19 Juni 2011

Tiga Ethos Wirausaha Untuk Kesinambungan Bisnis Keluarga


Bambang Suharno
Direktur Indonesian Entrepreneur Society (IES)
Pada saat tulisan ini disusun, saya baru saja menyelesaikan sebuah buku berjudul “Sembilan Dosa Bisnis Keluarga dan Solusinya” yang beredar bulan September 2009. Buku ini saya susun untuk memberikan pencerahan kepada pelaku bisnis keluarga atau calon pebisnis yang pada umumnya dimulai dengan bisnis (skala) keluarga agar mereka tidak terjebak pada masalah 9 masalah utama yang saya identifikasi dalam buku ini berikut alternatif solusinya.
Dalam salah satu babnya, disebutkan bahwa salah satu masalah utama dalam kesinambungan bisnis keluarga adalah rendahnya ethos kerja para pewaris. Ini mengakibatkan banyak bisnis keluarga mengalami kemunduran tatkala diteruskan oleh generasi kedua. Pameo yang populer di kalangan kita mengenai bisnis keluarga adalah, generasi pertama membangun dengan keringat bercucuran, generasi kedua menikmati, dan generasi ketiga menutup. Bahkan tak sedikit kejadian, generasi pertama membangun, generasi kedua menutup.
Saya akhirnya berkesimpulan, ternyata bukan hanya “ethos kerja” yang perlu ditekankan pada generasi pewaris melainkan juga “ethos wirausaha”. Barangkali ini istilah baru mengenai Ethos, itu sebabnya saya perlu merumuskan mana yang dimaksud ethos kerja dan mana ethos wirausaha. Ini saya perlukan karena dalam kenyataannya, tak sedikit generasi pewaris yang ethos kerjanya bagus, tapi tak dapat menjalankan kesinambungan bisnis orang tua mereka.
Tak sedikit pengusaha yang putra-putrinya memiliki ethos kerja yang baik. Mereka disekolahkan di sekolah terbaik, dididik dengan disiplin yang ketat, terbiasa berkompetisi di kelas, dan lulus dengan nilai terbaik. Para keturunan pebisnis ini lantas bekerja di perusahaan besar atau di lembaga pemerintahan. Mereka sibuk dengan karirnya, sementara ayahnya berusaha terus melanjutkan pengembangan bisnis yang dirintis sejak muda. Apa yang terjadi dikala pebisnis ini semakin tua? Putranya terlampau sibuk dengan karirnya, sehingga kurang berminat dengan bisnis orang tuanya. Padahal semua orang tahu, berkat bisnis ayahnyalah ia bisa sekolah hingga perguruan tinggi.
Sementara sang anak semakin bekerja keras untuk dirinya, sang ayah merasa apa yang dirintisnya kini sulit diwariskan ke anaknya, akibat anaknya memiliki ethos kerja yang hanya bermanfaat untuk karirnya saja, bukan untuk pengembangan bisnis yang diwariskan dari orang tua kepadanya.
Di kampung saya, ada daerah dimana waktu saya kecil sepanjang jalan kota dipenuhi toko-toko yang pemiliknya adalah penduduk setempat. Toko-toko itu maju pesat di tangan pendiri. Toko-toko itu kini lebih maju lagi, tapi sayangnya kini pemiliknya bukanlah generasi pewaris sang pendiri. Sesungguhnya anak-anak pendiri toko bukanlah pemalas, melainkan haluan hidupnya tidak lagi dengan berwirausaha.
Adapula pengusaha yang memiliki daya kepimpinan kharismatik dalam mengembangkan bisnisnya. Intuisinya bagus dan cemerlang. Ia tidak kelihatan sibuk sebagaimana eksekutif, namun sekali bertemu dengan timnya di kantor, ia langsung dapat mengambil keputusan strategis untuk mengembangkan bisnis. Ketika anaknya mulai menggantikannya, tidak ada aura kewibawaan seorang pemimpin bisnis. Yang terasa di lingkungan perusahaan adalah seorang anak cerdas, bekerja keras, namun kurang wibawa. Terlebih lagi, sang pewaris ini lebih suka hidup dalam kemewahan, dan kurang punya sifat kedermawanan. Sudah bisa ditebak, di tangan anaknya, bisnis keluarga ini semakin merosot.

Tiga Ethos Wirausaha
Saya merenung, kalau demikian kejadiannya, berarti bagi sang pewaris bisnis keluarga, bukan hanya ethos kerja yang mereka butuhkan, melainkan ethos yang lainnya, yang kemudian saya sebut ethos wirausaha. Saya merumuskan 3 ethos utama wirausaha yang selalu menjadi ciri pengusaha hebat dan mulia, yaitu ethos uang produktif, ethos pemberdaya dan ethos tangan di atas.
Pesan utama dari ethos uang produktif adalah sisihkan sebagian penghasilan anda untuk menciptakan penghasilan baru atau untuk menambah penghasilan utama. Cobalah kita lihat banyak pengusaha yang bisnisnya terus berkembang. Mereka bukan berarti tak pernah bangkrut, melainkan “mati satu tumbuh seribu”. Setiap mendapat hasil, yang diutamakan bukan membeli mobil baru atau tempat tinggal yang lebih mewah, melainkan menyisihkan agar tercipta penghasilan baru. Jika gagal, cari alternatif lain. Begitu seterusnya.
Untuk menunjang sikap “uang produktif” mereka, para pengusaha hebat, memiliki ethos pemberdaya, yaitu adalah kemampuan, kemauan dan kebanggaan untuk memberdayakan orang lain. Ya, kalau dalam beberapa perbincangan pebisnis pemula sering kita dengar orang mengeluh tidak dapat mencari karyawan yang jujur, maka ia perlu mengoreksi diri apakah selama ini ia lebih bangga mengerjakan kegiatan bisnis sendirian atau lebih bangga memberdayakan orang lain. Kalau pusing memimpin karyawan, itu bisa jadi pertanda belum tumbuh ethos pemberdaya dalam jiwanya.
Ethos pemberdaya akan membuat bisnis lebih maju karena kemampuan memberdayakan orang lain. Itu sebabnya mereka yang punya ethos pemberdaya senantiasa belajar memimpin dan mendelegasikan pekerjaan.
Ethos Tangan Di Atas, sebenarnya paling mudah diaplikasikan. Pesan utamanya adalah, janganlah anda jadi pengusaha yang pelit. Kemajuan bisnis anda akan menjadi berkah bagi keluarga anda manakala anda menjadi orang dermawan. Lanjutannya, kedermawanan anda akan mendorong kemajuan bisnis anda. Semakin banyak memberi, akan semakin banyak menerima, artinya bisnis anda semakin maju.
Bukan itu saja, dengan pola pikir sebagai pemberi, anda sudah melampaui apa yang disebut kemandirian yang kerap didengungkan pemerintah. Kemandirian adalah sikap mengenai bagaimana anda bisa membangun usaha tanpa bantuan orang lain. Sedangkan ethos tangan di atas adalah mandiri dan berbagi. Buat apa mandiri tapi pelit?
Ethos tangan di atas juga membuat anda selalu berpikir dan bertindak sebagai orang yang membantu, bukan yang minta bantuan, karena dengan banyak membantu, otomatis banyak dibantu. Negara-negara maju bukanlah selalu negara kaya, melainkan karena sikap pemimpinan yang suka membantu negara lain. Mereka membantu bukan karena kaya, melainkan karena sering membantu maka jadi kaya.
Nah, jika para pewaris bisnis keluarga punya ethos di atas, tak usah khawatir, bisnis keluarga akan berbiak dan membesar sampai ”tujuh turunan”.***

Bambang Suharno
Penulis Buku-buku wirausaha
Buku terbaru:
1. Sembilan ”Dosa” Bisnis Keluarga dan Solusinya
2. Tujuh Cara Tidak Gila Jadi Pengusaha
3. Tujuh Kiat Bisnis Tahan Krisis
SUMBER:WIRAUSAHA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar