27 Mei 2011

ENTREPRENEUR MUDA


Mien R Uno Foundation (MRUF) memberikan beasiswa kepada mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi yang bercita-cita menjadi pengusaha (entrepreneur).

Direktur Eksekutif MURF Nanang Suryanto menyatakan, program beasiswa ini bertujuan mendorong para mahasiswa berwirausaha.

"Mudah-mudahan melalui program ini akan lahir para pengusaha muda baru yang bisa sukses, bahkan sebelum lulus kuliah," kata Nanang dalam penyerahan beasiswa MRUF secara simbolis di di Senayan Golf Driving Range, Senin (2/4/2011).

Tahun ini, MRUF memberikan beasiswa kepada 35 mahasiswa dari tujuh kampus di Indonesia. Mereka adalah sepuluh mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), dua mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), empat mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS), tiga mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), delapan mahasiswa Universitas Andalas (Unand), empat mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad), dan empat mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Mereka akan mendapatkan beasiswa Rp400 ribu tiap bulan selama satu tahun.

Nanang menjelaskan, para penerima beasiswa sebelumnya mengikuti Entrepreneur Camp di Cipanas. Kegiatan ini melatih dan memompa semangat mahasiswa sekaligus menanamkan mindset wirausaha. "Mereka yang belum punya usaha juga akan segera membuka usaha," Nanang mengimbuhkan.

Program Beasiswa Wirausaha Mahasiswa MRUF ini memberikan pelatihan, konsultasi, mentoring, bantuan pemasaran, dan juga fasilitas pembiayaan kepada para mahasiswa. MRUF akan selalu memantau perkembangan para mahasiswa, serta memfasilitasi mereka untuk mengatasi kendala yang muncul.

Tahun sebelumnya, MRUF memberikan beasiswa serupa kepada 33 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Dari jumlah tersebut, 21 persen di antaranya memiliki usaha baru, 30 persen meningkat usahanya, dan sembilan persen masih memerlukan perhatian.

Saat ini pelaku techno entrepreneur dari kalangan mahasiswa terbilang masih minim. Melihat hal ini, Telkomsel pun siap menjemput bola dengan aktif datang ke kampus untuk menumbuhkan motivasi mereka.

Meski saat ini sudah banyak aplikasi dan konten karya anak bangsa, namun masih sedikit yang merupakan karya dari mahasiswa. Jumlah pelaku techno entrepreneur dari mahasiswa bahkan dikatakan masih di bawah 5 persen.

Hal ini diungkapkan oleh Sri Bimo Ariyanto Manager Service Management Telkomsel Jabar saat berbincang dengan detikINET, Selasa (10/5/2011).

"Masih sedikit. Tapi angka itu bisa dibilang cukup baik. Namun perlu ditingkatkan lagi," kata pria yang biasa dipanggil Bimo ini.

Dalam upayanya meningkatkan potensi mahasiswa tersebut, sambung Bimo, pihaknya aktif untuk merangkul mahasiswa. Telkomsel pun getol menggelar seminar dan workshop ke kampus-kampus. Hal ini dilakukan dalam upaya menjembatani dunia akademis dengan dunia kerja.

"Kita bekerjasama dengan kampus-kampus, khususnya yang berbasis TIK. Kita menjalin komunikasi dua arah yaitu melalui program student visit dan corporate visit. Kalau tidak kita yang ke kampus, ya mereka yang datang ke kita," katanya.

Kunjungan dari berbagai universitas ternama di Jabar dan bahkan dari pulau Jawa ke kantor Telkomsel sudah sering dilakukan. Beberapa kampus yang sudah terjalin kerjasamanya dengan Telkomsel antara lain Unpad, ITB, Unikom, Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB), Institut Teknologi Telkom (IT Telkom) dan beberapa kampus lainnya.

"Kami tidak ingin kunjungan tersebut hanya sekedar melihat-lihat kantor saja, tetapi kami membekali mereka sesuai dengan bidang ilmu yang mereka inginkan, tentu saja dikemas dengan bahasa yang sederhana dan praktis. Jadi setelah kunjungan ini, mereka membawa sesuatu yang dapat memacu semangat dalam berfikir untuk kemajuan masa depannya kelak sehingga bermanfaat untuk bangsa dan tanah air," terangnya.

Tak hanya itu, Telkomsel juga membuat program yang membangkitkan inovasi karya anak bangsa dan jiwa wirausahawan. Program yang dikemas dalam bentuk Mobile Technopreneurship ini diharapkan bisa meningkatkan motivasi bagi para mahasiswa untuk berkarya.

"Itu (mobile technopreneueship-red.) adalah sebuah program pengembangan konten dan aplikasi di kalangan mahasiswa. Melalui program Mobile Technopreneurship ini mewujudkan langkah nyata Telkomsel untuk memajukan industri kreatif nasional melalui lembaga pendidikan," pungkasnya.

Sekolah Tinggi Ekonomi Keuangan dan Perbankan Indonesia (STEKPI) School of Business and Management, di Kalibata, Jakarta Selatan, akan berganti nama menjadi Universitas Trilogi.

Dengan perubahan status itu, diharapkan akan melahirkan program studi baru untuk mencetak para entrepreneur, dengan berbasis teknopreneur yang inovatif, serta dapat menjadi salah satu universitas terkemuka di Indonesia pada 2020.

''Ada tiga ciri utama (trilogi) yang ada dalam universitas ini, yakni menghasilkan kewirausahaan, bersemangat kolaborasi, dan menampilkan kemandirian yang tinggi. Itulah yang disepakati semua pengurus Yayasan Pengembangan Pendidikan Indonesia Jakarta (YPPIJ) sehingga memberi nama Universitas Trilogi,'' ungkap Ketua STEKPI Budi Permadi Iskandar, di Kampus STEKPI, Jakarta.

Untuk itu, lanjut Budi, agar bisa mengembangkan semangat entrepreneur itu, program studi yang sudah ada yaitu Manajemen dan Akuntansi akan dikembangkan menjadi bagian dari program studi yang dikaitkan dengan program studi lainnya.

''Dengan cara ini, akan membentuk jejaring dengan program studi baru Bio-industri yang bergerak di bidang Agro ekoteknologi, Industri dan Teknologi Pangan serta Agribisnis. Dari sinilah kita mengharapkan para entrepreneur muda yang punya semangat kolaborasi dan jiwa mandiri yang tinggi,'' ujar Budi.

Ketua YPPIJ Subiakto Tjakrawerdaya menambahkan keputusan untuk mengubah STEKPI jadi Universitas Trilogi didasarkan pada semangat meningkatkan ketahanan pangan dan energi.

Hal ini harus dijalankan dengan membangun kemampuan pertanian dengan mendidik petani baru yang dapat meningkatkan nilai tambah lahan. Untuk perubahan status sendiri, telah diajukan pada Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendiknas menjadi Universitas Trilogi.

''Diharapkan tahun ajaran baru 2011-2012 sudah dapat menjaring mahasiswa dengan program studi baru,'' katanya, Minggu (15/5).

Untuk saat ini, kata Subiakto, yang sudah disiapkan yakni Fakultas Bio-industri. Guna mendukung Fakultas Bio-industri itu, akan dikembangkan pula Program Studi Telematika, Informatika, serta Sistem Komputer IT yang dibutuhkan untuk dunia modern. Namun begitu, Fakultas Bio-industri akan fokus pada industri buah-buahan dan energi terbarukan.

''Dalam hal ini Fakultas Bio-industri Universitas Trilogi akan bekerja sama dengan Taman Buah Mekarsari di Depok. Kolaborasi ini diharapkan akan menghasilkan petani modern dalam bidang Agro-ekoteknologi, ilmu dan teknologi pangan, agribisnis,'' ujar Subiakto.

Selain itu, pendirian Universitas Trilogi sendiri bekerja sama dengan ITB dan IPB, dan akan dikembangkan kerja sama dengan perguruan tinggi lainnya yakni, Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Selanjutnya, Unnes akan membuka program studi Fakultas Telematika yang akan menghasilkan berbagai peralatan pendukung bagi proses pertanian dan pascapanen.

''Kami harapkan perubahan status ini akan memberikan kotribusi yang lebih besar pada dunia pendidikan karena kami ingin menciptakan sarjana-sarjana yang bisa langsung mengolah hasil sumber daya alam yang ada, terutama
sektor agrobisnis,'' kata Rektor Unnes Sudijono Sastroatmojo di sela-sela penandatanganan MoU dengan Ketua Pengurus YPPIJ Subiakto Tjakrawerdaya.

Sudijono mengharapkan, dengan kerjasama itu, dalam empat tahun ke depan, Universitas Trilogi dapat menghasilkan sarjana yang mampu mengolah buah tropis dan produk herbal dari kampus.

''Kita ingin kekayaan sumber daya alam seperti tumbuhan herbal dan buah-buahan merajai bisnis di pasar dalam dan luar negeri, dan pengusahanya dari Universitas Trilogi,'' kata Sudijono,

Sedikitnya 35 penerima beasiswa wirausaha mengaku persoalan pola pikir (mindset) menjadi penghambat untuk memulai usaha. Karena itu beasiswa yang dilengkapi dengan pelatihan, konsultasi, mentoring dan bantuan pemasaran sangat bermanfaat bagi mereka.

"Kebanyakan beasiswa yang ditujukan pada mahasiswa umumnya mengutamakan nilai Indeks Prestasi (IP) tinggi, penerima dari golongan keluarga prasejarhtera dan persyaratan lainnya. Namun beasiswa wirausaha yang kami terima dari Mien R Uno Foundation (MRUF) tidak membebani kami dengan persyaratan akademik dan status keluarga seperti itu,” kata Dewi Uli, mahasiswa Universitas Andalas, salah satu penerima beasiswa, hari ini.

Usai lolos seleksi sebagai penerima beasiswa wirausaha MRUF, Dewi dan temannya langsung mendapat pelatihan entrepreneurship selama 3 hari di Cipanas, dilanjutkan dengan pembekalan karakter bagi calon entrepreneur oleh Mien R Uno, pakar kepribadian yang menjadi pendiri yayasan ini.

"Kami merasa beruntung menerima jenis beasiswa wirausaha ini karena bukan sekadar menerima fasilitas pembiayaan tapi juga pelatihan, konsultasi, mentoring dan bantuan pemasaran. Teman di kampus yang mendapat beasiswa dari pemerintah dan swasta mengatakan mereka umumnya hanya menerima dana," tambah Dewi yang tengah merintis bisnis online shop.

Penerima beasiswa wirausaha berasal dari IPB, ITB, ITS, UGM, Unand, Unpad dan UI yang menerima Rp400.000 per bulan selama setahun. MRUF bekerja sama dengan Kelompok Salemba Enam (KSE) yang membiayai program beasiswa dan mengutamakan calon entrepreneur yang kreatif dan inovatif bukan melihat nilai akademik tinggi semata.

Tasriandy, mahasiswa dari kampus yang sama mengatakan hal yang senada karena dia yang sudah memiliki usaha kripik ikan, kripik rebung dan kripik daun singkong langsung mendapat bimbingan untuk mengembangkan usahanya.

"Dari entrepreneur Camp yang difasilitasi Young Entrepreneur Academy selama tiga hari pada pekan lalu, saya langsung semangat pulang ke Padang akan menambah variasi produk keripik karena kalau berwirausaha kita harus kreatif dan inovatif. Satu hal yang sangat bermanfaat bagi saya adalah tidak takut gagal lagi,” katanya.

Mien R Uno, pendiri yayasan didampingi Indra Uno sebagai Ketua Yayasan MRUF mengatakan para penerima beasiswa umumnya sudah memiliki usaha atau pernah punya usaha namun gagal.

"Mereka ada yang bisnis kuliner, jualan kue risoles, kripik, bisnis event organizer dan lainnya. Di Hari Pendidikan Nasional kemarin kami membekali mereka pula dengan pendidikan karakter karena modal utama jadi pengusaha sebenarnya harus punya karakter yang bagus," katanya.

Tahun sebelumnya, kata Indra Uno, MRUF juga telah memberikan beasiswa wirausaha kepada 33 mahasiswa dari berbagai kampus. Dari program tahun lalu jumlah peserta yang memiliki usaha baru mencapai 21%. Sedangkan peserta yang mampu meningkatkan usahanya mencapai 30,9%.

Untuk peserta tahun lalu, pihaknya juga membantu pemasaran dengan mengikutsertakan peserta pada pameran-pameran, melakukan pemagangan di UKM yang sudah berjalan dengan baik atau bahkan mereka ditantang untuk menjadi pendamping usaha mikro dalam hal manajemen karena sebagai mahasiswa mereka memiliki bekal ilmu pengetahuan yang lebih baik dari masyarakat yang terjun menjadi pedagang kaki lima dan usaha rumahan lainnya.

"Program sebenarnya sudah berjalan tahun ke tiga, tetapi tahun pertama kami anggap masih uji coba. Dari 33 mahasiswa penerima beasiswa tahun 2010, muncul enam usaha baru sementara yang sudah mengikuti program melaporkan omzet penjualannya meningkat 30%. Hanya 1% yang tidak berani berwirausaha,” tambah Nanang Suryanto, Direktur Eksekutif MRUF.

Yayasan yang pendiriannya diprakarsai Razif H Uno ini memang focus pada pembinaan generasi muda terutama mahasiswa dan para wirausaha muda sektor mikro. Dibantu oleh Indra dan Sandy S Uno, tahun depan yayasan akan menyasar perguruan tinggi negri ataupun swasta dari kampus-kampus yang kurang beruntung dengan kucuran beasiswa terutama dari pemerintah.

“Kami akui PTN papan atas memang sudah banyak dibanjiri dengan beragam beasiswa dari Kemendiknas maupun CSR pihak swasta karena itu kami akan bantu kampus-kampus berkualitas namun kurang mendapat pendanaan. Tujuan kami berkontribusi untuk menciptakan masyarakat mandiri karena itu semua pihak harusnya bisa ikut mendukung langkah-langkah kami ini,” ujar Nanang.

Dirjen Dikti Kemendiknas perlu melakukan berbagai terobosan sehingga Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) di kampus-kampus benar-benar mencapai sasaran melahirkan wirausaha muda baru.
Sebagai bagian dari strategi pendidikan di Perguruan Tinggi, PMW dimaksudkan untuk memfasilitasi para mahasiswa yang mempunyai minat dan bakat kewirausahaan untuk memulai usaha berbasis ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang sedang dipelajarinya.

"Sejak program ini dijalankan tahun 2009, kami melihat hasilnya belum optimal,” kata Jaya Setiabudi, Direktur Young Entrepreneur Academy (YEA), hari ini.

PMW, kata Jaya, merupakan program yang sangat baik untuk menghasilkan sarjana pencipta lapangan kerja dengan mendorong mereka medirikan usaha secara individual maupun secara berkelompok dengan jumlah anggota maksimal 5 orang.

Jumlah modal kerja yang disediakan untuk pendirian usaha maksimal Rp8 juta per mahasiswa yang merupakan dana hibah dan pelaksanaan pendampingan pasca magang dilakukan baik oleh UKM pendamping maupun Perguruan Tinggi pelaksana selama kurang lebih 9 bulan.

Hasil akhir yang diharapkan adalah terbentuknya wirausaha baru yang berpendidikan tinggi, dan berkembangnya lembaga pengembangan pendidikan kewirausahaan. Namun upaya ini tidak sepenuhnya berhasil.

"Data tahun lalu yang kami kutip dari media bahkan sekitar 60% dari 62 kelompok penerima dana program mahasiswa wirausaha dari Direktorat Perguruan Tinggi (Dikti) di UGM gagal mengembangkan usaha setelah berjalan selama setahun,” ungkap Jaya.

Kondisi itu disebabkan sebagian besar mahasiswa yang mengajukan konsep wirausaha tidak cukup bersemangat saat implementasi. Kendala utama yang diungkapkan oleh pembimbing mereka adalah lemahnya mental berusaha, tambah Jaya Setiabudi.

Oleh karena itu, ujarnya, baik Dirjen Dikti maupun kampus-kampus penerima dana PMW agar tidak hanya focus pada penggelontoran dana tapi bagaimana menyiapkan mahasiswa dengan ilmu wirausaha yang kuat dengan memadukan konsep-konsep yang sudah dilaksanakan pihak swasta seperti Young Entrepreneur Academy (YEA).

“Gerakan Wirausaha Nasional sudah dicanangkan, perlu terobosan, sinergi dan keterpaduan antara pemerintah, swasta dan masyarakat seperti YEA. Siapa melakukan apa dan saling melengkapi akan mempercepat lahirnya wirausaha muda dari lingkungan kampus,” katanya.

Menurut Jaya, karena PMW kegiatannya mencakup pelatihan-pelatihan untuk motivasi mahasiswa berwirausaha, meningkatkan pemahaman manajemen (organisasi, produksi, keuangan dan pemasaran), membuat rencana bisnis atau studi kelayakan usaha sampai dengan pemberian modal kerja maka semua proses agar dikawal dengan baik terutama dalam hal membentuk mental berusaha.

“Mahasiswa harus dikuatkan dulu dalam hal mental berusaha, masalah mental ini harus punya mindset yang berbeda dan ini persoalan serius yang harus segera diatas justru oleh Dikti dan kampus-kampus penerima PMW. Kalau masalah mindset teratasi baru bisa digelontorkan dana,” tandasnya.

Pihaknya sejak 2006 sudah menerapkan konsep mencetak pengusaha dengan konsep praktek lapangan 70% sehingga dalam kurun waktu 6-8 bulan sudah menghasilkan wirausaha baru.

“YEA Indonesia menyiapkan konsep yang benar-benar melahirkan pengusaha sehingga mereka yang bergabung baru benar-benar dinyatakan lulus jika sudah memiliki usaha dengan omzet Rp 50 juta dan net profit per bulan Rp 5 juta/ bulan,” jelas Jaya

Meski tiap angkatan pelatihan jumlah pesertanya di bawah 20 orang, namun kegiatan yang dilakukan YEA Indonesia sejauh ini terus berjalan dan dalam setahun bisa dilakukan pelatihan untuk tiga angkatan.

Pihaknya optimistis kalau sinergi antara pemerintah terutama Dikti dan kampus-kampus, pengusaha dan masyarakat dilakukan untuk mendorong lahirnya wirausaha baru maka masalah mindset akan teratasi apalagi jika pengusaha di bidang media elektronik (TV swasta) mau mengurangi sinetron yang tidak bermutu dengan tayangan reality show yang mendorong mindset wirausaha

Himpunan Pengusaha Muda Indonesia DKI Jakarta akan bekerja sama dengan 10 perguruan tinggi negeri dan swasta di Ibukota untuk mengembangkan program wirausaha bagi para mahasiswa.
Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia DKI Jakarta (Hipmi Jaya) Andhika Anindyaguna mengatakan program pengembangan semangat wirausaha di lingkungan kampus diharapkan mampu melahirkan banyak pengusaha yang berkualitas.

“Dengan semangat entrepreneur, para mahasiswa akan lebih mandiri dan memiliki kemampuan untuk berusaha sesuai dengan bidang yang diminati dan tidak hanya terpaku untuk menjadi pegawai,” katanya di Jakarta hari ini.

Dia mengatakan Hipmi Jaya berharap jumlah perguruan tinggi dan mahasiwa yang berminat mengembangkan program wirausaha akan terus bertambah, sehingga dapat mengurangi jumlah pengangguran terpelajar di Jakarta.

Menurut Andhika pihaknya dalam upaya meningkatkan jumlah pengusaha di Ibukota telah membentuk dan mengoperasikan badan pengurus cabang (BPC) Hipmi Jaya pada lima wilayah kotamadya Jakarta.

Keberadaan BPC tersebut sangat penting bagi anggota Himpi Jaya untuk memahami peluang bisnis yang hendak digarap, karena masing-masing wilayah tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.

Selainitu, pemahaman terhadap karakteristik bidang usaha yang hendak digarap itu menjadi salah satu syarat yang harus dimiliki setiap pengusaha, terutama mereka yang akan memulai usaha.


10 Prinsip Bisnis Dengan Hati Nurani

Oleh: Eko Jalu Santoso (IYE! active member)

Anda ingin menjadi pengusaha sukses ? Sekarang ini banyak orang yang menginginkan menjadi pengusaha sukses. Kalau dulu menjadi pegawai negeri, menjadi pegawai kantoran dianggap golongan priyayi, sedangkan menjadi pedagang masih dianggap kaum kelas dua, sekarang ini situasinya sudah berubah.

Menjadi pedagang atau pengusaha bukan lagi dianggap sebagai kaum kelas dua, namun sudah menjadi tujuan utama banyak manusia sekarang ini. Maka dewasa ini buku-buku tentang entrepreurship, seminar kewirausahaan, training motivasi entrepeneurship semakin menjamur dan diminiati oleh banyak orang.

Meskipun demikian, perlu dipahami bahwa menjalankan usaha sebenarnya bukan sekedar mengejar profit atau keuntungan pribadi semata. Ada makna ibadah yang nilainya lebih tinggi dari sekedar mendapatkan keuntungan berupa uang belaka. Kalau orang menjalankan usaha hanya berorientasi pada keuntungan materi sebesar-besarnya sebagai tujuan utamanya, maka kalaupun usahanya berhasil, belum tentu menjadi berkah bagi dirinya. belum tentu menjadikan kebahagiaan sejati bagi dirinya.

Lalu bagaimana menjalankan bisnis yang dapat menjadi ibadah dan membawa berkah bagi kehidupan kita ?. Jalankanlah usaha atau bisnis berdasarkan hati nurani. Bagaimana prinsip menjalankan usaha berdasarkan hati nurani ? Berikut ini 10 prinsip bisnis yang perlu menjadi pertimbangan dalam mengembangkan usaha Anda :

1. Kawan adalah aset berharga.
Tidak ada usaha yang tidak berhubungan dengan orang lain. Dalam membina hubungan dengan orang lain, letakkanlah nilai persahabatan, nilai pertemanan yang jauh lebih berharga dibandingkan sekedar meraih keuntungan uang. Dengan menempatkan kawan sebagai aset berharga, maka kita akan menghargai komitmen dan kerjasama dengan siapapun.

2. Kepercayaan adalah modal jangka panjang.
Modal dalam usaha itu dapat dibadi kedalam modal tangible dan modal intangible. Uang, gedung, peralatan, mesin adalah contoh modal tangible. Namun ada modal yang intangible yang jauh lebih berharga untuk usaha jangka panjang kita yakni membina kepercayaan. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun sebuah kepercayaan dan hanya sekian detik saja untuk menghancurkannya. Maka berusahalah membina kepercayaan baik kepada siapapun.

3. Menjual dengan harga lebih tinggi dari pembelian, bukan harga tertinggi.
Maknanya adalah berbisnis bukan sekedar mengejar keuntungan dengan membeli serendah-rendahnya, kemudian menjual dengan harga tertinggi. Namun berbisnis dan berusaha adalah bagaimana dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi orang lain sebesar-besarnya, tanpa mengabaikan kelayakan usaha. Nilai kebahagiaan dan keberhasilan usahanya bukan pada berapa besarnya keuntungan materi, tetapi berapa banyak manfaat yang diberikan.

4. Mendengarkan kata hati.
Dalam melakukan tindakan, mengambil keputusan, belajarlah memisahkan antara pikiran yang dikuasai oleh emosi, ego pribadi, nafsu duniawi dengan pikiran yang dikendalikan hati. Gunakan ketajaman mata hati untuk dapat mengambil keputusan berdasarkan kata hati bukan berdasarkan emosi atau nafsu duniawi. Karena sesunggunya mendengarkan kata hati merupakan usaha mengenal sifat-sifat kemuliaan Allah yang sudah "built in" dalam hati kita.

5. Bekerja dengan hati.
Mereka yang bekerja dengan hati bukanlah orang yang bersikap baik kepada Anda, namun bersikap kasar terhadap bawahan, pekerja, atau pelayan. Sesungguhnya orang seperti ini bukanlah orang baik yang bekerja dengan hatinya. Karena mereka yang bekerja dengan hati akan selalu bersikap baik kepada siapapun.

6. Kekayaan bukan dinilai dari uang yang dimiliki.
Menjadi kaya bukan sekedar berhubungan dengan memiliki banyak uang. Namun kekayaan yang utama adalah seberapa besar uang yang kita dapatkan dapat digunakan untuk menolong orang lain, untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

7. Berorientasi pada manfaat sebesar-besarnya.
Berbisnis bukan sekedar berorientasi pada profit atau keuntungan materi sebesar-besarnya, tetapi memperoleh keuntungan untuk memberikan manfaat bagi orang lain sebanyak-banyaknya. Karena berbisnis adalah ibadah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa nantinya dan kepada sesama manusia lainnya.

8. Fokus pada apa yang diperoleh bukan yang hilang.
Jangan pikirkan kesempatan, peluang atau kegagalan yang sudah lewat atau sudah hilang dari kita. Kalau And akalah tender sebuah proyek, padahal hitung-hitungannya untungnya akan besar sekali, jangan dirisaukan lagi. Hal ini dapat membuat Anda stress, atau berlaku tidak bijaksana. Fokuslah memikirkan pada apa yang Anda peroleh saat ini. Biarkan kesempatan yang hilang berlalu dari Anda, karena akan ada kesempatan baru kalau kita dapat mensyukuri apa yang dimiliki saat ini.

9. Gagal hanyalah sebuah proses.
Gagal bukanlah akhir dari segalanya, tetapi bagian dari proses untuk menghasilkan rencana-rencana baru. Bagian dari proses menuju kesempatan-kesempatan baru, sepanjang kita mau memperbaiki rencana baru. Namun kalau anda gagal merencanakan sesuatu, berarti Anda telah berencana untuk gagal.

10. Akui Kesalahan Dengan rendah Hati.
Kesahalan-kesalahan dalam mengambil keputusan dalam menjalankan usaha bisa saja terjadi. Ketika Anda menyadari bahwa itu suatu kesalahan keputusan yang Anda ambil, dan merasa bahwa partner Anda atau karyawan Anda yang benar, maka akui dengan rendah hati. Segera lakukan evaluasi untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi.

Kewirausahaan Rene’, dari Warung Gerobak ke Jaringan Kafe
Oleh : Yuyun Manopol SWA

Intuisi bisnis seorang eksekutif kantoran tak selamanya payah. Rene’ membuktikan lewat jaringan Kafe Dixie yang sudah berkembang biak menjadi 6 gerai.

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, tapi Rene’ masih tampak serius berbincang-bincang dengan seorang rekan bisnisnya di Kafe Dixie yang berada di bilangan Kafe Tenda Semanggi (KTS). Sesekali ia mengajak rekan bisnisnya naik ke lantai dua di kafe itu untuk menunjukkan kondisi “warungnya” yang berkapasitas 250 meja. Pertemuan itu kabarnya dilakukan untuk membicarakan seputar pembukaan Kafe Dixie berikutnya di Soewarna Park, Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.

Sebagai pemilik 6 gerai Kafe Dixie, apa yang dilakukan Rene’ Suhardono Canoneo tentu hal biasa. Namun hal ini menjadi unik jika menilik latar belakang Rene’ yang terhitung masih eksekutif di AMROP Hever, perusahaan yang membidangi jasa head hunter. Lalu, bagaimana ia mengatur kesibukannya sebagai eksekutif dan mengurusi bisnis sendiri.

Rupanya Rene’ mengaku tidak mengalami kesulitan. Yang penting, menurutnya, bagaimana membagi waktu dan disiplin tinggi. Memang diakuinya, di awal memulai usaha ia harus bekerja ekstra keras. Rene’ mengungkapkan sebelum meluncurkan Kafe Dixie ia mengawali usaha ini dari sebuah warung gerobak di Jl. Mahakam, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada 1998. ”Waktu itu kami menyewa tempat di pekarangan Restoran Bakery Nila Chandra senilai Rp 500 ribu per bulan. Namanya, Sambel Tomat,” ujar pria kelahiran Jakarta 8 Juli 1972 itu. Modalnya Rp 15 juta, yang diperoleh dari perkongsiannya dengan 9 kawannya di mana setiap orang diminta menyetor Rp 1 juta. Sisanya yang Rp 5 juta merupakan pinjaman dari pamannya.


Warung yang buka pukul 17.30 hingga 24.00 itu menawarkan sejumlah makanan Western, seperti steak, kentang goreng dan nasi goreng. ”Saya menyebut menu terakhir itu dengan sebutan MPA, ’menu putus asa’,” ujar Rene' berseloroh. Ia mengungkapkan keunggulan menu-menu yang ia tawarkan karena salah satu rekan bisnisnya adalah koki di hotel bintang lima di Jakarta. Namanya, Ragil Imam Wibowo (33 tahun). ”Ia sahabat saya sejak kecil,” ujar putra tunggal dari pasangan Rini Warsono (49 tahun) dan Vicente Canoneo (71 tahun) asal Filipina. Dan, Ragillah yang banyak berperan dalam membuat menu.

Rene' bercerita, ia bersama 9 rekannya bergiliran menjalankan usaha itu sepulang dari kerja. Karyawannya pun hanya dua orang. ”Jadi praktis kami semua nyambi dan pasti lelah sekali,” ujar lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini. Masih cerita Rene', saat itu tiap bulan kinerja warungnya naik-turun. Kadang untung Rp 50 ribu, sesekali Rp 500 ribu, tapi tak jarang malah mengalami minus. Rasa lelah yang amat sangat dan keuntungan yang biasa-biasa saja membuat perkongsian ke-10 orang ini tak bertahan lama. Persis hanya satu tahun mereka ber-10 bersama, selanjutnya yang tersisa hanya tiga orang. Mereka adalah Rene’ yang mengurusi bagian manajemen, Ragil di bagian menu/dapur dan Rico Kasmanda (33 tahun) di bagian keuangan. ”Kami bertahan, karena kami memiliki mimpi yang sama yaitu sesuatu yang lebih baik,” katanya.

Pada 1999, Restoran Bakery Nila Chandra ditutup. Karena tempat ini belakangan dijual kepada Bakmi Permata, akhirnya Sambel Tomat pun terpaksa ditutup. Untungnya, dalam waktu bersamaan, Rene’ dkk. mendapat tawaran untuk membuka gerai di kawasan KTS. ”Kami beruntung mendapat kesempatan untuk buka di sana,” ujarnya. Modalnya Rp 150 juta. Dana ini berasal dari kantong mereka bertiga ditambah pinjaman keluarga dan teman, serta menggadaikan mobil dan emas milik Rene’.

Pengumpulan dana di KTS merupakan kenangan yang tak terlupakan bagi Rene’. Saat itu ia mengeluarkan seluruh uang tabungannya, emas yang ia miliki pun dilego. Bahkan mobilnya pun ia ”sekolahkan” -- kata lain digadaikan menurut istilah Rene'. ”Saat itu saya habis-habisan. Sehingga untuk saya sendiri saya hanya mengandalkan uang gaji,” ia berujar. Rene' menjelaskan bahwa ia bukan berasal dari keluarga yang berlebihan.

Untuk memantapkan kehadirannya di KTS, Rene’ dkk. mencoba tampil dengan baju baru yaitu dalam bentuk kafe yang bernama Kafe Dixie. Tak ada arti yang khusus dari nama itu, kecuali terasa enak dilihat dan didengar sehingga mudah diingat. Selain itu, kata dixie adalah pelesetan dari kalimat, ”Sedixie-sedixie menjadi bukit, dan dix sini senang dix sana senang,” ujar Rene’ sambil tertawa menirukan lirik sebuah lagu anak-anak.

Pengorbanan Rene’ dkk. tak sia-sia. Tujuh bulan setelah buka, kafe yang memiliki luas sekitar 12 x 8 meter, 120 kursi dan 20 karyawan ini langsung break even point. Keberhasilan ini makin membulatkan tekad Rene’ dkk. untuk semakin serius menjalankan Kafe Dixie. Tak heran, satu tahun kemudian (2000) Kafe Dixie hadir di Lippo Sudirman. Belakangan pada 2004, karena ada sedikit persoalan dengan pihak pengelola gedung, kafe ini ditutup.

Ketika bisnis Kafe Dixie kian meningkat, kesibukan Rene’ di jalur karier pun meningkat. Pada 2001 Rene’ keluar dari AMROP Hever dan bergabung dengan BPPN. Namun, semangat Rene’ tak luntur untuk terus mengembangkan Kafe Dixie. Pada 2002, konstruksi bangunan Kafe Dixie di KTS dirombak total dari kayu menjadi baja. Setelah itu pada 2003, ia bersama Ragil dan Rico memantapkan usahanya dengan mendirikan PT yang menaungi Kafe Dixie, yaitu: Trirekan Rasa Utama (TRU) yang kini berkantor pusat di Jl. Antasari, Cilandak Barat, Jak-Sel.

Dengan kehadiran TRU, Rene’ dkk. kian mantap melangkah. Hal ini terlihat dengan peluncuran Kafe Dixie di Jl. Kemang Raya (seluas 150 m2) dan Citos (80 m2) pada tahun yang sama (2003). Hal ini berlanjut pada 2004, dengan hadirnya Kafe Dixie di Taman Rasuna Said, Kuningan (30 m2) dan di Benton Junction Lippo Karawaci, Tangerang (180 m2).

Bahkan pada 2005, ia meluncurkan Kafe Dixie di Jl. Gejayan, Yogyakarta dengan luas 1.200 m2. Kehadiran Kafe Dixie ini merupakan ekspansi Rene’ dkk. yang pertama kali di luar Jakarta. Namun tak puas dengan sukses di Kafe Dixie, pada 2005 Rene’ dkk. memperkenalkan produk barunya yang bernama Mahi-Mahi di Jl. Antasari. Sebuah restoran yang khusus menyajikan hidangan laut (seafood) dengan cara memilih sendiri ikan yang diinginkan.

Keberhasilan Rene’ dkk. ternyata punya kiat sendiri. Diceritakan Rene', untuk berhasil dalam bisnis ini diperlukan kedisiplinan dalam pengkajian lokasi. Lalu, efisiensi dan pengembangan menu-menu. Ia mengungkapkan, persoalan efisiensi selalu menjadi perhatiannya. Contohnya dalam hal rekrutmen karyawan. Jika bisa dikerjakan 8 orang kenapa harus 11 orang. Begitu juga penggunaan peralatan. Jika bisa memakai kompor gas yang biasa, kenapa harus memakai kompor gas yang mahal.

Kemudian dari sisi menu. ”Kami selalu mengembangkan menu yang cocok dengan selera sekitarnya,” ujar Rene’. Itulah sebabnya, bisa saja terjadi satu gerai ada beberapa menu yang berbeda dari gerai yang lain. Saat ini Kafe Dixie memiliki 40-50 menu. Antara lain: steak, spageti, kentang goreng, jus dan masih banyak lagi.

Wasirin, Kepala Koki untuk wilayah Jakarta mengungkapkan menu favorit pengunjung Kafe Dixie adalah beef steak, spicy ribs (Rp 49 ribu per porsi), dan chicken hainan dixie style (Rp 29 ribu per porsi). Sebutlah, spicy ribs. Wasirin menyebutnya menu ini dengan kata yang sederhana, iga sapi balado. ”Saya pikir saat ini jarang sekali yang bisa menyediakan menu semacam ini,” ujarnya bangga. Kemudian, chicken hainan dixie style. Diungkapkannya, menu ini tergolong unik. Karena penampilannya dengan warna hijau, padahal umumnya menu semacam ini tampil dengan warna kekuningan.

Steak di Kafe Dixie disajikan dengan dua paduan menu. Menu ini memiliki 8 pilihan yang bisa dipilih sesuai dengan selera pengunjung. Contohnya, steak yang dipadukan dengan menu sauted mixed vegetable dan french fries, atau assorted sauted mushroom dan butter rice. Hal ini juga berlaku pada saus. Kafe Dixie menyediakan pilihan saus BBQ, spicy, teriyaki, pepper dan mushroom.

Dilihat dari sisi harga, saat ini harga yang termahal adalah sirloin steak (US meat) yang harganya mencapai Rp 62 ribu/porsi. Adapun makanan yang paling murah adalah cheese springroll yang harganya Rp 12 ribu/porsi, sedangkan minuman di kisaran Rp 7-8 ribu per gelas.

Sekarang Rene’ sudah merasa puas dengan hasil yang dicapai oleh kafe-kafe miliknya. Setidaknya, menu-menu yang disajikan di Kafe Dixie ternyata memiliki sejumlah penggemar tetap dan terkenal pula. Sebutlah Anjasmara, Agnes Monica, Leoni dan artis-artis AFI 1-4. Mereka terlihat sering berkunjung ke Kafe Dixie di KTS. Fahrul, karyawan bagian servis Kafe Dixie di KTS mengungkapkan rata-rata tiap hari pengunjung yang datang mencapai 100 orang, sedangkan di akhir pekan (Jumat dan Sabtu) pengunjung meningkat sampai dua kali lipat.

Dan Rene’ pun mengaku makin menguasai dari sisi permodalan, yakni dengan membangun mitra-mitra investor. Menurutnya, mitra investor inilah yang menjadi rahasia keberhasilan bisnis yang digelutinya. Dijelaskannya, tiap gerai Kafe Dixie kerap memiliki investor yang berbeda-beda, tapi dari sisi operasional sepenuhnya dijalankan manajemen TRU.

Lynda Ibrahim, salah seorang investor Kafe Dixie mengungkapkan ia pertama kali bermitra dengan Rene’ di Kafe Dixie tahun 1999, tapi secara formal baru pada 2002 di cabang KTS. Investasi ini kemudian ia lanjutkan dengan peluncuran Kafe Dixie di Benton Junction, Lippo Sudirman dan Lippo Karawaci, Tangerang.

Manajer senior merek sebuah perusahaan multinasional yang membidangi fast moving consumer goods ini menceritakan tertarik berinvestasi di sini karena prospek bisnisnya bagus. ”Selain konsepnya jelas, mereka mengejar niche market yang cukup besar yaitu anak muda dan keluarga,” ujar wanita keturunan Aceh dan Jawa ini. Ia menambahkan, dari sisi kinerja Kafe Dixie termasuk baik. ”Memang ada naik-turunnya, tapi trennya terus naik,” ujarnya.

Alasan yang lain, karena sosok yang menjalankan Kafe Dixie. ”Mereka mengerti bisnis dan saya tahu betul integritas Rene’. Ia orangnya jujur dan sungguh-sungguh,” ucap wanita yang mengenal Rene’ lebih dari 10 tahun sebagai sepupu dari sahabatnya sendiri itu.

Tak seperti Kafe Dixie, kini Mahi-Mahi dikembangkan dengan cara waralaba. Rene’ menjelaskan saat ini perusahaannya sedang mencari mitra bisnis yang cocok untuk kehadiran Mahi-Mahi di sejumlah wilayah di Jakarta seperti di Bintaro, BSD, Depok dan Cibubur. Sementara untuk Kafe Dixie, Rene’ berencana tahun depan membuka cabang di Ambarukmo Plaza, Yogyakarta, Soewarna Park di Bandara Soekarno-Hatta, dan Surabaya. Tahun 2007 pihaknya siap pula membuka cabang di Semarang.

Pengusaha Muda dibawah 35 th ala Warta Ekonomi

Beragam bidang menjadi lahan para pengusaha muda untuk meretas jalan di dunia bisnis. Mulai dari bisnis kafe, restoran, butik, production house, perkapalan, bahkan hingga penerbangan. Memang tak mudah menjalankan bisnis di usia muda, mempertahankan, dan bahkan meraup untung. Ide, agresivitas, inovasi, dan keuletan tampaknya menjadi kunci sukses mereka. Berikut profil 30 pengusaha muda di bawah 35 tahun yang mampu bertahan, dan bahkan menuai untung dalam berbisnis.

1. Adam Adhitya Suherman, 23, presdir PT Adam AirlinesKedua orang tuanya yang pengusaha memicu Adam untuk juga terjun ke dunia usaha. Ia mulai berbisnis pada 2003, dan dengan berani memilih bidang penerbangan sebagai bisnis intinya. Apa pertimbangannya? Rupanya Adam mengandalkan konsep boutique airlines, yakni memberikan layanan berkualitas tinggi tetapi dengan harga yang relatif murah perusahaannya bakal terus melaju. "Kepuasan pelanggan menjadi penekanan kami. Faktor inilah yang mempengaruhi keberhasilan bisnis kami," ungkap Adam.

Selain layanan, Adam juga mencoba menawarkan inovasi yang dianggapnya berbeda dengan para pesaingnya. Di antaranya, warna pesawat-pesawatnya yang terkesan lebih "terang" dan fresh, membangun sistem reservasi online dengan nama Adam Sky Net, dan program-program yang dirancang khusus untuk penumpang, termasuk ketika penumpang berada di dalam pesawat. Lewat konsep dan inovasi yang dikembangkannya itu, Adam menargetkan perusahaannya mampu menerbangkan 25 pesawat untuk tahun ini.

2. Andreas Thamrin, 27, pemilik Games Market dan operations manager Digitone Pty. Ltd.Putra sulung pengelola Global Teleshop, Hermes Thamrin, ini makin mengokohkan dirinya sebagai pengusaha muda di bidang entertainment software, khususnya games yang ia jual lewat internet.

Belakangan bisnisnya makin berkembang lewat penjualan ritel ponsel 3G. Mengaku memperoleh keuntungan besar dari bisnis yang dijalankannya di Australia, Andreas berencana melebarkan sayap usahanya ke Selandia Baru.

3. Arini Subianto, 34, pemilik PT Panaksara PustakaBermula dari hobi menata perabot dan aksesori rumah, Arini mengembangkannya menjadi sebuah bisnis yang cukup menggiurkan di tahun 1988. Bisnisnya makin besar ketika jebolan Fashion Design Parsons School of Design, New York, ini memutuskan untuk membuka usaha toko buku yang ia padukan dengan bisnis lamanya.

4. Beno Pranata, 31, presdir PT Mitra Karya PerkasaSebelum memutuskan menekuni bisnis layan antar, Beno melakukan survei terlebih dahulu dan menggodok konsep bisnisnya selama empat bulan. Dengan modal awal Rp350 juta hasil saweran dengan tiga orang rekannya, pada November 2002 Beno resmi menjalankan usahanya. Di bawah bendera "PesanDelivery", kini Beno berhasil merangkul 112 resto yang rutin menjadi pelanggan jasa layan antarnya.

5. Chatalia, 27, managing director PT Famili Kekal AbadiUsia muda tak menghalangi Chatalia untuk menemukan ide-ide kreatif di bisnis persepatuan. Konsep self service alias "ambil sendiri sepatumu" yang ia terapkan di tokonya terbukti mendapat respons positif dari konsumen. Ditambah dukungan dari sang ayah, Lie Hok San, yang sudah menekuni industri persepatuan sejak 1970-an, Chatalia bermaksud melakukan ekspansi bisnisnya hingga ke Yogyakarta dan Bali.

6. Dewi Safitri Wahab, 27, pemilik Mangkok PutihSelalu siap jatuh bangun, menjadi prinsip Dewi dalam menjalankan usaha. Itu pula yang menjadikan peraih gelar MBA dari Johnson & Walles University Rhode Island, AS, ini berani mendirikan perusahaan sendiri pada 2001. Sesuai dengan latar belakang pendidikan S1-nya di bidang perhotelan, kebanyakan usaha yang ia rintis merupakan bisnis food and beverage. Di antaranya, Mangkok Putih Noodle, Eatz Diners, dan Cita Rasa Catering.

7. Dian Purba, 31, pemilik PT Citra AmbrosiaSebelum mendirikan usaha sendiri, Dian pernah melakoni pekerjaan di beberapa perusahaan, seperti Pricewaterhouse Coopers dan Unilever. Baru pada 1997, anak seorang dokter spesialis mata ini memulai debutnya sebagai pengusaha muda di bidang restoran. Sukses di bisnis ini, ia mulai menjajaki bisnis lain dengan mendirikan sebuah butik di bawah pengelolaan PT Trimitra Adibusana.

8. Eko Hendro Purnomo, 34, dirut PT E Titik Tiga Komando"Bagi saya, pengusaha muda itu identik dengan agresif," ungkap Eko. Maka tak heran jika ia menjadikan kesulitan justru sebagai sebuah kesempatan untuk terus maju. Agresivitas itu pula yang membuat Eko kini berhasil mengembangkan tiga perusahaan yang masing-masing bergerak di bisnis rumah produksi, printing & advertising, event organizer, serta restoran dan katering. Untuk memperbesar bisnisnya, Eko menargetkan akan menambah perusahaannya, termasuk penambahan program-program siaran baru. Meski secara kuantitas Eko berharap bisnisnya terus bertambah, ia juga mengaku sangat peduli akan sisi kualitas.

9. Estelita Hidayat, 33, presdir PT BIDS dan Voxa IntegraLangkahnya di dunia bisnis dimulai pada 1995, saat ia mendirikan Voxa Advertising. Bisnisnya di dunia advertising makin berkembang kala pada 2001 ia menambah perusahaannya dengan bendera Innovoxa. Ketika itu investasi awal yang ia keluarkan mencapai Rp200 juta. Dengan berpegang teguh pada prinsip "keep innovating", Estelita bertekad terus mengembangkan usahanya tidak hanya pada skala lokal, tetapi juga nasional. Kini omzet perusahaannya rata-rata mencapai Rp5-10 miliar per tahun.

10. Ferry Agus Wibowo, 30, pemilik PT Tiga Saudara GroupPengusaha muda asal Yogyakarta ini bisa dibilang berbakat menangani bisnis properti. Buktinya, lewat perusahaan yang dirintisnya pada 1999, ia berhasil menjadikan TSG sebagai tiga besar di bisnis properti di Yogyakarta. Salah satu kunci suksesnya adalah jeli dalam berpromosi.

11. Fredella Nugroho, 28, pemilik PT Cilantro InternationalDengan latar belakang pendidikan di bidang perhotelan, tampaknya Fredella cocok menekuni bisnis resto yang mulai ia garap pada 2003. Lewat restoran Cilantro yang berkonsep Asia Bistro & Lounge ini, Fredella membidik konsumen kelas atas.

12. Jenifer J.A. Supit, 34, direktur pengelola PT Horizon Jet Support ClubKegemaran Jenifer pada laut dan olahraga air membuatnya tertarik untuk mengembangkan bisnis tersebut. Bersama tiga rekannya, ia mendirikan HJSC yang memfasilitasi berbagai jenis olahraga air, seperti jet ski.

13. Kanaya Tabitha, 33, pemilik rumah mode KanayaNamanya di dunia mode Tanah Air sudah tak asing lagi. Ia bahkan dikenal sebagai salah satu perancang busana termahal di Indonesia. Bisnisnya di bidang fashion , yang beromzet rata-rata Rp4 miliar per tahun, makin berkibar ketika Kanaya memproduksi busana berlabel namanya sendiri.

14. Kunang Andries, 30, direktur PT Fir'fli Illuminati IndonesiaBerasal dari keluarga pengusaha jewelry, membuatnya terbiasa untuk menekuni bisnis sendiri. Kunang juga mengaku mendapatkan kebebasan untuk berkarya jika memiliki bisnis sendiri. Lewat Fir'fli, perusahaan jewelry miliknya, ia menawarkan perhiasan yang hanya terbuat dari materi-materi yang terbaik.

Jika kebanyakan pengusaha muda cenderung berlaku agresif dalam mengembangkan bisnisnya, Kunang malah terkesan hati-hati. "Saya akan mempertahankan satu butik yang hanya melayani klien-klien tertentu saja, seperti yang ada sekarang," ujarnya.

15. Luciana Budiman, 29, pemilik Yakunkaya ToastindoIa mulai mengembangkan bisnis kedai kopi tradisional asal Singapura ini sejak 2003. Bisnisnya kini makin berkembang dengan penambahan dua gerai Yakunkaya yang berlokasi di Mal Kelapa Gading dan Plaza Semanggi, serta tiga gerai, yang salah satunya berlokasi di Medan, Sumatra Utara.

16. Maria Reviani Hidayat, 30, pemilik Flame Wine & Grill CafeSetamat kuliahnya di bidang industrial engineering dari Universitas Washington, AS, Maria sempat membantu sang ayah bekerja sebagai konsultan engineering. Tak berapa lama, ia hijrah ke Jakarta dan mendirikan bisnis makanan. Dalam berbisnis, putri pengusaha jamu Sido Muncul, Irwan Hidayat, ini tak mau ngoyo. Prinsipnya, menjalani saja apa yang ada di hadapan.

17. Oscar Lawalata, 28, pemilik rumah mode PT OscaroscarTak berapa lama setelah ia lulus dari sekolah mode Esmod di tahun 1998, pengusaha muda yang juga populer sebagai desainer ini langsung mengadakan show pertamanya. Terhitung sejak mengawali kariernya, kini ia telah mengadakan fashion show lebih dari 100 kali dan menangani 500-an klien, baik secara individu maupun institusi.

18. Naomi Susan, 30, direktur PT Natural Semesta dan PT Ovis SendnSaveMemulai usaha pada usia 22 tahun membuat Naomi tak canggung lagi untuk melakoni berbagai bidang bisnis, mulai dari bisnis internet, toko baju, carter pesawat, hingga salon dan kafe. Meski pernah gagal, Naomi tak mau berhenti berekspansi. "Bisnis itu seperti judi. Ada saatnya menang, ada saatnya kalah," katanya.

19. Rae Sita Massie, 34, pemilik PT FergacoIa memulai bisnis penyediaan jasa ke perusahaan minyak di tahun 2000. Meski tak memiliki pengalaman di bisnis tersebut, Rae tertantang untuk terus menekuninya. Beberapa perusahaan minyak lokal maupun asing, seperti Schlumberger, Pertamina, Medco, dan Exspan, kini menjadi kliennya. Seiring makin bertambahnya klien, perusahaan miliknya pun berhasil menuai profit.

20. Reza Budisurya, 33, pemilik Manna Lounge dan ScoreBerawal dari kegemarannya jalan-jalan dan melihat konsep berbagai tempat hang out anak muda, Reza
SUMBER:ENTREPRENEUR IYE

Bagaimana Cara Menjadi Pengusaha?
Akhir-akhir ini kecenderungan untuk menjadi pengusaha terasa meningkat ditandai dengan adanya berbagai pelatihan dan munculnya berbagai lembaga yang menyediakan diri untuk mendorong dan melatih seseorang menjadi pengusaha.
Hal ini merupakan perkembangan yang sangat menggembirakan. Semakin banyak pengusaha, maka semakin banyak lapangan kerja yang tersedia dan semakin banyak pengangguran yang bisa diserap. Saat ini pengangguran di Indonesia telah mencapai angka 11 juta. Jika kita asumsikan setiap usaha merekrut setidaknya 2 pegawai, maka jika tumbuh 1 juta pengusaha, akan tersedia 2 juta lapangan kerja. Dengan adanya pengusaha, pemerintah akan terbantu untuk menyediakan lapangan kerja. Kita tahu bahwa pemerintah juga memiliki keterbatasan. Munculnya pengusaha akan sangat membantu pemerintah.
Dengan tersedianya lapangan kerja, maka daya beli masyarakat akan meningkat dan pada akhirnya mengurangi angka kemiskinan. Saat ini kita masih memiliki 40 juta rakyat miskin, sebuah jumlah yang sangat besar. Jika 1 pekerja menghidupi 1 istri dan 1 anak, maka setidaknya 3 juta orang tertolong dengan hadirnya 1 pengusaha. Oleh karena itu, jumlah pengusaha harus ditingkatkan lagi agar semakin banyak orang tertolong.
Pada sisi lain, pengusaha juga merupakan penyumbang pajak bagi pemerintah. Sebagaimana diketahui, APBN kita 70 % lebih dibiayai oleh pajak. Jika jumlah pengusaha semakin banyak maka, jumlah penerimaan negara akan makin meningkat dan lebih banyak yang bisa dilakukan pemerintah untuk masyarakatnya.
Bagi pengusaha sendiri, seperti yang saya rasakan, lebih banyak yang bisa saya raih daripada saat dulu masih menjadi karyawan. Tulisan ini akan membantu para pembaca yang ingin mengetahui bagaimana caranya menjadi pengusaha.
Pertama yang harus dilakukan adalah mengatasi rasa takut menjadi pengusaha. Umumnya orang enggan menjadi pengusaha karena takut akan bankrut, takut tertipu dan lain-lain. Intinya takut akan resiko yang akan dihadapi. Padahal sebenarnya, apapun yang kita lakukan pada dasarnya beresiko. Sebagai contoh: kita menyeberang jalan, tentu ada resiko tertabrak. Sebagai orang yang dikaruniai akal, tentu kita tidak akan menyeberang sembarangan. Begitu pula dengan menjadi pengusaha, resiko bisa kita minimalkan dengan manajemen yang baik. Jika kita tidak sanggup menanggung resiko besar, kita bisa memilih resiko yang lebih kecil. Dan memang lebih baik memulai dari sesuatu yang kecil
Yang kedua adalah mengenai modal. Banyak orang batal menjadi pengusaha karena tidak memiliki modal. Sesungguhnya modal itu penting tapi bukan yang utama. Yang utama adalah ide. Uang berapapun tidak akan menghasilkan keuntungan jika tidak memiliki ide. Saya bisa memberikan kepada Anda uang 1 milyar hari ini, tetapi jika Anda tidak punya ide usaha, maka uang itu akan habis pelan atau cepat. Sebaliknya jika seseorang memiliki ide, maka uang akan datang dengan sendirinya. Banyak pengusaha yang memulai tanpa modal sama-sekali, dan pada akhirnya perbankan berebut menawarkan modal kepadanya.
Untuk memulai usaha, sekali lagi bukan modal uang yang dibutuhkan. Pilihlah usaha yang tidak membutuhkan uang untuk memulainya. Kita bisa belajar dari para pedagang yang menjual cash tetapi membeli dengan bayar di belakang. Jadi tidak ada modal uang. Jika memang membutuhkan uang, sementara Anda tidak memiliki uang, pakailah uang orang lain. Cukup sederhana. Masalahnya tinggal bagaimana Anda menggunakan ‘modal’ yang diberikan Tuhan, tubuh dan akal Anda untuk memakai uang orang lain.
Modal yang kedua adalah keberanian. Mulai dari sekarang, beranikan diri Anda untuk bermimpi. Mungkin ini agak aneh, tetapi dunia sudah membuktikan bahwa banyak penemuan ilmiah berdasarkan mimpi dan khayalan. Mobil-mobil sekarang ini berasal dari khayalan masa kecil. Ketika mimpi dan khayalan terwujud, kesuksesan sudah menanti di depan mata.
Selanjutnya, beranilah berbeda. Ditengah pasar yang kompetitif, menjadi beda adalah hal yang penting. Jika Anda membuat sesuatu yang sama dengan kompetitor Anda, maka produk atau jasa Anda peluangnya berbagi dengan kompetitor Anda. Sesuatu yang berbeda adalah nilai tambah. Dengan berbeda, keuntungan akan lebih besar. Lihatlah sekeliling, apa yang menjadi masalah atau kebutuhan di sekitar Anda. Dengan demikian Anda akan memahami pasar sebelum meluncurkan produk atau jasa.
Jika Anda sulit menemukan sebuah bisnis yang benar-benar baru, tidak perlu kecil hati karena Anda bisa memilih bisnis yang masih memiliki prospek pertumbuhan di masa mendatang. Salah satunya adalah bisnis di sektor telekomunikasi. Anda tidak perlu berpikir untuk mendirikan operator baru karena memang bukan itu ‘mainan’ yang tepat untuk pemula, namun lihatlah rantai bisnis telekomunikasi dari hulu sampai hilir. Lihat juga bisnis yang terkait dengan sektor telekomunikasi ini, karena sesungguhnya mata rantai bisnis ini sangat panjang.
Selanjutnya siapkan keberanian untuk memulai. Makin cepat akan makin baik. Ibarat antrian, yang lebih dulu akan mendapatkan kesempatan lebih dulu. Buanglah keraguan Anda, karena jika Anda selalu ragu-ragu, maka Anda tidak akan pernah memulai, dan Anda tidak tahu apakah Anda akan berhasil atau gagal. Jika tidak pernah memulai, maka Anda tidak bisa belajar bagaimana menghindari kegagalan dan Anda juga sekaligus tidak pernah mengalami kesuksesan. Anda hanya akan terus berpikir, tanpa pernah mencoba untuk melakukan yang Anda pikirkan. Seorang senior kami di HIPMI, Saudara Purdie E. Chandra yang memiliki Entrepreneur College memiliki sebuah metode memulai yang sederhana. Kita tidak usah berpikir macam-macam, kita lakukan saja semudah kita buang air di WC. Kita tidak pernah memikirkan bagaimana cara memasuki WC, kita juga tidak pernah memikirkan bagaimana cara buang air, apakah dengan ritme atau tidak. Begitu saja terjadi dan selesai. Kita sukses buang air. Kita tidak pernah memikirkan apakah kita akan gagal dalam buang air, kan? Jika kita gagal buang air, kita tinggal makan pepaya. Gitu aja koq repot?
Kalaupun ditengah perjalanan ada kegagalan, itu merupakan hal yang sangat biasa. Dengan demikian kita memiliki pengalaman, anggap saja hal itu merupakan biaya sekolah. Lebih baik kita gagal di awal daripada gagal di akhir. Pendiri dan pemilik KFC, telah gagal 19 kali untuk meyakinkan bahwa ayam gorengnya enak dan laku sebelum akhirnya menemui jalan suksesnya. Begitu juga Puspo Wardoyo gagal di tempat asalnya dan memulai usaha Ayam Bakar Wong Solo di Medan.
Jika kita belum memiliki pengalaman saat memulai usaha, merupakan sesuatu yang wajar. Pengalaman akan didapatkan seiring perjalanan usaha. Tidak ada seseorang yang tiba-tiba ahli dalam bidang apapun, semuanya melalui proses belajar. Sayangnya menjadi pengusaha tidak ada sekolahnya, sehingga trial and error menjadi salah satu metode yang paling sering digunakan. Jika Anda lulus maka kesuksesan yang Anda raih, jika belum maka kesuksesan Anda akan tertunda. Kesuksesan seorang pengusaha ditentukan oleh berapa kali ia lebih banyak bangun dari kegagalan.
Jika sampai disini, masih ada keraguan untuk memulai usaha, saya khawatir Anda belum memiliki mindset seorang pengusaha. Mindset adalah pola pikir. Seorang pengusaha melihat kendala sebagai peluang. Ketika orang-orang perkotaan memiliki budaya malas dan memiliki waktu terbatas untuk mencuci, seorang pengusaha mendirikan usaha laundry. Dengan mindset ini, seorang pengusaha bisa struggle dan survive. Mulai dari sekarang rubahlah mindset Anda. Jika mindset ini sudah terbangun, maka Anda akan memiliki banyak akal, berpikir tidak linier dan mampu mengatasi segala masalah.
Ada pameo, lebih baik menjadi kepala semut daripada ekor gajah. Dengan menjadi pengusaha, kita menjadi kepala, bukan ekor. Apakah kemudian badan kita besar atau kecil, tentu tergantung bagaimana kita mengelola usaha kita. Dengan makin majunya ilmu managemen, makin mudah mengelola manajemen perusahaan. Jadi beranikan diri Anda menjadi kepala.

Bebas berkreasi, bebas menentukan pendapatan sendiri, dan memiliki waktu yang fleksibel adalah salah satu alasan ketika kita memutuskan menjadi entrepreneur. Hal ini terbukti dari pengakuan para pengusaha muda yang terangkum dalam buku ini. Rahasia Jadi Entrepreneur Muda mengungkap sisi-sisi paling rahasia dalam mengawali sampai mengembangkan bisnis di bidang apapun. Bukan hanya keberhasilannya, para pengusaha pun dengan gamblang berbagi tips untuk bangkit dan mengelola pesaing hingga tetap bisa menjaga omset. Tidak mustahil bagi kita untuk sukses berbisnis dan kaya sejak muda, karena kisah-kisah dalam buku ini membuktikan bahwa anak muda pun bisa bersaing dengan mereka yang jauh berpengalaman dalam berbisnis.

"Untuk menjadi seorang entrepreneur, Anda tak perlu banyak teori. Baca saja buku yang satu ini. Sangat aplikatif dan inspiratif. Tulisannya pun renyah untuk dibaca."

Ya, memang tak perlu banyak teori untuk menjadi seorang entrepreneur. Bahkan sebenarnya, Anda tak perlu membaca buku ini, jika itu hanya membuat pikiran Anda makin terbebani oleh teori-teori yang tidak perlu.

Seperti kata Bob Sadino, bacaan-bacaan itu adalah "sampah" yang mengotori pikiran Anda, membuat Anda selalu ragu dan tak pernah TAKE ACTION untuk mulai berusaha."Pengalaman adalah guru yang terbaik," demikian ujar sebuah kata bijak. Tapi sebenarnya ada guru yang jauh lebih baik, yakni pengalaman orang lain :)

Dalam konteks inilah, buku "Rahasia Menjadi Entrepreneur Muda" perlu Anda baca. Di dalamnya, Anda akan menemukan sosok-sosok entrepreneur muda yang BERANI terjun ke dunia bisnis tanpa banyak teori.Mereka langsung TAKE ACTION, dan pengalamanlah yang akhirnya menempa mereka.

Aan Ade Wirama misalnya. Ia memulai bisnis di bidang IT tanpa punya mobil, laptop, atau komputer. Padahal bagi orang-orang IT, benda-benda seperti ini termasuk "perangkat wajib". Tapi dia yakin bahwa dia akan berhasil, dan keyakinan itu akhirnya terbukti.

Simak pula pengalaman Ari Bayat yang terjun ke bisnis mainan edukatif untuk anak-anak. Awalnya, ia hanya menjadi penjual mainan door to door. Tapi pengalaman membuatnya sadar, ternyata animo masyarakat terhadap mainan jenis ini sangat besar. Maka, ia pun memproduksinya sendiri. Modal yang minim tidak masalah. Ia mengakalinya dengan memodifikasi mesin-mesin produksi sesuai kebutuhan.

"Dunia adalah milik orang-orang yang pemberani," demikian bunyi sebuah kata bijak. Jadi, bila ingin sukses, Anda harus berani, termasuk berani memulai bisnis. Buku ini berisi kisah-kisah inspiratif yang Insya Allah akan menjadi mesin penggerak bagi keberanian Anda.* * *
drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.drs.iwan geografi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar