17 September 2012

PEMBELAJARAN GEOGRAFI DENGAN MENGGUNAKAN PETA

SUMBER : GEOGRAFI UNS

Bahan Pendalaman Konsep dan Prinsip Geografi
Disampaikan dalam Workshop Guru Pemandu MGMP SMA in service 2
Mata Pelajaran Geografi
Di Semarang, 9-12 November 2009
Oleh : Drs. Partoso Hadi, M.Si
Program Studi Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Perspektif Spasial dalam Pembelajaran Geografi
Pengantar Ke dalam Konsep Spasial
Kenyataan yang ada di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran geografi di SMP/Mts (dalam IPS Terpadu) dan SMA/MA belum sepenuhnya sesuai dengan filosofi atau esensi geografi sebagai ilmu spasial yang akan memberikan bekal kemampuan spasial (spatial inteligence/spatial ability) kepada peserta didik pada tingkat satuan pendidikan apapun. Seperti diketahui spatial inteligence (di samping matematik, fisik, musik dan pelajaran seni lainnya, olahraga, budi pekerti) ikut membangun dan mengembangkan siswa ke arah manusia yang terdidik lengkap. (Sandy, 1988., Armstrong, 1994).
Ikatan Geograf Indonesia (IGI) sudah sejak lama menaruh perhatian kepada pembenahan pembelajaran geografi di sekolah. Melalui dua kali sarasehan yang diselenggarakan di Jakarta oleh Geografi FMIPA UI dan Semiloka di IKIP Semarang pada medio 1988 di identifikasi akar permasalahannya ada pada kurikulum sekolah dan buku ajar. ( Semlok IGI di IKIP Semarang, April 1988).
Kesepakatan IGI mengamanahkan bahwa pada bidang apapun ilmu geografi diamalkan termasuk dalam bidang pembelajaran, harus berangkat dari esensi geografi yang baku. Memang dari segi substansi, kajian geografi membentang dari obyek/fenomena, litosfer, hidrosfer, atmosfer, biosfer, antroposfer. Dari substansi ini geografi memang dapat overlap dengan bidang ilmu lain. Yang membedakan adalah (dan ini merupakan identitas geografi) sudut pandang spasial. Geografi menelaah semua substanisnya dari sudut pandang spasial. Geografi Ekonomi dan Ilmu Ekonomi memiliki kemiripan substansi. Yang membedakan adalah geografi ekonomi menelaah substansi itu dari pandangan spasial (Chislom, 1970). Demikian pula geografi tumbuhan (phythogeography) dan botani, geografi transportasi dan ilmu transportasi dan menejemen transportasi (James and Jones, 1967). Pandangan spasial inilah yang mengharuskan penggunaan peta; baik peta kerja, peta hasil maupun peta rekomendasi. Dalam bidang pembelajaran, peta digunakan untuk media internalisasi konsep spasial. Maka menggunakan peta sebagai media pembelajaran seluruh materi pembelajaran geografi adalah suatu keharusan. Dan perkembangan teknologi informasi memberikan keuntungan yang sangat berarti dalam teknologi informasi geospasial yang aplikasinya sangat membantu dalam penyiapan peta-peta tematik (peta geografi) bagi media pembelajaran.
Preston E. James & CF Jones, editor American Geography Inventory and Prospect (AGIP) sejak pertengahan dasawarsa limapuluhan abad lalu, tegas mengemukakan ciri spasial geografi sebagai berikut :
- The geographic method of studying soils requires the identification of kinds of soils and the mapping of areal spread of these type. (AGIP, 1967:383)
- Fitogeografi Geographers characteristically, record on maps their observations regarding patterns of distribution, and the maps in turn, are used for the study of areal relation. (AGIP, 1967 : 429-430)
- Economics geography has to do win similiarities and diferences from place to place in the ways people make living … (AGIP,1967:214)
- Marketing Geography
… in studying markets, the geographer is primarily concerned with where the markets are. He is interested in the distribution of individual consumers and in the magnitude of actual potential sales within specific areas. … in the study of channels of distribution on marketing geographer is primarily concerned, again, within the location of these channels.
… The mapping of relevant data regarding markets and the marketing process is a contribution in it self. (AGIP, 1967: 245-251)
- Transportaion geography
… Transportation is a measure of the relations between areas and is therefore an essential aspect of geography … Geography is concerned with all connections and interractions, including communication and transportation … For geographers who view the core of geography as primarily the analysis of spasial interaction, the study of transportation and in the boarder sense, of circulation as a whole, is of crucial importance. (AGIP, 1967:311)
Dengan demikian mudah dipahami bahwa penggunaan model medan sebagai sarana atau media komunikasi spasial merupakan sesuatu kepatutan bahkan keharusan, sebab apapun substansi yang dibahas atau ditelaah ilmu geografi selalu dari sudut pandang spasial. Perspektif spasial inilah yang menjadi identitas ilmu geografi. Implementasinya dalam pembelajaran geografi di sekolah adalah penggunaan model medan itu untuk media pembelajaran. Model medan berupa peta geografi yaitu peta-peta tematik dan peta-peta statistik termasuk peta foto dan peta citra, model medan 3D (3 dimensional).
Pertanyaan mendasar untuk kita : di kelas, apakah kita mengajarkan peta ataukah kita sudah mengajar dengan menggunakan peta?
Pertanyaan serupa untuk guru di Finlandia dalam (GIS in Teacher Education – Facilitating GIS Applications in Secondary School Geography. Tino Johansson, Department of Geography P.O.Box 64 FIN-00014 University of Helsinki, Finland)
Sarah Witham Bednarz : Thinking Spatially : Incorporating GIS in pre and secondary education.
- Gis is rarely used as a teaching technology
- There is a great deal of instruction about gis but little instruction with gis
Pembelajaran Geografi dengan menggunakan Peta
Diskusi tentang perspektif spasial dan implementasinya dalam pembelajaran geografi di SMA diamanahkan melalui Standar Kompetensi Memahami Konsep, Pendekatan, Prinsip, dan Aspek geografi, tertuang dalam Kompetensi Dasar 1.1 Menjelaskan Konsep Geografi, 1.2 Menjelaskan Pendekatan Geografi, 1.3 Menjelaskan Prinsip Geografi, dan 1.4 Mendeskripsikan Aspek Geografi.
Konsep-konsep geografi
Henry J. Warman mengemukakan 15 konsep geografi sebagai berikut :
1. Regional concept (konsep wilayah);
2. Life-layer concept (konsep strata kehidupan);
3. Man ecological dominant concept (konsep dominasi ekologi manusia);
4. Globalism concept (konsep globalisasi);
5. Spatial interaction concept (konsep interaksi spasial);
6. Areal relationship concept (konsep hubungan spasial);
7. Areal likenesses concept (konsep kesamaan spasial);
8. Arel differences concept (konsep perbedaan spasial);
9. Areal uniquenesses concept (konsep keunikan spasial);
10. Areal distribution concept (konsep distribusi spasial);
11. Relative location concept (konsep lokasi relatif);
12. Comparative advantage concept (konsep keuntungan komparatif);
13. Perpetual transformation concept (konsep perubahan abadi);
14. Culturally defined resources concept (konsep sumberdaya budaya yang berbeda);
15. Round earth on flat paper concept (konsep skala). (Sumaatmadja, 1981: 46-47)
Prinsip-prinsip Geografi
Prinsip geografi terdiri dari prinsip penyebaran, prinsip interrelasi, prinsip deskripsi dan prinsip korologi. (Sumaatmadja, 1981 : 42)
Intisari konsep dan prinsip tersebut adalah bagaimana geografi menelaah ruang mukabumi menjadi sistimatika wilayah-wilayah (regions) yang merupakan perwujudan persamaan ruang mukabumi (areal likenesses) dan membedakannya dengan ruang mukabumi yang lainnya (areal diferences).
Untuk menghasilkan wilayah-wilayah (tematik) dilakukan dengan menarik garis (melakukan delineasi) terhadap obyek, fenomena ruang mukabumi (geosfer) real world atau dari model (foto, citra dan peta produk ilmu kebumian lain di luar geografi). Deskripsi/pemerian karakter wilayah dilakukan secermat mungkin dengan memperhatikan kemampuan skala peta hasil untuk menampilkannya (round earth on flat paper concept).
Peta merupakan representasi real world. Meski melalui pengecilan sekian ribu kali (dengan skala) melalui seleksi atas ukuran dan pentingnya obyek (generalisasi peta), visualisasi dengan menggunakan lambang (simbolik), peta berusaha menampilkan obyek di mukabumi dengan tata letak seperti keadaan sebenarnya.
New Picture (4)
New Picture (4)
Ilustrasi I : Peta topografi DAS Temon
Peta ini menampilkan topografi (rupabumi) sebuah daerah aliran sungai; merepresentasikan kenampakan hipsografi / relief / konfigurasi mukabumi, kenampakan hidrografi / perairan, kenampakan bentang budaya; dalam lambang (simbol) titik, garis dan poligon dengan perbandingan 1 : 50000.
Data apa saja yang ditampilkan peta itu dapat menjadi informasi manakala pembaca peta mampu memahami hurufnya peta (titik,garis,poligon). Dengan merangkai huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat maka isi peta (tersurat) dapat dimengerti.
Tahap berikutnya pembaca dapat menafsir ( menginterpretasi ) makna yang tersirat dibalik peta yang tersurat tersebut. Misalnya : Dari membaca simbol garis yang dinamai kontur, menganalisis pola kontur, kerapatan kontur, pembaca peta dapat mengetahui konfigurasi permukaan bumi / relief mukabumi. Dengan menganalisis pola dan kerapatan aliran, pembaca dapat menafsir batuan penyusun medan itu. Dengan menganalisis keduanya, ( pola dan kerapatan kontur serta pola dan kerapatan aliran ) pembaca peta dapat menafsir struktur geologi dan geomorfologinya. Keberhasilan membaca peta tentu saja disyaratkan paling kurang dua hal yaitu mutu peta dan kompetensi pembaca peta.
Membaca peta (dan menafsir peta) bagi geografi merupakan kegiatan yang sangat urgen dalam upaya menyadap, mengekstrak, mengakuisisi data geospasial. Kajian geografi (ilmu kebumian yang bernafaskan spasial) keluar dengan wilayah-wilayah (regions) tematik yang menggambarkan persamaan-persamaan obyek, fenomena dan potensi ruang mukabumi.
Membaca peta (map reading), menarik garis (delineasi) yang menghasilkan wilayah-wilayah tematik, membuat hubungan keruangan wilayah-wilayah tematik (hubungan elemen fisik-fisik, elemen fisik-manusia, elemen manusia-manusia) menghasilkan wilayah-wilayah tematik baru dan ditampilkan dalam bentuk peta pula (map making). Peta ini (peta-peta ini) yang selayaknya disiapkan oleh guru geografi di sekolah.
Peta Geografi
Geografi menelaah obyek mukabumi (litosfer, hidrosfer, atmosfer, biosfer, antroposfer) dari sudut pandang keruangan. Obyek itu divisualkan dalam bentuk peta dengan tema tertentu dan dikenal sebagai peta tematik. Peta itu menampilkan obyek, fenomena, potensi ruang mukabumi dalam bentuk tema tunggal dan dapat pula sintesis dari beberapa tema. Selain itu, peta tematik ini dapat pula merupakan presentasi analisis spasial.
Mudah dimengerti bahwa peta tematik ini jenisnya dapat banyak sekali mungkin dapat 1001 macam atau juga dapat 1002 macam. Dan …. peta-peta tematik (dan peta-peta statistik) itulah peta geografi.
Guru geografi selayaknya menggunakan peta-peta ini dalam pembelajaran geografi. Sejak menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) harus sudah dicantumkan media pembelajaran yang akan digunakan : peta …., peta…, peta…., disamping media yang berupa profil, transek, katena, blok diagram, sketsa, foto dan lain-lain sesuai amanah Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD) dan Indikator.
New Picture (5)
New Picture (5)


Ilustrasi II : Peta tanah Daerah Aliran Sungai (DAS) Samin.
Dengan menggunakan simbol poligon (area, bidang) berwarna, peta ini memvisualisasikan distribusi spasial jenis tanah (karena skala petanya mengharuskan mapping units-nya jenis tanah) dalam sebuah DAS sesuai Regional concept / konsep wilayah; Areal distribution concept /konsep distribusi spasial; Round earth on flat paper concept (konsep skala).
Di samping data tematik utama jenis tanah, detail topografi yang dipresentasikan berupa garis jala peta yaitu grid dan gratikul yang menunjukkan posisi absolut daerah penelitian; nama tempat, jalan untuk keperluan orientasi (ancar-ancar), pengaliran atau drainase yang mempunyai kaitan dengan tema utama ditampilkan pula. Penjelasannya ialah pola dan kerapatan drainase (juga pola dan kerapatan kontur) mengekspresikan bentuklahan (landform) tertentu, sedangkan pembentukan dan perkembangan tanah berkait erat dengan bentuklahan.
Hal ini menggambarkan adanya hubungan antara unsur-unsur ruang yang satu dengan unsur ruang yang lainnya sesuai (Areal relationship concept / konsep hubungan spasial).
New Picture (6)
New Picture (6)


Ilustrasi III: Peta lereng Daerah Aliran Sungai (DAS) Samin.
Peta ini mempresentasikan sebaran atau distribusi spasial kelas lereng di sebuah DAS. Kelas-kelas lereng disimbolkan dengan poligon berwarna bertingkat (karena data kelas lereng merupakan data berskala rasio) yang dikenal dengan pemetaan koroplet.
New Picture (7)
New Picture (7)


Ilustrasi IV : Peta geologi Daerah Aliran Sungai (DAS) Samin.
Peta ini memvisualisasikan data geologi utamanya litologi dan struktur geologi sebuah daerah aliran sungai. Simbol yang digunakan adalah poligon berwarna (sudah dibakukan) dan ditambahkan indeks huruf yang menyatakan atribut umur dan formasi batuannya. Struktur dipresentasikan dengan simbol titik misalnya dip dan strike dan simbol garis misalnya kelurusan (lineament), sesar.
New Picture (8)
New Picture (8)



Ilustrasi V : Peta penggunaan tanah Daerah Aliran Sungai (DAS) Samin.
Peta ini merepresentasikan sebaran keruangan macam-macam penggunaan tanah di sebuah DAS. Sama halnya dengan peta tanah, peta geologi, peta penggunaan tanah ini menggunakan simbol poligon berwarna untuk merepresentasikan data nominal, cara ini dikenal dengan nama colourpath.
Untuk kajian keruangan tertentu, tema tanah, kelas lereng, geologi, penggunaan tanah disintesiskan menjadi tema baru (dengan tumpang susun) menjadi tema satuan lahan.
New Picture (9)
New Picture (9)


Ilustrasi VI : Peta Satuan Lahan Daerah Aliran Sungai Samin (DAS) Samin.
Peta ini menggambarkan sebaran keruangan satuan lahan hasil tumpang susun peta tanah, peta kelas lereng, peta geologi dan peta satuan lahan.
Berikut disampaikan contoh penggunan peta (digital) untuk pembelajaran geografi di sekolah menengah di Finlandia. Peserta didik mendiskusikan pola spasial tingkat kematian bayi di Afrika dengan mengidentifikasi faktor penyebab kematian bayi yang tinggi dalam perspektif spatial (dalam hal ini pola spasial).
AN EXAMPLE OF USING GIS TO THINK SPATIALLY
- As we looked at the map, class discussion focused on the regional patterns of infant mortality rates that we observed.
- When I asked students to identify questions that were raised by those patterns, many asked why infant mortality rates in Africa were so high.
- The question became the springboard for a challenging activity—an investigation of the causes of and potential cures for the high rates of infant mortality in this region.
Before we began our investigation, I asked students to speculate about what might cause a region—any region—to have a high infant mortality rate. We listed possibilities on the board: not enough doctors, not enough hospitals, lack of food, disease, poverty, war. The preliminary list became the basis of our investigation.
New Picture (10)
New Picture (10)
New Picture (11)
New Picture (11)


Ilustrasi VII : Peta bahaya banjir Kota Surakarta.
New Picture (12)
New Picture (12)


Peta ini adalah peta koroplet yang menggambarkan distribusi spasial lima tingkatan bahaya banjir di Kota Surakarta yang merupakan sebuah analisis dari peta probabilitas banjir yang dianalisis berdasarkan bentuklahan dan hidrologi dan even atau peristiwa banjir yang pernah terjadi.
Menyiapkan Media Pembelajaran Geografi
Dalam menyiapkan materi geografi seorang guru selain menguasai konsep-konsep dan teori standar sesuai dengan tuntutan kompetensi profesionalnya harus pula mempertimbangkan jenjang kemantapan intelektual peserta didik.
Bahwa geografi (dan cabang-cabang geografi) secara esensial berbeda dengan bidang ilmu lain (meskipun substansinya berimpit) karena sudut pandang spasial, kiranya sudah dipahami. Bahwa identitas geografi ada pada sudut pandang spasial, kiranya sudah dipahami bahwa sudut pandang spasial mengharuskan hadirnya peta sebagai media utama, kiranya sudah dipahami. Tetapi penggunaan peta untuk media pembelajaran geografi untuk internalisasi konsep-konsep geografi dalam substansi yang berbeda-beda agaknya belum banyak dilakukan oleh guru. Penggunaan peta kebanyakan terbatas pada penyampaian materi atau bahasan tentang peta itu sendiri.
Perlu pula diingat bahwa kajian substansi penduduk dapat melalui demografi, studi kependudukan dan geografi penduduk. Penyampaian konsep geografi penduduk-lah yang mengharuskan penggunaan peta. Peta apa? Demikian pula penyampaian konsep geografi tumbuhan (phytho geograhy), geografi hewan (zoo geography), geografi industri, geografi transportasi, dan lain-lain mengharuskan penggunaan peta. Peta apa?
Bagaimana menyiapkannya?
Pada prinsipnya pemetaan tematik adalah meletakkan atau ploting data tematik ke dalam peta dasar atau base map . Bergantung kepada skala peta tematik yang ingin dihasilkan maka yang digunakan sebagai peta dasar atau base map dapat bermacam-macam. Dari atlas umum skala jutaan, peta korografi skala limaratus ribuan, peta topografi skala limapuluh ribuan, duapuluh lima ribuan sampai sepuluh ribuan. Yang penting adalah peta dasar yang akan menjadi kerangka tempat meletakkan data tematik harus secara geometrik benar. Dari mana data tematik diperoleh?
Data tematik dapat dikumpulkan dari hasil observasi lapangan, survei, interpretasi citra penginderaan jauh, kompilasi data sekunder (dari lembaga yang betul-betul berkompeten). Perhatikan diagram kerangka pemetaan tematik berikut :
New Picture (13)
New Picture (13)


Yang penting pula ploting data tematik dalam peta dasar pada posisi yang benar.
Penting pula peta sebagai media komunikasi visual, sebagai media pembelajaran geografi secara visual, harus tampil benar, bersih, rapi, menarik juga mudah dimengerti oleh mitra komunikasi kita. Bagi guru yang diajak komunikasi adalah peserta didik. Siapa peserta didik? Siswa SMP/MTS, siswa SMA/MA, memerlukan strategi desain simbol peta yang sesuai dengan jenjang kemantapan intelektual peserta didik. Perhatikan ilustrasi berikut :
Ilustrasi VIII : Visualisasi relief dengan berbagai simbol
bentuk medan2
bentuk medan2


Bentuk Medan 1
Bentuk Medan 1


A                                                                                                          B
A. Presentasi bentukmedan kedalam simbol titik.
B. Presentasi bentukmedan kedalam simbol garis.
Jika simbol topografi dalam bentuk titik dan garis dirasa terlalu abstrak bagi siswa SMP/MTS maka internalisasi konsep relief yang bahan mentahnya peta RBI kewajiban guru geografi untuk menampilkan simbol, mengkonversi simbol titik dan garis itu kedalam bentuk simbol relief yang lain seperti hill shading, layer tinting dan 3D. Periksa ilustrasi berikut :
Ilustrasi IX : Visualisasi relief dengan hill shading
New Picture (2)
New Picture (2)


Ilustrasi X : Visualisasi relief dengan layer tinting
New Picture (14)
New Picture (14)


Ilustrasi XI : Visualisasi relief dengan 3D
New Picture (15)
New Picture (15)


3D DAS Temon
Ilustrasi IX, X, XI merupakan upaya guru geografi untuk mempermudah internalisasi konsep topografi kepada siswa dengan menggunakan sumber materi/bahan mentah peta RBI pada ilustrasi I di atas (yang sekarang mudah di akses melalui outlet BAKOSURTANAL yang tersebar di banyak kota) ke dalam tampilan-tampilan visual yang relatif jauh lebih mudah dipahami siswa.
Sekarang selain peta (presentasi real world secara simbolik) presentasi real world secara ikonik juga menghasilkan apa yang kemudian dikenal dengan peta foto atau foto maps dan peta citra. Foto maps pada dasarnya adalah foto udara yang direktifikasi menjadi orto foto dan kemudian ditambah atribut peta termasuk toponimi. Dalam beberapa hal tampilan ikonik terasa lebih menarik, perhatikan ilustrasi berikut :
Ilustrasi XII : Peta Citra Pulau Dolangan
New Picture (16)
New Picture (16)


Ilustrasi XII : Peta Citra Melbourne
New Picture (17)
New Picture (17)


Beberapa Catatan penutup
• Peta sebagai media komunikasi visual digunakan oleh berbagai kalangan berbagai bidang. Di bidang pembelajaran geografi peta merupakan media utama dalam upaya internalisasi konsep-konsep geografi oleh guru kepada siswa.
• Implementasi penggunaan peta sebagai media pembelajaran sepatutnya-lah memperhatikan tingkatan pendidikan siswa dan hal ini menyangkut desain simbol.
• Kemajuan teknologi informasi membawa pengaruh pula dalam bidang teknologi informasi spasial ibarat rahmat (blessing) dapat dimanfaatkan secara langsung untuk penyiapan peta termasuk peta geografi (peta tematik dan peta statistik).
• Geografi, ilmu spasial diyakini mampu membekali spatial intelligence, spatial ability kepada peserta didik. Bersama aritmatik, matematik, sport, seni, history dan inteligence-inteligence lain, spasial inteligence-nya geografi diharapkan mampu memberikan keluasan landasan berfikir, perkembangan etika, estetika, moral peserta didik.
• Cukup merepotkan guru geografi di sekolah adalah kenyataan bahwa kurikulum dan buku ajar kurang mendukung. Dari segi kurikulum nampak bahwa beberapa indikator (turunan SK dan KD) masih di luar pagar esensi atau filosofi geografi. Hal ini kiranya perlu perhatian serius organisasi profesi geografi.
• Perkembangan terakhir sistem informasi geografis berkembang ke arah sains informasi geografis. Jika kemajuan ini dimanfaatkan oleh guru geografi dalam pembelajaran geografi di sekolah maka tidak berlebihan jika geografi diharapkan akan muncul sebagai pelajaran unggulan dalam sebuah lembaga pendidikan.
• Di bawah ini dikutipkan ketrampilan berfikir spasial :
New Picture (18)
New Picture (18)


Daftar Pustaka
Armstrong, Thomas. 1994. Multiple Intellegences in the Classroom. Virginia : Ass.for Supervision and Curriculum Development.
BAKOSURTANAL.2004.Panduan Membaca Peta Rupabumi Indonsia. Cibinong : BAKOSURTANAL.
BAKOSURTANAL.2006.Album Foto Udara. Cibinong : BAKOSURTANAL.
Chislom, Michael. 1970. Geography and Economics. London : Bell & Sons Ltd.
Danoedoro, Projo (ed). 2004. Sains Informasi Geografis. Dari Perolehan dan Analisis Citra Hingga Pemetaan dan Pemodelan Spasial. Jogjakarta : Jurusan Kartografi dan Penginderaan Jauh Fakultas Geografi UGM.
Dickinson, G.C. 1973. Statistical Mapping and The Presentation of Statistic. London : J.W Arrowsmith .L.td
James, Preston S. & Clarence F. Jones (ed). 1967. American Geography Inventory & Prospect. Associations of American Geographers.
Jan Kraak, Menno & Ferjan Ormeling. 2007. Kartografi. Visualisasi Data Geospasial. Jogjakarta : Gadjah Mada University Prees.
Monmonier, Mark. 1982. Computer – Assisted Cartography Principles and Prospect. New York : Prentice-Hall,inc.
Purwani, Diana Endah. 2007. Evaluasi Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Sengon dan Kacang Tanah di Daerah Aliran Sungai Samin Kabupaten Karanganyar dan Sukoharjo Propinsi Jawa Tengah. Skripsi. FKIP-UNS ( Program Studi P.Geografi ) Surakarta.
Raisz, Erwin. 1948. General Cartography. New York : McGraw-Hill Book Company.
Sandy, I Made. GEOGRAFI Perkembangannya di Indonesia dan Pelajaran Geografi di Sekolah Lanjutan. Pidato Pengukuhan Dalam Jabatan Guru Besar Luar Biasa Mata Pelajaran Geografi Pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia. Jakarta. 30 Maret 1988
Sarasati, Pudya. 2007. Penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG) Untuk Analisis Lokasi Rawan Kecelakaan Lalu Lintas di Kota Surakarta. Skripsi. FKIP-UNS ( Program Studi P.Geografi ) Surakarta.
Sumaatmadja, Nursidi. Studi Geografi Suatu Pendekatan dan Analisis Keruangan. Bandung : Penerbit Alumni.
Seminar dan Lokakarya IGI. April 1988. Geografi dan Pembelajarannya di Sekolah Menengah. Di IKIP Semarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar