08 Mei 2011

Menjadi Entrepreneur


ENTREPRENEUR
Bermimpilah, dan yakin suatu saat mimpi tersebut akan terwujud. Keberanian bermimpi inilah yang dimiliki Theresia Alit Widyasari. Perempuan 27 tahun ini, kini memiliki dua butik clothing line, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Dalam usia muda, Widya berhasil mewujudkan mimpinya memiliki distro, bertualang ke tempat favoritnya, dan membuktikan bahwa perempuan muda juga punya kekuatan memberdayakan dirinya.

Dalam presentasi di depan puluhan mahasiswa London School of Public Relations, 29 April 2011 lalu, Widya berdiri dengan kepercayaan diri tinggi namun tetap memposisikan dirinya sejajar seperti anak muda, yang terpana olehnya. Bagaimana tidak, perempuan muda ini, telah membuktikan dirinya layak menjadi inspirasi anak muda lainnya. Widya, adalah pemilik distribution outlet (distro) bernama Endorse dan Bloop di kawasan pergaulan anak muda di Tebet. Para mahasiswa peserta sharing session bertema Entrepreneurship dan Leadership ini, antusias mendengarkan kisah Widya tentang petualangannya berwirausaha dan mewujudkan mimpinya.

Tampil layaknya anak muda, dengan lugas, Widya memaparkan pengalamannya. "Saya memulai bisnis clothing karena punya mimpi. Saya suka coba-coba. Saya juga sudah berkali-kali bisnis dan gagal. Jualan martabak di pinggir jalan, gagal. Bisnis tambak udang, ditipu. Tapi saya nekat saja. Coba sebut semua MLM di Indonesia, saya sudah mencobanya," tukasnya sederhana disambut meriah dengan tawa dan gemuruh tepuk tangan di Auditorium Prof Djayusman Kampus B Stikom LSPR.

Widya mengaku menjalani bisnis fashion berbekal kenekatan dan keinginan kuat mewujudkan mimpi. Pasalnya, ia tak memiliki latar belakang pendidikan fashion atau pengalaman seputar dunia mode. Baginya, adalah klise jika seseorang terhambat memulai wirausaha karena alasan tak berpengetahuan tentangnya, tak ada modal, tak punya kemampuan, tak berpengalaman atau takut gagal.

"Saya menjalani bisnis bermodal nekat, karena saya juga tak punya uang, tidak ada background fashion," jelas pemilik PT Endorsindo Makmur Selaras, yang didirikannya bersama kedua kakaknya, Martinus Sunu Susatyo dan Bertolomeus Saksono Jati, sejak 2003.

Mimpi berbisnis distro akhirnya terwujud atas keberanian dan kerja keras Widya bersama kedua kakaknya. Kepercayaan diri, disertai perhitungan matang, membuat bisnisnya berjalan lancar, meski bukan tanpa hambatan. Modal menjadi hambatan klise pertama yang berhasil dilalui Widya dengan bekal keberanian. Ia berani meyakinkan orangtuanya, untuk mengembalikan pinjaman uang yang diberikan ayahnya. Benar saja, kini, distro milik Widya selalu ramai pengunjung. "Rata-rata jumlah pengunjung 1.000 orang per hari, bahkan pernah mencapai 11.000 orang per hari saat lebaran," katanya.

Menyasar segmen pasar anak muda, Widya tak henti memikirkan inovasi. Bertahan di bisnis distro lebih dari lima tahun bukan perkara mudah. Pemilik distro wajib memiliki kreativitas tinggi agar pembeli tak pindah ke lain hati.

Widya jeli melihat kebutuhan ini. Oleh sebab itu, ia bermitra dengan perancang busana lokal, muda, dan membutuhkan tempat untuk mempromosikan produknya. Ia juga bekerjasama dengan fashion blogger ternama, seperti Diana Rikasari. Kolaborasi inilah yang membuat Endorse dan Bloop selalu menjadi destinasi belanja fashion kalangan muda. Widya mampu membuka lapangan pekerjaan bagi perancang, penjahit, dan menghidupkan vendor serta lebih dari 2.000 pemasok.

"Banyak perancang muda yang menitipjualkan mereknya di distro. Endorse dan Bloop menjadi wadah belajar berwirausaha bagi anak muda," lanjut Widya, entrepreneur termuda dari sembilan finalis Ernst & Young Entrepreneurial Winning Women 2010.

Atas usahanya mewujudkan mimpi menjadi entrepreneur, Widya mampu membiayai dirinya, mandiri secara ekonomi. Kemandirian inilah yang membawanya berkesempatan menjalani mimpi lainnya, traveling ke berbagai negara. Inggris dan Israel (Jerusalem) pernah dijajaki Widya bersama kedua kakaknya, membuktikan satu lagi kemampuan anak muda melanglang buana, atas upaya mandiri dan kerja keras yang didorong oleh mimpi.
Pengusaha jati, Santi Mia Sipan, tergerak mengubah dirinya menjadi lebih dari sekadar sejahtera dengan berwirausaha. Pernyataannya tegas tersampaikan di berbagai forum, bahwa menjadi karyawan bisa sejahtera namun tak pernah bisa kaya. Jika ingin kaya maka berwirausahalah. Pernyataan Santi didasarkan pada dorongan dalam dirinya untuk berkontribusi yang terbaik bagi keluarga.

"Passion, drive, dan dream ini harus ada dalam diri perempuan. Mimpi, kalau didiamkan akan menjadi kebodohan. Mimpi harus direalisasikan. Perempuan tidak boleh berhenti bermimpi," jelas Santi, di sela Women Executive Forum bertema "Women Empowerment: New Age Women" diadakan Ernst & Young Entrepreneurial Winning Women di Graha Niaga, Jakarta, Kamis (21/4/2011).

Perempuan, kata Santi, bisa membuat pilihan. Apakah ingin sejahtera, sangat sejahtera, kaya tetapi tidak nelangsa, atau bahkan tidak sejahtera. Pilihan ini harus dibuat perempuan dengan mulai melangkah. Saat akan melangkahkan kaki memulai usaha dari posisi karyawan, dibutuhkan proses belajar.

"Saya tidak meninggalkan pekerjaan saat memulai usaha. Saya tetap menjalankan MLM, bahkan mendirikan MLM sendiri. Saat akan berwirausaha, kita tidak bisa nyemplung begitu saja. Kita perlu memelajari medan laga. MLM adalah sekolah bagi wirausaha karena melalui MLM, mental baja tidak menyerah terbangun," lanjut perempuan kelahiran Jakarta, 20 Mei 1965 ini.

Belajar bisa dilakukan dengan banyak cara. Santi menyarankan untuk mengikuti seminar untuk menambah pengetahuan. Bacalah buku minimal dua kali dalam satu bulan. "Bahkan buku kartun bisa memberikan wisdom. Jika ingin belajar bisnis baca buku bisnis," sarannya kepada perempuan yang ingin mengubah mindset dan memulai usaha.

Selain belajar medan laga wirausaha, Santi menekankan pentingnya mengubah mindset ini. "Saya menanamkan mindset kepada putra-putri untuk tidak menjadi pekerja. Tetapi sebaliknya, kelak suatu hari mereka tidak bekerja namun mengerjakan sesuatu," jelasnya.

Jika Anda sudah bersiap memilih menjadi wirausaha, langkah selanjutnya adalah memupuk keberanian. Jangan pernah mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Tidak khawatir dengan risiko ke depan, kata Santi. "Selalu akan ada hadiah dari Tuhan saat kita melakukan perjalanan usaha," tutup Santi memberikan motivasi.


BAGAIMANA jadinya jika sekolah mengembangkan jiwa kewirausahaan atau entrepreneurship? Tentunya diharapkan akan muncul entrepreneur muda yang bisa memberikan perubahan.

Hal itulah yang dilakukan SMA Pasundan 2 Bandung. Kepala Sekolah, Drs. Ayi Muchlis Supriadi sangat jeli melihat potensi para siswanya.

"Intinya saya ingin membangun rasa percaya diri di kalangan siswa untuk membuka peluang usaha," ungkap Ayi yang ditemui di kantornya, Jln. Cihampelas Bandung, Jumat (29/4).

Kewirausahaan di kalangan siswa SMA Pasundan 2 Bandung sudah diperkenalkan sejak dua tahun lalu. Awalnya melalui ekstrakurikuler dan ternyata mendapat sambutan.

"Mereka sangat tertarik dengan harapan bisa menjadi entrepreneur sejati," tambahnya.

Ayi mengungkapkan, selama ini para siswa sangat tergantung pada orangtua, mulai dari pengelolaan uang sekolah sampai uang jajan. Dengan ekstrakurikuler kewirausahaan ini diharapkan sikap manja kalangan siswa sedikit demi sedikit bisa terkikis. Rupanya yang dirintis Ayi Muchlis terbilang berhasil. Sejak diadakannya program kewirausahaan di sekolah, banyak siswa yang menjadi pengusaha kecil-kecilan. Mereka tak malu-malu lagi menjual pulsa maupun makanan ringan, bahkan pakaian. Terlebih siswa yang tertarik mendalami kewirausahaan mendapat modal awal dari sekolah sebesar Rp 1 juta.

"Para siswa ternyata mampu mengembangkan modal itu dengan penuh percaya diri. Modal tersebut terus berkembang," paparnya.

Melihat perkembangannya yang terus baik, akhirnya kewirausahaan pun dimasukkan ke dalam kurikulum atau intrakurikuler. Artinya, kewirausahaan ini menjadi pelajaran yang wajib diikuti seluruh siswa SMA Pasundan 2 Bandung. Tujuannya agar setelah keluar para siswa tidak hanya terpaku pada meneruskan sekolah maupun mencari pekerjaan. Namun juga tergerak untuk membuat usaha.

"Mereka harus mempunyai prinsip untuk maju dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki setelah keluar dari sekolah ini," ujarnya.

Apalagi karakter dan jati diri mereka telah digembleng melalui berbagai ekstrakurikuler. Ayi berprinsip setiap lulusan SMA Pasundan 2 Bandung harus berbeda dengan sekolah lain.

"Jiwa kewirausahaan inilah yang harus menjadi pembedanya. Selain itu harus menjadi kelebihan, sehingga para lulusan tidak lagi mengandalkan orang lain tapi bisa berpijak di atas kaki sendiri alias mandiri," paparnya.

Walaupun bukan yang pertama Ayi yakin apa yang dikembangkannya merupakan terobosan baru bagi sekolah di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dasar dan Menengah (YPDM) Pasundan. Diharapkan terobosan ini bisa dikembangkan sekolah lainnya. Semoga!

Menyertai pertumbuhan kelas menengah di Indonesia sebesar 50 juta jiwa dalam kurun waktu 2003-2010 atau 7 juta jiwa per tahun, sejumlah kekhawatiran terhadap kabar gembira ini antara lain, berpotensi semakin tingginya barang-barang impor (legal maupun ilegal). Pertumbuhan golongan masyarakat yang berciri berpendidikan tinggi, memiliki pekerjaan mapan, berpenghasilan tinggi, serta melek sosial, politik dan hukum itu juga mengundang kekhawatiran akan lebih dominannya masyarakat konsumtif dibandingkan pertumbuhan entrepreneur baru di kalangan kelas menengah. Karenanya, entrepreneurship menjadi kian penting, tidak hanya perlu diajarkan di dunia pendidikan, tetapi juga perlu diimplementasikan di masyarakat lewat case kelas menengah ini.
Mengingat pertumbuhan kelas menengah baru tersebut berasal dari kalangan pekerja (profesional) tentu pendekatan entrepreneurship-nya bisa lebih bervariasi, dibandingkan, misalnya, tumbuhnya entrepreneur baru dari kalangan masyarakat bawah yang mengalami keterbatasan modal, jaringan dan pengetahuan tentang business function (manajemen). Oleh karenanya, tampaknya di atas kertas sejumlah peluang usaha baru dapat ditempuh oleh kelas menengah. Namun berdasarkan pengalaman praktis sejumlah pakar atau pendidik entrepreneurship menyatakan, tingkat urgensi untuk berwiraswasta menentukan sustainability dan sejumlah faktor yang menentukan kesuksesan lini usaha yang dijalankan seorang entrepreneur.
Mungkin kekhawatiran kita terfokus pada aspek ini. Seberapa besar tingkat urgensi kelas menengah baru dalam memandang pentingnya dan menjalankan berwiraswasta? Pertanyaan itu menjadi refleksi bersama untuk mendongkrak tumbuhnya wiraswasta baru mengiringi pertumbuhan jumlah kelas menengah di Indonesia. Minimal, test case tersebut dapat diejawantahkan melalui usaha kecil-kecilan yang lumrah dijalankan seorang entrepreneur baru yang tidak memiliki pengalaman dalam berwiraswasta.
Di Indonesia, menurut Hafsah (2000), Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) mengalami permasalahan internal. Pertama, rendahnya profesionalisme tenaga pengelola usaha kecil dalam aspek kewirausahaan, manejemen, teknik produksi, pengembangan produk, kualitas kontrol, karena tingkat pendidikan pengusaha rendah. Kedua, keterbatasan permodalan dan kurangnya akses perbankan dan pasar, mengakibatkan lemah dalam struktur kapitalnya. Ketiga, kemampuan penguasaan teknologi yang masih kurang memadai. Sepatutnya hambatan tersebut tereliminasi dengan sendirinya melihat profil kelas menengah baru yang tumbuh dari kalangan pekerja (profesional) di perkotaan.
Sebaliknya, melalui keunggulan tiga aspek yang menjadi kelemahan atau keterbatasan pelaku UMKM umumnya, maka dapat dielaborasikan dengan suatu project pembelajaran berwiraswasta oleh kelas menengah. Di samping pemahaman di atas, pilihan bagi kelas menengah untuk memulai suatu proyek berwiraswasta dengan mengawali lini UMKM tampaknya tidak berlebihan. Dengan memperhatikan sejumlah batasan dan pengertian tentang UMKM, tampaknya cukup logis untuk dijalankan oleh kelas menengah kita.
Menurut BPS, sektor usaha yang tergolong usaha kecil bila tenaga kerjanya berjumlah 5-19 orang, sedangkan usaha menengah memiliki tenaga kerja sekitar 20-99 orang. Departemen Perindustrian pada tahun 1990 mengemukakan kriteria usaha kecil dari sisi finansial, yaitu usaha yang nilai asetnya (tidak termasuk rumah dan tanah) di bawah Rp 600 juta.
Sementara menurut Kadin (Kamar Dagang dan Industri), sektor usaha yang tergolong kecil kalau memiliki modal aktif di bawah Rp 150 juta dengan turn over di bawah Rp 600 juta per tahun, kecuali untuk sektor konstruksi dengan batasan memiliki modal aktif di bawah Rp 250 juta dengan turn over di bawah Rp 1 miliar per tahun.
Bank Indonesia pada tahun 1990 menentukan kriteria usaha kecil dari segi finansial, yaitu usaha yang asetnya (tidak termasuk tanah dan bangunannya) di bawah Rp 600 juta. Dalam UU 9/1995 tentang Usaha Kecil dinyatakan bahwa yang dimaksud sektor usaha kecil dan menengah adalah yang memiliki kekayaan bersih maksimal Rp 200 juta, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan maksimal Rp 1 miliar.
Faktor Kritis

Jika demikian, bagaimana upaya untuk memulainya. Sekurangnya ada 3 faktor kritis yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan entrepreneur baru dari kelas menengah. Pertama, usaha dan niat berwiraswasta sebisa mungkin untuk disinergikan atau dikomunikasikan dengan internal perusahaan tempat bekerja. Sebisa mungkin aktivitas berwiraswasta tidak mengganggu produktivitas kinerja, atau bertabrakan (conflict of interest) dengan lini bisnis utama perusahaan tempat bekerja.
Kedua, diperlukan penyerapan secara sadar dan transfer tacit knowledge perusahaan tempat bekerja dalam menjalankan dan mengembangkan bisnis baru. Seorang entrepreneur dikenal tidak lelah belajar dan merefleksikan berbagai hal untuk mencari serta menemukan peluang. Tacit knowledge itulah yang menjadi mediator bagi kelas menengah untuk menjadi seorang entrepreneur baru dengan melahirkan usaha baru yang berdampak pada lingkungan di satu sisi, namun tetap menjaga produktivitas dan profesionalitas kerja (intrapreneur) di sisi lain.
Ketiga, tentu saja ada karakter-karakter lain yang memiliki peran penting dalam membentuk keberdayaan seorang entrepreneur, yaitu etos kerja. Suatu sikap diri yang menggambarkan tingkat kejuangan dan kerja keras dalam melakukan sesuatu serta motivasi untuk mencapai sesuatu atau untuk berprestasi semakin penting dimiliki kelas menengah untuk menjadi seorang entrepreneur.
Seseorang dapat saja sehat fisik dan mental serta terdidik tetapi tampak atau menjadi tidak berdaya karena tidak memiliki etos kerja atau tidak memiliki motivasi untuk mencapai sesuatu. Keberdayaan masyarakat ini merupakan modal dasar yang dapat memungkinkan kelas menengah kita untuk dapat bertahan (survive) dan dalam tahap selanjutnya dalam pengertian yang dinamis, mengembangkan diri sebagai entrepreneur dan mencapai kemajuan. ***
Penulis adalah dosen Tourism & Hotel Management,
Universitas Ciputra Surabaya.

Kesejahteraan keluarga menjadi fokus utama Dra Santi Mia Sipan, mantan sekretaris konglomerat yang mengangkat statusnya sebagai pengusaha jati. Kemauan keras menyejahterakan kedua anaknya semaksimal mungkin, dibarengi dengan karakter pantang menyerah, kerja keras, jujur, serta keinginan berbagi, mendorong Santi mengubah hidupnya. Perempuan yang menjalani peran sebagai orangtua tunggal selama delapan tahun ini memilih meninggalkan kenyamanan karier dan memberdayakan dirinya secara mandiri melalui wirausaha.

Keputusan yang dibuatnya tentunya berisiko. Namun 12 tahun berada di balik meja menjadi sekretaris konglomerat telah membentuk Santi sebagai sosok tangguh. Pribadi tangguh inilah yang membuatnya yakin menantang diri untuk berwirausaha. Kebiasaan berurusan dengan pekerjaan yang kadang tak masuk akal memicu diri untuk bekerja maksimal, katanya menceritakan pengalamannya sebagai sekretaris konglomerat. Nilai positif lain dari pekerjaan lamanya adalah relasi baik yang dibangunnya bersama sejumlah media. Serangkaian kebaikan inilah yang kemudian memudahkan jalan Santi menjadi entrepreneur.

"Dengan membina hubungan baik saat bekerja dengan banyak orang, jujur, membuat saya mendapat tiket untuk semua hal. Relasi dengan media misalnya membantu saya mempromosikan bisnis tanpa biaya tinggi," tuturnya saat ditemui Kompas Female di temu media seminar "Wanita Wirausaha" beberapa waktu lalu di Jakarta.

Latar belakang ini membuat Santi berdaya membangun bisnis jati di bawah bendera Jaty Arthamas sejak 2005. Pertemuannya dengan Profesor Sugiharto, pengembang bibit jati, memulai perjalanan wirausaha ini. "Prof Sugiharto punya bibit jati, tetapi tak tahu bagaimana menjualnya. Saya keliling Indonesia menjual bibit jati sejak 2005. Lalu pada 2008 berhasil menjual kebun jati di Jonggol dan pada 2010 sekitar 200 hektar kebun jati terjual," jelas Santi, yang mengubah status orangtua tunggal dengan menikahi partner bisnisnya, Sugiharto.

Memilih jati sebagai fokus bisnis tak datang tiba-tiba. Sebelumnya, Santi jatuh bangun dengan berbagai bisnis. Bergabung dalam bisnis MLM pada 2002 dan menuai sukses darinya pernah dialami Santi. Merintis bisnis rental kendaraan juga dilakoninya. Namun pada bisnis jati, Santi memantapkan hati. Cara berpikir dan kebutuhan orang Jakarta menjadi celah bisnis yang potensial pada masa mendatang.

"Orang Jakarta punya uang, tetapi tak berani menanam jati karena dianggap sulit. Karena itu, bisnis jati dipegang dari hulu ke hilir. Bisnis ini menjual satu paket, dari lahan, pohon, hingga perawatannya. Membeli satu paket lahan jati menjadi investasi jangka pendek dan jangka panjang bagi investor. Satu hektar lahan jati yang dibeli saat ini, dalam 15 tahun ke depan bisa bernilai Rp 4 miliar-Rp12 miliar," jelas Santi, yang kini menjadi Direktur Utama PT Jaty Arthamas.

Permintaan kayu jati juga semakin tinggi karena kekuatan, kekerasan, dan ketahanannya. Kebutuhan kayu jati di Indonesia baru terpenuhi 30 persen. Sedangkan mulai 2014 penebangan kayu alam akan dihentikan total. Menghadapi kondisi ini, masyarakat dapat menyubsidi kebutuhan kayu dengan menyiapkan hutan tanaman mandiri. Kelak, kayu yang dihasilkan dari hutan tanaman mandiri bisa digunakan untuk membantu pemasokan pada industri lokal maupun global. Harga kayu jati juga meningkat dua kali lipat setiap lima tahun dalam 25 tahun ini.

Riset dan realitas ini menjadi kunci keberhasilan bisnis lahan jati milik Santi. Saat orang Jakarta tak punya lahan untuk menciptakan hutan tanaman mandiri, tersedia pilihan praktis dari Jaty Arthamas. Caranya, berinvestasi lahan paket kebun Jaty Arthamas senilai mulai Rp 200 juta. Paket ini sudah termasuk tanah satu hektar hak milik langsung atas nama, bibit sejumlah 1.333 pohon dan perawatan selama tiga bulan. Investor bisa memilih kebun yang tersedia di Jonggol, Sukabumi, Jawa Barat, atau Wirosari, Jawa Tengah, serta pilihan lain di Cepu, Jawa Timur.

Santi menyusun sejumlah pilihan investasi sesuai kebutuhan dan kemampuan investor. Keuntungan bagi investor, jelas Santi, di antaranya nilai tanah yang terus meningkat. Selain itu juga karena lokasi perkebunan berdekatan dengan pusat industri dan akses transportasi strategis. Faktor lokasi ini menambah nilai lahan di kemudian hari. Manfaat lain dari lahan jati adalah dengan investasi Rp 150 juta untuk satu hektar, dalam dua tahun harga bibit dan biaya perawatan tidak mengalami kenaikan sementara lahan terus bertambah nilainya. "Kebanyakan investor rata-rata membeli 1-30 hektar," akunya.

Keuntungan yang didapatkan Santi dari bisnis jati tak dinikmati sendiri. Seperti dikatakannya sejak awal mendirikan bisnis, berwirausaha baginya adalah juga berbagi. Santi memimpin ratusan petani untuk merawat lahan jati. Petani, selain menerima gaji bulanan, juga berhak mendapatkan dana sosial. Untuk keberlangsungan bisnisnya, Santi juga merekrut mandor untuk memastikan lahan investor yang dikelolanya aman terjaga.

Kini, investor Jaty Arthamas terus bertambah, kebanyakan adalah investor lokal dan 10 persennya ekspatriat. Model bisnis jati Santi bahkan dilirik delegasi perdagangan dari Amerika Serikat. "Pada Mei 2011 delegasi perdagangan dari Amerika akan datang melihat kebun jati ini," tuturnya.

Santi membuktikan, niat tulus memastikan kedua anaknya hidup layak membuatnya sukses menjadi perempuan mandiri dan berdaya. Benar saja, kini, saat putranya berusia 19 dan putrinya yang menderita autisme bertumbuh sempurna menjadi remaja 17 tahun, kehidupan sejahtera diraih Santi. "Anak-anak adalah guru kehidupan, merekalah yang membuat saya berani bermimpi dan juga kuat menghadapi berbagai hambatan serta tantangan," ungkap Santi.

Meski telah memiliki berbagai hal, Santi tak pernah mau berhenti bermimpi mengembangkan diri. Santi juga berjanji tak ingin memanjakan kedua anaknya. Ia ingin putra-putrinya belajar mencari nafkah, menggembleng dirinya untuk maju, dan berkembang sebagai sosok mandiri. "Saya tidak mau menciptakan anak orang kaya. Jika ingin kaya mereka harus berusaha, bekerja keras mencapainya," ujarnya.

Setelah melalui proses perencanaan matang dan persiapan cukup panjang, akhirnya silabus berbasis entrepreneurship rampung. Siap disebarluaskan ke sekolah-sekolah di Metropolis.
Silabus tersebut rencananya bakal menjadi acuan pihak sekolah dan guru di pelbagai tingkatan mulai Taman Kanak-Kanak (TK)/pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga sekolah menengah atas (SMA) sederajat untuk mengajarkan dan menanamkan jiwa kewirausahaan kepada siswa.
Berbarengan dengan acara puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2011, bertempat di Ogan Permata Indah (OPI) Center di-launching kurikulum berbasis entrepreneur. Ditandai dengan pembukaan selubung silabus kurikulum berbasis entrepreneurship.
Hadir ribuan tamu undangan, unsur muspida dan pejabat di lingkungan pemerintah kota (Pemkot) dan pemerintah provinsi (Pemprov). Kegiatan berlangsung meriah diisi sejumlah acara kesenian.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Palembang, Riza Fahlevi mengatakan, kurikulum entrepreneur tersebut akan diterapkan mulai tahun ajaran baru. “Ini (peluncuran kurikulum berbasis entrepreneur, red) menjadi momentum perubahan yang penting bagi dunia pendidikan di Palembang.”
Bahkan, terang Riza, Metropolis merupakan kota pertama di Indonesia yang menerapkan kurikulum entrepreneur dalam pembelajaran di sekolah. Dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) sekitar 80 persen. Lalu, kurikulum pendidikan di sekolah dikembangkan oleh daerah.
“Sekitar 20 persen (dikembangkan, red) oleh pusat,” ungkapnya. Ke depan, lanjut Riza, kembali diadakan pelatihan seperti training on trainer (TOT) mengenai entrepreneur. Tujuannya, para guru dapat mengimplementasikan entrepreneur di seluruh mata pelajaran.
”Tak hanya itu, materi yang diberikan bukan sebatas teks book. Tapi, juga diharapkan dapat diimplementasikan di lapangan dan kehidupan sehari-hari,” ungkapnya. Jika itu disampaikan dan dapat diterima para siswa dengan baik, diharapkan ke depan bakal tercipta generasi penerus berjiwa wirausaha.
Wali Kota Palembang, Eddy Santana Putra mengatakan, jiwa entrepreneur diperlukan untuk menciptakan anak-anak atau generasi yang mandiri. Untuk mencapai itu, perlu perubahan mindset atau pola fikir dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja.
”Jadi ke depan para generasi penerus bercita-cita menjadi pengusaha, menjadi orang kaya,”ungkapnya. Mewujudkan hal tersebut, maka pihaknya memikirkan untuk memasukkan materi entrepreneur dalam kurikulum pembelajaran di sekolah.
Memang, terangnya, hasil dari pembelajaran entrepreneurship tersebut belum bisa dilihat dalam tempo dekat. Tapi, beberapa tahun ke depan Metropolis akan bisa menghasilkan para entrepreneur handal. ”Itu semua bisa dicapai asal kita berkomitmen untuk melaksanakannya,” tukas Eddy.
Sementara itu, dalam acara tersebut juga diadakan pembagian hadiah kepada para pemenang lomba yang digelar dalam rangka memperingati Hardiknas. Wako Eddy juga menyempatkan diri meninjau sejumlah stand-stand pendidikan yang digelar di luar gedung.

INGIN merasa mandiri finansial dan merdeka secara waktu? Ukir saja karier sebagai entrepreneurship. Selain fulus mengalir, Anda pun turut memberdayakan lingkungan dengan terciptanya lapangan kerja yang mampu menyerap sumber daya masyarakat sekitar.

Banyak orang merasa rendah diri dan tidak berani maju menjadi entrepreneur karena merasa tidak berbakat. Padahal, entrepreneurship bukanlah menyoal bakat karena dapat dipelajari dan dilatih. Khususnya wanita yang dianugerahi emotional quotation (EQ) atau kekuatan kesadaran (passion) dan impian untuk pantang menyerah berjuang guna meraih cita-citanya.

Namun, tentunya tidak hanya faktor itu saja yang mesti dikesepankan. DR BRA Mooryati Soedibyo memaparkan sembilan kiat yang didasarkan pada filosofi Jawa berikut ini.

Toto

Yakni seseorang tersebut mesti memiliki kemampuan untuk menata diri dan juga orang lain. Sikap ini sangat diperlukan karena terjun sebagai entrepreneurship adalah mengukir karier sebagai pemimpin, baik pada diri sendiri maupun orang lain yang kelak menjadi anak buahnya.

Titi (akurat)

Seorang entrepreneur diharapkan memiliki keakuratan sehingga dapat menjalani bisnis dengan lancar.

Titis (mengena)

Setiap jiwa tentu memiliki tujuan tertentu, begitupun dengan entrepreneur. Untuk menjadi pebisnis yang sukses, dia pun mesti menancapkan tujuan dengan jelas dan dibarengi dengan sebuah tindakan nyata.

Tatak (berani)

Seorang entrepreneur harus berani bersikap, berani bertanggung jawab, dan berani menerabas segala risiko. Jadi, kesampingkan rasa takut ataupun cemas akan sebuah kegagalan. Dengan bersikap berani, Anda dapat leluasa memainkan peran yang membantu kelancaran bisnis Anda.

Tatas (efektif)

Berpikir dan bertindaklah secara efektif. Orang yang berbuat dengan satu pemikiran yang kuat akan berhasil.

Tetep (konsisten)

Dunia bisnis penuh dengan gejolak, namun Anda perlu konsisten dengan passion bisnis yang Anda pilih. Meski terkadang pasang surut alias fluktuatif, tapi Anda tetap bertahan dengan “passion” Anda tersebut dan tidak mudah dipengaruhi atau terombang ambing orang lain.

Tanggap (responsif)

Pebisnis sukses meski memiliki jiwa yang responsif alias tanggap dengan peluang yang ada di depan mata. Ketika Anda menemukan sebuah peluang, maka segera eksekusi peluang tersebut menjadi sebuah celah rejeki yang bisa diberdayakan.

Teguh

Jiwa pebisnis mesti kokoh dan tidak boleh diombang ambing, teguh dalam mengambil keputusan dan harus pantang menyerah serta mampu mengubah kekurangan menjadi sebuah keistimewaan yang berdaya saing.

Trengginas

Seoramg entrepreneurship harus tampil aktif, terampil dan serba bisa mulai dari menciptakan ide, memproduksi hingga mempromosikannya. Dia tidak pernah lelah berkarya dan selalu mengisi waktu dengan berbagai aktivitas.



BERITA MUHAMMADIYAH

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar