17 September 2012

KETRAMPILAN SPASIAL DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI

SUMBER : GEOGRAFI UNS


Geografi ialah ilmu dengan identitas keruangan atau spasial. Meskipun substansi kajiannya meliput obyek atau fenomena sosial (nampak pada human geography)dan obyek atau fenomena fisikal atau natural (nampak pada physical geography),geografi bukanlah cabang ilmu sosial maupun cabang ilmu natural. Geografi menelaah obyek sosial maupun natural secara keruangan atau spasial. Pembelajaran geografi di sekolah menengah (dengan nama pelajaran geografi) maupun pendidikan dasar (dengan nama IPS) ujung-ujungnya diharapkan memberikan bekalspatial ability atau spatial inteligence pada peserta didik.
KETRAMPILAN SPASIAL DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI
Pendahuluan
Undang-undang No. 20/2003 tentang SISDIKNAS mengamanatkan untuk melalui pendidikan kita mengantarkan peserta didik menjadi menusia Indonesia seutuhnya, terdidik lengkap, terasah penalaran-etika-estetikanya secara baik, mampu berpikir orisinil kreatif untuk menjadi Warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Penyelenggaraan pendidikan dipandang sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik (lihat pasal 3 UU No. 20/2003)
Terminology pengajaran sudah lama diganti pembelajaran yang bermakna lebih luas memberikan peran kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dan kreativitas. Dalam konteks pembelajaran geografi, jurus untuk memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dan kreativitasnya berawal dari keutuhan konsep (yang dikuasai guru) yang diturunkan pada materi pembelajaran dalam kemasan yang menarik.
Esensi geografi yang memandang obyek dan fenomena secara spasial mengharuskan guru untuk menguasai materi pembelajaran dari sudut pandang spasial pula. Maksudnya adalah guru geografi diharapkan memiliki intelegensi spasial yang diimplementasikan dalam ketrampilan spasial. Intelegensi spasial inilah yang ikut memberikan saham kepada pengembangan kemampuan berfikir peserta didik.
Esensi Ketrampilan Spasial
Pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai yang diperoleh dalam mata pelajaran Geografi diharapkan dapat membangun kemampuan peserta didik untuk bersikap cerdas, aktif dan bertanggung jawab dalam menghadapi masalah sosial, ekonomi, dan ekologis. Pada tingkat pendidikan dasar mata pelajaran Geografi diberikan sebagai bagian integral dari Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Sedangkan pada tingkat pendidikan menengah diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri. (BSNP, 2006; 533)
Latar belakang rasionalitas kompetensi yang dirumuskan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) tersebut tentu saja berangkat dari pemahaman terhadap esensi Geografi dengan identitas pandangan spasialnya. Pandangan spasial atas telaah substansi tanah (soil) kemudian memunculkan Geografi Tanah sebagai salah satu cabang Geografi. Pandangan spasial atas telaah substansi tumbuh-tumbuhan, kemudian memunculkan Fitografi sebagai salah satu cabang Geografi. Pandangan spasial atas telaah substansi ekonomi kemudian memunculkan Geografi Ekonomi sebagai salah satu cabang Geografi, demikian pula halnya dengan Marketing Geografi, Geografi Transportasi dan seterusnya.
Preston E. James & CF Jones, editor American Geography Inventory and Prospect (AGIP) sejak pertengahan dasawarsa limapuluhan abad lalu, tegas mengemukakan ciri spasial geografi sebagai berikut :
ü The geographic method of studying soils requires theidentification of kinds of soils and the mapping of areal spread of these type. (AGIP, 1967:383)
ü Fitogeografi
Geographers characteristically, record on maps their observations regarding patterns of distribution, and the maps in turn, are used for the study of areal relation. (AGIP, 1967 : 429-430)
ü Economics geography has to do win similiarities and diferences from place to place in the ways people make living … (AGIP,1967:214)
ü Marketing Geography
… in studying markets, the geographer is primarily concerned withwhere the markets are. He is interested in the distribution of individual consumers and in the magnitude of actual potential saleswithin specific areas. … in the study of channels of distribution on marketing geographer is primarily concerned, again, within the location of these channels.
… The mapping of relevant data regarding markets and the marketing process is a contribution in it self. (AGIP, 1967: 245-251)
ü Transportaion geography
… Transportation is a measure of the relations between areas and is therefore an essential aspect of geography … Geography is concerned with all connections and interractions, including communication and transportation … For geographers who view the core of geography as primarily the analysis of spasial interaction, the study of transportation and in the boarder sense, of circulation as a whole, is of crucial importance. (AGIP, 1967:311)
Identitas spasial dalam bentuk spatial patterns, spatial distributions, spasial relations, spasial differentiation menuntut guru geografi menyajikan materi geografi ke dalam kemasan berwujud peta, atau membuka kemasan yang (sudah) ada untuk digunakan sebagai bahan pembelajaran (membaca/interpretasi peta yang ada). Tetapi tidak setiap bahan ajar yang harus disajikan seperti yang dikehendaki standar kompetensi sudah tersedia.
Maka…, rekan sejawat guru geografi, menyiapkan peta sebagai media (utama) pembelajaran adalah sebentuk ketrampilan spasial yang patut kita kembangkan sesuai tuntutan pengabdian kita di bidang ini. Menyadap/akuisisi data/informasi (spasial) dari berbagai sumber, menata-mengolah-mengelola data/informasi, desain simbol, plotting data ke base map, saat sekarang cukup dipermudah oleh sumbangan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografi.
Analisis spasial
Segi lain dari ketrampilan spasial (spatial ability) misalnya melakukan analisis spasial dengan membuat korelasi. Korelasi adalah membandingkan dua hal (tema, layer) yang berbeda untuk melihat ada tidaknya kaitan sebab akibat. Yang penting harus diperhatikan adalah bahwa adanya korelasi antara beberapa variabel belum menjamin terungkapnya mekanisme sebab akibat.
Korelasi dapat dilakukan dengan:
ü Cara superposisi (tumpang susun), pada peta-peta yang digambar pada kertas transparan.
ü Sampel penampang, dengan tema-tema berbeda pada penampang medan (misalnya: batuan, tanah, curah hujan, penggunaan tanah)
ü Menggunakan kerangka grid/jala peta, untuk menghubungkan posisi yang sama dari tema-tema yang berbeda.
ü Sistem Informasi Geografi (SIG)
Tetapi implementasinya di kelas (sekali lagi) bergantung pada ketersediaan fasilitas di sekolah.
Perlu pula diperhatikan tentang apa yang dikorelasikan. Korelasi dapat berbentuk korelasi (spatial) antara unsur fisik dengan unsur fisik, antara unsur fisik dengan unsur sosial ekonomi, juga antara unsur sosial ekonomi dengan unsur sosial ekonomi. Tidak harus hubungan ini berwujud hubungan unsur fisik-manusia (sosial ekonomi).
Penutup
Pembelajaran Geografi tingkat Sekolah Menengah maupun pada tingkat pendidikan dasar dikelompokkan ke dalam rumpun Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Perlu diingat bahwa Geografi bukan cabang IPS, maka pembahasan substansi IPS oleh Geografi tetap dicirikan oleh pandangan spasialnya. Artinya sumbangan Geografi di dalam menelaah masalah sosial (dan ekonomi) berupa analisis spasial terhadap masalah/fenomena sosial ekonomi. Demikian pula halnya telaah Geografi terhadap masalah/fenomena fisikal.
Ada baiknya juga kita mengingat kembali apa yang ditegaskan oleh Michael Chislom, bahwa: Geografi mempelajari fenomena-fenomena dalam hubungannya dengan ruang muka bumi, menyangkut pola keruangan, hubungan keruangan (pada ruang yang terbatas dan hubungannya dengan ruang muka bumi keseluruhan). Oleh sebab itu, Geografi memiliki ruang lingkup yang luas yang menerobos bidang-bidang ilmu lain dan menghubungkan konsep-konsep yang ada pada bidang geologi, klimatologi, pertanian, ekonomi dan bidang-bidang lain (seperti tampak pada nama-nama cabang Geografi). Untuk dapat menghasilkan pekerjaan bermutu, idealnya Geografer mengusai semua bidang tersebut. Tetapi jelas ini hal yangmustahil. Oleh sebab itu paling tidak Geografi memiliki kecakapan tertentu dalam bidang-bidang ilmu yang berdekatan dengan bidangnya sendiri, yang memungkinkan ia dapat menilai pekerjaan yang dihasilkan bidang lain yang berdekatan tersebut. (Chislom, M., 1970)
Referensi
Armstrong, Thomas. 1994. Multiple Intelligences in the Classroom. Virginia: Association for Supervision and Curriculum Development.
Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Geografi SMA/MA.
Campbell, Linda. 2002. Multiple Intelligences : Metode Terbaru Melesatkan Kecerdasan. Depok: Inisiasi Press.
Chislom, Michael. 1970. Geographic and Economics. London: Bell & Sons Ltd.
Gardner, Howard. 1999. Intelligence Reframed: Multiple Intelligences for the 21st Century. New York: Basic Book a Member of the Perseus Books Group.
James, Preston S. & Clarence F. Jones (ed). 1967. American Geography Inventory & Prospect. Associations of American Geographers.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar