17 Juli 2010

Indonesia Miliki Peta Baru Bahaya Gempa

PETA BAHAYA GEMPA
Ketua Tim Revisi Peta Gempa Indonesia Prof. Masyhur Irsyam mempresentasikan peta wilayah Indonesia yang berpotensi rawan gempa yang merupakan bagian dari Peta Bahaya Gempa Indonesia Terbaru tahun 2010 di gedung Bina Graha, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (16/7). Tim Revisi Peta Gempa Indonesia yang terdiri dari sembilan ahli dari berbagai disiplin ilmu meliputi geologi, seismologi, tomografi, geoteknik kegempaan dan deformasi crustal telah menghasilkan peta tentang nilai percepatan tanah maksimum di batuan dasar, sebagai potensi bahaya getaran gempa pada suatu wilayah oleh sumber-sumber gempa di sekitarnya, yang diharapkan bisa bermanfaat untuk keperluan perancangan bangunan tahan gempa, perencanaan wilayah, meminimalkan korban jiwa dan kerugian material serta mendidik masyarakat memahami bahaya gempa yang mereka hadapi.
Sebagai negara yang senantiasa hidup di bawah ancaman gempa bumi, Indonesia saat ini telah memiliki peta baru bahaya gempa yang disusun tim revisi peta gempa Indonesia menggunakan pendekatan probabilitas (tingkat kemungkinan terjadinya gempa) di batuan dasar. Hal itu disampaikan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dalam paparan hasil kerja tim yang berlangsung di ruang rapat Gedung Annex Bina Graha Jakarta, Jumat (16/7) siang.

“Peta baru itu akan diakomodasi dalam revisi Standar Nasional Indonesia (SNI) 03-1726-2002,” kata Djoko Kirmanto. Peta Zonasi Gempa Indonesia dan SNI itu akan dijadikan acuan dalam merancang bangunan tahan gempa pascaterjadinya gempa besar yang memicu tsunami dahsyat di Aceh pada 26 Desember 2004. Oleh karenanya, segala bentuk perizinan pembangunan (IMB), haruslah mempertimbangkan aspek bahaya kegempaan, di samping harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Peta bahaya gempa itu, menurut Djoko, digunakan untuk memperkirakan besarnya beban gempa dalam perencanaan infrastruktur yang tahan gempa. Setelah menjadi standar nasional, diharapkan semua infrastruktur yang akan dibangun mengacu pada peta baru tersebut, sehingga mampu menahan gaya gempa yang mungkin terjadi.

Dengan demikian, kata Djoko, infrastruktur menjadi lebih aman serta korban jiwa dan kerugian materiil bisa diminimalkan dan juga bisa digunakan untuk membantu mendidik masyarakat memahami gaya gempa yang dihadapi. Menteri PU mengatakan peta ini sangat membantu dalam menyiapkan ketahanan bangunan atas gempa di masa mendatang, termasuk infrastruktur pengairan, seperti bendungan.

Aceh menginspirasi
Sementara itu ketua tim, Prof Masyhur Irsyam, mengatakan walaupun peta gempa ini dikembangkan berdasarkan data dan metodologi terkini, namun ke depan masih perlu disempurnakan secara berkelanjutan karena masih banyak penelitian yang perlu dilakukan. “Perlunya studi baru ini untuk mengurangi potensi bahaya gempa yang lebih besar, mengingat pada peristiwa Aceh tahun 2004, kekuatan gempanya lebih besar dari yang diperhitungkan semula. Jadi, gempa Aceh itu harus menjadi inspirasi,” kata Masyhur.

Sebagaimana diketahui, gempa Aceh yang memicu tsunami dahsyat itu tercatat di BMKG Mata Ie berkekuatan 8,9 skala Richter (SR), tapi di Pusat Survei Geologi Amerika Serikat kekuatannya malah mencapai 9,1 bahkan 9,3 SR. Ini rekor gempa terdahsyat kedua yang pernah terekam seismograf sepanjang abad setelah gempa berkekuatan 9,5 meluluhlantakkan Cile pada tahun 1960.

Prosedur baru
Disebutkan bahwa Indonesia pada 2002 telah memiliki standar bangunan dan infrastruktur tahan gempa yang disebut SNI 03-1726-2002. Tapi SNI ini sudah tidak up to date lagi. Peta baru ini justru mengoreksi beberapa hal dari peta gempa lama yang digunakan dalam SNI 2002, karena menggunakan prosedur baru dalam membuat analisis probabilitas bahaya seismik yang digunakan oleh United States Geological Survey (USGS) atau Survei Geologi Amerika Serikat.

Peta analisis probabilitas bahaya seismik merupakan peta tentang nilai percepatan tanah maksimum di batuan dasar sebagai potensi bahaya getaran gempa pada suatu wilayah oleh sumber-sumber gempa di sekitarnya. Dengan menghitung potensi percepatan tanah di batuan dasar, peta ini diharapkan bisa bermanfaat untuk keperluan perancangan bangunan tahan gempa, jembatan, dan perencanaan wilayah.

Anggota tim revisi gempa yang disebutkan Menteri PU itu masing-masing Prof Masyhur Irsyam dari ITB, Dr I Wayan Sengara dari ITB, Fahmi Aldiamar MT dari Departemen PU, Ir M Ridwan dari Departemen PU, Ir Engkon K Kertapati dari Badan Geologi, Dr Danny Hilman Natawidjaja dari LIPI, Prof Sri Widiyantoro (ITB), Wahyu Triyoso PhD dari ITB, Drs Suhardjono dari BMKG, Dr Irwan Meilano dari ITB, dan Ir M Asrurifak MT dari ITB. Hadir dalam paparan itu Staf Khusus Presiden Bidang Penanggulangan Bencana dan Sosial, Andi Arief.

Sementara itu, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pekerjaan Umum, Amwazi Idrus mengatakan, di daerah padat penduduk banyak rumah yang tumbuh atau menempel di daerah rawan gempa. “Jika terkena gempa 4,6 skala Richter saja bisa hancur,” ujar Amwazi. Oleh karenanya, Kementerian PU menargetkan bahwa pada tahun 2012 sudah tercipta mikrozonasi untuk daerah-daerah sensitif alias rawan gempa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar