14 Juni 2011

SEPUTAR ENTREPRENEUR

Temukan Passion Anda
Banyak orang yang membenci hari Senin. Ogah-ogahan berangkat beraktivitas. Bekerjapun hanya sekedar menjalankan kewajiban semata. Tak ada gairah, atau kalaupun ada, gairahnya sangatlah rendah. Hidupnya seperti zombie (mayat hidup) atau mungkin seperti robot, bekerja hanya rutin sesuai job description yang dibebankan kepadanya. Bila Anda mengalami gejala seperti ini, boleh jadi karena Anda bekerja tidak sesuai dengan passion Anda.

Apa itu passion? Menurut saya passion adalah ketika pikiran dan perasaan Anda menyatu dalam suatu gairah yang menggelora ketika beraktivitas dimana Anda sangat menikmati aktivitas itu serta puas bila bisa melakukannya dengan baik. Selain itu, Anda bersedia melakukan pekerjaan itu hingga melewati jam kantor bahkan sewaktu-waktu Anda rela tidak dibayar melakukannya. Andapun rela terus menerus belajar dan terus meningkatkan ilmu dan ketrampilan di bidang itu, bahkan menggunakan uang Anda sendiri.

Atau bila disederhanakan, passion itu adalah perpaduan antara bakat, hobi, minat, gairah terhadap suatu aktivitas. Bila passion ini digabungkan dengan action maka akan menghasilkan 4-ta (harta, tahta, kata, cinta) yang terus menerus semakin tinggi. Mengapa? Karena orang tersebut melakukan aktivitas itu dengan penuh gairah, cinta dan antusiasme yang luar biasa. Ia akan bekerja lebih keras dibandingkan yang lain. Ia akan belajar lebih bersemangat dibandingkan yang lain. Ia rela mengorbankan waktu, tenaga, uang bahkan terkadang jiwanya untuk melakukan sesuatu yang sesuai passionnya.

Action yang didasari oleh passion akan menjadikan hidup Anda semakin bahagia. Anda akan semakin hanyut dengan pekerjaan itu. Anda akan semakin menikmati pekerjaan itu. Hidup Anda tidak hanya sekedar bertahan hidup. Tetapi hidup Anda terus bertumbuh. Selamat bagi Anda yang actionnya telah sesuai dengan passion Anda.

Bagi yang actionnya belum sejalan dengan passionnya, segeralah tetapkan waktu yang paling nyaman, duduklah sejenak: pikirkan hal-hal menarik tentang masa lalu Anda pikirkan apa yang benar-benar Anda minati, apa yang menjadi hobi dan kesenangan Anda, dan apa yang membuat Anda benar-benar bergairah, masa depan seperti apa yang benar-benar Anda impikan. Cari benang merah diantara jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Benang merah itulah yang akan menjadi petunjuk passion Anda…

Terus ajukan pertanyaan-pertanyaan itu sampai Anda benar-benar menemukan jawabannya. Jangan sepelekan hal ini, karena bila Anda menjalani hidup tanpa passion yakinlah semakin tua hidup Anda akan semakin gersang dan hampa.

Intermezo : Istilah “Sukses” menjadikan Kita Jadi Tidak Bahagia
Cobalah pergi ke taman kanak-kanak (TK). Dengarkanlah sendau gurau mereka. Dengarkan dengan seksama irama sendau gurau mereka. Kemudian, pergilah ke sekolah-sekolah dasar (SD). Dengarkan sendau gurau anak-anak SD itu. Lebih menggema mana sendau gurau di TK atau di SD? Dengarkan dengan sangat seksama, apa ada perbedaan irama sendau gurau anak-anak TK dengan anak-anak SD?

Dengarkan pula sendau gurau para siswa SMP. Lalu SMA. Lalu perguruan tinggi. Lalu di kantor-kantor atau di perusahaan-perusahaan. Apa yang Anda rasakan? Bukankah riuh rendah sendau gurau itu semakin berkurang ketika usia semakin bertambah? Bukankah irama sendau gurau juga berbeda dari waktu ke waktu?

Riuh rendah sendau gurau semakin lenyap seiring dengan bertambahnya usia. Menuju riuh rendah kebingungan. Riuh rendah konflik. Riuh rendah ketegangan. Riuh rendah kekhawatiran. Dan seterusnya.

Kalau demikian halnya, mana yang sesungguhnya yang lebih berbahagia? Anak-anak TK atau anak SD atau SMP atau SMA atau mahasiswa atau para pejabat atau para pengusaha?

Ketika anak-anak TK belum bisa membedakan mana rekannya yang kaya, dan mana rekannya yang miskin. Mana rekannya yang “pandai”, mana rekannya yang “bodoh”, mana rekannya yang “cantik”, mana rekannya yang “kurang cantik”, mana rekannya yang “sukses” mana rekannya yang “belum sukses”, dan seterusnya. Ketika itu pula sendau gurau mereka adalah sendau gurau penuh yang “jujur”, bukan sendau gurau “tipuan.”

Ya, ketika anak-anak belum mengenal istilah “sukses”, ketika itu pula mereka berbahagia. Sejak kita mengenal istilah “sukses”, kita jadi orang yang lebih banyak susah dari pada suka. Lebih banyak bingung dari pada tenang. Lebih banyak sibuk dari pada santai. Lebih banyak konflik dari pada damai. Apa Anda merasakan seperti ini? Mengapa? Karena setiap saat kita merasakan belum sukses, maka setiap saat pula kita jadi susah. Jadi sibuk. Jadi tidak nyaman. Jadi tidak tenang. Jadi tergesa-gesa. Jadi bingung. Jadi penuh konflik. Dan seterusnya. Ini terjadi karena saat ini kita belum merasa sukses.

Ya, apakah Anda saat ini sudah sukses? Cobalah jawab dengan jujur. Anda telah menjawab,”Saya belum sukses.” Tanyakan pula kepada orang tua, paman, kakak, adik, tetangga, dan rekan-rekan Anda atau kepada orang-orang yang Anda temui di jalan. Tidak peduli, apakah mereka kaya atau tidak. Apa jawaban mereka? Mungkin 90% atau 100% dari mereka akan menjawab,”Belum sukses.” Tanyakan lagi kepada diri Anda sendiri dan mereka itu, “Kalau saat ini, Anda belum sukses, lalu kapan Anda akan sukses?”Lebih spesifik lagi, ”Pada usia berapa Anda akan sukses?”

Pendidikan Yang Rendah dan Sukses Berwirausaha
M. Musrofi
Orang-orang besar seperti Thomas Edison, pendiri General Electric; Henry Ford, pendiri Ford Motor Co; Bill Gates, pendiri Microsoft; Ted Tunner, pendiri CNN; Michael Dell, pendiri Dell Computer; Steve Jobs, pendiri Apple Computer; Ralph Lauren, pendiri Polo; Kemmon Wilson, pendiri Holiday Inn; semuanya bukanlah lulusan perguruan tinggi. James E Carey pendiri UPS di usia 11 tahun berhenti sekolah. Harland D Sanders, pendiri Kectucky Fried Chicken pada usia 12 tahun telah berhenti sekolah.

Matsushita Konosuke pendiri kerajaan elektronik Matsushita Denki, pendidikannya hanya sampai kelas 4 sekolah dasar. Tahun 1965, Universitas Waseda menganugerahkan gelar Doktor dalam bidang hukum kepada Konosuke karena jasanya dalam pembangunan dan kemajuan masyarakat. Tahun 1971, ia menerima gelar Doktor dari Universitas Keio. Tahun 1975, ia terima lagi gelar Doktor dari Universitas Doshiya.

Bambang Arie Bembie, produsen motor mini bermerek Bembie, hanyalah lulusan SD. Baruno, pengusaha fashion style dari eceng gondok, lulusan SMA (SMU). HM Irawan Suryanto (Raja Bola dari Majalengka) dan Anak Agung Gede Kurnia, keduanya lulusan SMP.

Sucipto, lulusan SD, pengusaha sukses pengumpul kertas bekas, punya deposito miliaran rupiah, tanahnya tersebar di mana-mana, sementara rumahnya ditaksir lebih dari setengah miliar. Belum terhitung puluhan truk, mobil pick-up, serta beberapa mobil pribadi.Lewat bawang merah, Bambang Sumaji, gagal menjadi sarjana hukum, sukses menjadi juragan produk kebanggaan Brebes tersebut. Bidang usaha lain pun tak luput dari sambarannya, mulai dari perbankan sampai properti. Omzet Rp 50 miliar dengan gampang digapai.

Nama Sukyatno Nugroho tidak bisa dipisahkan dari nama Es Teler 77, Mie Tek-tek, dan Pasti Enak yang adalah waralaba-waralaba nasional yang tergolong sukses. Dalam banyak seminar ia sering memperkenalkan dirinya sebagai penyandang gelar MBA yang kependekan dari "Manusia Bisnis Asal-asalan". Di sekolah peringkatnya adalah nomor 40 dari 50 murid. Ijasahnya hanya sampai SMP. Di SMTA ia hanya tahan 3 bulan di kelas satu.

Alexander Halolo, tamatan SMP. Ia memiliki 35 angkutan umum minibus, 110 keramba (tambak apung) miliknya, setiap hari rata-rata ia menjual 2,5 ton (5.000 ekor) ikan mas segar ke segenap penjuru. Harga per kilogram ikan mas Rp 9.500. Bayangkan berapa penghasilannya. Ikan mas tersebut ia jual ke Kabupaten Karo, Simalungun, Sidikalang, Kota Rantau Prapat, Medan, Padang Sidimpuan, Pematang Siantar, bahkan ke Provinsi Jambi dan Aceh.

Pendiri Sony Corporation, namanya Akio Morita, adalah siswa yang kebangetan bodohnya. Ia ranking ke 180 dari 180 siswa di kelas. Aristotle Onasis, karena bodohnya, pernah dikeluarkan dari sekolah dan tidak lulus perguruan tinggi.

Di Usia Berapa Sebaiknya Memulai Berwirasaha?
M. Musrofi
Ada yang enggan berwirausaha karena merasa diri masih terlalu muda. Tetapi sebaliknya ada juga yang berasalan karena sudah terlalu tua. Aneh rasa-rasanya. Karena dua alasan ini saling bertentangan.

Soal usia yang masih terlalu muda, kenyatannya Dave Thomas, pendiri Wendy’s Restaurant memulai usaha rumah makan pada usia 15 tahun. Oprah Winfrey, pembawa acara yang terkenal di dunia, memutuskan untuk mendapatkan penghasilan dengan bakat bicaranya pada usia 12 tahun. Bill Gates, mulai berdikari pada usia 13 tahun, yang kemudian pada usia 19 tahun mendirikan Microsoft bersama Berry Gordy. James E Casey pendiri UPS (United Parcel Service) memulai usahanya di usia 15 tahun.

Atau contoh yang melegenda, di usia senja (66 tahun), Kolonel Sanders baru memulai usaha dengan mendirikan Kentucky Fried Chicken (KFC) dan berhasil gemilang di usia 80 tahun. Jika usia setengah baya anda anggap terlalu tua untuk merintis usaha baru, tidak demikian dengan Ray “Mc Donald” Kroc. Si penjual hamburger kelas dunia memegang prinsip “anggur”, yaitu makin tua usia makin berjaya. Bekas penjaja mesin milkshake ini memulai usaha pengembangan restoran waralaba cepat saji McDonald’s pada usia yang telah mendekati masa pensiun. Tokoh yang lahir pada tanggal 5 Oktober 1902 ini tidak menjadi apatis karena pertambahan usia. Ia terus berkarya, bahkan menciptakan perubahan besar yang positif bagi kehidupannya dan orang-orang di sekitarnya pada usia 52 tahun.

Rosma, pengusaha sulaman bordir di Sumatera Barat. Usaha tersebut dulunya hanya sebatas usaha sampingan, tetapi ternyata tumbuh menjadi usaha besar. Ia mendapat penghargaan Kalpataru pada tahun 1987. Rosma memulai usahanya pada usia 36 tahun, pada tahun tahun 2002, usianya sudah 76 tahun, tetapi masih giat mengelola usaha tersebut.

SUMBER SOLUSI SEMUA JENIS MASALAH
M. Musrofi
“Alif, Laam, Ra. Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya engkau mengeluarkan manusia dari aneka gelap gulita menuju cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, yaitu jalan Tuhan Yang Maha Mulia lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim : 1).

Tafsir Quraish Shihab dalam “Al-Mishbah”: “Ayat di atas –sebagaimana kebiasaan Al-Qur’an- menggunakan bentuk jamak untuk kata “azh-dhulumaat” (aneka gelap), sedang kata “an-nuur” berbentuk tunggal. Ini mengisyaratkan bahwa kegelapan bermacam-macam serta beraneka ragam dan sumbernya pun banyak.

Sumber kegelapan ruhani dan penyebabnya banyak, sedang terang hanya satu, karena sumbernya hanya dari Yang Maha Esa, dalam firman-Nya: “Barangsiapa yang tidak mendapat nur dari Allah, maka tidaklah ia memperoleh cahaya sedikitpun” (QS. An-Nur : 40).
-----

Bagi saya ayat ini –beserta tafsir dari Quraish Shihab tersebut- sungguh-sungguh merupakan peringatan bagi kita. Disebutkan di atas bahwa jenis kegelapan itu banyak. Selain jenis kegelapan itu banyak, sumber atau penyebab kegelapan itu juga banyak.

Ketika kita menghadapi sebuah masalah, maka otomatis kita ingin mencari jalan keluar untuk memecahkan masalah itu. Yang patut kita perhatikan di sini adalah dari mana sumber jalan keluar atau solusi itu diperoleh? Sumber solusi adalah Cahaya Allah.

KISAH PENEMU DAN WIRAUSAHAWAN BESAR
Tulisan ini diambil dari milis Diskusi HRD Forum
Thomas Alva Edison, seorang penemu terbesar di dunia yang menemukan sekitar 3000 penemuan dan 1.093 diantaranya telah dipatenkan.

Edison dilahirkan pada tanggal 11 Februari 1847 di Milan, Ohio, Amerika Serikat dari pasangan suami-Istri Samuel Ogden seorang tukang kayu dan Nancy Elliot seorang guru. Keduanya merupakan keturunan Belanda.

Pada usia 7 tahun, edison kecil pindah ke kota Port Huron, Michigan dan bersekolah di Port Huron. Namun tidak lama, 3 bulan kemudian ia dikeluarkan dari Sekolah karena menurut gurunya “Dia terlalu bodoh” sehingga tidak mampu menerima pelajaran apa pun, dia pun sering dipanggil idiot oleh gurunya.

Sang ibu, Nancy Elliot memutuskan untuk berhenti sebagai guru dan kemudian berkonsentrasi mengajari Edison baca tulis dan hitung menghitung.

“My mother was the making of me. She was so true, so sure of me; and I felt I had something to live for, someone I must not disappoint.”

Begitulah perkataan Edison kecil yang menunjukkan motivasi dalam diri Edison yang cukup kuat dalam belajar. Setelah dia bisa membaca, Edison jadi gemar membaca, ia membaca apa saja yang dapat dijumpainya ia membaca ensiklopedia, Sejarah Inggris, Kamus IPA karangan Ure, Principia karangan Newton dan juga Ilmu Kimia karangan Richard G. Parker. Kegemarannya yang menonjol adalah membaca, berpikir dan bereksperimen.

Pada umur 12 Tahun Edison menjadi penjual koran, permen, kacang dan kue di kereta api, sama seperti penjual asongan yang sering kita temui di kereta api ekonomi di Indonesia. Keuntungan dari berdagang itu sebagiannya dia berikan kepada orang tuanya dan sebagiannya dia simpan sebagai modal. Nah… Di dalam kereta api, ia menerbitkan koran Weekly Herald sambil mengadakan eksperimen di salah satu gerbong kereta api, setelah sebelumnya meinta ijin perusahaan kereta api “Grand Trunk Railway”.

Pada suatu malam Edison tidak sengaja menumpahkan sebuah cairan kimia sehingga menyebabkan sebuah gerbong hampir terbakar. Karena kasus ini Edison ditampar kondektur hingga pendengarannya rusak, kemudian dia dilarang bekerja di kereta api.

Namun Edison tidak menganggap pendengarannya yang rusak sebagai cacat, namun justru dia menganggapnya secara positif sebagai sebuah keuntungan sehingga ia memiliki lebih banyak waktu untuk berfikir daripada mendengarkan omongan–omongan kosong.

Pada usia 15 tahun Edison remaja menyelamatkan nyawa anak kepala stasiun yang hampir tergilas gerbong kereta api. Karena merasa berhutang jasa, sang kepala stasiun tersebut akhirnya mengajarkan cara pengiriman telegram, Edison hanya memerlukan waktu 3 bulan untuk menguasai pelajaran gratis tersebut. Sesudah itu, ia mendapat pekerjaan sebagai operator telegraf.

Penemuan pertama yang dia patenkan adalah electric vote recorder, namun karena tidak laku, Edison akhirnya beralih ke penemuan yang lebih komersial. Edison kemudian membuat suatu alat yang kemudian ia beri nama stock ticker atau mesin telegraf. Peralatan itu dijualnya dan laku 40.000 dollar Amerika serikat (Sekitar 390 juta rupiah). Edison hampir pingsan melihat uang sebanyak itu. Uang ini dipakai Edison untuk mendirikan pabrik di Newark dan merekrut 300 orang pekerja sekaligus, disini ia mengembangkan telegraf sehingga mampu mengirimkan 4 berita sekaligus.

Pada umur 29 tahun, Edison mendirikan laboratorium riset untuk industri di Menlo Park, New Jersey. dan dalam 13 bulan ia menemukan 400 macam penemuan yang kemudian mengubah pola hidup sebagian besar orang-orang di dunia.

Tahun 1877 ia berkonsentrasi pada lampu pijar. Edison sadar bahwa betapa pentingnya sumber cahaya ini bagi manusia. Dia menghabiskan 40.000 dollar dalam kurun waktu dua tahun untuk eksperimen lampu pijar. Yang menjadi masalah adalah menemukan bahan yg bisa berpijar ketika dialiri arus listrik namun tidak terbakar. Total ada sekitar 6000 bahan yang dicobanya

Melalui usaha keras Edison, akhirnya pada tanggal 21 Oktober 1879 lahirlah lampu pijar listrik pertama yang mampu menyala selama 40 jam. Tahun 1882, untuk pertama kalinya dalam sejarah lampu-lampu listrik di pasang di jalan-jalan dan di rumah rumah

Sungguh patut direnungkan ketika saat keberhasilan dicapainya, dia sempat ditanya: Apa kunci kesuksesannya. Thomas Alfa Edison menjawab:

“Saya sukses, karena saya telah kehabisan apa yang disebut dengan kegagalan.”

Bahkan saat dia ditanya apakah dia tidak bosan dengan kegagalannya, Thomas Alfa Edison menjawab:

“Dengan kegagalan tersebut, Saya malah mengetahui ribuan cara agar lampu tidak menyala”

This Amazing!! Edison memandang sebuah kegagalan sebagai sebuah hal yang sangat positif. Kegagalan bukan kekalahan tapi sebagai sebuah keuntungan. Cara memandang yang positif ini membuat Edison mampu meyakinkan orang lain untuk tetap mendanai proyeknya meskipun gagal berulang–ulang kali.

Mungkin prinsip Edison inilah yang patut kita terapkan dalam kehidupan kita sehari. Bahwa sebenarnya kita tidak pernah mengalami kerugian dan sesungguhnya kerugian itu bermula dari sikap dan cara pandang kita sendiri yang negatif.

Edison telah banyak menghasilkan berbagai penemuan yang sangat berharga bagi perkembangan umat manusia. Telegraf cetak, pulpen elektrik, proses penambangan magnetik, torpedo listrik, karet sintetis, baterai alkaline, pengaduk semen, mikrofon, transmiter telepon karbon dan proyektor gambar bergerak adalah beberapa dari penemuan Edison.

Melewati tahun 1920-an kondisi kesehatannya kian memburuk dan Edison meninggal dunia tanggal 18 Oktober 1931 pada usia 84 tahun.

MENCATAT
M. Musrofi
Para psikolog telah menunjukkan bahwa kita hanya mampu menyimpan sekitar lima sampai sembilan potong informasi dalam pikiran kita setiap saat.

Kita semua pernah mencari nomor telepon, kemudian karena pikiran kita lengah sesaat sebelum memutarnya, kita jadi lupa nomor tersebut hanya dalam beberapa detik.

Yang terjadi adalah informasi yang baru menggantikan yang lama sebelum pikiran Anda menempatkannya dalam memori jangka panjang.

Secara umum memori jangka pendek dapat menyimpan dengan baik selama beberapa detik. Namun setelah sekitar 12 detik, ingatan melemah, dan setelah 20 detik informasi itu hilang seluruhnya, kecuali jika Anda terus mengulangi atau mencatatnya.

Kegiatan menulis akan memberi tanda kepada otak Anda bahwa potongan informasi ini lebih penting dari pada yang lain yang harus disimpan dalam memori jangka panjang.

John Patterson, Presiden National Cash Registger (NC) memerintahkan para karyawannya untuk memiliki sebuah “buku merah kecil” untuk mencatat kegiatan harian, pikiran, ide, dll.. Dia tega memecat pegawainya yang tidak memiliki buku catatan itu.

Sungguh menarik bahwa ternyata seperenam perusahaan terkemuka di Amerika dikepalai oleh para mantan pegawai NCR. Diantara mantan pegawai NCR yang terkemuka adalah Tom Watson, pendiri IBM.

Sebaiknya kita gemar mentatat ide, pikiran, rencana kerja, dsb.. Begitu kita terpikir, tuliskan segera.

KEBIASAAN
M. Musrofi
Mulai dari bangun pagi sampai berangkat ke kantor, ke sekolah, atau ke kampus hampir semua aktivitas diatur oleh kebiasaan. Kitalah yang menciptakan kebiasaan, lalu kebiasaan yang akan menciptakan kita. Kebiasaan bisa menjadi pembantu yang baik, tetapi bisa pula menjadi musuh yang paling sulit ditaklukkan. Stephen R Covey yang mengutip Aristotle, “Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebuah kebiasaan.”

Padahal ilmu pengetahuan selalu berubah, selalu tumbuh. Kebiasaan kebalikannya. Kebiasaan itu kaku, tetap, dan alami. Ilmu pengetahuan dan kebiasaan saling berlawanan. Hal ini terus menerus terjadi dalam kehidupan kita.

Seratus tahun yang lalu, ketika Alexander Graham Bell pergi ke pemilik Western Telegraph Company dan menawarkan telepon temuannya agar dibeli seharga $25,000, Presiden Direktur perusahaan itu mengatakan, “Kami telah mempunyai sistem komunikasi. Kami tidak membutuhkan pembicaraan lewat kabel. Temuanmu ini hanyalah mainan belaka, dan tidak praktis digunakan.” Dia tidak mau membeli temuan Bell seharga $25,000 tersebut. Dan sekarang kita tahu betapa begitu tingginya manfaat telepon bagi kehidupan kita. Seringkali orang-orang yang sudah berada di puncak karir begitu yakin dengan pemikiran mereka yang sesungguhnya dibentuk oleh kebiasaan. Coba Anda renungkan :

Seberapa sering Anda tidak mau peduli dengan gagasan-gagasan Anda karena Anda telah terbius oleh suatu cara berpikir yang berdasarkan opini? Seringkali gagasan-gagasan Anda tidak Anda tindak lanjuti karena opini yang muncul di masyarakat yang seolah menentang gagasan Anda tersebut.
Seberapa sering Anda menutup ide-ide yang baik disebabkan Anda bersikap “sok tahu”, takut salah, dan takut gagal karena ide-ide Anda tersebut? Seringkali Anda merasa sudah tahu apa yang akan terjadi, sehingga Anda tidak mau melakukan tindakan terhadap ide-ide Anda.
Seberapa sering anda menutup ide-ide Anda yang baik disebabkan karena Anda kesulitan mengubah kebiasan Anda? Sering juga terjadi bahwa ide-ide tidak terlaksana akibat kebiasaan. Misalnya, kebiasaan menonton televisi pada jam tujuh sampai jam sembilan malam. Kebiasaan ini, misalnya saja menjadi hambatan Anda ketika pada jam-jam itu Anda mempunyai jadual untuk membuat rencana usaha.


Kita mempunyai dugaan-dugaan atau prasangka. Prasangka membentuk opini dan sikap kita. Setiap orang mempunyai prasangka dalam beberapa hal –untuk menerima atau menolak suatu cara-cara yang baru--. Prasangka tergantung pengalaman, latar belakang, dan kebiasaan kita.

Kebiasaan atau aturan bisa menghambat terungkapnya imajinasi. Orang seringkali mempertahankan cara-cara lama yang dirasa mudah dan memberikan keamanan. Mengubah cara berpikir dan bertindak adalah keluar dari cara lama yang mudah dan aman ke cara baru yang mungkin akan sulit untuk pada awalnya dan merasa kurang nyaman, namun menantang dan lebih banyak memberikan pilihan dan peluang.

Menjalani kehidupan dengan rutinitas semata bisa berakibat terbatasnya memunculkan solusi-solusi kreatif. Melatih diri untuk berubaha, bisa dilakukan dengan memasukkan aktivitas yang tidak biasa. Lakukanlah sesuatu di luar kebiasaan hal-hal yang sederhana : melalui rute ke sekolah, ke kampus atau ke kantor dengan rute yang berbeda, baca majalah atau koran atau tabloid yang tidak seperti biasanya, tontonlah TV pada jam-jam tidak biasa, dsn seterusnya.

Namun tentunya kebiasaan tidak selalu jelek. Kebiasaan telah kita gunakan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan kita. Salah satu contoh kebiasaan yang baik adalah membaca. Ketika kita membaca secara reguler, kemampuan kita akan meningkat.

Sesuatu aktivitas dikatakan “mudah dilakukan” bisa saja hanya dikarenakan orang terbiasa melakukannya. Mudah karena terbiasa. Sulit karena tidak terbiasa. Aman itu karena ada kepastian. Sebaliknya tidak aman karena tidak ada kepastian. Memulai usaha dari keadaan belum pernah menjalani sama sekali adalah keberanian keluar dari kebiasaan. Tidak semua orang gampang melakukan perubahan ini. Namun kabar baiknya adalah semua orang berpeluang untuk melakukannya.
BERPIKIR JANGKA PENDEK
M. Musrofi
Pada umumnya orang lebih suka berharap pada keuntungan besar dalam jangka pendek dari pada jangka panjang. Banyak orang berharap mempunyai “lompatan besar” dan tidak mau memulai dari langkah kecil. Berpikir jangka pendek menghalangi seseorang untuk memulai usaha dari kecil dan nampak remeh. Dalam merintis usaha, tentu saja dibutuhkan cara berpikir dan bertindak untuk kepentingan jangka panjang.

Karnes dan Bean dalam Girls and Young Women Entrepreneurship menyarankan bahwa berhenti saja dari berwirausaha, kalau hanya termotivasi ingin cepat kaya dalam waktu singkat. Pada umumnya, suatu usaha menuntut waktu yang tidak sebentar dan menuntut kerja keras sebelum usaha itu menampakkan adanya keuntungan.

APAKAH KESUKSESAN USAHA TERGANTUNG JENIS USAHA?
M. Musrofi
Seorang rekan yang kerjanya di kapal pesiar, saat sedang cuti, datang ke rumah saya. Dia bertanya,”Mas, usaha apa yang bagus. Saya ada modal, tapi saya bingung mau usaha apa.”

Saya balik bertanya,”Apa ada usaha yang tidak memiliki peluang yang bagus?”

Dia jadi bingung. Mungkin dia mengingat-ingat. Dia diam sejenak, lalu bertanya,”Maksudnya?”

“Ya, coba Anda sebutkan jenis usaha, dimana usaha itu tidak memiliki peluang atau prospek bisnis yang bagus,” saya menjelaskan.

Dia tidak menjawab hanya diam saja, seperti agak bingung. Mungkin di benaknya berkata,”Oya,..ya..kok tidak ada usaha yang tidak memiliki peluang.”

Katakan begini, si A jualan bakso, laku keras. Lalu mendirikan cabang dimana-mana. Sementara si B, juga jualan bakso, tetapi usaha si B ini tidak sebagus si A.

Contoh lain, si X, mendirikan usaha bimbingan belajar (bimbel). Banyak pesertanya. Sampai-sampai usahanya dikembangkan dengan sistem waralaba. Si Y, juga mendirikan bimbel, tapi bimbel si Y ini tidak berkembang baik.

Dari dua contoh di atas, dan saya yakin masih banyak sekali contoh-contoh yang lain, menunjukkan bahwa tidak ada jenis usaha yang tidak memiliki peluang ke depan. Yang ada kasusnya seperti di atas: seseorang mendirikan jenis usaha tertentu yang maju pesat, sementara yang lain mendirikan usaha sejenis tetapi tidak maju-maju.

Coba Anda renungkan: jadi bukan jenis usahanya yang tidak memiliki peluang. Dengan kata lain, sukses tidaknya sebuah usaha tidak tergantung dengan jenis usaha itu. Terus apa yang menyebabkannya suskes tidaknya sebuah usaha?

Tentu banyak sekali faktor kesuksesan itu.

Tetapi ada salah satu faktor yang menyebabkannya; yakni jenis usaha itu apakah sesuai dengan bakat seseorang atau tidak. Lebih rinci lagi : apakah aktivitas-aktivitas yang harus dilakukan untuk menjalankan usaha itu sesuai dengan bakat atau potensi kekuatan seseorang atau tidak.

Kalau ada kesesuain antara potensi kekuatan dengan aktivitas usaha, maka salah satu faktor penting kesuksesan usaha telah ada.

Tetapi bila tidak ada kesesuaian antara bakat atau potensi kekuatan dengan aktivitas usaha tersebut, maka salah satu faktor penting kesuksesan usaha tidak dipenuhi…

APAKAH BENAR WIRAUSAHAWAN ITU PENGAMBIL RESIKO?
M. Musrofi
Begitu seringnya kita mendengar bahwa seorang wirausahawan adalah seorang pengambil risiko. Sesungguhnya seorang wirausahawan bukanlah seorang yang begitu saja mengambil risiko. Seorang wirausahawan menghitung, membatasi, dan menetapkan bagaimana kira-kira risiko yang mungkin terjadi. Lalu terus-menerus berupaya dan belajar menangani risiko.

Resiko berkaitan dengan keberanian. Paul Getty, pengusaha sukses di bidang perminyakan menekankan diperlukannya keberanian untuk melakukan sesuatu, yakni ketika dia mengatakan, “Bila pikiran Anda terfokus pada kepastian tentang suatu kejadian, ini berarti Anda telah melumpuhkan diri Anda sendiri.” Namun, di sisi lain, Getty juga mengakui bahwa dia juga memperhatikan dan menganalisis, serta membuat antisipasi terhadap risiko. Getty berkata, “Bila saya memasuki suatu urusan bisnis, pikiran-pikiran utama saya bergerak pada bagaimana cara menyelamatkan diri bila segala sesuatunya ternyata menjadi gagal total.”

Seorang rekan penulis yang juga seorang wirausahawan sukses di bidang mebel berskala kecil pernah mengatakan,”Saya mengambil keputusan bisnis dengan prinsip sukses atau bangkrut.” Suatu saat, di Hari Minggu, dia mengajak penulis untuk membuat perkiraan arus kas untuk usahanya. Dari sekitar jam sebelas siang sampai jam enam sore, kami berdua begitu intensif di depan komputer dan melakukan curah gagasan tentang arus kas tersebut. Kemudian selesailah sudah perkiraan arus kas tersebut, dengan menghasilkan tiga alternatif perkiraan. Tetapi sebelum kami berpisah, dia sempat mengatakan,”Saya akan pelajari lagi di rumah.”

Pada Hari Minggu sore, dia menelepon penulis,”Hari Rabu, kita perbaiki perkiraan arus kas. Ada yang masih kurang.” Pada Hari Rabu, kami kembali membicarakan dan memperbaiki tiga alternatif arus kas tersebut dari sekitar jam satu siang sampai jam setengah tujuh malam. Penulis berpikir perkiraan arus kas sudah selesai. Karena kami sudah memilih satu diantara alternatif, dan yang satu alternatif ini sudah kami perbaiki dan kami perbincangkan dengan mendalam.

Namun, pada Hari Jumat, dia mengajak penulis lagi untuk berbicara soal perkiraan arus kas tersebut. Dari jam satu siang sampai jam lima sore, kami perbaiki lagi arus kas tersebut. Penulis sekali lagi berharap bahwa arus kas benar-benar telah selesai tuntas. Namun, pada Hari Rabu selanjutnya, dia mengajak perbaiki lagi perkiraan arus kas tersebut, dan berlanjut pada Hari Jumat. Baru setelah itu, dia merasa mantap dengan arus kasnya, kemudian dia mengambil keputusan keuangannya berdasar perkiraan arus kas tadi.

Jadi sebelum dia mengambil keputusan “sukses atau bangkrut”, dia telah mempertimbangkan berbagai hal dengan sangat seksama.
SALAH SATU CARA MENJADI ENTREPRENEUR
M. Musrofi
Ambil contoh wirausahawan dunia:

Bill Gates, awalnya adalah menciptakan karya (software)
Harland Sanders (KFC), awalnya adalah menciptakan resep masakan ayam goreng
Thomas Alva Edison (General Electric), awalnya adalah menciptakan lampu pijar
Kiichiro Toyoda (Toyota), awalnya adalah menciptakan mobil
Jerry Yang dan David Filo (Yahoo.,com), awalnya adalah menciptakan cra pencarian informasi dan data melalui jalur Internet
Dan tentu masih banyak lagi para wirausahawan tingkat dunia lainnya maupun nasional, yang kalau Anda baca kisahnya, pada umumnya mereka berawal dari sebuah penciptaan karya.

Jadi salah satu cara menjadi entrepreneur adalah dengan menciptakan karya.

Pertanyaan selanjutnya adalah kalau awalnya dari “menciptakan karya”, karya apa yang sebaiknya diciptakan seseorang? Maksud saya adalah misalnya Anda, Anda ini mau menciptakan apa?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita coba ajukan pertanyaan, “Kenapa Bill Gates menciptakan software dan tidak menciptakan sepeda motor yang inovatif, misalnya? Kenapa Sanders menciptakan resep masakan ayam goreng? Kenapa Jerry Yang dan David Filo menciptakan yahoo.com? Apa yang mendorong mereka sehingga mereka menciptakan karya-karya itu?”

Tentu sulit untuk menjawab “apa yang mendorong mereka” atau “apa motivasi awal mereka’ sehingga mereka menciptakan karya=karya seperti itu. Namun, ada salah satu jawaban yang bisa menjawab pertanyaan seperti ini: biasanya mereka mencintai aktivitas-aktivitas yang terkait dengan karya-karya mereka.

Bill Gates sejak usia 13 tahun sangat menyukai otak-atik komputer. Harlands Sanders, sejak usia 6 tahun sudah pandai memasak. Edison, sejak kecil sudah suka melakukan percobaan.

Salah satu tanda aktivitas yang sesuai dengan bakat (talents) adalah aktivitas yang disukai. Tetapi tidak semua aktivitas yang disukai (minat) itu adalah bakat.

Yang ingin dikatakan di sini : salah satu cara agar orang bisa menciptakan karya-karya yang hebat atau fenomenal adalah ketika ide karya itu bersumber dari bakat . Hal ini tentu belum cukup. Perlu ditambah “Kaidah 10.000 jam” ( Ten Thousand Hours Rule).

“Kaidah 10.000 jam” dipopulerkan Malcolm Gladwell dalam buku “The Outliers.” Disebut “dipopulerkan”, karena pada tahun 1993, K. Anders Ericsson, Ralf Th. Krampe, dan Clemens Tesch Romer melakukan penelitian di Berlin Academy of Music. Mereka berusaha menemukan jawaban, bagaiaman seseorang bisa menjadi pakar dalam bidangnya atau dengan kata lain menjadi seorang expert.

Dibantu seorang profesor, mereka mengelompokkan mahasiswa tingkat akhir ke dalam tiga kategori: 1) calon guru musik, 2) calon pemusik profesional, 3) calon maestro musik dunia. Pertanyaan mereka adalah: Semua mahasiswa yang diterima dan belajar di akademi tersebut, pastilah orang-orang berbakat. Lalu kenapa akhirnya ‘nasib’ mereka berbeda? Ada yang sekedar menjadi musisi biasa, dan ada yang bisa menjadi expert.

Untuk memperkuat hasilnya, mereka ulang penelitiannya dengan model pengkategorian yang sama, namun menggunakan sample profesi yang beragam, mulai dari musisi, pemain catur, sampai dengan olahragawan. Akhirnya, mereka berhasil membuat kesimpulan luar biasa.

Ternyata yang membedakan ketiga kategori itu adalah berapa lama waktu yang telah mereka alokasikan untuk berlatih menjadi yang terbaik dalam profesi pilihannya. Mereka yang berhasil menjadi expert telah mengalokasikan waktu untuk berlatih selama 10.000 jam. Kesimpulan itu, kini dikenal sebagai 10.000 hours rule (Kaidah 10.000 jam).

Gladwell mengulas The Beatles, band populer asal Inggris sebagai contoh sederhana yang membuktikan ‘kebenaran’ kaidah 10.000 jam. The Beatles didirikan tahun 1957, ketika Paul Mc Cartney bertemu John Lenon. Mereka kemudian pindah ke US tahun 1963, yang kemudian terkenal dengan istilah The British Invasion. Tahun 1967, the Beatless melahirkan sebuah album yang menjadikan mereka sebagai dewa musik. Album itulah yang membuat mereka diakui sebagai orang-orang terbaik dibidang musik, atau dalam istilah kita, telah menjadi expert dunia. Ternyata, The Beatless butuh 10 tahun untuk bisa sukses.

Contoh kedua adalah Bill Gates, yang mulai menekuni programing komputer di tahun 1968 ketika dia berumur 13 tahun. Pada usia 20 tahun, dia mendirikan Microsof yang tidak lama kemudian dipercaya sebuah sebuah perusahaan raksasa, untuk membuat sistem operasi IBM PC sebagai produk komputernya yang terbaru saat itu. Tentu saja, IBM tidak akan mempercayakan produk andalannya pada sembarang orang. Mereka pasti akan mempercayakan pada seseorang yang dianggap expert. Berapa lama Bill Gates berusaha menjadi seorang expert? Ternyata hanya 7 tahun.

Kenapa tidak 10 tahun? Karena Bill Gates menginvestasikan waktu untuk berlatih lebih dari 3 jam sehari. Di dalam autobiografinya ditulis, dia biasa berlatih 7-8 jam sehari, bahkan tidur di lab komputer. Jadi wajar ketika usianya baru 20 tahun, dia sudah mengantungi lebih dari 10.000 jam.

Jadi kalau boleh disimpulkan agak “spekulatif”, bahwa salah satu cara agar orang bisa menciptakan karya yang hebat, adalah:

Ungkap ide karya yang bersumber dari bakat atau lakukan aktivitas yang sesuai dengan bakat
Lalu jalani selama 10.000 jam
Masalahnya : bagaimana orang bisa tahu bahwa aktivitas atau ide karya yang dia ungkap itu adalah bersumber dari bakatnya? Buckingham dari Gallup Organization menyatakan ada empat tanda orang itu tengah beraktivitas sesuai dengan bakat atau potensi kekuatan, yang disingkat SIGN.

S – Success. Aktivitas yang membuat Anda merasa sukses.
I – Instinct. Aktivitas yang secara alami selalu menarik Anda melakukannya. Leider & Shapiro mengatakan sebagai aktivitas yang selalu “memanggil” Anda untuk melakukannya.
G – Growth. Aktivitas dimana Anda dapat belajar dengan sangat baik, aktivitas yang membuat Anda dapat menelorkan ide-ide brilian, aktivitas yang membuat Anda memiliki pemahaman yang mendalam.
N – Needs. Aktivitas yang membuat Anda merasa perlu untuk terus melakukannya, sehingga Anda membutuhkan menambah waktu untuk melakukan aktivitas itu.

AYO BERKARYA
M. Musrofi
Sebagai seorang bocah, Sakichi Toyoda belajar ilmu pertukangan kayu dari ayahnya. Toyoda kecil adalah seorang anak yang cerdas dan kreatif. Saat itu industri tenun adalah industri yang paling berkembang di tanah kelahirannya, wilayah pertanian di pinggiran Nagoya, Jepang. Toyoda muda dengan ilmu pertukangan kayu yang diwarisi dari ayahnya, pada tahun 1894 membuat sebuah mesin tenun yang lebih murah namun bekerja lebih baik.

Toyoda sangat puas dengan mesin tenunnya. Namun dia melihat neneknya, ibunya, juga wanita-wanita lain masih harus bekerja keras untuk memintal dan menenun. Toyoda ingin membuat mereka terbebas dari kerja keras itu. Maka dia kemudian menciptakan mesin tenun yang ditenagai mesin. Saat itu adalah jaman dimana seorang pencipta harus mengerjakan semuanya sendiri. Karena kurangnya sumber tenaga untuk penggerak mesin, maka Toyoda belajar lebih dahulu tentang mesin uap, membeli mesin uap bekas, dan mencoba berkali-kali secara trial error hingga berhasil. Toyoda kemudian mendirikan Toyoda Automatic Loom Works pada tahun 1926, yang kemudian menjadi cikal bakal konglomerasi Toyoda.

Sakichi punya anak lelaki bernama Kiichiro Toyoda, seorang anak yang kerempeng dan sakit-sakitan. Banyak orang menganggap bahwa Kiichiro Toyoda tidak punya fisik yang mendukung untuk menjadi pemimpin yang baik. Tapi sang ayah tidak setuju dengan pandangan itu. Ia memberi tugas anaknya untuk belajar membuat mobil. Awal tujuannya bukan untuk mengembangkan bisnis. Tujuannya adalah memberi kesempatan anaknya itu untuk melakukan sesuatu yang besar dalam hidupnya! Dia ingin anaknya mempunyai kesempatan membuat kontribusi kepada umat manusia, sama halnya dengan kesempatan istimewa yang dia alami dalam memberi kontribusi melalui mesin tenun. Toyoda berkata kepada anaknya:

“Setiap orang perlu mengambil proyek besar paling tidak sekali dalam hidupnya. Saya mendedikasikan hampir seluruh hidup saya untuk menciptakan jenis mesin tenun yang baru. Sekarang saatnya giliranmu. Kamu harus berusaha sungguh-sungguh untuk menyelesaikan sesuatu yang akan memberi manfaat bagi masyarakat.”

Kiichiro kemudian dikirim untuk sekolah di Tokyo Imperial University, mengambil jurusan teknik mesin dengan fokus pada teknologi mesin. Mengikuti jejak ayahnya, Kiichiro juga selalu melakukan belajar melalui praktek (learning by doing). Dalam membuat mesin bagian tersulit adalah mengecor blok mesin. Kiichiro melakukannya sendiri dengan membuat mesin kecil, terus menerus hingga berhasil. Usaha Kiichiro akhirnya menjadi Toyota Automotive Company, salah satu perusahaan mobil terbaik di dunia. (Kutipan dari buku The Toyota Way, karya Jeffrey K. Liker).

TEKUN dan KREATIF
M. Musrofi
Kewirausahaan memerlukan energi, komitmen, dan niat kuat untuk berhasil. Karena itu Anda harus betul-betul mencintai kegiatan itu.
– Joseph Schmidt

Tekun

Susi Susanti juara All England empat kali, peraih emas pertama Indonesia di Olimpiade. Ia berlatih bulu tangkis 6 hari per minggu, dari jam tujuh pagi sampai jam sebelas siang, disambung lagi jam tiga sore sampai jam tujuh malam. Rutinitas ini dia lakukan bertahun-tahun!

Curtis Strange, juara golf, melatih diri dengan memukul 2.000 bola golf setiap hari sebagai persiapan tour. Sidney Sheldon, seorang novelis besar, melatih diri dengan menulis 50 halaman setiap hari. Bintang basket, Michael Jordan, melakukan bidikan sambil melompat ratusan kali setiap harinya, tanpa kecuali. Jim Carrey, bintang film yang meminta bayaran 20 juta dolar untuk setiap peran yang dia mainkan di film, ketika masih remaja, ia habiskan waktu berjam-jam setiap harinya berlatih di depan cermin.

Orang-orang besar itu adalah orang-orang tekun. Tekun berarti melakukan aktivitas tertentu dalam jangka waktu yang lama. Anthony Robbins mengatakan, “Repetition is the mother of skills.”

Persoalannya: mengapa orang bisa tekun? Mari disimak sejarah amat singkat Thomas Alva Edison. Ia memiliki 1.093 hak paten dan pendiri General Electric. Suatu saat ia mengatakan, ”Genius adalah 1% inspirasi dan 99% keringat.” Untuk menemukan lampu pijar, ia telah gagal 10.000 kali. Kita mungkin berkomentar,”Sungguh ia pekerja keras.” Tapi apa kata Edison? Ia mengatakan, ”Saya tidak pernah bekerja sehari pun dalam hidup saya, semua adalah keasyikan.” Jadi ia bisa tekun karena ia asyik, fun, enjoy dengan semua aktivitas yang dia.

Untuk menyusun buku laris The Millioner Next Door dan Millioner Mind, Stanley membutukan waktu 20 tahun, dari tahun 1980 sampai tahun 2000. Bertahun-tahun ia mengumpulkan data, wawancara, laporan riset, dan survei. Ia mengatakan, “Tampaknya seperti banyak pekerjaan untuk waktu yang lama, tetapi saya menyukai pekerjaan saya, dan saya tidak pernah merasa bosan.”

Kreatif

Maaf, banyak supir becak, bertahun-tahun tetap menjadi supir becak. Tetapi ada seorang supir becak di daerah Cirebon yang kemudian menjadi produsen becak mini. Mengapa yang satu jadi pengusaha becak, yang lain tetap menjadi supir becak?

Tekun tanpa kreativitas tidak akan menelorkan ide-ide baru. Tanpa ide-ide baru mustahil menghasilkan metode, produk, atau jasa inovatif. Tanpa metode, produk, atau jasa inovatif orang sulit maju.

Schwart mengatakan, “Banyak orang yang ambisius melaksanakan hidupnya dengan tekun, namun mereka pada akhirnya kekalahan yang mereka dapatkan, karena mereka tidak mengadakan eksperimen dengan cara-cara atau pendekatan-pendekatan yang baru.”

Mengapa orang yang satu tekun bisa kreatif sedangkan yang lainnya yang juga tekun tidak mampu mengembangkan kreativitasnya? Tentu ada banyak alternatif jawaban atas pertanyaan ini. Orang yang tekun tetapi tidak mampu mengembangkan kreativitasnya kemungkinkan besar karena ketekunannya tersebut karena faktor keterpaksaan, dan tidak bisa mengubah keterpaksanaan tersebut menjadi suatu bentuk cinta. Sedangkan yang lain bisa tekun dan kreatif, karena ketekunannya tersebut dilandasi rasa cintanya terhadap aktivitasnya.

Stanley mengatakan,”Ingat, bila Anda menyukai apa yang Anda lakukan, produktivitas Anda akan tinggi dan bentuk jenius kreatif spesifik akan muncul. Orang kreatif cenderung mencintai usaha atau pekerjaan mereka, dan hal ini adalah salah satu alasan utama mereka sukses dalam hidup. Kecerdasan kreatif adalah komponen utama mengenai kecerdasan sukses.”

Mengenai kaitan mencintai aktivitas usaha dengan kreativitas juga dikemukakan oleh Peter Milwood. Dia mengatakan,”Orang-orang Inggeris mempunyai semangat amatir, yakni mencintai apa yang dikerjakan. Semangat ini memungkinkan timbulnya konsep yang sama sekali baru (kreatif). Tatkala melihat ketel teh yang melambung-lambung, James Watt menemukan gagasan menggunakan uap sebagai tenaga penggerak. Alexander Fleming setelah melihat kekuatan anti-bakteri dari jamur, memikirkan kemungkinannya untuk menggunakannya sebagai obat. Ini adalah contoh hasil semangat amatir.”

Toshio Ikeda, bapak Komputer di Fujitsu, mengatakan, “Kembali pada waktu itu, tak seorang pun diantara kami yang berpikir kemungkinan komputer diubah menjadi bisnis atau tentang peran komputer dalam industri. Pada waktu itu, dari waktu ke waktu, kami hanya menikmati kesenangan semata-mata dan bersifat kekanak-kanakan dalam mencari gagasan terbaik dan entah bagaimana membuat mesin terbaik sedapat mungkin.”

Kesimpulan

Agar kita bisa tekun dan kreatif, kita sebaiknya mencintai aktivitas yang kita lakukan. Selamat membuktikan!

CIRI ORANG KREATIF
M. Musrofi
Orang kreatif berupaya bekerja lebih baik. Orang kreatif tidak begitu saja menerima segala sesuatu apa adanya. Mereka selalu mencari cara-cara untuk memperbaiki keadaan. Mereka melihat sesuatu yang dilihat oleh orang lain, tetapi seringkali memikirkan sesuatu yang tidak pernah dipikirkan oleh orang lain. Mereka memandang masalah sebagai peluang dan tantangan yang menggugah semangat untuk mencari inovasi. Seringkali hal-hal ini adalah hal-hal yang kecil, hal-hal yang kita terima apa adanya setiap hari.

Orang kreatif pencetus paradigma. Paradigma adalah seperangkat atau kerangka rujukan. Orang kreatif menerobos batas-batas baku dalam mencari solusi. Mereka mempelajari situasi dengan memanfaatkan banyak sudut pandang dan mampu melakukan pergeseran dramatis dalam pemikiran yang disebut pergeseran paradigma untuk mendapatkan solusi atau kesepakatan.

Orang kreatif mempunyai pemikiran inkuisitif. Orang kreatif selalu ingin tahu. Ini menjadi kebiasaan. Mereka selalu bertanya “mengapa” dan memikirkan segala sesuatu yang tengah berjalan. Mengetahui cara kerja sesuatu berarti dapat mengembangkan berbagai hal daris sesuatu tersebut.

Orang kreatif mempunyai kebiasaan bertindak. Orang kreatif tidak hanya menghasilkan ide-ide baru, mereka juga bertindak mewujudkan ide mereka menjadi kenyataan. Mereka memiliki dorongan yang kuat bagaimana agar sesuatu terjadi.

Orang kreatif mempunyai jawaban alternatif. Mereka tidak hanya membuat satu alternatif solusi. Mereka mencoba untuk mendapatkan solusi-solusi lain.

Orang kreatif menyukai berfikir lunak. Otak kiri bersifat keras terhadap ide. Otak kanan lunak terhadap batasan-batasan. Orang kreatif memanfaatkan dua belah otaknya secara seimbang.

Orang kreatif mencoba kemustahilan. Mereka selalu memperhatikan ide-ide meskipun kelihatan mustahil. Merenungkan ide yang muncul dapat memicu berbagai kemungkinan baru.

Orang kreatif melihat kesalahan sebagai peluang. Mereka tidak suka menghindar dari suatu tindakan meskipun mempunyai kemungkinan salah atau gagal.

BERTINDAK
M. Musrofi
Rencana sebagus apa pun tanpa disertai tindakan tidak ada artinya. Tidak ada pilihan lain, just do it! Lakukan saja! Learning by doing!

Vernon A Magnesen yang dikutip Dryden dan Vos mengatakan, “Kita belajar dari 10% apa yang kita baca; 20% dari apa yang kita dengar; 30% dari apa yang kita lihat; 50% dari apa yang kita lihat dan dengar; 70% dari apa yang kita katakan; dan 90% dari apa yang kita katakan dan kita lakukan.” Bacalah sekali lagi kata-kata terakhir Magnesen bahwa kita belajar 90% dari apa yang kita katakan dan kita lakukan.

Ingat kata-kata Edison,”Genius adalah 1% inspirasi (ide atau rencana) dan 99% keringat.” Ide atau rencana itu hanya bernilai 1%, yang 99% adalah tindakan.
MELAWAN ASUMSI
M. Musrofi
Anak saya yang baru berusia 4 tahun mengatakan kepada eyangnya,”Rumah punya Eyang dilipat aja, dibawa ke rumahku. Jadi nggak usah pulang…” Anak saya pada suatu saat memakai jam tangan di kaki. Ia suka sekali berdiri di tempat duduk. Ya, banyak lagi kelakukannya yang bertolak-belakang dengan apa yang seharusnya dilakukan. Bagaimana tidak? Rumah yang diasumsikan tidak boleh bergerak itu justru diminta dilipat dan dibawa. Jam yang seharusnya dipasang di tangan dipasang di kaki. Tempat yang seharusnya untuk duduk dipakai berdiri.

Anak-anak memang suka melawan asumsi. Hal inilah salah satu penyebab mengapa anak-anak lebih kreatif dari pada orang dewasa.. Tony Buzan (2002) meringkas hasil penelitian di Amerika mengenai potensi kreatif orang-orang dari berbagai usia sebagai berikut (Tabel 1):

Tabel 1. Kreativitas dari Berbagai Kelompok Usia



KELOMPOK USIA

PERSENTASE KREATIVITAS YANG DIGUNAKAN

Murid taman kanak-kanak

95 – 98%

Murid sekolah dasar

50 – 70%

Murid sekolah menengah / mahasiswa

30 – 50%

Orang dewasa

Kurang dari 20%

Karena itu, melawan atau membalik asumsi merupakan salah satu cara menelorkan ide-ide kreatif. Robert T Kiyosaki ahli menjungkirbalikkan asumsi. Lihat saja Tabel 2. Tabel ini saya ringkas dari buku “Rich Dad, Poor Dad” dan “Cash Flow Quadrant” karangan Kiyosaki.

Lalu bagaimana mengungkap ide-ide dengan cara membalik, melawan, atau menjungkirbalikkan asumsi untuk memperoleh ide-ide baru? Salah satu caranya, ikuti langkah-langkah berikut : Langkah pertama, tulis masalah atau keinginan Anda. Langkah kedua, tulis asumsi yang biasa digunakan untuk memecahkan masalah atau untuk memenuhi keinginan Anda. Langkah ketiga, tulis negasi atau lawanlah atau baliklah asumsi yang biasa digunakan tersebut. Langkah keempat, berpikirlah mengungkap ide-ide baru dari asumsi yang sudah dibalik tersebut, lalu tulis ide-ide baru dari asumsi yang sudah dibalik tersebut.
Sebagai kasus nyata, pada Bulan Oktober 2004, rekening telepon di tempat usaha rekan saya tiba-tiba melonjak sangat tinggi. Untuk memecahkan masalah ini, saya menyarankan rekan saya agar mengikuti langkah-langkah di atas : menulis masalah : bagaimana agar tidak terjadi lonjakan rekening telepon? Menulis asumsi yang biasa digunakan : kurangi frekuensi menelpon atau setiap karyawan tidak boleh menggunakan telepon untuk kepentingan pribadi. Membalik asumsi : setiap karyawan bebas menggunakan telepon baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan perusahaan. Ide baru yang muncul : dirikan wartel di kantor, telepon kantor yang lama hanya boleh untuk menerima. Ide itu benar-benar dia jalankan. Dia dirikan wartel di kantor, dan minta bantuan PT Telkom agar telepon yang lama tidak bisa digunakan untuk menelpon keluar, tetapi bisa untuk menerima telpon dari luar. Apa yang terjadi? Semua karyawan senang, dia juga senang : karena justru ada pemasukan tambahan dari wartel tersebut.

Tabel 2. Perbedaan Keadaan, Asumsi, Pola Pikir “Poor Dad” Dengan “Rich Dad”

KEADAAN, ASUMSI, POLA PIKIR
POOR DAD (AYAH MISKIN)

KEADAAN, ASUMSI, POLA PIKIR
RICH DAD (AYAH KAYA)

Bergelar Doktor (PhD)

Tidak Lulus SMP

Bekerja keras sepanjang hidup

Bekerja keras, lalu bebas financial

Mati meninggalkan utang

Mati meninggalkan puluhan juta dolar

Cinta uang : akar kejahatan

Kekurangan uang : akar kejahatan

Saya tidak bisa membeli

Bagaimana saya bisa membeli?

Belajar giat à kerja di perusahaan

Bekerja giatà membeli perusahaan

Jangan ambil resiko

Belajar mengelola resiko

Membayat rekening di awal bulan

Membayar rekening di akhir bulan

Sibuk menabung beberapa dolar

Sibuk berinvestasi

Rumah = asset

Rumah = liabilities

Mengajarkan menulis riwayat hidup (untuk melamar kerja)

Mengajarkan menulis rencana bisnis dan keuangan

Uang tidak penting

Uang itu penting

Bekerja uantuk uang

Uang bekerja untuk saya

Kaya berarti :

Uang, uang, dan uang
Orientasi pada pendapatan
Banyak uang yang dihasilkan
Kaya berarti :

Aset, aset, aset
Ciptakan uang dari aset
Pendapatan pasif
Sekolah dan meraih nilai tinggi
Mendapatkan pekerjaan yang baik
Gaji tinggi dan aman
Menciptakan sistem bisnis
Bagaimana orang bekerja untuk Anda
Terus bisa menghasilkan uang
Waktu adalah uang
Bekerja untuk uang
Aman
Suka kerja, tidak suka investasi
Penghasilan rendah, pengeluaran besar
Agar aman
Budak uang
Waktu adalah belajar
Uang bekerja untuk Anda
Untuk sukses perlu gagal
Suka investasi, tidak suka kerja
Pendapatan tinggi, pengeluaran rendah
Agar bebas
Tuan uang
Fokus pada uang.

Fokus pada proses belajar yang terus menerus

Tidak menyadari perubahan

Menyadari perubahan

Fokus berapa uang dihasilkan

Fokus pada investasi

Pemasukan : gaji

Pemasukan dari aset : royalty, sewa, dll

Upaya : meningkatkan gaji

Upaya : meningkatkan aset

Rumah = asset

Rumah = liabilitas

Pemasukan tidak untuk menambah asset

Pemasukan untuk menambah aset

Fokus pada profesi

Fokus pada bisnis sendiri

Mengurus bisnis milik orang lain

Mengurus bisnis milik sendiri

Mengurus bisnis orang lain terfokus pada gaji

Mengurus bisnis sendiri terfokus pada asset

Berusaha mendapatkan pekerjaan yang aman

Berusaha mendapatkan aset yang disukai

Upaya : meningkatkan gaji

Upaya : meningkatkan dan memperkokoh aset

Cepat tertarik untuk membeli barang

Menunda membeli barang, membangun asset

Visi jangka pendek

Visi jangka panjang

Ingin langsung mendapatkan hasil

Percaya pada penundaan hasil

Menyalahgunakan kekuatan penggandaan

Kekuatan penggandaan

Lompatan besar

Ambil langkah kecil, lalu tekuni
MEMBANGUN MISI, VISI, DAN SASARAN USAHA
M. Musrofi
Imajinasi lebih penting dari pada ilmu pengetahuan.- Albert Einstein

Andai saja kita diminta membangun sebuah rumah. Sesederhana apa pun rumah itu, yang pertama kali dilakukan adalah membayangkan atau berimajinasi tentang sebuah rumah. Imajinasi tersebut dituangkan ke dalam sebuah gambar. Mungkin gambar itu perlu beberapa kali diperbaiki : ditambah, dikurangi, diubah. Gambar selesai. Biaya material dan tenaga kerja dihitung. Sasaran dan target penyelesaian pembangunan rumah ditentukan. Strategi disusun: bagaimana urutan dan cara penyelesaian setiap bagian rumah. Rencana tindak (action plan) ditulis : pekerjaan apa dikerjakan siapa dimana berapa biaya dan kapan. Cetak biru rumah selesai. Lalu just do it! Jalankan saja!

Kata orang, masa depan itu diciptakan. Dan awal penciptaan adalah imajinasi dan gambaran tentang masa depan atau visi. Imajinasi merupakan modal awal bagi seseorang untuk meraih sukses yang diinginkannya. Imajinasi merupakan pemicu yang mendorong kita untuk bergerak melakukan sesuatu. Anda akan punya kekuatan untuk mencapai imajinasi. Walau Anda tidak langsung dapat meraihnya, tetapi melalui usaha yang bertahap suatu saat imajinasi, mimpi, dan fantasi akan menjadi kenyataan.

Membangun rumah diawali dengan visi. Masak membangun masa depan usaha tanpa visi? Orang yang memulai usaha dari nol, biasanya tidak mau berpikir nasib usahanya dalam jangka panjang. Yang penting jalan dan menguntungkan, begitu kira-kira yang sering ada di benak orang. Ini pun tidak masalah. Namun, jauh lebih baik apabila ada visi. Dengan visi, orang akan tekun, dan terus-menerus termotivasi menuju visi tersebut. Tanpa visi, orang hanya terfokus pada keuntungan jangka pendek. Ketika usaha kelihatan kurang menguntungkan langsung mencari-cari usaha baru. Usaha yang satu gagal, ganti usaha yang lain. Usaha yang lain gagal, ganti usaha yang lain lagi, begitu seterusnya --sampai tua! Ingatlah Thomas Alva Edison, pemegang 1.093 hak paten –suatu rekor tertinggi sebagai pemilik hak paten-- dan pendiri General Electric pernah dikeluarkan dari sekolah. Sebelum Edison bisa membuat lampu yang berpijar ternyata ia telah mencoba sekitar 10.000 (ada yang mengatakan 9.000) lampu yang gagal. Untuk menemukan aki dia telah mencoba sebanyak 50.000 kali. Kolonel Sanders, telah ditolak oleh seribu lebih toko ketika ia menawarkan resep masakan ayam goreng. Akhirnya ia begitu tersohor dengan Kentucky Fried Chicken-nya (KFC). Mesin photo copy Xerox sebelum tersohor seperti sekarang ini, pernah ditolak oleh 20 perusahaan. Walt Disney runtuh 302 kali sebelum menjadi sebuah bisnis begitu gagah dan kuat. Henry Ford mengalami kebangkrutan sebanyak 5 kali. Kegagalan berubi-tubi, tetapi mereka tetap fokus. Pepatah Cina mengatakan, “Kalau Anda tetapkan satu tujuan (fokus) dan Anda terus berupaya meraihnya, tujuan itu akan tercapai.”

Pertanyaannya : bagaimana cara membangun visi usaha? Sebelum membangun visi, sebaiknya diketahui bidang usaha –bolehlah disebut misi-- ,”Apa sebenarnya usaha kita?” Ada ilustrasi yang diungkap Michael Michalko : Theodore Vail dipecat dari Bell Telephone pada tahun 1890, ketika dia nekat bertanya kepada manajemen, “Apa sebenarnya bisnis kita?” Dia dipanggil lagi 10 tahun kemudian, yakni ketika konsekuensi dari ketiadaan jawaban atas pertanyaan tersebut terbukti –yaitu ketika Bell System, yang beroperasi tanpa definisi yang jelas, telah hanyut dalam krisis parah dan terancam diambil alih oleh pemerintah. Jawaban Theodore Vail, “Bisnis kita adalah jasa, bukan telepon.” Jawaban ini mendorong inovasi radikal dalam kebijakan bisnis Bell Telephone.

Bagaimana cara mendefinisikan bisnis kita? Untuk ini perlu dijawab dua pertanyaan: Apa jenis bidang usaha Anda? (Manufaktur, perdagangan, atau jasa). Apa jenis produk atau jasa yang dihasilkan? Dijelaskan dengan spesifikasinya.

Setelah misi usaha sudah diketahui, langkah selanjutnya adalah menggambarkan visi atau masa depan usaha yang diinginkan. Langkah-langkah membangun sebuah visi sebagai berikut:

Langkah pertama : biarkan pikiran bebas, tenang, dan jernih. Berimajinasi seolah-olah usaha telah berjalan. Seolah-olah semua aktivitas usaha berjalan baik. Harapan-harapan yang menggairahkan dan menarik dibangkitkan.

Langkah kedua : pada suatu hari yang paling sempurna, lima tahun yang akan datang, tiba-tiba pada jam 10.00 pagi, Anda dihubungi stasiun televisi ternama untuk sebuah wawancara ekslusif, karena kesuksesan usaha Anda. Dalam wawancara tersebut, apa yang akan Anda jelaskan tentang sejarah usaha Anda? Tulislah sejarah usaha Anda itu sekarang! Tulislah bagaimana Anda berjuang dari tahun ke tahun untuk membangun kesuksesan usaha tersebut. Tulislah semua itu dengan penuh keyakinan diri.

Langkah ketiga : tulislah dengan singkat maksimum 50 kata sebagai ringkasan dari apa yang telah Anda tulis pada langkah kedua tersebut, mulailah dengan kata “menjadi”. Inilah rumusan visi usaha Anda. Sebaiknya visi itu unik, merupakan ekspresi keyakinan diri, ada keyakinan kuat untuk meraihnya, dan menantang.

Untuk meraih visi perlu tahapan. Setiap tahap diungkap ke dalam tujuan. Tujuan yang baik adalah tujuan yang dapat diperiksa dan diukur (verifiable) apakah tujuan tersebut tercapai atau tidak. Tujuan yang verifiable memenuhi lima kriteria “SMART” (cerdas), yakni : S – Spesific : rumuskan setepat-tepatnya apa yang ingin Anda capai untuk usaha Anda secara rinci. M – Measurable : tentukan bagaimana Anda mengukur kemajuan usaha Anda, yang terpenting, Anda bisa mengetahui apakah usaha Anda telah mencapai sasaran atau belum. A – Accountability: buatlah niat bulat secara pribadi bahwa Anda bertanggungjawab bagi tercapainya sasaran usaha Anda. – Realistic: patoklah sasaran-sasaran yang ambisius namun dapat dicapai. T – Time Line : ada target waktu pencapaian.

MENYULAP MASALAH MENJADI PELUANG
M. Musrofi
Bagaimana cara mengubah masalah menjadi peluang? Tentu ada seribu satu cara. Salah satu caranya ikuti langkah-langkah berikut : Pertama, tulislah masalah Anda di secarik kertas. Kemaslah masalah dalam bentuk pertanyaan. Kedua, cegah jangan sampai mencari sebab masalah, apalagi membuat solusi. Oleh karena kalau hal ini dilakukan dengan serampangan bisa-bisa ditemui jalan buntu! Ketiga, tulislah kata acak yang Anda ingat, atau tulislah sebuah benda yang Anda lihat, benda apa saja. Keempat, tulislah berbagai hal yang terkait dengan kata tersebut. Kelima, paksakan kaitan antara masalah Anda dengan berbagai hal yang terkait dengan kata Anda. Keenam, tulislah ide-ide Anda. (Langkah-langkah tersebut merupakan kombinasi dari “Pikiran Brutal” dalam Thinkertoys karangan Michael Michalko dan InnovAction oleh Dennis Shewoord). Berikut kasus nyata bagaimana mengubah masalah menjadi peluang.

Kasus Nyata Pertama
Ervianto, pemilik dan pimpinan perusahaan mebel ekspor menemui saya,”Mas, tolong carikan investor. Saya ada order baru nih. Saya tidak punya modal (kerja). Pinjam bank sudah tidak bisa, sertifikat tanah sudah masuk bank.” Apa yang dikatakan Ervi tersebut adalah masalah (ada order baru), sebab masalah (tidak ada modal kerja), dan solusi (cari investior). Mari kita fokuskan pada masalahnya saja, lalu ikuti keenam langkah di atas : pertama, rumusan masalah,”Bagaimana cara mengatasi order baru?” Kedua, tahan jangan mencari sebab masalah. Ketiga, ketika dihadapkan pada masalah itu, saya melihat tempat sampah. Spontan saya tulis “sampah”. Keempat, saya tulis hal-hal yang terkait dengan sampah : dibuang, daur ulang, dipilah (sampah organik dan anorganik), sumber penyakit, bau tidak sedap. Kelima, saya buat analogi dan asosiasi dari hal-hal yang berkaitan dengan sampah lalu saya paksa kaitkan dengan masalah Ervianto tersebut :

Dibuang (sampah dibuang). Kata “dibuang” menghasilkan ide : order itu dikesampingkan dulu, atau order itu dikaji ulang : apa benar menguntungkan? Dari sini, saya menanyakan order tersebut pada Ervi. Ternyata order baru adalah garden furniture. Padahal selama ini perusahaan memproduksi indoor furniture, dimana proses produksi garden furniture jauh berbeda dan lebih kompleks dibandingkan indoor furniture.
Daur ulang sampah. Kata “daur ulang” memunculkan ide : kalau ada barang setengah jadi yang ditolak (reject) dirakit, lalu dijual ke pasar lokal dengan harga murah. Begitu juga barang jadi yang reject, dijual di pasar lokal. Hasil penjualan untuk memperkuat modal kerja. Dua ide ini layak dilakukan, karena tdi perusahaan banyak tumpukan barang setengah jadi dan barang jadi yang reject.
Dipilah. Kata “dipilah” memicu ide : pemilahan atau pemisahan proses produksi order baru dengan order lama, bahkan dengan pembentukan PT (Perseroan Terbtas) baru. Cara ini lebih menarik minat investor, dari pada investor hanya diposisikan sebagai penyedia dana saja tanpa terlibat didalam perusahaan.
Sumber penyakit (lalat pembawa penyakit). Kata “terbang” menghasilkan ide : ke sana ke mari mencari informasi tentang sumber permodalan selain bank dan investor individual, misalnya Depkop dan UKM, dan BUMN (PT TELKOM, PT PLN, PT ANGKASA PURA, dsb.).
Bau tidak sedap. Kata “bau” saya kaitkan dengan “mengetahui”, “mengenal”. Bagaimana agar perusahaan yang berprospek bagus tersebut dikenal berbagai sumber permodalan. Ide : membuat prospektus sederhana sebagai alat komunikasi dengan berbagai sumber permodalan.
Langkah keenam, saya tulis semua ide: 1) Kaji ulang keuntungan dan kerugian menerima order baru. 2) Barang setengah jadi yang reject dirakit, lalu dijual di pasar lokal. 3) Barang jadi yang reject yang menumpuk di gudang dijual di pasar lokal. 4) Pembentukan perusahaan (PT) baru. 5) Pembuatan prospektus. 6) Mencari informasi ke Depkop dan BUMN.

Kasus Nyata Kedua

Rekan saya (Agus) adalah asisten laboratorium komputer di sebuah politeknik (dia tidak bisa menjadi dosen karena lulusan D3). Dia mengeluh,”Saya bingung. Politeknik menerapkan aturan baru yang ketat : tidak boleh pulang atau keluar kampus sebelum jam 16.00. Akibatnya saya tidak dapat tambahan pendapatan, karena saya tidak bisa nyambi menerima service komputer di luar kampus, pada jam kosong. Mau keluar (dari politeknik), tidak punya lagi gaji tetap, sudah beristri soalnya…”

Agus menghadapi jalan buntu, justru karena ia telah menetapkan sebab masalah (yakni tidak bisa nyambi service komputer). Saran apa yang saya berikan ke Agus? Ketika itu di meja saya ada Majalah “Entrepreneur” (ME). Spontan saya tulis kertas kosong: “majalah ME” dan hal-hal yang ada di majalah tersebut : terbit sebulan sekali, entrepreneur, sampul didominasi warna gelap, ada warna merah, ada warna kuning, 54 halaman. Lalu saya kembangkan kesamaan dan saya paksa kaitkan dengan masalah Agus :

Terbit sebulan sekali. Kata “terbit”, memunculkan ide : buat dan terbitkan buku praktis tentang reparasi hardware dan software komputer. Naskah buku dibuat di kampus, pada jam kosong, tidak perlu keluar kampus.
Majalah “Entrepreneur”. Kata entrepreneur memunculkan ide : Agus agar sering membaca biografi / outobiografi para entrepreneur untuk membangkitkan jiwa wirausaha.
Warna gelap ME. Kata “gelap” dianalogikan dengan bingung, tidak tahu arah. Hal ini memunculkan ide : agar Agus membuat visi diri (menjadi apa setahun atau lima tahun dari sekarang).
Warna merah pada ME. Merah identik dengan berani, memunculkan ide: Agus harus berani mengambil keputusan untuk memilih : tetap menjadi asisten atau keluar menjadi entrepreneur.
Warna kuning di ME, mengingatkan saya pada burung kepodang. Burung terbang ke sana ke mari, saya analogikan bahwa Agus harus terus menambah pengetahuan dan keterampilan dari berbagai sumber.
Jadi ide-ide untuk Agus : 1) Mengarang buku tentang komputer, lalu diterbitkan. 2) Membaca biografi / otobiografi entrepreneur sukses. 3) Berani mengambil keputusan. 4) Membuat visi diri. 5) Selalu menambah pengetahuan dan keterampilan.

Selamat mengubah masalah menjadi peluang!
SUMBER:POTENSIPRENEUR

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar