01 Juli 2009

SKLUS GEOLOGI DAN SIKLUS BATUAN

Semua batuan yang ada di permukaan bumi akan mengalami pelapukan. Penyebab pelapukan tersebut ada 3 macam:

Pelapukan secara fisika: perubahan suhu panas ke dingin dan sebaliknya akan berpengaruh terhadap batuan. Hujan dapat membuat rekahan-rekahan di batuan menjadi berkembang sehingga membuat batuan pecah menjadi partikel yang lebih kecil.
Pelapukan secara kimia: Bahkan air pun dapat bereaksi melarutan beberapa jenis batuan. Udara yang terpolusi dapat menyebabkan “hujan asam” yang dapat menyebabkan pelapukan batuan secara kimiawi.
Pelapukan secara biologi: Pelapukan yang disebabkan oleh gangguan dari akar tanaman. Akar-akar dapat menyebabkan timbulnya rekahan-rekahan di batuan dan lama kelamaan batuan akan terpecah menjadi partikel yang lebih kecil.
Setelah mengalami pelapukan, batuan-batuan tersebut akan pecah menjadi partikel yang lebih kecil sehingga mudah untuk berpindah tempat. Perpindahan tempat dari partikel-partikel kecil ini disebut erosi. Proses erosi ini dapat terjadi melalui beberapa cara:

Akibat grafitasi: akibat adanya grafitasi bumi maka pecahan batuan yang ada bisa langsung jatuh ke permukaan tanah atau menggelinding melalui tebing sampai akhirnya terkumpul di permukaan tanah/dasar.
Akibat air: air yang melewati pecahan-pecahan kecil batuan yang ada dapat mengangkut pecahan tersebut dari satu tempat ke tempat yang lain. Proses ini dapat di amati dengan jelas di sungai.
Akibat angin: angin pun dapat mengangkut pecahan-pecahan batuan yang kecil ukurannya seperti halnya yang saat ini terjadi di daerah gurun.
Akibat glasier: sungai es atau yang sering disebut glasier seperti yang ada di Alaska sekarang juga mampu memindahkan pecahan-pecahan batuan yang ada.

Pelapukan atau weathering (weather) merupakan perusakan batuan pada kulit bumi karena pengaruh cuaca (suhu, curah hujan, kelembaban, atau angin). Karena itu pelapukan adalah penghancuran batuan dari bentuk gumpalan menjadi butiran yang lebih kecil bahkan menjadi hancur atau larut dalam air. Pelapukan dibagi dalam tiga macam, yaitu pelapukan mekanis, pelapukan kimiawi, dan pelapukan biologis.

Pelapukan Mekanis
Pelapukan mekanis atau sering disebut pelapukan fisis adalah penghancuran batuan secara fisik tanpa mengalami perubahan kimiawi. Penghancuran batuan ini bisa disebabkan oleh akibat pemuaian, pembekuan air, perubahan suhu tiba-tiba, atau perbedaan suhu yang sangat besar antara siang dan malam. Untuk lebih jelasnya bagaimana perubahan itu, perhatikan baik-baik berikut ini:
a. Akibat pemuaian
b. Akibat Pembekuan Air
c. Akibat perubahan Suhu tiba-tiba
d. Perbedaan Suhu yang besar antara Siang dan Malam

Pelapukan Kimiawi
Pelapukan kimiawi adalah pelapukan yang terjadi akibat peristiwa kimia. Biasanya yang menjadi perantara air, terutama air hujan. Tentunya Anda masih ingat bahwa air hujan atau air tanah selain senyawa H2O, juga mengandung CO2 dari udara. Oleh karena itu mengandung tenaga untuk melarutkan yang besar, apalagi jika air itu mengenai batuan kapur atau karst.
Batuan kapur mudah larut oleh air hujan. Oleh karena itu jika Anda perhatikan pada permukaan batuan kapur selalu ada celah-celah yang arahnya tidak beraturan. Hasil pelapukan kimiawi di daerah karst biasa menghasilkan karren, ponor, sungai bawah tanah, stalagtit, tiang-tiang kapur, stalagmit, atau gua kapur.

Pelapukan Biologis
Mungkin Anda pernah melihat orang sedang memecahkan batu. Batu yang besar itu dihantam dengan palu menjadi kerikil-kerikil kecil yang digunakan untuk bahan bangunan. Atau mungkin Anda pernah melihat burung atau binatang lainnya membuat sarang pada batuan cadas, lama kelamaan batuan cadas itu menjadi lapuk. Dua ilustrasi ini merupakan contoh pelapukan biologis.
Pelapukan biologis atau disebut juga pelapukan organis terjadi akibat proses organis. Pelakunya adalah mahluk hidup, bisa oleh tumbuh-tumbuhan, hewan, atau manusia. Akar tumbuh-tumbuhan bertambah panjang dapat menembus dan menghancurkan batuan, karena akar mampu mencengkeram batuan. Bakteri merupakan media penghancur batuan yang ampuh. Cendawan dan lumut yang menutupi permukaan batuan dan menghisap makanan dari batu bisa menghancurkan batuan tersebut

Pada dasarnya siklus geologi dan siklus batuan berbeda. Sayangnya terdapat kesalahan persepsi dimana istilah geologi diidentikkan dengan batuan. Siklus geologi merupakan siklus-siklus dari peristiwa geologis dimana siklus batuan merupakan bagian dari siklus geologi.
Siklus geologi adalah serangkaian peristiwa yang menyebabkan adanya variasi topografi di permukaan bumi dan variasi distribusi batuan baik secara vertikal (ke dalam) maupun horisontal (ke samping) akibat dari tenaga endogen. Siklus geologi dapat dipaparkan sebagai peristiwa pembentukan, pergerakan lempeng tektonis dari zona-zona pemekaran samudra (sirkum pasifik), serta penghancuran lempeng tektonis pada zona-zona penenggelaman lempeng tektonis (zona subduksi misalnya sebelah barat pantai sumatra, sebelah selatan pantai jawa, dll). Fenomena tersebut menyebabkan terjadinya pergerakan lempeng samudra yang saling menjauh namun pada akhirnya akan bertemu kembali, menjauh kembali, dan bertemu kembali (siklik). Proses geologis tersebut menyebabkan terjadinya pengangkatan dasar laut di beberapa area namun juga terjadi penenggelaman daratan di area yang lain (misalnya pesisir barat aceh terangkat lebih dari 1 m akibat gempa aceh).
Siklus batuan adalah siklus pembentukan dan perubahan dari magma menjadi batuan, suatu jenis batuan menjadi jenis batuan lainnya, serta batuan menjadi magma kembali. Siklus batuan merupakan bagian dari siklus geologi dimana akibat terjadinya proses pergesekan antara lempeng tektonis bumi, lempeng memanas dan mencair menjadi magma, magma kemudian naik keatas permukaan bumi dalam dalam wujud lava lalu membeku membentuk batuan beku. Batuan beku juga terbentuk dari proses pemekaran dasar samudra (sea floor spreading, misal di sirkum pasifik, dan selat makassar) dimana dlam kurun waktu tertentu lempeng yang terbentuk tersebut akan bergerak ke zona subdaksi dan pergerakan tersebut membentuk gunungapi-gunungapi yang menjulang dari dasar laut hingga permukaan laut. Pada suhu dan tekanan yang tinggi (misal pada zona subduksi) batuan beku dapat meleleh menjadi magma kembali. Proses pelapukan dan air hujan di permukaan bumi, memecahkan batuan-batuan beku menjadi kepingan-kepingan kecil (fragmen). Air memindahkan fragmen-fragmen batuan dan mengendapkannya menjadi batuan sedimen. Proses pengangkatan dan penenggelaman permukaan bumi akibat pergerakan lempeng juga menyebabkan terbentuknya batuan sedimen misalnya batulempung, batupasir, dan lain-lain melalui proses pelipatan (folding) dan penekanan (compression). Batuan sedimen juga dapat mengalami pelapukan dan pecah (disintegrasi) menjadi kepingan-kepingan kecil kemudian mengalami pengendapan dan membentuk batuan sedimen baru. Batuan sedimen tersebut mengalami pergerakan hingga masuk kedalam zona subduksi kemudian hancur kembali menjadi magma saat terjadinya gesekan lempeng. Pada kondisi tekanan dan suhu tertentu, sebagian atau keseluruhan mineral batuan batuan baik batuan sedimen maupun batuan beku, meleleh namun tidak secara bersama-sama menyebabkan terjadinya perubahan struktur batuan membentuk batuan metamorf. Batuan metamorf yang terlapukkan dapat membentuk batuan sedimen atau meleleh menjadi magma saat suhu dan tekanan sangat tinggi.
Jawaban pertanyaan kedua:
“Perbedaan antara geologi regional dengan geografi regional”
Perbedaan geografi regional dengan geologi regional pada dasarnya merupakan perbedaan ruang lingkup studi. Sebelum dibahas tentang perbedaannya, perlu kita pahami dulu batasan kajian dari ilmu geografi dan geologi.
Geografi merupakan ilmu yang mempelajari tentang fenomena-fenomena di permukaan bumi baik fenomena alami maupun hasil interaksi manusia dengan lingkungan dalam lingkup spasial (ruang) dan temporal (waktu). Geologi adalah ilmu yang mempelajari tentang proses-proses pembentukan batuan, pergerakan lempeng, dan tenaga endogenik yang membentuk permukaan bumi. Berdasarkan batasan-batasan tersebut maka geografi memberi batasan tentang fenomena yang terjadi di permukaan bumi sedangkan geologi memberi batasan tentang fenomena yang terjadi di dalam bumi.
Berdasarkan batasan tersebut maka geografi regional merupakan ilmu yang mempelajari tentang fenomena-fenomena di permukaan bumi baik fenomena fisik maupun hasil interaksi manusia dengan lingkungan, yang membentuk pola-pola dalam luasan area tertentu dan mempengaruhi kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Contoh lingkup kajiannya adalah : daerah perkotaan, daerah perdesaan, kawasan permukiman, zona hutan lindung, zona industri, daerah rawan bencana gunungapi, daerah rawan bencana gempa bumi, daerah rawan kekeringan, daerah rawan banjir, dan sebagainya.
Geologi regional sendiri merupakan ilmu yang mempelajari tentang distribusi sekelompok batuan (formasi) baik jenis, strukturnya (stratigrafi) maupun urutan pembentukannya (litologi) yang membentuk suatu pola dalam luasan area tertentu. Contoh lingkup kajiannya meliputi zona patahan, zona subduksi, zona lipatan, daerah Formasi Nglanggeran, daerah Formasi OAF (Old Andesite Formation/Bemmelen Formation), dan lain-lain.
Jawaban pertanyaan ketiga dan keempat:
“Apakah geologic province dan petrographic province?”
Pada dasarnya petrographic province dan geologic province merupakan istilah yang sama namun digunakan dalam lingkungan yang berbeda. Geologic province atau petrographic province adalah pembagian wilayah di muka bumi dengan kondisi struktur geologi dan jenis batuan yang relatif sama. Pembagian dapat didasarkan pada struktur, pada jenis batuan, atau pada umur batuan. Misalnya zona berbatuan andesit dan zona berbatuan basalt (pembagian berdasarkan kelas batuan), zona antiklinal dan zona sinklinal (pembagian berdasarkan struktur geologi), zona tersier dan zona kuarter (pembagian berdasarkan usia geologi). Istilah petrographic province sering digunakan dalam lingkup tambang (eksplorasi dan eskploitasi) yaitu pembagian suatu wilayah berdasarkan kesamaan potensi mineral yang ada misalnya provinsi emas, provinsi bauksit, provinsi besi, dll. Istilah geologic province lebih sering digunakan dalam lingkungan riset dan penelitian.
Jawaban pertanyaan lima:
“Apakah groundwater regime?”
Groundwater regime merupakan pengelompokan area dipermukaan bumi yang memiliki pengaruh yang relatif sama terhadap perubahan sifat fisik maupun kimia dari air tanah misalnya zona irigasi, zona non irigasi, zona sungai inflow, dan lain sebagainya.

Ada dua definisi mengenai siklus geologi, yaitu siklus yang mendefinisikan kejadian-kejadian yang ada di bumi terjadi dalam siklus2 tertentu, atau siklus bebatuan yang ada di bumi.

Definisi yang pertama misalnya siklus perubahan iklim yang terjadi di bumi kira-kira setiap 10 ribu tahun. Siklus inilah yang dianggap oleh orang-orang yang tidak percaya terhadap fenomena pemanasan global sebagai penyebab bahwa bumi mengalami kenaikan temperatur dan akan kembali lagi ke kondisi semula.

Definisi kedua yaitu siklus bebatuan. SIklusnya kira-kira seperti ini: Magma mengalami kristalisasi atau pembentukan bebatuan, lalu menjadi batuyang eksis di permukaan bumi. Batu mengalami erosi dan terbentuk sedimentasi. Sedimentasi membeku membentuk batuan sedimen. Batuan sedimen terkubur akibat berbagai hal (umumnya gejala tektonik) sehingga mengalami tekanan dan temperatur yang tinggi sehingga terbentuk batuan metamorf. batu metamorf yang tidak eksis di permukaan bumi, akan semakin terkubur akibat gejala tektonik sehingga meleleh dan kembali menjadi magma.

Namun siklus ini memiliki percabangan juga, yaitu batu yang telah eksis di permukaan bumi dari magma yang membeku dapat langsung terkubur akibat gejala tektonik dan meleleh menjadi magma. Dan batuan sedimen maupun metamorf dapat mengalami erosi lagi dan menjadi batuan sedimen. BELAJAR GEOLOGI http://en.wikipedia.org/wiki/File:Rockcy…animasigeografi




1 komentar:

  1. untuk meningkatkan kualitas pembelajaran geografi mutlak dibutuhkan ruang kelas berbasis IT

    BalasHapus