17 September 2012

MENCETAK GURU GEOGRAFI

SUMBER : GEOGRAFI UNS


MENGELOLA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI FKIP UNS
Membentuk Guru Profesional Spesial Beridentitas Spasial
Di Era Perkembangan Teknologi Informasi Spasial
Prodi P.Geografi FKIP UNS adalah LPTK yang mengemban amanah untuk menyiapkan guru geografi di sekolah. Geografi dengan identitas spasialnya diharapkan membekali peserta didik dengan konsep, teori geografi secara utuh sampai jenjang apapun peserta didik mengakhiri pendidikannya. Kemajuan teknologi informasi geospasial membawa dampak berupa kemudahan kepada guru untuk internalisasi konsep, teori geografi (konsep dan teori keruangan) kepada peserta didik, misalnya dalam menyiapkan media pembelajaran yang komperhensif dan terpadu. Lembaga ini mengupayakan implementasi perkembangan teknologi informasi geospasial ini pada mahasiswa.
Pendahuluan
Sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Program Studi Pendidikan Geografi FKIP Universitas Sebelas Maret mengemban amanah menghasilkan guru geografi yang memiliki kompetensi profesional, kompetensi paedagogis, kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian. Kompetensi profesional guru geografi menunjuk kepada kemampuan guru dalam penguasaan bidang ilmu geografi sebagai bahan ajar. Kompetensi paedagogis menunjuk kemampuan guru mengelola proses pembelajaran, menyajikan substansi pembelajaran menurut kaidah-kaidah paedagogis, menyiapkan media pembelajaran geografi yang membantu proses internalisasi konsep-konsep geografi (yaitu konsep spasial pada substansi litosfer, hidrosfer, atmosfer, biosfer, antroposfer) melakukan evaluasi pembelajaran geografi.
Untuk mewujudkan amanah tersebut pengelola program studi geografi merumuskan visi, misi dan tujuan yang operasionalisasinya dituangkan dalam program kerja yang disusun berdasarkan rencana strategis Prodi P.Geografi.
Menjalin kemitraan dengan Ikatan Geograf Indonesia (IGI), Himpunan Sarjana Pendidikan Ilmu Sosial Indonesia (HISPISI), Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI), Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia (MAPIN), BAKOSURTANAL dan lain-lain dilakukan dalam upaya meningkatkan penguasaan sains bidang geografi dan sains kependidikan. Jalinan kemitraan dengan BAKOSURTANAL memungkinkan perluasan akses data/informasi geospasial yang sangat diperlukan untuk mendukung seluruh proses pembelajaran geografi (yang menyangkut substansi dan menyiapkan media pembelajaran), juga untuk kegiatan pengabdian masyarakat kepada mitra guru sekolah lanjutan (MGMP Geografi) dan mitra lain yaitu dinas/instansi yang memerlukan aplikasi geospasial.

Dalam mengembangkan kompetensi lulusan, Prodi P.Geografi mengupayakan penyesuaian kurikulum sesuai dengan tuntutan perkembangan sains geografi itu sendiri sebagai materi ajar, teknologi informasi geospasial dan kemampuan mengajar seperti pemilihan metode pembelajaran, media pembelajaran dan evaluasi pembelajaran. Kurikulum Prodi P.Geografi yang diberlakukan sekarang adalah kurikulum 2002 dan kurikulum 2005. Dalam kurikulum ini dikembangkan pula praktek lapangan (di samping praktek laboraturium) meliputi praktek lapang geografis maupun praktek lapang kependidikan. Sedangkan di luar kegiatan kurikulum peningkatan kemampuan mahasiswa dikembangkan melalui Penulisan Karya Mahasiswa (PKM), kegiatan yang dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Geografi (HIMAGO), jalinan antar mahasiswa geografi dalam forum IMAHAGI, dan kegiatan ekstrakurikuler yang lain.
Tujuan
Guru geografi mengemban amanah memberikan bekal kepada peserta didik atau siswa pada setiap jenjang satuan pendidikan. Bekal itu adalah hakikat ilmu geografi itu sendiri yang berupa kemampuan spasial (spatial inteligence/spatial ability) pada jenjang apapun peserta didik menyelesaikan studinya, geografi memberikan sumbangan kepada peningkatan kemampuan berfikir mereka yang orisinil, logis dan teratur. Seperti diketahui spatial inteligence di samping matematik, fisik, musik dan pelajaran seni lainnya, olahraga, budi pekerti ikut membangun dan mengembangkan siswa ke arah manusia yang terdidik lengkap yang mampu berfikir orisinil, logis dan teratur (Sandy, 1988., Armstrong, 1994).
Ikatan Geograf Indonesia (IGI) sebagai organisasi profesi bidang geografi sudah sejak lama menaruh perhatian kepada pembenahan pembelajaran geografi di sekolah. Melalui dua kali sarasehan yang diselenggarakan di Jakarta oleh Geografi FMIPA UI dan Semiloka di IKIP Semarang pada medio 1988 di identifikasi akar permasalahannya ada pada kurikulum sekolah dan buku ajar ( Semlok IGI di IKIP Semarang, April 1988).
Kesepakatan IGI mengamanahkan bahwa pada bidang apapun ilmu geografi diamalkan apakah dalam bidang pendidikan atau dalam bidang-bidang aplikasi yang lain harus berlandaskan konsep geografi baku. Memang dari segi substansi, kajian geografi membentang dari obyek/fenomena, litosfer, hidrosfer, atmosfer, biosfer, antroposfer. Dari substansi ini geografi memang dapat overlap dengan bidang ilmu lain. Yang membedakan adalah (dan ini merupakan identitas geografi) sudut pandang spasial. Geografi menelaah semua substansinya dari sudut pandang spasial. Geografi Ekonomi dan Ilmu Ekonomi memiliki kemiripan substansi, tetapi yang membedakan keduanya  adalah bahwa geografi ekonomi menelaah substansi itu dari pandangan spasial (Chislom, 1970). Demikian pula geografi tumbuhan (phythogeography) dan botani. Geografi transportasi dengan ilmu transportasi dengan menejemen transportasi (James and Jones, 1967). Pandangan spasial inilah yang mengharuskan penggunaan peta sebagai visualisasi hasil kajiannya. Peta itu adalah peta-peta geografi atau peta tematik yang dapat mempresentasikan satu tema atau multitema sebagai deskripsi, analisis dan sintesis obyek dan atau fenomena spasial.
Maka, Prodi P.Geografi FKIP UNS terobsesi untuk menghasilkan lulusan yang dapat melahirkan buahpikir geografis dalam bentuk peta geografi atau peta tematik. Mereka harus dapat mengaplikasikan kemampuan itu dalam bidang pembelajaran geografi di sekolah maupun mengimplementasikan pemikiran geografis ini dalam bidang lain sebagai soft skill.
Oleh sebab itu dalam setiap diskusi staf pengajar Prodi P.Geografi selalu dan  senantiasa wacana pemetaan itu mengemuka. Sebab mata kuliah apapun (semua cabang geografi) ujung-ujungnya adalah peta. Perkembangan teknologi informasi geospasial berkembang sangat pesat, hal ini langsung menyentuh kemudahan akuisisi data, manajemen data dan presentasi kartografis untuk menghasilkan peta geografi/peta tematik yang secara visual menarik, informatif, presisi dan akurasi yang semakin baik.
Tujuan selanjutnya dari upaya penguasaan sains geografi dan teknologi informasi geografi adalah sosialisasi kepada mitra guru geografi di sekolah. Dari telaah kurikulum SMP/Mts dan SMA/MA serta telaah buku ajar pada kedua satuan pendidikan tersebut dirasakan pembelajaran geografi masih memerlukan banyak pembenahan (Semlok IGI di IKIP Semarang, April 1988). Hari ini pun masalah pembelajaran geografi tersebut masih sangat banyak dijumpai.
Landasan Teori/Kajian Pustaka
Geografi yang dahulu dikenal dengan nama ilmu bumi dikenal masyarakat sebagai ilmu tentang nama-nama tempat (toponimi) di sepanjang rel kereta api, atau pengetahuan tentang nama-nama sungai dan gunung-gunung. Memang benar pengetahuan tentang nama-nama tempat, sungai, gunung, pulau diperlukan dalam geografi sebagai langkah awal, tetapi kemahiran seperti itu bukanlah keseluruhan dari ilmu geografi, seperti halnya pengetahuan dari tiap bagian tubuh manusia hanya merupakan syarat awal dari ilmu kedokteran bukan ilmu kedokteran secara keseluruhan (Sandy,1988).
Dari diskusi tentang esensi atau identitas geografi disimpulkan bahwa : geografi  adalah ilmu yang berusaha menemukan dan memahami persamaan-persamaan dan perbedaan yang ada dalam ruang muka bumi.
Geografi melihat segala sesuatu dalam kaitannya dengan ruang (Whitlesei. 1954. Regional Concept dalam American Geography Inventory and Prospect). Tekanan utama geografi bukanlah pada substansi melainkan pada sudut pandang spasial. Produk akhir geografi adalah wilayah-wilayah (regions) sebagai perwujudan dari persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan yang ada di muka bumi. Dari pengwilayahan itulah kemudian dihasilkan dalil-dalil umum dalam bentuk model-model spasial, yang dapat digunakan untuk melakukan prediksi atau rekomendasi. Sebagai rangka prediksi atau rekomendasi pusat-pusat jasa atau pengembangan kita kenal heksagonal Christaller. Sebagai rangka prediksi permukiman sederhana orang mengenal lingkaran konsentrik Von Thunen. Untuk keperluan penggunaan tanah berencana di Indonesia Sandy menciptakan konsepsi Wilayah Tanah Usaha. Hasil pengwilayahan itu tidak bisa disajikan dengan jelas dengan uraian-uraian melainkan harus dilakukan dengan menggunakan peta. Jadi peta merupakan sarana utama bagi geografi.
Bahwa geografi itu mengutamakan sudut pandang tampak dari corak cabang-cabang geografi. Dibawah ini disajikan beberapa definisi cabang ilmu geografi :
· Today as in the past, geography is concerned with the arrangement of things on the face of the earth, and with the association of things that give character  to particular places, (AGIP – 1967 hal. 4)
Jadi, dari dulu sampai sekarang, sebenarnya esensi geografi tidak pernah berubah. Dengan demikian, tidaklah benar, kalau ada yang mengatakan bahwa esensi geografi sekarang  sudah lain daripada dahulu.
· Almost all scholars who have thought deeply about the nature of geography agree on the essential unity of the field. Actually, there is just one kind of geography. (P.E James –Richard Hartshorne – J.R. Wright – A.G.I.P. Hal. 15, 1967).
· In geography, the subject of investigation and presentation is the area differentiation of the face of the earth. Geography focuses on the similiarities and differences among areas, on the interconnections and movements between areas, and on the order found in the space at or near the earth’s surface. (AGIP 1967 – The Regional Concept etc. Hal. 21).
· Historical GeographyAny study of past geography or of geographical change through time is historical geography, whether the study be involved with cultural, physical, or biotic phenomena and however limited it may be in topic or area. (Andrew H. Clark Chairman on Historical Geography, AGIP – 1967 hal.71).
· Urban GeographyGeographers are concerned with the study of cities, because urban centres constitute distinctive areas. They are the face of the general patterns of settlement; they are populated to a density rarely encountered in rural  areas; they are the portals through which the spatial interchange of goods and ideas connects region with region; they dominate the the patterns of eonomic life.etc. (H.M. Mayer; E.L. UI Iman; Robert E. Dickinson; Ch.D. Harris; Clyde F. Kohn; Raymond E. Murphy; Victor Roterus-AGIP-1967 hal.143)
· Economic GeographyEconomc geography has to do with similarities and differences from place to place in the ways people make living…etc. (AGIP-1967 hal 241)
· Marketing Geography. In studying markets, the geographer is primarily concerned with where the markets are. He is interested in the distribution of individual consumers and in the magnitude of actual or potential sales within specific areas…etc. In the study of channels of distribution the marketing geographer is primarily concerned, again, with the location of the channels.The mapping of the relevant data regarding market and the market process is a contribution in itself. (AGIP-1967 hal. 245-251)
· Agricultural Geography. Generally speaking, if an American geographer has been concerned with measures to increase the supply of wheat, he has though first of all in terms of producing wheat rather than buying it. He has then studied natural and social conditions in areas devoted to wheat production and, whit that evidence in hand, has set about discovering other areas in which there conditions prevail, or could be established, in order to determine where new supplies of wheat might be obtained.
· Agricultural Geography………..cont’dAnalitical studies in agricultural geography even when dealing with one commodity, have nearly always been concern with particular areas. (AGIP-1967 hal. 260)
· The Geographic Study of SoilsThe geographic method of studying soils requires the identification of kinds of soils and the mapping of the area spread of these types.
Nampak jelas di sini, bahwa pada pokoknya, penelitian yang dilakukan di bidang geografi ini, adalah menjadi “DISTRIBUTIONS” dan “AREA SIMILARITIES” (Wilayah-wilayah yang menjadi sifat bersamaan). (Sandy, 1972)
Pembahasan
Dari pemerian tentang landasan teori di atas nampak bahwa :
· Geografi, mata kuliah geografi, pelajaran geografi di sekolah muncul dengan topik/pokok bahasan/materi pelajaran yang bermacam-macam terbentang dari materi fisikal/natural (litosfer, atmosfer, biosfer) sampai materi sosial ekonomi (antroposfer).
· Pada tingkat pendidikan dasar mata pelajaran geografi diberikan sebagai bagian integral dari Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sedangkan pada tingkat pendidikan menengah diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri (BSNP, 2006).
Cabang geografi dengan topik/pokok bahasannya semua tampil dalam nuansa spasial. Hal ini berarti bahwa pada pendidikan dasar geografi menyumbangkan pandangan spasialnya untuk memerikan, menelaah, mengkaji obyek/fenomena/potensi/ masalah sosial. Yang perlu diperhatikan adalah geografi bukan cabang dari ilmu sosial.
· Semua cabang geografi dengan topik/pokok bahasannya memerlukan peta sebagai sarana utama.
Maka pengelolaan Prodi P.Geografi mengupayakan agar identitas spasial juga mewarnai setiap mata kuliah geografi, mewarnai strategi pembelajaran geografi, mewarnai media pembelajaran geografi.
· Esensi geografi pada dasarnya tidak berubah, namun demikian saat ini teknologi informasi geospasial yang berkembang pesat memberikan kontribusi yang sangat besar.
· Penginderaan jauh mendukung perolehan data geospasial secara sangat cepat. Sebagai contoh dari foto udara konvensional ke foto udara digital, dari citra sumberdaya alam Landsat 7 (resolusi spasial 15 meter dan 30 meter), SPOT 4 (resolusi spasial 10 meter dan 20 meter), Ikonos (resolusi spasial 1 meter dan 4 meter), Quickbird (resolusi spasial 1 meter dan 4 meter) dan lain-lain ditambah resolusi spasial satelit sumberdaya alam yang tinggi memanjakan pengguna data penginderaan jauh secara luar biasa.
· Prodi P.Geografi menyelenggarakan perkuliahan Penginderaan Jauh dalam bentuk mata kuliah PJ 2 SKS, Praktikum PJ 2 SKS sebagai mata kuliah wajib dan mata kuliah aplikasi PJ 2 SKS sebagai mata kuliah pilihan.
· Selain berfungsi sebagai teknik akuisisi data untuk pemetaan geografi/peta tematik dalam bentuk peta garis citra penginderaan jauh dimanfaatkan juga untuk membuat peta tematik dalam bentuk ikonik yaitu peta foto dan peta citra.
· Peta foto dan peta citra memberikan visual effect yang lebih menarik dan lebih mudah dipahami sehingga mempunyai nilai lebih untuk media pembelajaran geografi terlebih untuk pembelajaran geografi di sekolah lanjutan.
· Akses ke citra penginderaan jauh sekarang dipermudah oleh tersedianya beberapa citra pada google earth, sehingga memperluas penggunaan citra ini dalam pembelajaran geografi.
· Pada Prodi P.Geografi penggunaan citra ini untuk penyusunan tugas akhir mahasiswa cukup banyak, baik tugas akhir bertema bidang studi maupun bertema pembelajaran geografi di sekolah.
· Sistem Informasi Geografis (SIG) juga memberikan kontribusi yang sangat luar biasa terhadap studi geografi. Kedua teknologi ini (PJ dan SIG berikut aplikasinya) sekarang dipandang menjadi unggulan bagi ilmu geografi. Kemampuan SIG dalam menata, mengelola, manipulasi, analisis data geospasial demikian cepat dan akurat sampai pada presentasi hasil dalam bentuk peta. Tentu saja tetap dengan memperhatikan kaidah-kaidah kartografis termasuk estetika peta.
· Prodi P.Geografi menyelenggarakan perkuliahan SIG dalam bentuk mata kuliah SIG dasar 2 SKS, SIG lanjut 2 SKS sebagai mata kuliah wajib dan aplikasi SIG untuk media pembelajaran 2 SKS sebagai mata kuliah pilihan. Alokasi waktu pembelajaran SIG tersebut dirasa masih kurang, sehingga Prodi P.Geografi juga menyelenggarakan pelatihan SIG untuk mahasiswa. Pelatihan SIG sudah sering diadakan dengan memanfaatkan waktu libur antar semester. Peserta pelatihan adalah mahasiswa pendidikan geografi, mahasiswa dari fakultas lain di lingkungan UNS, mahasiswa program Pascasarjana di lingkungan UNS dan guru-guru sekolah lanjutan. Pemanfaatan SIG untuk penyusunan tugas akhir mahasiswa sudah cukup banyak.
· Kegiatan-kegiatan Himpunan Mahasiawa Geografi (HIMAGO) dilaksanakan searah dengan prodi yaitu upaya penguatan internalisasi teknologi informasi geospasial, melalui IMPAS, Olimpiade Geografi, jelajah medan membuat transek, katena dan lain-lain.
· Sekarang Sistem Informasi Geografis yang telah berkembang pesat berkembang menjadi Sains Informasi Geografis (Jan Kraak dan Ormeling, 2007., Projo Danoedoro, 2004). Prodi P.Geografi sudah selayaknya mengikuti perkembangan Sains Informasi Spasial (SIS) ini. Jika program kerja tahun 2009-2011 Prodi P.Geografi berorientasi Teknologi Informasi Spasial (TIS) untuk kajian geografi dan pembelajaran geografi maka program kerja untuk tahun 2012-2014 merencanakan sudah mengadopsi Sains Informasi Spasial (SIS) untuk kajian geografi dan pengembangan model pembelajaran geografi. Rencana ini memang membawa konsekuensi tersedianya sarana dan prasarana penunjang seperti hardware, software, konsep dan teori-teori baru yang kemudian berkembang.
Kesimpulan
· Implikasi dalam bidang pembelajaran geografi.
Lulusan Prodi P.Geografi adalah guru profesional dalam bidang geografi. Melalui pelajaran geografi seorang guru profesional harus dapat membekali spatial inteligence kepada peserta didiknya, mampu mengantarkan peserta didik menjadi manusia seutuhnya, terdidik lengkap, terasah penalaran-etika-estetikanya secara baik, mampu berfikir kreatif untuk menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab sesuai amanah Undang-Undang no 20/2003 tentang SISDIKNAS.
· Amanah ini didukung dan dipermudah oleh hadirnya Teknologi Informasi Geospasial. Demikian besar kontribusi Teknologi Informasi Geospasial dalam kajian geografi dan implementasinya dalam pembelajaran geografi,  Prodi P.Geografi menetapkan Teknologi Informasi Spasial ini sebagai bidang keunggulan.
· Di sisi yang lain, ilmu spasial cukup memberikan peluang berkarya di bidang lain sebagaisoft skill lulusan Prodi P.Geografi.
DAFTAR PUSTAKA
Armstrong, Thomas. 1994. Multiple Intellegences in the Classroom. Virginia : Ass.for Supervision and Curriculum Development.
Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Geografi SMA/MA
Chislom, Michael. 1970. Geography and Economics. London : Bell & Sons Ltd.
Danoedoro, Projo (ed). 2004. Sains Informasi GeografisDari Perolehan dan Analisis Citra Hingga Pemetaan dan Pemodelan Spasial. Jogjakarta : Jurusan Kartografi dan Penginderaan Jauh Fakultas Geografi UGM.
Gardner, Howard. 1999. Intelligence Reframed : Multiple Inteligences for the 21Century. New York : Basic Book a Member of the Perseus Books Group.
James, Preston S & Clarence F.Jones (ed). 1967. American Geography Inventory & Prospect. Association of American Geographers.
Jan Kraak, Menno & Ferjan Ormeling. 2007. KARTOGRAFI. Visualisasi Data Geospasial. Jogjakarta : Gadjah Mada University Prees.
Sandy, I Made. 1972. Esensi Geografi. Jakarta : Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Pasti dan Alam Universitas Indonesia.
_____________. GEOGRAFI Perkembangannya di Indonesia dan Pelajaran Geografi di Sekolah Lanjutan. Pidato Pengukuhan Dalam Jabatan Guru Besar Luar Biasa Mata Pelajaran Geografi Pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia. Jakarta. 30 Maret 1988
Seminar dan Lokakarya Peningkatan Kualitas Pengajaran Geografi. IKIP Semarang bekerja dengan IGI. Semarang 12-13 April 1988.
Thomas, RW & RJ Hugget. 1980. Modelling in Geography. New Jersey : Barnes & Noble Books.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar