17 September 2012

MEDIA PEMBELAJARAN GEOGRAFI

SUMBER : GEOGRAFI UNS 

ESENSI MEDIA PEMBELAJARAN GEOSPASIAL DALAM MATA PELAJARAN GEOGRAFI

1. Pendahuluan
1.1.   Terminologi (Baru)
Geospasial atau ruang kebumian dimaknai sebagai aspek keruangan yang menunjukkan lokasi, letak, dan posisi suatu objek atau kejadian yang berada di bawah, pada, atau di atas permukaan bumi yang dinyatakan dalam sistem koordinat tertentu (Pasal 1 Ayat 2 UU Nomor 4 tahun 2011). Lebih lanjut Undang- Undang ini pada Ayat 3 pasal yang sama menyebutkan bahwa Data Geospasial (DG) adalah data tentang lokasi geografis, dimensi atau ukuran, dan/atau karakteristik objek alam dan/atau buatan manusia yang berada di bawah, pada, atau di atas permukaan bumi. Data Geospasial yang diolah menjadi Informasi Geospasial yang dapat diimplementasikan pada beberapa kegiatan yang berhubungan dengan ruang mukabumi. Kemudian dalam Undang-Undang pada Ayat 4 Pasal yang sama menyebutkan bahwa Informasi Geospasial yang selanjutnya disingkat IG adalah DG yang sudah diolah sehingga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam perumusan kebijakan, pengambilan keputusan, dan/atau pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan ruang kebumian.
Informasi Geospasial Dasar (IGD) pada hakikatnya adalah IG yang berisi tentang objek yang dapat dilihat secara langsung atau diukur dari kenampakan fisik di muka bumi dan yang tidak berubah dalam waktu yang relatif lama. Wujudnya berupa Jaring Kontrol Geodesi dan Peta Dasar yang divisualisasikan dalam bentuk Peta Rupabumi Indonesia, Peta Lingkungan Pantai Indonesia, dan Peta Lingkungan Laut Nasional. (catatan: Peta Rupabumi Indonesia disiapkan pada skala 1:1.000.000, 1:500.000, 1:250.000, 1:100.000, 1:50.000, 1:25.000, 1:10.000, 1:5.000, 1:2.500, dan 1:1.000), (Peta Lingkungan Pantai Indonesia didispkan pada skala 1:250.000, 1:50.000, 1:25.000, dan 1:10.000), (Peta Lingkungan Laut Nasional disiapkan pada skala 1:500.000, 1:250.000, dan 1:50.000).
Informasi Geospasial Tematik (IGT) adalah informasi Geospasial yang menggambarkan satu atau lebih tema tertentu yang mengacu pada IGD (Pasal 1.6). Pasal 23 Ayat 1 menyebutkan bahwa Informasi Geospasial Tematik diselenggarakan  oleh  Instansi Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/ atau setiap orang (baca: Guru Juga Boleh, yang sudah memenuhi kualifikasi kompetensi, pasal 55: 1 UU No. 4 Tahun 2011).

1.2.   Guru Geografi dan Informasi Geospasial
Jangan hendaknya pembelajaran geografi menambah beban peserta didik, tetapi seharusnya memberikan bekal kepada mereka. Bekal apa yang seharusnya mereka dapatkan? Bekal itu adalah spatial ability/spatial intelligence.Luarannya adalah peserta didik memahami ruang mukabumi dengan segala karakter dan warna wataknya, diterapkan dalam wujud memahami potensi ruang mukabumi, penggunaan ruang mukabumi, interaksi antara wilayah-wilayah di ruang mukabumi, interaksi antara komponen-komponen wilayah atau atribut wilayah, masalah-masalah ruang mukabumi, dan seterusnya.
Kurikulum sebagai acuan utama dalam pembelajaran, penerapannya perlu diupayakan sesuai dengan kaidah dan esensi Ilmu Geografi itu sendiri.
Seperti diketahui obyek material geografi terbentang dari litosfer, atmosfer, hidrosfer, biosfer sampai antroposfer. Kajian geografi terhadap obyek materialnya tersebut, harus selalu dilakukan dari sudut pandang spasial, dari perspektif spasial. Contohnya: kajian deskripsi,perbandinganhubunganaurakorelasi……………… dan seterusnya…………..,hakikatnya adalah deskripsi spasial, perbandingan spasial, hubungan spasial, aura spasial,……………. dan seterusnya, apapun substansi ataupun objek material yang sedang dikaji.
Dalam ranah psikomotor, deskripsi spasial dikerjakan dengan menarik garis  (deliniasi)–pemerian perwatakan objek material (karakter substansi, deskripsi fenomena) menjadiwilayah tematik (region geografik). Seperti misalnya: wilayah litologi, wilayah kategori tanah, wilayah penggunaan tanah, wilayah suhu, wilayah curah hujan, wilayah air tanah, wilayah fauna, wilayah flora, wilayah kepadatan penduduk, wilayah harga tanah, wilayah konstituen partai, wilayah permukiman kumuh, wilayah serangan hama wereng, wilayah kekeringan, wilayah kedalaman genangan, wilayah potensi longsor, wilayah suku bangsa, wilayah penutur bahasa,dsb.
Wilayah tematik tersebut, adalah sebentuk persamaan objek mukabumi, sebentuk persamaan fenomena mukabumi, sebentuk persamaan potensi sosial mukabumi,sebentuk persamaan potensi fisikal mukabumi, sebentuk persamaan masalah sosial mukabumi, sebentuk persamaan masalah fisikal
mukabumi, dan sekaligus membedakan dengan wilayah muka bumi yang lain (area similarities dan area differentiations).
Kita ingat lagi lembaran lama pemikiran geograf Preston E. James & CF Jones, editor American Geography Inventory and Prospect (AGIP) sejak pertengahan dasawarsa limapuluhan abad lalu, tegas mengemukakan ciri spasial geografi sebagai berikut:
The geographic method of studying soils requires the identification of kinds of soils and the mapping of areal spread of these type. (AGIP, 1967:383)
·         Fitogeografi
Geographers characteristically, record on maps their observations regardingpatterns of distribution, and the maps in turn, are used for the study of areal relation. (AGIP, 1967 : 429-430)
·         Economics geography has to do win similiarities and diferences from place to place in the ways people make living … (AGIP,1967:214)
·         Marketing Geography
… in studying markets, the geographer is primarily concerned with where the markets are. He is interested in the distribution of individual consumersand in the magnitude of actual potential sales within specific areas. … in the study of channels of distribution on marketing geographer is primarily concerned, again, within the location of these channels.
… The mapping of relevant data regarding markets and the marketing process is a contribution in it self. (AGIP, 1967: 245-251)
·         Transportation geography
… Transportation is a measure of the relations between areas and is therefore an essential aspect of geography … Geography is concerned with all connections and interractions, including communication and transportation … For geographers who view the core of geography as primarily the analysis of  spasial interaction, the study of transportation and in the boarder sense, of circulation as a whole, is of crucial importance. (AGIP, 1967:311)
Kita lihat juga cuplikan dari Buku Geografi kontemporer :
Geography is a wide ranging field that incorporates a number of diverse subject areas. Broadly speaking, geography can be divided into human geography and physical geography. Human geography deals with spatial aspects of human activities and culture. Physical geography, our topic here, focuses on the geographical attributes of the natural environment. The diagram below illustrates the continuum of geography. Though the discipline can be broken down into two separate areas of study, physical geography and human geography, they are actually seen as blending with one another along a geographic continuum (Figure EG.4)
Figure EG.4 The Continuum of Geography
Ritter, ME. The Physical Environment An Introduction to Physical Geography
http://www.uwsp.edu/geo/faculty/ritter/geog101/textbook/content.html
Dengan demikian penguasaan guru geografi terhadap sumber informasi mukabumi menjadi mutlak diperlukan. Sumber tersebut dapat berupa sumber primer, denganpengamatan, observasi, pengukuran, pencacahan langsung terestrikal maupun dari sumber sekunder, termasuk menyadap informasi dari dokumen geospasial yang ada (map reading, map use).
Dengan demikian mudah dipahami bahwa penggunaan model medan sebagai sarana atau media komunikasi spasial merupakan sesuatu kepatutan bahkan keharusan, sebab apapun substansi yang dibahas atau ditelaah ilmu geografi selalu dari sudut pandang spasial. Perspektif spasial inilah yang menjadi  identitas ilmu geografi. Implementasinya dalam pembelajaran geografi di sekolah adalah penggunaan model medan itu untuk media pembelajaran. Model medan berupa peta geografi yaitu peta-peta tematik dan peta-peta statistik termasuk peta foto dan peta citra, model medan 3D (3 dimensional).
Pertanyaan mendasar untuk kita : di kelas, apakah kita mengajarkan peta ataukah kita sudah mengajar dengan menggunakan peta?
Pertanyaan serupa untuk guru di Finlandia dalam (GIS in Teacher Education – Facilitating GIS Applications in Secondary School Geography. Tino Johansson,Department of Geography P.O.Box 64 FIN-00014 University of Helsinki, Finland). Sarah Witham Bednarz  : Thinking Spatially : Incorporating GIS in pre and secondary education.
·         GIS is rarely used as a teaching technology
·         There is a great deal of instruction about GIS but  little instruction withGIS
Pertanyaan untuk Guru Geografi besok: Apakah harus mengajarkan semua substansi geografi yang begitu luas kepada setiap jenjang peserta didik?
(Physical Geog. untuk SMA IPA, Cultural Geog. untuk SMA Bahasa, Marketing Geog. untuk SMK)


1.      Mengkomunikasikan Informasi Geospasial kepada siswa
Diskusi tentang perspektif spasial dan implementasinya dalam pembelajaran geografi di SMA diamanahkan melalui Standar Kompetensi Memahami Konsep, Pendekatan, Prinsip, dan Aspek geografi, tertuang dalam Kompetensi Dasar 1.1 Menjelaskan Konsep Geografi, 1.2 Menjelaskan Pendekatan Geografi, 1.3 Menjelaskan Prinsip Geografi, dan 1.4 Mendeskripsikan Aspek Geografi.
Konsep-konsep geografi
Henry J. Warman mengemukakan 15 konsep geografi sebagai berikut :
1.      Regional concept (konsep wilayah);
2.      Life-layer concept (konsep strata kehidupan);
3.      Man ecological dominant concept (konsep dominasi ekologi manusia);
4.      Globalism concept (konsep globalisasi);
5.      Spatial interaction concept (konsep interaksi spasial);
6.      Areal relationship concept (konsep hubungan spasial);
7.      Areal likenesses concept (konsep kesamaan spasial);
8.      Arel differences concept (konsep perbedaan spasial);
9.      Areal uniquenesses concept (konsep keunikan spasial);
10.  Areal distribution concept (konsep distribusi spasial);
11.  Relative location concept (konsep lokasi relatif);
12.  Comparative advantage concept (konsep keuntungan komparatif);
13.  Perpetual transformation concept (konsep perubahan abadi);
14.  Culturally defined resources concept (konsep sumberdaya budaya yang berbeda);
15.  Round earth on flat paper concept (konsep skala).
(Sumaatmadja, 1981: 46-47)
Prinsip-prinsip Geografi
Prinsip geografi terdiri dari prinsip penyebaran, prinsip interrelasi, prinsip deskripsi dan prinsip korologi. (Sumaatmadja, 1981 : 42)
Intisari konsep dan prinsip tersebut adalah bagaimana geografi menelaah ruang mukabumi menjadi sistimatika wilayah-wilayah (regions) yang merupakan perwujudan persamaan ruang mukabumi (areal likenesses) dan membedakannya dengan ruang mukabumi yang lainnya (areal diferences).
Untuk menghasilkan wilayah-wilayah (tematik) dilakukan dengan menarik garis (melakukan delineasi) terhadap obyek, fenomena ruang mukabumi (geosfer) real world  atau dari model (foto, citra dan peta produk ilmu kebumian lain di luar geografi). Deskripsi/pemerian karakter wilayah dilakukan secermat mungkin dengan memperhatikan kemampuan skala peta hasil untuk menampilkannya (round earth on flat paper concept). 
3
Peta merupakan representasi real world. Meski melalui pengecilan sekian ribu kali (dengan skala) melalui seleksi atas ukuran dan pentingnya obyek (generalisasi peta), visualisasi dengan menggunakan lambang (simbolik), peta berusaha menampilkan obyek di mukabumi dengan tata letak seperti keadaan sebenarnya.

Peta ini menampilkan topografi (rupabumi) sebuah daerah aliran sungai; merepresentasikan kenampakan hipsografi / relief / konfigurasi mukabumi, kenampakan hidrografi / perairan, kenampakan bentang budaya; dalam lambang (simbol) titik, garis dan poligon dengan perbandingan 1 : 50000.
Data apa saja  yang ditampilkan peta itu dapat menjadi informasi manakala pembaca peta mampu memahami hurufnya peta (titik,garis,poligon). Dengan merangkai huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat maka isi peta (tersurat) dapat dimengerti. 
Tahap berikutnya pembaca dapat menafsir ( menginterpretasi ) makna yang tersirat dibalik peta yang tersurat tersebut. Misalnya: Dari membaca simbol garis yang dinamai kontur, menganalisis pola kontur, kerapatan kontur, pembaca peta dapat    mengetahuikonfigurasi permukaan bumi / relief mukabumi.Dengan menganalisis pola dan kerapatan aliran, pembaca dapat menafsir batuan penyusun medan itu. Dengan menganalisis keduanya, (pola dan kerapatan kontur serta pola dan kerapatan aliran ) pembaca peta dapat menafsir struktur geologi dan geomorfologinya. Keberhasilan membaca peta tentu saja disyaratkan paling kurang dua hal yaitu mutu peta dan kompetensi pembaca peta.
4
Membaca peta (dan menafsir peta) bagi geografi merupakan kegiatan yang sangat urgen dalam upaya menyadap, mengekstrak, mengakuisisi data geospasial. Kajian geografi (ilmu kebumian yang bernafaskan spasial) keluar dengan wilayah-wilayah (regions) tematik yang menggambarkan persamaan-persamaan obyek, fenomena dan potensi ruang mukabumi.
Membaca peta (map reading),  menarik garis (delineasi) yang menghasilkan wilayah-wilayah tematik, membuat hubungan keruangan wilayah-wilayah tematik (hubungan elemen fisik-fisik, elemen fisik-manusia, elemen manusia-manusia) menghasilkan wilayah-wilayah tematik baru dan ditampilkan dalam bentuk peta pula (map making). Peta ini (peta-peta ini) yang selayaknya disiapkan oleh guru geografi di sekolah.

Peta Geografi
Geografi menelaah obyek mukabumi (litosfer, hidrosfer, atmosfer, biosfer, antroposfer) dari sudut pandang keruangan. Obyek itu divisualkan dalam bentuk peta dengan tema tertentu dan dikenal sebagai peta tematik. Peta itu menampilkan obyek, fenomena, potensi ruang mukabumi dalam bentuk tema tunggal dan dapat pula sintesis dari beberapa tema. Selain itu, peta tematik ini dapat pula merupakan presentasi analisis spasial.
Mudah dimengerti bahwa peta tematik ini jenisnya dapat banyak sekali mungkin dapat 1001 macam atau juga dapat 1002 macam. Dan …. peta-peta tematik (dan peta-peta statistik) itulah peta geografi.
Guru geografi selayaknya menggunakan peta-peta ini dalam pembelajaran geografi. Sejak menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) harus sudah dicantumkan media pembelajaran yang akan digunakan : peta …., peta…, peta…., disamping media yang berupa profil, transek, katena, blok diagram, sketsa, foto dan lain-lain sesuai amanah Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD) dan Indikator.
Ilustrasi II : Peta tanah Daerah Aliran Sungai (DAS) Samin

5
Dengan menggunakan simbol poligon  (area, bidang) berwarna, peta ini memvisualisasikan distribusi spasial jenis tanah (karena skala petanya mengharuskan mapping units-nya jenis tanah) dalam sebuah DAS sesuai Regional concept / konsep wilayah; Areal distribution concept /konsep distribusi spasial; Round earth on flat paper concept (konsep skala).
Di samping data tematik utama jenis tanah, detail topografi yang dipresentasikan berupa garis jala peta yaitu grid dan gratikul yang menunjukkan posisi absolut daerah penelitian; nama tempat, jalan untuk keperluan orientasi (ancar-ancar), pengaliran atau drainase yang mempunyai kaitan dengan tema utama ditampilkan pula. Penjelasannya ialah pola dan kerapatan drainase (juga pola dan kerapatan kontur) mengekspresikan bentuklahan (landform) tertentu, sedangkan pembentukan dan perkembangan tanah berkait erat dengan bentuklahan.
Hal ini menggambarkan adanya hubungan antara unsur-unsur ruang yang satu dengan unsur ruang yang lainnya sesuai (Areal relationship concept / konsep hubungan spasial).
Ilustrasi III: Peta lereng Daerah Aliran Sungai (DAS) Samin.

Peta ini mempresentasikan sebaran atau distribusi spasial kelas lereng di sebuah DAS. Kelas-kelas lereng disimbolkan dengan poligon berwarna bertingkat (karena data kelas lereng merupakan data berskala rasio) yang dikenal dengan pemetaan koroplet. 
6
Ilustrasi IV : Peta geologi Daerah Aliran Sungai (DAS) Samin.

Peta ini memvisualisasikan data geologi utamanya litologi dan struktur geologi sebuah daerah aliran sungai. Simbol yang digunakan adalah poligon berwarna (sudah dibakukan) dan ditambahkan indeks huruf yang menyatakan atribut umur dan formasi batuannya. Struktur dipresentasikan dengan simbol titik misalnya dip dan strike dan simbol garis misalnya kelurusan (lineament), sesar.
Ilustrasi V : Peta penggunaan tanah Daerah Aliran Sungai (DAS) Samin.

Peta ini merepresentasikan sebaran keruangan macam-macam penggunaan tanah di sebuah DAS. Sama halnya dengan peta tanah, peta geologi, peta penggunaan tanah ini menggunakan simbol poligon berwarna untuk merepresentasikan data nominal, cara ini dikenal dengan nama colourpath.
Untuk kajian keruangan tertentu, tema tanah, kelas lereng, geologi, penggunaan tanah disintesiskan menjadi tema baru (dengan tumpang susun) menjadi tema satuan lahan.
7
 Ilustrasi VI : Peta Satuan Lahan Daerah Aliran Sungai Samin (DAS) Samin.

Peta ini menggambarkan sebaran keruangan satuan lahan hasil tumpang susun peta tanah, peta kelas lereng, peta geologi dan peta satuan lahan.
Daftar Pustaka

Armstrong, Thomas. 1994. Multiple Intellegences in the Classroom. Virginia : Ass.for Supervision and Curriculum Development.
Chislom, Michael. 1970. Geography and Economics. London : Bell & Sons Ltd.
Danoedoro, Projo (ed). 2004. Sains Informasi GeografisDari Perolehan dan Analisis Citra Hingga Pemetaan dan Pemodelan Spasial. Jogjakarta : Jurusan Kartografi dan Penginderaan Jauh Fakultas Geografi UGM.
Dickinson, G.C. 1973. Statistical Mapping and The Presentation of Statistic. London : J.W Arrowsmith .L.td
James, Preston S. & Clarence F. Jones (ed). 1967. American Geography Inventory & Prospect. Associations of American Geographers.
Jan Kraak, Menno & Ferjan Ormeling. 2007. Kartografi. Visualisasi Data Geospasial. Jogjakarta : Gadjah Mada University Prees.
Monmonier, Mark. 1982. Computer – Assisted Cartography Principles and Prospect. New York : Prentice-Hall,inc.
Purwani, Diana Endah. 2007. Evaluasi Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Sengon dan Kacang Tanah di Daerah Aliran Sungai Samin  Kabupaten Karanganyar dan Sukoharjo Propinsi Jawa Tengah. Skripsi. FKIP-UNS ( Program Studi P.Geografi ) Surakarta.
Sandy, I Made. GEOGRAFI Perkembangannya di Indonesia dan Pelajaran Geografi di Sekolah Lanjutan. Pidato Pengukuhan Dalam Jabatan Guru Besar Luar Biasa Mata Pelajaran Geografi Pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia. Jakarta. 30 Maret 1988
Sumaatmadja, Nursidi. Studi Geografi Suatu Pendekatan dan Analisis Keruangan. Bandung : Penerbit Alumni.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar