25 Juli 2010

Meneguhkan Ideologi Muhammadiyah Lewat Pendidikan

Refleksi Satu Abad Muhammadiyah
Pemimpin Ulama Vs Pemimpin Intelektual

DI ANTARA keunikan Muhammadiyah bertalian dengan pemilihan pucuk pimpinan adalah seorang pemimpin tidak dipilih oleh peserta muktamar yang mempunyai hak pilih.

Oleh: Suwito MPd I*

Peserta muktamar yang mempunyai hak suara hanya memilih pimpinan pusat 13 orang. Orang-orang itulah yang melakukan musyawarah untuk menentukan siapa yang paling layak sebagai ketua umum Muhammadiyah.

Diterapkannya cara pemilihan tersebut dimaksudkan untuk mereduksi resistensi yang mungkin timbul pada masing masing peserta muktamar yang berbeda pendapat dalam memilih pemimpin. Muhammadiyah tidak ingin perbedaan pendapat di dalam memilih pemimpin menimbulkan perpecahan berkepanjangan yang tak jarang menghabiskan energi sebagaimana yang terjadi sebelum, pada saat dan sesudah pilkada, pilgub, pileg maupun pilpres.

Virus semisal money politics, black compaign, saling menghujat, memfitnah ataupun melecehkan begitu mewabah dan sulit dikendalikan.

Ditinjau dari sudut historis sosiologis terjadinya fenomena tersebut merupakan suatu kewajaran. Hal itu disebabkan sosok pemimpin mempunyai peran sentral dan paling strategis dalam rekayasa sosial. Di tangan pemimpin sejumlah kekuasaan digenggam. Terlepas ia dikendalikan oleh orang orang di sekitarnya ataukah tidak, merah atau hijaunya sebuah komunitas umat banyak tergantung pada pemimpinnya.

Eksistensi pemimpin tidak hanya memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat, tapi juga agama dalam masyarakat. Tidak salah jika mahfudhat (kata kata mutiara) Arab mengatakan annasu ala diini mulukihi (rakyat akan mengikuti agama raja atau pemimpinnya).

Sejarah kepemimpinan Muhammadiyah selama satu abad setidaknya menunjukkan tentang hal itu. Meski organisasi ini mengikuti irama kepemimpinan mulai dari model kepemimpinan sentralistik - kompetitif sinergik dan kepemimpinan kolektif, namun figur pemimpin tetap mempunyai pengaruh begitu signifikan untuk menentukan mainstream sekaligus stressing prioritas ke mana organisasi itu diarahkan.

Secara global, selama satu abad sejatinya kepemimpinan Muhammadiyah terpetakan menjadi dua, yakni pemimpin ulama dan pemimpin intelektual.

Hardware and software kepemimpinan yang beraura ulama dimulai sejak organisasi ini berdiri pada 8 Dzulhijjah 1330 bertepatan dengan 18 November 1912 sampai 1995 periode KH Azhar Basyir. Jadi, kurang lebih selama 83 tahun organisasi Muhammadiyah dikendalikan oleh tangan tangan halus pemimpin yang ulama. Mayoritas mereka adalah keturunan ulama besar pada zamannya.

Ahmad Dahlan misalnya, beliau adalah keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang ulama yang terkemuka di antara walisongo, yaitu pelopor penyebaran agama Islam di Jawa.

Selama kurun waktu 11 tahun KH Ahmad Dahlan mengukuhkan ideologi Muhammadiyah (1912 - 1923). Beliau juga melakukan Tri Kaderisasi Utama , yakni kaderisasi ulama, pemimpin, mubalig sebagai ujung tombak dalam menyebarkan ideologi Muhammadiyah ke seluruh penjuru Indonesia. Dan rupanya kaderisasi tersebut sukses dengan cemerlang.

Melalui tangan halus sang murabbi sejati, lahirlah pengganti pemimpin yang mempunyai bashirah (keyakinan ideologi dan keilmuan yang mendalam ) sebagai ciri khas sosok ulama.

Apa yang menarik untuk dicermati dari kepemimpinan ulama? Di tangan pemimpin ulama organisasi Islam mempunyai jati diri yang kuat. Syiar keagamaan ideologi Muhammadiyah begitu menyeruak dan menggelora bumi Indonesia.

Lembaga pendidikan Muhammadiyah saat itu mulai jenjang pendidikan Bustanul Atfal, MI, MTs, MA bahkan perguruan tinggi benar benar terwarnai secara mencolok dengan ideologi Muhammadiyah.

Pendek kata, komunitas Muhammadiyah saat itu lebih tercerahkan dengan akidah yang salimah (puritan), ibadah yang shahihah (valid), akhlak karimah, mandiri dan bermartabat.

Ada pun kepemimpinan pasca KH Azhar Basyir, Prof Dr Amin Rais, Prof Dr Syafii Maarif, dan Prof Dr Dien Syamsudin merupakan tipikal pemimpin yang intelektual. Mereka dikenal sebagai sosok pemimpin menghimpun beragam tipologi pemimpin modern yang authoritative (pandai memobilisasi orang untuk mencapai visi), affiliative (mahir dalam menciptakan keharmonisan dan membangun ikatan emosional), democratic (mendorong konsensus melalui partisipasi), pace setting (meletakkan standar yang tinggi untuk kinerja), serta coaching (cerdas dalam mengembangkan sumber daya manusia untuk menunjang masa depan).

Mereka bertiga sukses menjadi lokomotif Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modern. Berhasil menampilkan citra organisasi Muhammadiyah sebagai miniatur kelompok Islam yang ramah. Artinya, program yang bersifat eksternal, populis, dan propagandis cukup cemerlang di era kepemimpinan ketiga professor alumnus Barat tersebut.

Namun, program yang bersifat internal seperti halnya Tri Kaderisasi Utama (kaderisasi ulama, pemimpin dan mubalig) sebagai ujung tombak di garda terdepan untuk menggerus penyakit TBC (tahayul, bidah, churafat) kurang mendapatkan porsi yang selayaknya. Akibatnya, penyakit yang sangat berbahaya tersebut begitu menggejala dan menggurita serta tidak mendapatkan prioritas penyelesaian sebagaimana periode kepemimpinan ulama.

Lembaga pendidikan Muhammadiyah dari mulai play group, bustanul athfal, MTs/SMP, MA/SMA bahkan universitas yang berlabel Muhammadiyah tumbuh bak cendawan di musim hujan. Tetapi peserta didik khususnya tingkatan SLTP/SLTA dan mahasiswa kurang mempunyai ‘warna’ Muhammadiyah. Mata Pelajaran (KMD) Kemuhammadiyahaan kurang mendapat tempat sebagai wahana doktrinisasi bagi orang orang yang belum Muhammadiyah. Praktis lembaga pendidikan Muhammadiyah hanya sekadar label yang tanpa isi.

Betapa banyak mahasiswa Islam yang belajar di universitas Muhammadiyah yang meninggalkan salat, mahasiswinya menanggalkan jilbab. Pendek kata, suasana religius tidak begitu tampak dalam kehidupan universitas yang berlabel Muhammadiyah.

Lalu, pemimpin bagaimanakah yang relevan dengan nafas peradaban Muhammadiyah di abad ini? Ditinjau dari historis kelahiran Muhamadiyah, tampaknya pemimpin ulama yang lebih relevan memimpin organisasi yang memprioritaskan dakwah islamiyah dan sosial kemasyarakatan.

Hal itu dimaksudkan agar terjadinya kejelasan ‘gender muhammadiyah’ yang mempunyai megaproyek tajrid (pemurnian) dalam bidang ideologi dan tajdid (pembaharuan) dalam bidang sosial sebagaimana yang telah dirintis pendahulunya selama kurun waktu 83 tahun.


Meneguhkan Ideologi Muhammadiyah Lewat Pendidikan

Dien Syamsuddin
Sesuai dengan tema perserikatan pasca muktamar Malang, revitalisasi, maka kita memandang perlu untuk melakukan revitalisasi dalam berbagai bidang, terutama pada bidang-bidang yang menjadi core activity muhammadiyah, seperti pendidikan. Otokritik yang kita terima selama ini menyatakan bahwa titik lemah dari gerakan Muhammadiyah yang termutakhir adalah dalam bidang pendidikan. Terutama menyangkut kualitas, termasuk juga tentang keterkaitan output dari lembaga pendidikan Muhammadiyah dengan Muhammadiyah itu sendiri. Memang belum ada survey tetapi disinyalir keterkaitan antara output lembaga pendidikan Muhammadiyah dengan Muhammadiyah baik sebagai organisasi, maupun kemuhammadiyahan sebagai nilai ideology itu sangat-sangat rendah.
Oleh karena itu, hal teserbut perlu menjadi pembicaraan bersama untuk kita cari jalan keluarnya. Khusus mata pelajaran al Islam dan Kemuhammadiyahan, ini memang dirancang oleh perumusnya dulu, sebagai ciri khas lembaga pendidikan Muhammadiyah. Ciri khas inilah yang membedakan sekolah Muhammadiyah dengan sekolah non-Muhammadiyah. Maka posisi dari mata pelajaran ini, Al Islam dan kemuhammadiyahan ini memang sangat-sangat sentral.Oleh karena itu sekali lagi mata pelajaran ini sangat sentral dan juga sebagai medium untuk menyebarkan paham keagamaan Muhammadiyah. Apalagi kita sekarang menghadapi masalah lemahnya penghayatan nilai-nilai ideologis yang menjadi anutan Muhammadiyah, sebab tidak hanya di sekolah-sekolah Muhammadiyah, termasuk juga di kalangan Pimpinan, dan juga anggota Muhammadiyah. Sekarang ini kita menghadapi ada tawaran-tawaran ideologi oleh sales-sales ideologi yang banyak berkeliaran. Terdapat fakta, ada pimpinan Muhammadiyah, yang terpengaruh pada pesona ideologi-ideologi itu yang kemudian mereka ikuti.

Kalau seandainya mereka keluar dari Muhammadiyah, saya melihatnya agak mendingan. Kita tinggal mencari anggota baru Muhammadiyah dari pangsa pasar lain. Tetapi ditengarai kelompok ini atau kader-kader Muhammadiyah ini tetap bertahan di dalam Muhammadiyah. Punya peran dan fungsi di amal usaha Muhammadiyah. Kalau hanya pada tingkat ini masih mendingan juga, kalau pasif. Tetapi mereka justru aktif dan proaktif, bahkan agresif, mungkin ada yang lebih tinggi lagi dari agresif, untuk menyebarkan paham keagamaan baru yang mereka yakini ke kalangan Muhammadiyah, termasuk ke kalangan peserta didik Muhammadiyah. Yang mana paham itu pada titik-titik tertentu, berbeda dengan Muhammadiyah. Kalau terjadi dan berlangsung terus menerus, 5, 10, 15 tahun maka terjadilah kekeroposan dalam Muhammadiyah. Karena ada pengikisan oleh orang-orang lain. Contoh soal saya hadapi sendiri, menjelang Muktamar ada gebyar Muktamar dan milad di sebuah cabang Muhammadiyah di Jakarta, yang acaranya penuh dengan penampilan seni budaya oleh beberapa sekolah. Waktu sangat mepet, saya diminta menyampaikan tausyiah terakhir. Maka saya pilih di atas panggung untuk tidak menyampaikan tausyiah, tetapi saya adakan cerdas cermat dan saya sediakan hadiah, nanti kalau yang bisa jawab saya kasih 50 ribu perorang. Untuk SD pertanyaannya, kapankah dan siapakah pendiri Muhammadiyah, semua anak-anak SD angkat tangan, 5 orang maju ke panggung dan jawabannya semua benar. Untuk SMP, pertanyaannya adalah Apakah tujuan Muhammadiyah? yang angkat tangan juga banyak, 5 maju ke depan, di situ saya kaget, kelimanya menjawab hampir sama, saya kira bunyinya, tujuan Muhammadiyah, mendidik insan yang beriman, bertaqwa, dan berahlak mulia, bla.. bla.. Terus saya bilang, “Di sini apa ada guru kemuhammadiyahan atau Al Islam?” Seorang ibu naik ke panggung. Ibu guru ini menyatakan jawaban itu salah, itu tujuan pendidikan Muhammadiyah, Sedangkan tujuan Muhammadiyah itu, ....bla-bla panjang sekali sampai ada kata keadailan, kesejahteraan, dan lainnya. Saya semakin kaget lagi dengan jawaban ibu guru yang mengajarkan kemuhammadiyahan itu.

Pimpinan Cabang yang sangat mengikuti perkembangan di kompleks itu, mengatakan pada saya, “Pak Dien memang di sini guru-guru kita, tidak hanya dalam mata pelajaran yang lain juga di dalam al Islam dan kemuhammadiyahan banyak yang punya kecenderungan lain, orientasi lain, afiliasi lain. Waktu kampanye dulu saat ada polling tentang partai dan capres itu mereka sering meminjam handphone-nya anak-anak kemudian mengirim SMS untuk calon tertentu”. Gejala semacam ini terjadi di mana-mana, termasuk juga di DIY ini dan hampir di seluruh Indonesia. Bagaimana kita menyikapi? Inilah yang penting kita lakukan ke depan. Maka saya sangat tertarik dengan acara ini karena para pesertanya adalah guru-guru al-Islam di sekolah Muhammadiyah. Saya juga akan mengusulkan acara semacam ini agar terus dilakukan. Kita perlu mengambil langkah segera yang sistematis, elegan, dan tidak perlu ada kesan konfrontasi. Tetapi lebih bagus kita lakukan langkah nyata untuk memagari agar Muhammadiyah, termasuk peserta didik Muhammadiyah agar dapat memahami nilai-nilai kemuhammadiyahan. *)

Disarikan dari ceramah tanggal 5 Pebruari 2006, dalam Workshop Pendidikan al-Islam di SMP-SMU Muhammadiyah, yang diselenggarakan oleh JIMM Yogyakarta(ies)


Pendidikan Muhammadiyah Harus Bersifat Reflektif, Transmitif, Progresif
Mantan Menag dan Mendiknas Prof A Malik Fadjar, MSc mengatakan pendidikan Muhammadiyah yang dijiwai dan disemangati "ruh al-Islam dan Kemuham-madiyahan" seharusnya bersifat "reflektif, transmitif. dan progresif."Dan berbasis atau bertumpu , pada keseluruhan potensi dan lingkungan, baik fisik maupun non fisik yang menjadi komunitas basisnya, sehingga membumi dan tidak mengawang-awang." papar Malik Fadjar pada Seminar Nasional "Satu Abad Pendidikan Muhammadiyah Format dan Tantangan Pendidikan Muhammadiyah ke Depan" di kampus Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA (Uhamka) pekan lalu.

Menurut Malik Fadjar, gerak pendidikan adalah gerak menuju terwujudnya peradaban baru (peradaban utama) atau masyarakat madanl yang di dalamnya menggambarkan tingkat pencapaian tertentu dalam berbagai bidang keagamaan, moral, etika, kesenian, industri, ilmu pengetahuan dan teknologi, pemerintahan, dan wawasan pemikiran.

Pendidikan Muhammadiyah ke depan dengan paradigma pembaruan, lanjut Malik Fadjar, harus terus menerus mengembangkan "Kemampuan mengantisipasi; mengerti dan mengatasi mengakomodasi mere-orientasi terhadap tantangan,tuntutan, dan perubahan masa depan. Dia mengutip pesan Khalifah Ali bin Abi Thalib yang menyatakan, "Didiklah dan per-siapkanlah generasi penerusmu untuk suatu zaman yang bukan zarrianmu, karena mereka akan hidup pada zuatu zaman yng bukan lagi zamanmu."

Sementara itu, Ketua Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah Prof Dr Chairil Anwar memaparkan perbandingan antara keberadaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dari masa orde baru dan pada masa reformasi ini. Menurut Chairil, di masa Orde baru PTM tidak mungkin bisa melampaui PTN. "Bahkan mengangkat guru besar sendiri tidak mungkin dilakukan," kisahnya.

"Sedangkan di era reformasi ini perguruan tinggi Muhammadiyah bisa membuka program magister, doktor dan juga .bisa mengangkat guru besar sendiri," tambahnya. "Ke depan, beberapa PTM sudah seharusnya mengembangkan dirinya menjadi perguruan tinggi berkelas Dunia."

Chairil memaparkan jumlah PTM berjumlah 152 buah, 41 buah diantaranya berbentuk Universitas, dan 15 PTM telah menyelenggarakan Program Magister. "Ini mungkin sudah melampaui mimpi para pengga-gasnya dahulu." selorohnya.

Saal ini, lanjutnya, di beberapa daerah ada trend baru, yaitu mergemya beberapa perguruan tinggi kecil berbentuk Akademi dan Sekolah Tinggi menjadi Universitas."Dulu ide merger ini ada kendala, ada Politeknik yang diusulkan menjadi salah satu Fakultas Universitas Muhammadiyah, mereka tidak mau. Karena sebuah perguruan tinggi Muhammadiyah itu tumbuh dari bawah. Alhamdulillah ada era baru, yaitu ada era Merger," katanya

Mantan Rektor Uhamka Prof Dr Qomari Anwar mengatakan karakter guru Muhammadiyah sangat diperlukan untuk mentransfer ilmunya kepada siswa. Pertama, harus memiliki pengetahuan keislaman yang luas dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari serta aktif. Kedua, meningkatkan kualitas keilmuan. Ketiga, zuhud dalam kehidupan, mengajar dan mendidik untuk mencari ridha Allah SWT. Keempat, bersih jasmani dan rohani. Kelima, pernaaf, penyabar, danjujur. Keenam, berlaku adil terhadap peserta didik dan smua stakeholders pendidikan. Ketujuh, mempunyai watak dan sifat robba-niyah yang tercermin dalam pola pikir, ucapan, dan tingkah laku.

Kedelapan, tegas bertindak, profesional, dan proporsional tanggap terhadap berbagai kondisi dan perubahan dunia yang dapat memengaruhi jiwa, keyakinan, dan pola pikir peserta didik. Ke-10, menumbuhkan kesadaran diri sebagai dai. (dik)

Mantan Menag dan Mendiknas Prof A Malik Fadjar, MSc mengatakan pendidikan Muhammadiyah yang dijiwai dan disemangati "ruh al-Islam dan Kemuham-madiyahan" seharusnya bersifat "reflektif, transmitif. "Dan berbasis atau bertumpu , pada keseluruhan potensi dan lingkungan, baik fisik maupun non fisik yang menjadi komunitas basisnya, sehingga membumi dan tidak mengawang-awang." Menurut Malik Fadjar, gerak pendidikan adalah gerak menuju terwujudnya peradaban baru (peradaban utama) atau masyarakat madanl yang di dalamnya menggambarkan tingkat pencapaian tertentu dalam berbagai bidang keagamaan, moral, etika, kesenian, industri, ilmu pengetahuan dan teknologi, pemerintahan, dan wawasan pemikiran. Kedelapan, tegas bertindak, profesional, dan proporsional tanggap terhadap berbagai kondisi dan perubahan dunia yang dapat memengaruhi jiwa, keyakinan, dan pola pikir peserta didik.

-Isu pendidikan tidak bakal terlewatkan dalam Muktamar Satu Abad Muhammadiyah pada 3 hingga 8 Juli 2010 mendatang. Majelis pendidikan telah menyiapkan cetak biru pendidikan muhammadiyah untuk dibahas dalam muktamar. Poin utama dalam cetak biru tersebut adalah penguatan Al-Islam dan nilai kemuhammadiyahan dalam pendidikan yang diselenggarakan Muhammadiyah.

Menurut Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Muhammadiyah, Chairil Anwar, nilai-nilai Al-Islam dan kemuhammadiyahan merupakan pondasi utama pendidikan Muhammadiyah. Nilai tersebut, ujarnya, merupakan nilai ketauhidan yang tak boleh dilepaskan dari pendidikan. "Sejak awal, pendidikan Muhammadiyah tidak bisa lepas dari ketauhidan karena gerakan islam, pondasi utamanya adalah tauhid, " ujarnya kepada Republika, Jumat (25/6).

Dalam cetak biru tersebut, ungkapnya, pendidikan Muhammadiyah lebih dijabarkan secara filosofis. Hal ini berbeda dari cetak biru sebelumnya yang lebih sederhana yakni pendidikan formal dengan tambahan nilai Muhammadiyah.

"Filsafat pendidikan Indonesia merujuk pada Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yakni Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani. Kita ingin melihat model pendidikan dengan filsafat itu seperti apa yang mudah diaplikasikan di masyarakat, " ujarnya.

Pendidikan Muhammadiyah, ujar Chairil, tak pernah mentabukan simbol-simbol modernitas. Selama tidak bertentangan dengan Alquran, Muhammadiyah mengadopsi nilai-nilai modern. Pembagian sekolah ke dalam kelas-kelas sejak awal telah diadopsi dalam penyelenggaraan pendidikan Muhammadiyah meskipun sebagian ulama mengharamkan.

Meski demikian, pendidikan di Muhammadiyah tidak mengadopsi nilai yang bertentangan dengan Alquran. Nilai tersebut seperti sekulerisme. "Nilai Barat yang sangat menonjol kan sekulerisme yakni memisahkan antara duniawi dan rohani. Sejak awal, Muhammadiyah tidak memakai itu, " tegasnya.

Dalam pendidikan, lanjutnya, Muhammadiyah memiliki visi untuk dakwah islam. Dengan visi ini, Muhammdiyah mendekatkan iman dan amal sholeh. "Sejak awal, Muhammadiyah mengembangkan sumber daya manusia dengan visi tidak hanya iman diperlukan, tetapi amal sholeh juga harus diwujudkan, " ujarnya.

Ditambahkannya, tindak lanjut dari cetak biru tersebut akan dimasukkan dalam program kerja pendidikan Muhammadiyah. Cetak biru yang telah disetujui dalam muktamar akan dijadikan landasan program kerja pendidikan Muhammadiyah dalam lima tahun ke depan.

"Jika disetujui, penyelenggara pendidikan Muhammadiyah akan membuat langkah lanjutan dengan program kerja berlandaskan keputusan Muktamar, " jelas Chairil.


Pendidikan Muhammadiyah Fokus Pada Pencerahan Kesadaran Ketuhanan
Seabad lalu Kyai Ahmad Dahlan merintis pembaruan pendidikan dengan melandaskan spiritual dalam wujud tabligh, yang menjadi bagian dakwah amar makruf nahi munkar.

“ Karena itu mestinya pendidikan itu merupakan usaha rasional guna mengembangkan manusia pembelajar yang unggul dalam ipteks, memiliki kesadaran spiritual makrifat, peduli sesama dan senantiasa menyebarkan kebaikan sebagai wujud dakwah amar makruf nahi munkar,” jelas Abdul Munir Mulkhan, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga dan anggota Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Sabtu.

Munir Mulkhan yang berbicara dalam diskusi publik yang diselenggarakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang UGM mengungkapkan, pada dasarnya pendidikan Muhammadiyah adalah pendidikan pencerahan kesadaran ketuhanan yang menghidupkan dan membebaskan manusia dari kebodohan dan kemiskinan.

Menurut Munir Mulkhan, pendidikan Muhammadiyah tadi pada akhirnya bertujuan untuk kesejahteraan dan kemakmuran manusia dalam kerangka kehidupan bangsa, dan tata pergaulan dunia yang terus berubah dan berkembang.

Ia menambahkan, bahwa proses menuntut ilmu merupakan wujud dari keyakinan tauhid, “Adalah kewajiban setiap Muslim mengembangkan, menyebarluaskan, belajar dan mengajarkan Ipteks bagi kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia sebagai pengabdian kepada Allah, yang merupakan wujud keyakinan tauhid,” pungkasnya. (rel/muhammadiyah)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar