17 Juni 2011

Inspirational ENTREPRENEUR Public Figure : Chairul Tanjung

Chairul Tanjung berbagi rahasia suksesnya menjadi pengusaha. Menurut pria yang masuk dalam daftar 1.000 orang terkaya di dunia versi Majalah Forbes tersebut, modal utama untuk menjadi seorang pengusaha bukanlah modal yang besar.

Namun yang terpenting, seorang calon pengusaha tidak boleh cengeng dan mudah menyerah.

"Tanpa kerja keras ini semua omong kosong. Modal utama pengusaha adalah jangan cengeng, jangan mudah menyerah," kata Chairul saat ditemui dalam Pesta Wirausaha 2010 di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto Jakarta Minggu (11/4/2010).

Apa yang disampaikannya bukanlah omong kosong belaka. Namun lebih berdasarkan pada pengalamannya sebagai seorang pengusaha sukses. Ia mengaku saat memulai membangun kerajaan bisnisnya, ia sudah terbiasa bekerja lebih dari 18 jam per hari. Menurut Chairul, itu dilakukan untuk mewujudkan impiannya, yang sering dianggap terlalu.

"Anda semua akan dapat berdiri di sini menggantikan saya apabila bekerja keras. Dan dibutuhkan kemampuan entrepenuer dan manajerial yang baik. Tidak lagi semata-mata modal," ungkapnya di hadapan para wirausaha yang bernaung dalam wadah komunitas 'Tangan Diatas' (TDA).

Selain kerja keras, hal lain yang harus diingat adalah kerja ikhlas. Setelah itu, imbuh dia, baru menyerahkan segala hasil kerja keras yang dilakukannya kepada Tuhan.

Tips lainnya untuk menjadi seorang pengusaha sukses di tanah air yaitu harus mampu menciptakan bisnis yang tidak biasa (unusual). Dirinya mencontohkan bagaimana seorang pengusaha air mineral, AQUA, menciptakan peluang yang tidak dipikirkan orang kebanyakan sebelumnya. Dan akhirnya AQUA diikuti oleh banyak pengusaha lain untuk terjun di bisnis air kemasan.

"Kita juga ingat bagaimana Bill Gates menjadi pendiri Microsoft, dan menciptakan sistem komputer pertama yang dapat digunakan dengan mudah. Bill Gates juga tercatat sebagai yang paling sering masuk dalam orang terkaya di dunia. Sekarang siapa yang bisa menyaingi Microsoft. Begitu juga dengan AQUA. Tidak ada," paparnya.

Seperti diketahui, pada awal bulan lalu pemilik Para Group ini masuk ke dalam daftar 1.000 orang terkaya di dunia versi majalah forbes, dia menempati posisi 937 dengan jumlah kekayaan sebesar US$ 1 Miliar. Tahun lalu, pengusaha kelahiran Jakarta, 16 Juni 1962 ini juga masuk daftar 40 orang terkaya di Indonesia.

Selama ini, bidang bisnis yang pernah digeluti olehnya adalah bidang keuangan, properti, dan multimedia. Bahkan Chairul Tanjung pernah dinobatkan sebagai seorang tokoh bisnis paling berpengaruh di Indonesia oleh Majalah Warta Ekonomi.

Chairul bukan tergolong pengusaha "dadakan" yang sukses berkat kelihaian membangun kedekatan dengan penguasa. Mengawali kiprah bisnis selagi kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, sepuluh tahun kemudian ia telah memiliki sebuauh kelompok usaha yang disebut Para Group yang membawahi dua stasiun televisi yaitu Trans TV dan Trans7. Selain itu Chairul juga membidangi usaha sektor keuangan melalui PT Bank Mega Tbk.

Kelompok usaha ini dibangun berawal dari modal yang diperoleh dari Bank Exim sebesar Rp 150 juta. Bersama tiga rekannya yang lain, ia mendirikan pabrik sepatu anak-anak yang semua produknya diekspor.

Chairul Tanjung dilahirkan di Jakarta. Ia anak A.G. Tanjung, seorang wartawan di zaman orde lama yang pernah menerbitkan lima surat kabar beroplah kecil. Chairul dan keenam saudaranya hidup berkecukupan. Namun, pada zaman Orde Baru, sang ayah dipaksa menutup usaha persnya karena berseberangan secara politik dengan penguasa.
Setamat SMA, Chairul masuk Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia pada tahun 1981. Chairul menghadapi masalah pada biaya kuliahnya. Ia pun mulai berbisnis dari dasar sekali, berjualan buku kuliah stensilan, kaos, dan lainnya di kampusnya. Selanjutnya, ia membuka sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di bilangan Senen Raya, Jakarta Pusat tapi bangkrut.

Setelah menutup tokonya, Chairul membuka usaha kontraktor. Kurang berhasil, Chairul bekerja di industri baja dan kemudian pindah ke industri rotan. Waktu itulah, ia bersama tiga rekannya ia membangun PT Pariarti Shindutama. Bermodal awal Rp 150 juta dari Bank Exim, mereka memproduksi sepatu anak-anak untuk ekspor. Keberuntungan berpihak padanya, karena perusahaannya langsung mendapat pesanan 160 ribu pasang sepatu dari Italia. Dari sini usahanya merambah ke industri genting, sandal dan properti. Sayang, karena perbedaan visi tentang ekspansi usaha dengan ketiga rekannya, Chairul memilih menjalankan usahanya sendiri.

Mengarahkan usahanya ke konglomerasi, Chairul mereposisikan dirinya ke tiga bisnis inti : keuangan, properti, dan multi media. Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Tugu yang kini bernama Bank Mega yang kini telah naik peringkatnya dari bank urutan bawah ke bank kelas atas. Selain memiliki perusahaan sekuritas, ia juga merambah ke bisnis asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Di sektor sekuritas, lelaki kelahiran Jakarta ini mempunyai perusahaan real estate dan pada tahun 1999 telah mendirikan Bandung Supermall. Di bisnis multimedia, Chairul mendirikan Trans TV, di samping menangani stasion radio dan media on line atau satelit. Ia juga bersiap untuk masuk ke media cetak.

Di tengah persaingan yang ketat di sektor media televisi, Chairul merasa yakin Trans TV akan mampu bersaing. Ini karena ia melihat pada belanja iklan nasional yang sudah mencapai Rp 6 triliun setahun, 70% di antaranya akan diambil oleh televisi. Jumlah perusahaan Chairul, yaitu Para Group mempunyai Para Inti Holdindo sebagai father holding company, yang membawahi beberapa sub holding seperti : Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi) dan Para Inti Propertindo (properti) dan jumlah karyawan yang dipekerjakan kurang lebih mencapai 5.000 orang.

Dikutip dari detik.com bahwa Chairul Tanjung (CT) yang telah mengakusisi 40% saham PT Carrefour Indonesia direspon positif oleh sesama pengusaha di dalam negeri. Diharapkan Carrefour dibawah Chairul Tanjung bisa mengendepankan kepentingan nasional yaitu dapat menyumbangkan pembinaan terhadap usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia.

"Jadi harus betul-betul membela kepentingan kita, jangan justru sebaliknya," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi saat dihubungi detikFinance, Minggu (18/4/2010).

Sofjan mengakui langkah Para Group tersebut merupakan aksi yang positif bagi dunia usaha di Indonesia. Selain itu, kata dia, kehadiran pengusaha lokal disebuah perusahaan asing akan memberikan keyakinan bahwa kiprah Carrefour di Indonesia tidak semata-mata hanya untuk kepentingan pemodal asing.

"Saya harapkan Chairul Tanjung bisa mebantu para pelaku UKM, dengan dia masuk tidak lagi menimbulkan konfrontasi, jadi kuncinya ada di Chairul Tanjung," katanya.

Seperti diketahui, Chairul Tanjung melalui kelompok usahanya yaitu Para Group mengakuisisi 40% saham PT Carrefour Indonesia senilai lebih dari Rp 3 triliun. Akuisisi itu dilakukan Trans Corp melalui PT Trans Ritel, sebuah anak perusahaan Trans Corp.

Setelah akuisisi oleh Trans Corp ini, maka komposisi pemegang saham PT Carrefour Indonesia adalah Trans Ritel (40%), Carrefour SA 39%, Carrefour Netherland BV 9,5%, dan Onesia BV 11,5%.

Setelah membeli 40% saham Carrefour, Chairul kini menjadi komisaris utama PT Carrefour Indonesia didampingi oleh AM Hendropriyono (mantan Kepala BIN) dan S.Bimantoro (mantan petinggi Polri) sebagai komisaris.
Gurita bisnis Chairul Tanjung memang sudah meluas. Setelah menguasai bisnis stasiun televisi, bank hingga waralaba, Chairul Tanjung meluaskan bisnisnya ke ritel dengan membeli 40% saham PT Carrefour Indonesia.

Setelah akuisisi oleh Trans Corp ini, maka komposisi pemegang saham PT Carrefour Indonesia adalah Trans Ritel (40%), Carrefour SA 39%, Carrefour Netherland BV 9,5%, dan Onesia BV 11,5%.

Chairul Tanjung menempatkan dirinya pada urutan ke 937 dari 1.000 orang terkaya didunia versi majalah forbes dengan total kekayaan senilai US$ 1 Miliar. sedangkan daftar 40 orang terkaya Indonesia tahun 2009 versi Forbes yang dirilis, Kamis (3/12/2009) lalu. Chairul Tanjung menempatkan dirinya pada posisi ke 13 , datanya bisa dilihat disitus detik.com disini

Pendididkan
- SD Van Lith, Jakarta (1975)
- SMP Van Lith, Jakarta (1978)
- SMA Negeri I Budi Utomo, Jakarta (1981)
- Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (1987)

Kegiatan Lain
- Anggota Komite Penasihat Prakarsa Jakarta (Restrukturisasi Perusahaan)
- Delegasi Indonesia untuk Asia-Europe Business Forum
- Anggota Pacific Basin Economic Council
- Pengurus Yayasan Kesenian Jakarta
- Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia
- Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia
- Ketua Yayasan Indonesia Forum

Lahir: 16 Juni 1962 (umur 47) Jakarta, Indonesia
Pekerjaan: Pemilik (CEO) utama Para Group
Agama: Islam

Chairul Tanjung (lahir di Jakarta, 16 Juni 1962; umur 47 tahun[1]) adalah pengusaha asal Indonesia. Mamanya dikenal luas sebagai usahawan sukses bersama perusahaan yang dipimpinnya, Para Group[2].

Chairul telah memulai berbisnis ketika ia kuliah dari Jurusan Kedokteran Gigi Universitas Indonesia[2]. Sempat jatuh bangun, akhirnya ia sukses membangun bisnisnya. Perusahaan konglomerasi miliknya, Para Group menjadi sebuah perusahaan bisnis membawahi beberapa perusahaan lain seperti Trans TV dan Bank Mega[3].

Karier dan Kehidupan

Chairul dilahirkan di Jakarta dalam keluarga yang cukup berada. Ayahnya A.G. Tanjung adalah wartawan zaman orde lama yang menerbitkan surat kabar beroplah kecil. Chairul berada dalam keluarga bersama enam saudara lainya. Ketika Tiba di zaman Orde Baru, usaha ayahnya dipaksa tutup karena berseberangan secara politik dengan penguasa saat itu. Keadaan tersebut memaksa orangtuanya menjual rumah dan berpindah tinggal di kamar losmen yang sempit[1].

Selepas menyelesaikan sekolahnya di SMA Boedi Oetomo pada 1981, Chairul masuk Jurusan Kedokteran Gigi Universitas Indonesia[4] (lulus 1987[1]). Ketika kuliah inilah ia mulai masuk dunia bisnis. Dan ketika kuliah juga, ia mendapat penghargaan sebagai Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional 1984-1985[1].
Demi memenuhi kebutuhan kuliah, Ia mulai berbisnis dari awal yakni berjualan buku kuliah stensilan, kaos, dan lainnya di kampusnya. Ia juga membuka usaha foto kopi di kampusnya. Chairul juga pernah mendirikan sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di bilangan Senen Raya, Jakarta Pusat, tetapi bangkrut[3].

Selepas kuliah, Chairul pernah mendirikan PT Pariarti Shindutama bersama tiga rekannya pada 1987. Bermodal awal Rp 150 juta dari Bank Exim, mereka memproduksi sepatu anak-anak untuk ekspor[5]. Keberuntungan berpihak padanya, karena perusahaan tersebut langsung mendapat pesanan 160 ribu pasang sepatu dari Italia. Akan tetapi, karena perbedaan visi tentang ekspansi usaha, Chairul memilih pisah dan mendirikan usaha sendiri[5].

Kepiawaiannya membangun jaringan dan sebagai pengusaha membuat bisnisnya semakin berkembang. Mengarahkan usahanya ke konglomerasi, Chairul mereposisikan dirinya ke tiga bisnis inti: keuangan, properti, dan multimedia. Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Tugu yang kini bernama Bank Mega[3].

Ia menamakan perusahaan tersebut dengan Para Group. Perusahaan Konglomerasi ini mempunyai Para Inti Holdindo sebagai father holding company, yang membawahkan beberapa sub-holding, yakni Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi) dan Para Inti Propertindo (properti)[1].

Di bawah grup Para, Chairul Tanjung memiliki sejumlah perusahaan di bidang finansial antara lain Asuransi Umum Mega, Asuransi Jiwa Mega Life, Para Multi Finance, Bank Mega Tbk, Mega Capital Indonesia, Bank Mega Syariah dan Mega Finance. Sementara di bidang properti dan investasi, perusahaan tersebut membawahi Para Bandung propertindo, Para Bali Propertindo, Batam Indah Investindo, Mega Indah Propertindo. Dan di bidang penyiaran dan multimedia, Para Group memiliki Trans TV, Trans 7, Mahagagaya Perdana, Trans Fashion, Trans Lifestyle, dan Trans Studio[6].
Khusus di bisnis properti, Para Group memiliki Bandung Supermall[3]. Mal seluas 3 hektar ini menghabiskan dana 99 miliar rupiah. Para Group meluncurkan Bandung Supermall sebagai Central Business District pada 1999[1]. Sementara di bidang investasi, Pada awal 2010, Para Group melalui anak perusahaannya, Trans Corp., membeli sebagian besar saham Carefour, yakni sejumlah 40%. Mengenai proses pembelian Carrefour. MoU pembelian saham Carrefour ditandatangani pada tanggal 12 Maret 2010 di Perancis[7].

Majalah ternama Forbes merilis daftar orang terkaya dunia 2010. Sebagai sebuah pencapaian, menurut majalah tersebut, Chairul Tanjung termasuk salah satu orang terkaya dunia asal Indonesia. Forbes menyatakan bahwa Chairul Tanjung berada di urutan ke 937 dunia dengan total kekayaan US$ 1 miliar[8].


Latar Belakang Pendidikan

Berikut selengkapnya latar belakang pendidikan seorang Chairul Tanjung[1].

SD Van Lith, Jakarta (1975)
SMP Van Lith, Jakarta (1978)
SMA Negeri I Boedi oetomo, Jakarta (1981)
Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia (1987)
Executive IPPM (MBA; 1993)


Pemikiran

Chairul menyatakan bahwa dalam membangun bisnis, mengembangkan jaringan (network) adalah penting. Memiliki rekanan (partner) dengan baik diperlukan[9]. Membangun relasi pun bukan hanya kepada perusahaan yang sudah ternama, tetapi juga pada yang belum terkenal sekalipun. Bagi Chairul, pertemanan yang baik akan membantu proses berkembang bisnis yang dikerjakan. Ketika bisnis pada kondisi tidak bagus (baca: sepi pelanggan) maka jejaring bisa diandalkan. Bagi Chairul, bahkan berteman dengan petugas pengantar surat pun adalah penting[9].

Dalam hal investasi, Chairul memiliki idealisme bahwa perusahaan lokal pun bisa menjadi perusahaan yang bisa bersinergi dengan perusahaan-perusahaan multinasional[7]. Ia tidak menutup diri untuk bekerja sama dengan perusahaan multinasional dari luar negeri. Baginya, ini bukan upaya menjual negara. Akan tetapi, ini merupakan upaya perusahaan nasional Indonesia bisa berdiri sendiri, dan jadi tuan rumah di negeri sendiri[7].

Menurut Chairul, modal memang penting dalam membangun dan mengembangkan bisnis. Baginya, kemauan dan kerja keras harus dimiliki seseorang yang ingin sukses berbisnis[4]. Namun mendapatkan mitra kerja yang handal adalah segalanya. Baginya, membangun kepercayaan sama halnya dengan membangun integritas. Di sinilah pentingnya berjejaring (networking) dalam menjalankan bisnis[9].
Dalam bisnis, Chairul menyatakan bahwa generasi muda bisnis sudah seharusnya sabar, dan mau menapaki tangga usaha satu persatu. Menurutnya, membangun sebuah bisnis tidak seperti membalikkan telapak tangan[6]. Dibutuhkan sebuah kesabaran, dan tak pernah menyerah. Jangan sampai banyak yang mengambil jalan seketika (instant), karena dalam dunia usaha kesabaran adalah salah satu kunci utama dalam mencuri hati pasar. Membangun integritas adalah penting bagi Chairul. Adalah manusiawi ketika berusaha,sesorang ingin segera mendapatkan hasilnya. Tidak semua hasil bisa diterima secara langsung[6].





"The Rising Star"

Dalam peta baru pengusaha besar nasional belakangan ini, namanya disebut sebagai the rising star. Pemilik Para Group ini berhasil melakukan lompatan bisnis spektakuler justru ketika ekonomi masih dilanda badai krisis. Lompatan besar bermula ketika ia mengambil alih Bank Mega. Namun di PBSI, sebagai Ketua Umum ia kurang beruntung, dan memilih mundur. Ia digantikan Sutiyoso, Gubernur DKI dalam Munaslub di Jakarta sabtu 17 Juli 2004

Badai krisis yang berlangsung sejak empat tahun lalu telah meluluh lantahkan bangunan bisnis lama. Para pengusaha raksasa yang populer disebut konglomerat satu demi satu telah berguguran. Tak hanya dari kelompok nonpri, pengusaha besar dari kalangan pribumi pun hampir tak ada yang terbebas dari lilitan masalah. Jika kini disusun sebuah daftar kelompok usaha besar baru, misalnya dengan tolok ukur aset di atas Rp 1 triliun, petanya pasti telah jauh berubah dibanding sebelum krisis.

Belakangan ini, Chairul Tanjung adalah sosok pengusaha yang namanya paling banyak disebut ketika berbicara mengenai peta baru pengusaha besar nasional. Ia banyak disebut sebagai the rising star. Pengusaha pemilik Para Group ini berhasil melakukan lompatan bisnis yang spektakuler justru ketika ekonomi masih dilanda badai krisis.

Lompatan besar bermula ketika ia memutuskan untuk mengambil alih kepemilikan Bank Mega pada 1996 lalu. Berkat tangan dinginnya, bank kecil dan sedang sakit-sakitan yang sebelumnya dikelola oleh kelompok Bappindo itu kemudian disulap menjadi bank besar dan disegani. Pada akhirnya bank ini pun menjadi pilar penting dalam menopang bangunan Para Group. Dua pilar lain adalah Trans TV dan Bandung Supermall.

Sebagai sosok pengusaha sukses yang kini langka, Chairul dikalangan teman-teman dekatnya sering dijuluki sebagai The Last of The Mohicans. Sebutan ini mengacu pada sebuah judul film terkenal produksi Hollywood beberapa tahun lalu yang menceritakan kisah penaklukan kaum kulit putih terhadap bangsa Indian di Amerika Serikat sana. Pada akhirnya, bangsa asli yang sebelumnya menjadi tuan tanah dan penguasa wilayah itu kemudian semakin terpinggir dan menjadi sosok langka. Namanya saja sebutan berbau joke sehingga tetap atau tidak penting.

Yang jelas Chairul bukan tergolong pengusaha "dadakan" yang sukses berkat kelihaian membangun kedekatan dengan penguasa. Mengawali kiprah bisnis selagi kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, sepuluh tahun kemudian ia telah memiliki sebuauh kelompok usaha yang disebut Para Group. Kelompok usaha ini dibangun berawal dari modal yang diperoleh dari Bank Exim sebesar Rp 150 juta. Bersama tiga rekannya yang lain, ia mendirikan pabrik sepatu anak-anak yang semua produknya diekspor. "Dengan bekal kredit tersebut saya belikan 20 mesin jahit merek Butterfly," ujarnya suatu saat kepada Eksekutif.

Kini pengusaha kelahiran 16 Juni 1962 itu menjadi figur sukses yang sangat sibuk. Ketika Eksekutif meminta kesempatan untuk sebuah wawancara khusus, ia mengaku kerepotan untuk memilih waktu yang tepat. Meklum, selain sibuk mengurus bisnis, pria satu ini juga punya segudang kegiatan kemasyarakatan. Sebelum terpilih menjadi ketua umum PB PBSI beberapa waktu lalu, Chairul telah aktif di berbagai organisasi sosial seperti PMI, Komite Kemanusiaan Indonesia, anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia dan sebagainya. "Kini waktu saya lebih dari 50% saya curahkan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan," ungkapnya. (Tokoh Indonesia, Repro Eksekutif No. 269)


Tokoh Bisnis

Warta Ekonomi 28 Desember 2005 menganugerahi Chairul Tanjung, Komisaris Utama Grup Para sebagai salah seorang tokoh bisnis paling berpengaruh tahun 2005. Prestasinya, dinilai tak sesederhana penampilannya. Tiga pilihan bidang bisnisnya, keuangan, properti, dan multimedia, menunjukkan kinerja yang nyaris sempurna. Chairul Tanjung adalah rising star.

Sulit membayangkan seorang dokter gigi terjun bebas ke dunia bisnis. Namun, tidak bagi Chairul Tanjung, komisaris utama Grup Para. Semasa kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi UI, Chairul muda sudah mulai berani berjualan untuk mengasah kemampuannya berbisnis. Nalurinya kian terarah ketika bisnis sepatunya, yang memperoleh pinjaman dari Bank Exim, makin berkembang.

Orang nomor satu di Grup Para ini adalah sosok yang bersahaja. Penampilannya sederhana, tetapi sangat tajam dalam menerjemahkan visi bisnisnya. Chairul mereposisikan kelompok usahanya dalam tiga bisnis inti: keuangan, properti, dan multimedia.

Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Tugu dan mengganti namanya menjadi Bank Mega. Kini bank ini menjadi salah satu bank papan atas. Hingga September 2005, Bank Mega memiliki nilai buku asetnya mencapai Rp1,5 triliun. Tahun 2005 ini sejumlah investor asing dari Eropa dan AS sudah mengajukan surat resmi untuk membeli saham Bank Mega seharga tiga kali lipat dari nilai bukunya. Selain bank, Chairul juga memiliki perusahaan sekuritas dan mulai merambah bisnis asuransi jiwa dan kerugian.
Di bisnis properti, pria kelahiran Jakarta ini mempunyai Bandung Supermall. Mal seluas 3 hektar ini menghabiskan dana Rp99 miliar. Itu pun belum semua area dibangun. Rencananya, di sisa lahan 8 hektar ia akan membangun hotel, restoran, dan bangunan pendukung lainnya.

Bisnis Chairul yang paling moncer adalah Trans TV dengan 21 menara yang mencakup seluruh Jawa, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan Papua. Pada akhir 2005 dia berharap seluruh Indonesia bisa di-cover, dengan menambah menara sampai 31—32. Investasi untuk satu menara diperkirakan Rp3—5 miliar. Chairul sangat optimistis di bisnis ini karena melihat belanja iklan nasional sudah mencapai Rp6 triliun, dengan 70% di antaranya akan masuk ke TV.

Ia pun berencana mendirikan stasiun radio dan media online atau satelit. Target lainnya adalah bersiap masuk ke media cetak. Dua-tiga tahun setelah Trans TV mendapatkan keuntungan, ia berencana melepas 20%—30% sahamnya ke pasar modal. Dana hasil IPO ini akan ia alokasikan untuk pengembangan usaha dan membayar utang.

Saking banyaknya, Chairul mengaku sampai tak tahu berapa jumlah perusahaannya. Namun, yang jelas, Grup Para mempunyai Para Inti Holdindo sebagai holding company, yang membawahkan beberapa subholding: Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi), dan Para Inti Propertindo (properti). Kini ia mempekerjakan 5.000 karyawan.

Apa jadinya jika seorang calon dokter gigi justru merambah bisnis televisi? Jika ingin tahu jawabannya, lihatlah sosok Chairul Tanjung, pebisnis asli pribumi yang kini namanya berkibar dengan Grup TransTV dan Trans7. Berkat kesulitan ekonomi yang menderanya, ternyata hal tersebut justru menjadi bekal mengasah ketajaman insting bisnisnya.

Saat kuliah di Fakultas Kedokteran gigi Universitas Indonesia, pada periode tahun 1980-an, ia memang harus memenuhi kebutuhan kuliahnya sendiri. Meski terlahir dari keluarga yang cukup berada, karena perubahan keadaan politik, keluarganya terpaksa menjalani kehidupan seadanya. Dari rumah yang tergolong besar, mereka harus menjualnya, dan menyewa sebuah losmen sempit.

Namun, ternyata, kesulitan ini justru membuat Chairul membulatkan tekadnya untuk kembali berjuang meraih kesuksesan," Saya bercita-cita jadi orang besar." Maka, lepas dari SMA Boedi Utomo Jakarta, ia pun masuk ke Fakultas Kedokteran Gigi UI. Kesulitan biaya kuliah membuatnya harus kreatif mencari dana untuk meneruskan sekolahnya. Maka, kelahiran Jakarta, 18 Juni 1962 ini pun lantas memulai bisnis kecil-kecilan. Mulai dari berjualan buku kuliah stensilan, kaos, sepatu, dan aneka barang lain di kampus dan kepada teman-temannya. Dari modal usaha itu, ia berhasil membuka sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di daerah Senen Raya, Jakarta. Sayang, karena sifat sosialnya - yang sering memberi fasilitas kepada rekan kuliah, serta sering menraktir teman - usaha itu bangkrut.

Namun, rupanya, menjadi pebisnis telah memikat hatinya. Walau bangkrut, ia justru langsung mencoba usaha lain, kali ini di bidang kontraktor. Meski juga kurang berhasil, ia merasa mendapat pelajaran banyak hal dari bisnis-bisnis yang pernah ditanganinya. Dari bekal pengetahuan itu, ia memberanikan mendirikan CV pertamanya pada tahun 1984 dan menjadikannya PT pada tahun 1987. Dari PT bernama Pariarti Shindutama itu, ia berkongsi dengan dua rekannya mendirikan pabrik sepatu. Kepiawaiannya menjaring hubungan bisnis langsung membuat sepatu produksinya mendapat pesanan sebanyak 160 ribu pasang dari pengusaha Italia. Dari kesuksesan ini, bisnisnya merambah ke industri genting, sandal, dan properti. Namun, di tengah kesuksesan itu, rupanya ia mengalami perbedaan visi dengan kedua rekannya. Maka, ia pun memilih menjalankan sendiri usahanya.

Ternyata, ia justru bisa makin berkembang dengan berbagai usahanya. Ia pun lantas memfokuskan usahanya ke tiga bisnis inti, yakni: keuangan, properti, dan multimedia. Melalui tangan dinginnya, ia mengakuisisi sebuah bank kecil yang nyaris bangkrut, Bank Tugu. Keputusan yang dianggap kontoversial saat itu oleh orang dekatnya. Namun, pengalaman bangkit dari kegagalan rupanya mengajarkannya banyak hal. Ia justru berhasil mengangkat bank itu, - setelah mengubah namanya menjadi Bank Mega - menjadi bank papan atas dengan omset di atas Rp1 triliun saat ini.

Selain itu, suami dari dokter gigi Ratna Anitasari ini juga merambah bisnis sekuritas, asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Kemudian, di bisnis properti, ia juga telah membuat sebuah proyek prestisius di Kota Bandung, yang dikenal dengan Bandung Supermall. Dan, salah satu usaha yang paling melambungkan namanya yaitu bisnis televisi, TransTV. Pada bisnis pertelevisian ini, ia juga dikenal berhasil mengakuisisi televisi yang nyaris bangkrut TV7, dan kini berhasil mengubahnya jadi Trans7 yang juga cukup sukses.
Tak heran, dengan semua prestasinya, ia layak disebut sebagai "The Rising Star". Bahkan, baru-baru ini, ia dinobatkan sebagai orang terkaya Indonesia, di posisi ke-18, dengan total kekayaan mencapai 450 juta dolar AS. Sebuah prestasi yang mungkin tak pernah dibayangkannya saat memulai usaha kecil-kecilan, demi mendapat biaya kuliah, ketika masih kuliah di UI dulu.

Hal itulah yang barangkali membuat Chairul Tanjung selalu tampil apa adanya, tanpa kesan ingin memamerkan kesuksesannya. Selain itu, rupanya ia pun tak lupa pada masa lalunya. Karenanya, ia pun kini getol menjalankan berbagai kegiatan sosial. Mulai dari PMI, Komite Kemanusiaan Indonesia, anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia dan sebagainya. "Kini waktu saya lebih dari 50% saya curahkan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan," ungkapnya.

Pencapaian Chairul Tanjung sebagai tokoh bisnis yang gemilang, dengan berbagai jenis usahanya, telah membuat ia dinobatkan sebagai "The Rising Star". Ia mampu membuktikan, bahwa kebangkrutan dan kegagalan, justru bisa menjadi bahan pembelajaran guna meraih sukses yang luar biasa di kemudian hari. Dan, yang terpenting, di tengah kesuksesannya, ia kini tak lupa berbagi, dengan menjadi pegiat berbagai urusan sosial kemasyarakatan. Sebuah catatan kehidupan seorang Chairul Tanjung yang bisa diteladani kita semua.

Siapa sangka hanya karena selembar kain halus membuat jiwa wiraswasta Chairul Tanjung muncul. Kini sang CEO Para Group itu memiliki segudang bisnis yang bergerak di jasa keuangan, gaya hidup dan hiburan, properti, dan sumber daya alam.

Kisah itu bermula dari awal kuliah di jurusan Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Biaya masuk kuliah kala tahun 1981 sebesar Rp 75 ribu, dengan uang kuliah per tahun Rp 45 ribu. Rupanya, untuk membayar uang kuliah tersebut, sang ibu sampai harus menggadaikan selembar kain halus.
Tak jelas kain seperti apa yang digadaikan, namun pada masa itu kain tersebut biasanya hanya dikeluarkan pada peristiwa penting seperti pernikahan. Chairul baru tahu, sang ibunda menggadaikan kain setelah dia masuk kuliah. Mengetahui rahasia itu, dia terenyuh dan berjanji pada diri sendiri tidak akan meminta uang kepada orang tuanya.

"Saya betul-betul terenyuh dan shock, sejak saat itu saya bersumpah tidak mau meminta uang lagi ke orang tua," kata dia dalam forum CEO Speaks yang diselenggarakan Binus Business School di Jakarta pada pertengahan Januari 2009 ini.

Semenjak itu, Chairul mulai mencari uang sendiri dengan berbagai cara, mulai dari menjual stiker, buku, tas, kaos, sepatu hingga membuka fotokopi bagi mahasiswa. Dia bekerjasama dengan pemilik mesin fotokopi, dan meletakkannya di tempat strategis yaitu di bawah tangga kampus.

Pria kelahiran Jakarta ini membuktikan untuk menjadi wirausaha, uang bukan modal utama. "Namun itu perlu kemauan dan kerja keras," ujarnya. Ditambah lagi sebagai aktivis kampus, menurut dia, ternyata menguntungkan karena dia memiliki banyak jaringan.

Uang pertama diperoleh saat dia berbisnis dalam pembuatan buku penilaian kuliah. Berbekal jaringan yang dia miliki, dia meminta teman yang mempunyai mesin fotokopi untuk membuat buku itu dengan harga Rp 150 per buku. Dia menjualnya Rp 300. Dari hasil itu dia mendapatkan Rp 15 ribu pertama dalam hidupnya.

"Bukan hanya Rp 15 ribu, mendapatkan Rp 100 ribu pertama akan jauh lebih susah daripada Rp 100 miliar ke dua," pesan dia.

Dia percaya menjadi orang sukses harus dimulai secara bertahap. Jatuh bangun adalah proses yang biasa. Pada 1984, dia membuat toko alat kedokteran di daerah Senen Raya. Namun usahanya harus ditutup akibat sifat sosialnya yang suka mentraktir teman-temannya.

Namun, dia tak patah arang. Pria kelahiran 18 Juni 1962 ini mencoba bisnis lainnya. Berbekal modal awal dari Bank Exim sebesar Rp 150 juta, Chairul mendirikan pabrik sepatu yang diekspor bersama temannya. Dengan bekal itulah ia belikan 20 mesin jahit.

Dari usaha itulah, Para Group mulai melebarkan bisnisnya perlahan demi perlahan. Lompatan besarnya terjadi pada saat dia mengakuisisi Bank Karman pada 1996, dan mengganti namanya menjadi Bank Mega. Saat itu, aksinya malah dipandang aneh karena pada saat krisis justru ia malah mengambil alih bank. Namun, di tangannya, bank kecil yang hampir bangkrut tersebut malah berkembang besar seperti sekarang.

Kini Para Group mempunyai kerajaan bisnis yang mengandalkan pada tiga bisnis inti. Pertama jasa keuangan seperti Bank Mega, Asuransi Umum Mega, Asuransi Jiwa Mega Life, Mega Capital Indonesia. Kedua, gaya hidup dan hiburan seperti Trans TV, Trans7. Ketiga berbasis sumber daya alam.
Mantan Ketua Persatuan Bulu Tangkis Indonesia (PBSI) ini juga mempunyai bisnis properti, seperti Bandung Supermall. Dengan bisnisnya ini, tak heran suami dari Dokter gigi Ratna Anitasari ini dijuluki "The Rising Star"

Dalam menjalankan kepemimpinan, dia menerapkan gaya memberi panutan terhadap anak buah. Cara ini terbukti ampuh. "Jika anda mencontohkan kerja keras maka anak buah akan kerja keras. Saya mempraktekkannya. Dan, itu jalan." kata dia.

Ambisi membesarkan semua lini bisnis Para Group semakin besar. Bank Mega misalnya, dirancang untuk menjadi bank terbesar dalam 10 tahun ke depan. Strateginya, Bank Indonesia akan banyak membuka cabang di Indonesia Timur dalam tiga tahun mendatang. Targetnya 200 kantor baru di Indonesia Timur, sehingga bisa menjadi bank terbesar di wilayah itu.

Untuk bisnis media, dia mengaku akan melakukan ekspansi. Namun, strateginya tidak sama dengan pemain media lain, seperti banyak di antara mereka yang membuat media online. "Kalau kami akan masuk ke new media sesungguhnya, apa bentuknya? tunggu saatnya," tuturnya diplomatis.
Sekarang, dalam situasi krisis yang menghantam sejumlah grup bisnis besar, Chairul mengaku juga terkena imbas, khususnya unit bisnis sumber daya alam. Namun, dia tak menyerah.

Dia malah sengaja berkeliling Indonesia untuk bertemu dengan seluruh karyawannya. Dia menjelaskan bagaimana kondisi perekonomian saat ini agar pegawainya siap menghadapi krisis. Ada tiga pesan, pertama, jika ternyata krisis ini sangat panjang dan semua orang harus mati, maka pastikan menjadi orang yang terakhir mati.

Kedua, jika krisis ini sangat panjang dan hanya tersisa satu orang, maka pastikan anda menjadi orang tersebut. Ketiga, jika tidak terjadi krisis maka pastikan anda menjadi orang yang paling bahagia karena anda sudah siap.


Pelajaran penting dari pak Chairul Tanjung:

Inspirasi Entrepreneurship dari Pak Chairul Tandjung

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti seminar entrepreneur yang sangat keren. Seminar itu merupakan acara pembuka dari rangkaian program UI young and smart entrepreneur. Disana, saya mendapatkan banyak sekali inspirasi dari pembicara-pembicaranya yang hebat-hebat. Saya lupa daftar seluruh pembicara-pembicaranya. Catatannya ketinggalan di rumah. Jadi sekarang saya mau sedikit membagi apa yang saya dapatkan dari seminar itu. Pada postingan kali ini saya mau berbagi sharing yang saya dapat dari Pak Chairul Tandjung pemilik Para Group yang punya TransTV, Trans7, Bank Mega dan lain lain.

Pak Chairul Tandjung, Beliau adalah satu-satunya pengusaha yang pernah saya ikuti seminarnya yang sudah membangun bisnisnya mulai dari bisnis mikro sampai bisa menjadi level korporat. Pengusaha-pengusaha lain yang sering mengisi seminar biasanya belum sampai tingkatan korporat (Cuma tetep aja udah sukses). Satu hal yang tidak saya sangka-sangka adalah bahwa Pak Chairul Tandjung ini sama sekali tidak punya background bisnis. Dia kuliah di jurusan yang jauh sekali dari yang namanya bisnis-bisnisan. Beliau kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.

Pak Chairul Tandjung memulai kiprah usahanya sejak pertama kuliah. Waktu itu, beliau cuma bisnis fotokopian aja. Beliau bilang bahwa beliau dulu adalah ketua angkatan. Suatu saat di suatu mata kuliah di jurusannya, ada yang mewajibkan mahasiswa untuk memiliki diklat yang sudah diberikan dosen. Mahasiswa harus mem-fotokopinya sendiri. Kala itu (tahun 81-an kalau tidak salah), harga fotokopian di sekitar FKG UI adalah 500 rupiah. Kemudian beliau bilang bahwa beliau kenal seorang teman yang punya usaha percetakan dan mau memberi jasa fotokopi itu hanya dengan 150 rupiah. Walhasil, Pak Chairul berpikir ini adalah peluang bisnis. Maka, dia tawarkan jasa fotokopi itu ke teman-temannya seharga 300 rupiah. Tentu saja semua temannya tertarik, akhirnya 100 orang temannya itu menggunakan jasa fotokopinya. Dan itulah 15.000 (profit Rp. 150 x 100 orang) pertama yang dia dapatkan dari hasil usahanya sendiri. Pak Chairul bahwa uang pertama itu sangat penting, jauh lebih penting daripada 1 milyar kedua. Karena apa? karena uang pertama yang kita dapatkan dari hasil usaha kita itu akan menumbuhkan kepercayaan diri yang besar pada kita untuk melanjutkan bisnis kita.

Usahanya itu terus berlanjut sampai dia bisa melobi pihak dekat kampusnya supaya bisa memberikan ruang kosong dibawah tangga di kampusnya sebagai tempat untuknya membuka usaha fotokopi. Jadilah pak chairul tandjung itu sebagai orang pertama yang punya usaha fotokopi di bawah tangga di kampus UI. Kini, sudah banyak tempat fotokopi semacam itu di UI. Dari sini kita bisa melihat bagaimana seharusnya kita senantiasa mampu mencari titik-titik peluang usaha dan segera memanfaatkannya.
Pada tahun ke empat beliau kuliah, akhirnya beliau bisa punya satu toko alat-alat kedokteran sendiri di daerah Senen. Namun, toko tersebut gagal merugi karena tempatnya itu sering jadi markas para aktivis mahasiswa disana. Beliau bilang teman-teman sesama aktivisnya itu gak tau diri juga (dengan nada bencana tentunya ) saat numpang di toko miliknya sampai-sampai toko itu bankrut dan harus ditutup. Pak Chairul menceritakan itu dengan sangat santai. Cara beliau bercerita menunjukkan pada kita bahwa kegagalan adalah hal yang sangat biasa dalam berwirausaha. Tak perlulah berlama-lama frustasi akan kegagalan-kegagalan itu. Pak Chairul juga tak lantas menyalahkan teman-temannya atas kebankrutan usahanya. Beliau hanya terus bangkit dan bergerak lagi..


Resep Sukses dari Pak Chairul Tandjung

Melanjutkan postingan yang berjudul Inspirasi Entrepreneurship dari Pak Chairul Tandjung. Saya ingin menyampaikan resep sukses yang disampaikan pak Chairul Tandjung saat menjadi pengisi seminar pembukaan UI Smart and Young Entrepreneur. Pada seminar itu, pak chairul tandjung memberikan 4 resep suksesnya. Ini dia:

Mulai dengan niat yang baik
Kalau kita ingin berbisnis, mulailah dengan niat yang baik. Niatkanlah usaha yang kita jalankan itu untuk memberi manfaat paling tidak untuk diri kita sendiri. Kalau sudah begitu berilah manfaat untuk keluarga kita. Dan yang jauh lebih baik lagi, niatkanlah bisnis kita untuk memberi manfaat pada orang lain.
Kerja keras

Pak Chairul tandjung bilang bahwa dulu waktu masih bujangan, beliau kerja 18 jam/hari. Wow… Saya cukup kaget mendengar hal itu. Itu berarti waktu istirahat pak Chairul dalam sehari hanya 3 jam. Setelah berkeluarga, barulah beliau mengurangi jam kerjanya menjadi 14 jam/hari (Tetep aja ya lebih banyak dari kebanyakan kita). Itu menunjukkan betapa kerasnya usaha yang ditempuh pak Chairul menuju kesuksesan. Memang begitulah jalan kesuksesan. Jalan itu membutuhkan pengorbanan yang besar dari kita.

Kerja cerdas
Kerja keras saja tentu tidak cukup. Coba lihat tukang gorengan atau tukang sayur atau tukang roti atau siapapun yang menjalankan usahanya sendiri di dekat rumah kita. Banyak pengusaha-pengusaha itu yang tidak pernah mengalami kemajuan dalam usahanya. Usahanya mandek di satu tempat, tidak pernah berkembang. Pengusaha-pengusaha informal itu biasanya adalah seorang pekerja keras, tapi mereka belum bekerja cerdas. Akhirnya usahany tidak berkembang. Pak Chairul Tandjung bilang bahwa bekerja keras saja tidak cukup. Kerja keras itu harus diiringi dengan kerja cerdas. Pak Chairul Tandjung memberikan contoh usahanya bekerja cerdas dengan salah satu usahanya sebagai penjual es krim. Dia membeli perusahaan es krim bernama Robin Baskin (Kalo gak salah). Usaha es krim itu sebelumnya berupa restoran khusus es krim. Positioning sebagai restoran es krim itu dinilai Pak Chairul sebagai strategi yang salah, karena duduk di restoran hanya untuk makan es krim bukanlah kultur orang Indonesia. Lalu Pak Chairul merubah total strategi penjualannya. Bukan lagi restoran melainkan kedai kecil. Dia menaruh kedai kecil itu di mal. Dia tidak menaruh 1 kedai untuk setiap mal melainkan 7 sampai 8 kedai. Kalau seseorang datang melewati salah satu kedai dan dia merasa tergiur dengan es krim itu, ada kemungkinan dia menunda dulu untuk membelinya. “Nanti ah… jalan-jalan dulu“. Nah nanti ketika sambil jalan-jalan ternyata ketemu lagi dengan kedai tersebut. Harapannya orang yang tadinya memang sudah tergiur akhirnya akan membeli. Itulah strategi dagang yang cerdas.

Hasil serahkan sama Yang Di Atas
Inilah resep terakhir yang diberikan Pak Chairul. Apabila kita sudah mulai dengan niat yang baik, lalu kita sudah bekerja sedemikian keras dan tak lupa juga bekerja cerdas, namun ternyata hasilnya belum juga memuaskan. Maka itulah takdir yang diberikan oleh Allah. Tak perlu disesali, tak perlu kecewa. Apapun hasil yang diberikan oleh Allah, terima saja dan syukuri. Yakini saja bahwa memang itulah yang terbaik untuk kita.


Redefinisi Arti Sukses
“Andaikan dimasa depan nanti kamu jadi orang kaya, punya banyak uang, punya gedung bertingkat, punya segala-galanya. Apakah itu berarti kamu sudah sukses? BELUM TENTU! Kita hanya bisa tahu apakah kita sukses atau tidak di akhirat nanti, bukan di dunia.”

Beberapa minggu lalu saya terhenyak oleh pernyataan tersebut. Sebuah pernyataan yang disampaikan oleh mentor saya. Sebuah pernyataan yang mengingatkan kembali diri saya akan orientasi awal saya dalam berbisnis, yaitu untuk menebar manfaat yang seluas-luasnya ke seluruh penduduk bumi. Bisa dibilang beberapa waktu belakangan ini orientasi saya agak mengabur. Mulai terkikis oleh realitas-realitas dalam dunia usaha. Alhamdulillah saya diingatkan kembali dengan pernyataan tersebut. Makanya saya sangat bersyukur punya peer group yang selalu bisa mengingatkan saya agar tidak silau oleh kerlap-kerlip dunia.

Banyak sekali kita lihat pengusaha-pengusaha yang rela bermain kotor demi mendapatkan sekedar semilyar dua milyar (kayak dikit aje semilyar 2 milyar :p ). Coba saja lihat Anggodo brothers, dia rela mengeluarkan uang sekian banyak untuk menyuap pejabat demi kelancaran bisnisnya. Hal ini merupakan salah satu penyebab masih banyaknya masyarakat Indonesia yang tidak begitu mengapresiasi profesi sebagai pengusaha. Para pengusaha dipandang sebagai golongan masyarakat elit yang culas. Golongan masyarakat yang bisa berada di puncak atas karena menghisap orang-orang di sekitarnya. Pengusaha-pengusaha seperti itu bisa lahir karena arti sukses dalam benaknya hanyalah uang dan harta dan juga uang serta harta. Tak ubahnya seperti karakter Mister Crab dalam kartun SpongeBob Squarepants yang rela melakukan apa saja demi uang. Terkait hal ini, Ibnu Hajar Rahimahullah pernah berkata:

“Budak dinar adalah orang yang mencarinya dengan semangat tinggi. (Bila mendapatkannya), dia menjaganya seolah-olah dia menjadi khadim, pembantu, dan budak.”

Pengusaha dengan tipikal “Budak Dinar” seperti yang disebutkan diatas tadi mungkin saja bisa mendapatkan semua keinginannya di dunia. Dia bisa saja “sukses” di dunia, tapi di akhirat dia pasti jadi orang yang paling melarat. Di dunia mungkin dia jadi orang paling banyak mendapat untung, tapi di akhirat dia adalah orang yang paling merugi.

Untuk itu, buat teman-teman pengusaha semua, marilah kita luruskan niat kita dalam berbisnis. Jangan jadikan uang, harta dan kekayaan sebagai orientasi utamanya. Menjadikan hal itu sebagai orientasi utama tak akan pernah bisa membuat kita benar-benar hidup bahagia dunia akhirat. Kita akan terus terobsesi mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Lalu seandainya harta tersebut sudah tertumpuk di tangan kita, so what? mau apa lagi? Jadikanlah akhirat sebagai tujuan utama kita. Jadikanlah keridhoan Allah sebagai alasan kenapa kita memilih menjadi pengusaha. Menumpukan orientasi bisnis kita pada akhirat bisa dijamin akan membuat kita menjadi pengusaha yang sangat-sangat tangguh dan pantang menyerah.

So, mari kita redefinisi arti sukses. Sukses sebenarnya bukanlah di dunia melainkan di akhirat kelak!
Mari kita kejar akhirat, dan biarkan dunia mengejar-ngejar kita


NEKAD, modal utama entrepreneur

Inspirasi tulisan saya kali ini adalah dari postingan teman saya leni di blognya yang berjudul “jadi sales di pondok indah“. Disana dia bercerita tentang kenekatannya membagi-bagikan leaflet mengenai usahanya di mal pondok indah jakarta. Dia beserta rekan-rekan usahanya berusaha tebal muka dengan membagi-bagikan leaflet tersebut. Mereka berhasil membuang rasa malu mereka jauh-jauh. Upaya mereka melakukan hal tersebut tentunya membutuhkan kenekatan tingkat tinggi, mereka harus bisa menyingkirkan rasa malu yang biasa hinggap dalam diri kita ketika akan memulai kegiatan-kegiatan seperti itu.

Kenyataannya, memang kenekatan itulah yang memberi banyak perubahan pada dunia. Tanpa kenekatan mungkin saat ini dunia belum akan sampai semaju ini. Untuk itu, butuh kenekatan tingkat tinggi untuk memulai sebuah usaha. Banyak orang yang terus menerus memikirkan resiko demi resiko yang mungkin muncul dalam suatu usaha. Hingga akhirnya dia sama sekali tidak berani memulai usahanya. Dia berhenti apada tataran ide. Tapi ide tersebut tak dapat dia realisasikan karena kurangnya kenekatan dalam dirinya untuk menangggung segala resiko.

Oleh karena itu, buat kamu semua yang punya ide usaha tertentu, ambillah langkah NEKAD untuk segera memulai usaha tersebut. Tanpa perlu terlalu banyak berpikir panjang akan ribuan resiko yang mungkin muncul. Buat kamu yang sudah memulai bisnis, teruslah mengambil langkah-langkah NEKAD untuk mengembangkan usaha kamu. Peliharalah kenekatan tersebut. Sehingga dengan begitu, usaha kita dapat terus melakukan locatan-loncatan besar dalam pengembangannya.


Jangan lari dari masalah

Masalah adalah sesuatu yang akan selalu menemani hidup kita. Kita tidak akan pernah lepas dari masalah. Hidup itu isinya memang sekumpulan masalah demi masalah yang datang silih berganti. Walaupun diluar itu, ada saja kesenangan-kesenganan yang sedikit menghiasi. namun sebagian besar hidup seorang manusi itu berisi masalah. Dan sebagai insan manusi, kita tidak akan pernah bisa lepas dari rangkaian masalah. tak peduli sekencang apapun kita berlari. tak peduli sehebat apapun kita bersembunyi. Kita akan tetap menemukan masalah.

Oleh karena itu, kalau kita ingin menikmati hidup yang kita miliki saat ini maka kita harus bisa menikmati semua masalah tersebut. Kita tidak boleh memandang masalah tersebut sebagai sebuah beban yang mencekam hidup kita. Yang membuat hidup kita menjadi begitu suram. Kita harus menganggap maslah tersebut sebagai tantangan. Kita harus melihat masalah tersebut sebagai sesuatu yang dapat lebih mewarnai hidup kita. Kita harus berpikir positif bahwa masalah yang kita hadapi itu akan menjadi faktor peningkat potensi kita jika kita mampu bertahan dan menyelesaikan semua masalah tersebut.

Banyak orang yang selalu ingin lari dari masalah. Padahal ketika dia berlari ke sudut yang lain, dia akan menemukan masalah yang lain. Bahkan seringkali masalah yang kita tinggalkan itu juga ikut mengejar kita. Akhirnya semua masalah-masalah tersebut menumpuk semakin banyak dan semakin tak terkendali.
Ketika kita melihat ada yang salah dari kondisi sekitar kita. Kita juga seharusnya punya tanggung jawab untuk memperbaiki kondisi tersebut. Bukan justru malah lari meninggalkan kondisi yang salah tersebut untuk mencari tempat yang lebih nyaman untuk kita. Kalau seperti itu terus, dunia ini akan dipenuhi dengan berbagai macam keburukan. Karena keburukan akan terus merambah dan merajalela. Dan kebaikan akan semakin terpinggirkan. Contoh konkrit dari hal ini adalah adanya sebagian umat islam yang sama sekali tak mau berkecimpung dalam dunia politik karena menganggap dunia politik itu kini sudah sangat kotor sehingga akan membuat kita yang berkecimpung didalamnya ikut menjadi kotor. Oleh karena itu mereka berusaha menjauh sejauh mungkin dari dunia tersebut. Akhirnya dunia perpolitikan kini benar-benar hanya diisi oleh orang-orang kotor.

Oleh karena itu, kita tidak boleh lari dari masalah. Hadapilah semua masalah tersebut dan jadikan itu sebagai modal kedepan supaya potensi diri kita semakin berkembang. Bahkan kalau perlu ceburkanlah diri kita dalam berbagai macam masalah. Hadapi dan tuntaskan semua masalah tersebut. Dengan begitu potensi diri kita akan terus terasah. Kita akan menjadi pribadi yang kokoh dan tahan banting.


Jangan pernah berhenti bergerak!

“Udah telat 1 jam nih, males ah masuk kuliah…”
“Waduh… dedlain tugas tinggal 3 jam lagi! gak tau lagi mesti ngapain, udahan ah… bodo amat”
“besok vonis hukuman akan ditetakan buat saya, kalau begitu hari ini saya tidak usah mengerjakan yang lain lah…” (true story, sohib saya: purniawan)
“kini saya lumpuh, saya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. saya pasrah sajalah…”
“dokter bilang umur saya tinggal seminggu lagi, percuma saja saya berbuat apapun”


Ungkapan-ungkapan seperti itu seringkali kita dengan dalam keseharian kita. Mulai dari hal-hal sepele seperti males masuk kuliah sampai pada hal-hal berat seperti tidak ingin lagi berbuat apapun karena merasa ajal sudah mendekat. Perlu saya tekankan bahwa ungkapan-ungkapan seperti itu merupakan ungkapan skeptis pesimistis. Orang yang berkata seperti itu tidak percaya bahwa dia bisa merubah kondisi yang buruk. Dia sudah menjatuhkan dirinya sendiri dengan mengatakan “tidak bisa”, “sudah tidak mungkin lagi”, “bisa sih tapi pasti sulit…”. Pada postingan saya yang terakhir mengenai pornografi, ada seseorang yang memberi komentar pada tulisan tersebut seperti ini:

HALAH…. Memberantas yang di dunia nyata aja gak bisa, apalagi yang di dunia maya….. Teori2 ttg image recognizing, AI, neural network, dll, memang bisa dipakai untuk memblokir situs, bahkan content pornografi. Tapi hal itu tidak bisa dilakukan di indonesia !

Riset ? Sapa yang mau membiayai ? Pemerintah ? Omong kosong besar. Udahan ah, paling2 usaha ini juga bakal berhenti di tengah jalan….

Ungkapan tersebut jelas merupakan ungkapan negatif, skeptis dan pesimistis. Mengapa harus merasa bahwa apa yang sedang kita usahakan saat ini adalaha Omong besar?toh kita belum lihat hasilnya. Kalaupun hasilnya kelak benar-benar tak terlihat, paling tidak kita sudah berusaha, daripada kita cuma sekedar diam dan hanya terus menggerutu tentang betapa buruknya kondisi kita saat ini.

Kawan, satu hal yang ingin saya sampaikan dengan tegas adalah: “jangan pernah berpikiran seperti itu lagi!!!” buanglah sikap skeptis dalam diri kita. Jangan pernah menganggap bahwa segalanya itu salah. Dan buang pula sikap pesimis, yakinlah bahwa kita pasti bisa mencapai apa yang kita inginkan. INGAT! Keyakinan adalah 80% faktor keberhasilan usaha kita. Kebanyakan orang yang tidak berhasil seringkali menyalahkan aspek-aspek lain diluar dirinya, padahal kenyataannya ketidak berhasilannya itu lebih dikarenakan dia kurang yakin akan usaha yang dijalankannya itu akan benar-benar berhasil.
Jangan pernah berhenti bergerak! Walaupun kita tahu bahwa kita akan mati esok, tetaplah berjuang untuk harapan-harapan kita. Coba lihat hadits berikut:

“Beribadahlah seolah engkau mati esok dan bekerjalah seolah engkau mati seribu tahun lagi…”.
Memang hadits ini adalah hadits dhaif yang tidak bisa dijadikan dalil. Namun hadits dhaif tetap bisa dijadikan fadhail amal (keutamaan amal). Dan fadhail amal disini adalah untuk senantiasa bergerak. Lihatlah betapa hebatnya ungkapan tersebut. Kita dituntut untuk bekerja seolah kita masih hidup seribu tahun lagi. Seribu tahun adalah waktu yang sangat cukup untuk maju. Untuk berjuang menuju kemenangan.

Coba lihat lagi hadits berikut. kali ini haditsnya sohih:

“Andaipun engkau tahu bahwa besok itu kiamat dan ditanganmu engkau masih memegang benih tanaman, maka tanamlah!”

Hadits yang satu ini juga tak kalah fenomenal bahasanya dibandingkan dengan hadits sebelumnya. Kita dituntut untuk tetap bergerak bagaimanapun kondisinya. Walaupun kita tahu bahwa besok adalah hari kiamat, kita tetap diminta untuk menanam biji sawi tersebut yang artinya kita diminta untuk terus bergerka berjuang mengejar harapan-harapan kita. Kita diminta untuk terus bergerak memberikan kebermanfaatan yang luas untuk umat manusia.

Jadi, Jangan berhenti berharap! Yakinlah Anda bisa merubah keadaan! Seberat apapun kondisinya. Berapa lamapun waktu yang Anda miliki, teruslah berjuang!!!


Pengalaman hidup saya yang terinspirasi dari pak Chairul Tanjung:

Aku merasa bahwa pengalaman hidup pak Chairul Tanjung dengan saya hampir sama, yaitu orang tua yang mengorbankan sesuatu untuk anaknya. Aku sepertinya merasakan apa yang dirasakan oleh pak Chairul pada saat itu. Aku berpikir, sepertinya ibu pak Chairul menjual selembar kain untuk biaya kuliah adlah kain yang sama saat digunakan pada acara pernikahan ibu pak Chairul dengan suaminya. Itu adalah benda peninggalan yang sangat berharga, jadi mungkin tidak tergantikan oleh apapun yang membuat pak Chairul menjadi shock. Aku juga merasakannya yaitu pada saat aku masuk SMA. Pada saat itu bertepatan dengan kakakku yang juga masuk kuliah. Pada saat itu biaya kuliah kakakku totalnya adalah 9,6 jt. Kemudian aku minta uang kepada orang tuaku untuk biaya sekolah SMAku. Lalu aku melihat ibuku berpakaian rapi kemudian pergi dan bapakku juga sering sekali mendapat telpon. Mengetahui bahwa ayah dan ibu menjual harta bendanya untuk kami, aku merasakan suatu perasaan yang sangat memilukan. Aku jadi ingat sikapku kepada mereka saat aku meminta uang. Betapa hatiku pilu mengetahuinya. bagaimana jika orang tuaku menjual barang yang sangat berharga dari keluarga kami, apapun itu, karena benda peninggalan seseorang itu merupakan warisan yang mungkin tidak ternilai harganya oleh uang atau apapun. Kemudian aku menjadi semangat dalam belajar dan juga tidak mau meminta hal-hal yang tidak perlu lagi. Di sekolah aku selalu belajar giat agar kelak aku dapat membalas budi baiknya. Di sekolah aku juga aktif dalam mengikuti kegiatan ekskul karena untuk menambah keterampilan, wawasan, jaringan, dan juga teman. Jadi dimasa depan aku bisa menjadi lebih siap menghadapi krisis yang akan datang.


LITERATUR:

http://id.wikipedia.org/wiki/Chairul_Tanjung
http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/c/chairul-tanjung/index.shtml
http://www.andriewongso.com/awartikel-876-Success_Story-Chairul_Tanjung
http://bisnis.vivanews.com/news/read/25492-sukses_berbekal_selembar_kain
http://mustafakamal.biz/2009/05/19/inspirasi-entrepreneurship-dari-pak-chairul-tandjung/
http://mustafakamal.biz/2009/05/28/resep-sukses-dari-pak-chairul-tandjung/
http://mustafakamal.biz/2010/02/07/redefinisi-arti-sukses/
http://mustafakamal.biz/2008/05/19/nekad-modal-utama-entrepreneur/
http://mustafakamal.biz/2008/06/02/jangan-lari-dari-masalah/
http://mustafakamal.biz/2008/03/24/jangan-pernah-berhenti-bergerak/Chairul Tanjung
SMA MUHAMMADIYAH TASIKMALAYA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar