25 Juli 2010

GEOGRAFI REGIONAL TASIKMALAYA

GEOGRAFI REGIONAL TASIKMALAYA

A. LUAS WILAYAH

Sesuai dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 2001 tentang pembentukan Kota Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya memiliki wilayah seluas 17.156,20 Ha atau 171,56 km2 yang meliputi wilayah 8 Kecamatan, yaitu Kec. Cipedes, Cihideung, Tawang, Tamansari, Mangkubumi, Kawalu, Indihiang dan Cibeureum. Data ke-8 Kecamatan yang mencakup 69 Kelurahan sebagaimana Tabel di bawah ini :

Cihideung
Cipedes
Tawang
Indihiang
Kawalu
Cibeureum
Tamansari
Mangkubumi

B. LETAK GEOGRAFIS

Kota Tasikmalaya secara geografis memiliki posisi yang strategis, yaitu berada pada 108o 08' 38" - 108o 24' 02" BT dan 7o 10' - 7o 26' 32" LS di bagian Tenggara wilayah Propinsi Jawa Barat. Kedudukan atau jarak dari Ibukota Propinsi Jawa Barat, Bandung + 105, wilayah Kota Tasikmalaya berbatasan dengan :

1. Sebelah Utara : Kab. Tasikmalaya dan Kab. Ciamis (dengan batas sungai Citanduy)
2. Sebelah Barat : Kab. Tasikmalaya
3. Sebelah Timur : Kab. Tasikmalaya dan Kab. Ciamis
4. Sebelah Selatan : Kab. Tasikmalaya (batas sungai Ciwulan)

SEJARAH KOTA TASIKMALAYA
Sejarah berdirinya Kota Tasikmalaya sebagai daerah otonomi tidak terlepas dari sejarah berdirinya kabupaten Tasikmalaya sebagai daerah kabupaten induknya. Maka rangkaian sejarah ini merupakan bagian dari rangakaian perjalanan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya sampai terbentuknya Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Pada waktu A. Bunyamin menjabat sebagai Bupati Tasikmalaya tahun 1976 sampai dengan 1981 tonggak sejarah lahirnya kota Tasikmalaya dimulai denngan diresmikannya Kota Administratif Tasikmalaya melalui peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1976 oleh Menteri Dalam Negeri H. Amir Machmud. Periwtiwa ini di tandai dengan penandatangan Prasasti yang sekarang terletak di depan gedung DPRD Kabupaten Tasikmalaya. Pada waktu yang sama dilantik pula Walikota Administratif Pertama yaitu Drs. H. Oman Roosman oleh Gubernur KDH Tingkat I Jawa Barat H. Aang Kunaefi.

Pada awal pembentukannya, wilayah kota Administratif Tasikmalaya meliputi 3 Kecamatan yaitu Cipedes, Cihideung dan Tawang dengan jumlah desa sebanyak 13 desa.

Berikut ini urtutan pemegang jabatan Walikotatif Tasikmalaya dari terbentuknya kota administratif sampai menjelang terbentuknya pemerintah Kota Tasikmalaya :


Berkat perjuangan unsur Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya yang dipimpin Bupati saat itu H. Suljana WH beserta tokoh masyarakat Kabupaten Tasikmalaya dirintislah pembentukan Kota Tasikmalaya dengan lahirnya tim sukses pembentukan Pemerintahan Kota Tasikmalaya yang diketuai oleh H. Yeng Ds. Partawinata SH. bersama tokoh - tokoh masyarakat lainnya. Melalui proses panjang akhirnya dibawah pimpinan Bupati Drs. Tatang Farhanul Hakim, pada tanggal 17 Oktober 2001 melalui Undang-undang Nomor 10 Tahun 2001, Kota Tasikmalaya diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden RI di Jakarta bersama-sama dengan kota Lhoksumawe, Langsa, Padangsidempuan, Prabumulih, Lubuk Linggau, Pager Alam, Tanjung Pinang, Cimahi, Batu, Sikawang dan Bau-bau.

Undang-undang Nomor 10 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Tasikmalaya, telah mengantarkan Pemerintah Kota Administratif Tasikmalaya melewati pintu gerbang Daerah Otonomi Kota Tasikmalaya untuk menjadi daerah yang mempunyai kewenangan untuk mengatur rumah tangga sendiri.

Pembentukan Pemerintah Kota Tasikmalaya tak lepas dari peran serta semua pihak maupun berbagai steakholder di daerah Kota Tasikmalaya yang mendukung pembentukan tersebut. Tentunya dengan pembentukan Kota Tasikmalaya harus ditindak lanjuti dengan menyediakan berbagai prasarana maupun sarana guna menunjang penyelenggaraan Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Berbagai langkah untuk mempersiapkan prasarana, sarana maupun personil serta komponen-komponen lainnya guna menunjang penyelengaraan Pemerintahan Kota Tasikmalaya telah dilaksanakan sebagai tuntutan dari pembentukan daerah otonom itu sendiri.

Pada tanggal 18 Oktober 2001 pelantikan Drs. H. Wahyu Suradiharja sebagai PJ Walikota Tasikmalaya oleh Gubernur Jawa Barat dilaksanakan di Gedung Sate Bandung. Sesusuai Undang-Undang No. 10 Tahun 2001 bahwa wilayah Kota Tasikmalaya terdiri dari 8 Kecamatan dengan jumlah Kelurahan sebanyak 15 dan Desa sebanyak 54, tetapi dalam perjalanannya melalui Perda No. 30 Tahun 2003 tentang perubahan status Desan menjadi Kelurahan, desa-desa dilingkungan Pemerintah Kota Tasikmalaya berubah statusnya menjadi Kelurahan, oleh karena itu maka jumlah kelurahan menjadi sebanyak 69 kelurahan, sedangkan kedelapan kecamatan tersebut antara lain :

1. Kecamatan Tawang
2. Kecamatan Cihideung
3. Kecamatan Cipedes
4. Kecamatan Indihiang
5. Kecamatan Kawalu
6. Kecamatan Cibeureum
7. Kecamatan Mangkubumi
8. Kecamatan Tamansari

Sebagai salah satu syarat Pemerintah Daerah Otonom diperlukan alat kelengkapan lainnya berupa Lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Melalui surat keputusan No. 133 Tahun 2001 Tanggal 13 Desember 2001 Komisi Pemilihan Umum membentuk Panitia Pengisian Keanggotaan Dewan Perwakilan Rakyat KotaTasikmalaya (PPK-DPRD). Melalui proses dan tahapan-tahapan yang dilaksanakan PPK-DPRD Kota Tasikmalaya yang cukup panjang, maka pengangkatan anggota DPRD Kota Tasikmalaya disyahkan melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat No. 171/Kep.380/Dekon/2002 Tanggal 26 April 2002, selanjutnya tanggal 30 April 2002 diresmikannya keanggotaan DPRD Kota Tasikmalaya yang tetama kali.

Pada tanggal 14 November 2002 dilantiknya Bp. Drs. H. Bubun Bunyamin sebagai Walikota Tasikmalaya, pelantikan Walikota tersebut adalah segabai puncak momentum dari pemilihan Kepala Daerah pertama di Kota Tasikmalaya sebagai hasil dari Tahapan proses pemilihan yang dilaksanakan oleh Legislatif.


Sejarah Singkat Kabupaten Tasikmalaya
R.A.A Wiratanuningrat
Dimulai pada abad ke VII sampai abad ke XII di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kabupaten Tasikmalaya, diketahui adanya suatu bentuk Pemerintahan Kebataraan dengan pusat pemerintahannya di sekitar Galunggung, dengan kekuasaan mengabisheka raja-raja (dari Kerajaan Galuh) atau dengan kata lain raja baru dianggap syah bila mendapat persetujuan Batara yang bertahta di Galunggung. Batara atau sesepuh yang memerintah pada masa abad tersebut adalah sang Batara Semplakwaja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara Wastuhayu, dan Batari Hyang yang pada masa pemerintahannya mengalami perubahan bentuk dari kebataraan menjadi kerajaan.

Kerajaan ini bernama Kerajaan Galunggung yang berdiri pada tanggal 13 Bhadrapada 1033 Saka atau 21 Agustus 1111 dengan penguasa pertamanya yaitu Batari Hyang, berdasarkan Prasasti Geger Hanjuang yang ditemukan di bukit Geger Hanjuang, Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Tasikmalaya. Dari Sang Batari inilah mengemuka ajarannya yang dikenal sebagai Sang Hyang Siksakanda ng Karesian. Ajarannya ini masih dijadikan ajaran resmi pada jaman Prabu Siliwangi (1482-1521 M) yang bertahta di Pakuan Pajajaran. Kerajaan Galunggung ini bertahan sampai 6 raja berikutnya yang masih keturunan Batari Hyang.

Periode selanjutnya adalah periode pemerintahan di Sukakerta dengan Ibukota di Dayeuh Tengah (sekarang termasuk dalam Kecamatan Salopa, Tasikmalaya), yang merupakan salah satu daerah bawahan dari Kerajaan Pajajaran. Penguasa pertama adalah Sri Gading Anteg yang masa hidupnya sejaman dengan Prabu Siliwangi. Dalem Sukakerta sebagai penerus tahta diperkirakan sejaman dengan Prabu Surawisesa (1521-1535 M) Raja Pajajaran yang menggantikan Prabu Siliwangi.

Pada masa pemerintahan Prabu Surawisesa kedudukan Pajajaran sudah mulai terdesak oleh gerakan kerajaan Islam yang dipelopori oleh Cirebon dan Demak. Sunan Gunung Jati sejak tahun 1528 berkeliling ke seluruh wilayah tanah Sunda untuk mengajarkan Agama Islam. Ketika Pajajaran mulai lemah, daerah-daerah kekuasaannya terutama yang terletak di bagian timur berusaha melepaskan diri. Mungkin sekali Dalem Sukakerta atau Dalem Sentawoan sudah menjadi penguasa Sukakerta yang merdeka, lepas dari Pajajaran. Tidak mustahil pula kedua penguasa itu sudah masuk Islam.

Periode selanjutnya adalah pemerintahan di Sukapura yang didahului oleh masa pergolakan di wilayah Priangan yang berlangsung lebih kurang 10 tahun. Munculnya pergolakan ini sebagai akibat persaingan tiga kekuatan besar di Pulau Jawa pada awal abad XVII Masehi: Mataram, banten, dan VOC yang berkedudukan di Batavia. Wirawangsa sebagai penguasa Sukakerta kemudian diangkat menjadi Bupati daerah Sukapura, dengan gelar Wiradadaha I, sebagai hadiah dari Sultan Agung Mataram atas jasa-jasanya membasmi pemberontakan Dipati Ukur. Ibukota negeri yang awalnya di Dayeuh Tengah, kemudian dipindah ke Leuwiloa Sukaraja dan “negara” disebut “Sukapura”.

Pada masa pemerintahan R.T. Surialaga (1813-1814) ibukota Kabupaten Sukapura dipindahkan ke Tasikmalaya. Kemudian pada masa pemerintahan Wiradadaha VIII ibukota dipindahkan ke Manonjaya (1832). Perpindahan ibukota ini dengan alasan untuk memperkuat benteng-benteng pertahanan Belanda dalam menghadapi Diponegoro. Pada tanggal 1 Oktober 1901 ibukota Sukapura dipindahkan kembali ke Tasikmalaya. Latar belakang pemindahan ini cenderung berrdasarkan alasan ekonomis bagi kepentingan Belanda. Pada waktu itu daerah Galunggung yang subur menjadi penghasil kopi dan nila. Sebelum diekspor melalui Batavia terlebih dahulu dikumpulkan di suatu tempat, biasanya di ibukota daerah. Letak Manonjaya kurang memenuhi untuk dijadikan tempat pengumpulan hasil-hasil perkebunan yang ada di Galunggung.

Nama Kabupaten Sukapura pada tahun 1913 diganti namanya menjadi Kabupaten Tasikmalaya dengan R.A.A Wiratanuningrat (1908-1937) sebagai Bupatinya.

Tanggal 21 Agustus 1111 Masehi dijadikan Hari Jadi Tasikmalaya berdasarkan Prasasti Geger Hanjuang yang dibuat sebagai tanda upacara pentasbihan atau penobatan Batari Hyang sebagai Penguasa di Galunggung.


Geotopografi
Wilayah Kabupaten Tasikmalaya secara geografis berada di sebelah tenggara wilayah Propinsi Jawa Barat, dengan batas-batas wilayah :
Sebelah Utara Kab. Majalengka,Ciamis,Kota Tasikmalaya
Sebelah Barat Kab. Garut
Sebelah Timur Kab. Ciamis
Sebelah Selatan Samudera Indonesia

geotopografi
Alam Tasikmalaya
Secara geografis terletak antara 107° 56' BT - 108°8' BT dan 7° 10' LS - 7° 49' LS dengan jarak membentang Utara Selatan terjauh 75 Km dan arah Barat Timur 56,25 Km. Luas keseluruhan sebesar 2.563,35 Km2.Sebagian besar wilayahnya berada pada ketinggian antara 0 - 1.500 m diatas permukaan laut yang membentang dari arah utara dan yang terendah kearah selatan.

Sebagian kecil wilayahnya yaitu 0,81 % berada pada ketinggian diatas 1.500 m, keadaan iklim umumnya bersifat tropis dan beriklim sedang dengan rata-rata suhu di dataran rendah antara 20°-34° C dan di dataran tinggi berkisar 18°-22° C. Curah hujan rata-rata 2,072 mm/tahun, jumlah hari hujan rata-rata 82 hari.

Wilayah Administrasi dan Pemerintahan

Wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya terdiri dari : 39 Kecamatan dan 348 desa. Berikut adalah Tabel Daftar Kecamatan dan Luas Wilayah di Kabupaten Tasikmalaya :
No. Nama Kecamatan Luas Wilayah (km2)/Jumlah Desa (Buah)
1 Cipatujah 242,65 15
2 Karangnunggal 136,10 14
3 Cikalong 136,96 13
4 Pancatengah 199,05 11
5 Cikatomas 132,63 9
6 Cibalong 58,35 6
7 Parungponteng 47,23 8
8 Bantarkalong 59,63 8
9 Bojongasih 35,09 6
10 Culamega 58.04 5
11 Bojonggambir 148,36 10
12 Sodonghilir 97,11 12
13 Taraju 55,53 9
14 Salawu 50,47 12
15 Puspahiang 33,19 8
16 Tanjungjaya 36,37 7
17 Sukaraja 43,14 8
18 Salopa 120,78 9
19 Jatiwaras 77,39 11
20 Cineam 77,69 10
21 Karangjaya 47,85 4
22 Manonjaya 39,49 12
23 Gunungtanjung 32,31 7
24 Singaparna 18,82 10
25 Mangunreja 26,65 6
26 Sukarame 15,58 6
27 Cigalontang 119,13 16
28 Leuwisari 44,60 7
29 Padakembang 30,15 5
30 Sariwangi 40,85 8
31 Sukaratu 33,41 8
32 Cisayong 48,33 13
33 Sukahening 23,80 7
34 Rajapolah 15,38 8
35 Jamanis 14,99 8
36 Ciawi 42,23 11
37 Kadipaten 43,26 6
38 Pagerageung 63,37 10
39 Sukaresik 17,39 8
Jumlah 2.563,35 351

Peta Obyek Wisata Tasik
petahttp://tasikmalayakab.go.id/images/stories/potensi_daerah/pariwisata/peta.jpg

1. PAGERAGEUNG

* PONPES Suryalaya
* Pondok Inabah
* Situs Cakrabuana
* Geger Sunten

2. SUKARESIK

* Cipanas Cipacing

3. JAMANIS

* Rest Area

4. RAJAPOLAH

* Pusat Kerajinan

5. CISAYONG

* Arena Domba Laga

6. SUKARATU

* Obyek Wisata Gn.Galunggung

7. PADAKEMBANG

* Curug Citiis

8. SUKARAME

* Makam KHZ.Mustofa

9. MANONJAYA

* Mesjid Kuno manonjaya
* Komplek Makam Tanjungmalaya (Para Bupati Sukapura)
* Produsen Bedog Galonggong
* Jembatan Kuno Cirahong
* Situs Gimbal dan Cilangkap

10. CINEAM

* Situs Kabuyutan Nagaratengah
* Situs Makam Rd.A.Dewi Sartika

11. SUKARAJA

* Museum Sukapura
* Batik Sukaraja
* Makam Baginjing

12. PARUNG PONTENG

* Cipanas Cigunung

13. SALOPA

* Situs Bumi Rongsok
* Curug Cimanintin

14. CIBALONG

* Goa Rangga Wulung
* Cipanas

15. CIKATOMAS

* Goa Cupu Agung
* Goa Hulu Kuya

16. KARANGNUNGGAL

* Goa Malawang
* Goa Arca & Goa Wayang

17. PANCATENGAH

* Goa Nyai & Goa Ciodeng
* Taman Batu Jesper

18. CIKALONG

* Pantai Karangtawulan
* Pantai Cimanuk
* Pantai Sindangjaya
* Pantai Padabumi
* Pantai Kalapa Rea
* Lokasi Ziarah Syech Zaenudin dan Garuda Ngupuk
* Goa Parat dan Goa Lalay
* Goa Cimaranggi

19. CIPATUJAH

* Pantai Cipatujah
* Cipanas Cipatujah
* Pantai Bubujung
* Lokasi Ziarah Joglo
* Goa Sarongge
* Makam Ambu Hawuk
* Curug Dengdeng

* Pantai Sindangkerta/Taman Lengsar
* Pantai Pamayangsari

20. BANTARKALONG

* Lokasi Ziarah Pamijahan
* Lokasi Ziarah Panyalahan
* Goa Safarwadi
* Imah Sunda

21. CULAMEGA

* Situ Denuh
* Kabuyutan/Situs Denuh
* Goa Potong Kujang
* Goa Binuang
* Goa Cukuda Hilang

22. BOJONGGAMBIR

* Perkebunan Teh

23. SODONGHILIR

* Goa Daha
* Makam Syech TB.Anggariji

24. TARAJU

* Situs Kaputihan
* Agrowisata Perkebunan Teh dan Situ Cilangla
* Goa Dasarongga

25. PUSPAHIANG

* Lokasi Ziarah Tumenggung

26. TANJUNGJAYA

* Lokasi Ziarah Prabu Linggaswatu
* Situ Sanghiyang

27. SALAWU

* Lokasi Adat Kampung Naga
* Situs Kertanudin
* Curug Panoongan

28. CIGALONTANG

* Curug Ciparay

29. LEUWISARI

* Prasasti Gegerhanjuang

30. SARIWANGI

* Malaganti Center

31. SUKAHENING

* Air Tujuh Rasa

32. CIAWI

* Cipanas Gajawong
* Cipanas Pamoyanan
* Imah Tasik (Rest Area)

33. KADIPATEN

* Kawah Karaha
* Air Tujuh Rasa

Pengembangan Karaha Bodas Sebagai Kawasan Strategis
Kawasan Karaha Bodas adalah sebuah kawasan yang terletak di Kabupaten Garut dan Kabupaten Tasikmalaya, yang meliputi Kecamatan Pangatikan, Kecamatan Karangtengah (Kabupaten Garut) serta di Kecamatan Kadipaten dan Kecamatan Ciawi di Kabupaten Tasikmalaya. Dalam tata ruang Kabupaten Tasikmalaya, Kawasan Karaha terletak di Wilayah Pengembangan Utama Utara (WPU-U), Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) I yang meliputi Kecamatan Ciawi, Kadipaten, Pagerageung, Sukaresik, Jamanis, Sukahening, Rajapolah, Sukaratu dan Cisayong.
Read more...

Wisata, Swasta dan Pemerintah
PENGUNJUNG tempat wisata alam selama musim lebaran ini menukik tajam. Di gunung Galunggung, umpamanya, dikabarkan jumlah pengunjung melorot dibanding tahun lalu. Usut punya usut, isu kawah retak jadi biangnya.

Pedagang makanan dan suvenir mengeluh, penghasilan mereka terkena imbas. Sudah tentu pundi-pundi Pemkab Kabupaten Tasikmalaya turut surut. Diduga kuat, menurunnya wisatawan ke Gunung Galunggung, lantaran isu kawah retak itu. Paling tidak, itulah hasil penelusuran wartawan.
Read more...

Jasper, Batu Merah Dari Pancatengah
Batu merah Jasper (Inggris) atau Jaspis (Indonesia), merupakan anggota mineral keluarga kuarsa (quartz family mineral), diduga merupakan hasil dari aktifitas gunung api bawah laut pada masa jutaan tahun yang lalu.
Read more...

Pantai Sindangkerta
Keindahan panorama Obyek Wisata Bahari yang ada di wilayah Kabupaten Tasikmalaya kurang lengkap jika tidak berkunjung ke Pantai Sindangkerta. Pantai ini hanya berjarak 4 Km dari Pantai Cipatujah ke arah Timur. Kawasan wisata sangat cocok untuk tempat wisata baik keluarga maupun rombongan.Banyaknya pohon-pohon besar yang tumbuh dipinggiran pantai dan semilir angin laut menciptakan kesejukan dan menjadikan betah untuk berlama-lama di pantai ini.
Read more...

Pantai Cipatujah
4Setelah porak poranda dilanda Tsunami pada Tahun 2006, kini Pantai Selatan Tasikmalaya, atau terkenal dengan pantai Cipatujah yang merupakan salah satu obyek wisata alam, dengan daya tarik utama berupa wisata bahari yang ada di kabupaten Tasikmalaya mulai bersolek kembali.

Saat ini dikawasan wisata ini telah dibangun kios-kios wisata, Gazebo,Area bermain anak, Menara Pandang, Mesjid, Panggung Terbuka, Penginapan, Area Parkir yang cukup luas, dan sarana rekreasi lainnya.

Pengelolaan obyek wisata pantai Selatan ini dibawah kendali Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya. Obyek wisata pantai Selatan Cipatujah meliputi area kurang lebih 115 hektar, terletak kurang lebih 74 km dari pusat kota Tasikmalaya. Pantai Tasikmalaya Selatan memiliki potensi wisata yang tersebar di sepanjang pantai Cipatujah sampai Cikalong. Disamping obyek-obyek wisata tersebut masih terdapat obyek dan daya tarik lain. Pada area pantai Selatan Tasikmalaya bermuara sungai-sungai yang cukup besar membuat panorama alam disekitarnya indah dan sangat potensial untuk dikemas menjadi obyek wisata.
Read more...

Situ Sanghiyang
Situ Sanghiyang merupakan salah satu obyek wisata air yang terletak di Desa Cilolohan dan Desa Cibalanarik yang berjarak sekitar 27 Km dari Pusat Kota Tasikmalaya. Disekitar Danau terdapat Makam Keramat Eyang Prabu Linggaswatu. Pada obyek wisata ini terdapat pula camping area atau area untuk berkemah, dengan pemandangan yang masih asri jauh dari hiruk pikuk perkotaan membuat obyek wisata ini cocok menjadi tempat melepas penat dan arena bermain bagi anak-anak.
Read more...

Situ Denuh
Satu lagi obyek wisata air yang tidak kalah asri dan sejuk, adalah Situ Denuh. yang terletak di Desa Cikuya Kecamatan Culamega. Bukan hanya keindahan dan daya tarik alami yang disuguhkan disini, dapat juga dijumpai di sekitar Situ terdapat Tujuh Situs Denuh yaitu : Situs Tugu,Situs Bale Kembang, Situs Lemah Badong, Goa Potong Kujang, Goa Binuang, Goa Cikuda Hilang, Goa Pasir Leungit,dan Makam Keramat Eyang Jatnaka atau Batara Karang.
Read more...

Pantai Karangtawulan
1Suasana yang alami dan sepi menjemput saat berkunjung ke Pantai Karangtawulan. Deru ombat laut selatan yang menghantam karang-karang berserakan mewarnai keheningan obyek wisata ini. Karangtawulan merupakan salah satu Pantai yang berkarang curam. Sekitar 300 M dari bibir pantai terdapat beberapa Atol atau Pulau Karang yang pada musim tertentu dihuni berbagai jenis burung.Berlokasi di Desa Cimanuk Kecamatan Cikalong Kabupaten Tasikmalaya. Berjarak sekitar 97 Km dari Pusat Kota Tasikmalaya atau sekitar 40 Km dari Pantai Pangandaran.
Read more...

Pantai Pamayangsari

Pantai Pamayangsari merupakan salah satu Obyek wisata bahari yang ada di wilayah Kabupaten Tasikmalaya., tepatnya di Kecamatan Cipatujah. Pantai Pamayangsari merupakan pantai yang landai dengan panorama alam pesisiryang khas. Bebatasan langsung dengan tempat konservasi penyu hijau yang langka dan dilindung. disebelah timurnya terdapat Pelabuhan Nelayan dan tempat Pelelangan Ikan.

Masjid Manonjaya
HANYA ada dua masjid agung di tatar Jawa Barat yang bangunannya dilindungi Undang-Undang Kepurbakalaan Badan Arkeologi RI, yaitu Masjid Agung Sumedang dan Masjid atau Kaum Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya. Kedua masjid agung tersebut selain berusia ratusan tahun, juga keduanya memiliki Nilai Sejarah Tinggi yang perlu dilestarikan.

Pembangunan Masjid Agung Manonjaya terkait dengan pindahnya Ibukota Tasikmalaya dari Kecamatan Sukaraja (Sukapura) ke Manonjaya pada tahun 1832. Penata dan perencana bangunan adalah Patih Raden Tumenggung Danuningrat, pada dekade pemenintahan Bupati Sukapura ke-delapan.

Gunung Galunggung
galunggungGunung Galunggung merupakan gunung berapi dengan ketinggian 2.167 m di atas permukaan laut, terletak sekitar 17 km dari pusat kota Tasikmalaya Berlokasi di Desa Linggajati Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya. Setelah terakhir meletus pada Tahun 1982, Panorama alam di sekitar Gunung Galunggung saat ini sangat mempesona. Kawah yang dulu memuntahkan lahar panas, pasir dan bebatuan, kini telah berwujud menjadi semacam danau luas, bening, berair dan tenang serta dikelilingi hutan hijau yang asri

Terdapat beberapa daya tarik wisata yang ditawarkan antara lain: obyek wisata dan daya tarik wanawisata dengan areal seluas kurang lebih 120 hektar dibawah pengelolaan Perum Perhutani, berupa air terjun dan kawah. Pengunjung diijinkan mengunjungi kawah Galunggung, dan dapat mencapai kawah dengan meniti tangga permanen dengan jumlah anak tangga sebanyak 620 buah. dan kawah ini bisa dijadikan tempat wisata rekreasi air dan tempat pemancingan.
kawahwarung
Tangga Menuju Kawah

Obyek wisata lainnya seluas kurang lebih 3 hektar berupa pemandian air panas (cipanas) lengkap dengan fasilitas kolam renang, kamar mandi dan bak rendam air serta tersedia juga tempat bermain anak, panggung hiburan, saung ranggon tempat botram (makan-makan), kios wisata, juga arena camping.
kolamrenang
Bak Rendam

Untuk menuju kawasan Galunggung, terdapat tiga alternatif jalan yang dapat ditempuh, yaitu :

*
Dari arah Bandung lewat Ciawi, di depan Pasar lama Indihiang, belok ke arah kanan + 12 km.
*
Dari arah Bandung lewat Ciawi, setelah jembatan Cikunir (Singaparna) belok ke arah kiri + 14 km
*
Dari pusat kota Tasikmalaya langsung ke arah Barat lewat Jl. Bantar-Tawangbanteng, + 17 km

gasebo
A. PROSPEK PASAR

Kebanyakan pengunjung obyek wisata Galunggung adalah wisatawan lokal, sementara wisatawan dari mancanegara masih dibawah hitungan 100 orang rata-rata per tahun. Rata-rata wisatawan dalam maupun luar negeri yang berkunjung ke Gunung Galunggung berjumlah 213.382 orang per tahun.

Melihat potensi dayatarik yang mungkin digali, serta posisi geografis yang cukup strategis, serta memiliki kekhasan dari kondisi alamnya obyek wisata Gunung Galunggung cukup potensial untuk dijual kepada wisatawan mancanegara. Namun obyek wisata tersebut belum dikemas dalam paket wisata yang profesional.

B. PELUANG INVESTASI

Masih banyak peluang obyek dan dayatarik wisata yang dapat digali dari Gunung Galunggung, mengingat fasilitas yang tersedia saat ini masih minim, sehingga masih terbuka luas untuk dikembangkan. Peluang investasi dalam rangka pengembangan obyek wisata Gunung Galunggung dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

* Perlu ada penataan infrastruktur transportasi yang menjamin lancarnya pengunjung ke luar masuk obyek wisata.
* Kapasitas obyek wisata Cipanas perlu diperbesar dengan menambah daya tarik lain.
* Obyek wisata Gunung Galunggung potensial dibangun tempat peristirahatan.

Kampung Naga
6Kampung Naga merupakan perkampungan tradisional dengan luas areal kurang lebih 4 ha. Lokasi obyek wisata Kampung Naga terletak pada ruas jalan raya yang menghubungkan Tasikmalaya - Bandung melalui Garut, yaitu kurang lebih pada kilometer ke 30 ke arah Barat kota Tasikmalaya. Secara administratif Kampung Naga termasuk kampung Legok Dage Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya.

Daya tarik obyek wisata Kampung Naga terletak pada kehidupan yang unik dari komunitas yang terletak di Kampung Naga tersebut. Kehidupan mereka dapat berbaur dengan masyrakat modern, beragama Islam, tetapi masih kuat memlihara Adat Istiadat leluhurnya. Seperti berbagai upacara adat, upacara hari-hari besr Islam misalnya Upacara bulan Mulud atau Alif dengan melaksanakan Pedaran (pembacaan Sejarah Nenek Moyang) Proses ini dimulai dengan mandi di Sungai Ciwulan dan Wisatawan boleh mengikuti acara tersebut dengan syarat harus patuh pada aturan disana.
Kujang Pusaka4

Bentuk bangunan di Kampung Naga sama baik rumah, mesjid, patemon (balai pertemuan) dan lumbung padi. Atapnya terbuat dari daun rumbia, daun kelapa, atau injuk sebagi penutup bumbungan. Dinding rumah dan bangunan lainnya, terbuat dari anyaman bambu (bilik). Sementara itu pintu bangunan terbuat dari serat rotan dan semua bangunan menghadap Utara atau Selatan. Selain itu tumpukan batu yang tersusun rapi dengan tata letak dan bahan alami merupakan ciri khas gara arsitektur dan ornamen Perkampungan Naga.

Obyek wisata ini merupakan salah satu obyek wisata budaya di Tasikmlaya Wisatawan biasanya memiliki minat khusus yaitu ingin mengetahui dan membuktikan secara nyata keadaan tesebut. Pengembangan obyek wisata Kampung Naga termasuk dalam jangkauan pengembangan jangka pendek.

Obyek wisata budaya ini dapat ditempuh dengan waktu 1 jam baik dari Garut maupun Pusat Kota Tasikmalaya,dengan area parkir yang cukup luas, akan dijumpai Monumen Kujang Pusaka yang merupakan Simbol dan dibuat dari 900 Pusakayang ada di Indonesi, disini juga dijumpai kios-kios makanan minuman dan kerajinan-kerajinan khas kampung naga juga kerajinan lain di kabupaten Tasikmalaya.

Untuk menuju ke perumahan adat Naga, harus menuruni anak tangga yang berjumlah 360 buah anak tangga ayng disuguhi dengan indahnya pemandangan asri dan alami. Di sebelah timur Kampung Naga, terdapat hutan keramat yang dikelilingi Sungai Ciwulan dan terdapat pula makam keramat Sembah Dalem Singaparana (Leluhur atau Karuhun Masyarakat Kampung Naga)

Wisatawan pun dapat menginap di rumah-rumah penduduk di kampung naga ini, akan tetapi sebelumnya harus melakukan survey dan meminta ijin kepada Sesepuh Adat apabila mendatangkan rombongan karena menyangkut jumlah rumah yang hanya berjumlah 112 ruma.


A. PROSPEK PASAR

Obyek wisata ini cukup banyak dikinjungi wisatawan baik wisatawan Mancanegara maupun wisatawan Nusantara karena letaknya disepanjang jalur Tasikmlaya- Bandung lewat Garut yang merupakan lokasi strategis. Berdasarkan data dari Kantor Pariwisata Tasikmalaya jumlah Wisatawan Mancanegara tahun 1997 – 2000 berjumlah 33.629 orang, sedangkan Wisatawan Nusantara tahun 1997 – 2000 berjumlah 106.535 orang. Rata-rata Wisatawan dalam maupun luar negeri yang berkunjung ke obyek wisata Kampung Naga berjumlah 46.721orang per tahun.

Pencapaian target pendapatan dari obyek wisata Kampung Naga termasuk baik, yaitu dapat mencapai atau bahkan melampaui target. Namun apabila dilihat dari nominal pendapatan retribusi yang diperoleh, pendapatan retribusi obyek wisata Kampung Naga merupakan peringkat keempat. Sebagai gambaran, target pendapatan obyek wisata Kampung Naga tahun 2000 Rp. 2.000.000,00 realisasi Rp. 2.162.000,00, pencapaian target 108,10 persen.

B. PELUANG INVESTASI

Investasi fisik yang dilakukan untuk pengembangan obyek wisata Kampung Naga harus dibatasi, agar tidak menjadi bumerang malah akan merusak kekhasan dari kehidupan unik yang menjadi daya tarik obyek wisata tersebut. Obyek wisata tersebut merupakan obyek wisata transit, yang dinikmati dalam satu paket perjalanan dengan obyek wisata lain. Peluang investasi yang mungkin dilakukan untuk mengembangkan obyek wisata Kampung Naga berupa promosi pariwisata

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar