 (31%)

1.332

243 (18%)

377 (28%)

Desa

2.303

1.613 (70%)

1.442 (63%)

2.659

989 (37%)

1.364 (51%)

Sumber: Hasil-hasil Dasawarsa Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Internasional (1981-1990). Laporan No. A/45/327 UNESCO, Juli 1990, dengan beberapa ralat kecil menurut Kinley, David berjudul "Running Just to Stay in Place", dalam Choice, Volume 2, No. 4, Desember 1993.

* Di sejumlah negara, terjadinya tanah kubangan dan penggaraman tanah telah menghilangkan produktivitas tanah pertanian beririgasi seluas lahan yang dibuka oleh proyek-proyek irigasi pada tahun-tahun akhir ini.
* Di Mesir, suatu negara dengan ekonomi langka tanah, hampir separo dari tanah yang dibudidayakan terutama di bagian barat delta Sungai Nil mempunyai tinggkat penggaraman yang demikian tinggi sehingga berdampak pada produksi tani, menurunkan hasil, dan mengarah pada penelantaran lahan irigasi, baik sementara maupun selamanya.
* Suatu perkiraan di Meksiko, hilangnya panen yang disebabkan oleh penggaraman tanah mencapai 1 juta ton panen bahan makan, suatu jumlah yang cukup untuk mencatu kebutuhan pokok makanan untuk 5 juta orang.

Industri sesungguhnya menggunakan air jauh labih sedikit apabila dibandingkan dengan irigasi, namun dampaknya mungkin parah, dipandang dari dua segi. Pertama, penggunaan air bagi industri sering tidak diatur dalam kebijakan sumber daya air nasional, maka cenderung berlebihan. Kedua, pembuangan limbah industri yang tidak diolah dapat menyebabkan air permukaan atau air bawah tanah menjadi terlalu berbahaya untuk dikonsumsi.

Penggunaan air bagi industri seringkali juga sangat tidak efisien. Karena tidak dapat memasok kebutuhan industri melalui sistem yang dikelola oleh pemerintah daerah, dan karena dorongan yang menggebu untuk pertumbuhan ekonomi, perusahaan industri mengembangkan sendiri jaringan airnya secara swasta. Biaya air semacam ini seringkali sangat rendah, dan karena biaya tersebut hanya merupakan bagian kecil dari seluruh biaya manufaktur, maka mereka tidak merasa terdorong untuk mengadakan konservasi. Sebagai contoh di Bangkok, Thailand, yang sangat menderita akibat penghisapan air bawah tanah yang berlebihan, biaya yang harus dikeluarkan air dari perusahaan air metropolitan berlipat delapan kali dari biaya yang diperlukan untuk memompa air tanah secara swasta.

Banyaknya air yang diperlukan untuk manufaktur dapat sangat berbeda-beda, tergantung pada proses industri yang diterapkan dan ukuran daur ulangnya. Memproduksi satu ton baja dapat saja menghabiskan sampai 190.000 liter air atau hanya 4.750 liter, dan satu ton kertas dapat menghabiskan sampai 340.000 liter atau hanya 57.000 liter. Pengaturan yang tepat untuk penyedotan air dan pengenaan biaya yang benar untuk air tersebut akan dapat mendorong orang untuk menggunakannya secara lebih efisien tanpa harus mempengaruhi biaya produksi secara mencolok. Biaya penggunaan air, bahkan di negara-negara yang tarifnya pun sudah sesuai dengan biaya menyeluruh pemeliharaan sumber, biasanya hanya merupakan bagian yang sangat kecil (1% sampai 3%) dari biaya produksi industri.

Tabel 2: Kemungkinan Pembatasan Penyakit Melalui Pasokan Air dan Sanitasi
Jenis penyakit Perkiraan banyaknya kasustiap tahun di negara-negara berkembang (kecuali cina) Kemungkinan penyusutan lewat peningkatan pasokan air dan sanitasi
Diare (murus)

875 juta

225 juta (26%)

Cacing gelang (askaris)

900 juta

260 juta (26%)

Cacing guinea

4 juta

3 juta (78%)

Cacing tambang

800 juta

615 juta (77%)

Trakoma

500 juta

135 juta (27%)

Karena keterbatasan data, semua angka di atas mengacu kepada kasus sakit, bukan kematian. Lagi pula hendaknya dicatat bahwa tindakan yang diambil dapat mengurangi kasus kematian tetapi bukan kasus sakit.

Sumber: Berdasar tulisan Esrey, Steven A., dkk, "Manfaat Kesehatan dari Perbaikan dalam Pasokan Air dan Sanitasi. Laporan Teknik No. 66 Pasokan Air dan Sanitasi Arlington, Virginia: Proyek Air dan Sanitasi untuk Kesehatan, Juli 1990.

Bahkan di industri-industri yang "padat air" jumlah air yang dipakai sangat kecil biasanya 20% pada industri pengolahan pangan, 25% pada industri kertas, dan 33% pada tekstil. Sisanya didaur-ulang (kecenderungan ini semakin meningkat di negara-negara industri) atau dikeluarkan sebagai limbah cair. Penentuan tarif yang lebih realistik, meskipun penting untuk sektor ini, tetap saja tidak merupakan dorongan untuk penggunaan yang lebih efisien. Yang lebih penting adalah pengetatan alokasi air dan persyaratan pengendalian pencemaran yang lebih keras. Contohnya seperti Israel yang memiliki peraturan standar penggunaan air untuk berbagai macam industri, dan memberi alokasi pembagian air yang disesuaikan. Sebagai hasilnya, di negara itu rata-rata penggunaan air per unit produksi industri anjlok hingga 70% selama dua dekade ini.

Air buangan industri sering dibuang tanpa melalui proses pengolahan apapun. Air tersebut dibuang langsung ke sungai dan saluran-saluran, mencemarinya, dan pada akhirnya juga mencemari lingkungan laut, atau kadang-kadang buangan tersebut dibiarkan saja meresap ke dalam sumber air tanah. Kerusakan yang diakibatkan oleh buangan ini sudah melewati proporsi volumenya. Banyak bahan kimia modern begitu kuat sehingga sedikit kontaminasi saja sudah cukup membuat air dalam volume yang sangat besar tidak dapat digunakan untuk minum tanpa proses pengolahan khusus.

Cara menolongnya adalah pencegahan bukan penyembuhan. Seperti laporan dari Bank Dunia dan Bank Investasi Eropa berjudul Pencemaran Industri di Kawasan Laut Tengah: "Perbaikan pada efisiensi dalam pengoperasian dan pemulihan sumber air jauh lebih baik dan kemungkinan besar akan memberikan hasil yang lebih banyak daripada pengolahan pada akhir proses yang mahal, sebab banyak masalah pencemaran berkaitan langsung dengan masalah-masalah pengoperasian dan pemeliharaan, serta rendahnya niat untuk konservasi dan pemulihan sumber air".

Penilaian terhadap masalah lingkungan di kawasan Laut Tengah yang dilaksanakan oleh kedua organisasi tersebut menemukan bahwa pengolahan primer terhadap limbah industri hanya akan menghabiskan biaya sebesar 10% hingga 20% dari biaya pengolahan secara lengkap, namun dapat membuang 50 hingga 90 persen bahan-bahan polutan yang paling berbahaya. Penyusutan buangan limbah industri yang efektif, termasuk pengolahan primer, mungkin akan lebih berdampak lebih baik terhadap lingkungan daripada mengutamakan cara pengolahan lengkap terhadap limbah perkotaan yang volumenya jauh lebih kecil.

Tabel 3: Perkiraan Modal untuk Penyediaan Pemasok Air Baru dan
Layanan Pembuangan Limbah Air *)


Th. 1900, jumlah penduduk yang terlayani (juta) Th. 2000, jumlah penduduk (juta) Tambahan jumlah penduduk yang akan dilayani (juta) Perkiraan biaya per unit dalam dolar tiap orang Jumlah keseluruhan biaya dalm juta dolar
Pasokan air perkotaan 1.089 1.900 811 1300 105.000






Pembuangan
limbah air
955 1.900 945 350 331.000




Jumlah 436.000
*) Angka-angka yang disajikan di sini lebih kecil dari jumlah sesungguhnya yang diperlukan untuk membangun dan mempertahankan biaya universal. Karena pada masa lampau penekanan dipusatkan pada membangun yang baru, banyak sistem yang sekarang tidak beroperasi lagi atau rusak berat dan memerlukan rehabilitasi, yang tentunya menambah beban berat terhadap kebutuhan finansial. Perkiraan di atas juga tidak memasukkan investasi besar yang diperlukan untuk keperluan perlindungan.

Sumber: Data penduduk dari hasil-hasil selama Dasawara Pasokan Air Minum dan Sanitasi 1981-1990. Laporan No. A/45/327, Dewan Ekonomi dan Sosial PBB, Juli 1990. Biaya satuan per kapita diperoleh dari evaluasi dan laporan proyek Bank Dunia. Perkiraan ini mengandaikan adanya sistem saluran air minum dan pembuangan terpusat yang penuh dalam rumah tangga. Angka-angka ini baru merupakan petunjuk dan hendaknya tidak dipakai untuk memperkirakan biaya untuk suatu wilayah tertentu.

Untuk memusatkan kepedulian pada jeleknya tingkat layanan di sektor air, PBB menjuluki tahun 1980-an sebagai "Dasawarsa Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Internasional". Ada beberapa peningkatan yang cukup nyata terutama dalam layanan penyediaan air kepada orang-orang miskin, tetapi pencapaian tersebut apabila dipandang dari segi lingkungan, idak sedramatik seperti yang diharapkan. Seperti ditunjukkan dalam Tabel 1, sampai akhir dasawarsa tersebut, meskipun ada banyak peningkatan jumlah orang yang dilayani, namun
ternyata jumlah orang di perkotaan yang tidak terlayani juga meningkat.

Kiranya pantas dicatat bahwa statistik yang dipaparkan pada Tabel 1 tersebut hampir dapat dipastikan terlalu optimistik. Misalnya, statistik tersebut tidak mengungkapkan mutu layanan yang mungkin saja rendah dan dapat mengancam lingkungan dan kesehatan masyarakat. Sangat sering statistik itu mengasumsikan bahwa sekali dibentuk, sebuah sistem akan terus bekerja dengan baik, padahal keadaan sesungguhnya tidak selalu demikian.

Masalahnya bukan hanya karena tidak cukup persediaan air; air yang ada itu pun tidak dikelola secara layak atau dibagikan secara merata.

* Bagian air yang hilang karena kebocoran terlalu besar. Dengan menengok kembali pengalaman selama bertahun-tahun, Bank Dunia menemukan bahwa "air yang tidak tertagih" rata-rata mencapai 35% dari keseluruhan pasokan (air yang tak tertagih = UFW/ unaccounted-for water, yaitu air yang diproduksi tetapi tidak menghasilkan uang karena kebocoran atau "kerugian administratif"). Menaikkan penjualan air dari 65% ke, katakan 85%, akan berarti penghematan 30% terhadap keadaan sekarang.

*Sering sebagian besar air yang tersedia hanya digunakan oleh sejumlah kecil konsumen besar. Dalam suatu kota, 15% sambungan bermeter dapat menghasilkan 85% pemasukan uang dari konsumsi air. Enam persen peringkat atas dari seluruh rumah tangga mengkonsumsi lebih dari 30% seluruh konsumsi domestik, 0,1% dari atas menggunakan lebih dari 6%. Bahkan hanya 3 rangkaian industri saja membayar separo dari jumlah keseluruhan konsumsi industri.

* Para pengguna tersebut membayar terlalu rendah untuk layanan. Biaya rata-rata untuk produksi air oleh proyek pemasok yang dibiayai oleh Bank Dunia dalam masa 1966-81 adalah $ 1,29 untuk setiap 1.000 galon (+ 3.800 l). Harga rata-rata untuk setiap 1.000 galon kira-kira $ 0,69. Karena tingkat rata-rata air yang tidak menghasilkan uang mencapai hingga 35% maka harga efektif setiap 1.000 galon menjadi hanya $ 0,45, atau kira-kira hanya 1/3 biaya memproduksinya.

* Kelompok orang lain terpaksa menggunakan alternatif yang mahal. Dale Whittington dan rekan-rekannya mencatat dalam tulisan yang berjudul Penyajian Air dan Pembangunan: Pelajaran dari Dua Negara, "Rumah tangga yang membeli air dari para penjaja membayar dua kali hingga enam kali dari rata-rata yang dibayar bulanan oleh mereka yang mempunyai sambungan saluran pribadi untuk volume air yang hanya sepersepuluhnya."

Karena masalah-masalah tersebut maka para pengusaha air di beberapa negara berkembang hidupnya sangat pas-pasan. Tarif yang dikendalikan secara politis biasanya terlalu rendah untuk menutup biaya produksi; namun demikian banyak tagihan rekening air tetap tidak terbayar, sehingga usaha perawatan untuk pencegahan tidak terpedulikan. Oleh karena itu banyak kota yang berputar semacam lingkaran: Perbaikan yang paling utama ditunda hingga sistem jaringannya mencapai ambang kerusakan, tepat pada waktu itu dimulailah babak baru suatu proyek penanaman modal yang besar. Pada gilirannya, karena desakan dari tuntutan layanan, hal tersebut akan menyebabkan pemerintah kota terjebak dalam masa depan yang tak menentu.

Dalam hal demikian, biasanya mereka lebih mudah memperoleh dana untuk membangun sistem penyediaan baru, yang secara politis sangat gampang dilihat, daripada mencari dana untuk memperbaiki barang-barang yang mendekati kebobrokan. Pemusatan perhatian pada perluasan pasokan dan tidak adanya kebijakan nasional yang mengharuskan pengalokasian air lebih efisien, mengarah pada keparahan penyedotan yang berlebihan terhadap jaringan lapisan sumber air bawah tanah di banyak negara, diiringi dengan akibat yang serius yang sebenarnya sudah dapat diperkirakan sebelumnya yaitu kelangkaan air, permukaan air yang jatuh di bawah saluran pompa penyedot, dan air garam yang terserap ke dalam jaringan lapisan sumber air dan menyebabkan air tak dapat dimanfaatkan untuk minum atau irigasi.

* Di beberapa tempat di negara bagian Tamil Nadu di India bagian selatan yang tidak memiliki hukum yang mengatur pemasangan penyedotan sumur pipa atau yang membatasi penyedotan air tanah, permukaan air tanah anjlok 24 hingga 30 meter selama tahun 1970-an sebagai akibat dari tak terkendalikannya pemompaan atau pengairan.

* Pada suatu konperensi yang diselenggarakan baru-baru ini, seorang wakil dari suatu negara yang kering melaporkan bahwa 240.000 sumur pribadi yang dibor tanpa mengindahkan kapasitas jaringan sumber air mengakibatkan kekeringan dan peningkatan kadar garam.

Penyia-nyiaan sumber air semacam ini tidak terbatas hanya pada negara-negara berkembang saja; eksploitasi yang berlebihan terhadap sumber-sumber juga merupakan masalah yang serius di banyak derah di Amerika Serikat. Seperlima dari seluruh tanah irigasi di AS tergantung hanya pada jaringan sumber air (Aquifer) Agallala yang hampir tak pernah menerima pasok secara alami. Selama 4 dasawarsa terakhir, sistem jaringan yang tergantung pada sumber ini meluas dari 2 juta hektar menjadi 8 juta, dan kira-kira 500 kilometer kubik air telah tersedot. Jaringan sumber ini sekarang sudah setengah kering kerontang di bawah sejumlah negara bagian.

Sumber-sumber air juga mengalami kemerosotan mutu. Di samping pencemaran dari limbah industri dan limbah perkotaan yang tidak diolah, sumber-sumber tersebut juga mengalami pengotoran berat dari sisa-sisa dari lahan pertanian. Misalnya, di bagian barat AS, sungai Colorado bagian bawah sekarang ini demikian tinggi kadar garamnya sebagai akibat dari dampak arus balik irigasi sehingga di Meksiko sudah tidak bermanfaat lagi, dan sekarang AS terpaksa membangun suatu proyek besar untuk memurnikan air garam di Yuma, Arizona, guna meningkatkan mutu sungainya.

Situasi di wilayah perkotaan jauh lebih jelek daripada di daerah sumber. Banyak rumah tangga yang terlayani terpaksa merawat WC dengan cara seadanya karena langkanya air, dan tanki septik membludak karena layanan pengurasan tidak dapat diandalkan, atau hanya dengan menggunakan cara-cara lain yang sama-sama tidak tuntas dan tidak sehat. Bahkan andaikan hal ini tidak mengakibatkan masalah dari para penggunanya sendiri, tetap juga sering berbahaya terhadap orang lain dan merupakan ancaman bagi lingkungan, sebab limbah mereka lepas tanpa proses pengolahan.

Itulah masalah-masalah para penerima layanan. Namun, kira-kira 30% penduduk perkotaan harus menerima keadaan bahwa mereka tidak memiliki perangkat sanitasi yang memadai. Hal ini berarti bahwa dalam suatu kota berpenduduk 10 juta orang, setiap hari ada kira-kira 750 ton limbah manusia yang tak tertampung dan menumpuk di sembarang tempat -mungkin 250.000 ton zat-zat penyebab penyakit tersebar di jalan-jalan dan di tempat-tempat umum, atau di saluran-saluran air.

***KEUNTUNGAN-KEUNTUNGAN
KONSERVASI DI BOSTON, MASSACHUSETTS

MWRA (The Boston Metropolitan Water Resources Authority) - badan yang mengurusi masalah sumber daya air di Boston - didirikan pada tahun 1985 untuk memberikan layanan air dan pembuangan limbah skala besar di kota metropolitan Boston untuk 2,5 juta orang dan lebih dari 5.000 pemakai industrial dan komersial. Pada saat itu rata-rata penggunaan air adalah 330 juta gallon perhari (mgd), atau 10% di atas perkiraan produksi yang aman sejumlah 300 mgd. (1 galon sama dengan 3.8 liter). Pada kenyataannya, daerah itu telah melampaui produksinya selama hampir 20 tahun.
Daripada membangun sumber baru yang mahal, MWRA menjalankan program manajemen yang komprehensif. Hasil program tersebut sangat dramatis: rata-rata penggunaan sekarang sekitar 260 mgd, berarti jauh di dalam ambang aman produksi sumber-sumber yang ada, dan tingkat konsumsi menurun ke seperti pada awal tahun 1960-an.

Program tersebut meliputi hal-hal berikut:
* Deteksi dan perbaikan kebocoran.
Ditemukan kebocoran sebesar sekitar 30 mgd pada lebih dari 9.600 kilometer pipa di masyarakat lokal dan sekitar 5 mgd lainnya di sepanjang 400 kilometer pipa MWRA.
* Meteran. Meteran penyediaan air direhabilitasi, dan banyak meteran eceran diperiksa secara teliti.
* Perbaikan dan modifikasi barang-barang desain lama di pemukiman. Kepada 730.000 rumah tangga di daerah tersebut ditawarkan pemasangan peralatan yang hemat air dan survei deteksi kebocoran. Pada saat penyelesaian pekerjaan ini, sekitar 360.000 rumah tangga telah berpartisipasi, dengan penghematan yang diperkirakan mencapai sekitar 5 mgd. Dengan biaya sekitar 9,3 juta dollar, ini adalah "sumber" air yang sangat murah.

* Industrial. Audit komersial dan institusional (yang menggabungkan energi dan air) ditawarkan dan hasilnya disebarluaskan. Dengan mengubah secara sederhana peralatan, perlengkapan dan pemeliharan, bisa diantisipasi penghematan sekitar 10% hingga 25%.









* Memodifikasi bangunan umum. Di tempat-tempat umum dipasang seribu toilet yang hemat air.

* Informasi untuk masyarakat. Meskipun keberhasilan program ini tidak mengadalkan pada perubahan perilaku masyarakat, kampanye luas melalui berbagai media membuat orang sadar akan tujuan dan apa yang telah dicapai program ini.
Konservasi biasanya dianggap hanya pantas dilaksanakan di daerah yang sangat kering atau rawan paceklik. Ternyata program ini dapat menjadi contoh bahwa konservasi juga bisa merupakan jalan keluar yang hemat terhadap masalah pasokan air di kota-kota di kawasan yang biasa dianggap "basah". Hasil yang bisa dinikmati konsumen individu bisa sangat dramatis. Sebuah bangunan pemukiman menghabiskan $66.000 untuk program modifikasi peralatan hemat air, dan dengan program itu tempat ini bisa menghemat $120.000 per tahun. Lembaga lainnya menghabiskan $5.000 selama dua tahun dan menghemat $31.000 untuk dua tahun berikutnya
.

Perpaduan antara jangkauan yang tidak memadai, layanan yang jelek dan pengolahan air limbah yang kurang layak mengakibatkan terjadinya kondisi hidup yang mengerikan. Di jalan-jalan dan tempat-tempat umum berceceran limbah manusia, saluran air mengangkut cairan limbah rumah tangga, dan pasokan air ledeng mengalir tidak teratur, sehingga limbah cair rumah tangga meresap ke dalam pipa pada saat tekanan airnya melemah. Dampaknya, terutama terhadap anak-anak, sangat mengerikan. Meskipun orang tampak sehat, mereka tidak akan seproduktif seperti selayaknya karena gangguan parasit pada usus. Keuntungan yang dapat diharapkan dari penyediaan air dan sanitasi yang lebih baik sangat tinggi, seperti yang dapat dilihat pada Tabel 2.

Tentunya biaya ekonomi untuk penyakit yang tidak dapat dihindari sangat tinggi, tetapi sukar untuk diperkirakan. Kerusakan sistem juga akan berdampak pada biaya lain-lain bagi para konsumen. Diperkirakan di Jakarta, Indonesia, 20 hingga 30 juta dolar dibelanjakan setiap tahun hanya untuk merebus air supaya aman untuk dikonsumsi. Andaikan jumlah uang ini digunakan untuk meningkatkan mutu penyediaan air, sangat diyakini akan membuahkan hasil yang sangat berarti untuk jangka waktu lama.

Tabel 3 memaparkan ancar-ancar perkiraan biaya untuk pengadaan layanan secara konvensional hanya kepada mereka yang tidak terlayani pada saat ini. Investasi untuk sektor air dan sanitasi selama tahun 80-an mungkin rata-rata mencapai 10 ribu juta dolar setiap tahun. Apabila investasi ini berlangsung dengan laju yang sama untuk tahun berikutnya, maka angka-angka pada tabel 3 akan menuntut kebutuhan untuk investasi kira-kira sebesar 67 ribu dolar setiap tahun untuk 5 tahun berikutnya hanya untuk mempertahankan cadangan layanan, tanpa menyembuhkan kerusakan-kerusakan di masa lalu.

Apabila dikelola dengan manajemen yang tepat air merupakan komoditas yang mengagumkan murahnya. Di Amerika Serikat, negara yang pada umumnya memberikan tingkat layanan yang tinggi, orang-pun masih tetap mengeluh tentang rekening air dan layanan pembuangan limbah air. Tetapi keluhan tersebut mungkin tidak mengaitkan masalah antara jasa yang mereka terima dengan uang yang mereka bayarkan, atau tanpa membandingkan harga layanan ini dengan komoditas lain. Di wilayah yang dilayani oleh Komisi Sanitasi Wilayah Kota (Wahington, D.C., dan daerah pinggirannya), suatu instansi yang terkenal paling mahal harga layanannya, biaya untuk pasokan air bagi rumah tangga sedang adalah $ 2,51 untuk 3.800 liter sepadan dengan hanya $ 0,60 dolar per ton. Sedangkan pembuangan dan pengolahan limbah cair hanya $ 0,90 per ton.

Hanya ada satu kesimpulan yang dapat ditarik dari pengalaman di seluruh dunia dalam sektor ini: Melanjutkan "urusan berjalan seperti biasa" sudah tidak lagi dapat diterima. Beruntunglah bahwa penekanan yang mantap pada pentingnya penyediaan air dan sanitasi selama dasawarsa terakhir ini telah berhikmah bagi kita dengan contoh-contoh yang sangat berharga tentang pendekatan-pendekatan yang telah membuahkan hasil; sekarang pendekatan-pendekatan ini perlu penerapan yang lebih luas.

Bergerak ke Depan

Evolusi pada sektor air di negara-negara berkembang menunjukkan sejarah kemajuan yang ajeg, dari air dan sanitasi tingkat rumah tangga hingga rancangan setingkat metropolitan dan regional. Hal ini seharusnya cukup memberi pelajaran kepada kita bahwa sesungguhnya tidak ada satu pun teknologi yang tepat untuk masalah-masalah dalam sektor ini. Demikian juga, perubahan-perubahan pada teknologi selalu disertai dengan perubahan yang searah pada reformasi lembaga dan pendanaan. Hal itu mengandung arti bahwa diperlukan sejumlah pendekatan (yang menawarkan bermacam pilihan teknik, finansial, dan institusional) untuk menyesuaikan dengan sifat-sifat sosial ekonomi penduduk yang dilayani, dan dapat ditingkatkan apabila dikehendaki oleh perubahan keadaan.

Juga perlu disadari bahwa negara-negara berkembang hendaknya tidak meniru sistem penyediaan air dan pembuangan limbah cair seperti negara maju. Lebih baik bila mereka mencipta sistemnya sendiri berdasarkan pelajaran di masa lampau untuk menanggapi kondisi masa kini, dan dengan demikian dapat menghindari kesalahan-kesalahan yang dapat mengakibatkan kegagalan sistem dan masalah lingkungan di negara-negara industri.

Ada tiga prinsip yang mendukung pembangunan masa depan yang sehat dalam sektor ini.

* Konservasi. Ini berarti menggunakan air hanya secukupnya saja untuk memenuhi kebutuhan yang senyatanya, tanpa pemborosan. Konservasi yang efektif biasanya meliputi suatu paket langkah pengendalian kebocoran, penggunaan peralatan untuk penghematan air, tarif yang berdaya mencegah pemborosan, dan kampanye untuk mendorong konsumen lebih sadar terhadap akibat penggunaan yang boros.

* Ketahanan. Ini berarti penggunaan teknologi dan sistem yang selalu siap bekerja dengan sumber-sumber daya yang dapat diperoleh dari lingkungan masyarakat yang dilayani, tanpa ketergantungan yang berlebih pada masukan dari luar. Sumber daya ini meliputi tidak saja keuangan, melainkan juga mengelola sistem dan ketrampilan yang diperlukan untuk merawat dan memperbaiki peralatan yang telah dipasang. Ketahanan juga meliputi peduli terhadap keberterimaan (yaitu menggunakan sistem air minum dan sanitasi yang disenangi masyarakat) dan juga peduli terhadap partisipasi masyarakat (dalam memilih teknologi yang akan diterapkan dan dalam menentukan cara mengelolanya, demikian juga dalam perencanaan, konstruksi, manajemen, dan operasi dan pemeliharaan yang tepat). Sistem yang tidak mampu berjalan atau yang tidak dimanfaatkan oleh masyarakat yang seharusnya dilayani merupakan penyia-nyiaan investasi sumberdaya.

* Sistem Melingkar (Circular System). Dengan meningkatnya tekanan jumlah penduduk terhadap sumber-sumber daya yang terbatas, maka kita perlu memikirkan sistem melingkar, bukan garis lurus. Kota yang membuang polusinya ke saluran air dan menyebabkan masalah bagi orang lain tidak bisa diterima lagi. Sebaliknya, air limbah yang telah diolah seharusnya dianggap sebagai suatu sumber bernilai yang dapat dipakai

*** Penyediaan Air Alternatif yang Dikelola oleh
Masyarakat di Tegucigalpa, Honduras

Di Tegucgalpa, Honduras, menyebarnya "barrios marginales" (daerah pemukiman liar) di banyak dataran tinggi yang sulit dicapai menyebabkan kelangkaan air yang parah. Masyarakat terpaksa membeli sejumlah kecil air dari pedagang keliling dengan harga mahal.

SANAA (badan yang menangani air dan sanitasi nasional Honduras) mendirikan sebuah kelompok istimewa, UEBM (Unit Barrios Marginales) untuk mengurusi masalah penyediaan air di kawasan tersebut. UEBM membantu dengan mendirikan tiga jenis sistem:

* Sistem konvensional, dengan sumur-sumur baru untuk melayani daerah-daerah sekitar tertentu.

* Penjualan air skala besar. Dengan ini masyarakat membangun tanki penyimpanan air yang disediakan oleh SANAA. Atau, kalau tanki sulit diperoleh, sebagai gantinya dipakai truk tanki. Karena gravitasi, air akan mengalir; atau bisa juga air dipompa ke tanki-tanki penyimpanan yang lebih kecil di seluruh pemukiman, dan dijual dengan harga yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga penjual keliling swasta.

* Perbaikan penampungan air hujan untuk menambah persediaan selama lima bulan musim hujan.

Unsur kunci perencanaan ini adalah peranan Himpunan Masyarakat Air dalam membangun dan mengatur sistem-sistem tersebut yang bisa sepenuhnya mandiri, sementara kelompok ini juga mampu menyediakan air dengan biaya lebih rendah. Sebagian besar pemasukan yang diperoleh menjadi dana berputar yang dipakai membantu mengembangkan sistem semacam itu di kelompok masyarakat lainnya. Sisanya dipakai untuk membantu mengembangkan proyek-proyek pengembangan lainnya (seperti sanitasi atau pembangunan jalan) di masyarakat pemilik dana tersebut.

Dalam waktu lima tahun, perencanaan seperti ini telah mampu melayani hampir 50.000 orang. Tetapi, meskipun pemecahan inovatif ini mampu membuat air menjadi lebih terjangkau, masyarakat di "barrios marginales" masih membayar 50% lebih mahal dibanding rumah-rumah tangga umum lainnya yang bisa sambung dengan jaringan kota.

untuk berbagai kebutuhan untuk irigasi, sebagai ganti air yang diambil dari lapisan sumber air bawah tanah, untuk memasukkan air ke jaringan-jaringan tersebut di sepanjang pantai guna mencegah perembesan air garam, dan dengan kewaspadaan yang benar, bisa dipakai untuk kebutuhan rumah tangga. Selain itu, unsur hara dalam limbah sebaiknya tidak begitu saja dibuang sehingga menyebahkan terjadinya rawa-rawa (eutrophication) di saluran-saluran dan sungai-sungai. "Setiap hari beribu-ribu ton unsur hara seperti nitrogen, fosfor, dan potasium, mengalir dari desa ke kota dalam bentuk makanan. Di seluruh dunia, lebih dari 2/3 unsur hara yang terdapat dalam limbah manusia di buang ke lingkungan dalam bentuk limbah cair yang tidak diolah," tulis Lester Brown dan Jodi Jacobson dari Institut Wordwatch. Dan, tentu saja, unsur hara yang hilang ini pada akhirnya harus diganti dengan pupuk petrokimia.

Proses pengambilan keputusan juga perlu diperbaiki. Terlalu banyak usulan proyek yang diterima hanya berdasarkan rendahnya biaya modal awal, tanpa mempertimbangkan faktor-faktor penting lainnya yang berhubungan dengan ketahanan (sustainability). Keputusan-keputusan seharusnya paling tidak didasarkan pada "biaya masa siklus" (life-cycle cost) yang meliputi semua biaya yang dibutuhkan untuk menjaga investasi yang diusulkan supaya tetap terawat dan beroperasi dengan efisien. Pertimbangan penting lainnya ialah bahwa sebenarnya ada pemecahan yang bisa dirancang secara lokal dan padat karya sehingga menciptakan banyak lapangan kerja. Pemecahan semacam ini memiliki kesempatan lebih besar untuk bisa terus beroperasi dan dengan demikian memberikan keuntungan jangka panjang, sementara pemecahan berteknologi tinggi sering macet setelah kerusakan ringan pertama tak bisa diperbaiki. Sayang, di tingkat atas sering ditemukan persekongkolan rahasia tak disengaja yang jauh lebih condong pada pemecahan modern dan canggih. Juga, buku-buku teks dan bahan-bahan untuk memberi gambaran pendekatan yang lebih sesuai sangat kurang. Selain itu, terbentang jurang lebar antara kenyataan ekonomi dan finansial pada banyak analisis proyek. Sebuah cara, "penyusutan perputaran uang", dipakai sebagai pembenaran ekonomi untuk menunda penanaman modal sampai tahap kedua yang dianggap pantas dikerjakan.

Untuk tingkat nasional, hal itu mungkin merupakan kebijakan yang bagus, tetapi sukar dimengerti oleh pemerintah daerah yang melulu harus berurusan dengan masalah keuangan dan mungkin tidak akan pernah lagi memiliki kesempatan untuk mendapat bantuan dari luar. Demikian juga, pengangguran dan setengah pengangguran dalam istilah ekonomi berarti buruh dapat "dihargai secara semu", yakni hanya bernilai satu bagian kecil saja dari biaya yang sesungguhnya. Tetapi, pemerintah kota tidak bisa menggaji pekerjanya serendah itu. Secara umum, kesenjangan antara lembaga lokal dan mereka yang berpikir secara makro ekonomis perlu dijembatani.

Selanjutnya, akibat jangka panjang yang tak bisa diperbaiki, misalnya kemerosotan mutu lingkungan dan habisnya sumber daya, perlu dinilai secara lebih realistis, supaya pengurasan dan pencemaran air oleh industri dan kota bukan lagi merupakan strategi yang secara komersial dianggap sehat.

Dampak kesehatan layanan air dan sanitasi merupakan contoh khusus dari biaya dan manfaat jangka panjang yang sering diabaikan. Pengembangan yang tidak seimbang (meningkatnya kuantitas persediaan air tanpa menyediakan sarana pembuangan limbah air atau sarana sanitasi pokok) secara politis memang populer, tetapi mungkin tidak menaikkan tingkat kesehatan sebab lingkungan tetap tercemar. Limbah industri yang tidak ditangani mungkin akan menimbulkan masalah kesehatan di kemudian hari. Dengan dampak kesehatan yang mungkin belum diketahui dari zat-zat kimia modern yang baru akhir-akhir ini saja ditemukan, industri dan pencemar potensial lainnya harus menanggung kewajiban untuk membuktikan bahwa kegiatan-kegiatan yang mereka rencanakan tidak merugikan. Hal ini terutama karena banyak industri membuang kombinasi zat kimia yang berpotensi merugikan sehingga lembaga-lembaga perlindungan tidak bisa mengantisipasi dan mengevaluasi buangan ini dengan sumber referensi yang mereka miliki.

***
Sanitasi di tempat (on-site
sanitation) untuk abad
ke-20: VIP dan PF

Kakus yang ditingkatkan dan diberi ventilasi (VIP) memecahkan dua problem utama kakus di luar rumah: bau dan lalat. Dengan memasang sebuah pipa ventilasi berdiameter besar dari lubang kakus ke atas atap, terjadilah aliran udara di ujung atas pipa. Lalat dikendalikan dengan memasang sebuah kasa di ujung atas pipa; tiap lalat yang menetas di dalam kakus terbang ke atas pipa dan dijebak oleh kasa itu, dan mati. Jika ada dua lubang kakus, maka yang satu digunakan selama beberapa tahun sampai hampir penuh kemudian diistirahatkan sementara lubang yang kedua bisa digunakan. Pada saatnya kemudian, isi lubang kakus yang pertama sudah berubah menjadi humus dan bisa digali serta digunakan dengan aman untuk tanah.

Meskipun pada awalnya adalah teknologi pedesaan, VIP sudah memperoleh pengakuan luas di daerah-daerah perkotaan, terutama di Afrika. VIP sangat akomodatif, bisa menerima berbagai bahan yang dipakai untuk membersihkan setelah buang air besar. Tetapi, sebagian besar penduduk dunia hanya menggunakan air untuk membersihkan. Karena itu, mereka bisa memasangkan kakus yang memiliki air sebagai penutup lubangnya (water-sealed unit), yang bisa disiram dengan tangan dengan menggunakan sedikit air.





Jenis toilet siram (PF) memiliki wadah yang secara hidraulis efisien dan dapat disiram dengan beberapa liter air saja, yang dihubungkan ke sepasang lubang pelarut yang dipakai secara bergantian. (Seperti VIP, lubang ini bisa dikosongkan setelah beberapa tahun dan humusnya bisa dipakai untuk menyuburkan tanah). Karena air tersimpan rapat dalam wadah, toilet ini bisa dipasang di dalam rumah. Jenis sanitasi ini sangat disukai di sebagian besar Asia, Amerika latin, Timur Tengah, dan Afrika utara. Biayanya sebanding dengan VIP, toilet PF jauh lebih murah daripada WC konvensional yang dihubungkan ke saluran pembuangan atau tanki septik. Meskipun memerlukan air (sekitar 2 liter untuk sekali siram), toilet ini masih lebih hemat juga dibandingkan dengan WC konvensional.

Suatu keputusan penting yang dibuat oleh pemerintah India selama tahun-tahun belakangan ini adalah membatasi pembuatan sistem saluran pembuangan baru. Perencanaan Terpadu Sanitasi Biaya Rendah Pemerintah Pusat dengan dana sekitar $65 juta untuk periode 1990-1997 membantu masyarakat di daerah-daerah perkotaan memperbaiki sanitasi mereka dengan memasang toilet-toilet PF. Untuk masyarakat berpenghasilan rendah, 45% dari biaya kakus itu merupakan pemberian gratis, dan yang 50% adalah pinjaman. Jadi, mereka hanya perlu menyumbang 5% dari sumber mereka sendiri.

Kebanyakan dari sektor ini "yang terbaik adalah musuhnya yang baik". Sementara peraturan kesehatan masyarakat mengharuskan rumah-rumah untuk memiliki sambungan saluran pembuangan, izin resmi untuk membuat lubang kakus sering ditolak, meskipun kakus ini bisa memberikan tingkat kesehatan yang tinggi, sedangkan sistem saluran pembuangan mungkin untuk selamanya di luar jangkuan kemampuan banyak orang. Demikian juga, keharusan untuk menggunakan teknologi tinggi untuk mengolah air sebelum dipakai untuk irigasi hanya menghasilkan irigasi yang tidak sah yang menggunakan air limbah mentah, karena fasilitas pengolahan yang diharuskan tidak terbeli dan sumber air lainnya tidak ada.

Contoh-contoh Praktis

* Perbaikan efisiensi irigasi. Dari sudut pandang penggunaan sumber daya air global, sangat penting untuk memperkenalkan cara-cara irigasi yang lebih efisien (misalnya, irigasi menetes yang banyak digunakan di Israel). Memperbaiki efisiensi irigasi bisa membebaskan air untuk bisa digunakan di daerah-daerah kota sekitar, seperti yang telah dilakukan di tempat-tempat tertentu di Amerika.

Di Imperial Valley di California, sedang dicobakan sebuah pendekatan inovatif untuk menemukan sumber daya air baru untuk memenuhi kebutuhan kota.

MWD (The Metropolitan Water District of Southern California) sedang membiayai tindakan-tindakan yang memperbaiki efisiensi sistem irigasi dengan menyediakan pengatur aliran air (reservoir) yang baru, memperbaiki kanal dan memasang lebih banyak monitor arus air. Sebagai imbalan, MWD bisa menggunakan 106.000 acre feet air (seluas 42.500 ha dengan kedalaman 1 kaki) yang bisa dihemat setiap tahun. (1 acre foot air sama dengan volume air seluas 0,4 hektar dan sedalam 0,3 meter). Demikian juga kota Casper di Wyoming, membayar petani untuk mengisi (dengan air) parit-parit irigasi mereka dan memasang peralatan irigasi yang bisa menghemat air. Sebagai gantinya, kota menerima air yang dihemat tersebut.

Aspek penting lainnya dari perbaikan efisiensi irigasi adalah pengakuan atas peranan kunci dari para "penerima keuntungan" dalam menciptakan struktur lembaga yang tepat. Sebelumnya, perbaikan irigasi hanya dianggap sebagai masalah teknik belaka; jika instalasi sudah terpasang dengan benar (sesuai dengan rancangan teknis departemen tingkat provinsi atau nasional), maka selanjutnya tinggal mengajari petani cara mengunakan persediaan air tambahan. Pendekatan semacam ini sudah tak bisa dipercayai lagi karena kegagalannya. Sekarang disadari bahwa dalam banyak kasus petani telah mengembangkan sendiri mekanisme untuk mengatur kanal pembagi, mengelola pembagian air, dan menyelesaikan perselisihan. Membangun berdasarkan pengaturan yang sudah ada jauh lebih mungkin untuk berhasil daripada mencoba memaksakan sistem baru dari luar.

Pendekatan tersebut telah diterapkan di Filipina sejak pertengahan 1970an, dan model tersebut telah diadaptasi untuk digunakan di negara-negara Asia lainnya, termasuk Srilanka, India, Indonesia, Thailand, Nepal dan Bangladesh. Ini model yang harus diterapkan lebih luas di bidang sanitasi dan penyediaan air kota karena sekarang sudah semakin disadari bahwa keberhasilan masyarakat sekitar kota tergantung pada pembicaraan yang tepat dengan masyarakat itu sendiri.

***
PENGOLAHAN LIMBAH YANG MENGHASILKAN: BUDIDAYA AIR DENGAN RUMPUT BEBEK

Sistem yang menggunakan gulma air rumput, sebagaimana penyeimbang konvensional, bergantung pada serangkaian proses pengolahan untuk memperoleh luapan yang berkualitas tinggi. Setelah disaring (dan dibuang kerikilnya, jika perlu) limbah diolah awal secara sederhana (biasanya di kolam yang tidak dipakai untuk memproduksi rumput bebek) dan dialirkan ke kolam rumput bebek atau ke beberapa saluran dangkal yang berbelok-belok tempat gulma tumbuh yang ukurannya cukup fleksibel. Dari sana rumput bebek dipindah ke kolam ikan berukuran kecil sehingga mudah dikuras atau dipompa. Hasil dari budidaya yang intensif bisa sangat mengagumkan - sampai 20 ton ikan per acre per tahun. (1 acre sebanding dengan 0,4046 hektar). Hasil yang sedang saja (tiga sampai empat ton per acre per tahun) sudah bisa memberikan sumber protein dan pemasukan yang tidak kecil bagi masyarakat lokal. Di Bangladesh, hasil permulaan menunjukkan bahwa gulma bisa diproduksi lebih kurang 0,5 ton per acre per hari (berat basah) yang kemudian bisa menghasilkan 45 kg makanan kering berprotein tinggi, atau menopang produksi ikan sebesar kira-kira 58 kg per acre per hari.

Tebing-tebing di antara saluran kolam gulma bisa dimanfaatkan untuk menanam tanaman yang menghasilkan uang seperti pohon miju (lentil) atau pisang. Secara keseluruhan sistem tersebut bisa memberikan hasil yang besar. Rumput bebek juga bisa dikeringkan untuk makanan ayam. Di Peru, dengan mengganti sampai 40% makanan ayam dari toko dengan gulma rumput bebek, ayam petelur bisa terjaga produksi telurnya dan menghasilkan warna kuning telur lebih baik yang merupakan faktor jual yang penting. Namun, ini mungkin merupakan cara pemanfaatan rumput bebek yang kurang efisien, dan pengeringan gulma mungkin bisa menimbulkan masalah di banyak kelompok masyarakat dan cuaca.









Pada semua kasus, air yang keluar dari kolam telah diolah sepenuhnya dan cocok untuk dilepas menjadi sumber air atau irigasi. Pada kenyataannya, air tersebut seringkali lebih bersih daripada air "segar" di daerah tersebut.

Kemampuan gulma untuk bertahan di lingkungan yang buruk mengisyaratkan adanya manfaat potensial lainnya, meskipun ini belum diuji di lapangan. Misalnya, gulma bisa mengumpulkan sisa-sisa logam di limbah industri sehingga bisa menghasilkan air yang cocok untuk dilepaskan menjadi aliran air atau irigasi; dan mungkin pada saat yang sama bisa memberikan pemecahan ekonomis untuk memulihkan sumber-sumber daya berharga yang kalau tidak ditangani akan bisa mencemari lingkungan.

Demikian juga, oleh karena gulma tumbuh subur dalam air yang agak asin, maka rumput bebek potensial digunakan untuk mengolah air yang berkadar garam tinggi, membersihkan air tanah sebelum digunakan untuk irigasi atau air minum, membersihkan saluran drainase irigisi sebelum digunakan kembali, atau mungkin mengubah lahan irigasi yang terlantar yang telah menurun produksinya karena perembesan air garam menjadi sistim budidaya air atau rumput bebek yang bisa memberikan pemasukan uang yang tinggi.

* Pilihan-pilihan yang lebih baik dalam proses industri. Kemungkinan untuk penghematan yang sangat besar dengan memerintahkan industri untuk menggunakan proses yang hemat air dan memanfaatkan daur ulang telah dikemukakan di depan. Pengawasan yang lebih ketat terhadap penyedotan air oleh industri (termasuk membebani industri dengan biaya yang realistis untuk penggunaan sumber-sumber daya ini) juga menghindari timbulnya masalah seperti yang dilaporkan ini: dihadapkan pada undang-undang yang mengharuskan limbah untuk mengandung lebih sedikit kosentrasi pencemar tertentu, industri-industri menemukan cara untuk menghemat dengan cara menambahkan air bersih pada limbah mereka supaya lebih encer dan bukannya berusaha untuk mengurangi jumlah kandungan pencemar.

* Konservasi. Meskipun menyediakan air adalah industri yang menghasilkan dan menjual produk, pada umumnya industri ini kehilangan 1/3 dari produksinya sebelum sampai pada konsumen. Di beberapa kota, lebih dari separo air hilang. Kehilangan yang tinggi ini membuat sulit atau tidak mungkin menciptakan kondisi penyediaan air yang memuaskan karena menyediakan lebih banyak air atau menambah tekanan pada sistem yang bobrok hanya menyebabkan luapan dan kebocoran yang lebih besar.

Program konservasi biasanya harus terdiri atas kegiatan-kegiatan yang dirancang untuk saling melengkapi. Di beberapa negara berkembang, dengan sistem lama yang kondisinya menyedihkan, prioritas pertama harus ditujukan pada pengurangan air yang terbuang.

Hal ini biasanya merupakan prasyarat untuk menciptakan kondisi penyediaan air yang lebih baik, dan sampai kondisi ini mulai membaik konsumen sering enggan untuk turut serta dalam bagian-bagian lain program ini.

Kampanye pengurangan UFW biasanya tidak mahal dibandingkan dengan biaya untuk menyelamatkan air. Kampanye ini memiliki periode pembayaran kembali yang pendek bahkan pada tingkat tarif sekarang ini, dan akan lebih menarik lagi jika dibandingkan dengan biaya mencari sumber air baru.

Di negara-negara berkembang yang layanan penyediaan airnya mungkin secara bergilir manfaat penting dari pengurangan UFW ini adalah bahwa hal ini memungkinkan pemulihan layanan 24 jam. Hal ini juga memiliki dampak kesehatan langsung dan menghindarkan polusi air minum yang disebabkan oleh kebocoran saluran limbah yang masuk ke pipa-pipa pada saat pipa-pipa tersebut tidak penuh. Air juga bisa dihemat sebab masyarakat tidak merasa harus mengisi setiap wadah di rumah mereka pada jam-jam penyediaan untuk berjaga-jaga kalau saat aliran air berikutnya mungkin tertunda atau hilang. Meteran juga bisa digunakan dan lebih awet. Dalam kondisi bergilir meteran bisa menjadi sangat tidak akurat karena adanya udara mampat yang melewati pipa pada saat pipa terisi lagi. Selain itu pipa pun bisa rusak karena kekeringan. Pengawasan sistem dan deteksi kebocoran yang ajeg juga jauh lebih sederhana begitu sistem itu diisi air dan sistem ini tidak membutuhkan peralatan yang canggih.

Langkah kedua ialah mengharuskan digunakannya peralatan yang menggunakan air dengan desain yang lebih efisien. Desain yang lama menggunakan lebih banyak air. Toilet, pancuran, dan kran hemat air buatan lokal harus merupakan satu-satunya yang tersedia di pasaran, dan insentif sebaiknya diberikan kepada mereka yang memodifikasi barang-barang desain lama supaya bisa digunakan lagi.

Sebelum ini, Amerika Serikat tertinggal dalam hal konservasi dibandingkan Eropa. Tapi sekarang Amerika sedang meluncurkan program-program semacam itu dalam jumlah besar dengan hasil yang mengagumkan. Sebagai contoh, di tahun 1988, San Simeon, California, memulai program modifikasi barang-barang desain lama untuk membuat toilet volume rendah (low-volume flush toilet/LVFT) dan ujung pancuran hemat air. Dimulai dari tempat-tempat yang banyak menggunakan air, misalnya sekolah, hotel, rumah sakit, dan pom bensin, ternyata volume air mubazir yang bisa dihemat mencapai 25%. Perluasan program ini ke daerah pemukiman dan pembatasan penggunaan air untuk menyiram tanaman di musim panas mengurangi penggunaan air secara keseluruhan dan air yang terbuang hingga 50%. Akibat lain ialah pulihnya jaringan sumber air tanah yang sebelumnya terkuras habis. Yang paling hebat adalah berkurangnya ongkos pemanasan air dengan sendirinya cukup untuk membiayai semua program.

Demikian juga, sebuah studi pilot yang meneliti contoh-contoh rumah tangga, tempat usaha dan tempat umum di kota Meksiko menemukan bahwa melengkapi tempat-tempat tersebut dengan toilet dan ujung pancuran yang hemat air bisa mengurangi pemakaian air hingga separo. Selain itu, sistem penyaluran air juga diperbaiki dan program modifikasi barang-barang desain lama juga dilancarkan.

Di beberapa negara berkembang, kondisi penyediaan air sangat tidak menentu sehingga pembicaraan tentang peralatan hemat air menjadi tampak lucu. Namun, bahkan dalam kondisi demikian air yang terbuang masih bisa banyak. Rumah-rumah orang kaya menggunakan peralatan boros air, dan orang-orang miskin mencuci di bawah kran yang mengalir terus. Dalam kondisi demikian peralatan hemat air akan bermanfaat karena yang kaya akan menggunakan lebih sedikit air sementara standar yang mereka inginkan tetap terjaga; yang miskin akan bisa berbuat lebih banyak dengan persediaan yang terbatas.

Unsur ketiga program konservasi air ialah tarif yang dirancang dengan tepat. Pada prinsipnya ongkos air harus naik sesuai dengan meningkatnya jumlah pemakaian air, sehingga untuk keperluan pokok air tersedia dengan harga yang terjangkau, tetapi jumlah yang lebih besar (yang digunakan untuk kemewahan, seperti menyiram kebun, mencuci mobil, dan mengisi kolam renang) secara progresif harganya naik.

Seringkali pungutan air tidak didasarkan pada pemakaian yang sebenarnya, atau kalau didasarkan pada meteran biasanya dengan memakai tingkatan tetap atau mendatar (flat unit rate) atau bahkan menurun yang tidak merangsang konservasi. Namun selain hal itu, ada masalah-masalah serius lainnya yang juga harus dipecahkan, seperti bagaimana menyediakan layanan yang terjangkau untuk orang tak mampu (di mana banyak orang menggunakan satu saluran air bersama-sama sehingga timbul kesan yang keliru bahwa air dipakai secara berlebihan), atau bagaimana menjalankan program meteran yang akurat. Tetapi, masalah-masalah tersebut bisa diatasi.

Pendidikan dan peran serta konsumen adalah unsur keempat program konservasi yang sangat penting. Penggunaan air adalah jumlah keseluruhan dari berbagai kegiatan harian. Jadi mengubah sikap perilaku sangatlah penting terutama di tempat yang kondisi penyediaan airnya buruk atau peningkatan tarif airnya sedang diusulkan.

* Teknologi Pengolahan Air. Banyak negara berkembang tidak memiliki sumber keuangan dan personil untuk memasang dan mengoperasikan sistem pengolahan air yang rumit. Bahkan, negara-negara maju pun membutuhkan teknologi yang sederhana dan tahan lama untuk daerah-daerah yang belum begitu maju. Sekarang ada kecenderungan ke arah penggunaan teknologi yang jauh lebih sederhana dan bukannya penggunaan sistem penyaringan rumit yang menggunakan berbagai bahan filter dan kontrol otomatis. Sebagai contoh adalah filter "laju menurun" (declining rate). Dalam filter itu air yang masuk dibagi merata di antara filter-filter dan tiap filter dicuci pada saat air di dalamnya mulai menggenang yang menandakan adanya sumbatan karena pasir atau bahan-bahan filter lainnya. Cara sederhana lainnya ialah dengan menggunakan `pasir lambat' (slow sand) yang awalnya diperkenalkan satu abad yang lalu di Eropa. Filter ini memiliki tingkat penyaringan yang rendah, tapi hampir tanpa bagian-bagian yang bergerak. Penjernihan biologisnya terjadi pada lapisan material yang terperangkap pada permukaan pasir. Dan ini dibersihkan kalau material itu mulai menyumbat filter.

* Standar Pasokan Air. Tata cara di banyak negara berkembang diwarisi dari administrasi pemerintah kolonial sebelumnya. Walaupun secara teknis bagus, aturan ini cenderung terasa berlebihan karena awalnya dirancang untuk diterapkan pada kondisi yang berbeda. Peninjauan kritis tentang standar yang ada sekarang akan menunjukkan bahwa lebih banyak lagi orang yang bisa dilayani dengan anggaran yang secara keseluruhan sama.

Sekarang tersedia program-program komputer yang mempermudah perancang untuk mengkaji efek penetapan parameter yang lebih tepat terhadap masyarakat yang dilayani daripada mengadopsi kriteria yang diimpor. Program-program semacam itu sekarang diterapkan sebagai sesuatu yang rutin di sejumlah negara (India, Filipina, Indonesia, Cina, Burma, Srinlanka, Thailand, dan Pakistan). Program ini memungkinkan perencana untuk merancang jaringan distribusi hemat biaya yang bisa dijalankan hanya dengan biaya separuh biaya jaringan konvensional.

Sebuah studi kasus di Filipina, mungkin merupakan sesuatu yang khas dari 40 sistem yang diperbaiki oleh Administrasi Perusahaan Air Minum Lokal dengan dukungan Bank Dunia. Dilaporkan bahwa modifikasi barang-barang rancangan lama menghasilkan turunnya biaya per kapita dari $45 ke $25. Ini adalah penghematan sekitar 45%. Penghematan ini berasal dari penggunaan pipa berpenampang lebih kecil untuk aliran yang kecil, penurunan ketentuan tekanan minimum untuk gedung satu tingkat, dan dirancangnya kemungkin pelayanan campuran daripada mengasumsikan bahwa setiap orang akan mampu membiayai saluran mereka sendiri.

* Peranan Masyarakat. Tegucigalpa, Honduras, adalah contoh khas dari banyak kasus keterlibatan komunitas yang lebih besar, yang sudah waktunya untuk diakui selama dekade ini sebagai unsur penting untuk ketahanan jangka panjang. Di daerah kota, pendekatan-pendekatan serupa dalam rencana perbaikan kota telah menghasilkan keterlibatan LSM dan kelompok-kelompok masyarakat. Penerapan pendekatan tersebut pada sanitasi dan penyediaan air telah membuahkan beragam rancangan berskala besar atau eceran untuk penyediaan air bagi masyarakat pemukim liar dan konsep menyeluruh tentang keterlibatan kelompok masyarakat dalam perencanaan dan konstruksi serta pengoperasian sistem air dan buangan.

Secara khusus, "tuntutan efektif" (effective demand) sebaiknya digunakan untuk menentukan tingkat layanan. Ini berarti bahwa masyarakat ditawari berbagai tingkat layanan dan bisa mendapatkan air sebanyak kemampuan membayarnya. Idealnya, hal ini bisa memungkinkan semua biaya layanan terbayar oleh mereka yang mendapat layanan , kecuali kalau ada keadaan sosial yang menuntut diberikannya subsidi.

Dan tentu saja, masyarakat bisa memilih pemecahan yang oleh perencana semula diperkirakan tidak akan populer. Di Filipina, penyediaan air yang bisa dijangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah sebenarnya dirancang akan diberikan melalui kran umum, meskipun sebenarnya air yang terbuang akan lebih sedikit seandainya orang-orang tersebut memiliki saluran sendiri. Namun, ternyata mereka justru lebih suka membayar semua biaya sambungan untuk saluran pribadi dan tidak bersedia untuk kran umum. Serupa dengan hal tersebut, di Cochabamba, Bolivia, para insinyur menemukan bahwa orang bersedia membayar lebih mahal untuk sambungan di halaman mereka daripada membayar untuk kran umum. Namun, dengan pelayanan yang sudah diperbaiki ini pun, mereka masih membayar 86% lebih rendah daripada seandainya mereka membayar ke pedagang keliling.

Contoh lain adalah masyarakat di Kumasi, Ghana. Kepada masyarakat ini diajukan pertanyaan: "Jika WC (yang dihubungkan ke sistem saluran pembuangan kotoran) dan lubang kakus yang diperbaiki dan diberi ventilasi (Kumasi Ventilated Improved Pit latrine/KVIP) membutuhkan biaya yang sama tiap bulan, maka manakah yang akan Anda pilih? Para perencana memperkirakan bahwa jika biayanya sama, mereka akan memilih WC. Tapi, ternyata hanya 54% yang memilih WC, sedangkan 45% memilih KVIP karena KVIP tidak menggunakan air sehingga akan tetap berfungsi seandainya sistem air rusak. Selain itu KVIP juga lebih sederhana namun lebih sulit untuk disalahgunakan. Penelitian seperti ini memiliki pengaruh penting terhadap perancangan proyek sanitasi.

* Rancangan Tarif yang Lebih Baik dan Mekanisme Pemulihan Biaya

Perusahaan-perusahaan air sering menggunakan biaya rata-rata atau biaya 'historis' sebagai dasar penentuan tarif air. Akibatnya, tarif yang mereka tentukan terlalu rendah karena dua hal. Yang pertama jelas: karena inflasi biaya sebenarnya telah meningkat sejak sistem dibangun. Sebab kedua yang agak rumit adalah: karena konsumsi air yang meningkat memaksa perusahaan untuk memperluas kapasitas produksi airnya, maka perusahaan harus mengembangkan sumber-sumber baru, dan tiap-tiap sumber itu secara progresif makin mahal dibandingkan sumber-sumber daya yang telah ada. Memang terpaksa demikian, kalau pemecahan yang makan biaya paling sedikit dipilih pada saat sumber-sumber itu sedang direncanakan. Dengan demikian perusahaan itu dihadapkan pada biaya marjinal dalam jangka panjang yang terus meningkat yang perlu dimasukkan ke dalam tarif supaya hal ini bisa mengurangi konsumsi berlebihan dan supaya bisa menunda kebutuhan untuk mengembangkan penyediaan tambahan yang baru dan mahal.

Besarnya kenaikan tarif mungkin akan mengagetkan para perencana. Penelitian Bank Dunia menemukan bahwa dalam hitungan yang sebenarnya (dengan nilai dolar tetap) biaya air per kubik meter untuk proyek yang disetujui pada tahun 1975 - 1981 besarnya tiga kali lipat proyek disetujui pada tahun 1966 - 1971. Mengulangi proyek di daerah perkotaan yang sama menunjukkan kecenderungan meningkatnya biaya perkubik meter lebih dari 200% antara proyek yang pertama dan kedua.

Pada tahun-tahun belakangan ini sudah ada kemajuan dalam pengubahan tarif yang mencerminkan biaya penyediaan air yang sesungguhnya tetapi yang juga tetap mempunyai tujuan sosial. Tarif-tarif ini menggunakan pembiayaan marjinal untuk mencerminkan biaya sumber daya yang sebenarnya, yang akan meningkat begitu konsumsi meningkat supaya orang tidak terangsang untuk boros air. Sementara itu ada juga tarif tingkat 'pertolongan' yang membantu orang-orang miskin supaya dapat menjangkau konsumsi minimum yang pokok.

Tarif seperti itu pada akhirnya harus memungkinkan perusahaan air untuk secara finansial bisa mencukupi dirinya sendiri, beroperasi dan merawat sistem-sistem mereka tanpa tergantung pada subsidi dari luar.

Penggunaan 'tuntutan efektif' dan kesadaran bahwa sistem yang berakar pada masyarakat memiliki kemungkinan lebih bagus untuk diterima dan dengan demikian juga meningkatkan pemulihan biaya telah membawa perubahan pula pada cara penagihan.

Di sebuah daerah miskin di Honduras, di musim kering air didapat dari sungai atau dari pedagang keliling tradisional dengan biaya 50 sen untuk 10 l air. Dengan mendirikan koperasi air dan membeli air dalam jumlah besar dari pemerintah kota, harga air dari kios sekitar turun menjadi 10 sen untuk 10 l air. Dua kepala rumah tangga perempuan yang mengelola kios dibayar dari uang yang masuk. Setiap tiga bulan sekali pengelola kios diganti, dengan demikian kesempatan mendapat kerja dapat dinikmati oleh beberapa keluarga.

Di sistem lain di Afrika yang juga dikelola masyarakat, pemakai membeli tanda dari plastik, dan setiap tanda plastik itu bisa ditukar dengan 25 l unit air di toko-toko sekitar kios. Tarif itu sama dengan tiga kali lipat jumlah yang dibayar perkumpulan tersebut ke bagian penyediaan air di kota. Kelebihan tersebut kemudian dipakai untuk membiayai pengoperasian dan perawatan, membayar kembali pinjaman untuk membangun, dan menambah jumlah kios. Proyek ini telah menghasilkan 20 pekerjaan penuh waktu dan mengurangi biaya air sebesar faktor 3 hingga 7 dibandingkan dengan kalau membeli dari pedagang keliling tradisional.

Pengumpulan Sanitasi

Hampir tiap orang mengetahui `masalah air'. Tapi hampir tak seorangpun di luar sektor itu yang tahu bahwa ada masalah sanitasi yang sama seriusnya dengan masalah air yang telah mendapat publikasi lebih baik. Padahal, terdapat hubungan yang erat antara masalah sanitasi dan penyediaan air.

* Kesehatan. Semua penyakit yang berhubungan dengan air sebenarnya berkaitan dengan pengumpulan dan pembuangan limbah manusia yang tidak benar. Itulah sebabnya estimasi pengurangan penyakit di tabel 2 menunjuk ke penyediaan air dan sanitasi. Memperbaiki yang satu tanpa memperhatikan yang lainnya sangatlah tidak efektif.

* Penggunaan air. Toilet siram desain lama membutuhkan 19 liter air dan bisa memakan hingga 40% dari penggunaan air untuk kebutuhan rumah tangga. Dengan jumlah penggunaan 190 liter air per kepala per hari, mengganti toilet ini dengan unit baru yang menggunakan hanya 0,7 liter per siraman bisa menghemat 25% dari penggunaan air untuk rumah tangga tanpa mengorbankan kenyamanan dan kesehatan. Sebaliknya, memasang unit penyiraman yang memakai 19 liter air di sebuah rumah tanpa WC bisa meningkatkan pemakaian air hingga 70%. Jelas, hal ini tidak diharapkan di daerah yang penyediaan airnya tidak mencukupi, dan hal tersebut juga bisa menambah jumlah limbah yang akhirnya harus dibuang dengan benar.

* Biaya dan pemulihan biaya. Biaya pengumpulan, pengolahan dan pembuangan limbah meningkat dengan cepat begitu konsumsi meningkat. Merencanakan hanya satu sisi penyediaan air tanpa memperhitungkan biaya sanitasi akan menyebabkan kota berhadapan dengan masalah lingkungan dan biaya tinggi yang tak terantisipasi.
Pada tahun 1980, Bank Dunia melaporkan bahwa dengan menggunakan praktek-praktek konvesional, untuk membuang air dibutuhkan biaya lima sampai enam kali sebanyak biaya penyediaan. Ini adalah untuk konsumsi sekitar 150 hingga 190 liter air per kepala per hari. Informasi lebih baru dari Indonesia, Jepang, Malaysia dan A. S. menunjukkan bahwa rasio meningkat tajam dengan meningkatnya konsumsi; dari 1,3 berbanding 1 untuk 19 liter per kepala per hari menjadi 7 berbanding 1 untuk konsumsi 190 liter dan 18 berbanding 1 untuk konsumsi 760 liter.
Perlu diperhatikan pula bahwa pungutan untuk saluran pembuangan limbah biasanya jauh lebih rendah dari pada pungutan air, padahal biaya pembuangan limbah lebih tinggi.
Juga, perusahaan-perusahaan air berhasil melakukan kontrol atas tingkatan pungutan dan bisa memberikan sangsi (seperti menghentikan layanan) apabila pungutan tak dibayar. Sementara itu, pungutan pembuangan limbah di banyak negara hanyalah sebagian kecil dari pendapatan umum pajak kota yang tidak hanya terlalu kecil tapi juga tidak ditarik; atau, kalaupun ditarik, dialihkan pada bagian operasi kota lainnya.

* Penggunaan ulang air. Jika sumber daya air tidak mencukupi, air limbah merupakan sumber penyediaan yang menarik, dan akan dipakai baik resmi disetujui atau tidak. Karena itu peningkatan penyediaan air cenderung mengakibatkan peningkataan penggunaan air limbah, diolah atau tidak. Masalah yang harus dipertimbangkan oleh perencana adalah mereka juga harus memperhatikan sumber-sumber daya tersebut supaya penggunaan ulang ini tidak merusak kesehatan masyarakat.
Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut, banyak perhatian telah diberikan pada pembuatan sistem sanitasi yang tahan lama, hemat air, bisa diterima oleh orang-orang yang akan memakainya, dan memungkinkan penggunaan kembali limbah yang telah diolah. Pengembangan sanitasi yang paling penting dalam dekade ini adalah pengesahan bentuk-bentuk sanitasi yang sebelumnya dianggap primitif. Setelah beberapa tahun penelitian terapan dan kemajuan teknologi, kakus luar rumah telah ditransformasi menjadi instalasi sederhana tapi canggih yang memberikan tingkat kenyamanan dan kesehatan yang tinggi. Dua teknologi penting yang berhubungan dengan kakus ini adalah: lubang kakus yang diperbaiki dan diberi ventilasi (Ventilated Improved Pit latrine/VIP latrine) dan toilet siram guyur (Pour Flush Toilet/PF toilet). Dua teknologi ini biayanya jauh lebih sedikit daripada toilet konvensional yang dihubungkan ke tanki septik atau sistem saluran pembuangan. Bank Dunia menunjukkan adanya keuntungan biaya sekitar 15 berbanding 1.

Lubang kakus VIP dan PF memiliki beberapa kelebihan dibandingkan sistem di tempat ("on-site system") yang tradisional dan sistem saluran pembuangan konvensional. Kelebihan-kelebihan itu adalah:

* Lubang kakus VIP dan toilet PF sederhana, bisa diandalkan, higienis dan terjangkau biayanya.
* Bisa dibangun dengan bahan-bahan lokal dan hanya membutuhkan sedikit keahlian teknis untuk perancangannya, dan bisa dibangun sendiri oleh individu atau masyarakat hanya dengan bantuan secukupnya saja dari luar.
* Membutuhkan sedikit ruang sehingga cocok untuk daerah yang penuh sesak.
* Tetap bisa beroperasi meskipun air langka. Untuk beroperasi VIP tidak membutuhkan air, sedangkan toilet PF hanya butuh dua liter air per siraman (plus air yang digunakan untuk membersihkan badan) dan air inipun bisa didapatkan dari air buangan (bekas untuk mandi, mencuci dan semacamnya).
* Pengolahan kotoran yang rumit tidak dibutuhkan. Jika ada lubang-lubang kakus yang bisa digilir pemakaiannya maka lubang-lubang kakus ini memungkinkan pengolahan kotoran di tempat itu juga dan pemulihan unsur hara yang aman untuk tanah.
* Bisa diubah menjadi sistem yang lebih canggih.
* Yang lebih penting lagi, teknologi ini sangat disukai oleh orang-orang yang memakainya.

Begitu konsumsi air dan kepadatan penduduk meningkat, sistem 'on-site' tidak lagi bisa mengatasi volume limbah kotoran yang makin banyak. Salah satu pemecahan tradisional masalah itu ialah penggunaan tanki septik untuk mengolah limbah sebelum limbah kotoran itu dibuang ke resapan bawah tanah. Tetapi cara ini mahal dan mudah gagal. Resapan akan buntu jika muatannya luber, seperti yang sering terjadi karena tanki tidak dikosongkan dengan benar. Sebagai akibatnya, luapan yang terolah dengan buruk dibuang secara melanggar hukum ke selokan-selokan di pinggir jalan atau menjadi genangan-genangan di permukaan.
Jalan keluarnya ialah dengan menggunakan saluran pembuangan bebas limbah padat (solids-free sewarage/SFS) yang awalnya dikembangkan di A.S. dan Australia dan sekarang menyebar ke negara-negara berkembang. Sistem ini menggunakan jaringan pipa kecil (seringkali dari plastik) yang dipasang untuk membawa luapan dari tanki septik ke suatu tempat kemudian dibuang ke saluran pembuangan utama atau ke instalasi pengolahan. Selain mengumpulkan luapan tanki septik, SFS bisa digunakan di instalasi-instalasi baru asalkan ada tanki antara sederhana yang memungkinkan pengolahan awal.
Brazil adalah salah satu negara yang memelopori pengembangan sistem pembuangan kotoran yang murah. Proyek perintisnya menggunakan "sistem pembuangan kotoran yang disederhanakan" (simplified sewerage) yang merupakan adaptasi dari sistem pembuangan konvensional dengan menggunakan kriteria yang mencerminkan kemajuan pengetahuan sekarang dan tersedianya bahan. Dengan cara ini biaya bisa dihemat hinga 40% sampai 50%. Desain ini memungkinkan lebih sedikit lubang got, waktu merancang yang lebih pendek, dan ukuran-ukuran pipa minimum yang lebih kecil (pipa plastik yang sekarang sudah menggantikan pipa beton atau tanah), serta pipa ditanam lebih dangkal (karena udara dingin bukan masalah di sebagian besar negara berkembang).
Dulu, sistem yang terpusat lebih mendapat perhatian. Tetapi, dengan urbanisasi yang makin cepat, kondisinya menjadi tidak ekonomis untuk mengumpulkan kotoran ke tangki antara yang besar dan membawanya ke suatu pusat untuk diolah. Juga, dengan mengingat kegagalan sistem pengolahan di masa lalu, hal ini bisa menyebabkan bencana lingkungan. Jalan keluar dari masalah ini yang lebih baik adalah dengan membuat instalasi yang tidak terpusat, dan setiap instalasi melayani suatu bagian kota. Dengan cara ini biaya bisa dihemat secara signifikan. Di kota Toledo di negara bagian Parana, Brasilia, diperkirakan bahwa dengan menyediakan 15 instalasi pengolahan dan tidak hanya dua, penghematan bisa mencapai 15%. Instalasi yang tidak terpusat seperti itu juga mampu mengatasi salah satu masalah yang muncul dengan adanya urbanisasi yang tak terkendali saat ini, yaitu: hampir tidak mungkin merancang pemecahan yang memakan lebih sedikit biaya untuk instalasi pengolahan yang terpusat dengan usia desain paling tidak 20 tahun jika para perencana kota tidak bisa menentukan pola penggunaan tanah di kota di masa yang akan datang.
Di banyak negara berkembang, limbah cair sering dibuang tanpa diolah, atau limbah melewati instalasi pengolahan yang cara kerjanya tidak beres sehingga aliran yang keluar dari instalasi tersebut tidak lebih baik daripada limbah mentah. Banyak orang tidak menyadari bahwa seandainyapun pengolahan limbah konvensional yang ada bekerja cukup efektif, aliran yang keluar masih tetap sangat 'patogenis'. Karena aliran itu akan dan seharusnya digunakan lagi untuk penyediaan air atau irigasi, hal ini jelas merupakan masalah yang serius.
Jalan keluar ideal dari masalah ini ialah dengan menggunakan kolam-kolam penyeimbang (stabilisator) untuk pengolahan. Kolam-kolam yang mudah dirawat dan dioperasikan ini memberikan waktu penahanan yang lama sehingga patogen-patogen itu bisa mati secara alami. Dalam kondisi yang sesuai, aliran dari kolam ini atau sistem pengolahan yang lain bisa diberi 'polesan' akhir di tanah-tanah rawa, alami atau buatan. Teknik ini relatif baru, tapi tampaknya akan bertambah penting di masa mendatang.
Masalah utama dengan kolam penyeimbang adalah dibutuhkan tanah luas yang langka di kota-kota besar.
Untuk masalah ini ada tiga jalan keluar. Pertama, membagi kota menjadi sub-sub bagian dan menggunakan sistem pengolahan tak terpusat. Dengan cara ini biaya bisa dihemat. Cara kedua ialah meletakkan kolam-kolam ini agak di luar kota. Ketika kota meluas, kolam bisa 'didaurulang' untuk pengembangan kota, dan limbah cair yang masuk dipompa ke dalam kolam baru yang letaknya lebih luar lagi. Cara ketiga ialah mengadopsi cara pengolahan limbah yang sedikit berbeda. Jika kolam penyeimbang dipakai untuk menumbuhkan gulma rumput bebek (lemna), maka kolam ini nanti bisa digunakan untuk berternak ikan; atau jika rumput bebek itu dikeringkan bisa menjadi makanan ikan dan unggas. Cara ini mengubah limbah yang sebelumnya merupakan masalah kota yang memakan banyak biaya menjadi sumber protein yang menghasilkan pemasukan uang. Produktivitas kolam ini begitu tinggi sehingga bentuk budidaya air ini mungkin secara ekonomi akan sangat menarik kecuali sampai tanah itu hampir habis termakan pengembangan kota.
Bentuk pengolahan limbah kotoran yang menggunakan rumput bebek atau tanaman lain seperti bunga bakung air sebenarnya secara informal telah ada selama bertahun-tahun. Namun sekarang cara ini dikembangkan sebagai alat yang lebih resmi dan sistematis untuk memecahkan kebutuhan daerah perkotaan. Di Calcutta misalnya, suatu sistem budidaya air dengan pakan limbah cair sekarang bisa menghasilkan 20 ton ikan segar setiap hari untuk dijual di kota itu. Suatu sistem rumput bebek di Bangladesh yang mengolah limbah cair dari 3.000 orang membutuhkan biaya operasi kurang dari 200 taka per hari. Rumput bebek yang dipanen (0.5 ton basah per hari) dan diolah sebagai makanan unggas bernilai sekitar 500 taka per hari; kalau digunakan untuk beternak ikan malah bisa menjadi 3. 500 taka per hari. Ini mungkin merupakan satu-satunya instalasi pengolahan limbah berkesinambungan di dunia yang menghasilkan keuntungan dari operasinya.

Kesimpulan

Kelangkaan air sudah merupakan kenyataan di banyak negara berkembang yang akan makin memburuk dengan meningkatnya jumlah penduduk. Urbanisasi yang cepat mengakibatkan masalah serius dalam hal penyediaan dan pemeliharaan layanan air dan sanitasi yang pokok di daerah-daerah perkotaan.
Konservasi sumber-sumber daya, penggunaan yang efisien, dan penyediaan layanan yang berkesinambungan, terjangkau dan diterima bagi setiap orang harus lebih diperhatikan daripada pelayanan yang diperuntukkan bagi sedikit orang terpilih, dan penggunaan teknologi yang membutuhkan subsidi besar yang akan macet hanya dalam waktu singkat.
Teknologi manapun yang bisa memenuhi kriteria tersebut harus dianggap cocok. Dari sistem yang sederhana tapi jalan lebih banyak manfaat yang bisa diharapkan daripada dari yang mewah tapi macet. Hal ini bisa berarti memulai dengan membuat kran umum untuk penyediaan air dan kakus VIP untuk layanan sanitasi yang sudah merupakan perbaikan besar daripada sekedar menunggu hingga sistem yang 'tepat' bisa didirikan. Pada saat yang bersamaan masyarakat berharap bisa memperbaiki sistem mereka begitu situasi dan kondisi memungkinkan. Dan kemungkinan ini harus menjadi pilihan.
Banyak kelompok masyarakat di negara berkembang memiliki banyak sumber daya tertentu tapi miskin keahlian dan peralatan impor. Karena itu proyek yang diharapkan bisa tahan lama harus lebih menekankan pada pengembangan industri lokal untuk manufaktur dan konstruksi. Kekokohan harus lebih ditekankan daripada keterandalan; maksudnya, memungkinkan perbaikan cepat sesuatu yang rusak dengan memakai sumber-sumber daya lokal yang ada.
Perencana perlu berpikir "kecil dan lokal". Membuat perencanaan yang besar dan terpusat memerlukan pengendalian atas urbanisasi yang akan datang. Di banyak negara berkembang kendali inilah yang tidak ada, dan mungkin adanya proyek-proyek besar yang terpusat itu secara ekonomis tidak lagi signifikan.

Proyek-proyek harus `sirkular', bukan `linear'. Idealnya, limbah harus diolah dan didaur ulang di tempat limbah itu berasal. Membuang limbah sehingga menjadi masalah bagi masyarakat lain tidak lagi bisa diterima.

Akhirnya, penyediaan air harus diintegrasikan dengan layanan lingkungan perkotaan yang lainnya. Terutama, dalam kaitan eratnya dengan sanitasi, dua hal ini harus dikembangkan secara paralel. Tetapi, sanitasi tidak akan dianggap sebagai prioritas penting tanpa adanya saluran pembuangan air (selokan-selokan) dan selokan tidak akan jalan tanpa adanya pengelolaan limbah padat yang lebih baik.

Manfaat dan perlindungan optimal terhadap lingkungan hanya bisa diberikan oleh paket layanan terpadu yang dirancang dengan baik.

Daftar Pustaka

Azevedo Netto, José M. Innovative and Low Cost Technologies Utilized in Sewerage. Environmental Health Program Report No. 29, Washington, D.C.: Pan American Health Organization, March 1992.

Esrey, Steven A. et al. Health Benefits From Improvement in Water Supply and Sanitation. WASH Technical Report No. 66. Arlington, VA.: Water and Sanitation for Health Project, July 1990.

Feachem, Richard G., David J. Bradley, Hemda Garelick, and D. Duncan Mara. Sanitation and Disease; Health Aspects of Excreta and Wastewater Management. New York: John Wiley & Sons, Inc., 1983.

Franceys, R. J. Pickford, and R. Reed. A Guide to the Development of On-Site Sanitation. Geneva, Switzerland: World Health Organization, 1992.

Hébert, Paul., and Yniguez, Cesar. Sensitivity of Water Distribution Costs to Design and Service Standards: A Philippine Case Study. Technology Advisory Group Technical Note 16 (TAG TN16). Washington, D.C.: The World Bank, 1986.

Journey, W.K., and Andrew J. Macoun. Wastewater Treatment With Duckweed Aquaculture. Infrastructure Notes No. W&S SW-10. Washington D.C.: The World Bank, October 1993.

Making Aquatic Weeds Useful: Some Perspectives for Developing Countries. Washington, D.C.: National Academy of Science, December 1976.

Mara. D. Duncan. The Design of Pour-Flush Latrines. Technical Advisory Group Technical Note No. 13 (TAG TN13). Washington, D.C.: The World Bank, 1984.

Otis, Richard J., and D. Duncan Mara. The Design of Small Bore Sewer System. Technical Advisory Group Technical Note 14 (TAG TN14). Washington, D.C.: The World Bank, 1985.

Postel, Sandra. The Last Oasis. New York: W.W. Norton & Company, 1992

Postel, Sandra, "The Politics of Water." World Watch, Vol. 6, No. 4, July-August 1993.

Tayler, Kevin, and Andre Cotton. Urban Upgrading: Options and Procedures for Pakistan. Leicestershire, England: Water Engineering and Development Center, Loughborough University of Technology, 1993.

Whittington, Dale, Donald T. Lauria, Albert M. Wright, Keyongae Choe, Jeffrey A. Hughes, and Venkateswarlu Swarna. Household Demand for Improved Sanitation Services: A Case Study of Kumasi, Ghana. Washington, D.C.: The World Bank, May 1992.

World Development Report 1992: Development and the Environment. Washington, D.C.: The World Bank, 1992.

World Health Organization. Report of the WHO Commission on Health and Environment. Document WHO/EHE/92.1. Geneva, Switzerland: World Health Organization, 1992.

World Resources, 1992-93. Report by the World Resources Institute in collaboration with the United Nations Environment Program and the United Nations Development Program. New York: Oxford University Press, 1992.

Kontak

American Water Works Association
6666 West Quincy Avenue
Denver, Colo. 80235 U.S.A.
Tel: 303-794-7711

Board on Science and Technology
for International Development
National Research Council
2101 Constitution Avenue, N.W.
Washington, D.C. 20418 U.S.A.
Tel: 202-334-3585
Fax: 202-334-2660

World Health Organization
EHE/CWS
1211 Geneva 27
Switzerland
Tel: 41-22-991-2111
Fax: 41-22-791-0746

National Small Flows Clearinghouse
West Virginia University
Morgantown, W. Va. 26506-6064
U.S.A.
Tel: 1-800-624-8301

Pan American Health Organization
525 23rd Street, N.W.
Washington, D.C. 20037 U.S.A.
Tel: 202-861-3313

United Nations Development Program
Division of Public Affairs
Room DC1-1900

One United Nations Plaza
New York, N.Y. 10017 U.S.A.
Tel: 212-906-5000

Water and Engineering Development Center
Loughborough University of Technology
Leicetershire LE11 3TU, England
Tel: 44-509-222885
Fax: 44-509-211079

Water and Sanitation for Health Project
1611 North Kent Street, Room 1001
Arlington, Va. 22209-2111 U.S.A.
Tel: 703-243-8200
Fax: 703-525-9137

World Bank
Water Supply and Sanitation Division
1818 H Street, N.W.
Washington, D.C. 20433 U.S.A.
Tel: 202-473-2595

Worldwatch Institute
1776 Massachusetts Avenue, N.W.
Washington., D.C. 20036 U.S.A.
Tel: 202-452-1999
Fax: 202- 296-7365


Tidak ada komentar:

Posting Komentar