06 Oktober 2012

Pengantar Geografi


Geografi – Pengenalan Geografi


Geografi 
adalah Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan dari fenomena-fenomena di permukaan bumi sesuai dengan referensinya, atau studi mengenai area-area yang berada di permukaan bumi, di dalam pengertian karakteristik-karakteristiknya.
Prinsip Geografi
  • Persebaran: Gejala dan fakta yang tersebar tidak merata di permukaan bumi yang meliputi bentang alam dan makhluk hidup lainnya seperti tumbuh – tumbuhan, hewan, dan manusia.
  • Interelasi: Hubungan saling terkait dalam ruang antara gejala yang satu dengan lainnya. Sebagai contoh banjir yang terjadi di wilayah hilir terjadi karena kerusakan hutan di bagian hulu. Kerusakan hutan alam itu dapat terjadi karena perilaku menusia. Perilaku manusia yang demikian terjadi karena kesadaran terhadap fungsi hutan yang rendah
  • Deskripsi: Penjelasan lebih jauh mengenai gejala yang diselidiki. Pendiskripsian itu melalui fakta, gejala dan masalah, sebab-akibat, secara kualitatif maupun kuantitatif dengan bantuan peta, grafik, diagram, dll.
  • Korologi (Spatialnya): Merupakan Prinsip yang komprehensip , karena memadukan prinsip lainnya. Fenomena atau masalah alam dan manusia dikaji penyebarannya, interelasinya, dan interaksinya dalam satu ruang. Kondisi ruang itu akan memberikan corak pada kesatuan gejala, kesatuan fungsi dan kesatuan bentuk.
Permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana memecahkan masalah urbanisasi. Masalah itu merupakan masalah yang kompleks, melibatkan dua wilayah, yaitu wilayah desa dan kota. Untuk memecahkan masalah itu dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut.
1.   menerapkan pendekatan keruangan, seperti dicontohkan pada pendekatan pertama
2.   menerapkan pendekatan kelingkungan, sebagaimana dicontohkan pada pendekatan kedua
3.   menganalisis keterkaitan antara faktor-faktor di wilayah desa dengan di kota
Arti Penting Pendekatan dalam Paradigma Geografi Dalam menghampiri, menganalisis gejala dan permasalahan suatu ilmu (sains), maka diperlukan suatu metode pendekatan (approach method). Metode pendekatan inilah yang digunakan untuk membedakan kajian geografi dengan ilmu lainnya, meskipun obyek kajiannya sama. Metode pendekatan ini terbagi 3 macam bentuk pendekatan antara lain: pendekatan keruangan, pendekatan ekologi/kelingkungan dan pendekatan kewilayahan.
1. Keruangan, analisis yang perlu diperhatikan adalah penyebaran, penggunaan ruang dan perencanaan ruang. Dalam analisis peruangan dikumpulkan data ruang disuatu tempat atau wilayah yang terdiri dari data titik (point), data bidang (areal) dan data garis (line) meliputi jalan dan sungai.
2.     Kelingkungan, yaitu menerapkan konsep ekosistem dalam mengkaji suatu permasalahan geografi, fenomena, gaya dan masalah mempunyai keterkaitan aspek fisik dengan aspek manusia dalam suatu ruang.
3.     Kewilayahan, yang dikaji yaitu tentang penyebaran fenomena, gaya dan masalah dalam ruangan, interaksi antar/variabel manusia dan variabel fisik lingkungannya yang saling terkait dan mempengaruhi satu sama lainnya. Karena pendekatan kewilayahan merupakan perpaduan antara pendekatan keruangan dan kelingkungan, maka kajiannya adalah perpaduan antara keduanya.
Pendekatan keruangan, pendekatan kelingkungan dan pendekatan kewilayahan dalam kerjanya merupakan satu kesatuan yang utuh. Pendekatan yang terpadu inilah yang disebut pendekatan geografi. Jadi fenomena, gejala dan masalah ditinjau penyebaran keruangannya, keterkaitan antara berbagai unit ekosistem dalam ruang. Penerapan pendekatan geografi terhadap gejala dan permasalahan dapat menghasilkan berbagai alternatif-alternatif pemecahan.
Menurut para ahli geografi Indonesia yang tergabung dalam Ikatan Geograf Indonesia (IGI) melalui seminar dan lokakarya nasional di Semarang, telah bersepakat mengenai objek studi geografi. Menurut IGI objek geografi adalah: Objek material dan objek formal.
-    Objek Material Geografi
Objek material geografi yaitu merupakan sasaran atau yang dikaji dalam studi geografi.
Objek studi geografi adalah lapisan-lapisan bumi atau tepatnya fenomena geosfer.
-    Objek Formal Geografi
Objek formal adalah metode atau pendekatan yang digunakan dalam mengkaji suatu masalah. Metode atau pendekatan objek formal geografi meliputi beberapa aspek, yakni aspek keruangan (spatial), kelingkungan (ekologi), kewilayahan (regional) serta aspek waktu (temporal).
  • Aspek Keruangan; geografi mempelajari suatu wilayah antara lain dari segi “nilai” suatu tempat dari berbagai kepentingan. Dari hal ini kita lalu mempelajari tentang letak, jarak, keterjangkauan dsb.
  • Aspek Kelingkungan; geografi mempelajari suatu tempat dalam kaitan dengan keadaan suatu tempat dan komponen-komponen di dalamnya dalam satu kesatuan wilayah. Komponen-komponen itu terdiri dari komponen tak hidup seperti tanah, air, iklim dsb, dan komponen hidup seperti hewan, tumbuhan dan manusia.
  • Aspek Kewilayahan; geografi mempelajari kesamaan dan perbedaan wilayah serta wilayah dengan ciri-ciri khas. Dari hal ini lalu muncul pewilayahan atau regionalisasi misalnya kawasan gurun, yaitu daerah-daerah yang mempunyai ciri-ciri serupa sebagai gurun.
  • Aspek Waktu; geografi mempelajari perkembangan wilayah berdasarkan periodeperiode waktu atau perkembangan dan perubahan dari waktu ke waktu. Misalnya perkembangan kota dari tahun ke tahun, kemunduran garis pantai dari waktu ke waktu dsb.
Perlu diperhatikan bahwa dalam mengkaji suatu permasalahan, geografi terbagi menjadi geografi fisis dan geografi manusia yang keduanya tak dapat dipisahkan. Bahkan masingmasing cabang geografi saling membutuhkan dan saling melengkapi. Untuk lebih jelasnya, tentang objek geografi Anda dapat melihat skema berikut.
1
Struktur Geografi
Struktur keruangan berkenaan dengan dengan elemen-elemen penbentuk ruang. Elemen-elemen tersebut dapat disimbulkan dalam tiga bentuk utama, yaitu:
1. kenampakan titik (point features),
2  kenampakan garis (line features)
3 kenampakan bidang (areal features).
Kerangka kerja analisis pendekatan keruangan bertitik tolak pada permasalahan susunan elemen-elemen pembentuk ruang. Dalam analisis itu dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
1.  What? Struktur ruang apa itu?
2.  Where? Dimana struktur ruang tesebut berada?
3.  When? Kapan struktur ruang tersebut terbentuk sperti itu?
4.  Why? Mengapa struktur ruang terbentuk seperti itu?
5.  How? Bagaimana proses terbentukknya struktur seperti itu?
6.  Who suffers what dan who benefits whats? Bagaimana struktur
Keruangan tersebut didayagunakan sedemikian rupa untuk kepentingan manusia. Dampak positif dan negatif dari keberadaan ruang seperti itu selalu dikaitkan dengan kepentingan manusia pada saat ini dan akan datang.
Aspek Geografi
  • Aspek fisik (alamiah): gejala – gejala alam yang timbul. Gejala fisik itu terdiri atas tanah, air, udara dengan segala prosesnya. Bidang kajian dalam geografi fisik adalah gejala alamiah di permukaan bumi yang menjadi lingkungan hidup manusia. Oleh karena itu keberadaan cabang ilmu ini tidak dapat dipisahkan dengan mansuia.
  • Aspek sosial (kehidupan) dengan segala interaksi, penyebaran maupun relasinya. Manusia di permukaan bumi beragam adat dan budayanya, hal ini mengakibatkan interaksi antara penduduk yang berbeda. Penduduk mempunyai keahlian yang berbeda-beda pula sehingga terjadi saling membutuhkan. Penduduk juga menempati tempat yang berbeda-beda kondisi alam dan sumberdayanya, hal ini menyebabkan kehidupannya juga menjadi beragam karena memanfaatkan alam yang berbeda perlu pengolahan dan alat yang berbeda pula.
Konsep Esensial Geografi
Konsep adalah pengertian dari sekelompok fenomena atau gejala-gejala, sehingga dapat dipakai untuk menggambarkan berbagai gejala atau fenomena yang sama. Ada 10 konsep esensial (dasar) geografi, yaitu:
Konsep Lokasi; yaitu letak di permukaan bumi, misalnya Gunung Bromo terletak di Jawa Timur.
Konsep Jarak; yaitu jarak dari satu tempat ke tempat lain. Jarak dibagi menjadi jarak absolut dan jarak relatif. Jarak absolut merupakan jarak yang ditarik garis lurus antara dua titik. Dengan demikian jarak absolut adalah jarak yang sesungguhnya. Jarak relatif adalah jarak atas pertimbangan tertentu misalnya rute, waktu, biaya, kenyamanan dsb. Misalnya jarak Jakarta ke Bandung 180 km atau Jakarta-Bandung dapat ditempuh dalam waktu 3 jam melewati Puncak.
Kedua hal ini merupakan contoh jarak relatif berdasarkan pertimbangan rute dan waktu.
Konsep Keterjangkauan; yaitu mudah dijangkau atau tidaknya suatu tempat, misalnya dari Jakarta ke Kota Cirebon lebih mudah dijangkau dibandingkan dengan dari Jakarta ke Pulau Kelapa (di kepulauan Seribu) karena kendaraan Jakarta-Cirebon lebih mudah didapat dibandingkan dengan Jakarta-Pulau Kelapa.
Konsep Pola; yaitu persebaran fenomena antara lain misalnya pola pemukiman yang menyebar, yang berbentuk garis dan sebagainya.
Konsep Morfologi; yaitu bentuk lahan, misalnya dalam kaitannya dengan erosi dan sedimentasi.
Konsep Aglomerasi; yaitu pola-pola pengelompokan. Misalnya sekelompok penduduk asal daerah sama, masyarakat di kota cenderung mengelompok seperti permukiman elit, pengelompokan pedagang dan sebagainya. Di desa masyarakat rumahnya mengelompok di tanah datar yang subur.
Konsep Nilai Kegunaan; yaitu nilai suatu tempat mempunyai kegunaan yang berbeda-beda dilihat dari fungsinya. Misalnya daerah wisata mempunyai kegunaan dan nilai yang berlainan bagi setiap orang. Tempat wisata tersebut belum tentu bernilai untuk pertanian atau fungsi lainnya.
Konsep Interaksi dan Interdependensi; yaitu keterkaitan dan ketergantungan satu tempat dengan tempat lainnya. Misalnya antara kota dan desa sekitarnya terjadi saling membutuhkan.
Konsep Deferensiasi Areal; yaitu fenomena yang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya atau kekhasan suatu tempat.
Konsep Keterkaitan Keruangan (Asosiasi); yaitu menunjukkan derajad keterkaitan antar wilayah, baik mengenai alam atau sosialnya
.


Geografi adalah ilmu yang mempelajari hubungan kausal gejala-gejala di muka bumi dan peristiwa peristiwa yang terjadi di muka bumi, baik yang fisik maupun yang menyangkut makhluk hidup beserta permasalahannya melalui pendekatnn keruangan, ekologi, dan regional untuk kepentingan program, proses, dan keberhasilan pembangunan. Konteks geografi ternyata membicarakan dan membahas tentang aspek kehidupan manusia dengan segala perilakunya serta gejala fisik yang terjadi dalam rulIng stall.
Pengertian ruang merupakan suatu tempat yang mewujudkan keberadaan dirinya yang bersifat fisik ataupun yang bersifat hubungan-hubungan sosial serta memiliki perbedaan dan persamaan aspek kehidupan yang ads dalam ruang tersebut. Ruang mencerminkan adanya hubungan fungsional antara gejala obyek-obyek yang ada dalam ruang itu sendiri. Sebab itulah diperlukan analisis keruangan dalam rangka mengkaji gejala-gejala yang mill dalam rlmng (space). Space terdiri dari: (1) physical space dan (2) social space. Dalam hal mengkaji perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan yang ada dalam ruang dengan segala obyeknya merupakan tugas geografi.



Perbedaan cara mempelajari geografi dengan mempelajari ilmu lain adalah terletak pada sudut pandangnya, sudut pandang matematika tidak mungkin sama dengan sudut pandang geografi geografi mempelajari objek kajianya dengan menggunakan pendekatan geografis, pendekatan geografis tersebut dibagi menjadi tiga yaitu:
  1. 1. Pendekatan Keruangan
Pendekatan keruangan merupakan suatu cara pandang atau kerangka analisis yang menekankan eksistensi ruang sebagai penekanan. Eksisitensi ruang dalam perspektif geografi dapat dipandang dari struktur (spatial structure), pola (spatial pattern), dan proses (spatial processess) (Yunus, 1997).
Dalam konteks fenomena keruangan terdapat perbedaan kenampakan strutkur, pola dan proses. Struktur keruangan berkenaan dengan dengan elemen-elemen penbentuk ruang.
Elemen-elemen tersebut dapat disimbulkan dalam tiga bentuk utama, yaitu: (1) kenampakan titik (point features), (2) kenampakan garis (line features), dan (3) kenampakan bidang (areal features).
Kerangka kerja analisis pendekatan keruangan bertitik tolak pada permasalahan susunan elemen-elemen pembentuk ruang. Dalam analisis itu dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
1. What? Struktur ruang apa itu?
2. Where? Dimana struktur ruang tersebut berada?
3. When? Kapan struktur ruang tersebut terbentuk seperti itu?
4. Why? Mengapa struktur ruang terbentuk seperti itu?
5. How? Bagaimana proses terbentukknya struktur seperti itu?
6. Who suffers what dan who benefits what? Bagaimana struktur
Keruangan tersebut didayagunakan sedemikian rupa untuk kepentingan manusia.
Dampak positif dan negatif dari keberadaan ruang seperti itu selalu dikaitkan dengan kepentingan manusia pada saat ini dan akan datang.( makalah kelompok 1 xa )

2. Pendekatan kelingkungan
Pendekatan ekologi/lingkungan merupakan pendekatan berdasarkan interaksi yang terjadi pada lingkungan.Pendekatan ekologi dalam geografi berkenaan dengan hubungan kehidupan manusia dengan lingkungan fisiknya.Interaksi tersebut membentuk sistem keruangan yang dikenal dengan Ekosistem.Salah satu teori dalam pendekatan atau analisi ekologi adalah teori tentang lingkungan.Geografi berkenaan dengan interelasi antara kehidupan manusia dan faktor fisik yang membentuk sistem keruangan yang menghubungkan suatu region dengan region lainnya.Adapun ekologi, khususnya ekologi manusia berkenaan dengan interelasi antara manusia dan lingkungan yang membentuk sistem ekologi atau ekosistem.
Dalam analisis ekologi, kita mencoba menelaah interaksi antara manusia dengan ketiga lingkungan tersebut pada suatu wilayah atau ruang tertentu.Dalam geografi lingkungan, pendekatan kelingkungan memiliki peranan penting untuk memahami fenomenageofer.
Dalam pendekatan ini penekanannya bukan lagi pada eksistensi ruang, namun pada keterkaitan antara fenomena geosfera tertentu dengan varaibel lingkungan yang ada. Dalam pendekatan kelingkungan, kerangka analisisnya tidak mengkaitkan hubungan antara makluk hidup dengan lingkungan alam saja, tetapi harus pula dikaitkan dengan:
(1) fenomena yang didalamnya terliput fenomena alam beserta relik fisik tindakan manusia.
(2) perilaku manusia yang meliputi perkembangan ide-ide dan nilai-nilai geografis serta kesadaran akan lingkungan.
Dalam sistematika Kirk ditunjukkan ruang lingkup lingkungan geografi sebagai berikut. Lingkungan geografi memiliki dua aspek, yaitu lingkungan perilaku (behavior environment) dan lingkungan fenomena (phenomena environment). Lingkungan perilaku mencakup dua aspek, yaitu pengembangan nilai dan gagasan, dan kesadaran lingkungan. Ada dua aspek penting dalam pengembangan nilai dan gagasan geografi, yaitu lingkungan budaya gagasan-gagasan geografi, dan proses sosial ekonomi dan perubahan nilai-nilai lingkungan. Dalam kesadaran lingkungan yang penting adalah perubahan pengetahuan lingkungan alam manusianya.
Lingkungan fenomena mencakup dua aspek, yaitu relik fisik tindakan manusia dan fenomena alam. Relic fisik tindakan manusia mencakup penempatan urutan lingkungan dan manusia sebagai agen perubahan lingkungan. Fenomena lingkungan mencakup produk dan proses organik termasuk penduduk dan produk dan proses anorganik.
Studi mandalam mengenai interelasi antara fenomena-fenomena geosfer tertentu pada wilayah formal dengan variabel kelingkungan inilah yang kemudian diangap sebagai ciri khas pada pendekatan kelingkungan. Keenam pertanyaan geografi tersebut selalu menyertai setiap bentuk analisis geografi. Sistematika tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.
Kerangka umum analisis pendekatan kelingkungan dapat dicontohkan sebagai berikut.
Masalah yang terjadi adalah banjir dan tanah longsor di Ngroto Pujon Malang.
Untuk mempelajari banjir dengan pendekatan kelingkungan dapat diawali dengan tindakan sebagai berikut. (1) mengidentifikasi kondisi fisik di lokasi tempat terjadinya banjir dan tanah longsor. Dalam identifikasi itu juga perlu dilakukan secara mendalam, termasuk mengidentifikasi jenis tanah, tropografi, tumbuhan, dan hewan yang hidup di lokasi itu.(2) mengidentifikasi gagasan, sikap dan perilaku masyarakat setempat dalam mengelola alam di lokasi tersebut.
(3) mengidentifikasi sistem budidaya yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup (cara bertanam, irigasi, dan sebagainya).
(4) menganalisis hubungan antara sistem budidaya dengan hasil dan dampak yang ditimbulkan.
(5) mencari alternatif pemecahan atas permasalahan yang terjadi.( makalah kelompok 2 XG)

3. Pendekatan Kewilayahan
dalam pendekatan kewilayahan, yang dikaji tentang penyebaran fenomena, gaya dan masalah dalam keruangan, interaksi antara variabel manusia dan variabel fisik lingkungannya yang saling terkait dan mempengaruhi satu sama lainnya.
pendekatan ini merupakan pendekatan keruangan dan lingkungan, maka kajiannya adalah perpaduan antara keduanya.

kesimpulannya:

pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kewilayahana dalam kerjanya merupakan satu kesatuan yang utuh. pendekatan yang terpadu inilah yang disebut pendekatan geografi. jadi fenomena, gejala, dan masalah ditinjau penyebaran keruangannya, keterkaitan antara berbagai unit ekosistem dalam ruang. penerapan pendekatan geografi terhadap gejala dan permasalahan dapat menghasilkan berbagai alternatif- alternatif pemecahan masalah.


a. Pendekatan  keruangan,
Pendekatankeruanganmenekankananalisisnyapadavariasidistibrrsidanlokasi
dan gejala-gejala  ataukelompok  gejata di perrntrkaan  bumi, misalnya variasi kepadatan
penduduk, kemiskinan  di perdesaan.  Faktor-faktor yang menyebabkan  pola-pola
disnibusi keruangan yang berbeda-beda  dan bagaimana  pola keruangan  yang ada dapat
diubah sedemikian  rupa sehingga  distnibusinya menjadi lobih efektif' Pendekatan
keruangan menyangkut  pola, proses  dan struktur di kaitkan dengan dimensi waktu'
sehingga analisisnya bersifat horizontal'

b. Pendekatan kelingkungan'
Studi interaksi antara  organisme hidup dengan  lingkgngannya  disebut dengan  ekologi'
Geografi dan Ekologi merupakan  dua bidang iknu yang  berbeda  satu sama  lain' Geografi
berkenaan  dengan  interelasi  kehidupan manusia dengan  faktor fisisnya  yang membenhrk
suatu sistem keruangan  yang meng*rubungkan  satu region  dengan reglon lainnya' Sedang
ekologi berkaitan dengan interelasi antarc manusia dengan ingkungan  yang membentk
suatu sistem ekologi atau ekosistem. Prinsip  dan konsep  yang berlaku diantara  ke duanya
berbeda  satu sama lainm tetapi karena  ada kesamaan pada obyek yang digarapnya' maka
kedua ilmu tersebut pada pelaksanaan  kerjanya dapat saling membantu' Geografi dapatdikatakan sebagai  iknu tentang ekologi manusia  yang berrraksud  menjelaskan hubungan
antara  lingkuogan  alam dengan penyebaran dan aktivitas manusia'  Pandangan  dan
penelaahan  ekologi diarahkan  kepada  hubungan  antara manusia  sebagai mahluk hidup
dengan  lingkungru alam. Pandangan dan penelaahan inilah yang disebut  dengan
pendekatan  ekologi, yang dapat mengungkapkan  masalah  hubungan  penyebaran  dan
aktivitas manusia  dengaa lingkungan alamnya' Pada pendekatan ekologi suatu  daerah
permukiman sitinjau sebagai suatu bentuk ekosistem  hasil interaksi  penyebaran  dan
aktivitjas  manusia dengan lingkungan  alamnya'

c. Pendekatan  kewilaYahan
Kombinasi  antara analisa keruangm dan analisa kelingkungan disebut  sebagl
analisa kewilayahan atau analisa kompleks wilayah' Pada analisa  ini wilayah tertentu
didekati atau dihampiri dengan konsep "afeil difiterentiation", yaitu suatu  anggapan
bahwa interaksi antar wilayah akan berkembang  karena pada hakekafirya  terdapat
perbedaan trLtamsatu wilayah dengan wilayah lainnya.Pada  pendekatan  ini diperhatikan
pnla penyebaran fenomena tertentu(analisa  keruangan)  dan interaksi antara manusia
dengan  lingkungannya,  ungrk kemudian dipelajari kaitannya sebagai analisa
kelingkungan. Dalam hubungannya dengan analisa wilayah, ramalan wilayah  dan
perancangan wilayah merupakan aspek-aspek  yang penting' Secara  rxnum wilayah dapatdiartikan  sebagai  sebagian permukaan  bumi yang dapat dibedakan dalam  hal-hal tertentu
dari daerah sekitarnya dan mempunyai  ciri yang spesifik misalnya: fenomena politik'kebudayaan  sosial, iklim, vegetasi, fauna relief  dan sebagainya

Geografi sebagai ilmu pengetahuan yang pernah disebut sebagai induk ilmu pengetahuan (mother of sciences) mengalami pasang-surut peranannya untuk memberikan sumbangan pemikiran dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan. Apabila geografi tetap ingin berperan dalam memberikan sumbangan pemikiran dalam kebijakan pembangunan, geografi harus mempunyai konsep inti, metodologi dan aplikasi yang mantap. Makalah ini bertujuan untuk menelusuri konsep inti geografi yang sesuai untuk dikembangkan di Indonesia untuk mendasari kompentensinya, khususnya dalam bidang geografi fisik. Pemisahan geografi fisik dan geografi manusia yang tinggi kurang mencirikan jati diri geografi, dan jika kecenderungan pemisahan tersebut semakin berlanjut jati diri geografi akan pudar dan akan larut dalam disiplin ilmu lainnya, dan bahkan kita akan kehilangan sebagian dari kompetensi keilmuan geografi. Geografi terpadu atau geografi yang satu (unifying geography) menjadi satu pilihan sebagai dasar pembelajaran geografi yang sesuai untuk Indonesia, yang diikuti dengan pendalaman keilmuan pada masing-masing obyek material kajian geografi tanpa melupakan obyek formalnya. Komponen inti dari geografi terpadu adalah ruang, tempat/lokasi, lingkungan dan peta, yang berdimensi waktu, proses, keterbukaan dan skala. Komponen inti geografi terpadu tersebut dijadikan dasar untuk menentukan kompetensi geografi. Kompetensi geografi fisik, yang obyek materialnya fenomena lingkungan fisik (abiotik) pada lapisan hidup manusia, sangat luas antara lain: penataan ruang, pengeolaan sumberdaya alam, konservasi sumberdaya alam, penilaian degradasi lingkungan, pengelolaan daaerah aliran sungai, penilaian tingkat bahaya dan bencana, penilaian risiko bencana. Kompetensi geografi fisik tersebut selalu dikaitkan dengan kepentingan umat manusia, dengan konsep bahwa lingkungan fisikal sebagai lingkungan hidup manusia

FILSAFAT GEOGRAFI

Pemahaman terhadap suatu konsep sangat penting dalam komunitas ilmuwan. Ketidaksamaan persepsi terhadap suatu istilah mengakibatkan kerancuan bahkan kebingungan dalam mencerna peristilahan yang sedang didiskusikan atau dibaca di antara mereka yang sedang ‘berdialog’ baik secara langsung, bertatap muka, maupun tidak langsung lewat artikel atau buku yang dibacanya.
Kenyataan menunjukkan bahwa ketidaksamaan persepsi dan tumpuan filsafati masing-masing tidak hanya berseberangan tetapi memang pada dasarnya bertentangan satu dengan yang lain. Namun hal itu tidaklah perlu terlalu dirisaukan, karena perbedaan dan pertentangan tersebut justru dapat melajukan dinamika sains.
Konsep mengenai filsafat, sains, teori, paradigma, metodologi (pendekatan, metode, teknik) dalam penelitian banyak terjadi perbedaan persepsi antara penulis yang satu dengan yang lain. Tentu saja hal itu akan mempunyai dampak pada pembaca apabila penulis tidak menjelaskan esensi dari konsep yang dimaksudkan.
Sains filsafat yang dapat dipandang sebagai payung atau induk dari semua sains yang ada sekarang ini, dalam rumusan tentang pemaknaan filsafat tidak hanya berbeda-beda juga bertentangan. Tiga orang yang dianggap sebagai filosof pertama, yakni Thales, Anaximandros, dan Anaximandes berbeda pandangan mengenai asas atau prinsip apa yang tetap atau tidak berubah dalam alam. Yang satu mengatakan air, lainnya api, sedang yang lain mengatakan tidak terbatas. Disiplin sains yang berkembang semenjak sains filsafat diakui keberadaannya serta kegunaannya, masing-masing mempunyai persoalan sendiri-sendiri; teristimewa mengenai aspek teori dan paradigma serta metodologinya. Belum lagi kemungkinan adanya overlapping dengan disiplin sains lain. Sains geografi sejak sekitar dua abad yang lalu hingga memasuki abad XXI tetap diwarnai debat mengenai prinsip-prinsip yang wajib dianut dalam sains geografi (Baca Noel Castree et.al./ed.2005. Questioning Geography: Fundamental Debates). Hal ini disebabkan dinamika sains sebagai konsekuensi perubahan dan perbedaan landasan filsafati, paradigma, wawasan, serta subjektivitas masing-masing.
Bagi sains geografi sendiri, persoalannya lebih pelik lagi. Utamanya objek materialnya yang merambah hampir semua ranah disiplin sains yang ada. Hal ini berimplikasiadanya semacam rivalitas dengan disiplin sains yang ada. Oleh karena itu, seyogyanya ilmuwan geografi memahami betul filsafat sains geografi untuk kemudian mampu menjelaskan kepada disiplin sains yang lain, bahwa overlapping itu bukan dilatarbelakangi conflict of interest melainkan justru perlu diarahkan untuk merangsang dan menumbuh kembangkan kerjasama dalam upaya mencapai kesejahteraan yang lebih baik bagi bangsa bahkan seluruh umat manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar