10 Mei 2011

Menjadi Entrepreneur 2

Sebagai pengusaha sukses, usianya masih cukup muda, 37 tahun. Kini, Jaya Setiabudi banyak memberikan semangat kepada anak-anak muda agar mengikuti jejaknya.

SORE itu (13/1), sekelompok anak muda duduk melingkar mengelilingi Jaya Setiabudi di lantai dua Dago Plaza, Bandung. Beberapa di antara mereka mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan hambatan bisnis yang dialami. Acara tersebut berlangsung santai. Jaya bahkan hanya mengenakan kaus polo dipadu celana kargo plus sepatu sandal.

"Otak itu seperti Google. Apa yang dicari di situ, keluarnya ya itu. Kalau yang dicari kampret, yang keluar semua juga kampret," ujarnya disambut tawa para siswa. "Kalau yang dicari duit, yang keluar ya duit. Kalau yang dipikir kesulitan, yang keluar ya kesulitan terus," imbuhnya memberikan semangat.

Tak lama kemudian, salah seorang siswa menyodorkan sebuah proposal usaha kepada Jaya. Yakni, jasa pemasangan iklan di angkutan kota (angkot). Dalam proposal digambarkan, selain ditempeli gambar, angkot tersebut akan dipasangi produk-produk dalam bentuk tiga dimensi. Misalnya, untuk restoran cepat saji, akan dipasang hamburger di atap angkot.

Anak-anak muda itu merupakan alumni sekolah entrepreneur yang didirikan Jaya. Yakni, Young Entrepreneur Academy (YEA). Kendati sudah merampungkan sekolah wirausaha, mereka masih sering bertemu Jaya untuk mengonsultasikan bisnisnya.

Meski masih tergolong "pemula", mereka adalah para pengusaha yang memiliki omzet puluhan juta rupiah. Beberapa bahkan sudah mencapai ratusan juta rupiah. Usaha mereka beraneka ragam. Mulai ticketing, business center, penjualan pakaian bayi, supplier bahan bangunan, hingga laundry.

Jaya mengklaim, sekolah yang dia dirikan itu merupakan satu-satunya sekolah yang mendidik siswanya menjadi pelaku bisnis. Memang, banyak sekolah yang bertitel sekolah bisnis. Tapi, kenyataannya, sekolah tersebut banyak memasang lowongan pekerjaan di papan pengumuman. Hal itu, kata dia, bertentangan dengan spirit bisnis.

"Artinya, mereka kan hanya mendidik siswanya jadi karyawan. Pengusaha itu membuka lapangan usaha," ujar anak keenam di antara tujuh bersaudara tersebut.

Lelaki berkacamata itu mengungkapkan, menjadi bos merupakan pilihan yang baik bagi anak muda. Sebab, ide-ide mereka masih segar. Tanggungan mereka juga belum banyak. Apalagi energi mereka masih meledak-ledak dan penuh semangat mengeksplorasi hal-hal baru. "Lebih baik jadi bos daripada jadi karyawan. Karyawan nggak kerja nggak bisa makan, bos nggak kerja tetap bisa makan," ujar Jaya menirukan petuah ayahnya.

Selama hidupnya, kata Jaya, ayahnya adalah karyawan biasa. Karena itu, begitu sudah memasuki usia senja dan masih harus tetap banting tulang, sang ayah mengungkapkan kata-kata bijak tersebut kepada Jaya. Sejak saat itulah Jaya merasa bahwa jalan hidupnya adalah menjadi pebisnis.

Dia sebenarnya tidak dilahirkan dari keluarga pebisnis. Awalnya hanya dirinyalah yang berkecimpung dalam dunia bisnis pada 1998. Namun, virus entrepreneurship kemudian menjangkiti kakak-adiknya. Empat saudara Jaya pun akhirnya mengikuti jejak sang juragan.

Sejak 2004, lelaki 37 tahun itu memang getol mendorong masyarakat menjadi pengusaha. Terutama anak muda. Bahkan, dia menargetkan ada sejuta anak muda yang berhasil menjadi pengusaha lewat tangannya.

Lulusan Teknik Elektro Institut Teknologi Aditama Surabaya (ITATS) Surabaya itu pernah bekerja di Astra Microtonics Technology (AMT), perusahaan penyedia chip, 1998. Namun, dia kemudian keluar dari Astra dan memilih mandiri menjadi pengusaha. Jaya mengawali usaha dengan membuka bisnis di bidang industrial supply.

Bisnisnya berkembang pesat hingga menggurita menjadi kelompok perusahaan bernama Momentum Group. Perusahaan-perusahaan dia, antara lain, PT KS Technology yang bergerak di bidang industrial automation, PT Momentum Technology (distributor spare part dan sensor), PT Karya Setia Abadi (distributor oli dan konstruksi baja ringan), CV Kawan Setia Industri (pemasok food and beverage serta memiliki jaringan retail store "The Farmer"), PT Momentum Entrepreneur Mindset (training entrepreneurship), dan PT Momentum Retail Management (jasa konsultan bisnis retail).

Jaya kini tak lagi banyak terlibat secara operasional dalam pengelolaan bisnis-bisnisnya. Dia juga mulai menyerahkan perusahaannya kepada profesional, sedangkan dirinya hanya memegang saham-sahamnya. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk memprovokasi anak-anak muda menjadi pengusaha.

Jaya menuturkan, mendorong masyarakat menjadi pengusaha memang menjadi impiannya sejak dulu. Namun, dia tidak pernah menyangka akhirnya benar-benar fokus dalam kegiatan nonprofit itu. Sebab, upaya tersebut awalnya hanya coba-coba saat dirinya mengisi konsultasi wirausaha di sebuah radio di Batam, Kepulauan Riau, 2004.

Acara tersebut, tampaknya, mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat Batam. Jaya lantas membuka acara yang sama di sebuah televisi lokal di Batam. Dia juga mulai mengisi kolom-kolom di Batam Pos (Grup JPNN). "Sambutan masyarakat luar biasa. Akhirnya, saya terpacu dan semakin bersemangat," ujarnya.

Pada 2005, Jaya membuka milis konsultasi wirausaha bernama Entrepreneur Association. Pesertanya adalah masyarakat umum dan tidak dipungut biaya. Dari sekadar sharing bisnis, mereka tumbuh menjadi komunitas bisnis yang kerap mengadakan pertemuan rutin. Baik bersama Jaya maupun antaranggota komunitas. Komunitas itu kini berkembang di sejumlah kota besar di Indonesia.

Sembari membina di YEA, Jaya terus berkeliling Indonesia. Pada kurun 2005 hingga 2007, dia menjadi mentor dan mengisi kelas-kelas yang diadakan Entrepreneur University. Dalam setahun, dia mengisi 120 kelas di 40 kota.

Mendorong semangat bisnis, kata dia, merupakan "proyek tekor". Proyek tersebut dijalankan bukan agar dia bisa meraup rupiah. Justru dalam menjalankannya, suami Liana Setiabudi itu harus mengeluarkan duit dari kantong sendiri.

"Semua nonprofit. Kalau yang begini bisa mendatangkan banyak duit, pasti akan ada banyak orang yang buka sekolah beginian. Kenyataannya, justru nggak banyak kan? Sebab, memang rugi terus," tegas ayah Sarah Aulia Setiabudi, 8, dan Alfin Risqi Setiabudi, 6, itu.

Jaya mengungkapkan, tidak gampang mendidik anak muda menjadi pengusaha. "Di sini, saya sering berinteraksi dengan anak-anak muda itu. Ngemong, menyemangati. Itu tidak gampang," katanya.

Berada di antara pengusaha muda, ujar dia, harus sabar. Dirinya juga harus bisa mengendalikan ego anak-anak didiknya. Sebab, karakter pengusaha cenderung egois dan mau menang sendiri. Jaya harus membuat mereka mau bekerja sama dan tetap menjalin persahabatan kendati persaingan dalam dunia bisnis kadang sengit. "Tidak mudah, kan?" ujarnya
ENTREPRENEURSHIP

Awalnya memang dari gagasan pengusahaan papan atas Ciputra yang serius untuk menyebarluaskan semangat kewirausahaan atau entrepreneurship. Keyakinannya, bangsa ini bakal maju jika banyak orang berjiwa dan bersemangat entrepreneur.

Entrepreneur bukan berarti pedagang. Namun, mereka yang punya semangat untuk kreatif, inovatif, berani mengambil risiko, serta mampu mengubah ”sampah” menjadi ”emas”.

Antonius Tanan, yang bekerja di Grup Ciputra sejak tahun 1987, dipercaya Ciputra untuk menyusun silabus serta mengembangkan entrepreneur atau kewirausahaan dalam pendidikan di Indonesia.

Ia sukses menerjemahkan pendidikan kewirausahaan di sekolah-sekolah di bawah naungan Grup Ciputra, mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Antonius yang kemudian diangkat sebagai Presiden Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) mendampingi Ciputra melakukan road show ke sejumlah kota dan kampus di seluruh Indonesia untuk menyebarluaskan semangat kewirausahaan. Ia bertemu juga dengan pejabat tinggi pemerintah dan tokoh masyarakat untuk meyakinkan mereka pentingnya entrepreneurship bagi masa depan bangsa.

Kesibukan Antonius bersama Tim UCEC terus meluaskan kerja sama dengan beragam institusi guna menyebarluaskan pendidikan kewirausahaan. Dimulai dari Campus Entrepreneur Program di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) September 2007, kemudian berlanjut ke Surabaya dan kota-kota lainnya di Tanah Air.

Diselenggarakan pula Training of Trainers untuk dosen-dosen kewirausahaan. Lalu, Training of Trainers Entrepreneurship Educator selama tiga bulan untuk mereka yang akan menjadi entrepreneur sekaligus pelatih atau pendidik entrepreneurship.

Di lingkungan keluarganya, Antonius Tanan juga menumbuhkan semangat kewirausahaan. Misalnya, anaknya yang masih sekolah dasar diminta untuk memberikan hadiah ulang tahun sesuatu yang tak ada di toko. Akhirnya, dengan kreativitasnya sendiri, anaknya menyusun sebuah lagu lengkap dengan aransemen musik ciptaannya sendiri.

Mengapa pendidikan kewirausahaan perlu dilakukan di Indonesia?

Saya sangat gelisah membayangkan anak-anak generasi sekarang kalau nanti 20 tahun lagi tidak mampu menciptakan pekerjaan bagi diri sendiri. Apakah semua orang akan jadi entrepreneur? Tentu tidak. Kalaupun mereka menjadi pegawai, akan menjadi pegawai yang baik. Karena pendidikan entrepreneurship mengajarkan inisiatif, kreatif, yang sifatnya holistik.

Tidak semua orang mau jadi pengusaha. Apa tetap perlu memperkenalkan pendidikan kewirausahaan lewat sekolah?

Saya melihat di masyarakat punya pandangan yang keliru tentang pendidikan entrepreneurship. Pertama, ada yang berkata kalau memasukkan pendidikan entrepreneurship berarti membuat kurikulum baru. Sebenarnya tidak perlu. Pendidikan entrepreneurship itu memperkaya dan mempertajam kurikulum yang sudah ada. Kedua, ada juga anggapan mengajarkan entrepreneurship itu mengajarkan dagang. Itu terlalu sempit. Pendidikan entrepreneurship lebih luas dari itu. Ketiga, kita menganggap berpikir belajar entrepreneurship itu kalau sudah besar. Itu keliru. Benih-benih inspirasinya mesti dimulai sejak dari kecil. Ini bisa dimulai dari mengembangkan kreativitas.

Saya membayangkan dan merindukan Indonesia menciptakan produk-produk hebat setaraf Google, Microsoft, dan sebagainya. Tidak sekarang mungkin, tetapi benihnya kenapa enggak kita siapkan sekarang. Pendidikan kewirausahaan menuntut adanya kreativitas. Belajar jangan memori, tapi harus kreatif!

Bagaimana mewujudkan pendidikan entrepreneurship di Indonesia?

Ketika diminta menerapkan pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi dengan mendirikan Universitas Ciputra tahun 2006, buat saya masuk akal. Banyak perguruan tinggi bisnis, tetapi tidak mengajarkan secara spesifik masalah kewirausahaan.

Saat saya diminta mengajarkan kewirausahaan sejak dari taman kanak-kanak, saya gamang dan kaget. Apa mungkin? Saya coba cari informasi di internet.

Tahun 2006 saya ke Amerika Serikat. Saya kaget, ternyata ada konferensi di tentang pendidikan entrepreneurship untuk guru-guru di Arizona. Konferensi itu sudah yang ke-24. Tidak heran jika entrepreneur muda banyak lahir dari Amerika Serikat karena mereka mengembangkan entrepreneurship sudah sangat lama. Mereka kini tinggal memetik hasilnya.

Sebenarnya apa yang bisa didapat dari pendidikan entreprenership?

Di balik pendidikan kewirausahaan adalah kreativitas. Kita tahu, saat anak-anak mereka sangat kreatif. Namun saat mereka sekolah hingga selesai, kreativitas mereka hilang menjadi semangat pekerja. Di mana hilangnya? Tentu ada yang kurang dalam sistem pendidikan, lingkungan, serta kehidupan keluarga.

Bagaimana menjalankan pendidikan entrepreneurship di setiap level pendidikan?

Sebenarnya bisa dibuat strukturnya. Kalau di TK itu harus mulai pikirkan kreativitas. Kreativitas itu anugerah yang luar biasa. Hidup itu jauh lebih mudah kalau kita kreatif. Kreativitas mesti terpelihara. Di SD, anak-anak di-explor dengan beragam keunikan dan keberbakatan. Di SMP diharapkan mereka sudah tahu keberbakatannya. Pada saat ini, pendidikan entrepreneurship bisa masuk ke life skill. Saat SMA keberbakatan itu sudah pernah dicoba di pasar. Kalau kita bisa gabungkan keberbakatan dan entreprenuership, itu powerful.

Bagaimana pengembangan pendidikan entrepreneurship ke depannya?

Lewat pendidikan kewirausahaan ini Pak Ciputra ingin lahir empat juta entrepreneur baru. Entrepreneur ini tersebar mulai dari pesisir sampai pegunungan, dari desa sampai kota besar, anak-anak semua kalangan. Jika entrepreneur sudah menjadi semangat bersama, yakinlah bangsa ini pasti akan maju.
Mendidik "Entrepreneur"
GURU SMA
GURU TASIKMALAYA
MUHAMMADIYAH TASIKMALAYA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar