17 September 2012

Konsep Dasar Geografi: Sebuah Studi Perkembangan Teori Geografi

Istilah geografi pertama kali dikemukakan oleh Erastothenes (176:194 sm). Dalam bukunya yang berjudul Geographica  menjelaskan bahwa pada dasarnya itu bumi bulat dan telah mampu menghitung keliling Bumi dengan hanya berselisih kurang dari 1% keliling sebenarnya.

Geografi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari kata geo dan graphien. Secara umum geografi diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari, menjelaskan, sekaligus menuliskan tentang bumi.

Berikut ini merupakan pendapat para ahli dalam memaknai geografi. Beberapa ahli tersebut diantaranya; Semlok (1988), Sutanto (1988), Bintarto , Sandy , Daljoeni , Debenharn ,Hartshorne , Ackerman , Haggett , Vidal de la Blache (1918), dan Edwin N Thomas .

Menurut Semlok (1988) geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan atau kewilayahan dalam konteks keruangan. Semlok menekankan kajian geografi pada fenomena geosfer (lapisan bumi). Dalam tahun yang sama, Sutanto (1988) menyatakan konsep pokok dalam geografi adalah keruangan atau spasial. Lanjut Sutanto, dalam konsep spasial inilah yang menjadi ciri khas dalam ilmu geografi dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. Ciri khas geografi ini, menurut Sutanto, yang membedakan bidang ilmu lain, misalnya waktu menjadi konsep sejarah, dan kelangkaan menjadi konsep ekonomi.

Ahli selanjutnya yang berpengaruh dalam mendefinisikan geografi yaitu I Made Sandy . Menurut Sandy, geografi merupakan ilmu yang burusaha menceritakan dan memahami persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan yang ada dalam ruang muka bumi. Sandy menekankan kajian geografi adalah permukaan ruang muka bumi. Kemudian pendapat ini disempurnakan kemudian oleh Nathanael Daljoeni, dimana geografi sebagai uraian tentang bumi dengan segenap isinya yakni manusia ditambah dengan dunia hewan dan dunia tumbuh-tumbuhan. Hal ini dapat dilihat Daljoeni menekankan kajian geografi pada apa saja yang ada pada ruang muka bumi ini.

Dua ahli yang menjadi penjelas dari pendapat Semolok dan Sutanto diantaranya Bintarto  dan I Made Sandy . menurut Bintarto, geografi merupakan ilmu pengetahuan yang menceritakan, menerangkan sifat-sifat bumi, menganalisis gejala-gejala alam dan penduduk, serta mempelajari corak khas kehidupan dan mencari fungsi dari unsur-unsur bumi dalam ruang dan waktu. Bintarto dalam memaknai geografi semakin tajam dan mendalam jika dibandingkan dengan ahli sebelumnya. Hal ini dapat dilihat Bintarto telah menghubungkan keberadaan kewilayahan terhadap masyarakat. Namun Bintarto tetap mengenakan bijakan definisi geografi pada ahli-ahli sebelumnya.

Berikutnya adalah P. Haggett. Menurut Haggett, geografi memberikan perhatian terutama pada sistem ekologi dan sistem keruangan. Pada sistem ekologi berkaitan dengan manusia dan lingkungannya, sedangkan pada sistem keruangan berkaitan dengan hubungan antar wilayah. Kemudian dilanjutkan pandangan oleh Strabo. Menurut Srabo, geografi erat kaitannya dengan karakteristik tertentu suatu tempat dan memperhatikan juga hubungan antara berbagai tempat secara keseluruhan.

Jika ahli-ahli sebelumnya memaknai geografi dalam konteks kerungan saja, berikut ini beberapa pandangan yang telah memberanikan diri dalam memaknai geografi, dimana ahli-ahli selanjutnya ini dengan berani menghubungkan konteks keruangan dengan budaya suatu masyarakat.

Debenharn dalam memaknai dengan menekankan peran dan tugas para geograf. Terdapat tugas geograf menurut Debenharn, yaitu; (1)menafsirkan agihan atau persebaran gejala dan fakta fenomena geografi, (2) menemukan hubungan antara kehidupan manusia dan lingkungan fisik, dan (3) menjelaskan interaksi antara manusia dan lingkungan.

Jika Debenharn menekankan geografi pada kajian analisis fenomena geografi dan menafsirkan lingkungan dan masyarakatnya, Hartshorne dalam memaknai geografi juga tidak jauh berbeda. Menurut Hartshorne, geografi bertujuan untuk memberikan deskripsi teliti, beraturan, dan rasional tentang sifat variabel dari permukaan bumi. Kemudian dilanjutkan pandangan dari E. A. Ackerman. Menurut Ackerman, geografi bertujuan mengetahui pengertian sistem yang berinteraksi secara cepat mencakup semua budaya manusia dan lingkungan alamiah di permukaan bumi.

Vidal de la Blache (1845–1918) mengemukakan konsepnya yang disebut genre de vie ataumode of live (cara hidup).    Dalam konsep ini, geografi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana proses produksi dilakukan manusia terhadap kemungkinan yang ditawarkan oleh alam.

Batasan geografi selalu memperhatikan ruang-lingkungan-waktu (r-l-w). Dalam konteks r-l-w ini terjadi kehidupan dan penghidupan yang mempunyai bentuk dan pola menurut keadaan daerahnya masing-masing. Semuanya selalu berubah, dan faktor peubahnya adalah manusia yang selalu siap dengan berbagai akal dan ketrampilannya.

Berdasarkan studi tentang perkembangan teori geografi di atas, pemaknaan geografi selalu mengalami perkembangan. Namun kalau kita kaji lebih jauh, menurut Noer (2011) di antara pandangan para ahli tersebut tampak ada kesamaan titik pandang.

Kesamaan titik pandang tersebut adalah mengkaji; (1) bumi sebagai tempat tinggal, (2) hubungan manusia dengan lingkungannya atau interaksi yang kemudian menghasilkan system budaya, dan (3) dimensi ruang dan dimensi histories, pendekatannya, spasial (keruangan), ekologi (kelingkungan) dan regional (kewilayahan).

Konsep dasar merupakan konsep paling penting yang menggambarkan struktur ilmu
Edwin N Thomas: struktur ilmu geografi memberikan penekanan penekanan dasar fakta geografi  dikembangkan  distribusi keruangan selanjutnya dikembangkan interaksi keruangan atau asosiasi kewilayahan akhirnya melalui sintesis sampai pada region atau kawasan.

Fakta geografi  dipelajari sehingga menghasilkan kajian geografi. Kajian geografi memusatkan perhatian pada fenomena geosfer dalam kaitan hubungan, persebaran, interaksi keruangan, dan kewilayahan.
.
Geografi mutakhir memastikan arah perkembangan konsep geografi untuk dapat diterapkan pada berbagai lingkugan geografi yang beraneka tingkat perkembangan ekonomi, budaya dan penguasaan teknologi.

Dalam tahapan ini studi geografi berorientasi pada masalah interaksi manusia dengan lingkungan, selain itu juga dapat berorientasi pada studi wilayah, permukaan bumi dipandang sebagai lingkungan hidup dimana manusia dapat memanfaatkan sumberdaya alam. Dengan demikian potensi dan masalah unsur-unsur geografi sangat bervariatif, sehingga perlu kajian secara spasial dan temporal untuk dapat mengenali watak/sifat wilayah. Lantas bagaimana geografi dalam menghiasi dimensi rekayasa pendidikan, khususnya pendidikan di jenjang sekolah menengah atas?

Sejak kurikulum 1984 di tingkat sekolah menengah atas telah dicantumkan enam konsep esensial dalam pelajaran geografi. Enam konsep esensial dalam pelajara ngeografi tersebut diantaranya; konsep wilayah, konsep sumberdaya, konsep interaksi, konsep kerjasama antar wilayah, konsep jagad raya, dan konsep kelestarian lingkungan.

Semlok pada tahun 1989 dan 1990 telah mengusulkan konsep esensial geografi pada sekolah menengah atas di kota Semarang. Konsep esensial geografi tersebut diantaranya terdiri dari; lokasi, jarak, keterjangkauan, pola, morfologi, keterkaitan keruangan, diferensiasi areal, interaksi/ interdependensi, dan kegunaan.

Konsep lokasi merupakan konsep utama, sebagai jawaban pertanyaan dimana. lokasi absolut dan relative. Selanjutnya konsep jarak memiliki arti penting bagi kehidupan sosial, perekonomian, dan pertahanan. Konsep jarak ini juga dipandang sebagai faktor pembatas pertahanan, pemenuhan kebutuhan, angkutan (waktu tempuh, biaya). Kemudian konsep keterjangkauan. Konsep keterjangkauan pada geografi meliputi aspek accessibility, keterkaitan dengan sarana angkutan.

Konsep berikutnya adalah pola. Konsep pola berkaitan dengan susunan bentuk atau persebaran ruang di muka bumi, baik alami (vegetasi, tanah, ch) maupun fenomena sosial budaya manusia. Selanjutnya konsep morfologi yaitu merupakan perwujudan permukaan bumi sebagai hasil uplifting, subsidensi, erosi, pengendapan, sehingga berupa bentang alam bergelombang. Berikutnya adalah konsep aglomerasi, dimana merupakan kecenderungan persebaran yang mengelompok pada wilayah sempit.

Berikutnya konsep nilai kegunaan dalam geografi. Konsep nilai kegunaan yang dimaksud yaitu nilai kegunaan fenomena atau sumberdaya bermakna relative. Nilai kegunaan ini terkadang menguntungkan dan terkadang sebaliknya. Konsep berikutnya adalah interaksi/interdependensi. Konsep ini mengkaji tentang peristiwa saling mempengaruhi antara daya-daya, obyek, dan tempat. Interaksi dapat terjadi antar fenomena alam ataupun kehidupan.

Kemudian dua konsep terakhir yaitu konsep diferensiasi areal dan konsep keterkaitan ruangan. Konsep diferensiasi areal biasanya berhubungan dengan berbagai hal yang menimbulkan corak yang karakteristiknya berubah dari waktu ke waktu. Seperti halnya fenomena alam dan lingkungan bersifat dinamis. Hal ini dapat dilihat pola hubungannya pada perbandingan antara wilayah perdesaan dan perkotaan. Terakhir yaitu konsep keterkaitan keruangan. Konsep ini berkaitan dengan konteks keruangan yang menunjukkan adanya keterkaitan persebaran suatu fenomena dengan lainnya di suatu ruang tertentu. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar