25 September 2012


KARAKTERISTIK PENDEKATAN SPASIAL
DALAM PROSES PEMBELAJARAN GEOGRAFI DI SEKOLAH

Oleh: Purwanto


ABSTRAK

Dinamika perkembangan pembelajaran saat ini sangatlah pesat seiring dengan peningkatan Ilmu Pengetahuan dan Tenologi (IPTEK). Demikian halnya dengan mata pelajaran geografi baik ditingkat SMP/MTS maupun SMA/MA, sampai saat ini juga terus berinovasi untuk mencari model pembelajaran yang tepat dan menarik. Pelajaran geografi selama ini dianggap pelajaran yang kurang menarik dan membosankan bagi siswa. Hal ini disebabkan matapelajaran ini hanya disampaikan dengan metode ceramah.
Berbagai cara terus diupayakan supaya pembelajaran geografi disekolah menjadi menarik dan menyenangkan. Salah satunya yaitu dengan mengaplikasikan pendekatan spasial sebagai model pembelajaran geografi di sekolah. Pendekatan spasial yang merupakan ciri kas geografi dalam menyelesaikan permasalahan spasial di lapangan dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk memecahkan permasalahan pembelajaran geografi disekolah. Namun pendekatan spasial yang seperti apa
Objek kajian geografi secara keseluruhan tersebar dipermukaan bumi, begitu luasnya objek yang dikajian tersebut, maka perlu disederhanakan dalam bentuk peta. Peta sebagai sumber informasi geospasial dapat menjawab berbagai permasalahan dipermukaan bumi dengan menggunakan prinsip 5W dan 1H. Meskipun peta tidak asing bagi guru pada umumnya, namun ketrampilan dalam penggunaan peta sebagai bahan ataupun media dalam pembelajaran saat ini masih sangat minimum sekali. Bahkan beberapa guru belum mampu memaknai arti dalam peta.


A. Latar Belakang
Pembelajaran geografi disekolah terus berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Dinamika perkembangan tersebut juga turut dirasakan oleh mata pelajaran geografi. Status mata pelajaran geografi yang masuk dalam Ujian Nasional (UN) merupakan perkerjaan yang tidak mudah. Untuk mengubah mata pelajaran geografi menjadi mata pelajaran yang disenangi dan diminati siswa dan masyarakat. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan cara menngubah model pembelajaran yang bersifat konvensional menjadi model pembelajaran yang kontruksional.
Pembelajaran geografi yang umumnya masih bersifat konvensional harus diubah ke pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik ilmu geografi yang mengedepankan ke 3 pendekatan yaitu keruangan, lingkungan, dan kewilayahan. Ke tiga pendekatan tersebut merupakan kesinergian didalam mempelajari geografi. Namun demikian banyak guru yang belum memahami dan mampu menerapkan ke 3 pendekatan tersebut dalam proses pembelajaran.
Guru geografi seharusnya memiliki karakter berbeda dalam proses pembelajaran dengan guru bidang studi lainnya. Apa yang dijadikan karakter dalam pembelajaran geografi?, karakter dalam geografi adalah ke 3 pendekatan tersebutlah yang akan menjadi karakternya. Dewasa ini pembelajaran geografi tidak memiliki karakter sama sekali sehingga tidak ada bedanya dengan matapelajaran lain. Demikian halnya dengan metode pembelajaran yang dilakukan. Ceramah masih menjadi senjata utama dalam proses pembelajaran.
Bagaimana dengan penerapannya? Untuk penerapan ke 3 pendekatan maka diperlukan kemampuan dalam melakukan identifikasi, interpretasi, analisis, berbagai permasalahan dipermukaan bumi dan bentuk peta maupun citra. Mengapa harus peta dan citra? Dari peta dan citralah guru dapat menganalisis fenomena yang ada disekitar lingkungannya.

B. Karakter Pembelajaran Geografi
Dalam ilmu geografi terdapat 3 pendekatan utama, yaitu pendekatan spasial, pendekatan ekologi, dan pendekatan komplek wilayah. Ketiganya tidak muncul secara instan, namun melui proses perkembangan keilmuan yang sangat lama.Haggett 1987 dalam Yunus 2010, telah membahasnya dalam sub judul “The Legacy of the past” yang menjelaskan perkembangan paradigma keilmuan geografi yang kemudian memunculkan bentuk-bentuk pendekatan yang menjadi acuan utama dalam studi geografi.
Berdasarkan perkembangan paradigma keilmuan georafi, dikenal ada 4 macam paradigma yaitu 1) paradigma eksplorasi, paradigma kelingkungan, 3) paradigma kewilayahan, dan 4) paradigma keruangan. Karakteristik ke empat paradigma tersebut disajikan dalam Tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Karakteristik paradigma keilmuan geografi dengan pendekatannya
Paradigma
Karakteristik
Pendekatannya
Paradigma Eksplorasi
Pemetaan dan penggambaran daerah baru yang memotivasi penelitian dan menghasilkan tulisan-tulisan sederhana tentang daerah baru.
Belum mempunyai ciri khusus karena dianggap belum berupa metode ilmiah
Paradigma Enviromentalis
Analisis yang lenbih sistematik tentang peranan elemen lingkungan terhadap pola kegiatan manusia. Analsis morfometrik dan kausalitas mendominasi dan difokuskan hanya pada wilayah tertentu.
Ecological Approach
Paradigma regionalisme
Analisis lebih mendalam dan lebih luas dengan membandingkan wilayah satu dengan wilayah lainnya dalam penekanan pada keterkaitan antara elemen lingkungannya dengan kegiatan manusianya
Regional Compleks Approach
Paradigma Analisis Spasial
Analisis pada ruang yang lebih khusus di mana space dianggap sebagai variabel utama disamping variabel lain yang banyak dilibatkan. Teknik-teknik analisis kuantitatif mendominasi pada awalnya dan kemudian terjadi penggabungan teknik analisis kuantitatif dan kualitatif.
Spasial Approach
Sumber: Herbert dan Thomas, 1982: Johnston, et al., 2000 dalam Yunus 2010.

Pembelajaran geografi sampai saat ini masih menjadi permasalahan di lapangan. Karakter guru geografi yang dapat memahami sekaligus menerapan ke tiga bentuk pendekatan tersebut sangatlah diharapkan. Ketiga pendekatan tersebut sebagai pembentuk karakter guru geografi yaitu:

1. Pendekatan Spasial (keruangan)
Menurut (Yunus, 2010), Istilah pendekatan keruangan yaitu suatu metode untuk memahami gejala tertentu agar mempunya pengetahuan yang lebih mendalam melaui media ruang yang dalam hal inivariabel ruang mendapatkan posisi utama dalam setiap analisis. Gejala tersebut dalam studi geografi adalah gejala geosfer (gespheric Phenomena). Hal ini diperkuat oleh Goodall (1987) yang mengemukakan bahwa pendekatan keruangan diartikan sebagai suatu metode analisis yang menekankan pada variabel ruang.
Istilah ruang sendiri dapat diartikan absolut maupun relatif. Ruang absolut adalah ruang yang bersifat riil, dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung dipermukaan bumi. Contoh daerah permukiman, persawahan, daerah bencana, dan sebagainnya. Sedangkan ruang relatif merupakan konsep yang diciptakan oleh manusia dan bersifat persepsual dan tidak dapat dilihat oleh mata. Sebagai contoh ruang ekonomi, ruang idiologis, ruang publik, ruang sosial, yang maknanya sangat sulit ditentukan oleh batas-batasnya. Namun demikian seorang peneliti akan berusaha membuat batasan-batasan agar pegertian ruang tersebut dapat digambarkan dalam bentuk peta.
Bentuk-bentuk analisis dalam pendekatan keruangan menurut Yunus (2010) ada 9 yaitu:
1. Analisis pola keruangan
2. Analisis struktur keruangan
3. Analsis proses keruangan
4. Analisis Interaksi keruangan
5. Analisis organisasi/sistem keruangan
6. Analisis Asosiasi keruangan
7. Analisis komparasi keruangan
8. Analisis kencenderungan keruangan
9. Analisis Sinergisme.

2. Pendekatan Ekologi
Secara umum istilah lingkungan dapat diartikan sebagai kondisi eksternal keseluruhan yang ada diluar organisme, komunitas dan objek. Secara eksplisit (Goodall 1987, dalam Yunus, 2010) menegmukakan sebagai berikut:

..generally, the environment can be definied as the total conditions that surround an arganism, comunity or object...

Dengan demikian dalam memaknai lingkungan selalu dikaitkan dengan pokok bahasan yang akan menjadi fokus analisis, karena istilah lingkungan terkait dengan semua kondisi yang berada diluar objek yang bersangkutan. Pengertian organisme dalam hal ini dapat diartikan sebagai sosok biologis secara indivisual, apakah itu manusia, binatang, maupun tumbuhan. Semetara itu pengertian komunitas sebagai sutau kesatuan dapat berarti komunitas manusia, komunitas binatang, dan komunitas tumbuhan. Contoh komunitas badak diujung kulon, komunitas orang hutan di Kalimantan, dan bentuk komunitas lainnya. Pengertian objek dalam hal ini diartian sebagai pokok bahasan non organisme dan hal ini dapat diartikan dalam dimensi individu maupun kelompok. Contoh dalam objek individu danau, bendungan, dan bahasan yang mengelompok kawasan permukiman kumuh, kawasan permukiman elite dan sebagainnya.
Lingkungan hidup manusia dapat digolongkan dalam beberapa kelompok, yaitu lingkungan fisikal (physical environment), lingkungan biologis (Biologicsl environment), dan lingkungan sosial (Social environment). Lingkungan fisikal merupakan segala sesuatu di sekitar manusia yang bukan mahluk hidup, seperti pegunungan, sungai, udara, air, sinar matahari, kendaraan, rumah dan sebagainya. Yang dimaksud dengan lingkungan biologis, adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia yang merupakan organisme hidup selain manusia, seperti hewan, tumbuhan, dan jasad renik. Sedangkan lingkungan sosial mempunyai beberapa aspek seperti sikap kemasyarakatan, sikap kejiwaan, sikap kerohanian, dan sebagainya.
Bentuk lain dari struktur lingkungan Geografi dikemukakan oleh Bintarto (1976; 1979). Bintarto membagi lingkungan geografi menjadi dua, yaitu (1) lingkungan fisikal yang terdiri aspek topologi, aspek non biotik dan aspek Biotik; dan (2) lingkungan nonfisikal yang terdiri dari aspek sosial, aspek ekonomi, aspek budaya, dan aspek politik.
Begitu luasnya wacana yang dapat dibangun dalam pendekatan ekologi maka timbul pertanyaan yang mendasar dalam bidang kajian geografi yaitu pendekatan lingkungan seperti apa yang diadofsi dalam ilmu geografi.
Secara garis besar ada 4 tema analisis yang dikembangkan dalam pendekatan ekologis yaitu:
  1. Tema analisis manusia dengan lingkungan
  2. Tema kegiatan manusia dengan lingkungan
  3. Tema kenampakan fisikal dengan lingkungan
  4.  Tema kenampakan fisikal budayawi dengan lingkungan
3. Pendekatan Kompleks Wilayah
Pendekatan keberagaman wilayah (areal diferentiation) merupakan kombinasi antara pendekatan keruangan dengan pendekatan ekologi. Pada pendekatan ini, daerah (region) didekati dengan pengertian areal diferentiation, yaitu interaksi antar wilayah akan berkembang karena pada hakekatnya suatu wilayah akan berbeda dengan wilayah yang lainnya. Akibat dari perbedaan tersebut akan muncul permintaan dan penawaran. Pada analisa dengan menggunakan pendekatan tersebut diperhatikan pula persebaran fenomena tertentu (analisa keruangan) dan interaksi antara variabel manusia dengan lingkungan yang kemudian dipelajari kaitannya (analisa ekologi). Berkenaan dengan analisa kompleks wilayah, prakiraan wilayah (regional forecasting) dan perencaan wilayah (regional planning) merupakan aspek yang dianalisa.
Ditinjau dari luas dan sempitnya wilayah dapat diungkapkan dalam skala wilayah. Dalam kajiannya dikenal 3 skala wilayah yaitu skala makro, meso, dan mikro. Istilah ini merupakan itilah operasional untuk membedakan bahwa skala mikro dibawah sekala meso dan makro.
Bagaimanakah aplikasinya dalam proses pembelajaran ke 3 pendekatan tersebut. Di dalam proses pembelajaran geografi ke 3 pendekatan tersebut haruslah diintegrasikan dalam membahas suatu topik permasalahan. Dengan demikian guru geografi dituntut memiliki pengetahuan yang komprehensif dalam menjelaskan materi pelajaran.
Pengajaran geografi merupakan penjabaran geografi pada tingkat pendidikan dasar dan menengah, juga memiliki karakter yang sama dengan geografi dan studi geografi. Dalam mempelajari Dan mengajarkan geografi, pendekatan interdisipliner atau setidak-tidaknya multidimensional, menjadi ciri khas pengajaran geografi. Sehingga seorang guru geografi harus mempunyai kemarnpuan melakukan pendekatan interdisipliner atau multidimensional. Tanpa memiliki kemampuan dasar tersebut, guru yang mengajarkan geografi tidak akan dapat melakukan proses belajar mengajar secara wajar dan menyenangkan bagi siswa (Hermawan, 2009).

D. Posisi Pengajaran Geografi
Preston E. James (1989:11) menyatakan, "Geography has sometimes been called the mother of science, since many fields of learning that started with observation of the actual face of the earth turned io'the study of specific processes wherever they might be located." Dengan argumen di atas, bidang pengetahuan apa pun yang dipelajari seseorang selalu dimulai dengan pengamatan di permukaan bumi, sehingga cukup beralasan James menyatakan, "Geografi sebagai induk dari ilmu” karena kegiatan hidup umat manusia tidak dapat dilepaskan dari permukaan bumi. Hal itu menunjukkan geografi memiliki kedudukan yang kuat dalam memberikan dasar pengetahuan kepada tiap orang untuk mempelajari dan melakukan studi berbagai aspek kehidupan di permukaan bumi. Kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia lainnya serta manusia juga tidak dapat melepaskan diri dari permukaan bumi.
Salah satu sarana yang dapat memenuhi kebutuhan akan pengetahuan dan ilmu berkenaan dengan kegiatan hidup manusia dalam kaitannya dengan sesama manusia dan juga dengan lingkungannya, adalah materi geografi. Berkenaan dengan fungsi geografi dalam membina manusia, James Fairgrieve (Gopsill, 1966: 7) menyatakan, bahwa fungsi pendidikan dan pengajaran geografi adalah membina warga masyarakat yang akan datang, untuk sadar akan kedudukannya sebagai mahluk sosial terhadap kondisi dan masalah kehidupan yang dihadapinya. Pendidikan dan pengajaran geografi mempunyai fungsi mengembangkan kemampuan calon warga masyarakat dan warga negara masa depan agar memiliki kemampuan berpikir kritis terhadap berbagai masalah kehidupan yang terjadi di sekitarnya, dan melatih mereka agar cepat tanggap terhadap kondisi lingkungan serta kehidupan di permukaan burni.
Pernyataan Fairgrieve tersebut menonjolkan fungsi dan nilai edukatif dari geografi. Lebih jauh lagi pengajaran geografi mempunyai nilai ekstensi (Surnaatmadja, 1983: 100-113) yang meliputi nilai-nilai teoretis, praktis, filosofis, dan Ketuhanan. Dengan ini menunjukkan, jika geografi diajarkan dan dipelajari secara terarah serta baik dapat membina anak didik berpikir integratif bagi dirinya sendiri dan bagi kepentingan kehidupan pada umumnya. Hal tersebut menunjukkan, pendidikan dan pengajaran Geografi dapat menjadi sarana untuk memanusiakan manusia.
Karena fungsi dan peranan geografi seperti dikemukakan di atas, maka posisi geografi di tengah-tengah bidang pendidikan yang lain harus mendapat tempat yang serasi dan wajar. Pencapaian tujuan tersebut, sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru geografi memprosesnya di lapangan. Sehingga, guru geografi harus memiliki kemampuan dasar keguruan sesuai dengan bidang geografi yang menjadi tanggung jawab profesinya.

E. Penyajian Data Spasial
Data secara umum adalah representasi fakta dari dunia nyata (real world). Data dapat disajikan dalam berbagai bentuk, antara lain:
a. Bentuk Uraian (Deskriptif)
b. Bentuk Tabular
c. Bentuk Grafik dan Diagram
d. Bentuk Peta
Data spasial secara sederhana dapat di artikan sebagai data yang memiliki referensi keruangan (geografi). Setiap bagian dari data tersebut selain memberikan gambaran tentang suatu fenomena, juga selalu dapat memberikan informasi mengenai lokasi dan juga persebaran dari fenomena tersebut dalam suatu ruang (wilayah). Apabila dikaitkan dengan cara penyajian data, maka peta merupakan bentuk/cara penyajian data spasial yang paling tepat.
Dari keempat bentuk penyajian data tersebut, tiga diantara sering kita lihat dan dilakukan yaitu data deskriptif, Tabuler, dan Grafik atau diagram. Namun pennyajian dalam bentuk peta jarang dilakukan, karena untuk menyajikan data tersebut diperlukan suatu ketrampilan baik dalam membuat peta, membaca, maupuan menganalisisnya. Bagaimanakah dengan guru geografi saat ini, sudah mampukah untuk melakukan hal tersebut?
Selain itu penyajian data dalam bentuk peta pada dasarnya dilakukan dengan mengikuti kaidah-kaidah kartografis yang pada intinya menekankan pada kejelasan informasi tanpa mengabaikan unsur estetika dari peta sebagai sebuah karya seni. Kaidah-kaidah kartografis yang diperlukan dalam pembuatan suatu peta diaplikasikan dalam proses visualisasi data spasial dan penyusunan tata letak (layout) suatu peta.


E. Bagaimana Penerapan Pendekatan Geografi dalam Pembelajaran
Kemampuan seorang guru geografi tidak hanya mampu mengajar dan membuat perangkat pembelajaran saja. Mata pelajaran geografi sampai saat ini belum mendapat apresiasi yang positif di mata masyarakat. Hal ini dipengaruhi oleh persepsi bahwa mata pelajaran geografi merupakan mata pelajaran yang sifatnya hafalan dan tidak penting. Hal ini memang tidak salah, karena dalam pembelajaran geografi umumnya hanya menyampaikan materi apa yang dalam buku.
Penyampaian yang didominasi ceramah membuat siswa merasa jenuh dan membosankan, sehingga geografi tidak lagi menarik. Kondisi ini harus segera diubah, salah satunya dengan menerapkan pendekatan spasial dalam pembelajaran geografi. Untuk menerapkan pendekatan spasial secara komprehensif dibutuhkan kemampuan guru dalam mengintegrasikan objek kajian geografi baik fisik, sosial, dan teknik, baik teori maupun aplikasi. Hal ini dapat dilihat pada skema geografi ortodoks dan geografi terpadu dari Haget 1972 dan Bintarto, 1979 berikut ini.


Gambar 2. :Skema Geografi Ortodoks dan Geografi Terintegrasi (Terpadu) menurut Haget, 1972 (Bintarto, 1979)

Seorang guru geografi secara ideal harus mampu memadukan berbagai bidang ilmu bantu geografi dalam menyelesaikan permasalah dipermukaan bumi. Misalnya Permukiman penduduk, untuk mengkaji permukiman penduduk bisa dikaji dari faktor fisik maupun sosial. Faktor fisik yang terkait dengan ilmu bantu geografi misalnya geologi, geomorfologi, iklim, tanah, dan fakto sosial misalnya budaya masyarakat, adat istiadat, yang selanjutnya dapat ditinjau pola sebarannya. Namun kenyataannya, sebagian besar guru masih belum mampu untuk melakukan proses integrasi materi geografi secara terpadu. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian guru mengajar tidak mengedepankan ilmu geografi secara utuh, namun ilmu-ilmu bantulah yang lebih ditonjolkan. Sehingga karakteristik guru geografi tidak menunjukkan perbedaan dengan guru yang lain.
Untuk dapat membelajarkan mata pelajaran geografi secara koprehensif, maka dibutuhkan skill guru yang tidak hanya mengajar ataupun membuat perangkat pembelajaran. Namun skill yang mendukung dalam proses pembelajaran dengan mengedepankan pendekatan geografi. Skill yang dibutuhkan adalah kemampuan guru dalam mengkaji fenomena geosfer, melakukan interpretasi citra, membuat peta sekaligus mampu membaca dan melakukan analisis data. Untuk mampu mengintegrasikan unsur-unsur tersebut, maka diperlukan berbagai ketrampilan yang harus dikuasai oleh seorang guru diantaranya:
  1. Guru harus mampu membuat peta
Untuk mampu mengenali kekompleksitasan gejala dipermukaan bumi, yang mendasarkan pada eksistensi keruangannya, manusia mengalami kendala yang sangat besar berkenaan dengan kemampuan alat inderanya yang sangat terbatas. Untuk mengatasi hal ini maka seorang guru memerlukan alat bantu tertentu yang memungkinkan untuk melihat kondisi permukaan bumi tertentu dan alat tersebut tak lain adalah peta.
Peta merupakan penyajian grafis dari bentuk ruang dan hubungan keruangan antara berbagai perwujudan yang diwakili. Keunggulan penyajian dalam bentuk peta selain dapat menyajikan data atau informasi secara visual, juga dapat bersifat praktis dan dapat pula menggambarkan aspek keruangan dari objek yang diperlukan. Selain itu penyajian dalam bentuk peta dapat menimbulkan daya tarik lebih besar terhadap objek yang ditampilkan, juga dapat menonjolkan pokok-pokok bahasan dan tulisan atau pembicaraan. Peta mengandung pengertian komunikasi secara grafis, dengan menggunakan simbol sebagai sistem komunikasi. Dengan peta seorang guru mampu mengkaji berbagai fenomena yang terjadi dipermukaan bumi, untuk itu guru geografi harus mampu membuat peta baik secara manual maupun digital.
  1. Seorang guru mampu mengidentifikasi, membaca, menganalisis serta menginterpretasi peta. Untuk mendapatkan ikhtisar suatu daerah tidak mungkin tanpa menggunakan peta. Peta sebagai sumber informasi data geospasial, karena suatu peta dapat menjawab suatu pertanyaan mengenai daerah yang digambarkan. Misalnya jarak antara titik-titik, posisi titik yang satu dengan posisi satu sama lain, ukuran suatu daerah, serta sifat persebarannya (Kraak & Ormeling, 2007). Predikat sebagai guru geografi minimal harus bisa membaca peta.
  2. Skill yang lain adalah guru/calon guru harus mampu melakukan interpretasi citra maupun foto udara. Citra ataupun foto udara merupakan gambaran kenampakan permukaan bumi dua atau tiga dimensi yang menyerupai bentuk aslinya. Dengan citra/foto udara informasi spasial dipermukaan bumi sangatlah mudah dikenali perwujudannya. Namun untuk dapat melakukan analisis data citra dengan baik sebagai bahan pembelajaran spasial guru harus mampu dan mengetahu karakteristik data citra/foto udara tersebut.
  3. Guru harus menguasai IPTEK yang terkait dengan aplikasi bidang studi geografi misalnya SIG, GPS, INDRAJA, serta mampu mengintegrasikan dengan teknologi yang terkait.
  4. Guru mampu mengintegrasikan elemen kajian geografis baik fisik, sosial dan teknik. Ketiga elemen ini saling terkait dalam pembelajaran geografi.
  5. Guru harus aktif dalam mengikuti permasalahan global baik isu-isu lingkungan, sosial, budaya, politik dan sebagainya.

F. Bagaimana aplikasikan pembelajaran spasial
Untuk melakukan proses pembelajaran spasial seorang guru dapat melakukan dengan memanfaatkan berbagai media. Media tersebut bisa berupa citra satelit, peta, globe, model 3D, vidio, foto, maupun menintegrasikan dengan Google Earth, Web GIS, Encarta dan SIG. Langkah yang perlu dilakukan dalam proses pembelajaran spasial adalah sebagai berikut:
1. Menyiapkan tema pembelajaran
2. Mengkaji cakupan wilayah dipermukaan bumi, makro, meso, atau mikro.
3. Menyiapkan data spasial baik grafis maupun atribute
4. Memproses data grafis dan atribute dalam software SIG, potoshop, flash ataupun program lain yang mendukung.
5. Visualisasi data dan layout
6. Produk peta, citra, foto, vidio, bisa di integrasikan dengan program power point, SIG, Google Earth, Web GIS dan program lainnya.
7. Rencanakan perencanaan pembelajarannya
8. Pelaksanaan Pembelajaran Indoor dan outdoor.
Tahapan pembelajaran spasial jika digambarkan dalam bentuk grafik adalah sebagai berikut:



























Gambar 1. Diagram Proses pebelajaran Spasial

Di dalam pembelajaran spasial kemampuan teknik maupun guru dalam melakukan analisis serta mengintegrasikan berbagai fenomena dipermukaan bumi sangatlah menentukan keberhasilan dalam proses pembelajaran.
Di dalam penerapannya berbagai kendala pasti terjadi sebagaimana syarat skill seorang guru yang dapat membelajarkan spasial dengan baik. Di mana salah satu diantaranya guru mampu membuat peta baik secara manual maupun digital. Ketika disyaratkan seperti ini hampir semua guru kesulitan karena belum bisa menggunakan aplikasi software maupun sulitnya mendapatkan data. Diera globalisasi data peta maupun citra baik digital maupun analog sudah lagi bukan barang mahal dan sulit dicari. Seperti citra saat ini dapat diperoleh dengan gratis melalui google earth, peta digital dengan berbagai skala dan sebagainya.

G. Kesimpulan
Berdasarkan hasil kajian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa dalam aplikasi pendekatan spasial dalam pembelajaran seorang guru dicirikan dengan memanfaatkan peta sebagai media dan proses pembelajaran. Hal ini terkait dengan fenomena permasalahan permukaan bumi yang sangat kompleks sehingga perlu disederhanakan dalam bentuk peta/citra. Untuk dapat mengkaji, menganalisis, dan menginterpretasi maka seorang guru dituntut mampu melakukan integrasikan materi geofisik, geososial, dan geoteknik menjadi keterpaduan secara utuh.

h. Daftar Pustaka

Bintarto. R, 1979. Metode Penelitian Geografi. Jakarta: LP3ES

Hermawan, Iwan. 2009. Geografi sebuah Pengantar. Bandung: private Publishing

Kraak, Menno Jan dan Ormerling, Ferjan. 2007. Kartografi Visualisasi Data Spasial.
Yogyakarta: UGM Press.

Yunus, Hadi Sabari. 2010. Metode Penelitian Wilayah Kontemporer. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar