31 Mei 2011

CERITA YOUNG ENTREPRENEUR


Menjelang tahun baru 2008, otak saya ‘melar’ cukup dahsyat. Banyak ide-ide pengembangan usaha dan Young Entrepreneur Academy yang terpaksa belum bisa terealisasi karena terlalu banyak liburan. Mungkin itulah salah satu musuh pengusaha, yes, liburan. Jangan salah artikan bahwa saya gila kerja, namun sebaliknya, saya ini suka bermain-main dengan hobi saya, yaitu menjadi pengusaha dan mengajar. Saat bingung mau ngapain saat liburan, ehh di koran nongol iklan jalan-jalan akhir tahun ke Kuala Lumpur (KL), Genting Highland dan Malaka. Daripada bengong di rumah, saya ajak aja istri untuk bulan madu (entah keberapa). “Yuk!”, dia menyaut.
Perjalanan itu sungguh membuat saya takjub, bagaimana pariwisata menjadi pemasok devisa yang besar bagi negara kecil tersebut. Jangan bandingkan dengan Indonesia tentang kekayaan wisatanya. Negeri kita…., jaauuuh lebih kaya dan cantik dari mereka. Hanya saja, kita tertidur, sedangkan mereka sudah terbang. Yang mereka sebut-sebut sebagai ‘Caves’, tak lebih cantik dibanding Ngarai Sianok di Bukit Tinggi. Pemandangan sekitar Genting Highland, tak lebih apik dibanding Puncak – Bogor. Tapi mengapa setiap sudut dari Genting bisa menghasilkan uang. Mungkin anda akan menjawab karena adanya casino disana. Menurut saya bukan. Buktinya, mayoritas dari pelancong, justru tidak pernah menginjakkan kaki ke ruang casino, termasuk saya. Namun wisata belanja dan permainannya yang mirip miniatur Dufan – Ancol, cukup membuat kaki kita pegel menapakinya.

Toko Turis
Rombongan kita sempat singgah di Duty Free Shop, yang terletak di kawasan pergudangan di daerah KL, yang jauh dari keramaian. Tempat itu benar-benar tidak seperti showroom jam dan cendera mata untuk turis. Harganyapun jauh lebih mahal dibanding dengan Batam. Tapi kenapa ramai dan laris? Turislah pembelinya. Sempat juga kita terhenti ke pusat penjualan coklat, ya, permen coklat, yang harganya terbilang mahal, tapi laku keras juga bak kacang goreng. Pernah saya lontarkan ide tentang membuka toko turis ini di kelas pengusaha di Bali, seperti halnya ‘toko Erlangga’, ehh kebanyakan mengatakan,”Turis sekarang pinter-pinter Pak, mereka tahu beli dimana yang murah”. Inilah yang disebut ‘BANYAK TAHU, BANYAK TAKUT’. Mereka berfikir para turis tahu tempat yang murah, seperti halnya mereka. Padahal, prosentasi yang tidak tahu dan ‘pasrah’ terhadap tour guide lebih banyak. Dan perlu diingat, banyak dari para pelancong yang tidak price sensitive, alias “bayar aja deh…!”
Masih nggak percaya kalo tempat terpencil tindak menjadi masalah? Coba datangi tempat-tempat berikut ini, Molen Kartikasari – Bandung, yang tempatnya di gang sempit seukuran satu mobil; Brownis Amanda – Bandung; Bolu Meranti – Medan; Moaci Gemini – Semarang; Pedesan Pepaya Teluk Betung – Lampung; dan masih banyak lainnya. Mungkin Anda berfikir bahwa mereka sudah lama berdiri, namun sebenarnya itu semua bisa diciptakan secara instan dengan pola kerjasama bersama tour & travel. Ingat, mayoritas pendatang di suatu kota, baik untuk urusan wisata atau bisnis, mereka akan menanyakan,”Apa oleh-oleh khas sini?”. Jangan takut, masih banyak yang tidak tahu!

Beberapa tahun yang lalu, Indonesia memilki idola dari segala idola. Hampir semua golongan dan bahkan lintas agama mengagungkannya. Pamornya melebihi presiden ataupun bintang film paling terkenal sekalipun. Kharismanya saat berbicara membuat para jendralpun ‘segan’ saat berdampingan dengannya. Siapa lagi jika bukan KH Abdullah Gymnastiar, atau lebih beken dengan sebutan Aa Gym. Saya pernah diminta menjadi MC dadakan, pada acara ‘wejangan’ untuk para pengusaha di bawah bendera HIPMI Batam. Tak seperti biasanya yang lancar berbicara di depan umum, kali itu keluar keringat dingin saya. Spontan saya berucap,”Ntah kenapa saya merasa seperti seekor monyet yang penuh dosa dihadapan Aa (panggilan Aa Gym) yang begitu mulia. Seolah mata Aa menelanjangi aib-aib saya.” Aa-pun tersenyum dan hanya mengucap,”Masa’ sih?!”
Tak berapa lama kemudian, ada sebuah berita tentang ‘penambahan’ statusnya sebagai seorang suami. Meski beliau tidak melakukan suatu ‘kesalahan’ secara hukum agamanya, namun beliau melakukan sesuatu yang tidak ‘disukai’ oleh kebanyakan orang, apalagi kaum hawa. Tak lama berselang, mayoritas umatnya mulai meninggalkannya. Anehnya, meski kata-kata dalam dakwahnya sama dan baik, namun mayoritas orang tidak lagi mempedulikannya? Mengapa? Karena mereka kecewa. Sosok Aa Gym dianggap telah ‘menodai’ keagungan seorang figur masyarakat. Darimana datangnya kekecewaan itu?
Sebelum Aa Gym berpoligami, beliau memiliki ‘harapan peran’ sebagai seorang yang dianggap ‘suci’ oleh masyarakat. Namun masyarakat tidak sadar bahwa Aa Gym bukanlah malaikat. Mereka tidak mencari tahu apa sesungguhnya alasan Aa berbuat seperti itu? Tapi mereka telanjur menghakimi berdasarkan prasangka mereka. Apalagi mendapat dukungan kaum oportunis, juga media masa yang memancing di air keruh.
Sudah menjadi sifat dasar manusia memandang seorang publik figur seolah malaikat. Mereka menilai orangnya, bukan hikmah yang diajarkannya. Bagaimana dengan orang tua atau anak Anda? Apakah Anda masih menghargai dan menerima mereka, meski ‘menurut kita’, mereka berbuat nista? Mengapa tidak kita anggap seolah saudara kita? Ingat, benar menurut siapa, salah menurut siapa?

“Terimalah aku satu paket, bukan hanya sisi baiknya, namun sisi kurangnya juga. Aku hanyalah manusia, bukan makhluk tanpa dosa. Aku belajar dengan waktu bahwa manusia berubah dengan waktu dan kejadian-kejadian. Aku belajar dengan pengalaman, ternyata banyak prasangkaku yang keliru. Aku belajar dengan waktu, untuk memahami, bukan menghakimi.”


GOAL

Semua orang ingin sukses, tapi tak semua orang layak sukses. Jalan sukses itu berliku, terjal, naik, berbelok-belok, memutar, tapi jalan itu ada! Jalan itu terbuka untuk semua orang, termasuk Anda, tapi tak semua orang akan sampai ke finish. Banyak godaan untuk berhenti, baik faktor langit ataupun bumi dikambing hitamkan. Jarang ada orang yang ‘mengepel’ (baca:introspeksi) saat terpeleset. Banyak juga yang mengulangi kesalahan yang sama dengan dalih ‘konsistensi’.

You can not live with yesterday standard and expect extra ordinary income today!

Dibutuhkan extra kreativitas, pertambahan knowledge untuk menghadapi perubahan dan persaingan. Jika tahun lalu anda membuka toko dan laris, tahun ini pasti banyak toko serupa di sekitar Anda. Hargapun akan banting-bantingan. Itu sudah hukum alam, jangan salahkan kompetitor. Salahkan diri Anda yang tak mau berubah.

Dimana Anda tahun lalu? Kemajuan apa yang Anda capai? Mungkin tahun lalu Anda belum mulai usaha, tapi sekarang Anda sudah menjadi pengusaha. Bisa jadi usaha Anda maju pesat dalam setahun, tapi bisa jadi Anda bangkrut sekarang ini. Bukan hanya hasilnya yang patut dipuji, tapi spirit Anda untuk tetap bergerak, bangkit dari kegagalan yang patut diacungi double jempol! Itulah Entrepreneur Sejati! Hidup tak selamanya adil. Mungkin Anda sekarang barusan tertipu, difitnah, jangan kurangi spirit Anda. Meskipun Anda sedang dibawah, yang penting Anda terus bergerak.

Sekarang waktunya my friend, untuk EVALUASI. Menghitung pencapaian dan kerugian. Re-strategy untuk kemajuan. Menengok kebelakang, mengecek perbekalan, menetapkan tujuan di tahun yang baru. Jangan katakan Anda tak punya waktu untuk mengasah gergaji Anda, karena itu bukan pilihan, tapi keharusan.
Cukup 30menit+10menit! Cari tempat yang tenang, jika perlu pergi ke resort. No hp, No children, No voice, Just between You and God! Sediakan selembar kertas putih dan pena.

10 menit pertama
Rileks dan ingat-ingat kembali, apa target-target Anda tahun ini? Mana yang tercapai, mana yang tidak. Kenapa tidak tercapai? Bagaimana cara memperbaikinya? Jika tahun ini tidak ada target, sesalilah kondisi Anda saat ini yang tidak banyak perubahan. Menangislah jika perlu, seolah-olah hari ini adalah hari terakhir Anda didunia. Seolah-olah malaikat sedang meng-audit hasil kerja Anda tahun ini. Berjanjilah untuk tidak mensia-siakan waktu.

10 menit kedua
Buat target baru tahun depan. Berapa target penghasilan Anda perbulan? Prestasi apa yang akan Anda capai! Tentukan tanggalnya! Apa komitmen sosial Anda? Berapa target zakat yang akan Anda bayar tahun depan? Berapa banyak anak yatim yang akan Anda santuni? Perbaikan hidup seperti apa yang Anda targetkan untuk keluarga Anda? Targetkan berdasarkan kebutuhan bukan keinginan. Visualisasikan dalam bentuk gambar. Tulis tanggal pencapaian Anda. Jangan membuat target sesuai dengan kemampuan anda sekarang, tapi sedikit lebih dari apa yang anda pikirkan. Sesungguhnya kemampuan kita melebihi apa yang kita pikirkan.

“Only those who can see the invisibles, they can do the impossibles”

10 menit ketiga
Bagaimana cara mencapai target-target Anda diatas? Gajahpun bisa dimakan kalau dipotong-potong, dibuat dendeng, abon dan di sup dagingnya. Potong-potong target tahunan Anda menjadi target 6 bulan, 3 bulan, bulanan, mingguan dan harian. Pikirkan strategi untuk mencapai target-target Anda, kemudian tuliskan. Jangan lupa ACTION, bukan hanya rencana saja!!!

+10 menit
“Mohon AmpunanMu ya Tuhan atas waktu yang terbuang percuma, bahkan ternoda oleh banyak dosa. Semoga Engkau masih memberikan hamba nafas untuk mejadi lebih baik dan mensyukuri segala rahmatMu”. Jangan puas terhadap apa yang kita capai, tapi syukuri apa yang telah kita dapatkan. Kita telah diberikan waktu puluhan tahun untuk bernafas. Apa balasan kita kepadaNya? Bahkan selalu kita meminta karena kekurangan. Pernahkah kita bersyukur anak kita terlahir utuh. Pernahkah kita bersyukur terhadap segala nikmat yang tak terhitung? Yang terakhir, barulah kita memohon kemudahan atas upaya kita. Bukan menjadi pengusaha yang kita cari, tapi nilai-nilai entrepreneurshipnya. Sukses bukanlah masalah pencapaian saja, tapi bertumbuh ke potensi maksimal yang diberikan Sang Pencipta kepada kita.

HIDUP INI SINGKAT!

Jika hari ini adalah hari terakhir Anda di dunia, BAGAIMANA Anda ingin dikenang?
Jika hari ini adalah hari terakhir Anda di dunia, APA kata-kata terakhir yang ingin Anda dengar, dari orang-orang yang mencintai Anda?
Jika hari ini adalah hari terakhir Anda di dunia, APAKAH Anda sudah memberikan yang TERBAIK?
Jika Hari ini adalah hari terakhir Anda di dunia, APA yang Anda tinggalkan?
Apakah Anda layak sukses?
Apakah Anda sudah berusaha yang terbaik?
Apakah Anda membuat orang lain bangga ?
Apakah Anda meninggal seperti seorang PEJUANG? …atau PECUNDANG?
Berapa jam sehari Anda mengabdikan waktu Anda untuk bertumbuh?
Berapa jam sehari waktu terbuang percuma?
Semoga masih ada hari esok!
Hidup itu pilihan! Mana yang Anda pilih?
Hidup itu singkat, jadi ……


Sudah baca belum, tulisan terdahulu saya “Hukum Semut”? Kalau belum baca, scroll down dulu. Memang awalnya bermula dari gula yang ditebar, setelah itu semut berdatangan. Tapi bukan berarti lantas kita berdiam dan menunggu hasil, karena semua itu bukanlah permanen. Saat tempat lain menawarkan gula yang lebih manis, tentu saja semut-semut yang tadinya nongkrong di tempat kita, berpindah kelain hati. Fenomena ini sering terjadi di bisnis mall. Mereka berfikir dengan adanya tenant anchor (gula) seperti Carefour, Hypermart, cukup untuk membuat para semut betah di sana, eiiits nanti dulu. Selama tidak ada pesaing lain di sekitar yang menawarkan sesuatu yang lebih manis, oke-oke saja. Sudah jadi hukum alam, jika ada yang ‘berkilau’, maka kompetitorpun akan segera hadir di sekitar. Mulailah perang gula terjadi. Akibatnya, semut-semut yang tadinya jadi pelanggan kita, mulai mencoba yang baru, bahkan seringkali tak mau kembali lagi.

Apa yang membuat permanen?
Ternyata bukan gula yang membuat permanen, tapi sarang semutnya. Selain tingkat ‘kemanisan’, jarak juga menjadi pertimbangan si semut untuk mendatanginya. Jika ada gula-gula yang sejajar di dekat sarang mereka, tentu saja mereka memilih yang terdekat. Jadi hal yang terbaik adalah mendekatkan tempat bisnis kita di sarang semut tersebut. Trus apa yang termasuk kategori sarang semut? Pabrik, sekolah, rumah sakit, perkantoran, perumahan. Jarang sekali ditemui, gara-gara ada pabrik baru didirikan, membuat para karyawannya berbondong-bondong pindah kerja ke pabrik yang baru kan? Begitu juga para siswa yang bersekolah, asalkan tidak benar-benar jauh sekali jarak sekolah dengan rumahnya dan tidak ada kekecewaan yang mendalam, jarang sekali siswa pindah sekolah dengan alasan iseng saja.

Hal inilah yang harus dijadikan acuan memilih tempat usaha kita, agar tak perlu kerja keras menarik semut nun jauh disana, untuk sekedar mengunjungi toko kita. Percuma memilih tempat yang murah jika tak ada semut yang lewat. Serupa halnya dengan membuka warung bakso di kuburan, yang beli kuntilanak, hiiii. Ada seorang peserta Entrepreneur Camp bertanya,”Saya punya usaha konter crepes, tapi sepi pengunjung, dikarenakan mall yang saya tempati sepi juga. Apa yang harus saya lakukan?”. Saya berkata,”Saya akan menjawab, asal tidak ada kata ‘tapi’ setelah itu! Setuju?”. Dia jawab,”Setuju”. Dan sayapun berkata,”Pindaaaaah!”. Lebih baik bayar lebih mahal, daripada menanggung kerugian operasional gara-gara tidak ada pendapatan. Pastikan saat memilih tempat usaha, banyak semut yang lewat.

Sarang semut juga bisa diciptakan dari menebar gula, hingga si semut merasa nyaman dan menarik kawan-kawannya untuk menjadikan tempat itu sebagai markas barunya. Contohnya adalah fitness centre ternama. Karena member mereka yang cukup banyak dan loyal, fitness centre tersebut bisa jadi sarang semut. Jika Anda akan membuka usaha di mall, pastikan di dalam mall tersebut ada sarang semutnya, jadi tak perlu takut sepi. Tanpa menarik semut dari luarpun, sudah cukup ramai mall tersebut.

Fasilitas untuk sarang semut
Bagi Anda yang memiliki kategori bisnis sebagai sarang semut, misalnya sekolah, kursus ternama, fitness centre, klinik (dengan dokter yang ternama), bisa bernegosiasi mendapatkan keringanan biaya sewa, bahkan gratis! Kenapa? Karena keberadaan bisnis Anda akan mendatangkan semut yang membuat wilayah tersebut laku, karena ramai. Jadi tinggal pilih, dekat dengan sarang semut atau menjadi sarang semut, monggo….
Akhir-akhir ini saya sering sekali nongkrong di Twitland. Selain bisa berbagi ke lebih banyak orang, juga lebih efektif karena one to many, bahkan many to many. Bagi saya, setiap problem dari mereka, merupakan latihan bagi otot otak saya. Kali ini ada sebuah soal dari beberapa tweeps yang pernah menjadi contoh kasus alumni Entrepreneur Camp (ECamp) kami, sebut saja Juli. Beginilah percakapan kami…
Juli : Mas J, aku punya usaha jualan busana muslim. Apakah aku harus menggunakan nama tokoku di papan nama depan ataukah menggunakan merek salah satu produk orang lain yang terkenal?
MJ : Hah, apa alasanmu pakai merek orang lain di papan nama tokomu?
Juli : Karena pelanggan tuh tahunya aku jual jilbab ABC (sebut aja seperti itu). Merek itulah yang lebih dikenal dibanding nama tokoku.
MJ : Oww, gitu tho kasusnya…. Emangnya kamu sudah jadi distributor resminya dia juga?
Juli : Gak juga sih, cuma agen aja. Ada beberapa agen lainnya selain aku. Belum ada distributornya disini.
MJ : Selain dari produk merek ABC, adakah produk-produk lain yang kamu jual?
Juli : Banyak mas, tapi tak selaris produknya dia.
MJ : Apa kamu ada rencana atau visi, suatu saat akan menerbitkan merek sendiri untuk busana muslimmu?
Juli : Pasti donk mas, siapa sih yang gak pengin, tapi kan merekku belum terkenal. Trus gimana nih mas?
MJ : Oke aku paham kondisinya. Jadi intinya kamu menanyakan, apakah sebaiknya pakai nama ABC sebagai nama tokomu ataukah merekmu sendiri, betul?
Juli : Bener mas…
MJ : Begini Jul…, ada beberapa poin yang perlu diperhatikan sebelum kita mengambil keputusan. Pertama, karena statusmu bukan sebagai exclusive distributor yang mendapat proteksi dari produsen, maka sangatlah beresiko. Apa jadinya setelah kamu berjuang mempopulerkan produk-produk mereka, kemudian suatu saat nanti mereka mendepakmu atau membuka Toko ABC yang jauh lebih besar di kotamu?
Kedua, bukankah kamu punya impian membangun merekmu sendiri, bukan sekedar menjadi reseller merek lain? Kenapa tidak kamu besarkan merekmu saja?
Juli : Bener juga ya mas, aku gak kepikiran poin yang pertama. Tapi untuk poin yang kedua, kan perlu waktu dan biaya ekstra untuk mempopulerkan sebuah sebuah merek, mas?
MJ : Betul! Nah, inilah seni memadukan keduanya… Gunakan produk dari merek-merek terkenal sebagai ‘gula’ (baca artikel Hukum Semut) untuk menarik para semut datang. Karena bagaimanapun, lebih gampang menjual merek yang terkenal. Jika sudah banyak pesaing lain yang menjual merek-merek tersebut, berikan diskon lebih. Jangan berfikir mengambil untung dari produk tersebut. Ingat, yang penting semutnya datang dulu dan betah di tokomu (sering kembali). Bukan hanya itu, ciptakan kondisi getok tular hingga para semut akan saling memberitahu,”Mau jilbab ABC, ke toko XYZ (nama tokomu) saja, miring harganya!”. Nah, saat para semut menjadi pelangganmu, tawarkan ‘roti’, ‘susu’ dan ‘coklat’, yang berlabelkan merekmu sendiri. Jelas?
Juli : Tapi mas….

Pemirsa, eh pembaca…. Apa kelanjutan dari kisah tersebut? Juli tetap menggunakan merek ABC sebagai nama tokonya. Sampai-sampai kita menyapanya dengan ‘Juli ABC’. Dia aktif mengkampanyekan merek tersebut, meski belum menjadi distributornya. Malangnya, beberapa tahun kemudian, setelah pasar teredukasi dan mencukupi kuota, ABC membangun Toko di kota Juli dan melarang Juli menggunakan ABC sebagai nama tokonya. Disitulah Juli mulai terpukul dan mengganti nama tokonya dengan Toko XYZ. Malangnya, pelanggan berfikir Toko ABC sudah pindah tempat dan tak mau menjajal produk di Toko XYZ Akhirnya Juli banting setir membuka bisnis lainnya yang beda total dengan sebelumnya.
Belajar dari kisah Juli, memang tidak ada yang sia-sia atas apa yang terjadi. Tapi alangkah baiknya kita belajar dari pengalaman orang lain, untuk menghindari ‘lubang’ yang serupa. Boleh kita numpang beken dengan merek orang lain, tapi besarkanlah jalur distribusinya, bina pelanggannya dan besarkan besarkan merek kita, bukan sekedar bangga dengan kebesaran merek orang lain. Perlu diperhatikan juga bahwa semut yang kita pancing dengan gula, haruslah sesuai dengan target pasar ‘roti’, ‘susu’ dan ‘coklat’ yang kita jual. Jika tidak, maka para semutpun tak berselera dengan produk-produk kita. Paham? Jika tidak, twit saya di @jayayea

SUMBER:JAYA SETIABUDI - Founder & Director Young Entrepreneur Academy (YEA)

Sukses dalam hidup tidak ditentukan oleh kartu baik, tapi dengan cara memainkan kartu buruk dengan baik – Joshua Doll

Anda bisa sukses sekalipun tak ada orang yang percaya Anda bisa. Tapi Anda tak pernah akan sukses jika tidak percaya pada diri sendiri – William JH B

Ingatlah, bahwa kehidupan bukanlah apa yang terjadi pada kita, tetapi apa yang kita lakukan untuk menyikapi apa yang terjadi tersebut – anonymous

Fokuslah pada solusi, bukan pada masalahnya. Jng berkutat dng pikiran negative. Jng bergantung pd pendapat orang lain – Donald Trump

Kita tidak akan bisa memenuhi potensi kita yang sebenarnya, bila kita memilih diam dan tetap tinggal di dalam ZONA NYAMAN kita – Oprah Winfrey

Pemimpin mencapai suksesnya melalui pelayanan kepada orang lain, bukan dengan mengorbankan orang lain – H. Jackson Brown

Kegagalan hanyalah kesempatan untuk memulai lagi dengan lebih cerdas – Hanry Ford

Saya tidak tahu kunci kesuksesan, tetapi kunci kegagalan adalah berusaha menyenangkan semua orang – Bill Cosby

Saya tidak perlu menjadi seorang penemu cukup menjadi peniru yang baik saja – Max Cooper

Kesempatan anda untuk sukses di setiap kondisi selalu dapat diukur oleh seberapa besar kepercayaan anda pada diri sendiri – Robert Collier

Orang yang berhasil akan mengambil hikmat dari kesalahan2 yang dibuatnya dan mencoba lagi dengan cara yang berbeda – Dale Carnegie

Keberhasilan dalam bisnis sama dengan seperti mengendarai sepeda. Kalau kita tidak terus maju, kita akan jatuh – anonymous

Untuk memecahkan masalah besar, Anda harus berani melakukan tindakan yang tidak popular – Lee Lacocca

Hal terbaik yang bisa Anda lakukan untuk orang lain bukanlah membagikan kekayaan Anda, tetapi membantu ia untuk memiliki kekayaannya sendiri – Benjamin Disraeli


Keberanian sesungguhnya adalah Berani mengakui kekurangan, kesalahan, kekalahan...

Kebahagiaan bagaikan sebuah tanaman; harus disirami setiap hari dengan sikap dan tindakan memberi – J.Donald Walters

Salah satu alasan orang dewasa berhenti belajar adlh karena mereka semakin tidak bersedia menghadapi resiko GAGAL – John W.G

Memaafkan tidak mengubah MASA LALU, tapi melapangkan MASA DEPAN – Paul Boese

seperti ap yg diutarakan Hal Lindsey, 'Manusia dapat hidup 40hari tanpa makan, sekitar 3hari tanpa air, sekitar 8hari tanpa udara, tapi hanya 1DETIK jika TANPA HARAPAN' maka dari itu bulatkan tekad, tentukan tujuan, dan gapai harapan.


Orang sukses selalu meninggalkan jejak. Jejak yang bisa dilihat dan digambar ulang. Seperti menyusuri peta, mengikuti jejaknya akan membawa kita ke tempat tujuan yang kita inginkan. Jejak yang salah membawa anda kepada kegagalan, jejak yang tepat membawa anda kepada kesuksesan!


BBC: Indonesia dan AS, Surga Bagi Pebisnis
Indonesia, Amerika Serikat, Kanada, India dan Autralia adalah surga bagi para pebisnis pemula maupun yang sudah profesional. Sedangkan Kolombia, Mesir, Turki, Italia dan Rusia dinilai sebagai negara paling ramah

Jika Anda tidak menyukai suatu hal, ubahlah hal itu; jika Anda tidak dapat mengubahnya, ubahlah cara Anda memandang hal itu – anonymous

Nyawa manusia itu ada batasnya. Batasan itulah yang bias membuat seseorang berjuang dalam hidupnya – Hattori Heiji

Self Responsible
Bertanggung jawab terhadap diri sendiri merupakan syarat mutlak untuk menjadi seorang pengusaha.

Tidak gampang. Dimulai dari hal kecil, seperti misalnya bangun pagi.

Banyak orang merasa bahwa menjadi pengusaha itu sama dengan menjadi bos atau tukang perintah. Ini jelas salah kaprah!

Apalagi bila membayangkan bahwa memiliki usaha sendiri itu artinya tanggung jawab lebih ringan, atau usaha yang dilakukan lebih sedikit daripada menjadi karyawan.

Justru sebaliknya, menjadi pengusaha artinya usaha Anda harus 2x lipat lebih keras ketimbang Anda menjadi karyawan, karena Anda sendiri lah yang bertanggung jawab akan income Anda dan kelangsungan hidup perusahaan.

Being Creative
Apa sih rahasia para pengusaha? Kadang kita sering menemukan banyak pengusaha kawakan yang memulai usaha dengan modal dengkul, alias dengan modal Rp 0,-. Kok bisa?

Kreatif adalah kuncinya. Bukan menjadi faktor yang paling utama dan satu-satunya, tapi menjadi kreatif adalah keahlian yang harus diasah setiap harinya.

Mungkin semua orang sudah bosan mendengar kata "kreatif" karena ujung-ujungnya banyak juga yang terpentok usahanya karena masalah permodalan yang minim atau seret.

Kreatif ini justru harus diimbangi dengan kemampuan lainnya, misalnya finance, marketing dan juga dengan nilai2 lainnya.

Sama saja seperti anak sekolah, kreatifitas itu sangat penting dan seringkali modalnya hanya kertas dan crayon untuk menjadikan lukisan yang indah.

Jadi mulailah berlatih untuk menjadi kreatif dari hal kecil.

Antara Bos vs Pengusaha
Sering kita bertanya. Apa sih beda pengusaha dengan bos di suatu perusahaan? Selain status, tentu saja hal ini berbeda. Saya cuma ingin menyampaikan dalam tulisan singkat ini bahwa ada kualitas leadership yang berbeda antara menjadi bos bagi diri sendiri (dan usaha sendiri) dan bos karyawan.

Pertama, kendala yang sering muncul adalah bos karyawan seringkali tidak memiliki skill intrapreneurship. Yang ia cari sebagai pejuang karir tentu saja karir yang lebih tinggi. Hanya disitu saja.

Kedua, bos karyawan selalu berkutat dengan data dan masalah profit/loss. Mereka pikir, dengan memikirkan perusahaan secara strategic mereka sudah memiliki ilmu sebagai pengusaha kelas kakap. Ini sedikit keliru! Pengusaha yang notabene adalah pedagang memang memikirkan untung rugi, tapi yang mereka cari adalah peluang atau kesempatan.

Ketiga, politik bos karyawan dan pengusaha juga berbeda. Bos karyawan selalu mencari kesempatan untuk tampil beda dan menonjol, berusaha bersosialisasi. Network menjadi kata kunci. Menjadi pengusaha, yang menjadi pikiran politisnya adalah sinergy antara beberapa resource yang dia kelola berjalan atau tidak.

Semoga dari tiga hal parameter ini, Anda bisa melihat, apakah Anda lebih ingin jadi bos atau pengusaha.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar