03 Agustus 2011

saya Nio Cwan Chung. Saya adalah WNI keturunan Tionghoa


Ekonom Islam : Muhammad Syafii Antonio, MSc. Saya lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 12 mei 1965. Nama asli saya Nio Cwan Chung. Saya adalah WNI keturunan Tionghoa. Sejak kecil saya mengenal dan menganut ajaran Konghucu, karena ayah saya seorang pendeta Konghucu. Selain mengenal ajaran Konghucu, saya juga mengenal ajaran Islam melalui pergaulan di lingkungan rumah dan sekolah. Saya sering memperhatikan cara-cara ibadah orang-orang muslim. Kerena terlalu sering memperhatikan tanpa sadar saya diam-diam suka melakukan shalat. Kegiatan ibadah orang lain ini saya lakukan walaupun saya belum mengikrarkan diri menjadi seorang muslim. Kehidupan keluarga saya sangat memberikan kebebasan dalam memilih agama. Sehingga saya memilih agama Kristen Protestan menjadi agama saya. Setelah itu saya berganti nama menjadi Pilot Sagaran Antonio. Kepindahan saya ke agama Kristen Protestan tidak membuat ayah saya marah. Ayah akan sangat kecewa jika saya sekeluarga memilih Islam sebagai agama. Sikap ayah saya ini berangkat dari image gambaran buruk terhadap pemeluk Islam. Ayah saya sebenarnya melihat ajaran Islam itu bagus. Apalagi dilihat dari sisi Al Qur'an dan hadits. Tapi, ayah saya sangat heran pada pemeluknya yang tidak mencerminkan kesempurnaan ajaran agamanya. Gambaran buruk tentang kaum muslimin itu menurut ayah saya terlihat dari banyaknya umat Islam yang berada dalam kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan. Bahkan, sampai mencuri sandal di mushola pun dilakukan oleh umat Islam sendiri. Jadi keindahan dan kebagusan ajaran Islam dinodai oleh prilaku umatnya yang kurang baik. Kendati demikian buruknya citra kaum muslimin di mata ayah, tak membuat saya kendur untuk mengetahui lebih jauh tentang agama islam. Untuk mengetahui agama Islam, saya mencoba mengkaji Islam secara komparatif (perbandingan) dengan agama-agama lain. Dalam melakukan studi perbandingan ini saya menggunakan tiga pendekatan, yakni pendekatan sejarah, pendekatan alamiah, dan pendekatan nalar rasio biasa. Sengaja saya tidak menggunakan pendekatan kitab-kitab suci agar dapat secara obyektif mengetahui hasilnya. Berdasarkan tiga pendekatan itu, saya melihat Islam benar-benar agama yang mudah dipahami ketimbang agama-agama lain. Dalam Islam saya temukan bahwa semua rasul yang diutus Tuhan ke muka bumi mengajarkan risalah yang satu, yaitu Tauhid. Selain itu, saya sangat tertarik pada kitab suci umat Islam, yaitu Al-Qur'an. Kitab suci ini penuh dengan kemukjizatan, baik ditinjau dari sisi bahasa, tatanan kata, isi, berita, keteraturan sastra, data-data ilmiah, dan berbagai aspek lainnya. Ajaran Islam juga memiliki system nilai yang sangat lengkap dan komprehensif, meliputi system tatanan akidah, kepercayaan, dan tidak perlu perantara dalam beribadah. Dibanding agama lain, ibadah dalam islam diartikan secara universal. Artinya, semua yang dilakukan baik ritual, rumah tangga, ekonomi, sosial, maupun budaya, selama tidak menyimpang dan untuk meninggikan siar Allah, nilainya adalah ibadah. Selain itu, dibanding agama lain, terbukti tidak ada agama yang memiliki system selengkap agama Islam. Hasil dari studi banding inilah yang memantapkan hati saya untuk segera memutuskan bahwa Islam adalah agama yang dapat menjawab persoalan hidup. Masuk Islam Setelah melakukan perenungan untuk memantapkan hati, maka di saat saya berusia 17 tahun dan masih duduk di bangku SMA, saya putuskan untuk memeluk agama Islam. Oleh K.H.Abdullah bin Nuh al-Ghazali saya dibimbing untuk mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat pada tahun 1984. Nama saya kemudian diganti menjadi Syafii Antonio. Keputusan yang saya ambil untuk menjadi pengikut Nabi Muhammad saw. Ternyata mendapat tantangan dari pihak keluarga. Saya dikucilkan dan diusir dari rumah. Jika saya pulang, pintu selalu tertutup dan terkunci. Bahkan pada waktu shalat, kain sarung saya sering diludahi. Perlakuan keluarga terhadap diri saya tak saya hadapi dengan wajah marah, tapi dengan kesabaran dan perilaku yang santun. Ini sudah konsekuensi dari keputusan yang saya ambil. Alhamdulillah, perlakuan dan sikap saya terhadap mereka membuahkan hasil. Tak lama kemudian mama menyusul jejak saya menjadi pengikut Nabi Muhammad saw. Setelah mengikrarkan diri, saya terus mempelajari Islam, mulai dari membaca buku, diskusi, dan sebagainya. Kemudian saya mempelajari bahasa Arab di Pesantren an-Nidzom, Sukabumi, dibawah pimpinan K.H.Abdullah Muchtar. Lulus SMA saya melanjutkan ke ITB dan IKIP, tapi kemudian pindah ke IAIN Syarif Hidayatullah. Itupun tidak lama, kemudian saya melanjutkan sekolah ke University of yourdan (Yordania). Selesai studi S1 saya melanjutkan program S2 di international Islamic University (IIU) di Malaysia, khusus mempelajari ekonomi Islam. Selesai studi, saya bekerja dan mengajar pada beberapa universitas. Segala aktivitas saya sengaja saya arahkan pada bidang agama. Untuk membantu saudara-saudara muslim Tionghoa, Saya aktif pada Yayasan Haji Karim Oei. Di yayasan inilah para mualaf mendapat informasi dan pembinaan. Mulai dari bimbingan shalat, membaca Al-Qur'an, diskusi, ceramah, dan kajian Islam, hingga informasi mengenai agama Islam. (Hamzah, mualaf.com) Redaksi: Saat ini M Syafii Antonio aktif diberbagai Lembaga Keuangan Islam/Syariah baik Bank maupun Non Bank, dan membina berbagai pendidikan syariah
Dr. Muhammad Syafii Antonio, MSc - Doktor Banking & Micro Finance, University of Melbourne, 2004
- Master of Economic, International Islamic University, Malayasia, 1992
- Sarjana Syariah, University of Jordan, 1990
- Komite Ahli Pengembangan Perbankan Syariah pada Bank Indonesia
- Dewan Komisaris Bank Syariah Mega Indonesia
- Dewan Syariah BSM
- Dewan Syariah Takaful
- Dewan Syariah PNM
- Dewan Syariah Nasional, MUI

perjalanan dari kufur ke ALLAH Hermanus Paulus Poli Menjemput Hidayah di Penjara
Saya bernama Hermanus Paulus Poli. Sebelum memeluk Islam, dulu saya
bersama keluarga pernah menganut Kristian Protestan. Boleh dikira, kami
sebagai penganut Kristiann yang taat saat itu. Saya bersaudara empat
orang. Ayah saya seorang pencen sebuah BUMN yang bergerak di bidang
perbankan. Ibu saya seorang arkeologi.
Setelah menyelesaikan S1 di Fakulti Ilmu Sosial dan Politik (FISIP),
jurusan ilmu politik di salah satu universiti negeri di Indonesia, saya
berangkat ke Gold Coast University, Australia untuk menyelesaikan S2.
Namun baru saja duduk di semester tiga di tahun pertama, kuliah saya
terganggu karena tabiat saya sendiri. Terus terang, sejak kuliah saya sudah
menghisap dadah. Saya tinggal bersama tiga orang kawan di apartmen
saya. Semuanya penagih dadah.
Di kampus, teman-teman saya ada juga yang beragama Islam. Dalam
pergaulan, saya tidak pilih-pilih. Kepada siapa pun saya bergaul, termasuk
rakan-rakan Muslim. Kepada para sahabat saya yang beragama Islam saya
kerap kali terlibat dalam diskusi seputar persoalan agama. Kami selalu
membicarakan tentang konsep ketuhanan agama kami masing-masing. Terus
terang saja, semula saya tidak menyukai topik diskusi ini. Sebagai seorang
Kristian saya merasa runsing dan rendah hati.
Dalam hati saya akui, betapa jelas konsep ketuhanan dalam Islam, iaitu
Allah Yang Maha Esa. Sangat jelas bahwa Tuhan itu sebenarnya memang Esa
dan Maha Besar. Timbullah keraguan dalam hatiku tentang konsep
ketuhanan Kristian yang sangat membingungkan. Terkadang penganut Kristian harus
meyakini Yesus Kristus sebagai tuhan. Namun dalam Injil, Yesus sendiri
menyangkal kalau dirinya adalah Tuhan. Dengan terang-terangan dia
menyuruh kita untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Satu (Yesaya 17: 3). Makin
lama keraguan saya terhadap ajaran Kristian tak dapat dielakkan lagi.
Bagi saya konsep Triniti dalam Kristen sangat kacau.
Pada suatu kesempatan, saya mencuba mengambil mushaf al-Qur’an terjemah
milik mereka. Semula saya ingin pelajari isi al-Qur’an tersebut demi
mencari kelemahan-kelemahan agama Islam. Namun, semakin merenungi
ayat-ayat al-Qur’an, hati saya semakin takjub terhadap Islam. Betapa jelas
konsep Ketuhanan yang dipaparkan Islam melalui surat al-Ikhlash. Betapa
terang dialog Allah dan Yesus yang diabadikan dalam surat al-Maidah ayat
116. Keadaan saya di Autralia kian hari makin buruk. Candu terhadap
barang-barang terlarang itu tidak dapat kulepaskan. Kuliah pun jadi berantakan.
Kerana saya gikir banyak membuang waktu percuma, akhirnya saya
memutuskan kembali ke Jakarta.
Di Jakarta, saya bersama teman-teman mendirikan usaha di bidang
entertainment dan lebih mengutamakan bidang promosi (event organizer). Usaha
saya berkembang pesat, tapi saya tetap seorang penagih. Sebenarnya
seluruh keluarga sudah tahu tentang kebiasaan saya yang buruk ini. Tapi
mereka tidak memperdulikannya. Mereka telah maklum, apalagi saya anak
bongsu yang keras kepala. Berkali-kali saya berubat ke doktor specialist dan
pusat rehabilitation mental untuk menghilangkan penyakit candu ini,
namun hasilnya selalu zero. Setelah dua atau tiga bulan kemudian, kembali
saya menagih. Walau saya ragu terhadap ajaran Kristian, namun setiap hari Minggu saya
selalu pergi ke gereja bersama keluarga. Di dalam gereja, saya tak
menemukan sesuatu yang menyedarkan saya dari kebohongan gereja. Saya
benar-benar merasa hampa. Apalagi seorang pendeta yang saya tanyai tentang
berbagai keraguan itu tak dapat meyakinkan saya.
Pengalaman di Penjara
12 September 2002. Sepulang dari membeli dadah, saya ditangkap polis.
Akhirnya, saya dipenjara ke Polres Menteng, Jakarta Pusat. Saya kembali
diinterogasi dan akhirnya ditahan. Perasaan saya saat itu biasa saja
karena saya yakin bahwa keluarga saya pasti boleh membebaskan saya.
Kerena kami punya hubungan yang luas di jabatan polis dan birokrasi.
Ternyata, semuanya di luar dugaan. Usaha keras keluarga saya tidak
berhasil. Saya mulai ketakutan di dalam penjara. Setelah hari ketiga, saya
ditempatkan dalam sel yang dipenuhi para tahanan. Gelisah, takut, dan
marah, semuanya bercampur dalam dada. Dengan wang saya boleh
mengendalikan para pembuli di dalam penjara. Setiap orang yang masuk dalam sel,
pasti ditekan, dipukul, dan sebagainya.
Saat hari Minggu ada pendeta yang datang untuk program agama Kristian
(tahanan). Saya pun turut dalam acara tersebut. Pada malam harinya saya
tergerak untuk membaca buku “Malang Nian Orang yang Tidak Shalat”. Buku
tersebut milik salah seorang penghuni yang beragama Islam.
Anehnya, setelah membaca buku tersebut saya merasakan sesuatu yang
lain. Tergerak batin saya yang dalam untuk melakukan shalat walau saya
tidak tahu bagaimana caranya. Keesokannya saya membaca dinding sel yang
penuh dengan coretan tahanan sebelumnya, “Dirikanlah shalat dan
tunaikanlah zakat dan apabila kamu berdoa sebanyak kamu bercemas, maka seketika
kecemasan itu akan hilang.”
Tanpa fikir panjang, semua buku-buku tentang Islam yang ada di kamar
itu saya pelajari, termasuk tata cara shalat. Saya dapat memahami
bagaimana cara shalat dan berwudhu dari sel tahanan lain. Tentu saja para
penghuni yang beragama Kristian jadi marah. Saya tidak mempedulikan mereka.
Fikir saya, kalau mahu ribut, silakan. Saya siap menghadapi mereka.
Sejak saat itu saya menjadi sangat berani menegakkan shalat tanpa bersaksi
lebih dahulu (mengucapkan dua kalimat syahadat). Saya yakin, Allah SWT
akan menerima shalat saya, sedangkan saya telah bersyahadat di hadapan
Allah SWT. Setelah dua minggu saya ditahan, masuklah sejumlah tahanan
dari Front Pembela Islam (FPI). Dari merekalah saya banyak belajar
tentang Islam, khususnya dari Ustadz Ja’far Umar Shiddiq.
Seminggu kemudian saya dikirim ke penjara Salemba. Saya tetap shalat
dan berdoa semoga di sana saya tidak disiksa oleh sesama tahanan dan
bertemu dengan orang-orang yang dapat membimbing saya. Alhamdulillah saya
ditempatkan di Blok C. Selama saya ditahan, setiap hari keluarga saya
datang menjenguk. Di sana saya bertemu dengan dua orang yang berakhlak
baik. Setiap hari saya mengkaji tafsir al-Qur’an terjemah dan belajar
membaca al-Qur’an. Banyak sekali buku-buku yang saya jadikan referensi
untuk pengetahuan Islam, antara lain: Menuju jalan Ke Surga, Di Balik
Rahasia Surat at-Taubah dan lainnya.
Cubaan Datang Mengguncang
Keluarga saya tetap mendorong saya dan memberi perhatian terhadap
masalah saya. Hukuman saya diputuskan selama satu tahun enam bulan. Jauh
lebih ringan dari tuntutan sebelumnya empat tahun penjara. Di saat saya
merasakan iman makin kuat, saya bermaksud mengutarakan kepada keluarga
tentang identiti saya sebagai seorang Muslim. Ketika tahu, mereka sangat
marah. Saya dimaki. Saya dikatakan terpengaruh setan, bodoh, tolol dan
harus kembali ke agama Kristian. Mereka mengancam tidak akan menjenguk
dan tidak akan membaca apa pun untuk saya. Padahal biaya hidup dalam
penjara sangat besar, untuk makan dan bayaran wajib pintu, wang kunci
mingguan dan lain-lain. Apabila tidak, saya akan menemui masalah dengan
para penghuni. Saya menjadi bimbang. Akhirnya dalam kerunsingan saya
kembali terjebak menagih dadah. Bagi keluarga saya bukanlah masalah besar
jika harus tetap membiayai keperluan saya di penjara asal saya mahu
kembali ke gereja dan menyatakan diri sebagai seorang kristian.
Alhamdulillah, iman saya tidak tergoyah. Ujian lain pun juga menghadang
saya. Beberapa kali para penjual dadah di penjara memaksakan saya untuk
membeli dadah mereka. Saya sempat terjebak kembali sebagai penagih.
Tapi itu hanya berlangsung dua minggu. Allah segera menyedarkan saya. Saya
pun menolak walau mereka mengancam saya. Saya berfikir, saya harus
hijrah dari penjara tersebut ke penjara lain agar ibadah saya lebih tenang
dan tidak terganggu dengan angkara para penghuni dan pengedar dadah.
Untuk itu, saya menyogok bagian pendaftaran untuk memasukkan nama saya
dalam daftar nama-nama penghuni yang akan dipindahkan ke LP Tangerang. Dua hari kemudian nama saya dipanggil dan dikirim ke Lapas kelas I
Tangerang. Setelah tiba di Tangerang, saya menelefon keluarga dan
menginformasikan kepindahan saya ke penjara Tangerang. Saya nyatakan kepada
mereka bahwa saya akan tetap menjadi seorang Muslim yang meyakini bahwa
Allah Itu Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan dan Muhammad saw
adalah Rasulullah.
Keesokan harinya, keluarga saya datang menjenguk. Saya ditempeleng dan
diludahi bahkan hp saya pun dirampas. Sejak itu, mereka benar-benar
tidak mau menyara apa pun yang menjadi kebutuhan saya di penjara. Mereka
mengharapkan saya mati saja di dalam penjara agar tidak membuat malu
keluarga.
Namun tekad saya sudah bulat. Saya akan tetap komitmen berada pada
jalan Allah. Di LP Tangerang kehidupan sangat begitu sulit. Tanpa bantuan
keluarga, saya bagai anak hilang. Terkadang saya bingung, bagaimana
harus mandi tanpa sabun, ubat gigi dan shampoo. Makan pun apa adanya, nasi
putih dan sayur, yang tidak layak dimakan manusia normal. Minumannya
pun air mentah tanpa dimasak sama sekali. Saya berusaha meminimalisasi
penderitaan dengan bekerja sebagai tukang cuci pakaian orang. Tapi tidak
tiap hari order itu selalu ada. Sekali mencuci saya dibayar Rp 200
sampai Rp 3000, dan itu hanya cukup untuk makan sehari. Saya ditawari
bekerja pada beberapa orang Nigeria dan Tionghoa namun konsekuensinya saya
harus siap selama 10-12 jam di kamar mereka dengan mengerjakan apa pun
yang mereka inginkan. Memang upahnya cukup lumayan. Namun waktu saya
untuk Allah akan hilang. Saya putuskan tidak menerima tawaran kerja dari
mereka padahal mereka sangat senang, kerana saya boleh berbahasa Inggris
dan
Perancis.
Saya sedar, sebagai seorang Muslim, saya tidak boleh menggantungkan
hidup kepada orang kafir. Saya yakin, rezeki sudah ditentukan. Ibadah
kepada Allah menjadi prioriti utama saya. Shalat, mengaji dan memperdalam
agama menjadi santapan saya setiap hari. Walau begitu, saya sedar bahwa
cubaan memang tidak berhenti sampai di situ. Tekanan-tekanan mental
dari orang-orang non-Muslim dari etnis tertentu terhadap saya berlanjut di
penjara ini. Beberapa petugas sangat sinis dengan saya karena bezanya
agama saya. Celakanya, banyak sekali muslim tidak taat yang saya temui
di penjara ini. Perintah berjamaah hanya diterapkan dalam shalat, tidak
diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.Banyak orang Muslim yang
murtad karena tidak tahan lapar dan harus ke gereja (dalam LP) demi
mendapatkan sekotak makan, sabun, pasta gigi, syampoo dan obat-obatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar