10 September 2012

MENJADI ENTREPRENEUR INDONESIA




Apa itu Entrepreneurship? Meski kata ini sangat populer akhir-akhir ini, namun tak ada salahnya kalau kita coba memahami definisi dan makna sebenarnya dari kata ini. Sering juga disebut dengan kewirausahaan, terdapat banyak sekali definisi dari Entrepreneurship. Salah satu definisi yang menurut saya mudah dipahami adalah definisi dari Bapak Manajemen Modern, Peter F. Drucker. Drucker mendefinisikan Entrepreneurship sebagai ”… aktivitas yang konsisten dilakukan untuk mengkonversi ide-ide yang bagus menjadi aktivitas yang menguntungkan”. Kata kunci dari definisi yang disampaikan oleh Drucker adalah: Konsistensi, Konversi, Ide-ide, dan Menguntungkan.
Dengan kata lain sangatlah jelas bahwa Entrepreneurship membutuhkan adanya suatu aktivitas yang konsisten dari Entrepreneur guna memperoleh keuntungan dari hasil konversi ide-ide bisnisnya. Awal dari Entrepreneurship adalah ide-ide bisnis yang cemerlang dan berpangkal pada timbulnya keuntungan dari aktivitas tersebut. Hal lain yang penting menurut Drucker guna menjamin kesuksesan proses tersebut adalah konsistensi dari entrepreneur untuk melakukan setiap aktivitasnya. Konsistensi yang diikuti dengan determinasi atau sikap pantang menyerah merupakan karakter fundamental yang wajib dimiliki oleh mereka yang ingin sukses sebagai entrepreneur.
Selain definisi tersebut guna lebih mempermudah pemahaman terhadap Entrepreneuship. saya merumuskan satu definisi Entrepreneurship yang terilhami oleh formula tentang energi yang diciptakan oleh Albert Einstein, yakni formula:
E=mc2
E: Entrepreneurship, m: Maximum Effort, c: Commitment dan c:Creativity.
Menurut saya, Entrepreneurship adalah kolaborasi dari adanya Maximum Efforts atau usaha yang maksimal dari individu atau kelompok individu yang terlibat dalam proses tersebut, dan adanya Commitment (Komitmen) dari pihak yang terkait untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan, serta kreativitas untuk menemukan dan menjalankan ide-ide bisnis yang tepat sasaran.
Maximum Efforts berarti adanya keputusan untuk menjalankan setiap aktivitas yang diperlukan dengan semangat dan kesungguhan100%. Berdasarkan pengalaman pribadi dan juga hasil berguru pada para pengusaha yang berhasil, saya menemukan pola yang sama diantara mereka yakni bahwa setiap usaha meraka pasti dijalankan dengan kesungguhan melebihi ekspektasi yang disampaikan pihak lain kepada sang pengusaha. Fakta di lapangan mengajarkan kepada saya bahwa mereka yang dari mulanya hanya berniat “mencoba” untuk berusaha umumnya tidak akan bertahan lama dalam bisnis tersebut dan kalaupun bertahan tidak akan beranjak dari posisinya sebagai medioker. Kalimat bijak yang paling menginspirasi saya sehubungan dengan hal ini adalah “Man jadda wajada” yang bermakna “barangsiapa bersungguh-sungguh pasti akan mencapai tujuan yang diinginkan”. Oleh karena itu bila Anda memang berminat untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses maka pastikanlah Anda menjalankannya segenap hati dan dengan penuh kesungguhan. Karena jika tidak maka bisa jadi Anda akan membuang waktu percuma dalam hidup Anda.
Commitment atau komitmen adalah kunci penting dalam kesuksesan berbisnis. Tanpa adanya komitmen dari individu atau kelompok individu yang bersangkutan maka bisa dipastikan bisnis tersebut tidak akan bertahan lama. Komitmen sangat erat hubungannya dengan TRUST atau kepercayaan diantara individu yang terlibat. Tanpa adanya komitmen yang kuat dari semua pihak maka tidak akan terbentuk trust yang merupakan fondasi penting dari kelangsungan suatu bisnis. Komitmen dalam konteks bisnis berhubungan dengan komitmen untuk fokus pada aktivitas bisnis, komitmen waktu,  komitmen finansial, dan komitmen pemenuhan janji kepada stakeholders yang terlibat seperti pada konsumen, karyawan, supplier, bank, pemerintah, dsb. Sangatlah penting untuk meninjau komitmen dari diri Anda sendiri dan semua pihak yang terkait sebelum memulai bisnis. Intinya sekali berkomitmen maka wajib kiranya untuk melakukan hal apapun guna memenuhi komitmen tersebut.
1% action atau tindakan nyata jauh lebih bermanfaat daripada 99% wacana
Creativity atau kreativitas berhubungan dengan kelihaian dari pengusaha untuk mengendus setiap peluang sekecil apapun yang ada dan mengolahnya menjadi suatu bisnis yang menguntungkan (profitable) dan bertahan lama (sustainable). Selain lihai mengidentifikasi setiap peluang yang ada, pengusaha yang berhasil memiliki karakter untuk menindaklanjutinya dengan ACTION atau tindakan yang nyata. Juga tak kalah pentingnya adalah kreativitas pengusaha untuk menghadapi dan menyelesaikan setiap tantangan yang ada. Realitas yang ada menunjukkan bahwa semua pengusaha berhasil bisa dipastikan pada masa-masa tertentu akan menghadapi tantangan dalam bisnis. Hal tersebut seyogyanya dimaknai sebagai suatu proses upgrading untuk membawanya ke level yang lebih tinggi. Kreativitas tidak turun dari langit dan oleh karenanya bisa dipelajari oleh semua orang yang memiliki kemampuan.
Definisi tersebut di atas saya formulasikan dengan maksud untuk mempermudah pemahaman awal tentang Entrepreneurship. Namun mulai dari awal hingga akhir, Anda akan menemukan bahwa blog ini merupakan blog yang berorientasi pada ACTION (Action Oriented), karena saya percaya bahwa 1% action atau tindakan nyata jauh lebih bermanfaat daripada 99% wacana.

WIRAUSAHA? INI SOAL MINDSET! 

Mindset adalah salah satu komponen yang paling menentukan dari keberhasilan seorang pengusaha. Dengan mindset yang tepat maka Anda sudah selangkah di depan menuju kesuksesan dan atau sebaliknya. Hal ini terjadi karena mindset yang wajib dimiliki oleh seorang pengusaha dalam banyak hal bisa bertolak-belakang dengan mindset yang dimiliki oleh karyawan atau mereka yang bekerja sendiri (self-employed). Untuk itu agar berhasil dalam bisnis maka Anda wajib menyesuaikan dengan mindset para pengusaha. Mindset dalam konteks entrepreneurship juga dikenal sebagai entrepreneurial spirit yang kurang lebih berarti pola pikir yang perlu dimiliki oleh seseorang guna menjalani kehidupannya sebagai seorang pengusaha.
Mindset menjadi penting karena perjalanan yang harus dilalui oleh seorang pengusaha tidaklah mudah. Dipastikan akan terdapat banyak tantangan dan rintangan yang harus dihadapi guna mencapai keberhasilan. Tantangan yang umum terjadi diantaranya ialah: hambatan yang berasal dari persaingan bisnis, hambatan yang berasal dari tenaga kerja, hambatan pemasaran, hambatan produksi, dan juga yang paling sering terjadi adalah hambatan yang berhubungan dengan aspek finansial berupa ketersediaan modal ataupun kendala cash-flow.
Guna menghadapi tantangan-tantangan tersebut maka pengusaha hendaknya memiliki mindset yang kuat dan konsisten untuk membentuknya menjadi pribadi yang tegar, tahan banting, serta berani menghadapi setiap kondisi yang ada. Mereka yang berminat untuk terjun ke dunia bisnis sebaiknya menyesuaikan dirinya secepat mungkin dengan mindset entrepreneur, sebagian kecil diantaranya ialah:
1. Senantiasa Berpikir Positif
Ini bukan klise! Berpikir positif adalah hal terpenting guna membentuk mental pengusaha. Sejarah membuktikan hal-hal besar lahir dari mereka yang senantiasa berpikir positif dan terus bekerja meskipun mendapat tentangan dan cemoohan dari orang-orang. Kalau Anda berpikir dengan sudut pandang negatif maka hasil itu pulalah yang akan Anda peroleh. Lain hal-nya kalau Anda senantiasa berpikir positif, maka bisa diprediksi bahwa Anda sudah setengah jalan menuju keberhasilan Anda. Oleh karena itu jangan biarkan hal-hal kecil merusak konsentrasi Anda terhadap kepentingan yang lebih besar.
Ingatlah selalu bahwa energi positif itu menular sebagaimana juga energi negatif, maka hendaknya Anda berhati-hati dalam pergaulan Anda. Tanpa bermaksud menjadi eksklusif dan sombong, sebaiknya Anda membatasi berdiskusi dengan mereka yang senantiasa apatis, suka mengeluh dan skeptis terhadap hal-hal yang baru. Pada dasarnya hidup Anda bergantung pada perspektif Anda sendiri jadi apabila Anda terlampau banyak bergaul dengan mereka yang senantiasa berpikir negatif maka bukan tidak mungkin Anda sedang dalam proses untuk menjerumuskan Anda menjadi seperti mereka yang selalu skeptis terhadap keberhasilan.
2. Keluarlah dari Zona Nyaman (Comfort Zone)
Sebagian besar orang terjebak dalam zona nyaman dalam hidupnya sehingga tidak sadar bahwa sebenarnya perlahan-lahan tapi pasti mereka sedang dalam proses menuju stagnasi (kemandekan). Zona nyaman yang umum dikenal saat ini dapat berupa jabatan yang tinggi, gaji yang pasti setiap akhir bulan, fasilitas kredit pemilikan kendaraan dan rumah, fasilitas dana pensiun, dan janji kenaikan gaji berkala setiap periode.
Kalau Anda berhasrat menjadi pengusaha maka mau tidak mau Anda harus menanggalkan zona nyaman tersebut dan bersiap-siap menuju medan pertempuran baru yang bernama dunia bisnis. Menjadi pengusaha berarti membawa Anda meninggalkan suatu rutinitas sehari-hari dan memasuki dunia baru yang menuntut kreatifitas Anda guna menghadapi setiap tantangan yang ada. Zona nyaman yang semu umumnya berhasil membius mereka yang kurang memiliki jiwa petualangan (adventure) dan mereka yang seumur hidupnya berusaha mencari kemapanan dari aktivitas-aktivitas yang bersifat rutin. Kalau Anda memiliki karakter demikian, maka menjadi pengusaha tampaknya bukanlah untuk Anda. Karena menjadi karyawan ataupun self-employed juga merupakan pilihan yang mulia.
Tetapi lain halnya bagi Anda yang berharap menemukan suatu kebahagian dari proses menciptakan nilai tambah dari sesuatu yang tidak bernilai menjadi sesuatu yang bernilai tinggi maka mungkin dunia ini diciptakan untuk Anda. Oleh karena itu bila Anda merasa zona nyaman tidak lagi menjadi sumber kebahagiaan Anda maka buku ini memang tepat bagi Anda.
3. Berpikirlah Kreatif (Out of the Box)
Pengusaha yang sukses umumnya adalah mereka yang tidak berpikir secara linier. Mereka yang berani berpikir diluar pakem yang ada serta menciptakan inovasi-inovasi baru guna memenuhi kebutuhan masyarakat memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk berhasil dibanding mereka yang hanya berusaha untuk mencontoh sesuatu yang telah ada. Meski tidak mudah untuk berpikir kreatif namun tentu saja hal ini bukan merupakan sesuatu yang mustahil.
Para ahli menyatakan bahwa pada umumnya manusia lebih banyak menggunakan otak kiri dibanding otak kanannya. Otak kiri berfungsi untuk menganalisis sesuatu secara sistematis dan linier sedangkan otak kanan berfungsi untuk hal-hal yang bersifat kreatif, imajinatif dan tidak linier. Masalahnya pendidikan formal kita diduga lebih banyak menekankan pada penggunaan otak kiri dibanding otak kanan sehingga kita terbiasa menyikapi sesuatu dengan berpikir analitis dan sistematis secara linier dan kurang berani menganalisis sesuatu dengan pemikiran yang lebih kreatif dan out of the box. Tentu saja penggunaan otak kanan bisa dipelajari dan dilatih dalam kehidupan kita sehari-hari. Salah seorang rekan saya melatihnya dengan meminjam permainan game Nintendo WII milik anaknya untuk membiasakannya menyelesaikan problem-problem yang ada dalam permainan itu.
Dalam pengalaman saya penggunaan solusi-solusi yang kreatif dan tidak linier terbukti mampu membantu mengatasi problem-problem yang cukup berat. Seringkali persoalan teknis yang dianggap cukup kompleks ternyata cukup diselesaikan dengan berbagai pendekatan yang sederhana namun kreatif. Seperti misalnya kendala lambatnya pengiriman data dari para surveyor kredit salah satu klien kami dikarenakan lambatnya koneksi jaringan internet ternyata cukup diselesaikan dengan cara melakukan pengiriman melalui fasilitas SMS dengan memodifikasi formatnya secara khusus agar sesuai dengan format database kami.
Demikian juga dengan kendala-kendala operasional yang dihadapi oleh pengusaha. Tanpa bermaksud melakukan simplifikasi, dengan sedikit kreatifitas dan imajinasi maka banyak hal yang tampaknya kompleks dapat diselesaikan dengan cara yang relative mudah dan sederhana.
4. Pupuklah Kepercayaan Diri Anda
Salah satu hal terpenting guna meyakinkan calon konsumen ialah dengan menampilkan kepercayaan diri yang besar terhadap produk-produk yang Anda hasilkan. Bagaimana mungkin orang akan tertarik untuk menggunakan produk Anda kalau Anda sendiri tidak memiliki keyakinan yang kuat dan mendasar terhadapnya. Oleh karena itu kepercayaan diri yang besar namun masih dalam kerangka proporsional adalah sangat penting.
Menumbuhkan kepercayaan diri yang konsisten bagi sebagian orang bukanlah perkara yang mudah. Namun sekali lagi hal ini bisa dilatih dan dipelajari hingga pada akhirnya hal tersebut akan secara otomatis telah tertanam dalam diri Anda (embedded). Kepercayaan diri dapat dipupuk dari hal-hal yang paling sederhana hingga hal-hal yang lebih kompleks. Jangan terlalu memperdulikan kritik orang yang tidak bersifat konstruktif karena bisa jadi kritik tersebut memang ditujukan guna menghancurkan kepercayaan diri Anda yang terutama disebabkan oleh rasa iri atau ketidaksukaan terhadap kemajuan yang Anda alami.
Namun bila Anda merasa memiliki problem kepercayaan diri yang serius maka ada baiknya Anda berpikir untuk minta bantuan dari para profesional seperti dari psikolog atau motivator. Adalah sah dan wajar untuk meminta bantuan dari para profesional dalam bidang ini karena hal ini merupakan salah satu komponen esensial yang menentukan berhasil atau tidaknya kehidupan Anda di masa yang akan datang.
5. Jadilah Pribadi yang Proaktif
Untuk menjadi pengusaha yang berhasil maka Anda perlu menjadi pribadi yang proaktif. Proaktif dalam arti Anda harus senantiasa memiliki kesadaran penuh terhadap jalannya roda bisnis. Kewirausahaan menuntut adanya sikap kemandirian dari pengusaha untuk menjalankan roda bisnisnya sehingga diperlukan suatu tindakan proaktif secara terus-menerus. Adalah mustahil untuk mengembangkan usaha hanya dengan bersikap pasif dan tidak melakukan inovasi secara kontinyu dengan kondisi persaingan di pasar yang sangat ketat seperti dewasa ini.
Ini berarti Anda harus mampu mengenali kekuatan (strength) dari bisnis untuk kemudian dipertahankan atau bahkan ditingkatkan dan juga mengenali kelemahan (weakness) dari bisnis tersebut untuk dapat dicari penyelesaiannya. Itulah sebabnya Anda wajib menguasai strategi bisnis seperti SWOT Analysis yang akan kita bahas lebih lanjut dalam bab-bab berikutnya.

6Jangan Mudah Menyerah

Ini merupakan suatu prinsip dasar yang tidak boleh Anda lupakan sepanjang kehidupan Anda sebagai seorang pengusaha. Tantangan dan hambatan tidak akan pernah berhenti sampai kapanpun juga karena sejatinya seseorang akan menjadi lebih kuat dan maju berkat adanya tantangan dan hambatan tersebut. Dalam semua sejarah peradaban manusia, hanya mereka yang mampu mengatasi tantangan dan hambatanlah yang akan menjadi juara. Oleh karena itu perlu selalu Anda tekankan bahwa mudah menyerah bukanlah sikap yang bijaksana bagi seorang pengusaha.
Orang bijak berkata bahwa dalam banyak hal kegagalan merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindarkan, namun yang membedakan antara orang dengan mental pemenang atau bukan adalah kemampuannya bangkit dari kegagalan. Jangan sampai kegagalan kecil dalam usaha membuat Anda jatuh terpuruk dan tidak mampu bangkit lagi. Cobalah melakukan analisis dengan lebih jernih dan objektif apa sebenarnya yang menjadikan Anda gagal. Saya yakin dengan sedikit kesabaran dan banyak kemauan untuk bangkit lagi maka Anda akan mampu mengatasi sindrom kegagalan yang berlarut-larut. Selain itu Anda harus sadar bahwa di dunia ini pada dasarnya tidak pernah ada orang yang sama sekali belum pernah merasakan kegagalan.
7Galilah Setiap Peluang yang Ada
Pada dasarnya pengusaha adalah sekumpulan orang yang jeli memanfaatkan peluang yang ada. Kerepotan yang dialami orang lain merupakan peluang emas bagi kita untuk membuka usaha baru. Seperti misalnya kerepotan orang guna memandikan hewan peliharaannya yang mencetuskan ide Salon Hewan Keliling, atau kerepotan orang menempelkan pesan tertulis yang mencetuskan ide Post It Notes yang sangat legendaris itu.
Perlu diingat bahwa sebenarnya peluang tersebut ada dimana-mana dan kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Bedanya adalah bahwa para pengusaha memanfaatkan peluang tersebut dengan memberikan nilai tambah tertentu untuk selanjutnya dipasarkan kepada mereka yang membutuhkan. Untuk pembahasan lebih detil soal hal ini akan dibahas dalam bab-bab berikutnya yang mengulas soal menemukan ide-ide bisnis.
8Jangan Gengsi
Ini merupakan problem serius bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Dalam pengalaman memberikan konsultasi kepada calon pengusaha baru saya menemukan fakta yang cukup mengagetkan bahwa ternyata banyak sekali orang Indonesia yang memiliki rasa gengsi yang sangat tinggi sehingga enggan mengerjakan hal-hal yang menurut pendapat mereka adalah kegiatan yang “tidak bergengsi”. Waktu saya rekomendasikan untuk membuka usaha di dekat pasar dikarenakan modalnya yang terbatas, klien saya menjawab “Pak, saya khan lulusan S1 mana mungkin saya buka warung bebek goreng di tepi jalan?”. Dia ngotot membuka usaha di salah satu mall yang tentu saja memiliki sewa tempat yang sangat mahal dan diluar kemampuannya.
Menurut saya apabila kita terlalu berpatokan pada gengsi semata dan kurang mendasarkan diri pada penilaian yang lebih objektif dan komprehensif maka hal tersebut akan berpotensi menghasilkan hal-hal ynag kontraproduktif dalam pencapaian tujuan kita. Pada umumnya orang berpikir dengan latar belakang keluarga besarnya yang berhasil, pendidikannya, atau status tertentu yang disandangnya maka memulai sesuatu dari bawah dianggap menjadi sesuatu yang dapat merendahkan statusnya. Padahal dalam ilmu sosiologi pencapaian status yang bersifat achieved status atau status yang diperoleh dengan perjuangan sendiri adalah setara atau bisa jadi lebih mulia dibanding ascribed status yang diperoleh secara otomatis seperti misalnya status kebangsawanan.
Apabila tidak ditangani dengan serius, persoalan gengsi ini bisa menjadi barrier atau hambatan berat bagi mereka yang berkeinginan untuk menjadi pengusaha. Karena pengusaha sesungguhnya adalah mereka yang dengan konsistensi ketekunannya berhasil meningkatkan status mereka dari bukan siapa-siapa menjadi orang yang memiliki peran penting dalam lingkungannya.
9Jangan Malas
Tidak ada satupun resep di dunia untuk menjadi pengusaha sukses secara instan. Karena pada dasarnya kehidupan menjadi pengusaha adalah merupakan suatu perjalanan menempuh serangkaian proses yang saling terintegrasi satu sama lain. Jangan pernah percaya terhadap sesuatu yang sifatnya instan karena bisa dipastikan tidak akan bertahan lama dan tidak mungkin langgeng sifatnya. Easy come easy go!.
Satu-satunya resep untuk bisa berhasil dalah dengan bekerja keras terus menerus secara konsisten. James Caan, seorang konglomerat Inggris, berkata “there is no substitute for hard work, I’m sorry to say”. Tidak ada satupun yang bisa menggantikan kerja keras guna meraih suatu kesuksesan. Oleh karena itu sifat malas tidak akan membawa Anda kemanapun selain kegagalan dalam bidang apapun. Karena pada dasarnya tidak ada orang yang bodoh dalam dunia ini, yang ada adalah orang yang malas dan tidak mau berusaha.
10. Kembangkan Jaringan yang Luas (Networking)
Jaringan relasi bisnis yang luas merupakan suatu faktor yang penting guna mendorong keberhasilan Anda sebagai pengusaha. Menurut Hofstede (2001), seorang ahli budaya bisnis, secara umum orang Indonesia dapat dikategorikan sebagai orang yang bersifat High Context dan komunal yang berarti membutuhkan interaksi yang lebih dalam guna menjalin hubungan bisnis yang erat.
Dalam pengalaman saya kedekatan kita secara personal dengan calon konsumen akan sangat membantu kita untuk dapat memahami kemauannya sehingga memudahkan kita dalam melayani mereka. Oleh karena itu referensi ataupun rekomendasi dari seseorang yang memiliki keterkaitan dengan calon konsumen kita menjadi suatu hal yang penting daam konteks bisnis di Indonesia. Efek lain dari hal ini adalah tumbuh suburnya peran dari perantara (broker) dalam bisnis di Indonesia yang berpotensi merugikan kita karena akan mengurangi margin kita.
Untuk menyiasati hal ini maka sebaiknya kita berusaha menjalin kontak yang lebih luas dengan berbagai cara, misalnya: aktif dalam asosiasi bisnis, aktif dalam organisasi sosial kemasyarakatan, aktif menjadi pembicara, menjadi anggota komunitas bisnis, dsb. Gunakan setiap kesempatan yang ada untuk menjalin kontak-kontak bisnis baru karena Anda akan merasakan manfaatnya suatu saat nanti. Namun perlu diingat bahwa kita wajib menerapkan aspek resiprokal dalam menciptakan suatu relasi yang sehat. Maksudnya ialah bahwa Anda juga wajib memberi bantuan kepada relasi Anda bilamana mereka memerlukannya dan bukannya semata-mata meminta bantuan dari mereka.
11. Bersikaplah Tulus
Hal ini tampaknya mudah dikatakan namun sangat sangat susah untuk dilakukan. Bersikap tulus dalam setiap kesepakatan bisnis akan membuat Anda menjadi orang yang dapat dipercaya dan pada akhirnya akan mendorong keberhasilan usaha Anda. Semua orang tidak akan suka berbisnis dengan orang yang licik dan memiliki terlalu banyak agenda terselubung dalam benaknya yang ujungnya akan merugikan pihak lain. Ini soal moral dan etika oleh karena itu hal ini sangat tergantung dari diri Anda sendiri.
12. Jagalah Integritas Anda
Integritas dan reputasi merupakan suatu komponen yang wajib Anda pelihara sekuat tenaga sampai akhir hayat Anda. Lebih baik mengalami kerugian finansial dibanding kerugian dikarenakan hancurnya reputasi yang telah susah payah kita bangun. Sebagai pengusaha saya berulangkali mengalami kerugian finansial yang tidak sedikit guna menyelamatkan reputasi dan integritas perusahaan kami. Namun tentu saja kerugian finansial itu tidak sebanding dengan reputasi dan integritas perusahaan yang sedang coba kami bangun.
Meski tampaknya besar tetapi sebenarnya lingkup suatu industri di Indonesia adalah sangat sempit. Kalau Anda sadari, dalam suatu sektor industri maka pihak-pihak yang terlibat (stakeholders) seperti konsumen, pesaing, dan pemasok sebenarnya adalah orang yang itu-itu saja. Maka sekali rusak reputasi Anda maka sudah pasti Anda akan mengalami kesulitan untuk terus bertahan dalam sektor industri tersebut.  Sehingga menjaga kepercayaan dari pihak lain dalam bisnis adalah mutlak adanya. Hal ini terutama berkaitan dengan pemenuhan janji kualitas, janji waktu,  dan dalam urusan hutang piutang.
13. Mulailah Berinvestasi pada Diri Anda
Peter F. Drucker (Guru Manajemen Dunia) dikenal memiliki kebiasaan unik untuk senantiasa mempelajari dua hal baru setiap bulan. Oleh karena itu Drucker memiliki sangat banyak keterampilan mulai dari ilmu pengembangan diri, menulis novel fiksi,  hingga masalah tanaman. Dia sangat menyadari bahwa setiap pengetahuan baru akan sangat mendukung kemampuannya guna menciptakan strategi-strategi bisnis baru yang fenomenal.
Oleh karena itu ada baiknya bahwa Anda sebagai seorang pengusaha juga menginvestasikan sesuatu untuk diri Anda sendiri. Investasi tersebut dapat berupa pelatihan atau kursus-kursus yang dapat membantu meraih tujuan Anda dengan lebih efektif dan efisien. Orang sering salah mengira bahwa pendidikan berhenti setelah mereka menamatkan pendidikan sarjana atau paska sarjana mereka. Padahal pendidikan terbaik itu sejatinya adalah pendidikan dalam kehidupan yang tidak akan pernah berakhir (life-long learning). Dengan mengikuti pendidikan singkat di sela-sela kesibukan Anda maka Anda akan memperoleh banyak perspektif baru yang akan sangat membantu Anda guna bekerja dengan lebih efektif dan efisien.
14. Wujudkanlah Mimpi Anda
Hal ini merupakan hal yang terpenting dalam bagian ini. Adalah sangat tipis diantara “dream” dan “dreamer” atau antara “mimpi” dan “pemimpi”. Seornag pemimpi tidak akan sampai kemanapun karena tidak berusaha mewujudkan mimpi-mimpinya. Sebagai manusia Anda berhak memiliki mimpi setinggi langit, namun tanpa kemauan dan kerja keras guna mewujudkan mimpi itu maka Anda hanyalah seorang pemimpi.
Bila Anda memiliki harapan, maka betapapun sulit tampaknya cobalah untuk menghidupkan mimpi tersebut. Mulailah dengan hal yang praktis dan sederhana namun dijalani dengan konsisten. Bukankah pepatah bijak kuno berbunyi “a thousand miles of journey begins wih a single step”? Buatlah objective (tujuan) yang spesifik lalu ciptakan strategi dan taktik yang tepat guna mencapainya. Ingatlah selalu bahwa semua hal tidak ada gunanya tanpa adanya suatu tindakan atau Action! 


APA ITU ENTREPRENEURSHIP?

Ada banyak sekali definisi Entrepreneurship, namun menurut penulis yang paling sesuai adalah definisi menurut Peter F. Drucker. Menurut Drucker, Entrepreneurship adalah “…the practice of consistently converting good ideas into profitable commerce venture”. Secara bebas dapat diartikan bahwa Entrepreneurship adalah suatu “…aktivitas yang secara konsisten dilakukan guna mengkonversi ide-ide yang bagus menjadi kegiatan usaha yang menguntungkan”.
Disitu tampak bahwa komponen yang penting adalah Consistent, Convert, Ideas, dan Profitable. Consistent (Konsisten) berarti tindakan itu dilakukan secara terus menerus dengan tingkat determinasi yang tinggi, sedangkan Convert (konversi) mengandung makna mengkonversi dari sesuatu hal yang tidak berarti menjadi hal baru yang bernilai. Juga hal yang terpenting adalah adanya Ideas (ide-ide) yang brilian namun dapat diwujudkan secara riil. Perlu diperhatikan bahwa ide-ide secermelang apapun tidak akan memberi manfaat atau faedah bila tidak bisa ditransformasikan menjadi sesuatu yang riil dan berdaya guna. Oleh karena itu alangkah baiknya bila kita mulai membiasakan untuk mendokumentasikan ide-ide yang kita hasilkan dan lantas bilamana dirasa pantas dapat segera ditransformasikan menjadi sesuatu yang riil.
Menurut saya, ide yang ditransformasikan menjadi sesuatu yang riil dan bernilai ekonomis adalah akar (root) dari Entrepreneurship. Napoleon Hill, the father of modern motivator, menyebutkan bahwa ide-ide (dan juga imajinasi) merupakan suatu komponen mutlak yang mesti dimiliki oleh mereka yang ingin sukses. Kali ini saya belum akan mengulas lebih lanjut tentang ide, karena akan dibicarakan lebih lanjut pada bab-bab selanjutnya.
Setelah membahas sekilas tentang definisi Entrepreneurship, berikutnya saya akan lebih fokus membahas tentang mengapa (why) menjadi entrepreneur. Sengaja saya buat dalam bentuk daftar karena ternyata dari respons teman-teman mereka lebih suka penyajian dalam bentuk daftar.
1. Kebebasan Finansial
Hal yang paling diidam-idamkan semua orang adalah kebebasan finansial. Dengan menjadi entrepreneur maka kesempatan itu terbuka sangat lebar karena semua Anda tentukan sendiri. Mulai dari target, cara memperoleh, kapan, hingga seberapa banyak semuanya terserah Anda selaku pelaksananya. The sky is the limit, demikian orang menyebutnya.
2. Kebebasan Waktu
Waktu merupakan suatu hal yang tidak tergantikan, sekali hilang ya hilang sudah tanpa bisa kita peroleh kembali. Selain itu apabila Anda sudah berkeluarga maka pilihan menjadi entrepreneur adalah pilihan yang bijaksana mengingat apabila Anda menjalankan bisnis dengan tepat dan telah berhasil membangun sistem “auto pilot” dalam bisnis Anda, maka kebebasan waktu niscaya dapat Anda miliki. Jangan pernah bangga menjadi orang super sibuk, tapi berbanggalah menjadi orang punya banyak waktu untuk berbagi ke sesama. Demikian kata guru saya.
3. Membuka Lapangan Kerja
Bayangkan kalau Indonesia memiliki 10 juta entrepreneur baru, maka dijamin angka pengangguran akan turun drastis atau bahkan minus bila perlu. Selain itu dengan menjadi entrepreneur berarti kita membuka kesempatan lapangan kerja untuk saudara, rekan, atau kerabat yang mungkin karena keterbatasannya kesulitan mencari kerja di tempat lain.
4. Kemandirian
The best thing in life is freedom! Dengan menjadi entrepreneur semua aktivitas, baik hasil maupun resikonya ada di tangan Anda. Oleh karena itu Anda bebas menentukan ingin seperti apa Anda di kemudian hari tanpa harus menyerahkan jalur karirAnda pada orang-orang HRD.
5. Sarana Mewujudkan Ide yang Ekstrem
Dulu ada salah seorang mahasiswa saya memiliki ide untuk membuka salon khusus anak muda penganut gothic dan punk lengkap dengan studio tattoo, piercing, dan aksesoris khas underground lainnya. Dia berungkali mencoba mengutarakan ide tersebut kepada bos factory outlet tempatnya bekerja dan juga kepada investor lain. Tentu saja ide tersebut tidak dapat diterima oleh mereka yang berpikir linear dan rigid. Karena frustasi dia memutuskan untuk nekat membuka studio tersebut dalam bentuk Mobile Shop & Studio alias salon dan toko dalam mobil pick-up guna menghemat sewa tempat. Akhirnya perlahan tapi pasti usahanya berkembang juga meski mulanya dia harus tertatih-tatih dikarenakan keterbatasan modal. Terakhir waktu saya tanya dia bilang sangat bangga karena berhasil mewujudkan ide bisnisnya yang bagi sebagian orang dianggap ekstrem.
6. Solusi Anti PHK
Dengan menjadi entrepreneur tentu saja Anda tidak perlu khawatir untuk kena PHK, kecuali tentu saja Anda mem-PHK diri Anda sendiri.
7. Kesempatan Masih Luas
Dengan jumlah penduduk yang ratusan juta, maka tentu saja peluang dan kesempatan yang ada bagi kita untuk membuka usaha sangatlah luas. Yang penting kita kreatif, mau bekerja keras, dan tidak gengsi maka sebetulnya hampir tidak ada alasan untuk tidak bisa membuat usaha yang sukses.
8. Untuk Semua Orang dan Bisa Dipelajari
Entrepreneurship tidak identik dengan suatu suku atau ras tertentu. Banyak dari kita terjebak oleh mitos-mitos yang sebenarnya tidak tepat. Karena semua itu ada ilmunya dan bisa dipelajari dan karenanya bisa dilakukan oleh siapapun sepanjang dia mau dan berani mencoba.
Demikian sedikit alasan kenapa menjadi entrepreneur, diluar itu masih banyak alasan lain yang layak dipertimbangkan.



1000 ALASAN UNTUK GAGAL, 1 KEMAUAN UNTUK SUKSES

Selama ini sering berkembang anggapan dalam masyarakat bahwa menjadi pengusaha memerlukan suatu “kualifikasi” khusus yang sangat tinggi dan tak mudah dijangkau. Dari sekedar persepsi, lambat laun anggapan tersebut akhirnya menjelma menjadi suatu mitos yang sulit diurai dari kenyataan yang sesungguhnya. Saya sendiri dulunya termasuk orang yang terjebak dalam mitos itu, seperti misalnya: “…oh karena saya adalah dari suku Sioux, maka saya tidak mungkin menjadi pengusaha seperti mereka yang berasal dari suku Apache” dan sebagainya. Namun kenyataannya setelah saya jalani ternyata hal-hal yang mulanya saya terima sebagai kebenaran ternyata hanyalah mitos semata yang banyak salahnya dibanding benarnya. Berikut adalah beberapa mitos yang kerap saya jumpai dalam masyarakat:
  • Pengusaha adalah Seorang RISK TAKER/Penjudi
Dulu saya dan mungkin sebagian besar orang berpikir bahwa pengusaha sudah semestinya adalah seorang Risk Taker sejati. Saking berani dan nekatnya, maka saya mengidentikkan pengusaha dengan penjudi yang main judi dadu seperti dalam kisah Mahabarata dimana Yudhistira bermain judi melawan Duryudana dan bahkan sampai mempertaruhkan Drupadi dalam ajang perjudian itu. Pilihannya selalu hanya dua, menang berarti sukses atau kalah dan berarti malapetaka, tidak ada alternatif lain.
FAKTA:
Menjadi pengusaha tidak semestinya berjudi, namun lebih banyak bersifat RISK HANDLER, yakni memiliki kemampuan untuk mengendalikan potensi dan resiko yang mungkin terjadi. Semua tindakan yang melibatkan pilihan pasti memiliki resiko meski sekecil apapun. Pengusaha dengan jam terbang yang cukup semestinya bisa membedakan diantara berani mengambil resiko dan melakukan tindakan konyol. Bahwa resiko itu pasti ada memang tak terhindarkan, namun mengantisipasi resiko, mengkalkulasi resiko, serta menyiapkan alternatif solusi untuk meminimalisir dampak resiko juga merupakan strategi yang harus dikuasai oleh seorang pengusaha tulen.
  • Hanya untuk Etnis/Suku Tertentu
Sebagian orang beranggapan bahwa pilihan menjadi pengusaha hanya didominasi oleh suku tertentu, katakanlah suku Apache. Sedangkan mereka yang berasal dari suku Sioux “ditakdirkan” menjadi petarung. Bagi saya itu hanyalah semacam “denial” atau penyangkalan sepihak dari orang yang enggan atau malas mencoba sesuatu yang baru.
FAKTA:
Faktanya untuk menjadi pengusaha tidak mesti dari suku Apache. Semua orang berhak dan bisa menjadi pengusaha sepanjang dia mau dan mampu mengusahakannya. Meskipun mungkin banyak orang dari suku Apache yang menjadi pengusaha, namun berdasarkan refleksi saya hal itu lebih dikarenakan keuletan, etos kerja, jaringan, dan juga kemauan yang kuat dari anggota suku Apache untuk menjadi seorang pengusaha. Dalam abad XXI ini menurut saya sangatlah naïf kalau kita mengaitkan suatu pencapaian dengan latar belakang suku, etnis, dan agama. Intinya adalah semua bisa kalau tahu caranya.
  • Ini Soal Genetik
Kerap kali saya mendengar dari rekan saya bahwa mereka tidak percaya diri untuk membangun bisnis dikarenakan latar belakang mereka yang bukan dari pengusaha. Teman saya sedemikian yakinnya bahwa dia tidak akan mampu menjadi pengusaha yang sukses karena ayahnya adalah seorang pegawai negeri dan ibunya adalah seorang guruSaya sepakat dengan dia bahwa dia memang tidak akan mungkin berhasil menjadi pengusaha yang sukses. Bukan karena dari latar belakang profesi orang tuanya, tapi lebih karena keyakinannya yang kuat pada sesuatu yang salah dan konyol.
FAKTA:
Saya yakin semua hal itu bisa dipelajari. Karena santet dan debus bisa dipelajari, maka saya 1000% yakin kalo untuk menjadi pengusaha itu sudah pasti ada ilmunya dan pasti bisa dipelajari. Sekali lagi ini soal kemauan, bukan soal latar belakangnya.
  • Perlu Modal Besar
Banyak orang berpikir bahwa dia tidak akan bisa memiliki usaha dikarenakan tidak memiliki modal yang cukup. Karena tidak memiliki modal, maka harus pasrah menjadi pegawai seumur hidupnya. Bagi saya menjadi pegawai adalah pilihan yang mulia, asal memang dinikmati dan bukannya karena suatu keterpaksaan.
FAKTA:
Saya pasti berbohong kalau bilang modal itu tidak penting, karena modal itu super penting sekali. Namun masalahnya sebagian orang itu hanya berpikir bahwa modal itu identik dengan uang, titik! Menurut saya itu merupakan suatu pemikiran yang sangat simplistik dan tidak kreatif. Modal itu bisa dalam berbagai bentuk. Waktu memiliki usaha saya memang tidak memiliki modal uang, namun saya memiliki modal lain yang sangat besar, yakni kemauan, determinasi, jaringan bisnis, ketrampilan, dan  juga kemampuan membaca peluang. Saya yakin banyak orang Indonesia yang memiliki modal dalam bentuk uang, namun tidak memiliki modal seperti yang saya punyai. Jadi yang perlu saya lakukan hanyalah melakukan sinergi dari modal-modal tersebut.
  • Perlu Pendidikan Tinggi
“Karena hanya lulus SMA, maka saya cukup menjadi OB saja Pak.” Demikian ujar karyawan saya beberapa tahun silam. Dia bilang sama sekali tidak berani (bahkan bermimpi sekalipun) menjadi pengusaha karena dia merasa hanya tamatan SMA dan tidak memiliki cukup ketrampilan.
FAKTA:
Faktanya Ibu saya , seorang “lulusan” SD kelas 2 sebelum sekolahnya keburu ditutup karena peristiwa G30S tahun 1965, dalam masa jayanya sempat mengembangkan serangkaian usaha di beberapa negara dengan staff yang rata-rata minimal lulusan D3 dan S1. Saya sependapat sekali bahwa pendidikan itu penting, namun bukan berarti tanpa pendidikan tinggi merupakan akhir dari semua hal. Banyak referensi nyata pengusaha yang memiliki pendidikan biasa-biasa saja namun akhirnya bisa berhasil. Pendidikan singkat yang berbasis vokasional (vocational) yang sekarang marak berkembang, menurut saya merupakan sarana yang efektif untuk terus meng-upgrade kemampuan personal kita.
  • Menunggu Situasi Ekonomi Membaik
Beberapa sahabat berujar kepada saya bahwa mereka akan membuka usaha pada saat situasi ekonomi membaik lepas dari krisis global.
FAKTA:
Faktanya krisis tidak akan pernah berhenti! Karena krisis itu lebih berupa sudut pandang akan sesuatu. Kalau kita melihat itu sebagai krisis, maka situasinya memang akan menjadi krisis, namun sebaliknya kalau kita melihat dari sudut pandang yang lainnya, maka kondisi saat ini merupakan kondisi yang prospektif dan penuh peluang. Sekali lagi ini soal persepsi dan yang pasti persepsi itu tidak sama dengan realitas.
Demikian sekilas refleksi saya soal mitos-mitos tentang entrepreneurship yang berkembang dalam masyarakat kita. Saya tidak pernah berpretensi refleksi saya tersebut benar, namun hal tersebut lebih berupa merupakan sharing berdasarkan pengalaman saya yang masih minim. Akhirnya, kita bisa punya 1000 alasan untuk gagal dan hanya perlu 1 kemauan saja untuk sukses!



ENTREPRENEURSHIP ADALAH PILIHAN

Saat ini sebagian orang berpendapat bahwa Entrepreneurship adalah satu-satunya pilihan untuk menjadi sukses dan bahagia dalam hidup. Hal tersebut umumnya dimunculkan dalam berbagai artikel, buku, majalah atau seminar-seminar yang berhubungan dengan Entrepeneurship. Namun saya kurang sependapat dengan ide tersebut, menurut saya menjadi pengusaha adalah sebuah PILIHAN. Saya menjadi pengusaha karena itu pilihan yang mulia dan sama mulianya dengan keputusan orang lain untuk menjadi karyawan, profesional, ataupun self-employed.
Menurut saya hal ini penting untuk dipikirkan karena dalam berbagai kuliah, pelatihan dan lokakarya yang saya ampu saya seringkali berinteraksi dengan peserta yang berpikir bahwa menjadi pengusaha adalah satu-satunya pilihan dalam hidup untuk bisa kaya, sukses, dan bahagia. Sering sekali saya berdiskusi dengan mereka yang ikut latah menjadi pengusaha sebagai akibat pemahaman yang kurang tepat mengenai esensi entrepreneurship. Tentu saja saya sepakat bahwa semua orang berhak dan pasti bisa berhasil menjadi pengusaha. Namun dengan memaksakan diri mengikuti tren menjadi pengusaha tanpa dibarengi dengan persiapan mental dan teknis yang memadai merupakan tindakan yang kurang bijaksana.
Selain itu saya berpendapat bahwa orang wajib happy dengan pilihannya untuk menjadi pengusaha. Kalau dari awal orang tidak bahagia dengan pilihannya sebagai pengusaha maka dia telah memikul beban tambahan yang makin memberatkan langkahnya untuk menjadi pengusaha yang sukses.
Berdasarkan hasil diskusi saya dengan beberapa rekan dan sahabat dalam sesi coaching, saya mengidentifikasi adanya pola yang membedakan mereka yang memilih menjadi pengusaha karena panggilan hidupnya dengan mereka yang menjadi pengusaha karena latah atau karena tren semata. Pada umumnya mereka yang memutuskan menjadi pengusaha karena pilihan hidupnya akan memiliki determinasi yang jauh lebih besar dibanding mereka yang latah. Determinasi menjadi faktor penting karena pada fase awal usaha pada umumnya timbul tantangan yang berpotensi mengikis motivasi kita. Pada titik tertentu bila tantangan tersebut hadir secara beruntun maka determinasi dan komitmen kita akan diuji. Fakta menunjukkan bahwa mereka yang menentukan pilihan hidup untuk menjadi pengusaha akan lebih tahan menghadapi tantangan yang ada dibanding mereka yang latah atau ikut-ikutan tren sesaat.Entrepreneurship jelas sebuah pilihan, jadi kalau Anda memang telah memilih dan memutuskan menjadi pengusaha maka pastikanlah Anda memilih dengan kepala dingin dan mengikuti kata hati Anda. Jangan sekali-kali pilihan tersebut Anda buat hanya karena Anda mengikuti kata buku ini, kata seminar, kata majalah, kata koran, kata pak anu, kata bu itu, dsb. Memutuskan menjadi pengusaha memiliki konsekuensi untuk mengubah secara radikal mindset (prinsip berpikir) dan lifestyle (gaya hidup) Anda. Oleh karena itu sekali Anda memilih untuk menjadi pengusaha, maka Anda wajib berkomitmen untuk berpikir dan bertingkah laku sebagai seorang pengusaha.
Salah satu contoh paling riil dari hal tersebut adalah fenomena Kafe Tenda di sekitar awal 2000an. Waktu itu banyak orang berbondong-bondong mengadu peruntungan bisnis mereka dengan membuka kafe tenda, mereka datang dari berbagai macam golongan mulai dari pekerja kantoran, pejabat, hingga para artis. Selain kafe tenda banyak lagi contoh seperti Kedai Pisang Goreng Kalimantan atau fenomena franchise berbagai macam jenis usaha. Namun sekarang berapa banyak yang bisa bertahan?
Mereka yang mendirikan usaha karena ikut-ikutan tren sesaat akan dengan mudahnya memutuskan untuk balik kanan dan melarikan diri dari tantangan yang ada. Lain halnya dengan mereka yang memang memutuskan membuka kafe karena passion-nya. Salah satu yang bertahan (dan semakin sukses) adalah rekan sekaligus mentor saya, Rene Canoneo, yang membuka kafe karena itulah panggilan hidupnya. Rene bisa bertahan dan sukses karena baginya menjadi pengusaha adalah pilihan hidup yang dipilihnya, bukan karena mengikuti kata orang atau tren sesaat.
Kesimpulannya, pastikanlah bahwa keputusan menjadi pengusaha merupakan PILIHAN Anda sendiri dan Anda wajib bertanggungjawab sepenuhnya terhadap pilihan tersebut. Bukan karena bujuk rayu dari buku ini, menurut seminar, kata Pak Anu, Bu Itu, artikel koran, majalah, dsb.



MILLIONAIRES MINDSET REVISITED!

Dalam beberapa kali kesempatan untuk menyampaikan training dan workshop, saya seringkali mendapat pertanyaan dari peserta yang kurang lebih berbunyi “Pak, saya merasa sudah bekerja keras, berdoa juga ngga kurang-kurang. Tapi mengapa kehidupan finansial saya tidak berubah?” atau ada juga yang setengah menghakimi diri dengan bertanya “Pak, mungkin sudah takdir saya kali ya, koq semua upaya sudah saya jalankan tapi keuangan saya tidak kunjung membaik?”
Meski pertanyaan tersebut tampaknya sederhana, tapi untuk menjawabnya sangatlah tidak sederhana dan memerlukan penjelasan yang panjang lebar. Karena waktu yang tersedia untuk menjawab tidak banyak maka saya memutuskan untuk menukil lagi list Millionaire Mindset yang saya ambil dari buku “The Secret of Self-Made Millionaire” karya Adam Khoo. Menurut saya buku tersebut sangat bagus untuk dibaca bagi mereka yang ingin mengetahui “isi kepala” dan mindset para milyuner. Kali ini saya akan berusaha menuliskannya dengan list yang simpel dan sesederhana mungkin supaya dapat lebih mudah dipahami
Always Exceed Expectations – Senantiasa Melebihi Ekspektasi.
Orang tua saya berpesan bahwa dalam setiap bidang yang saya geluti, maka saya harus menyediakan 110% kemampuan yang saya miliki. Karena hanya itulah cara yang diperlukan untuk bisa berhasil dalam bidang apapun. There’s no time for mediocre – tidak ada tempat untuk kaum medioker. Intinya kalaupun saat ini Anda sedang menjadi tukang sapu, maka jadilah tukang sapu yang TERBAIK di dunia. Demikian halnya kalau saat ini Anda adalah seorang CEO di suatu perusahaan besar, maka jadilah CEO terbaik. Memberikan sesuatu diatas ekspektasi akan menjamin keberhasilan Anda di bidang apapun.
Be Proactive – Jadilah Proaktif
Orang yang berhasil selalu sigap terhadap setiap peluang yang ada, sedangkan orang yang gagal hanya menunggu sampai kesempatan itu menghampirinya. Fakta menunjukkan bahwa peluang itu dapat kita CIPTAKAN kalau kita memiliki kemauan yang kuat.
Take 100% Responsibilities – Ambil Tanggung Jawab 100%.
Para pemimpin dan juga milyuner fokus untuk bertanggung-jawab atas setiap tindakan dan hasil perbuatan mereka. Mereka tidak menyalahkan keadaan ataupun orang lain sepertu yang sering digunakan oleh orang-orang gagal. Oleh karena itu maka sebaiknya kita mulai berlatih dan berupaya untuk berani mengambil keputusan dan mengambil tanggung–jawab atas setiap tindakan kita.
Delayed Gratification – Menunda Kesenangan
Salah satu tradisi yang menghambat seseorang untuk berhasil secara finansial adalah adanya perilaku yang mendahulukan kesenangan dibanding keputusan untuk menabung atau berinvestasi. Milyuner mendahulukan keuntungannya untuk menabung dan melakukan investasi sebelum mereka menikmati hasil pendapatannya.
Do what You Love – Lakukan yang Anda Senangi
Temukan PASSION Anda, dan jalankanlah! Hal tersebut akan menjamin kesuksesan Anda selamanya karena Anda menjalankan sesuatu yang Anda cintai dan Anda akan mudah menyatu di dalamnya. Betapapun keras dan sulitnya proses yang terjadi, Anda tidak akan pernah mundur karena Anda menikmati seutuhnya apa yang Anda lakukan. Jangan pernah bekerja atau berbisnis yang bahkan Anda sendiri tidak menyukainya.
Acting with Integrity – Bertindaklah dengan Integritas
Reputasi dan kerja keras yang telah dibina selama berpuluh-puluh tahun, akan hancur oleh satu kejadian yang merusak integritas Anda. Maka berhati-hatilah dengan integritas yang Anda miliki. Jangan pernah mempertaruhkan integritas Anda dengan hal apapun, karena hal tersebut akan menghancurkan hidup Anda selamanya.
Be 100% Commited – Komitmen 100%
Kalau Anda memiliki suatu komitmen, maka pastikan bahwa Anda akan 100% berkomitmen untuk menyampaikan hasil yang terbaik yang Anda bisa lakukan. Setiap orang akan menaruh hormat kepada mereka yang berkomitmen 100% untuk menjalankan kesepakatan yang telah dibuat. Patut dipikirkan untuk menolak tawaran yang ada apabila Anda memang tidak mampu memberikan komitmen 100%.
The Ability to Turn Failure into Success – Kemampuan Mengubah Kegagalan Menjadi Sukses
Prinsip berpikir “There’s no failure, only feedback” atau “Tidak ada kegagalan, yang ada hanya masukan” dari NLP menjelaskan dengan tepat tentang kemampuan kita untuk mengolah cara pandang kita terhadap apa yang kita sebut dengan kegagalan. Kalau kita melihat bahwa sejatinya kegagalan itu hanyalah masukan (feedback) bagi kita untuk menjadi insan yang lebih baik maka semestinya kita tidak perlu memiliki rasa takut terhadap kemungkinan hasil (result) yang bisa terjadi. Dengan sedikit pemahaman tentang konsep REFRAMING atau kemampuan melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda, maka kita memiliki perangkat yang sangat efektif untuk berhadapan dengan hasil yang tidak kita sukai.
Respect & Love Money – Hormat dan Cinta Uang
Hormat dan cinta disini bukan berarti bahwa kita harus menghamba terhadap uang, namun lebih berupa kemampuan kita untuk melihat uang sebagai suatu output dari suatu proses. Dengan menggunakannya sebaik mungkin dan seefisien mungkin sesuai dengan KEBUTUHAN dan bukan keinginan kita maka kita telah menunjukkan rasa hormat dan cinta kepada uang.
Demikian 9 Millionaire Mindset yang saya sarikan dan interprestasikan dengan bahasa saya dari buku  “The Secret of Self-Made Millionaire” karya Adam Khoo. Saya mendorong Anda untuk menggali hal ini dengan lebih detil dari sumber-sumber yang ada. Perbedaan penafsiran adalah biasa, kritik, saran dan komentar sangat dinantikan.



WIRAUSAHA TI, SULITKAH?

Berdasarkan pengamatan penulis, saat ini rasa-rasanya industri teknologi informasi Indonesia sedang terjangkiti virus kewirausahaan. Hal tersebut sah-sah saja dan malah bagus menurut sudut pandang penulis mengingat fakta menunjukkan saat ini masih terdapat jutaan orang dalam usia produktif yang masih harus berjibaku memperebutkan lapangan kerja yang sangat terbatas.
Logikanya bila ada sekitar 1000 orang saja membuka usaha, dengan asumsi rata-rata tiap perusahaan memperkerjakan 5 tenaga kerja, maka setidaknya akan ada sekitar 5000 orang yang terserap dalam lapangan pekerjaan tersebut. Bila tiap orang setidaknya menghidupi satu istri dan satu anak, maka setidaknya 15.000 orang akan tercukupi kebutuhan hidupnya. Bayangkan bila ada 1 juta manusia Indonesia yang berani membuka usaha sendiri.
Namun demikian, bila kita berbicara dengan tataran yang lebih realistis. Membuka usaha sendiri tidaklah semudah yang dibayangkan. Meskipun juga jangan dijadikan sebagai alasan untuk membuat kita mundur dalam meraih cita-cita membuka usaha sendiri. Sektor Teknologi Informasi (TI) dalam prediksi dan keyakinan penulis merupakan salah satu industri masa depan yang sangat prospektif. Dalam kajian secara informal maupun berdasarkan kajian ilmiah sewaktu penulis menyusun tesis, diperoleh kesimpulan bahwa industri alih daya (outsourcing) TI di Indonesia telah dan akan terus berkembang pesat.
Hal tersebut diatas terutama didukung dengan berbagai alasan utama, seperti: penghematan biaya, akses terhadap teknologi dan ketrampilan khusus, akses terhadap kualitas layanan yang lebih baik, dan terutama keputusan untuk fokus kepada bisnis inti (core business). Larry Ellison (CEO Oracle Corp) pernah berujar: “why should every doctor’s office have to be a tech company too, employing high-paid staffs who spend all of their time fiddling around with computers?”. Kalimat tersebut jelas menunjukkan optimisme objektif bahwa bisnis TI akan terus berkembang seiring dengan kesadaran dari perusahaan-perusahaan untuk melakukan alih daya TI kepada pihak luar.
Dalam konteks Indonesia, berdasarkan pengalaman penulis sebagai penyedia solusi alih daya TI, potensi pasar yang tersedia bisa dibilang sangat besar dan akan terus berkembang. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa terdapat banyak perusahaan blue-chip nasional yang masih menjalankan aktivitas operasionalnya secara manual dan belum terotomasi. Logikanya bila perusahaan papan atas masih banyak melakukan aktivitas manual, bisa dibayangkan untuk perusahaan kelas kecil dan menengah. Mengingat potensi UKM di Indonesia yang sangat besar, penulis yakin bahwa bisnis TI akan terus berkembang dengan pesat di masa datang.
Setelah yakin dengan potensi pasar, pertanyaan selanjutnya ialah bagaimana memulai bisnis tersebut? Sebagaimana galibnya memulai usaha baru, diperlukan beberapa hal dasar yang mutlak diperlukan untuk memulai usaha dengan baik. Secara singkat, setidaknya diperlukan tiga hal utama, yakni mental, modal, dan ketrampilan. Sebagian orang percaya diperlukan juga keberuntungan (LUCK) dalam memulai bisnis baru, namun penulis lebih percaya dengan akronim LUCK = Labor Under Correct Knowledge atau dengan kata lain sebenarnya kitalah yang harus menciptakan keberuntungan kita sendiri.
Sikap mental yang jujur, tangguh, berani, ulet, dan tidak mudah menyerah merupakan karakteristik mutlak dari wirausaha yang menginginkan kesuksesan dalam bisnisnya. Namun demikian sikap mental tersebut bukanlah sesuatu yang “taken for granted” alias otomatis dimiliki oleh setiap orang. Sebagai manusia, kita harus belajar dan terus mencoba untuk melatih sikap-sikap mental tersebut. Tanpa usaha dan latihan yang berkesinambungan, rasanya susah untuk memiliki sikap mental seperti itu.
Hal selanjutnya yang sering dianggap hambatan dalam memulai usaha baru adalah ketiadaan modal. Hal ini wajar mengingat di Indonesia tidaklah mudah memperoleh modal usaha yang diperlukan untuk memulai suatu bisnis. Dalam konteks bisnis TI, hal ini sebenarnya dapat diatasi dengan berbagai cara. Bisnis jasa konsultasi TI (software, networking) biasanya tidak memerlukan modal yang besar. Cukup berbekal ketrampilan dan kemampuan untuk “menjual” ketrampilan tersebut maka biasanya sebuah usaha TI dapat dimulai dengan modal yang seminim mungkin. Apabila Anda masih mahasiswa, banyaklah bergabung dengan komunitas mailing list atau e-forum yang mungkin dapat menjadi jembatan awal dalam menawarkan ketrampilan Anda.
Selain itu juga ada kesempatan untuk menawarkan diri Anda menjadi tenaga lepas (freelancer) dalam mengerjakan proyek-proyek TI. Bagi Anda yang baru lulus dan belum memiliki ketrampilan tinggi, hal ini merupakan peluang yang bagus untuk meningkatkan ketrampilan Anda dan sekaligus mengumpulkan portofolio. Bila memungkinkan, carilah proyek dari perusahaan yang ternama atau multi nasional. Karena dengan demikian akan memberikan nilai tambah bagi Anda apabila Anda hendak menawarkan jasa kepada perusahaan lain.
Setelah yakin dengan ketrampilan dan jam terbang Anda, tak ada salahnya bila mulai memikirkan untuk membuka usaha secara formal. Ada baiknya memulai usaha bersama rekan yang memiliki visi yang sama mengingat keterbatasan modal yang ada. Para ahli kewirausahaan berpendapat bahwa 18 bulan pertama dalam bisnis merupakan masa kritis yang akan menentukan kelangsungan sebuah bisnis, Oleh karena itu pada periode tersebut faktor produksi, pemasaran, keuangan, dan pengelolaan SDM harus diperhatikan dengan sangat seksama.
Umumnya problem yang dihadapi oleh bisnis baru berkisar pada faktor pemasaran dan cash-flow. Untuk pemasaran, hal ini dapat diminimalisir dengan membina jaringan bisnis (networking) seluas-luasnya melalui kerjasama dengan perusahaan-perusahaan sejenis yang sudah mapan melalui mekanisme sub-kontrak. Sedangkan untuk problem cash-flow, bisa diminimalisir dengan menekan pengeluaran semaksimal mungkin serta mengajukan negosiasi skema pembayaran dari klien melalui mekanisme permintaan down-payment atau membuka kesempatan kepada klien untuk membayar secara angsuran per bulan. Apabila memungkinkan, bisa dipikirkan juga dengan skema pembayaran re-curring yang dihitung berdasarkan jumlah per transaksi.
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan apabila kita berharap agar usaha kita terus berkembang. Dalam sebagian besar proyek TI, terutama jasa, pada umumnya terdapat 3 hal yang krusial, yakni kualitas pekerjaan, ketepatan waktu, dan harga. Seringkali harga justru bukan menjadi hal yang penting mengingat umumnya proyek TI yang dikerjakan merupakan kebutuhan yang sangat mendesak bagi suatu perusahaan. Oleh karena itu, bila kita ingin terus eksis dan berkembang dalam industri ini maka kualitas pekerjaan yang prima dan ketepatan waktu seyogyanya harus senantiasa menjadi kredo dalam menjalankan setiap pekerjaan yang ada.
Juga ada baiknya kalau pengusaha TI pemula mulai berpikir untuk mulai fokus menawarkan solusi dibanding hanya menawarkan produk atau jasa semata. Solusi yang merupakan integrasi dari produk dan jasa membuka kesempatan bagi kita untuk memberikan layanan yang lebih luas dan terintegrasi kepada klien. Bayangkan bila kita berhasil membuat bundle software produksi kita dengan hardware merk terkenal dan juga ditunjang dengan jasa maintenance yang memadai, tentu penawaran tersebut akan jauh lebih menarik bagi calon klien daripada sekedar menawarkan produk atau jasa semata.
Lepas dari semua itu, terdapat satu hal khusus yang sangat penting untuk diperhatikan, yaitu kemampuan untuk membina relasi yang baik dengan klien. Bagi sebuah bisnis, klien adalah segalanya dan tanpa klien mustahil sebuah bisnis bisa bertahan. Selain mengharapkan kualitas kerja yang maksimal dan ketepatan waktu. Lebih bagus kiranya kalau kita juga menjalin hubungan profesional yang harmonis dengan klien kita. Menelpon secara periodik untuk mengkonfirmasi hasil kerja kita atau menelpon sewaktu mereka berulangtahun bisa menjadi sarana yang baik untuk menjadikan mereka klien yang setia dan memberikan referensi yang bagus kepada rekan-rekan mereka atas pekerjaan kita.
Walau jauh dari sempurna, penulis berharap agar tips diatas bisa menjadi referensi ringkas bagi calon-calon wirausaha TI di Indonesia. Memang tidak mudah menjadi pengusaha handal, namun dengan kerja keras dan ketekunan niscaya Tuhan akan menganugerahi kita untuk meraih kesuksesan.



HOW TO SERIES – MENEMUKAN IDE BISNIS

Setelah memahami makna Entrepreneurship dan memiliki mindset yang tepat, maka tibalah saatnya untuk ACTION! Karena kesuksesan adalah milik mereka yang mewujudkan mimpinya dan bukan pemimpi itu sendiri. Langkah pertama yang diperlukan adalah menemukan ide-ide bisnis yang tepat dan sesuai. Menurut saya menemukan ide bisnis bisa dibilang gampang-gampang susah karena memang memerlukan daya imajinasi yang kuat, kepekaan, dan kemampuan untuk membaca peluang.
Sampai tiba saatnya kita berteriak Eureka!, seperti Einstein, maka bisa dipastikan proses tersebut tidak berlangsung dengan mudah. Pasti akan melibatkan serangkaian pemikiran dan usaha yang tidak sedikit untuk menemukan ide tersebut. Orang bijak bilang “Nothing so powerful than idea arriving at the right time” atau “tidak ada yang sedemikian berharga dibanding ide yang hadir pada saat yang tepat”. Saya  termasuk orang yang percaya dengan hal tersebut, oleh karena itu langkah awal yang krusial dalam memulai bisnis adalah menemukan ide yang “right-fittest” alias tepat dan sesuai untuk Anda.
Odong2Pada abad XXI ini, dimana gelombang ketiga (informasi, merujuk pada Toffler) telah sedemikian merasuk dalam sendi-sendi kehidupan, maka menemukan ide yang pertama dan100% orisinal serta brilian jelas bukan perkara yang mudah atau malah mungkin bisa dibilang nyaris mustahil. Cobalah berkeliling ke sentra-sentra dagang, maka Anda akan menemukan 1001 jenis barang yang luar biasa uniknya. Ditambah lagi dengan fakta bahwa orang Indonesia, utamanya Jakarta, memang dikenal super kreatif. Sebagai contoh misalnya: Cloning PIN Blackberry yang sedang marak saat ini, atau konsepMobile Entertainment yang disini dikenal dengan wahana Odong-odong. Saya pastikan berdasarkan pengalaman saya itu hanya ada di Indonesia.
Meski demikian bukan berarti ide-ide bisnis baru tidak bisa kita hasilkan lagi. Sepanjang ada kemauan maka pasti ada jalan keluarnya, “there is a way when there is a will”. Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menemukan ide-ide bisnis:
1. Apa aktivitas/pekerjaan Anda saat ini?
Sebagian besar usaha bermula dari pekerjaan yang dilakukan sebelum memulai bisnis. Sebagai contoh saya memiliki latar belakang pekerjaan pada sektor Perbankan dan Teknologi Informasi sebelum memutuskan untuk memulai usaha Software House yang fokus menangani klien-klien dari sektor Perbankan dan Finansial. Kelebihan dari metode ini adalah: kita telah mengenal medan tempur yang akan kita masuki sehingga learning cost (biaya belajar) yang timbul relatif lebih rendah, jaringan bisnis (pemasok, klien, dan calon staff) telah kita miliki, dan juga kepercayaan diri kita akan lebih besar dikarenakan aktivitas yang kita jalani tidak banyak berbeda dengan aktivitas kita sebelumnya.
Kelemahannya ialah metode ini tidak berlaku bagi semua orang karena tergantung dengan  tipe bisnis dan “entry barrier” dari pekerjaan kita sebelumnya.  Contohnya kalau kita bekerja pada perusahaan Airlines maka agak susah kalau kita juga juga berencana membuat perusahaan baru karena akan membutuhkan modal uang yang sangat besar. Metode ini sangat direkomendasikan untuk mereka yang masih pemula dan baru pertama kali terjun dalam bisnis.
2. Apakah hobby Anda?
Bagi banyak orang inilah ide bisnis yang dianggap paling menyenangkan. Bayangkan Anda mengerjakan sesuatu yang menjadi hobby Anda plus bonus memperoleh pendapatan dari hal tersebut. Banyak rekan saya yang menjalankan bisnis berdasarkan hobby mereka, misalnya: usaha penjualan komik bekas yang langka, usaha akuarium air laut, bengkel modifikasi Vespa, studio foto, dsb. Namun demikian Anda mesti waspada agar jangan sampai Anda terjebak menjadi seorang self-employed yang mesti sibuk terus menerus menjalankan bisnis tersebut. Teruslah berinovasi guna menjadikan bisnis Anda System-dependent (bergantung pada sistem) dan bukannya People-dependent (bergantung pada orang/diri Anda).
3. Terapkan ilmu ATM-J
Ini bukan varian susu STMJ, namun merupakan akronim dari Amati-Tiru-Modifikasi-Jalankan. Jargon ini sangat populer di kalangan penggiat seminar wirausaha dan menjadi topik yang sangat menarik untuk diketahui. Intinya adalah bahwa untuk menjalankan suatu bisnis yang sukses maka kita tidak harus menciptakan ide yang 100% orisinal seperti Stan Shih (boss Acer) dengan motto-nya yang sangat legendaris “me too is not my style”. ATM-J tidak menafikan kita untuk mencontek ide-ide bisnis yang sudah ada namun dengan melakukan modifikasi dan pengembangan seperlunya. Lagipula menurut saya tidak ada salahnya kita meniru sesuatu yang baik dengan cara yang beretika guna meningkatkan kemampuan kita.
4. Seringlah Jalan-jalan (Travelling)
Menurut saya ini adalah metode yang paling mudah dijalankan, terutama untuk kaum hawa. Saya termasuk penggemar berat metode ini sehingga setiap akhir pekan saya sempatkan berjalan-jalan untuk melakukan idea-shopping. Setiap bertemu hal-hal yang menarik maka saya sempatkan berhenti guna memperoleh informasi yang lebih detil soal hal tersebut. Lantas saya rekam dalam memori saya dan bila perlu akan saya catat dan mengambil foto-fotonya. Berdasarkan pengalaman saya banyak ide-ide bisnis yang saya peroleh dari metode ini. Jangan lupa sempatkan jalan-jalan ke pameran perdagangan yang diselenggarakan hamper tiap minggu.
5. Ikutlah Komunitas Bisnis dan Pelatihan Bisnis
Bagi pemula, saya sangat merekomendasikan untuk bergabung dalam komunitas-komunitas bisnis maupun pelatihan-pelatihan bisnis yang ada. Saat ini banyak sekali komunitas bisnis di Indonesia seperti misalnya: komunitas TDA, IYE, HIPMI, dsb. Anda bisa bergabung dengan mailing list atau forum yang mereka miliki. Saya yakin banyak ide-ide bisnis yang bisa Anda peroleh, selain tentunya kesempatan untuk memperluas jaringan dan kesempatan untuk berguru dari pebisnis yang lebih senior. Untuk pelatihan bisnis, kalau Anda belum memiliki cukup dana untuk ikut pelatihan yang lengkap, tips dari saya adalah ikut dalam sesi presentasi preview seminar yang umumnya mereka adakan sebagai promosi guna mencari murid yang hendak mengikuti pelatihan tersebut.
6. Banyaklah Membaca.
Meski sederhana namun menurut saya inilah metode yang mudah, murah, dan efektif. Selain jalan-jalan ke sentra belanja pada akhir pekan, saya juga senantiasa menyempatkan diri untuk pergi ke Gramedia guna membaca buku-buku terbitan baru. Saya tak selalu membeli buku disana dan seringkali hanya membaca sekilas saja di tempat. Biasanya kepala saya akan mulai pening setelah pulang dari sana saking banyaknya ide bersliweran di kepala saya.
7. Franchise?
Kalau benar-benar mentok dengan ide bisnis, tak ada salahnya Anda memikirkan metode franchise. Selain lebih mudah, mengambil franchise bisa menjadi tonggak awal kehidupan Anda berbisnis. Anda bisa belajar mengelola bisnis berdasarkan instruksi dan SOP yang telah disediakan oleh franchisor. Untuk pemula sebaiknya mengambil franchise yang berbiaya murah (3-5 juta) sebagai latihan sebelum Anda benar-benar terjun ke bisnis Anda sendiri.
Demikian beberapa metode yang dapat digunakan guna memperoleh ide bisnis. Selain metode di atas masih banyak lagi metode-metode yang bisa Anda lakukan guna memperoleh ide bisnis yangright-fittest alias tepat dan sesuai untuk Anda. Happy idea-hunting!


ACTION!

Bicara soal mimpi, saya punya banyak hal dalam hidup ini yang mungkin layak diceritakan. Tentu saja mimpi yang saya ingin ceritakan kali ini adalah mimpi dalam konteks membangun bisnis baru. Dulunya saya jelas karyawan tulen, pagi masuk jam 8 dan pulang jam 5 teng, TengGo! Belum lagi dulu belum ada libur Sabtu, jadi suka nggak suka tiap Sabtu harus masuk meski cuma setengah hari dan kerjaan nyaris tidak ada alias cuma “nongkrongin” kantor. Walhasil kondisi demikian membuat saya banyak bermimpi untuk melakukan hal-hal lain diluar kerjaan saya sebagai karyawan.
Salah satu impian saya adalah membangun suatu korporasi bisnis yang besar. Saya selalu terheran-heran setiap kali mendengar ada konglomerat yang meresmikan bisnis barunya. Pada masa jayanya, konglomerat Liem Sioe Liong diketahui memiliki tak kurang dari 700 perusahaan! Kalau sehari dia mengunjungi 1 perusahaannya, maka setidaknya dia perlu hampir 2 tahun untuk menyelesaikan. Kalau Oom Liem saja demikian, bagaimana dengan boss Toyota atau boss2 yang lain? Benar-benar tidak masuk diakal saya waktu itu. Maklum waktu itu saya belum terbayang soal delegasi wewenang dan desentralisasi kekuasaan.
Mimpi-mimpi saya tentang memiliki korporasi terus bergulir dari waktu ke waktu tanpa adanya tindak lanjut yang memadai. Sampai akhirnya saya memutuskan berhenti kerja dan berangkat untuk studi lanjut. Sepulang dari studi (2005) baru saya mulai serius untuk mencoba merealisasikan mimpi saya. Pikir saya waktu itu sederhana saja, mumpung lagi dalam kondisi susah sebagai pengangguran yang otomatis nggak ada penghasilan sama sekali maka sebaiknya saya mencoba saja sekalian terjun sebagai entrepreneur.
Waktu memutuskan mencoba sebagai pengusaha saya menemukan banyak kendala-kendala yang terutama berhubungan dengan hal-hal yang sebenarnya bersifat minor, alias tidak substansial. Saat itu saya terlalu banyak berpikir untuk hal-hal yang sifatnya legal-formalistik, seperti misalnya soal bagaimana bentuk badan hukumnya (PT atau CV), bagaimana cara membuka account bank, soal pajak, kantor, hingga soal rekrut karyawan. Hal tersebut cukup membuat saya pusing hingga sempat berpikir untuk kembali menjadi karyawan saja. Namun setelah teringat akan mimpi saya dahulu untuk membuka usaha sendiri maka saya memutuskan untuk “rawe-rawe rantas, malang malang putung” alias pantang mundur.
Solusi-nya saya mulai aktif minta pendapat kepada senior-senior saya yang sudah lebih dulu membuka usaha, juga aktif join miling list kewirausahaan, membaca buku-buku yang relevan, dan aktif mengikuti seminar motivasi (terutama yang gratis..hehehe). Pelan tapi pasti saya mulai menyerap berbagai macam pendapat sampai akhirnya saya menyadari bahwa langkah awal untuk membuka usaha ternyata cuma satu hal, yakni ACTION!
Bertahun-tahun saya cuma bermimpi dan hasilnya nihil. Mirip drama legendaris Waiting for Godot-nya Sam Beckett dimana sampai akhir pertunjukkan sang tokoh “Godot” tidak juga muncul di pentas. Intinya memang action, action, dan action! Jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak substansial. Kalau rekan-rekan memiliki ide bisnis, sebaiknya langsung direalisasikan dan jangan hanya berhenti pada tataran mimpi dan wacana. Berpikir dan membuat Business Plan memang penting, namun jangan sampai hal tersebut menghalangi langkah Anda untuk membuka usaha.
Sekali lagi, kalau Anda memiliki ide bisnis apapun itu, maka segeralah menindaklanjutinya dengan hal-hal yang lebih taktikal. Ingatlah selalu pepatah Cina kuno, ” The journey of a thousand miles begins with a single step!



STRATEGI TERJUN BEBAS

Sewaktu ngobrol ringan bersama teman beberapa waktu lalu, terbetiklah suatu topik tentang keinginan mereka untuk terjun bebas menjadi pengusaha. Sewaktu saya melangkah menuju hal yang lebih praktis, barulah mereka mulai goyah dengan ide yang mulia tersebut dan mulai munculah berbagai macam alasan yang bisa digunakan sebagai “tameng” untuk menunda atau bahkan membatalkan niat menjadi pengusaha. Seseram itukah resiko terjun bebas menjadi pengusaha?
Berdasarkan pengalaman yang telah saya rasakan, saya termasuk yang sepakat bahwa untuk menjadi entrepreneur adalah sangat mudah. Sama mudahnya memutuskan untuk makan di kala lapar atau minum di kala haus. Atau lebih ekstrem lagi seperti (maaf) buang hajat di kamar mandi, kali ini menurut Pak Purdhie. Makanya saya selalu heran bilamana bertemu rekan atau sahabat (puluhan jumlahnya) yang bolak-balik mengeluh betapa sulitnya memutuskan untuk menjalani hidup mandiri. Mereka punya berbagai alasan tentang kenapa takut untuk memulai petualangan baru sebagai pengusaha. Dari berbagai alasan tersebut, terdapat beberapa alasan yang dominan, misalnya: takut gagal, tidak ada modal, tidak ada ketrampilan, sudah punya tanggungan istri dan anak, dan iklim ekonomi yang kurang bersahabat. Semua hal itu menjadi momok yang menakutkan bagi rekan-rekan saya tatkala mereka berencana mendirikan usaha sendiri. Padahal saya tahu rekan-rekan saya itu memiliki skill, knowledge, pengalaman, network, dan bahkan capital yang jauh melebihi saya.
Ada banyak rekan yang saya lihat sangat potensial dan saya yakini bakal menjadi pengusaha yang sukses namun sayang sekali tidak berani memutuskan mencoba menjadi pengusaha karena sudah terbelenggu oleh “penjara-penjara pikiran” yang dia ciptakan sendiri. Penjara yang membelenggu itu umumnya lebih disebabkan ketidaktahuan ataupun perspektif yang kurang tepat tentang konsep kewirausahaan. Umumnya ada 4 hal yang menjadi momok seseorang sebelum memutuskan terjun bebas menjadi pengusaha, yaitu:
1. Resiko Kegagalan
2. Minimnya Skill dan Knowledge
3. Kendala Modal, dan
4. Kondisi Ekonomi
RESIKO KEGAGALAN
Umumnya orang mengira bahwa pengusaha adalah seorang RISK TAKER yang bisa dibilang mirip-mirip dengan penjudi. Bisa kaya raya kalau menang, atau sebaliknya bisa jatuh miskin kalau kalah. Mungkin hal inilah yang menghambat sebagian orang untuk menjadi pengusaha, karena mereka takut kalau kegagalan akan membawa mereka ke jurang kemiskinan, oh seraaaaaaam. Namun demikian secara logika praktis dan empirik hal tersebut tidaklah 100% tepat. Memang benar dalam hal tertentu yang membutuhkan pengambilan keputusan yang cepat seorang pengusaha dituntut untuk mau mengambil resiko atas pilihan yang dilakukannya. Saya pribadi cenderung berpendapat bahwa seorang pengusaha adalah RISK HANDLER yang baik.
Kalau kita telaah, terdapat 2 faktor resiko bisnis yang ada, yakni UNCONTROLLABLE FACTOR dan CONTROLLABLE FACTOR. Untuk yang pertama memang dalam banyak hal tidak bisa kita hindari dikarenakan kita tidak memegang kendali penuh atas kejadian tersebut. Kejadian seperti bencana alam, huru-hara atau kejadian kahar (force majeure) yang lain memang susah diprediksi dan mau tidak mau harus kita hadapi. Namun perlu diingat bahwa kejadian tersebut tidaklah sering terjadi di Indonesia, atau setidaknya tidak sesering yang terjadi di Bangladesh. Sedangkan faktor kedua (controllable factor) merupakan faktor resiko yang paling lazim terjadi dalam suatu proses bisnis. Resiko bisnis jenis ini relatif bisa ditanggulangi dan sebenarnya bisa diantisipasi guna meminimalisir dampak yang ditimbulkannya. Dengan penerapan strategi-strategi manajemen yang sederhana seperti misalnya SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, threats) analysis bisa membantu pengusaha untuk meminimalisir resiko yang bisa terjadi. Selain itu masih banyak tools ataupun strategi yang bisa kita gunakan untuk setidaknya mengurangi resiko bisnis yang mungkin timbul. Pengalaman atau jam terbang seseorang akan sangat berpengaruh dalam kemampuan untuk mengatasi resiko-resiko bisnis yang timbul.
Selain hal teknis, terdapat faktor non teknis yang juga sangat amat penting adalah kemampuan BERPIKIR POSITIF (positive thinking) dalam memandang sesuatu. Kalau ada waktu, cobalah untuk terus-menerus mensugesti diri Anda dengan hal yang baik, nanti akan Anda alami hal-hal manis yang tidak Anda duga sebelumnya. Hal tersebut dikenal dengan istilah self-fulfiling prophecy. Juga yang terpenting senantiasa memohon kepada Tuhan agar dimudahkan langkah kita guna mencapai tujuan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar